Kamis, 13 Oktober 2016

Kampung Kami (4)



Novel  Lepas
Kampung Kami (4)
Edisi Keempat
By  Mang Amin

I
“AYO Kiiiii … Bantu Ki Daus da Ki Saleh,” kata Ki Semangka. Delapan pendekar kesohor ini sepakat untuk membantu kedua rekan mereka setelah Ki Baut  berancang-ancang mengeluarkan jurus pamungkasnya, Badai Mengamuk.
Kakinya terangkat setinggi satu meter, lalu berputar-putar dan dari putaran badannya itulah tersimpan  kekuatan badai yang ketika dilepaskan semua yang ada di sekitarnya berjarak dua kilometer akan musnah.
Jika itu tanaman misalnya, akan tercabut dari akarnya. Jika itu tanah akan terbelah dan boleh jadi akan membentuk kawah serta lubang besar yang menganga. Juga bila itu batu akan pecah dan tercerai berai dihantam badai.
Kesepuluh pendekar itu tak hendak menghalangi rencana Ki Baut mengerahkan jurus andalannya itu. Mereka sepakat menunggu reaksi lanjutan Ki Baut. Mereka kini sudah bersiap dengan jurus Mata Elang. Sebuah jurus yang mengandalkan kekompakan tim, perpaduan antara kekuatan otot dan pikiran serta tenaga dalam yang paling dalam.
Chraaaaash …
Gueaaar …
Geeer … taaaak …
“Lepaskan …” Teriak Ki Baut.
Dari ketinggian satu meter dia lepaskan gumpalan badai yang kencang. Gumpalan sekeras batu cadas itu semakin lama semakin banyak,  sudah mengelilingi sepuluh pendekar yang tetap duduk bersila, berkon sentrasi  dengan kedua telapak tangan dirapatkan seketinggian dada.
Ada yang mereka ucapkan. Dari ucapan itulah muncul gumpalan segi empat yang memagari dimana mereka sekarang duduk merapatkan barisan. Gumpalan tadi itu berlapis sampai sepuluh lapis, dan jumlahnya semakin banyak seiring dengan kian mendekatnya jurus yang dilepaskan Ki Baut.
Ki Baut optimis serangannya kali ini berhasil melumpuhkan Ki Saleh dan kawan-kawan. Sikap optimisnya dilandasi  betapa kuat dan dahsyatnya badai yang ia kerahkan. Rasanya sulit dihindari, apalagi diantisi pasi. Andaipun selamat,  akan terluka parah yang berujung pada berpisahnya nyawa dari raga.
Ha ha ha ha …
“Mampukah kalian wahai tikus-tikus nakal?” Kata Ki Baut. Kedua kakinya kini sudah menginjak tanah sementara matanya tertuju ke depan. Menunggu reaksi berikutnya dari jurus Badai Mengamuk.
Satu menit belum ada reaksi. Dua menit lewat, sampai lima menit belum terdengar ledakan apa-apa. Badai hanya bisa mengelilingi gumpalan putih persegi yang memagari sepuluh pendekar.
“Keparat …” Teriaknya kesal bercampur geram.
Ki Baut murka. Wajar dia murka. Pasalnya, itu jurus tak ampuh, tak mampu menghabisi kesepuluh pende kar terlatih itu. Hanya berkeliling dari kiri ke kanan, dan kanan ke kiri berulangkali. Tak bisa masuk dan saat akan masuk terpecah beberapa bagian yang membuat Badai Mengamuk semakin lama semakin melemah.
“Aku tak boleh menyerah,” ujar Ki Baut. Dia akhirnya mengeluarkan jurus Lampu Menyala. Jurus ini jarang digunakan karena kehebatannya tak sebanding dengan jurus Badai Mengamuk. Tapi jurus ini mampu memacu jurus lain yang dipukul mundur lawan.
Husyaaaa …
Grusaaaa …
Krateksooooo …
Sebuah sinar menyerupai bulatan terbang rendah mendekati gumpalan badai yang kian menipis. Ketika sinar itu masuk  ke dalam gumpalan badai, berubah terang dan mengentalkan badai, sehingga menjadi keras laksana batu cadas.
Guaaaam …
Guaaarrr …
Terjadi benturan hebat. Ki Baut tertawa. Karena ternyata jurus Lampu Menyala mampu menjungkalkan kesepuluh pendekar. Yang membuat Ki Baut lega, lawannya lenyap ditelan sinar lampu.
Hua ha ha ha …
Hu hu hu hu hu …
He he he he …
Benarkah kesepuluh pendekar itu tewas?
Ternyata tidak benar. Mereka masih hidup dan sehat walafiat. Dengan cara apa mereka masih bisa berta han dari gumpalan maut yang dilesakkan Ki Baut? Dengan jurus Bayang tak Terlihat. Jurus ini hanya dimiliki pendekar tertentu yang berilmu tinggi.
Tak bisa sembarang pendekar menggunakan jurus sakti ini. Selain harus bersih lahir dan batin juga si pendekar harus bisa mengatasi berbagai rintangan seperti melewati kobaran api, anak panah yang memencar, dan kilauan seribu pedang. Sabar berlatih dan memerlukan waktu yang lama untuk menguasainya.
Bleeeek …
Huaaa …
“Hei Baut,” colek Ki Saleh dari belakang. Ki Baut menoleh dan …
Deeep …
Triiiing …
Satu kali pukulan telapak tangan terbuka, Ki Saleh mampu mementalkan lawannya sejauh seratus meter.
“Tahan Ki.” Ki Duren meminta menahan diri, saat rekannya itu hendak melepaskan pukulan kedua jarak jauh.
“Biarkan saja dia sadar dulu,” ujar Ki Semangka.
“Kita lihat bagaimana reaksinya,” timpal Ki Badrun.
Eeeegh …
Aduuuuh …
Kentut busuk …
Ki Baut mencoba berdiri. Sampai sepuluh kali dia harus menggerakkan kaki dan tangannya untuk berdiri. Dari mulutnya keluar darah segar walau tak banyak dan mengental. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Mukanya penuh luka karena terkena batu kerikil dan tanah.
Huuuup …
Gedebug …
Ki Baut berhasil berdiri.  Karena kedua kakinya tak kuat menopang badan, terjatuh lagi.
“Kita lihat, apakah dia bisa,” kata Ki Saung meminta rekan-rekannya untuk tetap fokus mengamati sepak terjang Ki Baut.
Haaaap …
Gedebug … 
 Ki Baut jatuh lagi. Karena kesal bercampur marah, dia memukul-mukul tanah sambil berteriak …
“Binataaaang … anjiiiing …!”
Sumpah serapah baru berhenti  setelah kesepuluh pendekar mendekat. Mereka mengelilingi Ki Baut yang duduk sambil  memukul-mukul permukaan tanah  menangisi kekalahan diri.
“Bangunlah Ki. Tak baik seorang pendekar heba seperti kamu menangis. Cengeng seperti anak kecil,” kata Ki Solar.
Ki Baut mengangkat wajahya. Lalu berlutut di depan Ki Solar untuk meminta ampun.
“Tolong bebaskan saya Ki. Saya berjanji tidak akan berbuat onar lagi,” ucap Ki Baut terisak-isak.
“Apa jaminanmu Ki Baut?” Tanya Ki Tama bersungguh-sungguh.
“Saya akan pergi jauh dari sini,” ucapnya terbata-bata.
“Lalu?”
“Saya berjanji tidak akan membalas dendam …”
“Lalu?”
“Saya juga berjanji tidak akan mengganggu warga kampung lagi.”
“Cuma itu Ki?”
“Saya akan bertobat dan menjadi orang baik,” lanjut Ki Baut.
Kesepuluh pendekar berunding sejenak. Setelah itu Ki Saleh mendekati Ki Baut dan berkata …
“Apa maumu sekarang Ki Baut?” Ki Saleh mengajak bersalaman. Walau berat,  karena harus pegang janji, terpaksa menerima jabat erat seteru besarnya itu.
“Biarkan saya pergi, Ki.” Pinta Ki Baut penuh harap.
“Baiklah kalau itu maumu, Ki. Tapi sebelum kami pergi dan kau juga pergi, berjanjilah kepada kami yang ada disini untuk tidak lagi berbuat onar, mengganggu ketentraman warga, mencuri, merampok, memperkosa dan membunuh orang yang tak berdosa …”
“Baik Ki. Saya berjanji. Salam pendekar …!”
Sementara itu, keempat murid setia Ki Duren dari Padepokan Lampu Merah, yang datang kemudian, saling berkejar-kejaran. Karim mengejar si Tinggi, sedangkan Mamat mengejar si Pendek.
“Kampret lu. Dikemanakan celana dalamku,” gerutu Karim. Si Tinggi cuma cengar-cengir sambil memperlihatkan kancut kakak seperguruannya itu.
“Awas kamu …!”
Karim mengambil batu, lalu dilemparnya sekuat mungkin, tepat mengenai leher si Tinggi. Berhenti sebentar, puyeng dan …
Gedebug …
Si Tinggi jatuh pingsan.
Kok bisa ya?!
Ha ha ha ha …
Ki Duren mendekati keduanya. Setelah si Tinggi siuman, dia diminta menceritakan awal kejadian yang membuatnya harus kejar-kejaran dengan Karim.
“Dia yang duluan guru,” kata Karim.
“Dia guru,” ujar si Tinggi. Mau berdiri jatuh lagi di pelukan Ki Duren.
“Sudah. Sekarang salaman dan pelukan. Cepat …!”
Baik Karim maupun si Tinggi sama-sama tak mau duluan mengulurkan tangannya. Jaga gengsi masig-masing. Namun setelah dibujuk Ki Duren, keduanya bersedia menuruti keinginan sang guru.
Plak … pak … plak … pak …
Ki Badrun dan rekan-rekannya bertepuk tangan melihat Karim dan Tinggi berpelukan. Walaupun tadinya Karim sempat panik karena celana dalamnya tidak ada di genggaman si Tinggi.
Dimana?
“Ini kan …!” Kata Ki Saleh memperlihatkan celana dalam kepunyaan  Karim.
Karim yang awalnya tak mengambilnya, karena bersama Mamat, si Tinggi dan si Pendek sempat berse teru dengan Ki Saleh, setelah dibujuk Ki Duren, akhirnya mau.
“Terima kasih Ki,” ucap Karim, diikuti si Tinggi.
“Kami juga sekalian meminta maaf,” sahut Mamat dan si Pendel dari belakang Karim yang baru selesai bersalaman.
Alhamdulillah.
Ki Duren terharu melihatnya.

II
GUNA mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan dari pihak luar sekaligus membekali warga kam pung dengan ilmu bela diri dan keterampilan khusus dalam menjaga ketentraman tempat tinggal mere ka , kesepuluh pendekar sepakat memberikan pelatihan khusus ilmu silat. Setiap kampung dilatih oleh dua pendekar silat yang terdiri dari kaum laki-laki dan kaum wanita.
 Karena ada lima kampung, maka khusus Kampung Falah, dilatih Ki Saleh dan Ki Duren. Kampung Barkah, Ki Semangka dan Ki Anas, sedangkan Kampung Mawar dipegang Ki Suri dan Ki Badrun. Adapun Kampung Melati dan Kampung Zaitun masing-masing dilatih Ki Solar, Ki Saung, Ki Tama dan Ki Daus.
Kesepakatan ini diperoleh dari hasil pertemuan sepuluh pendekar dengan lurah, ketua erte, dan perwa kilan warga dari lima kampung. Semula warga keberatan karena pelatihan ini akan memberatkan warga, terutama kaum bapak-bapak dan ibu rumah tangga. Capek bekerja di sawah ladang, harus berlatih ilmu silat lagi. Dikuatirkan bukan mempersehat diri, tapi justru mengganggu aktivitas kerja sehari-hari.
 Begitu juga dengan kaum ibu. Kebanyakan dari mereka mengasuh anak-anak dan tetek bengek lainnya. Suami  mereka mempercayakan sepenuhnya kepada sang isteri untuk mendidik dan membesarkan buah hati selain mengurus rumah tangga.
Semuanya itu memerlukan tenaga yang prima. Jika pekerjaan mereka sebagai ibu rumah tangga sudah menguras tenaga dan pikiran, apatah lagi harus ditambah dengan urusan lain di luar rumah.  Tentu bukan semakin ringan, malah bertambah berat.
Tapi keberatan warga akhirnya bisa diatasi setelah kesepuluh pendekar menjamin pelatihan ilmu silat ini tidak akan mengganggu kenyamanan warga. Aktivitas sehari-hari  tetap berjalan seperti biasa, keteram pilan bela diri juga bisa dikuasai.
“Nantinya setiap warga punya kesempatan mengemukakan pendapatnya masing-masing. Tak perlu malu apalagi sampai takut,” ujar Ki Duren di hadapan lurah, para ketua erte, tokoh masyarakat dan agamawan di balai pertemuan pada sore hari ini.
Pada pertemuan ,yang di luar dugaan, dihadiri banyak warga, sehingga sampai meluber ke pelataran balai pertemuan, Ki Duren juga mengajak warga untuk bersatu memerangi segala macam tindak keja hatan, sekecil dan sebesar apapun dia.
“Jangan pernah merasa takut untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan. Asalkan dilakukan dengan niat yang suci, tulus ikhlas dan sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku,” kata Ki Duren berapi-api.
Ki Duren juga mengajak warga untuk serius berlatih,” Karena yang akan kita latih ini bukan semata-mata fisik luar dari ilmu silat, tapi juga yang berkaitan dengannya, seperti bagaimana menjaga kesehatan badan agar tetap prima, membantu orang tanpa pamrih, dan lain sebagainya,” jelas Ki Duren.
Ketika menjawab pertanyaan warga, sasaran apa yang hendak dicapai dari pelatihan bela diri silat ini, Ki Semangka yang diminta ikut memberikan jawabannya, mengatakan ada empat sasaran utama.
“Pertama adalah membekali diri dengan keterampilan khusus guna mempertahankan diri dari gangguan pihak lain. Kedua, mengolah fisik, emosi dan hati agar bisa menjaga keseimbangan hidup,” terang Ki Duren.
Ketiga, menjaga kebugaran tubuh dan keempat peka terhadap situasi dan mampu mengontrol diri. “Insya Allah hidup kita akan sehat, pikiran kita juga sehat dan kepercayaan diri meningkat,” papar Ki Semangka.
“Bagaimana supaya kita senang dan mencintai ilmu silat, Ki?” Tanya seorang warga dari Kampung Berkah, berkopiah hitam, berkain sarung dan berbaju putih tapi tidak menggunakan alas kaki.
“Kami persilakan Ki Badrun yang menjawabnya,” kata Ki Semangka.
Hadirin diam.
“Ibarat sepasang gadis dan bujang supaya cinta, ya harus tahu dulu siapa gadis  atau bujang yang dicintai itu.  Sebab, kalau tidak, bisa-bisa bakal menyesal nantinya,”  terang Ki Badrun.
“Kenapa menyesal Ki?” Warga Kampung Falah, berbadan tegap tunjuk tangan sambil menoleh kiri dan kanan.
“Karena tak tahu apa dan bagaimana sebenarnya orang yang kita cintai itu. Misalnya, si bujang. Jatuh cinta pada seorang gadis. Kenapa dia jatuh cinta? Mungkin karena kecantikannya. Padahal dia tidak tahu kalau si gadis ternyata …”
Agar hadirin penasaran, Ki Badrun sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Ternyata memancing kawula muda untuk lebih tahu apa jawaban yang sebenarnya.
“Kenapa Ki gadis itu?” Seorang pemuda berambu gondrong dari Kampung Melati maju ke depan dan bertanya kepada Ki Badrun.
“Karena si gadis sudah ada yang punya …” Jawab Ki Badrun, yang disambut tawa riuh hadirin.
“Ketipu ya Ki,” ujar remaja puteri dari Kampung Mawar. “Si bujang itu bodoh, Ki.” Lanjutnya sembari menyunggingkan senyuman.
“Betul Ki. Seharusnya si bujang itu tahu rasalah. Masak punya orang masih diganggu-ganggu. Cari perkara saja,” sahut remaja puteri dari Kampung Falah.
“Tapi Ki Badrun. Menurutku, tidak sepenuhnya bujang itu salah. Si gadis itu juga salah. Kenapa, misalnya ya Ki, tidak terus terang saja kalau dia sudah ada yang punya,” timpal remaja brewokan tak senang rekan sekelamin dengannya dikambing hitamkan.
“Wuuuu … “ Sorak remaja puteri dari Kampung Zaitun.
“Ngesaaak …” Komentar para gadis dari Kampung Falah.
“Ya sudah,” kata Ki Badrun menengahi.
“Ini kan cuma contoh,” jelas Ki Badrun. “Walaupun sebenarnya, meski hanya contoh, bukan mustahil banyak di antara kita yang pernah mengalaminya …”
Remaja lima kampung saling berbisik, saling tengok satu sama lain, cengar-cengir, lalu diam seribu bahasa.
“Nah, sekarang Ki yang tanya, siapa kira-kira yang pernah mengalaminya?”
Tak satu pun yang berani angkat tangan, apalagi bicara. Semua pada menunduk. Tak berani dan malu hati.
“Ya sudah. Nah, maksud Ki, supaya kalian cinta dengan silat, kalian harus kenal dulu dengan apa itu silat,” jelas Ki Badrun.
Tentu, kata Ki Badrun, pencak silat atau silat memiliki setidaknya enam nilai positif. Apa saja?
“Pertama-tama adalah kesehatan dan kebugaran. Jadi dengan belajar silat badan kita tetap sehat dan yang pasti, tidak loyo …”
Ha ha ha ha …
“Kenapa tertawa Nak?” Tanya Ki Badrun pada seorang anak yang usianya sekitar belasan tahun, warga dari Kampung Falah.
“Abang itu, Ki.” Dia menunjuk seorang pemuda yang kurus dan kerempeng sedang duduk bersandar di tiang balai pertemuan bagian belakang.
Ha ha ha ha …
Merasa diperhatikan, si pemuda kerempeng dan berambut keriting itu buru-buru membetulkan letak duduknya. Dia tidak bersandar lagi, tapi duduk bersila dengan muka menunduk menghadap ke lantai.
“Apa abang itu sehat, Ki?” Tanya si ABG itu ingin tahu.
Si kerempeng, setelah dibujuk Ki Badrun, akhirnya mengaku kalau dia sehat-sehat saja. Sampai kini dia tidak tahu dan kenal dengan silat.
“Pas sekali kalau begitu,” ujar Ki Badrun dengan penuh semangat.
“Pas gimana Ki?” Si ABG bingung, pas kalau si kerempeng itu tidak bugar, atau karena sebab yang lain.
“Belajar ilmu silat anakku,” terang Ki Badrun tertawa dalam hati.
“Mau kan dik?”  Tanya Ki Badrun pada si kerempeng.
“Mau Ki,” jawab rekan si pemuda yang duduk di sebelah kanannya.
“Alhamdulillah,” ucap Ki Badrun, “Mudah-mudahan sehat dan bugar serta, walaupun kerempen, tetap sehat dan bugar dan tentunya tidak letoy. Mau ya Dik?”
“Mauuu .. Ki,” teriak remaja bermata sipit yang duduk di belakang si kerempeng. Si kerempeng manggut-manggut.
Seterusnya, lanjut Ki Badrun, nilai positif kedua adalah membangkitkan rasa percaya diri. “Ini juga penting karena sehebat apapun kita, kalau tak punya rasa percaya diri, tak akan membuat kita teguh dan yakin dalam melakukan suatu pekerjaan.”
“Mulai sekarang kita akan kembangkan rasa percaya diri ini lewat silat,” ujar Ki Badrun.
Yang ketiga?
“Untuk ketahanan mental. Dengan kita belajar silat secara bertahap mental kita akan terlatih dengan baik. Bila ketahanan mental sudah terbentuk dan terlatih dengan baik, maka akan dengan mudah kita mengontrol diri sehingga apa saja yang kita lakukan akan berdampak positif hasilnya.”
Lalu yang keempat, kata Ki Badrun, mengembangkan kewaspadaan yang tinggi. Membina sportivitas dan jiwa kesatria. Terakhir adalah disiplin dan keuletan yang tinggi.
“Inilah nilai-nilai positif yang bakal kita dapat jika kita berlatih silat secara benar dan dengan orang yang benar serta menguasai sungguh-sungguh ilmu silat,” jelas Ki Badrun.
“Saya Ki.” Tiba-tiba Bu Sri angkat bicara. Semua yang hadir serempak menoleh, tak terkecuali Bu Kandar dan Bu Erte.
“Eheeem. Nanya atau mau kenal,” seloroh Bu Kandar, ketawa cekikikan dengan Bu Erte. Keduanya mendorong Bu Sri bertanya karena warga memang perlu diberi penjelasan yang sejelas-jelasnya.
“Silakan Bu Sri,” kata Ki Badrun.
“Terima kasih, Ki. Yang mau saya tanyakan sedikit saja. Untuk kami yang perempuan ini, apakah ada silat khusus berbeda dengan kaum laki-laki?”
“Untuk menjawabnya, “Saya persilakan Ki Saleh yang menjawabnya,” ujar Ki Badrun. Kembali duduk dekat Ki Semangka.
“Terima kasih saya ucapkan kepada … siapa tadi, saya lupa.” Ki Saleh pura-pura tak ingat.
“Bu Sri Hapsari Ki,” kata Bu Kandar.
“Masih single, Ki.” Sahut Bu Erte.
Ha ha ha ha …
“Sama dong dengan saya, Bu Erte. Saya juga masih single. Belum ada pendamping sampai sekarang …”

III
“MARI Bu … Kita mulai ya. Siaaap!” Ki Saleh memberikan aba-aba tanda dimulainya kaum ibu Kampung Falah bermain tali.
“Siaap Ki,” jawab mereka serempak. Ketawa riang dan saling colek-colekan.
Ada sekitar 30 wanita dan dara mengikuti pelatihan silat hari pertama ini. Mengambil tempat di pelata ran balai desa sore hari, dengan mengenakan baju kaos putih dan celana panjang, meski ada sebagian kecil mengenakan kain sarung.
Mereka tampak antusias mengikuti latihan bermain tali ini. Selain gampang, karena hanya melompat-lompat dengan tali, juga disaksikan warga yang hadir terdiri dari lansia, dan anak-anak  yang ikut mene mani dan menyemangati ibu mereka berlatih silat.
Ki Saleh, setelah siswa latihnya tenang dan tidak ada yang bersuara lagi, meminta bersiap untuk melom pat di tempat dengan tali di tangan, dipegang kanan dan kiri.
“Siaaaap … Satu … dua .. tiga …” Kata Ki Saleh dengan suara lantang.
Wanita Kampung Falah pun mulai beraksi dengan bermain tali. Wanita di baris pertama memang lancar, meski lompatannya pelan. Namun pada baris kedua dan seterusnya, kebanyakan jalan di tempat. Tali digerakkan ke arah telapak kaki, kaki diangkat dua-dua. Berhenti, diangkat lagi.
Buuuuuk …
Terdengar suara orang jatuh. Serentak menoleh ke belakang. Ternyata ibu yang mengenakan kain sarung warna hitam terjatuh. Sulit untuk bangun karena kedua kakinya dililit tali.
Ha ha ha ha …
“Makanya Bu Hesti. Bermodal kalau mau maju,” ledek Bu Erte.
“Sudah Bu. Dicuci tadi, belum kering. Kalau dipakai basah, kan tak enak,” ujar Bu Hesti.
“Celana yang lain apa tak ada?” Tanya Bu Helsi.
“Ada Bu …”
“Kenapa tak dipakai?”
“Punya suamiku …”
Hea hua ha ha ha …
“Kamu ini bagaimana Bu Helsi. Masak Bu Hesti disuruh pakai celana laki-laki. Jelas tak nyamanlah,” kata Bu Kandar.
“Tapi suami sendiri enggak apa-apa kan Ki Saleh?”
Mendapat pertanyaan dari Bu Helsi, Ki Saleh hanya tersenyum simpul saja. Dia kemudian meminta Bu Sri Hapsari menyediakan tali untuk mengikat ujung kain Bu Hesti.
Tali itu tidak terlalu panjang, tapi juga tidak terlalu pendek. Tali dipotong  dua sepanjang setengah me ter. Lalu meminta Bu Sri dan para ibu yang lain untuk mengikatnya di kanan dan kiri.
“Aduh … kencang nian Bu Erte.” Bu Hesti meringis menahan sakit.
“Begini …?!” Bu Sri mengendurkan sedikit talinya.
“Nah, baru mantap. Enak kali,” kata Bu Hesti lega.
“Coba Bu gerakkan talinya dan kedua kakinya,” ujar Ki Saleh.
Bu Hesti dengan lincahnya bermain tali. Melompat-lompat walau lambat, tanpa harus terganggu lagi dengan ujung kain sarung yang sempat ‘ngelewer’ tadinya.
Peserta latih kembali ke posisi masing-masing. Mereka memegang tali dan siap menggerakkan kedua kaki dalam tempo lambat, sedang dan cepat kalau bisa.
“Baik ibu-ibu ya. Siaaap …!” Ki Saleh melihat satu persatu kesiapan  posisi kaki dan tangan ibu-ibu serta remaja puteri. Setelah dirasa pas dan betul-betul siap, dia pun berkata lagi … “Satu, dua … tiiiiga ..”
Kali ini siswa latih Ki Saleh mulai lancar bermain tali. Dia amati dari dekat agar tidak ada lagi kesalahan. Sebuah pemandangan yang bagus, kata beberapa warga yang menyaksian latihan.
Ketika berada di dekat Bu Sri, Ki Saleh menahan itu tali sambil berkata ... “Lebih cepat lagi bisa ya Bu Sri kaki bergerak?”
“Bisa Ki,” jawab Bu Sri.
Spontak ibu-ibu dan remaja yang lain menghentikan sejenak bermain tali.
“Eheeem …” Bu Erte mendehem. Yang lain pura-pura batuk dan bersin. Sekadar ingin menggoda Bu Sri Hapsari saja.
“Jarang berjalan ya Ki. Makanya berat itu kaki …” Goda Bu Heni.
Bu Sri jadi tak enak hati. Sudah diperhatikan Ki Saleh, diledeki pula oleh Bu Erte dan Bu Heni.
Ki Saleh tidak marah. Walaupun sebagian besar para gadis belum juga ringan kaki mengangkat saat tali dimainkan dengan kedua tangan. Ada-ada saja halangannya. Misalnya, tali menyangkut di kaki, jatuh tapi tidak menyebabkan luka dan, karena sambil main-main, ada ibu yang bermain tali namun tidak merasa jika talinya dicuri ibu di belakangnya.
“Sabar ya ibu-ibu. Orang sabar kasihan Tuhan. Orang tak sabar dijauhi teman. Tahu kenapa dijauhi teman ibu-ibu?”  Ki Saleh sekadar intermezo.
Para ibu cuma menggelengkan kepala.
“Karena selalu marah-marah,” jawab Bu Sri.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Mendapat tepuk tangan dari ibu-ibu yang lain, Bu Sri jadi salah tingkah, apalagi saat Ki Saleh berkata …” Bu Sri benar …”
“Siapa dulu Ki.” Sindir Bu Erte.
“Bu Sri.” Bu Kandar membalas sindiran Bu Erte.
“Cuma Ki, ada sesuatu yang Ki salah ucapkan barusan …” Potong Bu Heni.
“Oh ya. Apa itu, Bu Heni?” Ki Saleh sampai harus mendekatkan telinganya ke mulut Bu Heni agar jelas terdengar.
“Ki tadi nyebut beliau …” Kata Bu Heni sambil mengarahkan pandangannya ke Bu Sri, “Dengan Bu, padahal  beliau kan belum …”
Ha ha ha ha …
Bu Sri Hapsari ikut tertawa, tapi tidak memberikan komentar apapun. Meski dalam hati kecilnya ia ingin sekali ibu-ibu yang ada di dekatnya melanjutkan latihan dan bukan justru ‘ngerumpi’ tak karuan.
“Jadi seharusnya saya memanggil beliau apa ya Bu?”
“Ki harus memanggilnya Dik,” ujar Bu Heni.
“Betul Ki. Saya kira panggilan Dik sudah pas-lah,” sahut Bu Erte.
Ki Saleh, setelah sempat melemparkan senyum ke Bu Sri, kembali ke depan. Dia meminta siswa latihnya memulai latihan lagi. Kali ini dia langsung memimpin, memperagakan sendiri bagaimana bermain tali dengan baik.
Sementara para ibu dan ‘kembang Falah’ tampak bersemangat mengikuti setiap gerak yang dilakukan Ki Saleh. Su dah tampan, baik lagi, dan menaruh rasa hormat kepada kaum perempuan.
Saking bersemangatnya berlatih tali, mereka tak ada waktu lagi untuk menoleh kiri dan kanan, apalagi melon tarkan candaan seperti ketika pertama kali memulai latihan. Mereka tak ingat sebentar lagi Magrib tiba. Mereka baru ingat setelah warga yang menonton dengan setia sejak tadi mengingatkan bahwa malam sebentar lagi datang.
Kepada siswa latihnya, Ki Saleh mengingatkan agar serius dan tekun dalam berlatih. “Percayalah, dalam beberapa bulan ke depan, ibu-ibu dan adik-adik sekalian akan dapat merasakan manfaatnya,” kata Ki Saleh sebelum menutup secara resmi latihan sore hari yang cerah ini.
Sebelum berpisah dan kembali ke kediaman masing-masing, Ki Saleh mengingatkan warga jangan pulang sendirian, terpisah dari rombongan. “Tak elok jalan sendirian,” pesan Ki Saleh.
“Kalau memang tak ada yang menemani, gimana Ki?” Tanya Bu Erte.
“Ayo Bu Erte. Mulai lagi goda Sri.” Sri mengingatkan.
“Maksud ibu, baguslah Ri buat kamu. Biar Ki Saleh yang menemani kamu pulang,” bisik Bu Hesti.
“Iya Bu Sri,” ucap Bu Heni. “Kan cuma diantar. Biar aman sampai di rumah. Betul kan ibu-ibu?”
“Ssssst … KI Saleh kemari!” Bisik Bu Kandar.
Ki Saleh sekadar mau mengambil tas ransel berisi pakaian, dan bermaksud izin pulang lebih dulu.
“Sebentar Ki. Tunggu …!” Bu Erte tak tega membiarkan Ki Saleh jalan sendirian, sementara siswa latihnya pulang sama-sama.
“Ada yang ingin disampaikan Bu?”
“Eeeem … “ Bu Erte, agar tak ketahuan Sri Hapsari dan ibu-ibu yang lain, membisikkan sesuatu di telinga Ki Saleh.
Apa reaksi Ki Saleh?
“Boleh juga Bu. Dengan senang hati,” ujar Ki Saleh seraya menghampiri Bu Sri yang seolah bengong sendiri melihat ulah ibu-ibu Kampung Falah.
“Mari Dik Sri. Abang temani. Mau ya?” Sri tak keberatan, asalkan dia ditemani rekan seusianya, Aryati.
Plak .. pak … plak … pak …
“Nah begitu dong,” sahut ibu-ibu serempak.
Mereka sangat senang dan lega melihat Bu Sri pulang bertiga dengan Ki Saleh dan Aryati.
Kendati jarak dari balai desa ke kediaman Bu Sri tidak dekat, masih tak cukup waktu bagi pengajar Ta man Pendidikan Nurul Falah ini menyimak cerita lucu dari Ki Saleh.
“Sepertinya Ki ini pandai bercerita,” kata Aryati, yang dibalas Ki Saleh dengan guyonan singkat … “Jangan panggil Ki, tapi cukup dengan abang …”
“Tapi Ki .. “Aryati melirik Sri yang menunduk sambil tertawa geli.
“Panggilan abang kan khusus buat temanku di sebelah kanan ya Ki …”
“Kata siapa?”
“Kata Aryati, Ki.” Aryati berterus terang.
Ha ha ha ha …
“Ada-ada saja kamu Aryati. Tidak begitu Aryati. Kamu juga boleh panggil saya abang, kalau tak kebera tan. Tapi, kalau kamu  merasa tak enak memanggil saya abang, cukuplah kau panggil Ki saja …”
“Nah, begitu Ki. Jadi Aryati tak perlu panggil abang, tapi panggil Ki saja. Aryati senang Ki …”
Dug … dug … dug …
“Allahu akbar .. Allahu akbar. Allaaahu akbar Allaahu akbar … “ Suara azan tanda masuknya waktu Mag rib terdengar, begitu Ki Saleh menginjakkan kaki  di kediaman Sri Hapsari. Mereka disambut hangat kedua orang tuanya Sri, Pak Broto dan Bu Broto.

IV          
ADA tiga puluh lelaki berkumpul di tanah lapang. Depan balai desa. Sore hari ini mereka bersiap untuk melakukan tarik tali (tarik tambang). Dibagi dua kelompok 15 : 15, kiri dan kanan. Mereka akan berlom ba menarik tali. Pemenangnya adalah mereka yang berhasil menarik tali sampai melewati garis tengah.
Hampir empat puluhan lebih warga memadati balai desa. Mereka ingin menyaksikan bagaimana orang tua mereka menarik tali. Apakah masih gagah seperti dulu, kala muda usia. Atau justru sebaliknya. Su dah loyo, tak gagah dan perkasa lagi karena sudah ‘lapuk’ dimakan usia.
“Lama kali ya Bu, lombanya,” ujar seorang anak berusia enam tahun yang tak mau lepas dari genggaman tangan ibunya.
“Tunggulah sebentar lagi,” kata si ibu, ikut tertawa bersama teman sebayanya yang tertawa lucu melihat seorang bapak yang terkena tahi cecak dari atap gedung balai desa.
“Buu …” Si anak merengek.
“Tunggulah dulu sayang,” jawab si ibu sambil memeluk anaknya agar tidak menangis.
“Kenapa belum dimulai ya Bu?” Tanya si anak seraya melepaskan pelukan ibunya dan mengarahkan pan dangannya ke barisan bapak- bapak yang sudah gelisah karena lomba tarik tali tak kunjung dimulai.
Priiit …
“Nah, itu dimulai … “ Kata si ibu menenangkan anaknya.
“Ke depan sedikit Bu,”  pinta si anak menarik tangan ibunya menuju baris terdepan yang hanya berjarak tiga meter dari arena tarik tali.
Ki Duren meminta maaf kepada warga yang ikut dan menyaksikan lomba karena ada keperluan penting yang harus diselesaikan. Warga yang semula resah dan gelisah berubah sumringah karena pendekar silat ini sudah tiba di lokasi, siap memimpin lomba.
“Siap ya bapak-bapak …?”
“Siaaap Ki,” jawab bapak-bapak serentak. Tampak ceria dan sudah sedari tadi memegang tali, siap mena riknya sekuat mungkin.
“Ayo kita tarik sama-sama. Satu … dua … tigaaa ..”
Tuuuuuuus …
Ha ha ha ha …
Tali tengah putus. Semua siswa sama-sama terjatuh dan saling bertindihan. Kasihan yang paling bawah. Ditindih empat belas rekannya yang berpostur lumayan besar.
Satu menit berlalu. Para penarik tali belum juga bangun dan berdiri lagi.
“Kapan ya Bu?” Tanya anak perempuan pada ibunya yang asyik menonton sejak tadi.
“Malas saja Nak,” jawab si ibu sekenanya.
Padahal bukan itu penyebab para penarik tali tak kunjung berdiri.
Lalu kenapa?
Usut punya usut. Antara satu kaki dengan kaki siswa lainnya saling menindih dan menjepit. Baru bisa bangun dan berdiri setelah itu kaki dibetulkan letak posisinya terlebih dulu.
Priiiit …
Ki Duren meniup pluit. Tanda perlombaan tarik tali dimulai kembali. Dengan tergesa-gesa para siswa me narik kedua kakinya yang tertindih, lalu sedikit bergulingan di tanah rerumputan, sebelum akhirnya bisa berdiri.Kemudian membantu rekannya yang masih terjepit agar bisa secepatnya berdiri seperti sedia kala.
Ha ha ha ha …
Warga yang menonton pada tertawa.  Pasalnya, ada beberapa lelaki yang sudah berusia lanjut harus saling menarik kaki mereka secara bersamaan.
Bisa tidak?
Bisa, tapi yang tertarik kaki mereka, bukan badan.
Lalu?
Ki Duren turun tangan membantu. Ketiganya diangkat rame-rame oleh penarik tali lainya, Ki Duren melepaskan jepitan di sela kaki dan …
Keraaak …
Auuuuw …
Walaupun terasa sakit, alhamdulillah bisa lepas. Sekarang giliran talinya. Karena ada tali ‘serep’, tali yang terputus tadi itu ditukar dengan tali yang baru berwarna putih.
“Yang kencang tariknya ya,” kata Ki Duren.
Ha ha ha ha …
Ada-ada saja. Ketika tali ditarik sekadar uji coba, entah disengaja atau tidak, kelompok sebelah kiri mele paskan tarikannya. Terjatuhlah kelompok penarik tali di sebelah kanan.
“Mereka, Ki, sengaja,” gerutu lelaki berkulit hitam dari kelompok yang jatuh.
“Maaf Ki,” kata kelompok sebelah kiri. “Bukan kami sengaja, tapi …”
“Sengaja kan?” Ujar kelompok kanan.
“Betul sengaja bapak-bapak?”
“Bukan Ki. Sekadar ingin ngetes saja. Kuatkah ini tali …”
Ha ha ha ha …
“Ya sudah … Bapak-bapak sekalian. Kita mulai lagi ya.”
Para siswa bersiap.
Satu … dua … tiiiga …
Priiiit …
Para penonton tampak tegang. Betapa tidak, masing-masing kelompok tak bergerak sedikit pun dari po sisinya. Semakin kuat dan kencang tali ditarik, hanya mampu bergeser sedikit. Itu pun cuma beberapa sentimeter dari kedua kelompok.
Mulanya kelompok kiri. Mereka berhasil menarik tali sejauh dua sentimeter. Karena tak ingin menyerah  begitu saja, kelompok kanan menarik sekuat tenaga itu tali, juga cuma dua sentimeter.
Draw jadinya.
Belum ada tanda-tanda saling mengalahkan satu sama lain. Tenaga sudah maksimal dikerahkan, malah hampir habis. Hanya tersisa sedikit dengan tarikan nafas yang tersengal-sengal. Payah.
“Stoooooop …!” Teriak Ki Duren.
Tarik tali dihentikan sejenak kira-kira lima menit. Ki Duren memberikan kesempatan kepada para sis wanya untuk mengatur nafas dan memulihkan tenaga yang terkuras. Bagi mereka yang haus dipersila kan minum. Sayang, kebanyakan dari mereka justru melahap kue yang diberikan penonton agar tetap kuat dan gagah saat menarik tali.
“Payah ya Kek?!” Kata sang cucu kepada kakeknya yang sejak tadi tak lepas dari rokok di mulutnya.
“Iya Cung,” jawab si kakek.
“Kalau sudah istirahat, kuat lagi ya Kek?”
“Iya Cung …”
“Oooo … kakek enggak istirahat saya tengok …”
“Istirahat kenapa Cung. Kakek kan tidak ikut lomba.”
“Rokoknya Kek. Dari tadi kakek merokok terus. Tak pernah istiahat. Apa tidak payah Kek?”
Kakek malu hati.
“Betul katamu Cung. Kakek kelupaan,” aku si kakek. Rokok dia matikan, lalu sisanya dimasukkan ke saku bajunya.
“Biar hemat Cung … Rokok sekarang mahal.”
“Oooo  …”
Priiit …
Babak kedua segera dimulai. Para siswa latih Ki Duren memasuki lapangan kembali. Mereka memberi hormat kepada warga yang menonton sebelum memulai tarik tali.
“Okeeee?” Ki Duren memberi aba-aba.
“Satu … dua … priiiit …”
Warga yang menonton kembali tegang. Karena kedua kelompok ngotot saling ingin mengalahkan.  Kali ini lomba tarik tali sangat seru. Bukan lagi sentimeter, sudah semeteran. Cuma, sama dengan lomba di babak awal, setiap kelompok harus bersusah payak menggeser posisi lawan mereka.
“Bagaimana ini Pak?” Keluh seorang ibu pada suaminya yang sudah sama-sama berusia lanjut.
“Tunggu sajalah,” jawab suaminya.
“Bukan itu soalnya Pak.”
“Lalu apa soalnya Yang?”
“Nasi belum kutanak. Lauk belum dimasak. Ini sudah sorean Pak,” jelas si isteri cemas.
“Lalu?”
“Malam nanti makan apa kita Pak?”
“Ya, makan malamlah Bu.”
“Di rumah kan tidak ada apa-apa Pak.”
“Beli atau minta dululah sama tetangga. Kan beres,” kata suaminya.
“Oh iyaya … Akurlah Pak.”
“Akur gimana?”
“Nonton sampai habis …”
Ha ha ha ha …
“Itu baru namanya isteriku yang tersayang,” puji sang suami.
Jegaaar …
Duuup …
Praaak …
Hua ha ha ha …
Sama-sama terpundur. Tali kendur, saling tabrakan. Terpundur lagi karena ada yang menarik tali, lalu tabrakan lagi. Sampai  kedua kelompok, karena kepayahan, lemas dan akhirnya terkapar di tanah.
Plak .. pak … plak … pak …
“Seru ya Pak,” kata isteri lansia tadi.
“Sayang tak ada pemenangnya ya Bu …”
“Tenang Pak. Ada pemenangnya,” jelas sang isteri tersenyum penuh gairah.
“Siapa Bu kalau bapak boleh tahu?”
“Kita dong Pak …”
Ha ha ha ha …
“Pulang lebih cepat dan ibu masih sempat memasak yang enak buat bapak …”
“Oh ya?!”
“Siapa dulu Pak …”si isteri memuji dirinya sendiri.
“Isteriku yang kusayang selalu …” Ucap sang suami seraya memeluk hangat isteri tercinta, membuat penonton ketawa terpingkal-pingkal.
Plak .. pak .. plak … pak …
Kepada siswa latihnya yang mengawali latihan dengan lomba tarik tali, Ki Duren mengingatkan agar tetap menjaga stamina, kebugaran badan dan kesehatan.
“Saya lihat bapak-bapak sepertinya kurang berolah raga. Makanya cepat lelah dan loyo,” ujar Ki Duren saat memberikan arahan singkat sambil lesehan usai perlombaan.
“Dan yang penting, jagalah selalu kekompakan di antara kalian. Jangan mudah terpancing emosi …”
Semua siswa diam. Tekun menyimak arahan Ki Duren.
“Memenangi lomba bukan akhir dari segalanya. Ini sekadar uji coba buat bapak-bapak. Saya nyatakan bapak-bapak lulus semuanya dan siap mengikuti latihan silat berikutnya…”
“Horeeee … “Teriak beberapa lelaki yang sudah tidak muda usia lagi.
“Saya masih kuat …”
“Saya masih gagah …”
“Saya jago silat …”
Dan …
Breeeeak …
Terpeleset. Salah pijak dari melompat, kaki terkilir dan pria berambut keriting beruban ini meringis menahan sakit.
Hua ha ha ha …
BERSAMBUNG …



 

Senin, 10 Oktober 2016

Kampung Kami (3)



Novel  Lepas
Kampung Kami  (3)
(Edisi Ketiga)
By  Mang  Amin

I
“BU Sri …. Bawa anak-anak kemari .. Cepaaat!” Teriak Bu Kandar, pengurus masjid Nurul Falah dari dalam masjid setelah beberapa warga datang memberitahunya bahwa Ki Baut dan Ki Mur beserta gerombolan pasukannya bikin onar di Kampung Falah.
Teriakan tersebut, walau tak terlalu kencang dan nyaring, sedikit banyak membuat panic siswa didik Sri Hapsari. Mereka bergegas masuk ke masjid, menemui Bu Kandar, dan menanyakan apa gerangan yang telah terjadi. Gempa bumikah? Kompor meledak atau letusan meriam?
“Tenang anak-anak,” kata Bu Sri meminta anak didiknya tenang. “Bisa ibu yang bertanya langsung kepada Bu Kandar ya …”
Belum sempat Bu Kandar bicara, salah seorang anak buah dua Ki kembar mendatangi masjid. Dia tidak turun dari kudanya. Namun tatapan matanya  sungguh liar dan penuh selidik.
Sssssst …
Bu Kandar, Bu Sri Hapsari, dan kesepuluh siswanya serempak menundukkan kepala. Bersembunyi di balik dinding masjid bagian dalam. Jadi dari luar tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam masjid. Apa lagi pintu samping dan belakang masjid terkunci rapat.
Pada awalnya tenang. Tapi ketenangan siswa Nurul Falah ini terusik manakala si penunggang kuda tadi turun dari kudanya dan menambatkan tali kekang si kuda di tiang bendera.
“Gimana Bu?” Suara Murni yang gugup hampir saja ketahuan jika tidak secara bersamaan kuda si penunggang meringkik.
“Cepat sana ke belakang,” kata Bu Kandar, mengajak Bu Sri dan siswanya ke belakang. Ada kamar kecil.
“Kita sembunyi saja di situ,” ujar Bu Kandar.
Kesempatan bersembunyi ini dimanfaatkan Bu  Kandar, Bu Sri dan kesepuluh siswanya. Sebab, hampir bersamaan si penunggang kuda balik lagi mendekati tiang bendera untuk memberikan rasa aman pada kudanya agar tidak meringkik lagi.
Lelaki berubah itu pun mendekati pintu belakang masjid. Dia kutak-katik kuncinya. Karena tak juga terbu ka, di dalam masjid kosong melompong, dia kembali lagi ke kudanya dengan raut muka kecewa.
“Bagaimana Bu Sri?” Tanya Bu Kandar, sempat tersenyum geli melihat Bu Sri merayap di lantai kayak buaya dari pintu samping masjid menuju pintu di mana mereka bersembunyi saat ini.
“Aman Bu … Sudah pergi,” jawab Bu Sri lega. Mukanya yang berkeringat diseka beberapa siswi didiknya dengan pakaian yang mereka kenakan.
Kelepak … kelepak .. kelepak …
Suara kuda menyentakkan Maskur untuk mengintipnya dari lubang jendela keci kamar. Dengan menaiki pundak Yandi, dia bisa melihat secara jelas lelaki penunggang kuda itu melewati samping masjid, sebelum menghilang entah ke mana.
“Kemana Kur?” Tanya Bu Kandar penasaran.
Maskur geleng-geleng kepala. Dia turun dan meminta izin gurunya untuk menyelidiki  ke mana si penunggang kuda pergi.
Bu Kandar dan Bu Sri, keduanya agak keberatan awalnya.  Selain masih anak-anak, Maskur dan kawan-kawannya  belum layak terlibat langsung dengan masalah Ki Baut dan Ki Mur ini.
“Bagaimana dengan orang tua kalian?  Bagaimana dengan ibu guru kalian, ibu dan teman-temanmu ya ng lain di sini Nak Maskur?” Bu Kandar kuatir mereka akan tertangkap. Sebab, Ki Baut dan Ki Mur licik sekali dalam hal tangkap menangkap.
“Tenang saja, Bu.” Kata Yandi. “Kami akan kembali lagi. Kami cuma sebentar saja. Aku, Maskur dan Andi saja. Yang lainnya tetap disini menemani Bu Sri dan Bu Kandar …”
Belum ada tanggapan.
“Boleh kan Bu Sri?” Rengek Yandi.
Bu Kandar menghela nafas sebentar. Lalu bersama Bu Sri, keduanya memberi izin.
“Tapi jangan lama-lama ya,” pinta Bu Kandar.
“Pesan ibu cuma satu … Hati-hati dan cepat kembali ke sini …” Pesan Bu Sri.
“Baik, Bu,” jawab Maskur dan kedua rekannya bersemangat. Mereka keluar kamar dan pergi menyusul si penunggang kuda lewat pintu kanan samping masjid.
Maskur, Andi dan Yandi sangat terkejut mendapati rumah yang mereka lewati sepi tak berpenghuni. Me reka lebih terkejut lagi saat mendengarkan teriakan histeris perempuan dari tanah lapang tempat biasa warga Kampung Falah berkumpul dan berolahraga.
Tanah lapang itu cukup luas. Cuma kali ini bukan dipenuhsesaki warga bermain dan menonton pertan dingan bola kaki serta bola voli, tapi jerit menyayat hati para ibu yang suami mereka disiksa anak buah dua Ki dengan cara dicambuk sampai tak sadarkan diri.
“Kita kesana lagi yuk,” ajak Yandi menunjuk ke sebuah rumah kosong, berjarak sepuluh meter dari tanah lapang.
“Kalau ketahuan bagaimana?” Andi ragu. Karena anak buah Ki Baut dan Ki Mur pasti melihat mereka. Tidak ada semak belukar di sekitar rumah kayu itu. Cuma tiang penyangga rumah. Tiangnya pun tidak besar, hanya tinggi kurus saja.
“Menurutku tak usahlah, Yan. Karena pesan Bu Guru kita tadi, hati-hati. Ingat tidak?” Maskur sekadar mengingatkan rekan-rekannya.
“Lagian kita disini atau di sana sama saja,” jelas Andi. “Mereka dicambuk dan tak seorang pun yang mau menolong …”
Yandi belum memberi jawaban. Karena terus didesak untuk kembali ke masjid oleh Andi dan Maskur, dia akhirnya menurut. Mungkin saja, pikirnya dalam hati, Bu Sri dan Bu Kandar bisa memberikan solusi terbaik.
Sementara di tanah lapang, ulah Ki Baut dan Ki Mur beserta anak buahnya,  makin menjadi-jadi. Selain melakukan penyiksaan, mereka juga meminta paksa warga agar menyerahkan anak-anak mereka untuk bergabung menjadi anggota pasukan Samber Nyawa.
“Kamu yang berkumis tipis. Maju …!” Hardik Ki Baut.
Si pemuda yang dihardik paksa-paksaan dengan anak buah Ki dua kembar. Karena yang bersangkutan menolak jadi anak buah pembuat onar itu.  Ibu si anak menjerit histeris melihat anaknya diseret paksa ke tengah tanah lapang, disaksikan warga Kampung Falah lainnya.
Tas .. tas … tas …
“Anakku …!” Jerit sang ibu melihat anaknya diperlakukan semena-mena dengan cara ditendang, dicam buk dan dibenamkan kepalanya di dalam ember besar yang telah dipersiapkan sebelumnya.
“Masih tak mau …?”  Mata Ki Baut melotot, emosinya memuncak.
Si pemuda tetap menolak ajakan Ki Baut dan Ki Mur untuk bergabung. Merasa telah dihina dan disepele kan, Ki Baut menyuruh anak buahnya menyeret paksa ibu si pemuda. Sang anak hanya bisa pasrah.
“Auuuw … Jangan .. jangan …” Teriak si ibu saat ia diseret ke tengah lapangan. Didekatkan dengan sang anak tercinta, Ki Baut berharap  si pemuda berubah pikiran. Dari semula tidak mau, akhirnya mau dan bersedia bergabung.
“Jangan Nak. Ibu tak rela kau bergabung dengan pasukan setan ini,” jerit sang ibu memandang dua Ki dengan penuh kebencian.
“Ibuuuu …!”
“Jangan Nak,” pinta perempuan berparas manis itu.
“Ibu .. aku sudah tidak tahan ibu …” Ucap si anak setelah kedua tangannya dipatahkan anak buah Ki Baut dan Ki Mur secara bergantian.
Kini menunggu giliran kaki yang dipatahkan.
“Jangan Nak,” pinta sang ibu.
Dengan gagah beraninya si ibu merampas pistol  yang terselip di pinggang Ki Baut. Sayang, belum sem pat diletuskan, Ki Mur sudah mendahuluinya dengan melepaskan tembakan beberapa kali ke dada, kepala dan perut. Tewa seketika.
“Ibuuuuu …!” Jerit si anak seraya memeluk jasad ibunya yang sudah menjadi mayat. Dia menangis sesu nggukan sementara dua Ki tertawa terbahak-bahak.
“Keparat …”
Si pemuda berdiri dan berhasil mencekik leher pria bertato di dekatnya. Dia patahkan leher itu hingga tewas dengan kedua kakinya.
Teman satunya mencoba memberikan perlawanan dengan mendaratkan pukulan ke dagu dan mata. Tapi berhasil dielakkan si pemuda.
Duuup … blasss …
Pukulan anak buah dua Ki ditangkap si pemuda dengan cepat, lalu dibantingnya ke tanah dengan dua kakinya. Disusul pitingan di leher  dan tak lama kemudian terdengar …
Kreeeeek …
Kedua kaki si pemuda berhasil mengunci rapat pergerakan kepala lawannya sampai tak bernafas, sebelum mematahkan lehernya.
“Kurang ajar. Tembak dia …!” Perintah Ki Baut dengan nada geram.
Sepuluh anak buah dua Ki bergegas ke tanah lapang. Serempak mengangkat senjata. Siap menunggu perintah untuk menembak si pemuda.
“Tembaaaak …” Teriak Ki Mur dan Ki Baut berbarengan.
Sedikitnya empat puluh peluru menghunjam badan si pemuda. Jatuh terjerembab, nyawanya tak terto long lagi. Terjangan timah panas yang bertubi-tubi berhasil mengoyak-ngoyak tubuhnya. Mukanya han cur sedangkanisi perutnya terburai.
Warga yang menyaksikan hanya bisa menangis, terutama kaum wanita dan anak-anak. Sedangkan kaum prianya, karena kebanyakan sudah berumah tangga dan berusia lanjut,  selain ada yang ikut menangis juga menyalahkan diri sendiri lantaran tak bisa berbuat apa-apa.
Kondisi inilah yang membuat Ki Baut dan Ki Mur beserta anak buahnya semena-mena melakukan pe nyiksaan, penangkapan, penginterogasian sekaligus perekrutan anggota baru.
Dari dalam kamar belakang masjid Nurul Falah, Bu Kandar dan Bu Sri Hapsari tengah mendiskusikan beberapa langkah pengamanan kampung dari gempuran Ki Baut dan Ki Mur berikutnya.
    
II
“PELAN-pelan Gus,”bisik Andi dan Maskur ketika rekan mereka Bagus hendak melempar batu kerikil kea rah Ki Baut yang tidur ngorok di luar tenda tengah hari.
Sepi di sekitar. Hanya ada beberapa anak buah Ki Baut yang bejaga-jaga di sekitar tenda, sedangkan Ki Mur lagi memeriksa anggota pasukannya yang masih menyiksa warga.
Siksaan ini melanjutkan siksaan yang kemarin. Bedanya kalau kemarin satu persatu warga ditampari dan mereka yang tidak bisa menjawab pertanyaan di mana Ki Saleh berada, siang hari ini seluruh warga disiksa serempak.
Dikelompokkan sesuai jenis kelamin dan usia. Anak-anak dengan anak-anak, wanita dengan wanita, dan laki-laki dengan laki-laki. Khusus mereka yang tua renta, dikelompokkan terpisah.
Anak buah Ki Baut dan Ki Mur menyiksa warga dengan bermacam-macam siksaaan. Ada yang disuruh berkelahi sampai berdarah-darah, mencambuk temannya sendiri secara bergantian dan diseret paksa menggunakan kuda .
Malah ada yang disuruh makan tanah.  Khusus buat kaum wanita, selain diperkosa, sebagian besar mereka diarak dengan berkeliling mengelilingi barisan anak-anak dan kaum pria.  Saat diarak hanya mengenakan kancut, beha. Malah ada yang dipaksa bertelanjang bulat.
Mereka diperlakukan seperti hewan. Sudah diarak, mereka disuruh mencium anggota pasukan Samber Nyawa satu persatu. Merayu dan berlagak laksana wanita penghibur. Tak sedikit dari mereka menolak melakukannya. Tetapi penolakan itu dibalas anak buah Ki Mur dengan menyeretnya sampai pingsan.
Sulit membayangkan apa jadinya jika tindakan sadis dan brutal ini terus terjadi tanpa ada yang mau dan mampu menghentikannya. Banyak nyawa yang melayang, banyak darah yang berceceran di mana-mana, dan banyak air mata yang tumpah sehingga tanah yang semula kering menjadi basah.
Sulit membayangkan apa jadinya Kampung Falah ini dan kampung yang lain di sekitar tempat Guru Sri Hapsari berdomisili, jika kesemena-menaan Ki Baut dan Ki Mur terus berlangsung, tentu akan banyak lagi korban yang berjatuhan. Dan bukan tidak mungkin kampung-kampung ini akan ditinggal pergi warganya karena ketakutan bakal dihabisi anak buah dua Ki.
Untunglah, di saat warga pasrah dengan nasib yang mereka terima, tiga bocah anak didik Bu Sri Hapsari masing-masing Maskur, Bagus dan Andi  tampil memberikan perlawanan dengan cara mereka sendiri. Menyelinap masuk ke sekitar tempah tenda, kemahnya Ki Baut  dan Ki Mur.
Tertangkapkah mereka?
Alhamdulillah tidak. Setelah Bagus berhasil melempar Ki Baut dengan batu kerikil dan nyaris masuk ke dalam mulutnya, kini Andi melakukan hal serupa.
Bedanya cuma di batu dan sasaran lemparan. Kalau Bagus lebih pada mengusik kenyenyakan tidur Ki  Baut, sedangkan Andi justru ingin membuat  preman jagoan itu ‘teler’ setelah terkena lemparan itu.
Sayang, niat Andi tidak terlaksana.  Kenapa? Karena bagaimana mau melempar batu jika besarnya batu yang akan dilempar itu menyamai besarnya kepala Andi. Diangkat Andi sendirian bisa, tapi untuk melem parnya sangat sulit karena terlalu berat.
“Gimana ya?” Andi garuk-garuk kepala sebagai tanda meminta kedua rekannya memberikan jalan keluar terbaik.
Bagus dan Maskur berpikir keras. Keduanya berpikir sambil  memejamkan kedua mata. Tak lama kemu dian keduanya tertawa. Mereka membisikkan sesuatu di telinga Andi. Andi manggut-manggut tanda menyutujuinya.
Tapi apa berhasil?
“Kita coba dululah,” ucap Bagus.
Siiiiissss …
“Sssssst … ular kan?” Maskur mendekati batang pohon di dekatnya, dan benar memang ada ular. Tak begitu besar. Menjulur-julurkan lidahnya.
“Takut Gus?” Maskur bersembunyi  di belakang ketiak Bagus.
“Ssssst … Laki-laki tak boleh penakut. Sama ular saja takut, gimana mau mengalahkan Ki Baut … “ Canda Bagus.
Maskur mengambil kayu, sedangkan Bagus menggenggam batu, dan Andi hanya berpegangan di baju Bagus.
Kletoook … bes … deep …
Kepala ular berdarah, separo pingsan. Ketiganya membawa itu ular bersama-sama.  Lalu diletakkan di dekat Ki Baut tidur. Saking nyenyaknya ,  sudah setengah jam belum juga bangun dari tidurnya.
“Kita tunggu saja.” Ucap Bagus seraya mengambil beberapa batu kerikil, kemudian dilempar ke arah Ki Baut. Yang terjaga bukannya Ki Baut, tapi ular tadi itu.
“Ularnya Gus, bergerak-gerak,” bisik Maskur dan Andi.
“Yang benar?”
“Tuh tengok …!” Maskur menunjuk ke ular yang mereka taruh tadi itu. Mulai bergerak walau lambat mendekati Ki Baut.
Seeeet … Siiiisss …
Si ular sudah memain-mainkan lidahnya. Dia terus mendekati Ki Baut yang tidur lelap, bersandar di tiang tenda.  Kemah. Celana yang dia kenakan lebar bawah (cut brai), membuat si ular leluasa melewati celah itu dengan  merayap masuk lewat jempol kaki. Berhenti sesaat,  lalu ‘memainkan; lidahnya yang berbisa itu.
“Ich … Ngeri aku Kur,” ujar Andi setelah menyaksikan si ular mulai memasuki celah celana Ki Baut bagian bawah.
Diawali dari kepalanya, lalu badan dan ekornya. Secara bersamaan, Ki Baut tersadar dan dua anak buah nya sudah mengarahkan moncong senjata ke celana Ki Baut.
“Ada apa?” Tanya Ki Baut sambil mengusap bola matanya yang merah karena terlalu nyenyak tidur.
“Ular komandan,” teriak keduanya mundur beberapa langkah ke belakang.
“Mana?”
“Itu, Dan.  Dalam celana komandan,” kata pria berkumis tipis itu dengan raut muka pucat dan gemetaran.
Haaaa …
“Jangan bergerak Dan …!” Kata anak buah Ki Baut satunya, berkumis tebal.
“Cepat bereskan bodoh,” perintah Ki Baut yang merasa geli setelah kepala perkututnya  dielus-elus sesuatu.
Dua anak buah Ki Baut tidak tahu harus berbuat apa. Ini bukan orang, tapi ular yang sembunyi di dalam celana. Mau diambil tak mungkin. Ditembak bisa, tapi risikonya perkutut sang komandan bakal  hilang terkena pelor.
Hi hi hi …
Andi, Bagus dan Maskur ketawa geli melihat anak buah ‘Raja Preman’ itu saling tunjuk dan saling salah menyalahkan. Sedangkan Ki Baut sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan kepala perkutut nya dielus si ular.
Tak lama kemudian datanglah anggota pasukan yang lain. Sama dengan dua rekan mereka terdahulu, mereka yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu hanya bisa menonton Ki Baut kegelian dielus si ular.
“Kenapa diam saja kalian.  Cepat ambil ularnya!” Hardik Ki Baut. Mulai berkeringat dingin ketika elusan si ular semakin kencang dan membua degup jantung laki-laki berperawakan tinggi besar itu kian tak menentu.
“Cepaaat!”  Ki Baut berteriak tapi tidak bersuara. Hanya mulutnya yang bergerak-gerak dengan mata melotot tajam pada anak buahnya yang malah bingung hendak berbuat apa.
Beberapa anak buah Ki Baut berembuk, lalu bertekad akan menyelamatkan pemimpin mereka dari gigitan si ular. Caranya dengan menarik pelan celana sang komandan dan …
Auuuw …
Si ular rupanya sudah masuk ke dalam ‘sempak’ Ki Baut. Dengan tangkasnya salah seorang anak buah nya memukul kepala ular sambil menarik cepat ekornya ke luar dari kancut belang-belang itu.
Huuuup …
Jegraaaass …
Ular berhasil ditarik. Kemudian dihabisi anggota pasukan Samber Nyawa, hingga rata dengan tanah. Se mua lega karena berhasil menyelamatkan Ki Baut dari gigitan dan bisa ular yang sangat berbahaya itu.
“Kita pulang yuk, Gus,” ajak Maskur.
Maskur takut ketahuan usai Ki Baut menanyai satu-persatu anak buahnya ikhwal ular yang hampir menewaskannya itu.
“TUnggulah sebentar lagi,” saran Bagus, diiyakan Andi. Keduanya ingin mengetahui perkembangan selanjutnya dari Ki Baut dan anak buahnya.
“Kalian cari tahu di sekitar sini,” perintah Ki Baut, yang serta merta dibatalkan pencarian terhadap dalang si ular ketika salah seorang anak buahnya turun dari kuda dan melaporkan seluruh anggota pasukan tewas,  termasuk Ki Mur, dibunuh Ki Saleh.
“Apa?  Bangsaaat …”
Ki Baut menarik kerah baju anak buahnya yang ganteng dan tinggi semampai itu.
“Kamu tidak bohong kan?” Sergah Ki Baut dengan raut muka penuh amarah dan dendam kesumat.
“Tidak. Ti … dak komandan. Benar. Ki Mur sudah tewas dibunuh …”
“Pasukaaan !” Teriak Ki Baut
Suaranya lantang terdengar. Semua anak buahnya merasa ngeri dan merinding. Sebab, kalau suara Sang Bos  sudah ‘melengking’ kayak penyanyi  seriosa, bakal ada yang tewas mengenaskan.
Ki Baut dan anggota pasukannya bergerak ke selatan. Sedangkan Andi, Bagus dan Maskur  bergegas me nemui Bu Guru Sri Hapsari yang hingga kini masih  berlindung di masjid  Nurul Falah bersama siswa di diknya yang lain.

III     
“BANGSAAAAT … Seraaang …!” Teriak Ki Baut seusai melihat  adiknya Ki Mur dan puluhan anggota pasukannya tewas mengenaskan dengan kepala terpisah dari badan.
Kini mereka dihadapkan pada sepuluh pendekar sakti yang terdiri dari Ki Duren, Ki Semangko, Ki Saleh, Ki Suri, Ki Badrun, Ki Solar, Ki Saung, Ki Tama, Ki Daus da Ki Anas.
Hiyaaaaat …
Sambil menghunus pedang, lima belas anggota pasukan Samber Nyawa menyerang dengan menungga ngi kuda. Amarah, kebencian dan dendam kesumat berbaur jadi satu. Sayang, belum sempat pedang itu menebas kepala musuh, anak buah Ki Baut dipukul mundur.
Jegaraaaan …
Guam ..
Bek …
Setelah berhasil melumpuhkan pasukan lawan, Ki Saleh mengeluarkan jurus Angin Beracun. Angin yang menyerupai bulatan itu berputar-putar  mendekati Ki Baut dan  pasukannya.  Semakin dekat semakin besar dan saat bersamaan terdengar ledakan keras disertai jeritan dan hempasan yang keras lagi dahsyat.
Semua anak buah Ki Baut terpental  dari kudanya sejauh satu kilometer. Tewas seketika berikut kuda yang mereka tunggangi  mati terpanggang. Ki Baut hanya bisa terpana menyaksikan kehebatan jurus Angin Beracun Ki Saleh.
“Tapi aku tak boleh kalah. Harus aku lawan,” bisik Ki Baut , dari hatinya yang paling dalam tebersit untuk melarikan diri.
“Mana harga diriku bila aku melarikan diri,” katanya bertanya dalam hati.
Hua ha ha ha ha …
“Larilah kau Ki Baut. Kami tak akan mengejarmu. Karena kami sudah tahu betapa pengecutnya kau. Tanpa pasukan engkau bagaikan anak ingusan yang baru belajar berjalan,” ejek Ki Daus.
“KUrang ajar. Anjing kurap. Belum tahu siapa aku haaa.”
Ki Baut mengerahkan tenaga dalam Surya Penakluk. Berdiri mematung, lalu dari sekujur tubuhnya keluar manik-manik beracun, dan manik-manik itupun lepas memecah laksana anak panah ke arah Ki Daus.
Ki Daus bersiap menangkisnya. Dia mengeluarkan jurus Bumi Berputar. Semua manik beracun yang dile paskan Ki Baut hanya menempel di bulatan bumi. Lenyap bersamaan dengan lenyapnya bulatan yang keluar dari telapak tangan Ki Daus.
Duaaar …
Graaasss …
Cekraaak …
Sama sekali tak mengira bakal dengan amat mudahnya dipatahkan Ki Daus, Ki Baut mundur beberapa langkah ke belakang.
“Hei, ngapaian lu kunyuk. Mau kabur ya. Kabur saja, enggak usah ngumpet-ngumpet,” ledek Ki Anas ketawa ngakak.
“Kampret telok busuk. Belum tahu siapa Ki Baut ya,” gertak Ki Baut bersiap memperlihatkan jurus barunya …
“Sudah tahu Ki,” kata Ki Daus. “KI Baut adalah orang yang paling penakut di dunia …”
Hua ha ha ha ha …
Merasa diremehkan, Ki Baut mengambil ancang-ancang melompat ke samping. Memancing Ki Daus ke luar dari rombongan para pendekar. Ki Daus menerima pancingan itu. Dia melompat ketempat Ki Baut berdiri. Jarak antara keduanya hanya tiga meter.
Ki Daus dan Ki Baut konsentrasi penuh. Keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam. Sama-sama mata terpejam. Sama-sama tanpa suara dan sama-sama pula mengeluarkan jurus andalannya.
Terjadi benturan keras. Saking kerasnya tanah yang mereka injak retak. Benturan itu berawal dari saling bertemunya gumpalan angin menyerupai bulatan besi.  Begitu cepat dan dahsyat, membuat Ki Daus dan Ki Baut terpental jauh.
Beruntung tidak mengalami luka. Karena saat terpental, Ki Daus dan Ki Baut menggunakan jurus Ringan Badan dengan bersalto di udara sebelum kedua kaki menyentuh tanah.
“Tahan Ki …!” Kata Ki Duren ketika Ki Saleh hendak membantu Ki Daus yang tampak kewalahan setelah mendapat perlawanan sengit dari Ki Baut.
“Kita semua yang ada di sini harus yakin bahwasanya Ki Daus bisa mengalahkan Ki Baut,” jelas Ki Duren.
“Kita berdoa saja,” tegas Ki Badrun.
Ki Daus sepertinya sadar lawannya kali ini benar-benar ingin menghabisinya. Berbagai pukulan bertena ga geledek dilepaskan, terkadang sambil melayang di udara , diperagakan Ki Baut dengan apik. Ki Daus hanya bisa menghindar dengan sesekali melepaskan pukulan lurus ke depan.
Ki Daus sempat terkejut ketika satu pukulan dahsyat jarah jauh berhasil mengenainya. Untung hanya pakaian yang robek sedikit. Pukulan barusan membuat Ki Baut semakin percaya diri.
HIyaaat …
Jegreees ..
Hucheeeess …
Ki Baut memukul permukaan tanah dengan telapak tangannya. Dari tanah itu kemudian memunculkan besi-besi kecil. Dengan satu kali sapuan, besi itu menghunjam sangat cepat ke arah Ki Daus.
Traiiing …
Traaang …
Treeeng …
Mata pedang Ki Daus berhasil melumat habis besi-besi beracun itu. Jatuh berserak ke tanah disertai asap panas yang seketika muncul dan hilang.
KI Daus belum mau memasukkan kembali pedang saktinya itu ke sarungnya. Dia masih menunggu ge rangan apa yang bakal dikerahkan Ki Baut. Dari bola matanya yang merah, pandangannya yang tajam, dan helaan nafas yang turun naik begitu cepat dan tak beraturan, menandakan lawan benar-benar sangat marah. Murka.
“Keluarkan semua jurusmu itu Ki. Kita lihat siapa di antara kita yang keluar sebagai pemenangnya,” tantang Ki Daus.
“Jangan besar kepala dulu Ki. Ilmu yang kau tunjukkan barusan belum apa-apa dengan yang belum kuperlihatkan,” ujar Ki Baut ketawa lebar.
“Itulah yang kutunggu darimu Ki. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Seberapa hebatkah atau tak lebih baik dari jurus yang telah kau perlihatkan tadi.”
Hua ha ha ha …
“Aku ingatkan Ki. Kalau ilmu yang kau miliki itu hanya sampah bagi para pendekar negeri ini,” kata Ki Daus.
“Apa kamu bilang Ki?”
“Ilmu itu tak lebih dari sampah, termasuk kamu yang memang sampahnya masyarakat …”
“Setan alas. Beraninya kau menghinaku Ki. Rasakan ini …!”
Kepala dan tangan Ki Baut lepas dari badannya. Lalu menghilang, dan menghantam kepala Ki Daus. Jatuh tersungkur. Karena sempat bersalto, dengan mengandalkan pijakan kaki, dia berhasil berdiri dan siap menahan serangan berikutnya.
Keriiiik … riiik …
Keraaak … raaak …
Tangan dan kepala itu kembali ke tempat di mana Ki Baut berdiri. Menyatu kembali dengan badan. Me neriaki Ki Daus dengan sebutan … ‘Kecil … tak padan … ngaku saja kalah.’
Ki Daus, yang semula sedikit terpancing, mengatur nafasnya agar emosi yang tadinya labil, terkendali la gi. Dia merentangkan kedua tangan dan kakinya. Kemudian menarik mundur tangan kanan, dan mele paskan kepalan tinju tangan kiri lurus ke depan.
Lepas itu, dia menyilangkan kedua tangan ke perut. Mata lurus ke depan dan …
Deruuuup …
Baaar …
Jreeesh …
Hanya dalam kedipan mata, Ki Baut terpental jauh dan jatuh membentur tanah.
 Auuugh …
Sakitnya minta ampun. Segenap persendian Ki Baut tiba-tiba lemah. Pandangan matanya kabur. Tapi, ka rena tak ingin dipermalukan Ki Daus, dengan sisa tenaga dalam yang dia punya, bangkit dan berhasil berdiri kembali seperti semula.
Sayang, ketika hendak melakukan serangan balik, Ki Baut kembali terpental oleh jurus Petir Menyambar. Serangan yang kedua dari Ki Daus ini berhasil mementalkan tubuh lawannya itu  sejauh setengah kilometer.
Gedebeeeg …
Kraaaak …
Seperti terdengar ada yang patah. Tatkala pinggang Ki Baut menyentuh tanah. Karena kerasnya posisi jatuh terpental, Ki Daus mengira lawannya itu tewas seketika.
“Kayaknya belum Ki Saleh,” kata Ki Badrun.
“Pingsan saja,” sahut Ki Suri.
Ki Daus mencoba mendekati Ki Baut yang masih tergeletak di tanah. Tanpa reaksi, padahal denyut nadi nya masih ada, pertanda dia masih hidup.
“Ki  Daus … tungggu!” Teriak Ki Saleh, mendekati rekannya itu agar berhati-hati.
“Sebaiknya kita tunggu saja,” saran Ki Saleh. Dia kuatir Ki Baut menggunakan jurus Sabda Alam.
“Mati ecak-ecak Ki?”
“Betul Ki Daus.”
Dari jauh kita melihatnya mati. Tidak bergerak, mata terpejam. Padahal sebenarnya dia masih hidup.
“Ilmu ini digunakan untuk mengelabui lawan,” jelas Ki Saleh.
Benar apa yang dikatakan Ki Saleh. Baru hendak mengomentari, Ki Daus mencolek rekannya itu.
Ada apa?
“Dia telah bangun Ki,” bisik Ki Daus.
“Waspada Ki.” Ki Saleh mengingatkan.
Sebab, melihat caranya berdiri yang seolah melayang-layang karena diterbangkan angin, bukan tidak mu ngkin Ki Baut hendak mengerahkan jurus Badai Mengamuk. Jurus ini terkenal sangat  ampuh untuk me mukul mundur lawan karena pergerakannya amat cepat dengan menggunakan tenaga dalam dan bila terkena lawan bisa mati seketika.
BERSAMBUNG …