Kamis, 30 April 2020
Ekonomi (5)
Ekonomi (5)
"JIKA kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penu lis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (a13) (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika seba gian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (11)
________________
(11). QS 2 (283)
(a13). Barang tanggungan (borg) itu diadakan bila satu sama lain tidak percaya mempercayai.
(Yang dimaksud dengan borg (jaminan) adalah benda yang dijadikan penguat dalam hutang-piutang itu. Borg dalam bahsa fiqih disebut "ar-rahn".
Benda sebagai borg ini akan diambil oleh yang berutang jika hutangnya telah dibayar. Jika waktu pembayaran telah ditentukan telah tiba dan hutangnya belum dibayar, maka borg itu dapat dijadikan sebagai pengganti pembayarn utang, atau borg itu dijual untuk pembayaran hutang dan jika ada kelebihannya akan dikembalikan kepada orang yang berhutang.
Allah SWT berfirman :
"Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)." (QS. Al-Baqarah : 283).
Rasulullah SAW bersabda :
Dari Anas ia berkata, Rasulullah SAW menyerahkan tanggungan baju besi kepada orang yahudi di Madinah, karena beliau berhutang syair (gandum) untuk keluarganya." (HR. Ahmad, Al-Bukhari, An-Nasai dan Ibnu Majah).
Hukum gadai ialah sama seperti hutang-piutang yaitu sunnah bagi yang memberikan hutang (menerima borg) dan mubah bagi yang berhutang (menyerahkan borg/jaminan).
Barang jaminan sepenuhnya menjadi hak orang yang menjaminkan dalam pemanfataan barang itu. Suatiu contoh, orng yang berhutang dengan jaminan sawahnya maka ia masih boleh mengambil manfaatnya dengan menggarap sawah tersebut tetapi ia boleh menjual atau menyewakannya.
Rasulullah SAW bersabda :
"Jaminan tidak menutup manfaat terhadap orang yang mempunyai barang itu, faedahnya ia mempunyai dan ia wajib membayar dendanya." (HR. As-Syafii dan Ad-Daruqutni).
Orang yang memegang jaminan boleh mengambil manfaatnya sekedar sebagai ganti pemeliharaannya dan tidak boleh lebih dari itu. Sebagai contoh, jika jaminan itu berupa sepeda, maka bagi yang menghutangi boleh mengendarai sepeda itu seperlunya secara wajar. (dinulislam).
Rahn yang diatur menurut Prinsip Syariah, dibedakan atas dua macam, yaitu:
1. Rahn ‘Iqar/Rasmi (rahn Takmini/Rahn Tasjily).
Merupakan bentuk gadai, dimana barang yang digadaikan hanya dipindahkan kepemilikannya, namun barangnya sendiri masih tetap dikuasai dan dipergunakan oleh pemberi gadai.
Contoh :
Tenriagi memiliki hutang kepada Elda sebesar Rp. 10jt. Sebagai jaminan atas pelunasan hutang tersebut, Tenriagi menyerahkan BPKB Mobilnya kepada Elda secara Rahn ‘Iqar. Walaupun surat-surat kepemilikan atas Mobil tersebut diserahkan kepada Elda, namun mobil tetap berada di tangan Tenriagi dan dipergunakan olehnya untuk keperluannya sehari-hari. Jadi, yang berpindah hanyalah kepemilikan atas mobil di maksud.
Konsep ini dalam hukum positif lebih mirip kepada konsep Pemberian Jaminan Secara Fidusia atau penyerahan hak milik secara kepercayaan atas suatu benda. Dalam konsep Fidusia tersebut, dimana yang diserahkan hanyalah kepemilikan atas benda tersebut, sedangkan fisiknya masih tetap dikuasai oleh pemberi fidusia dan masih dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.
2. Rahn Hiyazi
Bentuk Rahn Hiyazi inilah yang sangat mirip dengan konsep Gadai baik dalam hukum adat maupun dalam hukum positif. Jadi berbeda dengan Rahn ‘Iqar yang hanya menyerahkan hak kepemilikan atas barang, maka pada Rahn Hiyazi tersebut, barangnya pun dikuasai oleh Kreditur.
Jika dilihat dalam contoh pada point 1 di atas, jika akad yang digunakan adalah Rahn Hiyazi, maka Mobil milik Tenriagi tersebut diserahkan kepada Elda sebagai jaminan pelunasan hutangnya. Dalam hal hutang Tenriagi kepada Elda sudah lunas, maka Tenriagi bisa mengambil kembali mobil tersebut.
Sebagaimana halnya dengan gadai berdasarkan hukum positif, barang yang digadaikan bisa berbagai macam jenisnya, baik bergerak maupun tidak bergerak.
Dalam hal yang digadaikan berupa benda yang dapat diambil manfaatnya, maka penerima gadai dapat mengambil manfaat tersebut dengan menanggung biaya perawatan dan pemeliharaannya.
Dalam praktik, yang biasanya diserahkan secara Rahn adalah benda-benda bergerak, khususnya emas dan kendaraan bermotor. Rahn dalam Bank syariah juga biasanya diberikan sebagai jaminan atas Qardh atau pembiayaan yang diberikan oleh Bank Syariah kepada Nasabah.
Rahn juga dapat diperuntukkan bagi pembiayaan yang bersifat konsumtif seperti pembayaran uang sekolah, modal usaha dalam jangka pendek, untuk biaya pulang kampung pada waktu lebaran dan lain sebagainya. Jangka waktu yang pendek (biasanya 2 bulan) dan dapat diperpanjang atas permintaan nasabah.
Contoh:
Putri sudah merencanakan untuk memasukkan anaknya ke universitas yang bermutu pada tahun ajaran baru ini. Namun demikian, ternyata anaknya hanya bisa diterima melalui jalur khusus. Uang pangkal untuk masuk ke jurusan favorit anaknya adalah sebesar Rp. 30 juta, sedangkan Putri hanya memiliki uang tunai sebesar Rp. 20 juta.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Putri mencari alternatif dengan cara menggadaikan perhiasan emasnya ke Bank Syariah terdekat. Emasnya sebesar 50 gram dan untuk itu, Putri berhak untuk mendapatkan pembiayaan sebesar Rp. 15 juta. Karena Putri merasa hanya membutuhkan uang sebesar Rp. 10juta, maka Putri juga bisa hanya mengambil dana tunai sebesar Rp 10 juta saja.
Oleh Bank Syariah, dibuatkan Akad Qardh untuk memberikan uang tunai kepada Putri, dan selanjutnya dibuatkan akad Rahn untuk menjamin pembayaran kembali dana yang dierima oleh Putri. Sebagai uang sewa tempat untuk menyimpan emas tersebut pada tempat penitipan di Bank sekaligus biaya asuransi kehilangan emas dimaksud, Bank berhak untuk meminta Ujrah (uang jasa), yang besarnya ditetapkan berdasarkan pertimbangan Bank.
Misalnya Rp. 3.500 per hari. Dengan demikian, jika Putri baru bisa mengembalikan uang tunai yang diterimanya pada hari ke 30 (1 bulan), maka uang sewa sekaligus asuransi yang harus dibayar oleh Putri adalah sebesar:
Rp. 3.500 X 30 hari = Rp. 105.000.
Jadi, pada saat pengembalian dana yang diterima olehnya, Niken harus membayar uang sebesar Rp. 10 jt + Rp. 105.000 = Rp. 10.105.000.
Bagaimana kalau ternyata dalam waktu 2 bulan Putri belum bisa mengembalikan dana tersebut?
Jika demikian, maka Putri dapat mengajukan perpanjangan jangka waktu gadai tersebut kepada Bank yang berkenaan. Perpanjangan tersebut dapat dilakukan secara lisan, dengan mengajukan pemberitahuan kepada Bank tersebut.
Begitu pula sebaliknya, jika baru 1 minggu Putri sudah bisa mengembalikan dana yang diterimanya, maka Putri tinggal menghubungi Bank dimaksud, dan membayar biaya sewa tempat sekaligus asuransi tersebut selama 1 minggu saja.
Jadi, prinsip pokok dari Rahn adalah:
a. Kepemilikan atas barang yang digadaikan tidak beralih selama masa gadai.
b. Kepemilikan baru beralih pada saat terjadinya wanprestasi pengembalian dana yang diterima oleh pemilik barang. Pada saat itu, penerima gadai berhak untuk menjual barang yang digadaikan berdasarkan kuasa yang sebelumnya pernah diberikan oleh pemilik barang.
c. Penerima gadai tidak boleh mengambil manfaat dari barang yang digadaikan, kecuali atas seijin dari pemilik barang. Dalam hal demikian, maka penerima gadai berkewajiban menanggung biaya penitipan/penyimpanan dan biaya pemeliharaan atas barang yang digadaikan tersebut). (wardahcheche.blogspot.com)
Hikmah Rahn
Hikmah disyariatkannya gadai seperti yang telah dijelaskan oleh Ahmad
Wardi Muslich bahwa hikmah gadai adalah suatu keadaan setiap orang yang
berbeda, ada yang kaya dan ada yang miskin, padahal harta sangat dicintai setiap jiwa.
Lalu, terkadang di suatu waktu, seseorang sangat membutuhkan uang untuk
menutupi kebutuhan-kebutuhannya yang mendesak. Namun dalam keadaan itu,
dia pun tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya atau yang
meminjamkan uang kapadanya, juga tidak ada penjamin yang menjaminnya.
Hingga ia mendatangi orang lain untuk membeli barang yang dibutuhkannya
dengan cara berutang, sebagaimana yang disepakati kedua belah pihak. Bisa jadi
pula, dia meminjam darinya, dengan ketentuan, dia memberikan barang gadai
sebagai jaminan yang disimpan pada pihak pemberi utang hingga ia melunasi
utangnya.
Allah mensyariatkan ar-rahn (gadai) untuk kemaslahatan orang yang
menggadaikan (rahin), pemberi utangan (murtahin), dan masyarakat. Untuk
rahin, ia mendapatkan keuntungan berupa dapat menutupi kebutuhannya.
Ini tentunya bisa menyelamatkannya dari krisis, menghilangkan kegundahan di
hatinya, serta terkadang ia bisa berdagang dengan modal tersebut, yang dengan itu
menjadi sebab ia menjadi kaya.
Adapun murtahin (pihak pemberi utang), dia akan menjadi tenang serta merasa aman atas haknya, dan dia pun mendapatkan keuntungan syar’i. Bila ia berniat baik, maka dia mendapatkan pahala dari Allah.
Adapun kemaslahatan yang kembali kepada masyarakat, yaitu memperluas
interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaan dan kasih sayang di antara manusia, karena ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.
Terdapat manfaat yang menjadi solusi dalam krisis, memperkecil permusuhan,
dan melapangkan penguasa.
Dari penjelasan diatas hikmah disyariatkannya gadai itu disamping dapat memberikan pemanfaatan atas barang yang digadaikan juga di sisi lain dapat
memberikan keamanan bagi rahin dan murtahin, bahwa dananya tidak akan
hilang jika dari pihak rahin ingkar janji untuk membayar utangnya karena ada
suatu aset atau barang yang dipegang oleh pihak murtahin.
Dari sisi peminjam atau rahin dapat memanfaatkan dana pinjamanya untuk usaha secara maksimal sehingga membantu menggerakkan roda perekonomian menuju kesejahteraan yang
lebih baik, lebih maju, dan lebih makmur). (eprints.walisongo.ac.id)
Rabu, 29 April 2020
Ekonomi (4)
Ekonomi (4)
2. MUAMALAH
"HAI orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah (a12) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hen daklah kamu menuliskannya. Dan hen daklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskan nya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika orang yang berhutang itu lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya."
"Janganlah saksi-saksi itu enggan (mem beri keterangan) apabila mereka dipang gil ; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmi itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah ; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (10)
__________________
(10). QS 2 (282)
(a12). Bermuamalah ialah seperti berjual beli, berhutang piutang atau sewa me nyewa dan sebagainya.
- (Muamalah adalah sebuah hubungan manu sia dalam interaksi sosial sesuai syariat ka rena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup berdiri sendiri.
Dalam hubungan dengan manusia lainnya, manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri dari hak dan kewajiban. Lebih jauh lagi interaksi antara manusia itu akan membu tuhkan kesepakatan demi kemaslahatan bersama.
Dalam arti luas muamalah merupakan aturan Allah SWT bagi manusia untuk bergaul deng an manusia lainnya dalam berinteraksi. Seda ngkan dalam arti khusus muamalah adalah aturan dari Allah dengan manusia lain dalam hal mengambangan harta benda.
Muamalah merupakan cabang ilmu syari'ah dalam cakupan ilmu fiqih. Sedangkan muamalah mempunyai banyak cabang, di antaranya muamalah politik, ekonomi, sosial.
Secara umum muamalah mencakup dua aspek, yakni aspek adabiyah dan madaniyah. Aspek adabiyah yakni kegiatan muamalah yang berhubungan dengan kegiatan adab dan akhlak, contohnya menghargai sesama, kejujuran, saling meridhai, kesopanan, dan sebagainya.
Sedangkan aspek madaniyah adalah aspek ya ng berhubungan dengan kebendaan, seperti halal haram, syubhat, kemudharatan, dan lain nya. (Wikipedia)
- (Prinsip Muamalah
Pada dasarnya segala bentuk muamalat adalah mubah, kecuali yang ditentukan oleh Al-Quran dan sunnah Rasul. Bahwa hukum Islam memberi kesempatan luas perkembangan bentuk dan macam muamalat baru sesuai dengan perkembangan kebutuhan hidup masyarakat.
Muamalah dilakukan atas dasar sukarela, tanpa mengandung unsur paksaan. Agar kebebasan kehendak pihak-pihak bersangkutan selalu diperhatikan.
Muamalah dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari madharat dalam hidup masyarakat. Bahwa sesuatu bentuk muamalat dilakukan ats dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari madharat dalam hidup masyarakat.
Muamalah dilaksanakan dengan memelihara nilai keadilan, menghindari unsur-unsur penganiayaan, unsur-unsur pengambilan kesempatan dalam kesempitan. Bahwa segala bentuk muamalah yang mengundang unsur penindasan tidak dibenarkan.
Batasan Muamalah
Setelah mengenal secara umum apa saja yang dibahas dalam fiqh muamalah, ada prinsip dasar yang harus dipahami dalam berinteraksi. Ada 5 hal yang perlu diingat sebagai landasan tiap kali seorang muslim akan berinteraksi.
Kelima hal ini menjadi batasan secara umum bahwa transaksi yang dilakukan sah atau tidak, lebih dikenal dengan singkatan MAGHRIB, yaitu Maisir, Gharar, Haram, Riba, dan Bathil.
1. Maisir
Menurut bahasa maisir berarti gampang/mudah. Menurut istilah maisir berarti memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja keras. Maisir sering dikenal dengan perjudian karena dalam praktik perjudian seseorang dapat memperoleh keuntungan dengan cara mudah.
Dalam perjudian, seseorang dalam kondisi bisa untung atau bisa rugi. Padahal islam mengajarkan tentang usaha dan kerja keras. Larangan terhadap maisir / judi sendiri sudah jelas ada dalam Al-Quran (2:219 dan 5:90)
2. Gharar
Menurut bahasa gharar berarti pertaruhan. Terdapat juga mereka yang menyatakan bahawa gharar bermaksud syak atau keraguan.
Setiap transaksi yang masih belum jelas barangnya atau tidak berada dalam kuasanya alias di luar jangkauan termasuk jual beli gharar.
Boleh dikatakan bahwa konsep gharar berkisar kepada makna ketidaktentuan dan ketidakjelasan sesuatu transaksi yang dilaksanakan.
Secara umum dapat dipahami sebagai berikut :
Sesuatu barangan yang itu wujud atau tidak;
– barangan yang ditransaksikan itu mampu diserahkan atau tidak;
– transaksi itu dilaksanakan secara yang tidak jelas atau akad dan kontraknya tidak jelas, baik dari waktu bayarnya, cara bayarnya, dan lain-lain.
Misalnya membeli burung di udara atau ikan dalam air atau membeli ternak yang masih dalam kandungan induknya termasuk dalam transaksi yang bersifat gharar. Atau kegiatan para spekulan jual beli valas.
3. Haram
Ketika objek yang diperjualbelikan ini adalah haram, maka transaksi nya menjadi tidak sah. Misalnya jual beli khamr, dan lain-lain.
4. Riba
Pelarangan riba telah dinyatakan dalam beberapa ayat Al-Quran. Ayat-ayat mengenai pelarangan riba diturunkan secara bertahap. Tahapan-tahapan turunnya ayat dimulai dari peringatan secara halus hingga peringatan secara keras.
Tahapan turunnya ayat mengenai riba dijelaskan sebagai berikut :
- Pertama, menolak anggapan bahwa riba tidak menambah harta justru mengurangi harta. Sesungguhnya zakatlah yang menambah harta. Seperti yang dijelaskan dalam QS Ar-Rum 39 :
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”
- Kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk dan balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba.
Allah berfiman dalam QS An-Nisa : 160-161 :
“Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”
- Ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Allah menunjukkan karakter dari riba dan keuntungan menjauhi riba seperti yang tertuang dalam QS. Ali Imran : 130:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
- Keempat, merupakan tahapan yang menunjukkan betapa kerasnya Allah mengharamkan riba.
QS Al-Baqarah : 278-279 berikut ini menjelaskan konsep final tentang riba dan konsekuensi bagi siapa yang memakan riba.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”
5. Bathil
Dalam melakukan transaksi, prinsip yang harus dijunjung adalah tidak ada kedzhaliman yang dirasa pihak-pihak yang terlibat. Semuanya harus sama-sama rela dan adil sesuai takarannya.
Maka, dari sisi ini transaksi yang terjadi akan merekatkan ukhuwah pihak-pihak yang terlibat dan diharap agar bisa tercipta hubungan yang selalu baik.
Kecurangan, ketidakjujuran, menutupi cacat barang, mengurangi timbangan tidak dibenarkan. Atau hal-hal kecil seperti menggunakan barang tanpa izin, meminjam dan tidak bertanggungjawab atas kerusakan harus sangat diperhatikan dalam bermuamalat.(beritalangitan.com)
Selasa, 28 April 2020
Ekonomi (3)
Ekonomi (3)
"DAN adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (a9), serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar."
"Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa."(6)
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (7)
"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanku dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu (a10). Dan bara ngsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (8)
"Demi kuda yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mence tuskan api dengan pukulan (kuku kaki nya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia mener bangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berteri ma kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (a11)."
"Maka apakah dia tidak mengetahui apa bila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di da lam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka." (9)
________________
(6). QS 93 (8-11)
(a9). Yang dimaksud dengan "merasa dirinya cukup" adalah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah SWT dan tidak bertakwa kepada-Nya.
(7). QS 59 (9)
(8). QS 64 (16)
(a10). Maksudnya nafkahkanlah nafkah yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.
(9). QS 100 (1-11)
(a11). Sebagian Ahli Tafsir menerang kan bahwa maksud dari ayat ini adalah manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta sehingga ia menjadi bakhil.
Ekonomi (2)
Ekonomi (2)
1. KIKIR
"SEKALI-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan : "Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya." Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepa da mereka) : "Rasakanlah olehmu azab yang membakar." (2)
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh (a6), teman sejawat dan Ibnu sabil (a7) dan hamba sahaya mu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang som bong dan membangga-banggakan diri."
"(Yaitu) orang-orang yang kikir dan me nyuruh orang lain berbuat kikir serta menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir (a8) siksa yang menghinakan." (3)
"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (a8) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal."
"Katakanlah : "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan Rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya." Dan adalah manusia itu sangat kikir." (4)
"Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu."
"Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." (5)
____________
(2). QS 3 (180-181)
(3). QS 4 (36-37)
- (a6). Dekat dan jauh disini ada yang mengartikan dengan tempat dan hubu ngan kekeluargaan, namun ada juga yang memaknakannya antara yang muslim dan non muslim.
- (a7). Ibnu Sabil adalah orang yang dalam perjalanan yang bukan maksiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.
- (a8). Maksudnya kafir terhadap nikmat Allah, karena kikir, menyuruh orang berbuat kikir. Menyembunyikan karunia Allah berarti tidak mensyukuri nikmat-Nya.
(4). QS 17 (29 dan 100)
(a8). Maksudnya jangan kamu terlalu kikir dan jangan pula terlalu murah.
(5). QS 47 (37-38)
Minggu, 26 April 2020
Ekonomi (1)
Ekonomi (1)
Oleh : aminuddin
ID Pub : 8800179315466420
"0RANG-orang yang makan (mengambil) riba (a1) tidak dapat berdiri melainkan se perti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila (a2). Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (ber pendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengha ramkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tu hannya, lalu terus berhenti (dari meng ambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (a3) (sebelum datang larangan) ; dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penguhuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."
"Allah memusnahkan riba dan menyubur kan sedekah. (a4) Dan Allah tidak menyu kai setiap orang yang tetap dalam keka firan dan selalu berbuat dosa (a5)."
"Sesungguhnya orang-orang yang beri man, mengerjakan amal saleh, mendi rikan shalat dan menunaikan zakat, me reka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
"Hai orang-orang yang beriman, bertak walah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman."
"Maka jika kamu tidak mengerjakan (me ninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwasanya Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya."
"Dan jika (orang berhutang itu) dalam ke sukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (1)
- (a1). Riba itu ada dua macam: nasi-ah dan fadhl. Riba nasi-ah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.
Sedangkan riba fadhl fadhl ialah penukaran lebih dari satu barang sejenis yang disyaratkan oleh orang yang menukarkan seperti emas, perak, gandum, beras dan garam. Riba yang dimaksud dalam ayat ini adalah riba nasi-ah yang berlipat ganda yang umum terjadi di masyarakat Arab zaman jahiliah.
- (a2). Maksudnya orang yang mengam bil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan setan.
- (a3). Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini boleh tidak dikembalikan.
- (a4). Yang dimaksud dengan memus nahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Adapun menyuburkan sedekah ialah mrmperkem bang harta yang telah dikeluarkan sede kahnya atau melipat gandakan berkah nya.
- (a5). Yakni orang-orang yang mengha lalkan riba dan tetap melakukannya.
Tentang riba, Allah SWT berfirman di ayat lain:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat keberun tungan." QS 3 (130)
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menu naikan zakat serta orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang me reka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela."
"Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas."
"Dan orang-orang yang memelihara ama nat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya."
"Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Furdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS 23 (1-11)
Sabtu, 25 April 2020
Azab (10-tamat)
Azab (10-tamat)
"YANG menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa."
"Dan sesungguhnya Kami telah meneguh kan kedudukan mereka dalam hal-hal ya ng Kami belum pernah meneguhkan ke dudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendenga ran, penglihatan dan hati; tetapi pende ngaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mere ka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya."
"Dan sesungguhnya Kami telah membina sakan negeri-negeri di sekitarmu (a21) dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertobat)."
"Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mende katkan diri (kepada Allah) tidak dapat me nolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan." (34)
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8800179315466420
____________
(34). QS 46 (25-28)
(a21). Yang dimaksud dengan negeri-ne geri di sekitarmu adalah negeri-negeri yang berada di sekitar Kota Mekah, se perti negeri Al-Hijr, Sadum, Ma'rib dan lain-lain.
Jumat, 24 April 2020
Azab (9)
Azab (9)
"MEREKA menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkan lah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar "
"Ia berkata: "Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan memba Wanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh."
"Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata : "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepa da kami." (Bukan!) bahkan itulah azab ya ng kamu minta supaya datang dengan se gera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih." (a20) (33)
_________________
(33). QS 46 (22-24)
(a20) Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Kami memujinya. Kami memohon pertolongan kepada-Nya. Kami juga memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amal perbuatan kami.
Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Demikian pula, barangsiapa yang Allah sesatkan maka tiada satu pun yang bisa memberi hidayah kepadanya.
Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Dialah sesembahan orang-orang di masa silam dan masa datang serta penegak langit dan bumi.
Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya. Beliaulah manusia pilihan Allah, kekasih-Nya dan seorang yang Allah percaya untuk mendapatkan wahyu serta penyampai syariat kepada semua manusia.
Semoga Allah memuji dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan seluruh shahabatnya.
Wahai orang-orang yang beriman, wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kalian kepada Allah. Yakinlah bahwa takwa kepada Allah adalah sebaik-baik bekal menuju hari yang dijanjikan.
Takwa adalah sebab yang paling penting untuk mendapatkan ridha Allah. Takwa adalah perkara yang Allah wasiatkan kepada orang-orang di masa silam ataupun orang di masa sekarang.
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
Yang artinya, “Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah” (QS An- Nisa’:131).
Sesungguhnya tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan keesaan Allah dan bahwa Dia adalah pengatur alam semesta itu banyak sekali, tidak bisa dihitung.
Sebagaimana yang dikatakan seorang pe nyair, “Dalam segala sesuatu terdapat bukti bahwa Dia adalah zat yang esa”.
Di antara tanda kekuasaan Allah yang besar, bukti nyata keesaan-Nya yang menunjukkan bahwa Dia itu benar-benar esa dan segala urusan itu ada di gengga man-Nya dan diatur penuh oleh diri-Nya adalah angin.
Angin itu bertiup mengikuti perintah-Nya dan setelah mendapatkan izin dari-Nya. Angin adalah makhluk yang diatur dan diperintahkan. Dia tidak bisa datang atau pun pergi baik di waktu pagi atau pun sore kecuali dengan seizin Tuhannya yang merupakan zat yang mengatur dirinya.
Semua gerakan angin itu dengan seizin-Nya. Semua tiupan angin itu dengan perintah-Nya. Sekali lagi, angin adalah makhluk yang diatur dan diperintah.
Terkadang dia datang dengan membawa kabar gembira dan rahmat Allah. Di waktu yang lain, dia membawa adzab dan hukuman Allah. Segala urusan sepenuhnya ada di tangan Allah.
Angin adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Sepantasnya seorang mukmin mengambil pelajaran dengan keberadaan angin. Dengan angin, seorang hamba mengetahui betapa agungnya Allah, zat yang mengatur angin.
Dalam angin terdapat pelajaran dan nasihat yang sangat berharga serta tanda kekuasaan yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan sang pencipta.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (46)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS Ar-Rum: 46).
وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)
“Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Al-Baqarah: 164).
Memang benar, angin hanya menjadi tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Mereka memutar akal mereka untuk mengambil manfaat dan pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan bahwa Dialah sang pengatur alam semesta dan menunjukkan bahwa Dia adalah zat yang agung karena memiliki segala sifat kesempurnaan.
Angin itu terkadang menjadi hukuman dan siksaan, di samping terkadang menjadi nikmat dan rahmat. Itu semua terjadi dengan perintah Allah.
Dalam sebuah hadits yang sahih Nabi SAW melarang mencaci maki angin de ngan alasan bahwa angin itu sekedar makhluk yang diatur dan diperintah.
Diaturnya angin oleh Allah adalah sebuah nikmat yang sangat besar bagi manusia. Hendaknya kita merasakan adanya nikmat tersebut dan nilainya serta menyadari manfaat yang kita petik darinya.
Seandainya angin itu tidak diatur oleh Allah tentu tidak akan ada kehidupan bagi manusia. Dunia hewan dan tumbuh-tumbuhan pun akan kacau balau. Makanan akan rusak dan busuklah seluruh penjuru bumi.
Pengaruh dan manfaat angin itu sangat banyak, tak terhitung. Seandainya angin itu hanya diam dan tenang tidak bergerak atau bertiup maka seluruh bagian bumi ini terutama tumbuh-tumbuhan akan busuk. Hewan-hewan akan menjadi bangkai.
Jadi bertiupnya angin itu sebuah nikmat. Karenanya ada pergerakan udara. Udara pun menjadi bersih dan jernih. Berbagai penyakit hilang dan berbagai nikmat, ke baikan dan manfaat besar pun datang. Semua itu karena angin yang diatur oleh Allah SWT.
Terkadang Allah mengirim angin yang men dorong mendung yang memuat hujan. Hu jan adalah kabar gembira dan pembawa berbagai kebaikan.
Dalam Al-Quran kita jumpai Allah menye but angin dalam bentuk jamak. Hal ini me ngisyaratkan banyak dan besarnya manfaat yang Allah letakkan pada angin.
Terkadang Allah mengirimkan angin sebagai siksaan dan hukuman. Angin datang membawa adzab yang menjadi sebab mati dan hancurnya manusia, tetumbuhan dan berbagai binatang. Hal ini terjadi sebagai hukuman Allah dan pelajaran yang bisa dipetik oleh orang yang mau mengambil pelajaran.
Di antaranya adalah kisah yang Allah ceri takan dalam Al-Quran tentang hukuman yang Allah berikan kepada kaum ‘Aad yang merupakan kaum Nabi Hud. Allah hancur kan mereka dengan angin.
وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ (41)مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ (42)
“Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.” (QS Adz-Dzariyat:41-42).
Kaum ‘Aad beranggapan angin tersebut membawa awan yang akan menurunkan hujan. Mereka anggap angin tersebut ada lah angin pembawa nikmat dan kabar gembira.
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24)تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)
“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya. Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25).
Yang dimaksud ‘tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka’ adalah tidak ada lagi satu pun orang yang hidup di dalam rumah-rumah mereka. Artinya, seluruh mereka hancur dan mati disebabkan angin. Cukup dalam sekejap mata saja dengan sekali hembusan.
Di antara hal yang luar biasa dari angin adalah dia bisa memahami perintah dan menaati Tuhannya. Dia laksanakan semua perintah-Nya.
Di antara hal yang unik dari angin adalah setiap hari Jumat angin itu merasa takut. Angin itu paham bahwa hari Kiamat akan terjadi pada hari Jumat. Karenanya setiap hari Jumat angin merasa takut dan khawatir jangan-jangan Kiamat akan terjadi. Hal ini disebabkan Allah memberi kemampuan pada angin untuk memahami.
Dalam Sunan Ibnu Majah terdapat hadits yang kualitas sanadnya sahih, Nabi bercerita tentang hari Jumat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, “Pada hari Jumat Kiamat akan terjadi”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidak ada satu pun malaikat, langit, bumi, angin, gunung ataupun lautan melainkan merasa takut dan khawatir pada hari Jumat”.
Makhluk-makhluk ini merasa khawatir de ngan terjadinya Kiamat pada hari Jumat.
Angin merasa takut dengan terjadinya Kia mat. Langit merasa takut. Bumi merasa takut. Lautan pun merasa takut. Sayang nya, mayoritas manusia lalai dan tidak memikirkan akan terjadinya Kiamat.
Sepatutnya kita mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah ini. Hendaknya hati kita merasa tergerak karena beriman, menghadapkan hati, bertaubat dan kembali kepada Allah.
Terdapat dalam hadits yang sahih dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika angin bertiup kencang dan berhembus dengan kuat seorang muslim berkewajiban untuk menghadapkan hatinya kepada Allah dengan memohon, berharap kepada Allah akan kebaikan angin dan meminta perlin dungan kepada-Nya akan keburukan angin tersebut.
Dalam sahih Muslim, ketika angin bertiup kencang, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kebaikan angin ini dan kebaikan yang dibawanya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini dan keburukan yang dibawanya”.
Dalam kondisi angin bertiup kencang, hendaknya hati kita tergerak untuk mengambil pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan Allah.
Ya Allah, jadikanlah kami orang yang mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Mu, dan tunjukilah kami jalan-Mu yang lurus.
Ini yang bisa kami sampaikan. Aku memohon ampunan untukku dan kalian serta seluruh kaum muslimin dari seluruh dosa.
Mohonlah ampunan kepada-Nya niscaya Dia akan mengampuni kalian. Sesungguh nya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (muslim.or.id)
Kamis, 23 April 2020
Azab (8)
Azab (8)
"DAN mereka meminta kepadamu agar azab disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak menyalahi janji-Nya. Sesung guhnya sehari di sisi Tuhan-Mu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung." (29)
"Dan mereka (orang-orang kafir) berkata: "Bilakah datangnya azab itu, jika mema ng kamu orang-orang yang benar." (30)
"Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan?" (31)
"Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Aad yaitu ketika dia memberi peringatan ke pada kaumnya di Al-Ahqaf (a19) dan se sungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan se sudahnya (dengan mengatakan) : "Ja nganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku kuatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar." (32)
_______________________
(29). QS 22 (47)
(30). QS 27 (71))
(31). QS 37 (176)
(32). QS 46 (21)
(a19). Nabi Hud as sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran surat al-A’raf ayat 69 merupakan pewaris kaum Nuh melalui jalur Sam. Beliau adalah putra Abdullah bin Rabah bin al-Khulud bin ‘Ad dan salah satu Post-Deluvian Prophets atau nabi-nabi pasca banjir besar Nuh yang diutus untuk kaummnya yang bernama kaum ‘Ad.
Menurut Ibnu Katsir, nenek moyang kaum ‘Ad adalah generasi ke-4 dari Nabi Nuh as, yaitu Ad bin Aush bin Sam bin Nuh as.
Kaum ‘Ad atau bangsa ‘Ad dikelompokkan sebagai al-‘Arab al-Ba’idah atau bangsa Arab yang telah punah sebagaimana bangsa Tasm, Jadis, Samud, Imliq, al-Wabar, dan Abd-Dakhm.
Al-Quran menyebut kaum Ad setelah kaum Luth dan Samud. Kaum Luth semasa dengan Nabi Ibrahim as yang diperkirakan hidup antara abad ke-18 dan ke-17 SM.
Sedang kaum Samud diperkirakan masanya sejak abad ke-8 SM. Untuk kaum ‘Ad sendiri diperkirakan hidup pada tahun 2000-an SM. Pendapat ini diperkuat oleh adanya ayat Al-Quran yang menyebut kaum ‘Ad sebagai pelanjut kaum Nabi Nuh as.
Al-Quran menggambarkan kaum ‘Ad sebagai kaum superior, dalam surat al-A’raf ayat 7 dikisahkan mereka memiliki kekuatan dan perawakan tubuh yang lebih besar dibanding umat sebelumnya. Hal ini menyebabkan munculnya tafsir berlebihan dalam menggambarkan tubuh kaum ‘Ad.
Ada yang menyebut tubuh mereka setinggi pohon kurma, setinggi 12 hasta, dan ada pula yang menyebut antara 400 sampai 500 hasta.
Dalam as-Syu’ara ayat 133-134 mereka dikisahkan mempunyai banyak keturunan, hewan ternak, kebun-kebun dan mata air. Pada ayat tersebut tampak jelas bahwa pencapaian tingkat kebudayaan kaum Nabi Hud lebih maju dibandigkan kaum Nabi Nuh.
Penggunaan kata ‘kebun’ dan ‘binatang ternak’ menunjukkan bahwa kaum Nabi Hud telah memiliki kemampuan bercocok tanam dan berternak. Ini adalah kemampuan yang dikembangkan manusia pada masa Neolitik.
Pada ayat 128-129 dalam surat yang sama Allah mengisahkan bahwa mereka mendirikan bangunan-bangunan, membuat istana dan benteng-benteng di atas perbukitan dan berharap akan hidup kekal.
‘Bangunan’, ‘istana’ dan ‘benteng’ bukanlah bangunan sederhana, ia berbentuk besar, tinggi, dan tebal sehingga dibutuhkan banyak manusia dan kemampuan mobilisasi massa serta teknologi tinggi untuk membangunnya.
Ini menegaskan bahwa kaum Hud cukup besar dan berkembang sedemikian rupa sehingga beberapa mufassir tidak lagi menyebutnya kaum melainkan negeri.
Nabi Hud menjalankan kerasulannya di kota Iram, Irama Dlatil Imad sebagaimana disebutkan dua kali dalam Al-Quran merupakan ibu kota kaum ‘Ad di wilayah timur Hadramaut tepatnya di wilayah ar-Rub’ al-Khali di daerah luas Arab Saudi selatan.
Daerah itu diperkirakan berkelok-kelok di daerah yang membentang dari Hisma di Sinai sampai daerah suku Syamr. Wilayah ini dikenal juga dengan nama al-Ahqaf yang secara harfiah berarti bukit-bukit pasir yang miring.
Pendapat lain mengatakan Iram terletak di Damaskus karena berhubungan dengan Aram yang berkuasa di Damaskus sejak abad ke-11 SM. Ada pula mufassir yang menyebut Iram sebagai nama pahlawan ‘Ad dan pilar-pilar itu diibaratkan sebagai tubuhnya.
Dari penjelasan tentang kaum ‘Ad yang terdapat dalam Al-Quran, dapat digambarkan bahwa kaum ‘Ad adalah kaum yang tidak mempercayai kerasulan Nabi Hud as.
Surat Hud ayat 50-60 menjelaskan usaha Nabi Hud menyeru kaumnya untuk menyembah Allah SWT, mengajak mereka untuk memohon ampun dan bertaubat kepada Allah agar diturunkan hujan yang memberi kesuburan bagi negeri mereka. Kaum ‘Ad menolak ajaran Nabi Hud, menuduhnya gila dan menantang untuk mendatangkan siksaan dari Allah.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah berkata, para mufassir menyebutkan bahwa ketika kaum ‘Ad meminta disegerakan adzab sebagaimana dikisahkan dalam surat Hud ayat 52, Allah SWT memulai dengan menahan hujan selama tiga tahun.
Kaum ‘Ad mengutus delegasi berjumlah sekitar 70 orang untuk mencari air. Kemudian salah seorang pemuka agama mereka yang bernama Qail bin Anaz berdoa untuk kaummnya lalu Allah mengirimkan tiga awan yaitu putih, merah dan hitam, mereka diseru dari langit “Pilihlah untukmu dan kaummu dari awan ini.” Qail menjawab, “Aku memilih yang berwarna hitam.”
Qail menyangka bahwa awan hitam adalah awan yang membawa hujan untuk mereka. Kemudian Allah mengirimkan awan hitam yang telah dipilih Qail kepada kaum ‘Ad hingga awan itu keluar di sebuah lembah yang dinamakan al-Mughits.
Penduduk kaum ‘Ad melihatnya dan mereka bergembira ria, mereka berkata, “Inilah hujan untuk kami!”.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahqaf ayat 24-25: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang terlihat lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”
Lalu Allah SWT menggerakkan awan hitam itu 7 hari berturut-turut mengepung mereka. Tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup di desa kaum ‘Ad, sementara Nabi Hud as dan orang-orang yang telah beriman terlebih dahulu pergi dari kaumnya, mengasingkan diri dan menghindar dari adzab dan siksa Allah yang pedih.
Allah menyerupakan kaum itu dengan tunggul pohon kurma yang tidak memiliki kepala karena angin waktu itu mendatangi mereka dan menga ngkat mereka ke atas dengan kencangnya lalu memutar kepala-kepala mereka hingga putus dan yang tersisa hanya jasad tanpa kepala.
Beberapa dari mereka ada yang mengungsi ke gua dan gunung karena rumah-rumah mereka telah hancur. Kemudian Allah mengutus angin al-Aqim, yaitu angin panas yang disertai nyala api di belakangnya.
Kaum ‘Ad yang tersisa menyangka angin inilah yang akan menyelamatkan mereka. Padahal angin ini justru mengumpulkan mereka semua dalam pusaran hawa dingin dan panas yang sangat membinasakan.
Inilah azab angin terdahsyat dalam sejarah yang pernah terjadi di muka bumi disertai dengan te riakan-teriakan yang amat memilukan dari kaum ‘Ad.
Inilah adzab yang mereka minta untuk disegera kan kedatangannya.(bincangsyariah.com)
Rabu, 22 April 2020
Azab (7)
Azab (7)
"Mereka mengatakan : "Bilakah (datang nya) anca man itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?"
"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menda tangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan pada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal (a19). Apabila telah da tang ajal mereka, maka mereka tidak da pat mengundurkannya barang sesaat pun Dan tidak (pula) mendahulukan (nya)."
"Katakanlah: "Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?"
"Kemudian, apakah setelah terjadinya (azab itu), kemudian itu kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (a20) (baru kamu mempercayainya), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?"
"Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu: "Rasa kanlah olehku siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan."
"Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarlah (azab yang dijanjikan) itu?' Katakanlah : "Ya, demi Tuhanku, sesung guhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput ( daripadanya)." (26)
"Mereka meminta kepadamu supaya di segerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan (a21), pa dahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya." (27)
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya segera."
"Mereka berkata : "Kapankah janji itu akan datang, ji ka kamu sekalian adalah orang-orang yang benar?" (28)
______________________________
(26). QS 10 (48-53)
- (a19). Yang dimaksud dengan ajal ialah masa keruntuhannya.
- (a20). Di waktu terjadinya azab itu.
(27). QS 13 (6)
(a21). Orang-orang musyrik dengan cara mengejek meminta kepada Nabi Muham mad SAW supaya disegerakan turunnya siksa, padahal semestinya mereka lebih dahulu meminta rahmat dan keselamatan.
(28). QS 21 (37-38)
Azab (6)
Azab (6)
"BARANGSIAPA yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesung guhnya dia berbuat itu untuk (kesela matan) dirinya sendiri; dsn barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berbuat dosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang rasul." (21)
"Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al-Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?" (22)
"Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun melainkan sudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan." (23)
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku (bera da) di Atas hujjah yang nyata (Al-Quran) dari Tuhanku (a17) sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa
(azab) yang kamu minta supaya disege rakan kedatangannya. Menerapkan hukum itu hanyalah hak Allah, Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi putusan yang paling baik." (24)
"Katakanlah : " Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara Aku dan kamu (a18). Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zhalim." (25)
_________________
(21). QS 17 (15)
(22). QS 20 (134)
(23). QS 26 (208)
(24). QS 6 (57)
(a17). Maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW mempunyai bukti yang nyata atas kebenarannya.
(25). QS 6 (58)
(a18). Maksudnya tentu Allah SWT telah menurunkan azab kepadamu sampai kamu binasa.
Senin, 20 April 2020
Azab (5)
Azab (5)
"DAN penduduk negeri itu telah Kami binasakan, ketika mereka berbuat zhalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka." (18)
"Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang pendu duknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana tinggi." (19)
"Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyam paikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan mem beri peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata : "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir."
"Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah." (a16) (20)
________________
(18). QS 18 (59)
(19). QS 22 (45)
(20). QS 6 (130-131)
(a16). Penduduk suatu kota tidak akan diazab sebelum diutus rasul yang akan memberi peringatan kepada mereka.
(Sebagai seorang Muslim kita sangat dianjurkan untuk mempelajari sejarah umat terdahulu yang diazab oleh Allah SWT karena kedurhakaannya. Meski dianjurkan untuk dijadikan pelajaran, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar umatnya tidak berlama-lama berada di tempat di mana azab Allah pernah turun.
Berikut ini di antara tempat-tempat yang diazab itu :
1. Pompeii
Dua tembok dari situs Pompeii yang paling ramai dikunjungi wisatawan roboh akhir tahun 2010, akibat curah hujan yang tinggi dan kurangnya perhatian pemerintah Italia. Situs warisan dunia itu bercerita banyak tentang kehidupan bangsa Romawi.
Ketika Gunung Vesuvius mengalami letusan hebat pada pagi hari 24 Agustus 79 M, penduduk kota Pompeii menjalani hari seperti biasanya. Pliny muda (pejabat dan penyair Romawi) menceritakan kisah menyeramkan itu lewat surat-surat bersejarahnya.
Letusan berlangsung terus menerus selama 24 jam diiringi hujan debu, awan panas serta lava pijar. Hanya sebagian orang yang segera menyelamatkan diri saat letusan pertama, berhasil selamat. Awan panas yang muncul setelah kubah lava runtuh memanggang Pompeii, dan hujan abu vulkanik mengubur penduduk hidup-hidup.
Keterkejutan terlihat jelas dalam ekspresi mayat-mayat membatu yang ditemukan di Pompeii. Usai bencana biasanya kota yang hancur dibangun kembali, tapi tidak demikian halnya dengan Pompeii.
Sebelum hancur, kota itu adalah salah satu kota plesir bangsa Romawi. Letaknya di Semenanjung Napoli (Naples). Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks.
Pesta seks di pemandian umum menjadi bagian dari gaya hidup. Pemandian umum di Pompeii sudah eksis jauh sebelum pemandian serupa ada di kota Roma. Dari lukisan dinding yang ditemukan di bangunan-bangunan Pompeii terlihat jelas kegilaan penduduknya akan seks.
Sebagai pelajaran, kedahsyatan siksa Allah SWT atas kaum penyuka hubungan sejenis ini saat ini bisa menjadi tujuan wisata
2. Laut Mati
Laut mati adalah tempat terendah yang ada di permukaan bumi, permukaan airnya berada 422 meter di bawah permukaan laut. Pantainya laut seluas 402 km persegi itu paling kering di dunia. Tingkat keasinannya mencapai 28-35%, padahal normalnya keasinan laut hanya 3-6%. Laut Mati terletak di Lembah Yordan, yang berbatasan dengan Tepi Barat, Yordania dan wilayah Palestina yang dikuasai Israel.
Para arkeolog yang bekerja di situs Tall As-Sa`idiyah di sebelah utara Laut Mati mendapati bahwa sekitar Zaman Perunggu (1800-2350 SM) di sana terdapat kehidupan. Saat itu iklim di kawasan tersebut tidak kering seperti sekarang. Antropolog forensik AS, Prof Mike Finnegan meneliti tiga kerangka pria di Numeira selatan Laut Mati dari tahun 2350 SM.
Dia menyimpulkan bahwa ketiganya mati karena tertimpa bebatuan akibat gempa besar. Kemungkinan di daerah terse but terjadi gempa sedikitnya 6 skala Richter dibenarkan geolog Israel Shmuel Marco, karena banyak terdapat patahan.
Ronald Eldon Wyatt, petualang Amerika tahun 1989 dan 1990 mendatangi Laut Mati untuk mencari lokasi kota Sodom, Gomorrah, Adman, dan Zeboim yang disebutkan dalam Bibel ada di sekitar Kanaan. Dia mengamati lapisan geologi yang ada. Salah satu temuannya adalah lempengan tanah garam dengan bercak belerang kuning di dalamnya. Temuan seperti itu berceceran di sana, termasuk bongkahan-bongkahan belerang sebesar ibu jari.
Tahun 1924, William Albright and Melvin Kyle juga menemukan hal yang sama. Dalam bukunya “Exploration at Sodom”, Dr Melvin Kyle menulis, “… di sebuah daerah yang dihujani belerang pasti akan menunjukkan adanya belerang. Ya, memang begitu adanya. Kami memungut belerang murni dalam potongan sebesar ujung ibu jari saya.”
Belerang itu bercampur dengan napal (tanah semen) dari pegunungan sisi barat dari laut dan ditemukan di sepanjang pantai dan di seberang timur, yang jaraknya 4-5 mil dari bongkahan belerang yang ditemukan Kyle. “Entah bagaimana tersebar jauh dan luas di dataran ini,” tulis Kyle.
Al-Quran menceritakan kehancuran kaum Nabi Luth yang diazab karena perilaku homoseksualnya.
فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ٧٣ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ٧٤ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ٧٥ وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ٧٦ [ الحجر:73-76]
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).”
(QS Al-Hijr [15]: 73-76).
Kaum Tsamud diazab Allah SWT dengan satu suara keras menggelegar hingga mati bergelimpangan. Mereka menolak seruan Nabi Shalih as meninggalkan penyembahan berhala. Mereka membangun kota dengan cara memahat gunung dan batu
3. Petra
Kota kuno Petra terletak di timur Wadi Araba, Yordania. Petra yang dalam bahasa Yunani berarti batu, dibangun oleh bangsa Arab nomaden al-Anbaath (jamak dari Nabaath). Tidak jelas kapan kota yang dibangun di pegunungan batu berwarna kemerahan itu didirikan.
Menurut kepercayaan Nasrani, kota itu sudah ada dan berjaya sebelum dan sesudah Nabi Isa `Alaihissalam dilahirkan. Orang-orang al-Anbaath menguasai perdagangan kemenyan, dupa dan rempah-rempah, hingga ke daerah Mesopotamia (Iraq).
Petra menjadi situs warisan dunia pada 6 Desember 1985. Keajaiban Petra tidak hanya pada bangunan kota yang tingginya mencapai 30 meter lebih dan dibentuk dengan memahat gunung batu, tapi juga pada sistem pengairannya yang canggih. Air disimpan secara efisien untuk seluruh kota, dialirkan melalui pipa-pipa tanah liat dari Wadi Musa. Pipa air juga dipasang sepanjang jalur perdagangan yang tandus di timur hingga ke Mediterania.
Orang al-Anbaath penyembah Manat, Latta, Uzza dan Dusharra. Petra akhirnya dikuasai Kerajaan Romawi sampai 363 M, saat sebuah gempa dahsyat meluluhlantakkan sebagian besar kota. Setelah kejadian itu, kota dibiarkan hancur dan perlahan mulai dilupakan orang. Hanya segelintir Arab Badui kadang melewatinya.
Tahun 1812 Johann Ludwig Burckhardt dari Swiss berhasil membujuk Arab Badui setempat untuk memperlihatkan kota Kuno yang pernah dibacanya dari buku. Petra kemudian menjadi tempat tujuan wisata seluas 264.000 meter persegi.
4. Madain Shalih
Madain Shalih artinya kota Nabi Shalih, yang berdasarkan kisah dalam al-Quran dihuni oleh kaum Tsamud. Seperti Petra, kota itu dibangun dengan memahat gunung batu sehingga disebut al-Hijr.
Menurut Dr Abdul Rahman al-Ansari dan Dr Hussein Abu al-Hassan, al-Hijr dibangun untuk menyuplai bekal perjalanan karena letaknya yang berada di jalur perdagangan kala itu. Al-Hijr adalah kota yang sangat makmur pada zamannya.
Sekitar tahun pertama Masehi, al-Hijr ditaklukkan al-Anbaath, yang kemudian menjadikannya ibukota kedua setelah Petra. Al-Hijr lalu dijadikan markas militer dalam menghadapi Romawi.
Kaum Tsamud yang mendiami al-Hijr diazab oleh Allah SWT dengan satu suara keras yang menggelegar hingga mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka. Sebab, menolak seruan Nabi Shalih yang mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan karena membunuh unta Nabi Shalih.
Peristiwa ini diabadikan Al-Quran dalam Surat Al A’raf.
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ٧٣ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا وَتَنۡحِتُونَ ٱلۡجِبَالَ بُيُوتٗاۖ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ٧٤ [ الأعراف:73-74]
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.”
“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS: Al A’raf [7]: 73-74)
Al-Hijr atau Hegra terletak 20 km utara kota Al-`Ula dan 400 km barat laut Madinah, Arab Saudi). (nahimunkar.org)
Minggu, 19 April 2020
Azab (4)
Azab (4)
"DAN mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pe ngetahuan kepada mereka karena kede ngkian antara mereka (a7). Kalau tidak lah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) (a8) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu." (15)
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada kete tapan yang menentukan (dari Allah) tentang mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih." (16)
"Tidak ada suatu negeripun (yang dur haka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfudh)."
"Dan sekali-kali tidak ada yang menghala ngi Kami untuk mengirimkan (kepa damu) tanda-tanda (kekuasaan Kami) melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu (a9). Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk ditakuti." (17)
__________________
15. QS 42 (14)
- (a7). Maksudnya adalah ahli kitab itu berpecah belah sesudah mereka menge tahui kebenaran dari Nabi-nabi mereka. Setelah itu datang Nabi Muhammad SAW dan nyata kebenarannya mereka tetap berpecah belah dan tiada memper cayainya.
- (a8). Yang dimaksud dengan "orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab" adalah ahli kitab yang hidup di masa Nabi Muhammad SAW.
16. QS 42 (21)
17. QS 17 (58-59)
(a9). Allah SWT menerapkan bahwa orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kekuasaan-Nya seperti yang dibe rikan kepada Rasul-rasul-Nya yang dahulu, akan dimusnahkan. Orang-orang Quraisy meminta kepada Nabi Muhammad SAW supaya diturunkan pula kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Allah SWT itu, tetapi Allah tidak akan menurunkannya kepada mereka, karena jika tanda-tanda kekuasaan Allah itu diturunkan juga, pasti mereka akan mendustakannya, dan tentulah mereka akan dibinasakan pula seperti umat-umat yang dahulu, sedangkan Allah SWT tidak hendak membinasakan kaum Quraisy.
(Sahabat, pernahkah memikirkan apa penyebab Allah menimpakan bencana pada suatu kaum atau negeri? Adakah kita meyakini bahwa bencana hadir dikarenakan ulah tangan kita sendiri, yakni disebabkan banyaknya dosa yang kita lakukan? Ataukah kita mengikuti prasangka buruk bahwa Allah menzalimi hamba-Nya dengan bencana kekeringan atau kelaparan atau banjir dan longsor yang ditimpakan pada suatu kaum?
Masih banyak orang yang belum menyadari bahwa ada korelasi antara perbuatan dosa dengan datangnya bencana. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan hal ini, dalam banyak ayat dan hadits, berikut beberapa di antaranya:
1. Dosa karena mengingkari nikmat Allah.
Sungguh dahsyat dosa mengingkari nikmat yang diberikan Allah, padahal segala hal yang ada dalam hidup kita merupakan karunia-Nya, tapi kita justru menyatakan nikmat tersebut sebagai hasil dari kecerdasan kita sendiri, atau hasil dari usaha keras yang kita lakukan. Maka tak heran jika Allah menimpakan bencana pada orang-orang yang kufur nikmat seperti ini.
“Mereka mengetahui nikmat-nikmat Alloh, (tetapi) kemudian mereka meningkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. An Nahl: 83)
Dosa akibat kufur ini bisa mengakibatkan Allah menurunkan kelaparan dan ketakutan pada sebuah negeri:
“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat,” (QS. An-Nahl: 112)
2. Dosa berbuat zalim.
Allah SWT telah berjanji tak akan pernah membinasakan sebuah kota melainkan disebabkan penduduk kota tersebut dalam keadaan melakukan perbuatan zhalim yang sifatnya masif.
“Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qhashash: 59)
Demikian pula sebuah negeri yang penduduknya banyak berbuat zhalim, maka Allah akan menimpakan azab yang pedih dan keras, entah berupa bencana alam ataupun bentuk azab lainnya.
“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS Huud:102)
3. Dosa orang-orang yang hidup mewah namun melakukan kedurhakaan.
Berhati-hatilah jika kita termasuk ke dalam golongan yang Allah berikan kesempatan untuk merasakan hidup mewah di sebuah negeri, karena jika kita melakukan kedurhakaan pada Allah, maka hal tersebut dapat menjadi alasan bagi Allah untuk menghancurkan negeri tersebut sehancur-hancurnya.
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra’ : 16).
Hal ini dikarenakan Allah menjanjikan untuk melimpahkan rezeki dari langit dan bumi untuk penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa padaNya. Namun Allah juga telah memperingatkan akan membalas dengan siksa atas perbuatan buruk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf : 96)
4. Dosa melakukan perbuatan zina dan memakan riba secara terang-terangan.
Saat ini perbuatan zina sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan, di mana perempuan-perempuan menjajakan dirinya di sosial media, auratnya disingkap untuk menarik perhatian laki-laki.
Juga makin maraknya foto dan video porno yang direkam sendiri oleh para pelaku zina, dengan tujuan disebarluaskan ke khalayak ramai. Naudzubillah. Padahal zina secara terang-terangan merupakan perbuatan keji dan penyebab datangnya bencana untuk suatu kaum.
“Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya- (niscaya akan turun kepada kalian bencana): (1). Tidaklah nampak zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.” (HR Ibnu Majah).
Demikian juga dengan suburnya riba, seolah-olah kaum di negeri tersebut telah rela diazab jika mereka berzina dan memakan riba secara terang-terangan.
“Apabila perbuatan zina dan riba sudah terang-terangan di suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah rela terhadap datangnya adzab Allah untuk diri mereka.” (HR. Hakim)
5. Dosa berbuat curang dengan mengurangi takaran dan timbangan.
Banyak pedagang yang berbuat curang atas barang dagangannya. Mereka mengurangi takaran atau timbangan sehingga bisa mengambil untung lebih dari perbuatan tersebut.
Tanpa disadari, mencurangi timbangan dapat mendatangkan bencana berupa kekeringan dan gagal panen, serta susahnya penghidupan di suatu negeri.
“Tidaklah (suatu kaum) mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezhaliman penguasa atas mereka.” (HR. Ibnu Majah).
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” (QS. al-Muthaffifîn:1-6).
6. Dosa karena tidak membayarkan zakat.
Orang-orang yang menahan hartanya dari berzakat, maka hujan akan tertahan pula dari mereka, sehingga negeri mereka akan mengalami kekeringan.
“Tidaklah (suatu kaum) menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah)
7. Dosa karena membiarkan kemaksiatan terjadi padahal mampu mencegahnya.
Bencana juga akan hadir di negeri yang penduduknya tidak melakukan kewajiban nahi mungkar, serta membiarkan perbuatan keji dilakukan tanpa mencoba mencegahnya sama sekali meskipun mereka memiliki kemampuan untuk mencegahnya.
“Tidaklah suatu kaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan kemaksiatan, sedang mereka mampu mencegahnya, tetapi tidak mau mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan adzab secara merata kepada merek.” (HR. Abu Dawud)
Mengapa hal ini terjadi? Mengapa kita sebagai muslim tidak diperbolehkan membiarkan saudara kita yang lain berbuat kemungkaran?
“Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa; jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya,” (HR al-Bukhari).
8. Dosa mengumpulkan harta haram
Selanjutnya, bencana banjir dan longsor akan datang pada orang-orang yang sibuk mengumpulkan harta haram yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.
“Barangsiapa mengumpulkan harta dengan tidak sewajarnya (tidak benar) maka Allah akan memusnahkannya dengan air (banjir) dan tanah (longsor).” (HR. Al-Baihaqi)
Sahabat, semoga kita tersadar bahwa bencana yang menimpa suatu kaum sangat mungkin disebabkan dosa-dosa yang dikerjakan oleh kaum itu sendiri. Maka semoga kita tidak termasuk orang-orang yang menjadi penyebab turunnya bencana di negeri ini). (tabungwakaf.com)
Sabtu, 18 April 2020
Azab (3)
Azab (3)
"DAN (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan, ketika mereka berbuat zha lim, dan telah Kami tetapkan waktu ter tentu bagi kebinasaan mereka." (12)
"Maka janganlah kamu tergesa-gesa me mintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti." (13)
"Dan jika sekiranya Allah menyiksa manu sia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permu kaan bumi suatu makhluk yang melata pun (a6) akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal pada mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya." (14)
_________________
(12). QS 18 (59)
(13). QS 19 (84)
(14). QS 35 (45).
(a6). Daabbah artinya makhluk yang melata. Tetapi yang dimaksud disini adalah manusia.
(Dābbatul Ardh (Arab دابة الأرض) adalah sebuah frasa yang berarti binatang buas (monster) yang muncul dari perut bumi. Dalam Islam binatang ini sebagai salah satu tanda sebelum datangnya Hari Penghakiman. ... Dabbat al-ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa As. (Wikipedia).
Di antara tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah keluarnya dabbah dari tempatnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami akan keluarkan seekor dabbah (binatang) dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesunggguhnya manusia dulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami." (An-Naml: 82).
Setelah dabbah keluar, dia akan berbicara dengan manusia. Selain itu ia akan memberi tanda kepada orang kafir dan juga orang yang beriman kepada Allah. Bagi orang-orang kafir dabbah akan memberi tanda pada hidungnya sebagai tanda kekufurannya.
Sedangkan tanda untuk orang yang beriman, dabbah akan memberi tanda pada wajah mereka sehingga wajah orang-orang yang beriman tersebut menjadi bersinar.
Para ulama banyak yang berlainan pendapat mengenai tempat keluarnya dabbah. Namun dari sekian banyak pendapat yang muncul, diantaranya ada yang paling kuat.
Yakni pendapat yang mengatakan bahwa dabbah akan keluar dari Mekah, tepatnya dari masjid yang paling mulia. Pendapat tersebut diperkuat dengan adanya hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Asid dalam Majma'uz Zawawid VIII/ 7-8 yang berbunyi:
"Dabbah akan keluar dari masjid yang paling besar, tatkala mereka (sedang duduk-duduk tiba-tiba bumi bergetar) ketika mereka sedang demikian tiba-tiba bumi terbelah." (dream.co.id)
Rasulullah SAW bersabda tentang Dabbah ini dan menjadi salah satu pengingat Umat Islam untuk selalu bertaubat. Dalam hadist Riwayat Muslim, Rasul menyebut tiga perkara yang jika ketiganya keluar maka semua taubat dan amal tiada gunanya. Ketiganya adalah terbitnya matahari dari arah barat, Dajjal dan Dabbah.
“Ada tiga perkara yang jika keluar maka tidak akan berguna lagi keimanan orang yang belum beriman sebelumnya; atau belum mengusahakan kebaikan yang dilakukan dalam keimannya. Ketiga perkara itu adalah: terbitnya matahari dari barat, Dajjal dan binatang bumi.” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda : “Sesungguhnya tanda-tanda (Kiamat) yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya binatang kepada manusia pada waktu Dhuha. Mana saja yang lebih dahulu muncul, maka yang satunya akan terjadi setelahnya dalam waktu yang dekat.” (HR. Muslim)
Beliau pun bersabda : “Bersegeralah kalian beramal (sebelum datangnya) enam perkara… (beliau menyebutkan di antaranya) dabbah.” (HR. Muslim).
Dabbah secara bahasa memiliki makna hewan yang berjalan di atas bumi. Ulama berbeda pendapat tentang hal ini :
Pertama, beberapa ulama mengatakan Dabbah adalah anak unta yang disapih dari unta Nabi Shalih.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dari Hudzaifah bin Asid al-Ghifari, bahwa Rasulullah SAW menyebut tentang dabbah, (lalu beliau menuturkan hadits, di dalamnya ada ungkapan)
“Mereka tidak menggembalakannya, melainkan ia hanya bersuara di antara rukun dan maqam (rukun Yamani dan Maqam Ibrahim).”
Kedua, dabbah adalah al-Jassasah yang disebutkan dalam hadits Tamim ad-Dari pada kisah Dajjal.
Pendapat ini dinisbatkan kepada Abdullah bin Amru bin ‘Ash. Pendapat ini tidak kuat lantaran sifat-sifat dan apa yang dilakukan oleh si Dabbah tidak cocok dengan gambaran al-Jassasah dalam hadits Tamim ad-Dari.
Ketiga, dabbah adalah ular yang mengawasi dinding Ka’bah, yang disambar oleh elang ketika orang-orang Quraisy hendak membangun Ka’bah.
Pendapat ini dinisbatkan oleh al-Qurthubi kepada Ibnu ‘Abbas ra. Hanya, beliau tidak menyebutkan sumbernya.
Keempat, dabbah adalah manusia yang berbicara, mendebat dan membantah orang-orang yang gemar melakukan bid’ah dan kekufuran agar mereka berhenti. Agar jika mereka binasa, mereka binasa dengan keterangan (hujjah) yang nyata.
Kelima, Dabbah adalah bakteri yang berbahaya yang akan membuat manusia menderita. Bakteri tersebut melukai bahkan bisa membunuhnya. Ketika melukai seseorang ia membawa pesan berupa nasihat kepada manusia seandainya mereka memiliki hati yang bisa berpikir, sehingga mereka sadar untuk kembali kepada Allah, kepada agamanya dan menekan mereka untuk menerima hujjah.
Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Abu ‘Ubayyah dalam komentarnya terhadap kitab an-Nihayah/ al-Fitan wal Malahim, karya Ibnu Katsir.
Bagi kita, cukup saja percaya dengan kabar dari manusia paling dekat dengan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW ini. Selebihnya, kita serahkan kepada Allah yang Mahatahu atas segala yang telah dan akan terjadi. (Islampos. com)
Jumat, 17 April 2020
Azab (2)
Azab (2)
"DAN mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan (a3), benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya." (6)
"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (a4) sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedangkan kamu tidak menyadarinya." (7)
"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tung gu melainkan hari kiamat (yaitu) kedata ngannya kepada mereka dengan tiba-ti ba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedah nya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?"(8)
"Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zhalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Ku lah kembalinya (segala sesuatu)." (9)
"Orang-orang yang mereka seru itu, me reka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka (a5) siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengha rapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu ada lah suatu yang (harus) ditakuti." (10)
"Jikalau Allah menghukum manusia kare na kezhalimannya, niscaya tidak akan di tinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentu kan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya." (11)
__________________________
(6). QS 29 (53).
(a3). Yang dimaksud dengan 'waktu yang ditetapkan' adalah menjanjikan azab itu pada hari pembalasan di akherat.
(7). QS 39 (55).
(a4). Maksudnya adalah Al-Quranulkarim.
(8). QS 47 (18).
(9). QS 22 (48).
(10). QS 17 (57).
(a5). Yakni Nabi Isa as, para malaikat dan 'Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(11). QS 16 (61).
(Azab menurut bahasa Arab ‘aqoba-yu’ki bu yang artinya balasan, siksa dan teguran bagi umat yang melanggar larangan aga ma.
Dalam bahasa inggris azab adalah “punish ment” yaitu hukuman, siksaan, to take o’s like a man menerima penyiksaan itu seba gai seorang jantan, perilaku yang amat ka sar, punishment is will occurs if human collide the prohibition of religion and they will get turtune from Gad.
Dan dalam bahasa Indonesia Azab adalah siksaan yang di hadapi manusia atau makhluk Tuhan lainnya.
Menurut Quraish Shihab, Azab adalah
suatukemurkaan Allah akibat pelanggaran yang dilakukan manusia yaitu pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW.
Dari definisi diatas disimpulkan bahwa Azab adalah suatu peringatan akan kemurkaan Allah pada makhluknya (manusia) yang telah melanggar perintah Allah yaitu perbuatan yang dilarang baik berupa ibadah, amal, iman dan lain-lain, dibalasnya dengan teguran berupa bencana alam). (naifu.wordpress.com)
Azab (1)
Azab (1)
By Aminuddin
ID Pub : 8800179315466420
"APAKAH kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memi lih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu terse sat (menyimpang) dari jalan (yang benar)." (1)
"Hai orang-orang yang diberi Al-Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang (a1) atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu (a2). Dan ketetapan Allah pasti berlaku. (2)"
"Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Ka mi (menimpa penduduk) nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari."
"Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan : "Sesungguh nya kami adalah orang-orang yang zhalim." (3).
"Katakanlah : "Terangkatlah kepadaku, jika datang kepadamu sekalian siksaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?" (4)
"Sebenarnya (azab) itu akan datang kepa da mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, ma ka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh."
"Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang men cemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan."
"Katakanlah : "Siapakah yang dapat me melihara kamu di waktu malam dan si ang hari daripada (azab Allah) Yang Maha Pemurah?" Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka."
"Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi daripada (azab) Kami itu?" (5)
____________
(1). QS 4 (44).
(2). QS 4 (47).
- (a1). Menurut kebanyakan mufassirin, merubah muka mereka, lalu diputar ke belakang sebagai penghinaan.
- (a2). Hari Sabtu adalah hari yang khu sus untuk beribadah bagi orang-orang Yahudi.
(3). QS 7 (4-5).
(4). QS 10 (50).
(5). QS 21 (40-43).
Olok (10-tamat)
Olok (10-tamat)
12. QS 30 (Ar-Ruum Ayat 10) :
"KEMUDIAN, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka men dustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya."
13. QS 45 (Al-Jaatsiyah Ayat 9, 45):
"Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikannya olok-olok. Me reka lah (a16) yang memperoleh azab yang menghinakan."
"Yang demikian itu, karena sesungguh nya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah di tipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat."
14. QS 2 (Al-Baqarah Ayat 14-15) :
"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan : "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka (a17), mereka mengatakan : "Se sungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanya berolok-olok."
"Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka ter ombang-ambing dalam kesesatan mereka."
15. QS 21 (Al-Anbiyaa' Ayat 36) :
"Dan apabila orang-orang kafir itu meli hat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengata kan) : "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?", padahal mereka ada lah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah."
16. QS 31 (Luqman Ayat 6) :
"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan."
17. QS 15 (Al-Hijr Ayat 97-99) :
"Dan Kami sungguh-sungguh mengeta hui, bahwa dadamu menjadi sempit di sebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tu hanmu, dan jadilah kamu di antara ora ng-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepa damu yang diyakini (ajal)."
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8800179315466420
____________
(a16). Orang-orang yang banyak berdus ta dan berdosa yang tersebut dalam ayat sebelumnya (ayat 7).
(a17). Maksudnya pemimpin-pemimpin mereka.
Kamis, 16 April 2020
Olok (9)
Olok (9)
"Dzulqarnain berkata : "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku ter hadapnya adalah lebih baik, maka tolo nglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat) agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan". Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqar nain: "Tutuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata : "Berilah aku temba ga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu."
"Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) meluba nginya."
"Dzulqarnain berkata : "Ini (dinding) ada lah Rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku. Dia akan menjadikannya hancur luluh: dan janji Tuhanku itu adalah benar."
"Kami biarkan mereka di hari itu (a12) bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi (a13) sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya."
"Dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu (a14) kepada orang-orang kafir dengan jelas, yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan kebesaran-Ku, dan ada lah mereka tidak sanggup mendengar."
"Maka apakah orang-orang kafir menya ngka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir."
"Katakanlah : "Apakah akan Kami berita hukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia per buatannya dalam kehidupan dunia ini, se dangkan mereka menyangka bahwa me reka berbuat sebaik-baiknya."
"Mereka itu orang-orang yang kufur ter hadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (ku fur terhadap) perjumpaan dengan Dia (a15), maka haruslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat."
"Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok."
_________________
(a12). Yakni di hari kehancuran dunia yang dijanjikan Allah SWT.
(a13). Tiupan kedua yaitu tiupan sebagai tanda kebangkitan dari kubur dan pengumpulan ke Padang Mahsyar, sedang tiupan yang pertama ialah tiupan kehancuran alam ini.
(a14). Pada hari makhluk di Padang Mahsyar dikumpulkan.
(a15). Maksudnya adalah tidak beriman kepada pembangkitan di Hari Kiamat, hi sab dan pembalasan.
Rabu, 15 April 2020
Olok (8)
Olok (8)
"KEMUDIAN dia menempuh jalan (yang lain)."
"Hingga apabila dia telah sampai ke tem pat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matshari (a9) itu."
"Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya."
"Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi)."
"Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraannya (a10)."
"Mereka berkata : "Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu (a11) orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatlah kami membe rikan sesuatu pembayaran kepadamu, su paya kamu membuat dinding antara mereka."
"Dzulqarnain berkata : "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka."
_______________
(a9). Menurut sebagian ahli tafsir bahwa golongan yang ditemui Dzulqarnain itu adalah umat yang miskin.
(a10). Maksudnya, mereka tidak dapat memahami bahasa orang lain karena bahasa mereka amat jauh bedanya dari bahasa yang lain, dan mereka pun tidak dapat menerangkan maksud mereka dengan jelas karena kekurangan kecer dasan mereka.
(a11). Ya'juj dan Ma'juj adalah dua bang sa yang membuat kerusakan di muka bu mi sebagai yang telah dilakukan oleh bangsa Tartar dan Mongol.
Selasa, 14 April 2020
Olok (7)
Olok (7)
"MEREKA akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah : "Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya."
"Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh dua jalan."
"Hingga apabila dia telah sampai kepa da tempat terbenam matahari (a6), dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia menda pati disitu segolongan umat (a7). Kami berkata : "Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan (a8) terhadap mereka."
"Berkata Dzulqarnain : "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan me ngazabnya, kemudian dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazab ya dengan azab yang tiada taranya."
"Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala ya ng terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami."
_____________
(a6). Maksudnya, sampai ke pantai sebelah barat dimana Dzulqarnain melihat matahari terbenam.
(a7). Umat yang tidak beragama.
(a8). Yakni menyeru mereka kepada beriman.
Olok (6)
Olok (6)
"MAKA berjalanlah keduanya; hingga tat kala keduanya berjumpa dengan seorang pemuda, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata : "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar."
"Khidhr berkata : "Bukankah sudah ku katakan kepadamu bahwa sesungguh nya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
"Musa berkata : "Jika aku bertanya kepa damu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku."
"Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata : "Jikalau kamu mau, niscaya kamu rmengambil upah untuk itu."
"Khidhr berkata : "Inilah perpisahan anta ra aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."
"Adapun bahtera-bahtera itu adalah kepu nyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera."
"Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang muk min dan kami kuatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran."
"Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)."
"Adapun dinding rumah itu adalah kepu nyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang sa leh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewa saannya dan mengeluarkan simpanan nya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."
Senin, 13 April 2020
Olok (5)
Olok (5)
"MUSA berkata: "Itulah (tempat) yang ki ta cari". Lalu keduanya kembali, mengi kuti jejak mereka."
"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rah mat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."(a5)
"Musa berkata kepada Khidhr : "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu menga jarkan kepadaku ilmu yang benar di anta ra ilmu ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
"Dia menjawab : "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku."
"Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
"Musa berkata :"Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sa bar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun."
"Dia berkata : "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan ke padaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu."
"Maka berjalanlah keduanya, hingga tat kala keduanya menaiki perahu lalu Khi dhr melubanginya. Musa berkata : "Me ngapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe numpangnya?" Sesungguhnya kamu te lah berbuat sesuatu kesalahan yang besar."
"Dan (Khidhr) berkata : "Bukankah aku telah berkata : "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku."
"Musa berkata : "Janganlah kamu meng hukum aku karena kelupaaanku dan ja nganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku "
____________
(a5). Menurut ahli tafsir, hamba disini ia lah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat disini adalah wahyu dan kenabi an. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu tentang yang ghaib se perti yang akan diterangkan dalam ayat-ayat berikut.
Olok (4)
Olok (4)
11. QS 18 (Al-Kahfi) Ayat 56-106) :
"DAN tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembi ra dan sebagai pemberi peringatan; teta pi orang-orang yang kafir membantah de ngan yang batil agar agar dengan demi kian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terha dap mereka sebagai olok-olokan."
"Dan siapakah yang lebih zhalim daripa da orang yang telah diperingatkan de ngan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia ber paling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangan nya? Sesungguhnya Kami telah meletak kan tutupan di atas hati mereka, (sehing ga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mere ka tidak akan mendapat petunjuk sela ma-lamanya."
"Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengam pun lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan me reka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat kan azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung daripadanya."
"Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan, ketika mereka berbuat zha lim, dan telah Kami tetapkan waktu ter tentu bagi kebinasaan mereka."
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata ke pada muridnya (a4): "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun."
"Maka tatkala mereka sampai ke perte muan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu."
"Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Ba walah kemari makanan kita; sesungguh nya kita telah merasa letih karena perja lanan kita ini."
"Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk men ceritakannya kecuali setan dan ikan-ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."
______________
(a4). Menurut ahli ahli tafsir, murid Nabi Musa as adalah Yusya bin Nun.
Minggu, 12 April 2020
Olok (3)
Olok (3)
6. QS 11 (Huud) Ayat 8 :
"DAN sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata : "Apakah yang menghala nginya?" Ingatlah, di waktu azab itu da tang kepada mereka tidaklah dapat dipa lingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya."
7. QS 16 (An-Nahl) Ayat 34 :
"Maka mereka ditimpa oleh (akibat) keja hatan perbuatan mereka dan mereka dili puti oleh azab yang selalu mereka perolok-olokkan."
8. QS 21 (Al-Anbiyaa') Ayat 41 :
"Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang men cemooh kan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan."
9. QS 6 (Al-An'aam) Ayat 68 :
"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, ma ka tinggalkanlah mereka sehingga mere ka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)."
10. QS 9 (At-Taubah) Ayat 64-65 :
"Orang-orang yang munafik takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu su rat yang menerangkan apa yang tersem bunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka : "Teruskan lah ejekan-ejekan (terhadap Allah dan Rasul-Nya)." Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu."
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab : "Sesu ngguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya kamu selalu berolok-olok?"
Jumat, 10 April 2020
Olok (2)
Olok (2)
2. QS 13 (Ar-Ra'd) Ayat 32 :
"DAN sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu. Maka aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan-Ku itu."
3. QS 15 (Al-Hijr) Ayat 10-12 :
"Dan sesungguhnya Kami telah mengu tus (beberapa rasul) sebelum kamu kepa da umat-umat yang terdahulu."
"Dan tidak datang seorang Rasul pun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya."
"Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir)."
4. QS 36 (Yaasiin) Ayat 30 :
"Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan me reka selalu memperolok-olokkannya."
5. QS 43 (Az-Zukhruf) Ayat 5-7 :
"Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan Al-Quran kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?*
"Berapa banyak nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu."
"Dan tiada seorang nabi pun datang kepa da mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya."
Olok (1)
Olok (1)
Oleh aminuddin
ID Pub : 8800179315466420
1. QS 49 (Al-Hujuraat) Ayat 11:
"HAI orang-orang yang beriman, jangan lah suatu kaum mengolok-olok kan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (ya ng diolok-olokkan ) lebih baik dari mere ka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wsnita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (a11) dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman (a2) dan barangsiapa yang tidak mau bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (a3)
______________________
(a1). "Jangan mencela dirimu sendiri." Maksudnya adalah mencela antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu badan.
(a2). Panggilan yang buruk ialah gelar-ge lar yang tidak disukai oleh orang yang di gelari dengan gelar itu, seperti panggilan kepada seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata : hai fasik, hai kafir dan sebagainya.
(a3). Orang-orang zhalim itu dilaknat Allah SWT sebagaimana firman-Nya berikut ini :
- QS 7 (Al-A'raaf) Ayat 44 :
"Dan penguhuni-penghuni surga berse ru kepada penghuni neraka (dengan menga takan) : "Sesungguhnya kami dengan se benarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah mempe roleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepa damu)?" Mereka (penduduk neraka) men jawab: "Betul." Kemudian seorang penye ru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah dilim pahkan kepada orang-orang yang zhalim."
- QS 12 (Huud) Ayat 18 :
"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi (*) akan berkata : "Orang-orang inilah yang telah berdusta terha dap Tuhan mereka." Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang- orang yang zalim."
(*). "Para saksi" disini ialah malaikat, na bi-nabi dan anggota-nggota badannya sendiri.
- QS 40 (Al-Mukmin) Ayat 52 :
"(Yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zhalim permintaan maafnya dan bagi mereka lah laknat dan bagi me reka lah tempat tinggal yang buruk."
Langganan:
Postingan (Atom)