Jumat, 31 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (10)

Peluk Aku Ya Allah (10)
Oleh Wak Amin




LIMA pembunuh bayaran ini akhir nya menemukan pintu masuk bun ker. Bergegas menuruni anak tang ga sampai ke tanah terowongan.

Gelap gulita ...

Mereka serempak menyalakan ko rek api. Hidup mati hidup mati api korek api. Akhirnya sampai ke ko lam tempat dimana Jenderal Fauzi, Kolonel Ihsan dan Zainab beristi rahat.

Kini mereka bertiga sudah tidak ad a lagi. Mereka sudah pergi. Tapi kemana?

Ternyata mereka tidak kemana-ma na. Mereka masih berada di sekitar kolam. Mereka bersembunyi mem perhatikan gerak-gerik lima lelaki bertopeng hitam itu.

Kreeeng ...

Terdengar suara dari atap bunker. Dengan cepat perangkap gede yang terbikin dari besi itu meluncur ke bawah dan berhasil mengurung kelima pria tadi itu.

Ha ha ha ha ...

Zainab ketawa terpingkal-pingkal ....

"Lucu ya Kek, Om."

Kelima pembunuh berdarah dingin itu berusaha untuk keluar dari pera ngkap besi itu dengan cara menem baki jeruji besi dengan senjata api.

Sayang mantul. Tak mempan ditem bus pelor ...

Sesaat kemudian Kolonel Ihsan me lepaskan tembakan secara berun tun yang mengarah ke kaki dan ta ngan.

Lawan lumpuh seketika. Karena se cara bersamaan Jenderal Fauzi ber hasil mengamankan senjata api d an pedang yang sempat terlempar ke sisi dalam perangkap bermuatan enam orang itu.

Kini mereka sudah tertawan. Mere ka sudah tidak bisa beraksi lagi. Ta pi, daripada menyerah lebih baik mati.

Mati dengan cara apa?

Mereka ambil botol kecil dari saku baju bagian dalam. Botol berisi cai ran itu tutupnya mereka buka dan teguk sampai abis.

Meregang nyawa. Dari mulut mere ka keluar busa. Dan setelah itu ma ti. Mereka melakukan aksi bunuh diri.

Jenderal Fauzi dan Kolonel Ihsan tak mampu mecegah aksi bunuh diri rame-rame itu karena berlang sung amat cepat.

Untungnya beberapa persenjataan berhasil diamankan, sehingga jum lah persenjataan Jenderal Fauzi dan Kolonel Ihsan menjadi ber tambah.

Demi keamanan, Jenderal Fauzi dengan amat terpaksa mening gal kan kediamannya menuju ke suatu tempat yang bisa jadi lebih aman.

"Dimana itu Jenderal?"

"Tak jauh dari sini. Mungkin memer lukan perjalanan sejam lebih," kata Jenderal Fauzi seraya menambah kan di sana merupakan salah satu tempat latihan pasukan pribumi.

"Kek, Om Kolonel. Zainab ikut enggak?"

He he he ...

"Ikut dong say," kata Kolonel Fauzi sambil mencium hangat kedua belah pipi Zainab.

Mang Kerio (118)

Mang Kerio (118)
Oleh Wak Amin




DAK ngenjuk salam lagi. Pak Mar wan langsung masuk, 'besujud' minta ampun samo bininyo.

"Buk, maafkan ayah yo Buk. Ayah nyesel la nyikso anak." Nangis tapi dak metu banyumato.

"Kagek duken Yah. Sikilkuni kotor. Bauk banyu got," kato Maryam. Enggeser kakinyo ke kanan.

"Biarkela Buk. Banyu got dak jadi apo. Yang penting ibuk maafke ayah."

Maryam dak langsung pecayo ...

"Cubo angkat duken palak ayah."

Pak Marwan negakke palaknyo.

"Ai embudike awakni Yah. Cubo jingok duken Nak Leha rainyo .."

Cek Leha endeket ...

"Dak katek banyu mato kan, padohal nangis."

Cek Leha jujur ngiyoke ...

"Retinyo ayahni ecak-ecak bae," kato Maryam. Dio julakke lakinyo. Tesender tiang meja.

Untung dak pingsan ...

Mang Kerio  becepet nulung Pak Marwan yang kesakitan. Sedangke Cek Leha nenangke Bu Maryam ya ng marah karno ngeraso dibudike lakinyo.

"Itutu modus dio Mang. Dulu cak itu jugo. Ngomong minta maaf, eee dak taunyo balik lagi nyikso anak," uji Cek Leha.

Kalu dak dialangi Cek Leha, sepatu baru Maryam behak tinggi la ma mpir ke palak Pak Marwan.

"Sabar yo Buk."

"Aku la sabar Nak Leha. Dasar dioni bae", sambil nunjuk ke batang idu ng lakinyo, " lanang kurang ajar."

"Sudah Buk. Sudah ..." Cek Leha em bawak Bu Maryam ke dapur. Dio embekke banyu putih.

"Minum duken Buk. Minum ..."

Agak tenang dikit abis minum ..

"Sekarang atur nafas Buk Maryam."

La tenang niyan kayaknyo ..

Makmano dengan Pak Marwan?

"Ado rokok dak Mang?" Masem ab is minta ampun tadi, mulut tibo-tibo masem.

"Ado," kato Mang Kerio. Metuke du wo batang rokok dari kantong baju nyo. Sikok untuk dio, sikok lagi un tuk Pak Marwan.

Korek diidupke ..

Apinyo diparakke deket pangkal ro kok. Raso la cukup, rokok ditarik di kit dari korek api, lalu diisep sambil bedesit ..

Asap metu dari mulut samo lubang idung Pak Marwan. Mak itu jugo de ngan Mang Kerio. Bedanyo mama ng kitoni cuman metuke asep dari mulut bae.

"Makmano sekarang Pak Marwan?"

"Agak lemak'anla Mang. Idak mu met lagi cak taditu."

"Syukurla kalu mak itu ..."





Pramasastra Bahasa Arab (13)

Pramasastra Bahasa Arab (13)
Oleh Wak Amin



N.   Kata Benda Jamak

I. Bahan Pelajaran :

a. Sewaktu saya menjadi guru (dosen) pada College Nasional dan isteri saya adalah guru (f) di situ juga (Lammaa kuntu mu'alliman fil kulliyyatil wathaniyyati wakaanat zaujatii mu'allimatan fiihaa aidhan),

b. Kami pergi bersama sekelompok guru laki-laki dan guru perempuan menziarahi kota Damsyik (Zahabnaa ma'a fariiqin fiihi mu'allimuuna wa mu'allimaatun liziyaarati madiinati dimasyqa).

c. Rombongan itu menginap di Hotel Umaiyah, dan kemudian mereka dibagi jadi dua bagian (Waqad nazalal jamii'u fii funduqi umayyata wa tsumma anqasamuu ilaa qismaini).

d. Guru-guru perempuan keluar ke pasar Hamidiyah, mereka membeli disana keperluan mereka dan apa-apa yang berkenan di mata mereka (Fal mu'allimaatu kharajna ilassuuqil hamiidiyyati wabta'na minhaa haajatahunna wamaa halaa fii 'ainihinna).

e. Adapun guru laki-laki mereka (sengaja) menuju ke mesjid Umawi. Kemudian mereka mengunjungi makam Salahuddin (Ammal mu'allimuuna faqashaduul jaami'al umawiyya tsumma zaaruu qabra shalaahid diin)

f. Sewaktu rombongan bertemu di hotel sesudah lohor guru-guru perempuan mengetahui bahwa guru laki-laki mengunjungi mesjid yang masyhur itu tanpa mereka, mereka marah dan berkata kepada guru laki-laki (Walammal taqaal jamii'u fil funduqi ba'dadzh dzhuhri wa'alimatil mu'allimaatu annal mu'allimiina zaaruu zaalikal jaami'al masyhuura biduunihinna ghadhibna waqulna lilmu'allimiina):

g. "Kamu pergi ke mesjid Umawi tanpa kami, padahal adalah kesenangan kami mengunjunginya ....! ("Innakum zahabtum ilal jaami'il umawiyyi biduuninaa ma'a annahu kaanat biwaddinaa nahnu ziyaaratuhu ...!")

h. Sewaktu telah (reda) dingin kemarahan mereka, rombongan pun menuju (pergi) ke Perpustakaan Azh-Zhahariyah, mereka menyaksikan nasksh-naskah lama disana (Walammaa sakata 'anhunnal ghadhabu tawajjahal jamii'u ilal maktabatidzhdzhaahiriyyati wasyaahaduul makhthuuthaatil qadiimata fiihaa).

i. Dan setelah para petugas perpustakaan memberi (mengemukakan) kepada mereka kopi, mereka kembali ke hotel, dimana mereka menghabiskan malam mereka disana (Wa ba'da an qaddama lahum muwadzhdzhaful maktabatil qahwata raja'uu ilal funduqi haitsu qadhaw lailatahum hunaaka).

II. Pembahasan Tata Bahasa :

1. Aidha. Juga adalah adverb sela manya dengan tanwin fathah.

2. Kata kerja Zahabnaa orang pertama jamak perpect. Zahabnaa jamak karena subjectnya juga ja mak dan tidak dinyatakan (tersem bunyi). Harus diingat bahwa  bagi tunggal ini tidak ada dualnya (untuk orang pertama). Walaupun disini di maksud dual, dipakai jamak saja.

Subject dalam kalimat Fiihi mu'allimuuna wa mu'allimaatun adalah Mu'allimuuna = guru-guru (m) jamak dari Mu'allimun. Untuk mewujudkannya jamak nominatif dengan menambahkan akhiran ... Suuna. Bentuk jamak ini adalah jamak kata benda sehat.

Mu'allimaatun disamakan dengan Mu'allimuuna dalam harkat nomi natif juga, yaitu jamak dari Mu'alli matun = guru (f). Pembentu kannya dengan menghilangkan ta marbu thah dan menambahkan akhiran Alif dan ta dhommah.

Cara ini dinamakan pembentukan jamak feminin yang sehat. Sebagi an besar kata benda feminin bera khiran "ta marbuthah" dijamakkan seperti ini.

3. Anqasamuu kata kerja perfect pola VIII orang ketiga masculin jamak dari kata kerja Inqasama. Akhiran alif dalam orang ketiga masculin jamak tidak dibunyikan, tetapi hanya un tuk membedakan antara Waw jamak dan Waw kata penghubung yang berarti dan.


4. Kata kerja Kharajna orang ketiga feminin jamak perpect pola I dan subject tidak dinyatakan (tersem bunyi).

Kata kerja Abta'na orang ketiga feminin jamak perfect pola VIII dan Baa'a kata kerja lemah (lowong).

'Ainihinna terdiri dari kata 'Aini dan kata ganti akhiran  ... Hinna < .. Hunna.

6. Kata kerja 'Alimati dalam keada an tunggal karena subjectnya dinya takan. Ia feminin karena subjectnya juga feminin.

Al mu'allimiina dalam kasus accu satif karena menjadi subject dari kalimat yang dimulai dengan Anna. Accusatif jamak feminin yang sehat dibentuk dengan menghilangkan harkat akhirannya dan menambahkan akhiran ... Sin kasrah dan nun sukun.

Kata kerja Qulna orang ketiga femi nin perfect jamak dari kata kerja lowong Qaala.

Al mu'allimiina (I) dalam genitif karena menjadi object (penderita) dari kata perangkai .. Lam berharkat kasrah. Genitif dan accusatif dari kata benda jamak masculin yang sehat, dalam keadaan sama.

7. Innakum terdiri dari dua kata: Inna dan kata ganti akhiran orang kedua masculin jamak ..Kum dan akhiran .. Kum dalam accusatif karena menjadi subject dalam kalimat yang diawali dengan Inna. Kata itu tetap, tidak mengalami perubahan harkat.

Kata kerja Zahabtum orang kedua masculin jamak perpect.

Ma'a anna = padahal (idiom) kata ganti akhiran ... Hu sebagai ganti nya. Kata ganti ini mewakili subject yang diterangkan dalam kalimat berikutnya.

Jadi dalam kalimat ini Zijaaratu hu .. Kaanat adalah predicate.

Biwaddinaa terdiri dari tiga kata : kata perangkai ... Bi, mashdar


8. Al makhthuuthaati kata benda feminin jamak yang sehat dari Makhthuuthatun dalam kasus accusatif sebagai object kata kerja Syaahaduu. Harkat akhirnya kasrah.  Jamak feminin yang sehat diberi harkat kasrah dalam kasus accu satif, seperti dalam genitif.

Al qadiimata adjective yang menje laskan Al makhthuuthaati. Harus diingat bahwa adjective tetap da lam keadaan tunggal walaupun kata benda yang dijelaskannya jamak.

Adjective yang menjelaskan kata benda feminin jamak sehat, harus tunggal feminin, terkeuali jika kata benda itu menunjukkan orang, dimna harus adjective itu tunggal atau jamak.

9. Muwadzhafuu adalah jamak sehat masculin dari Muwadzhafun. Akhiran Na dihilangkan karena kata Muwadzhafuuna dihubungkan dengan Almaktabati.

Apabila kata benda masculin jamak sehat (tidak memandang kasus nya), berhubungan dengan kata lain, maka Na dihilangkan dan proses ini sama dengan dual.

Kata kerja Qadhau (< Qadhayuu) orang ketiga masculin jamak per pect dari kata kerja lemah Qadhaa. Dalam hal ini suku ketiga dihila ngkan dan fathah suku kedua menjadi rangkap (bertasydid) dengan Waw jamak.

Catatan :

a). Pembentukan jamak masculin sehat bisa digunakan pada kata benda berikut :

1. Semua participle yang menun jukkan orang (manusia).

2. Semua nisbah yang bertalian dengan manusia.

3. Kata benda bentuk Fa'a'alun yang bertalian dengan manusia.

4. Adjective yang menjelaskan kata benda seperti yang tersebut di atas.

b). Pemakaian jamak feminin sehat digunakan pada kata benda berikut:

1. Kebanyakan kata yang berakhiran ta marbuthah tanwin dhommah.

2. Mashdar dari kata kerja (kecuali mashdar Pola II kadang-kadang jamak tidak sehat).

3. Kata benda yang berasal dari kata asing.

4. Adjective yang menjelaskan jamak feminin sehat.

III. Latihan :

1.  Pada tahun yang dikenal dengan tahun Hijrah, Nabi telah hijrah (pin dah) bersama serombongan (kaum) Muslimin dari Mekkah ke Jastrib (Medinah) (Fis sanatil ma'ruufati bi'aamil hijrati haajaran nabiyyu ma'a fariiqim minal muslimiina min makkata ilaa yatsrib).

2. Maka namanya menjadi "Medi nah" yaitu : Medinah Nabi (Kota Nabi) (Fa ashbahas muhaa ba'da zaalika "al madiinata" ay madiinatannabiyyi).

3. Orang (penduduk) Medinah memanggil (menamai) mereka : orang Mekah yang hijrah bersama Nabi (dari) orang mukminin dan mukminat sebagai "Muhajurin." (Wada'a ahlul madiinati haa-ulaa-i makkiyyiinal lazinna haajaruu ma'an nabiyyi mim mu'miniina  wamu'minaatil muhaajiriina).

4. Mereka (Muhajirin) hidup seba gai warga yang baik di Medinah  (Wa'aasya  haa-ulaa-il muhaajiruu na muwaa thiniina shaalihiina fil madiinah).

5. Mereka bantu-membantu dengan penduduknya, di bawah pimpinan Nabi untuk memelihara Islam dari serangan orang-orang Mekkah, hing ga penandatanganan perjanjian dengan mereka (Fata'awwalu ma'a ahlihaa tahta qiyaadatin nabiyyi fii hidzhil islaami min muhaa jamatil makkiyyiina hatta jaraa tau qii'u mu'aahadati ma'ahum).


IV. Ulangan :

a. Terjemahkan ke bahasa Indonesia:

1. Hadharal mu'allimuuna wazaujaa tuhumuj timaa'an khathaba fiihid duktuuru thaha husainun za'iimul harakaatil adabiyyatil hadiitsati 'an ta-ziikhil 'arabiyyi fahala kalaamuhu fii 'ainihim.

2. Fisy syarqil ausaathi 'adadun minasy syarikaatil kabiirati lizzaiti.

3. Ra-aina ma'badarruumaa niyyiina fii baldati ba'labakka wara-ainaa maa baqiya min qubbatihi.

4. Qashada lubnaana biththayyaa raati fariiqum minal mishriyyiina lil ishthiyaafi fiihi waqaaluu inna mathaara bairuuta huwa afdhalu mathaari fiisy syarqil ausaathi.

5. Zahaba fariiqum minal muslimii na ilaa makkata wathaafu hawlal ka'bati qiblatil islaami.

6. Qaala murassil : "Al ahraam" al khaashshu inna manduwiyil 'iraaqi wa mishra wasuuriyyatakhtalafuu firra-yi haula suuriyyatal kubraa wa haula ishraaril maliki 'abdillaahi 'alaa tahqiiqihaa.

b. Terjemahkan ke bahasa Arab :

1. Di Amerika banyak orang musli min dan mereka warga yang baik.

2. Di masa yang lalu para editor (redaksi) Al Ahram adalah orang Libanon.

3. Surat kabar "Al- Misri" mempu nyai koresponden (j) di tiap-tiap ibu kota di dunia.

4. Sekarang saya belajar bahasa Arab beberapa jam setiap hari.

5. Pelajaran (j) bahasa Arab adalah pelajaran terakhir di Universitas Amerika.

6. Guru-guru (f) di sekolah itu lebih banyak dari guru-guru (m).


Kamis, 30 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (9)

Peluk Aku Ya Allah (9)
Oleh Wak Amin





SSSST ..

Ada suara langkah kaki. Terdengar dari atap rumah.

"Kolonel. Ikut saya. Cepaat!"

Jenderal Fauzi menggeser lemari. Ada pintu, papan penutup dan ta ngga kayu menuju ke bawah.

Bunker ini sengaja dibuat untuk per sembunyian. Sejauh ini aman-aman saja.

"Kek. Kenapa gelap?" Tanya Zain ab. Dia tak bisa lihat apa-apa.

"Sebentar Nab," kata Jenderal Fau zi, "Kakek akan tunjukkan sesuatu yang kakek yakin kamu suka."

Ahaaa ...

Zainab senang mendengarnya.

"Apa itu Kek?"

"Nanti Zainab tengok sendiri .."

Berjalan sekitar tiga meter, belok ka nan ketemu dengan kolam kecil yang indah.

Di tengah kolam ada lampu yang di kelilingi air yang memencar. Kolam yang jernih airnya itu bisa dijadikan tempat duduk-duduk karena bagian pinggirnya dilapisi keramik keema san.

"Nah, ini tempatnya. Zainab suka kan?"

"Suka Kek."

"Alhamdulillah," ucap Zainab kegi rangan. Sudah lama dia tak meli hat kolam, terkecuali tumpukan ba tu bekas reruntuhan gedung yang hancur dihantam rudal.

Sementara di luar bunker ada lima pria bersenjata lengkap. Mereka ob rak abrik setiap ruangan. Tapi tak menemukan keberadaan Jenderal Fauzi.

"Cari ke setiap sudut!" Perintah laki-laki tinggi kurus.

"Siap Bos."

"Jangan lupa. Door Jenderal Fauzi kalau ketemu."

"Siap Bos."

"Kalau tidak ketemu Bos?" Tanya si gemuk.

"Tak usah tembak."

"Tembaknya sampai mati atau se tengah mati Bos?" Tanya rekan gemuk yang mahal senyum.

"Sampai mampus tau." Sang Bos kelihatan marah dan kesal. Tapi dia senang karena keempat anak buah nya bisa diajak kerjasama.



Mang Kerio (117)

Mang Kerio (117)
Oleh Wak Amin





KARNO terus diliyati anjing gemuk dari balik kaco dan seolah nak eng gigit, Pak Marwan dak tahan jugo besingit lamo-lamo di jeru mobil.

Dio kepengen nak metu. Tapi takut digigit anjing. Apolagi anjingnyo be sak nian. Ampir samo besak de ngan Pak Marwan.

Untung bae ado lanang ceking ma rak'i si anjing. Diusap-usapnyo bulu nyo. Dahtu, samo anjong, lanang ca kep taditu pegi masuk lurung. Ila ng entah kemano.

"Alhamdulillah," kato Pak Marwan. Lego rasonyo.

Mumpung dak ado anjing lain yang datang, Pak Marwan metu dari mo bil Mang Kerio. La metu bingung pulo nak kemano.

Sepi. Uwong sikok yang bejalan, no ngkrong atau nunggu opelet, pun dak katik.

"Daripado aku dicurigai wong nak maling, lemakla aku ke rumah bae," kato Pak Marwan.

"Tapi gek ribut lagi dengan biniku. Cakmanolaye. Serbo salah. Diem disini dak aman, ke rumah jugo nambah dak aman."

Kriiiiing ...

Telepon gengam bebunyi ..

"Halo .."

"Pak Marwan dimano sekarang?"

"Di seberang jalan deket tong sam pah Mang Kerio."

"Kumintak Pak Marwan cepet ke sini. Kutunggu di teras."

"Tapi Mang .."

"Dak apo-apo ... Cepetla. Mumpung bini bapak dak tau. Dio lagi ngomo ng samo Cek Leha."

"Oke Mang. Aku kesano sekarang."

Sementaro di jeru rumah, Maryam becerito kalu dulu, awal-awal kawin dulu, rumah tanggonyo aman-aman bae.

"Dak ulah ribut. Akurla pokoknyo Nak Leha," kato Maryam. Dio dak abis pikir ngapo perilaku lakinyo berubah setelah Sulaiman la agak besak.

"Sabar yo Buk. Kalu kito sabar ado tula jalan metunyo," uji Cek Leha, cak keiyoan niyan.


Peluk Aku Ya Allah (8)

Peluk Aku Ya Allah (8)
Oleh Wak Amin






"HEI .. Hadapi gue!"

Marah, pria bertopeng itu mengejar Jenderal Fauzi sambil melepaskan tembakan.

Kolonel Ihsan tak tinggal diam. Dia kejar sementara Zainab ditinggal dekat jalan mengarah ke dapur.

Kemana Jenderal Fauzi?

Tak kemana-mana ..

Ketika si pria bertopeng mendekat ke  gudang, Jenderal Fauzi mele paskan tendangan ke arah perut sebanyak dua kali.

Lawan terjengkang ..

Kolonel Ihsan yang datang kemudi an, tak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ia angkat lalu lempar tubuh kurus tinggi itu ke tembok. Terdengar era ngan sedikit. Tapi hanya sebentar karena beberapa saat kemudian se buah pisau kecil dilepaskan dan nyaris mengenai muka Kolonel Fauzi.

Si pria melompat ke balik tembok. Kolonel Ihsan berusaha mengejar. Namun tak berhasil. Kehilangan jejak ...

"Biarkan dia pergi Kolonel," kata Jenderal Fauzi.

"Ya Om. Kalau Om pergi Zainab gimana?"

"Kan ada Kakek Fauzi." Gurau Kolonel Ihsan.

"Tapi Kakek kan udah tua Om." Ja waban polos  Zainab ini membuat Kolonel Ihsan dan Jenderal Fauzi tertawa.

"Meskipun Kakek udah tua," kata Jende ral Fauzi, "Kakek bisa nyanyi dong Zainab."

Zainab ketawa ...

"Coba nyanyi Kek. Zainab ingin sekali mendengarnya."

"Baiklah."

Sang Jenderal membisikkan sesua tu pada Kolonel Ihsan.

Sang Kolonel bersiap. Dia bergaya bak gitaris tengah beraksi di atas panggung.

Dari mulutnya terdengar suara peti kan gitar, disusul luncuran syair la gu yang didendangkan Jenderal Fauzi ...



موجوع قلبي

 والتعب بيه

من اباوع على روحي

ينكسر قلبي عليه

تعبان وجهي

وعيوني قهرتني


دنيا شلت حال حالي

وبحياتي كرهتني


كرهت الحب

ماريده دمرني

طيب اني وادري طيب لهالحال وصلنى


موجوع قلبي,, والتعب بيه
من اباوع على روحي,, ينكسر قلبي عليه
كل يوم صدمه اقوى من اللي قبلها


اني واصل بالشدايد شده محد واصل الها


محد وقفلي من كنت محتاج وقفه


الصلابه بهالناس مدري هاي الدنيا صلبه


دخيل الله من الدنيا من العالم


ربي خلي هذا همي نهاية كل ظالم


Karena senang, Zainab ikut juga ber nyanyi, berdendang ria. Sesekali dia berjoget membuat terharu dan tak jub Jenderal Fauzi dan Kolonel Ih san.

Rabu, 29 Mei 2019

Mang Kerio (116)

Mang Kerio (116)
Oleh Wak Amin





"AI dak galak aku Mang," uji Pak Marwan.

"Ngapo dak galaktu? Kalu Pak Marwan  melok kan mudah-mudahan gan cang selesai pekaronyo."

Pak Marwan tediem.

"Tarokla kami beduwo bae nemui bini kautu. Ngomong cak ini cak ten tang Pak Marwan. Aku yakin bini ba pak dak cayo. Tapi kalu bapak me lok kan paling idak kito biso tau duduk masalahnyo. Siapo yang salah siapo yang benar."

Lum jugo ngenjuk jawaban ...

"Lajula Pak. Aku yakinla sejahat-ja hat bini dak sampe ati nak embu nuh lakinyo. Ye dak Mang?"

"Bener kato Cek Leha tu Pak Mar wan," kato Mang Kerio. "Bapak dak usah kuatirla. Pokoknyo melok ka mi bae. Kalu tejadi apo-apo kito selesaike baik-baik."

Lum jugo ngenjuk jawaban ...

"Makmano Pak Marwan?" Cek Leha la mulak'i kesel caknyo. Awak lana ng tapi kelakuan cak betino.

"Akutu galak bae Mang, Buk Leha." Endenger jawaban Pak Marwan, Cek Leha seneng nian. Tapi sede nget. Karno waktu Pak Marwan ngo mong .... "Tapi .." balik kesel lagi.

"Tapi ngapo Pak Marwan?"

Pak Marwan dakdo enjawab. Di jeru atinyo cuman pingin nak balik bae ke rumah. Dak lemak diusirtu, apo lagi oleh bini.

"Sudah kalu mak itu Pak Marwan melok kami bae ...

Sudah diputuske melok, melokla Pak Marwan pake' mobil Mang Kerio.

Cek Leha melok ...

Sementaro bini Pak Marwan, Mar yam masih bebersih-bersih di te ras. La lamo dio dak mak ini.

Waktu Mang Kerio datang, dio dak pulo peduli karno memang dak ke nal dan dak tau.

Tapi dio tetep besikap ramah karno tamu. Setiap tamu yang datang yo disambut. Apolagi kedatangan Ma ng Kerio samo Cek Leha baik-baik. Sedangke Pak Marwan, karno ma sih takut, besingit di jeru mobil.




Peluk Aku Ya Allah (7)

Peluk Aku Ya Allah (7)
Oleh Wak Amin






TENGAH malam ...

Huuup ...

Tiga laki-laki bertopeng, berpakaian serba hitam melompat turun dari lo teng. Mereka bersenjatakan pedang dan pistol. Target mereka adalah menghabisi Jenderal Fauzi.

Ketiganya berpencar. Satu ke de p an, satu lagi ke belakang, satu lagi masuk lewat samping dengan cara mencongkel jendela kaca.

Bergerak secara berlapis menuju tempat dimana Jenderal Fauzi beristirahat ...

Pintu dibuka perlahan. Pedang siap diayunkan ...

Triiing ...

Beradu dengan pedang Jenderal Fauzi. Mengelak sedikit ke kanan, pedang diayunkan, menebas perut lawan.

Meregang nyawa seketika ...

Melihat rekannya tewas, dua laki-laki bertopeng melepaskan temba kan. Kolonel Ihsan mengelak ke kiri, bersembunyi di bawah tempat tidur bersama Zainab.

"Zainab tunggu sini ya. Jangan kemana-mana." Bisik Kolonel Ihsan.

"Om mau kemana?"

"Bantu kakek."

"Siap Om Kolonel!"

Sssssst ...

Ketika tempat tidur diberondong pe luru, Kolonel Ihsan berhasil menje pit tali lawannya. Keduanya ber guling-gulingan.

Saling adu pukulan dan tendangan. Belum terlihat siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Lawan menendang, Kolonel Fauzi menghindar ke kanan. Lalu memu tar badannya sambil melepaskan tendangan balasan.

Auuuugh ...

Kena ulu hati. Lawan terkejut. Saat itulah Kolonel Ihsan melepaskan tembakan. Jatuh terkapar.

Di luar kamar masih terjadi perke lahian seru antara Jenderal Fauzi dengan pria bertopeng.

Sama-sama menggunakan pedang, keduanya terlibat adu pedang. Sem pat terlepas kena ayunan pedang lawan, Jenderal Fauzi berlari ke kanan.

Ada sebuah jalan disana, menghu bungkan antara ruang tengah de ngan ruang belakang.

Jenderal Fauzi bersembunyi di balik dinding pembatas. Lawan berusaha mendekat ..

Tiba-tiba ..

Praaak ...

Sebuah sepatu tepat mengenai kepala pria bertopeng ...

He he he ...

Zainab tertawa ...

Dooor ...

Door ..

Dua tembakan yang dilepaskan la ki-laki kurus itu nyaris mengenai Zainab andai saja Kolonel Ihsan terlambat menggendongnya.








Selasa, 28 Mei 2019

Mang Kerio (115)

Mang Kerio (115)
Oleh Wak Amin



DIUSIR dari rumah oleh bininyo, Pak Marwan ngadu ke Mang Kerio. Su payo mamang samo cek kitoni pe cayo, laki Maryamni bebaju tam pelan, beselop jepit tebalik, dan rambut kusuk.

Cuman sayang dio lupo sikok. Apo tu? Dompetnyo tebel, retinyo ba nyak duit.

"Katonyo saro bapakni. Tapi dom petnye tebel. Kalu mak itu bapakni embudike kami beduwo," kato Cek Leha sambil ngudek banyu putih pake'gulo pucuk meja.

"Inini buksn duit aku Buk, Mang," kato Pak Marwan. Dak ditawak'i langsung bae neguk banyu putih manis yang diudek Cek Leha ta ditu.

Pak Marwan enjerit, Cek Leha keta wo ngakak ...

"Seharusnyo bapak cicipi dikit dulu," kato Mang Kerio, "apo panas apo idak. Kalu panas kan dikit bae dulu bapak minumnya."

Pak Marwan dak kelemak'an. Dio mintak maaf ...

"Yo sudah. Sekarang cubo jelaske tujuan Pak Marwan sebenarnyo ke sini?"

"Akutu Mang diusir binike."

Haaa?

"Madak'i. Biasonyo yang laki ngusir bininyo. Ye dak Mang."

"Bener Pak Marwan. Apo pasal bapak keno usirtu?"

Beceritola Pak Marwan. Dibuat-bu atkela cerito kalu bininyo galak marah, anak melawan. Nyenyes dan mintak duit terus.

"Aku jugo pernah ditaboknyo Mang," kato Pak Marwan sambil nunjukke rai sedih cak nak nangis.

"Tapi Pak, kalu bener bapak dita bok, dak ado bekasnyo. Benjol apo cak itu."

"La diobati Mang."

"Memangnya kapan Pak Marwan keno tabok bininyo?"

"Lum lamo igo Mang."

Mang Kerio noleh ke Cek Leha. Nge njuk isyarat kalu nak ngomong ngo mongla.

"Jadi maksud Pak Marwan nak ma kmano. Maksud Leha, apo nak di bawak kesini bininyo, apo mak mano. Kami siap bae embantu bapak ..."

"Jangan, jangan Buk. Jangan kong kon ke sini binikutu."

"Ngapo memamgnyo Pak Marwan?"

"Aku dak galak ribut. Payah biniku tu. Apo-apo bae nak menang tula."

"Oke," kato Mang Kerio, "kalu cak itu kendak bapak cakmano?"

"Tulung makmano caronyo supayo aku pacak balik lagi Mang. Itu bae."

"Yo mudah sebenernyo Pak Mar wan. Syaratnyo cuman sikok ..."

"Apo Mang. Nak panjar dulu. Bera po. Dak usah sungkan-sungkan Ma ng. Omongkela. Mamang ngomong aku bayar ..."

"Terimo kasih. Bukan itu syarat ya ng aku maksud Pak Marwan."

Pak Marwan masukke lagi dom pet nyo ke jeru kantong buri celano.

"Pak Marwan melok kami beduwo. Yuk kito samo-samo nemui bini bapak di rumah."


Senin, 27 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (6)

Peluk Aku Ya Allah (6)
Oleh Wak Amin


MOBIL terus melaju lambat. Mele wati jalan yang di kanan kirinya hutan bersemak.

Sepuluh menit kemudian mobil be lok kanan melewati jalan tanah. Me nurun. Lalu mendatar. Belok kanan lagi, kiri, kanan dan lurus.

Mobil berhenti persis di dekat po hon zaitun.

"Alhamdulillah kita sampai dengan selamat," ucap Jenderal Fauzi. Dia turunkan Zainab, menyusul kemu dian Kolonel Ihsan.

Zainab senang melihatnya. Ada ru mah, ada pohon zaitun, ada batu-batu berderet. Ada kolam pula.

Asyik banget ...

"Boleh ya Kek, Om Ihsan, Zainab main-main nantinya di rumah itu." Zainab menunjuk ke sebuah rumah kecil dengan pekarangan yang luas.

"Boleh. Yuk!"

Sambil melompat kegirangan, Zai nab berlari mendekati rumah kepu nyaan Jenderal Fauzi itu.

Dia mau masuk, tapi tak bisa kare na terkunci rapat.

"Ini kuncinya sayang."

"Makasih Om ..."

Satu kali putaran pintu terbuka. Ta pi Zainab belum mau masuk kare na gelap.

"Takut ya." Goda Jenderal Fauzi.

"Iya Kakek Jenderal. Kata orang-ora ng, tempat yang gelap banyak han tunya."

Ha ha ha ha ...

"Sekarang lihat Kakek ya."

Jenderal Fauzi masuk lebih dulu. Lalu dia nyalakan lampu ..

Byaaaar ...

Ruang tamu terang benderang ..

Waaaah ...

Zainab takjub melihatnya. Dia ber lari mendekati sebuah kursi pan jang di ruang tamu.

Dia duduk disana ...

Lalu ..

Berlari ke ruang belakang. Dapur. Di atas meja makan ada sedikit maka nan, gelas dan wadah air minum.

Dia bergegas menemui Jenderal Fauzi dan Kolonel yang kelihatan serius memperbincangkan sesuatu di ruang tamu.

"Om, Kek. Zainab ambilkan air mi num ya."

"Zainab bi ..."

Zainab menempelkan telapak ta ngan kanannya di mulut Kolonel Ihsan.

"Bisa Om Ihsan. Sebentar Om, Kek,  Zainab ambilkan airnya."

                           ****
           



Mang Kerio (114)

Mang Kerio (114)
Oleh Wak Amin






PAK Marwan la sadar. Pingsan sedi kit ta di nyo. Dio jingok anaknyo Su laiman la dak katik lagi.

"Man. Man. Ini ayah. Galak dak kau permen. Lemak man .."

"Galak ayah," uji Maryam, niruke suwaro Sulaiman, anaknyo. Pas niyan.

"Dimano kau. Metula Man. Ayah janji dak ngapo-ngapoke kau."

"Ayah bohong .."

"Idak Man. Ayah dak pernah boho ng."

"Sulaiman dak cayo. Ayah ecak-ecak bae. Ecak-ecak nak ngenjuk bombon, pas Sulaiman metu ayah langsung enggebuk."

"Idak Man."

Dak katik sautan lagi ...

"Man. Metula Man."

"Baiklah Yah. Sulaiman metu seka rang ..."

Pak Marwan senang bukan main. Di jeru atinyo lum puas enggebuki Sulaiman.

Tapi dio lupo kalu sekarang bininyo la ado di rumah ...

Jreeeng jeeeng ...

"Nak ngapo?" Maryam metu sam bil megang sekop ..

Tekejut, rai Pak Marwan berubah pucat dan ampir bae tekencing di celano.

"Buat apo sekoptu Buk?"

"Nak motelke palak kau."

Haaa ..

"Jangan Buk. Kalu potel aku dak bepalak lagi gek ..."

"Biarla. Lebih bagus kautu dak bepalak bae ..."

Tekencing niyan di celano, akhir nyo ..

Pecak nak maju ...

"Nak ngapo kau haa?" Lenak nga yunke sekop, siap miculke palak Pak Marwan.

"Idak Buk. Akutu ... Akutu ..."

"Cepetla pegi sebelum aku lanjakke kau lanang dak keruan aguk."

"Yo yo Buk. Aku pegi."

Ruponyo mulut bae yang nak pegi. Kenyataannyo ngemis-ngemis min tak maaf.

"Nak pegi dak!"

"Yo yo Buk ..."

"Cepeeeet .."

"Iyo. Iyo say. Godbye my love .."

"My love my love. Cepet pegi sano."

Pak Marwan baru pegi niyan dari ru mah setelah mato sekop nempel ke pantatnyo ..

Pramasastra Bahasa Arab (12)

Pramasastra Bahasa Arab (12)
Oleh aminuddin

M. Dual

I. Bahan Pelajaran :

a. Dua (ber) sahabat, Jamil dan Husein pergi ke Damsyik, dan berhenti di Hotel Umaiyah, dan mengunjungi Masjid Umawi (Zahabash shadiiqaani jamiilun wahusainun ilaa dimasyqa wanazala fii funduqi umayyata wazaaral jaami'al umawiyya).

b. Kemudian (keduanya) menyewa sebuah auto (mobil) ke Ba'labak, dimana mereka (keduanya) tinggal dua hari (Tsumma asta-jara sayya ratan ilaa ya'labakka haitsu baqiya yaumaini).

c. Dan mereka (keduanya) melewat kan (menghabiskan) waktu dua hari dalam kunjungan (ke) negeri itu dan biara Rum (Waqad qadhayaa yau maihimaa fii ziyaarati albaldati walma'badir raamaaniyyi).

d. Pada hari ketiga mereka pergi ke Beirut (Wafil yaumits tsaalitsi saafaraa ilaa bairuuta).

e. Mereka melewati dalam perjala nan mereka dua negeri yang amat cantik: Zahlah dan Shaufar (Wamarra fii thariiqihimaa bibaldataini jamiilataini, Zahlata wa shaufara).

f. Kedua negeri itu, (kota) musim panas yang besar di Libanon (Wahumaa baldatal ishthiyaaqil kabiirataani fii lubnaana).

II. Pembahasan Tata Bahasa:

1. Dalam kalimat verbal ini, subject kata kerja adalah Ash shadiiqaani dua sahabat yakni menunjukkan dua (dual). Bentuknya dalam nomi natif (marfu') dengan cara menam bahkan akhiran kata tunggal Ash shadiiqu dengan ... _-_I ni.

Kata kerja Zahaba masih dalam keadaan tunggal, walaupun subject-nya dual. Hal itu terjadi karena subjectnya ada (tidak tersembunyi).

Manakala subject dari suatu kata kerja dinyatakan, maka kata kerja itu tetap tunggal. Bila subjectnya memang tidak dinyatakan dalam kalimat itu yakni tersembunyi, kata kerja itu harus disesuaikan dengan kata benda yang ditunjukkan dalam bilangan dengan subjectnya, terke cuali jika subject itu jamak yang ti dak menunjukkan pada manusia, di mana kata kerjanya dijadikan da lam keadaan tunggal feminin.

Jamiilun dan Husainun dalam nomi natif juga sesuai dengan Ashshadii qaani sebagai apposition.

Kata kerja Nazala dan Zaaraa da lam perpect orang ketiga masculin  dual. Keduanya dalan keadaan dual karena subjectnya tidak dinyatakan (tersembunyi).

Al Umawiyya. Nisbah dari kata benda Umayyatu. Perubahannya Umayyiyyu > Umawiyyu karena penyesuaian bunyi.

2. Kata kerja pola X Asta-jaraa = dual karena subjectnya tersem bunyi.

Sayyarata kata benda dari kata kerja Saaraa = pergi (berkenda raan) dalam bentuk Fa' 'alun kemu dian diberi akhiran Satun untuk menyatakan lebih intensip. Seda ngkan Sayyaratun = suatu yang bergerak lebih kencang, merupakan alat berkendaraan, automobil.

Yaumaini kata benda dual dalam kasus accusatif karena adverb waktu  ...

Accusatif dual dibuat dengan meng ganti akhiran kata benda tunggal (Yaumun) dan menambahkan Saini.

3. Yausaihima terdiri dari dua kata :  kata asal accusatif Yaumaini dan kata ganti dual Huma. Akhiran Ni dari Yaumaini dihilangkan karena disambung dengan Huma ...

Apabila kata benda dual disambu ng dengan kata lain, maka akhiran Ni dihilangkan.

5. Baldataini dual dalam kasus genitif, sebagai object dari kata perangkai Bi .. genetif yang dual sama dengan accusatifnya.

Jamiilataini dual karena sebagai adjective yang harus disesuaikan dalam bilangan kata yang sebelumnya.

6. Kata benda dual Baldata hilang Nun nya yang dalam nominatif, dihilangkan "nun" nya, karena dihubungkan dengan kata sesudahnya.

Al ashthiyaafi mashdar dari kata kerja pola VIII Isthaafa (< Ishtaafa) yang berasal dari kata kerja Shaafa. Penggantian Ta menjadi Tha kare na dipengaruhi oleh huruf Shad.

Apabila huruf pertama kata kerja pola VIII salah satu dari huruf  Dhad, Shad atau Tha, maka huruf Ta diganti menjadi huruf Tha.

III. Latihan :

a. Qais dan Laila, dua tokoh (pribadi) Sastra Arab yang terkenal dengan (roman) cinta yang besar (mesra) (Qaisun wa laila syakhshiyyataa al adabi al 'arabiyyi al masyhuurataani bil hubbil 'adzhiim).

b. Kisah cinta mereka (keduanya) menjadi contoh (perumpamaan) bagi setiap yang berkasih-kasihan (Waqad amsat qishshatu hubbihimaa mitsaalan likulli muhibbin).

c. Qais mencintai Laila semenjak kecil (anak-anak)  dan (keduanya) bermaksud kawin (Waqad ahabba qaisun laila munduththafuulati wa'azamaa 'alaz zawaaji).

d. Tetapi, karena mengingat (ada nya) lahirnya "syair cinta"  yang digubah Qais mengenai cintanya akan Laila, maka bapaknya (Laila) melarang keduanya untuk kawin (walaakin nadhara dzhuhuurisy syi'ril ghazaliyyi allazi nadzhamahu qaisun fii habiibithi laila, fa-inna waalidaha mana'ahumaa minaz zawaaji).

e. Maka jadilah Qais gila, dan berpetualang (berkeliling) di Sahara yang jauh (karena) rindu (terbayang) di wajahnya, dan jadilah namanya: Majnun al Laila (tergila-gila akan Laila) (Fa-amsa qaisun majnuunan wathaafa fish sharaa-i al ba'iidati haaiman 'ala wajhihi. Washaarasmuhu "majnuuna laila").

f. Adapun kedua kekasih itu, tetap dengan cinta mereka sampai meninggal (mati) (Ama al habibaani faqad baqiya 'alaa hubbihimaa hatta al mauti).

IV. Ulangan :

a. Terjemahkan ke bahasa Indonesia :

1. 'Indii sayyaaratun wa 'inda ukhtiil kubraa sayyaarataani

2. Lijaami'i qubbataani jamiilataani min zahabin, ashgharu humaa ajmaluhumaa.

3. Hadhartul yaumajtimaa 'aini jaraa 'aqdu humaa fil madiinah.

4. Kaanat yadarrajuli fauqa ra-sihi lammaa waqa'a asiiraa.

5. Inna mathlsbai mishra human sihaabul jaisil bariithaniyyi min qanaatis sawaisi wawahdatu waadiin niil.

6. Zahaba manduubul malikibnis su'uudi ilaal bahraini biththayyaaraati wabahatsa ma'a sumuwwisy syaikhihaa amraz zaiti tahtal bahril waaqi'i baina daulataihimaa, wamauqifa haatainid daulataini minhu.

b. Terjemahkan ke bahasa Arab:

1. Sewaktu saya ada di Beirut, (saya) mengunjungi dua universitas.

2. Husein dan Faisal, (keduanya) adalah Raja Hasyimi.

3. Su'ud dan Faisal, dua anak (laki-laki) Raja Abdulaziz, mempunyai dua jabatan besar di negara itu.

4. Amerika dan Inggeris memerangi Jerman dalam perang dunia kedua.

5. Laila, kekasih Qais, mempunyai dua mata yang cantik (bagus).

Minggu, 26 Mei 2019

Mang Kerio (113)

Mang Kerio (113)
Oleh Wak Amin




17. Episode : 'Nyikso Anak'

"AMPUN ayah. Ini Sulaiman anak ayah, bukan anjing ..."

Digebuki ayahnyo bukan melawan, tapi diem bae. Mangkonyo si ba pak kesetanan. Cak uwong gilo.

Abis pake' tangan, pakek sikil. Un tung lum tesepak karno bininyo la balik dari pasar.

Nyingok anaknyo bedarah-darah, si binini taditu tekejut. Dia becepet ngambek sepatu di teras. Balik lagi langsung dibabetkenyo.

Pas pulo. Keno rai lakinyo. Dak sam pe situ bae. Dio becepet ke dapur. Ngambek piring seng besak.

Praaak ...

Digebukkenyo ke palak lakinyo. Sampe teduduk. Dak kuat duduk teguling.

Laki dibiarkenyo. Dio bawak Sulai man anaknyo ke kamar. Dio obati. Dio tanyo baek-baek.

"Salah beli rokok Buk. Ayah nak sam su tebeli jarum," kato Sulaiman. La ilang nangisnyo.

Darah di idung samo mulut la dak katik lagi. Tapi raso sakit bekas keno gebuk masih teraso.

"Ngapo biso salahtu Man. Cubo awak ceritoke samo ibuk."

"Cak ini Buk ceritonyo. Akutu kan dikongkon ayah beli rokok samsu di warung. Cepet kato ayah. Becepetla aku. Sudah kubayar langsung kuem bek bae rokoktu. Sampe rumah ay ah marah. Ngapo salah beli rokok. Aku mintak maaf. Aku nak nuker lagi rokoktu. Tapi ayah dak galak. Dah, langsung bae aku digebuk. Padohal aku sudah mintak maaf Buk."

Maryam marah.

"Dasar laki dak beguno. Kesel samo uwong, anak dilanjakke."

"Buk. Sulaiman mintak ayah samo ibuk jangan begocoh ye."

"Idak Nak. Tenang bae awak."

"Bukan apo-apo Mak. Malu dijingok tetanggo ..."

"Yo iyo. Ibuk taula. Pokoknyo seka rang istirahatla dulu. Supayo aman awak kunci pintu kamar awakni dari dalem."

"Baik Buk."

"Ibuk nak metu duken. "

"Yo yo Buk."





Peluk Aku Ya Allah (5)

Peluk Aku Ya Allah (5)
Oleh Wak Amin



ZAINAB menyalakan radio. Tak lama kemudian terdengar den ti ngan gitar dan tembang Mauju' Qalbi yang dinyanyikan Najwa Farouk ...




موجوع قلبي
Hatiku tersakiti

 والتعب بيه
Dan Aku lelah

من اباوع على روحي
Tak bisa kulihat jiwaku

ينكسر قلبي عليه
Hatiku hancur

تعبان وجهي
Telah lelah wajahku

وعيوني قهرتني
Dan air mataku mengalahkanku

دنيا شلت حال حالي
Dunia melumpuhkan keadaanku

وبحياتي كرهتني
Dan membuatku benci kehidupanku

كرهت الحب
Aku benci cinta

ماريده دمرني
Tak ingin mengulanginya lagi
Cinta menghancurkanku

طيب اني وادري طيب لهالحال وصلنى
Aku baik-baik saja
Karena aku tahu keadaan menimpaku

موجوع قلبي,, والتعب بيه
من اباوع على روحي,, ينكسر قلبي عليه
كل يوم صدمه اقوى من اللي قبلها
Setiap hari menimpa masalah
Yang lebih berat dari sebelumnya

اني واصل بالشدايد شده محد واصل الها
Aku telah merasakan berbagai kesengsaraan
Kesengsaraan yang tiada seorang pun pernah merasakannya

محد وقفلي من كنت محتاج وقفه
Tiada seorang pun yang mengerti padaku di saat ku membutuhkannya

الصلابه بهالناس مدري هاي الدنيا صلبه
Kekejaman manusiakah?
Aku tak tahu atau dunia yang kejam

دخيل الله من الدنيا من العالم
Yaa Allah
Lindungilah aku dari (kejamnya) dunia dari alam semesta

ربي خلي هذا همي نهاية كل ظالم
Tuhan, damaikanlah keresahan ini (dengan) berakhirnya segala kedzhaliman.


Dia matikan radio ...

"Enak ya Om Ihsan dan Kakek Fauzi  lagunya ya?"

"Zainab suka?" Tanya Kolonel Ihsan dan Jenderal Fauzi serempak.

"Suka Om dan Kakek Fauzi."

"Kenapa Zainab suka lagu itu. Coba katakan pada Om dan Kakek Fauzi sekarang."

"Suara penyanyinya bagus Om, Kek. Merdu sekali. Pasti orangnya juga bagus. Cantik. Tul kan?"

Ha ha ha ha ...

"Ya betul," jawab Jenderal Fauzi. Sebelum menjawab dia hentikan dulu mobil.

Dia cium kening Zainab. Dia tatap wajah gadis kecil itu ...

"Betul kan Om Ihsan?"

"Betul sekali," jawab Kolonel Ihsan. Dia belai rambut Zainab. Lalu me meluknya. Erat sekali.

"Zainab hafal lagu itu?"

"Hafal Om."

"Coba nyanyikan sekarang. Om sama Kakek ingin sekali mende ngarnya."

"Baiklah," kata Zainab. Dia tirukan suara Najwa Farouk. Dia nyanyikan tembang sedih menyayat hati itu.

Berulang-ulang ...






Mang Kerio (112)

Mang Kerio (112)
Oleh Wak Amin


"APO la pikir panjang Buk Asih? Gek nyesel cakman?"

"Idak kayaknyo. Aku la dak tahan lagi," uji Bu Asih, nundukke palak nyo sambil nangis.

"Kasiyan budak Buk. Katik bapak lagi gek."

"Biarla katik bapak daripado nahan hati. Cubola Nak Leha pikirke, apo lakiku dak kesiyan nyingok bininyo bejajo pempek keliling."

"Iyo jugoye," kato Cek Leha melok nangis.

"Kadang tepegel badanni Nak Leha, Mang Kerio."

Cakmanolaye bagusnyo?

"Mun uji mamang tunda dulu niyat Bu Asih nak ceretu."

"Idak Mang," kato Bu Asih. "Aku la mantep. Dak katik lagi insya Allah masih biso idup. Mintak tulung sa mo Tuhan bae supayo disehatke badan, dilancarke rezeki."

"Amin," kato Cek Leha. Dio masih ngarep Bu Asih samo Pak Jamil la kinyo dak jadi becerai.

Tapi kalu memang tejadi jugo, pi s ah baik-baik. Demi anak, tidak ada dendam dari kedua belah pihak.

"Mak ini bae Ha. Kagek mamang cubo ngomong samo laki kau .."

"Buat apo Mang?"

"Yo enjelaske kendaknyo Bu Asih. Duit gaji dienjukke. Idak royal, apo lagi sampe mabok-mabokan."

"Percuma Mang. Utak lakikutu la dak katik lagi. Kapan ditegur nak marah. Na, aku takut gektu mama ng digocohnyo. Itu bae."

"Tangkis Buk Asih. Mamang kan punyo tangan."

Cek Leha ketawo.

"Pokoknyo Bu Asih tenang bae," uji Mang Kerio, "Kito cubo duken, mano tau padek."

"Bacoke Mang," kato Cek Leha.

He he he he ..

Sabtu, 25 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (4)

Peluk Aku Ya Allah (4)
Oleh Wak Amin




KALA itu kami bertempur melawan pasukan musuh. Meski jumlah pa sukan kami hanya berkekuatan se ratusan personil, kami nyaris meme nangi pertempuran yang berlang su ng beberapa hari itu.

Merasa terdesak, pasukan lawan mengibarkan bendera putih. Mere ka  menawarkan gencatan senjata. Utusan kedua belah pihak bertemu di perbatasan.

Disepakati kedua belah pihak tidak akan melakukan penyerangan. Ti dak menakut-nakuti, menjarah dan membunuh rakyat jelata yang tidak bersalah.

Sayang, gencatan senjata itu hanya dipatuhi beberapa hari saja. Sam pai suatu ketika, di pagi yang buta,  pasukan yang terkenal kejam itu menyerang balik dan  menghabisi warga desa dengan cara disiksa sampai mati.

Harta benda dijarahi, rumah dibakar dan banyak dari kaum wanita yang tak sempat menyelamatkan diri, akhirnya ditawan dan dijadikan bu dak pemuas nafsu.

Mendengar kabar kelam ini, atasan ku Jenderal Fauzi marah besar. Dia memintaku menyiapkan pasukan dan bersiap menyerang lewat jam dua belas malam.

"Kita tak ingin mereka berbuat seke hendak hatinya. Paham Kolonel?"

"Paham Jenderal."

"Siap laksanakan sesuai jadwal."

"Siap Jenderal."

Selama tiga hari kami bertempur. Selama itu pula banyak korban ber jatuhan. Kekuatan kami mulai go yah karena lebih dari separo 'orang terbaik' kami tewas.

Jenderal Fauzi menginstruksikan anggota pasukannya untuk mun dur dari perbatasan. Menuju ke se buah hutan dan bersembunyi sem bari menghimpun kekuatan di sana.

Sesampainya kami di hutan yang dikelilingi lautan luas itu kami dise rang beberapa lelaki bertopeng. Me reka turun dari pohon dengan tiba-tiba, lalu memenggal leher pasukan kami satu persatu.

Sejak kejadian itu, aku yang hampir saja terbunuh oleh mata pedang, tak tahu dimana keberadaan Jen deral Fauzi, komandanku. Yang ku tahu teman-temanku tewas secara mengenaskan.

Aku marah. Tapi melawan mereka dengan seorang diri percuma. Tak akan menang ..

Door ...

Dooor ...

Sebuah tembakan nyaris mengenai kepalaku. Aku melompat ke arah se mak jalan setapak.  Si penembak  ta di berusaha mengejarku ..

Anak panah berseliweran. Menan cap tajam di batang pohon. Disusul lompatan tanpa suara dari satu po hon ke pohon lainnya yang dilaku kan beberapa pria bertopeng ..

Mereka terus mendekat. Salah seo rang dari mereka melompst dari atas pohon dan berhasil menyer gapku ...

Kami saling jual beli pukulan. Ta ngan ke muka, kaki ke perut, silih berganti ..

Aku mundur beberapa langkah ke belakang. Lalu berlari kencang. Kudengar suara gemuruh air ...

Ohhh lautan lepas ...

Apa yang harus kuperbuat seka rang?

Melompat atau melawan?

Kupilih melompat dari atas tebing hutan yang curam, meski ketinggi annya dari permuka an air lautan tak terhitung olehku.






Jumat, 24 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (3)

Peluk Aku Ya Allah (3)
Oleh Wak Amin



"Om ... Zainab lapar."

Zainab terbangun. Di tengah meng gelegarnya suara tembakan, dia tak malu-malu dan takut untuk menga takan 'lapar.'

"Sebentar ya Nab. Kita cari sama-sama ..."

"Ya Om ..."

Mata Zainab tak berkedip sedikit pun menatap janggutku. Dia raba. Lalu beralih ke bibir, hidung dan ma taku.

"Kalau Om capek tak usah dicari Om. Zainab biasa enggak makan sehari dua .."

"Enggak. Om tidak capek Zainab. Ki ta cari dulu. Kalau-kalau ada waru ng yang buka.

Siang itu, tak satu pun rumah ma kan yang buka. Meski  cukup jauh dari lokasi ledakan yang meluluh-lantakkan pusat kota, warga masih takut karena bisa jadi akan disusul luncuran rudal berikutnya.

"Kemana lagi aku harus mencari ys Allah. Tolonglah anak ini ya Allah. Aku takut dia mati ya Allah ..."

Air mataku meleleh ...

"Om jangan nangis. Zainab tidak lapar lagi .."

"Om tidak menangis Zainab," jawab ku berbohong agar Zainab tak ikut bersedih.

"Ini apa Om?" Tanya Zainab sambil mengusap lelehan air mata di ba wah kedua mataku.

Aku tak menjawab ..

Kutatap sesaat wajahnya yang can tik itu. Tak kuat aku. Kucium kedua belah pipinya. Hangat sekali.

"0m harus kuat ..."

Subhanallah ..

Tersadar aku. Aku baru ingat. Dima na kami berdua sekarang. Kuberhen ti sebentar. Kuturukan Zainab.

Kuambil batu kerikil. Kucoret-coret tanah di pinggir jalan raya yang di penuhi banyak lubang.

Zainab memperhatikanku. Dia tidak bertanya kali ini. Dia cuma duduk bersila di dekatku.

Tak lama kemudian lewatlah sebu ah mobil butut. Jalannya lambat. Kalau tak terpaksa tak mau orang menaiki mobil tua itu.

Tapi aku tidak. Aku harus ikut. Aku harus hentikan mobil itu. Sebab jika tidak maka perjalanan yang akan di tempuh ini semakin jauh.

Aku lambaikan tangan. Aku berha rap lambaian tanganku dilihat pe ngemudinya. Harapanku terkabul. Mobil berhenti dekat aku dan Zai nab berdiri.

Seorang lelaki mendongakkan ke palanya. Melihat ke arahku. Tata pannya tajam.

Aku sepertinya mengenali wajah itu. Tapi siapa ya?

"Hei Kek. Kenapa kakek tengok Om Ihsan begitu. Marah ya disuruh ber henti. Jangan Kek. Nanti kakek ma kin tua. Terus mati. Mobilnya gima na Kek?"

Ha ha ha ..

Si kakek tertawa ...

Dia turun dari mobil. Dia tutup pintu mobil. Lalu balik badan. Berhada pan denganku.

Tak lama ...

Karena setelah  itu ..

Laki-laki tua itu memelukku. Erat sekali ...

"Benar kamu Kolonel Ihsan kan?" Tanyanya sesaat setelah melepas kan pelukannya ke aku.

Aku mengiyakan ...

"Aku Jenderal Fauzi. Kamu ingat kan?"

Subhanallah ...

Aku baru ingat ... Benar dugaanku tadi ...

"Jenderal ..."

Kali ini aku yang memeluknya. Aku terharu. Dia mantan atasanku. Ka mi berpisah cukup lama.

Mang Kerio (111)

Mang Kerio (111)
Oleh Wak Amin


"BENTAR ya Bu Asih."

"Yola Mang. Santai bae," kato Bu Asih, walau sebenarnyo di jeru ati deg-degannyo bukan main.

Cek Leha ruponyo dikongkonngaw ek banyu sirup abang campur sela sih samo es batu tigo gelas. Sege las untuk Bu Asih, duwo gelas lagi untuk Mang Kerio dan Cek Leha.

"Kito minum duken Bu Asih," kato Mang Kerio sesaat setelah Cek Le ga ngelepakke tapsi berisi tigo ge las es selasih sirup abanng pucuk meja.

"Payu Mang. Dak nulak lagi aku. Yang namonyo es, dicampur apo bae, pasti lemak," uji Bu Asih.

"Kalu mak itu kita angkat samo-sa mo gelas kito," kato Mang Kerio.

Triiiing ...

Beradu gelas ...

Samo minum. Bedanyo, kalu Mang Kerio dan Cek Leha dikit bae, asak minum bae. Bu Asih kebalikannyo. Langsung diteguk abis.

Ahhhhh ...

Sedaaap ...

"Seger rasonyo badan Mang."

"Alhamdulillah. Kalu mak itu kito samo-samo buka' yo Bu foto-fotonyo."

"Lajula Mang."

Sikok-sikok dideretke pucuk meja. Sikok-sikok pulo diselik Bu Asih. Dak katik reaksi apo-apo. Marah dak. Apolagi sampe nangis atau pingsan.

"Makmano Bu Asih?"

"Dak apo-apo Mang aku."

"Maksud Bu Asih?"

"Seperti mamang liyat dewek. Aku biaso bae .."

"Ngapola biso cak itu Bu Asih?"

"Banyak ruginyo ibuk Nak Leha."

Rugi?

"La ditiduk'inyo. Belanjo duit aku. Apo-apo aku. Dio tau beres bae. Kalu diitung rugi akutu. Bener dak Mang?"

Ha ha ha ...

Mang Kerio ketawo ngakak. Baru inila dio endenger pengakuan jujur dari klainnyo ...

"Apo kiro-kiro rencano ibuk selanjutnyo?"

"Cere bae Nak Leha."

Haaa ...



Kamis, 23 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (1)

Novel Islami

Peluk Aku Ya Allah (1)
Oleh Wak Amin


KUKUATKAN hatiku untuk melang kahkan kaki ini melewati ratusan mayat laki-laki dan perempuan ya ng bergelimpangan, tewas secara mengenaskan dihantam rudal ber sama robohnya bangunan gedung perkantoran dan rumah warga yang kini hanya menyisakan tumpukan batu besar berserakan di hampir sepanjang jalan kota ini.

Kota yang indah, megah dan selalu dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia. Kota yang selalu dirindukan oleh mereka yang cinta akan buda ya peninggalan di masa lalu, mulai dari masjid, museum, benteng per tahanan hingga gedung dan rumah warganya yang sudah berusia ra tusan tahun.

Kota yang jika memandang lautan nya yang luas membentang maka hati ini terasa damai karena airnya yang jernih, ombaknya yang bersu sul-susulan, bentangan hutan yang masih perawan dan serba menghi jaunya aneka tanaman yang tum buh subur di sekitarnya.

Kota yang bila malam tiba sangat dinanti warganya dan kaum penda tang. Mereka bergembira karena bisa berbaur dengan sesama. Sali ng kenal, saling sapa dan bertukar pikiran. Bahkan bisa kumpul bersa ma di tanah lapang, kongkow-kong kow di dermaga, makan bareng di restoran apung, menonton film di gedung bioskop tertutup dan terbu ka, menyaksikan pertunjukan teater dan musik di gedung teater terna ma.

Indahnya malam, gemerlapnya lam pu yang menghiasi setiap sudut ko ta, keakraban warganya dan keraga man hiburan yang bisa dinikmati, seakan berlalu amat cepat hingga datangnya pagi.

Pagi yang cerah. Kota mulai tam pak sibuk. Sejak pukul enam pagi toko-toko mulai buka. Pasar pun ramai dikunjungi. Kapal-kapal da tang silih berganti. Merapat dan menjauh dari dermaga.

Suara klakson mobil mulai terde ngar, bersahut-sahutan. Jalanan mulai macet. Pejalan kaki mulai berseliweran, rame-rame menyebe rang jalan dan menapaki trotoar ya ng mengapit deretan gedung per kantoran yang tinggi menjulang.

Suara riang terdengar di setiap se kolah dasar, menengah pertama dan atas. Lonceng ditabuh. Siswa pun berbaris rapi dengan pakaian sekolah berwarna warni. Para guru sama menyemangati dan berdoa agar kegiatan belajar mengajar pa da hari itu berjalan lancar dan sukses.

                         ***



Peluk Aku Ya Allah (2)

Peluk Aku Ya Allah (2)
Oleh Wak Amin







PANDANGANKU tiba-tiba tertuju pada seorang anak perempuan kecil. Sekitar lima tahunan usianya.

Si anak duduk bersimpuh sambil menangis, berurai air mata.

Aku dekati dia ...

Kusapa dia, namun sudah lebih dulu dia menyapaku ...

"Om. Mana ayah ibuku Om?" Tanya nya sambil terisak.

Aku tak menjawab ...

Aku gendong dia. Kubawa ke baw ah pohon besar, satu-satunyo poh on yang 'selamat' dari hantaman rudal.

"Namaku Zainab, Om."

"Nama Om, Ihsan."

Kami berkenalan. Zainab tak mena ngis lagi. Aku senang melihatnya. Dia bercerita tadinya dia jalan ber tiga sama kedua orang tuanya.

Entah dari mana asalnya. Tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Bangu nan pada roboh. Orang pada berte riak. Berlari menyelamatkan diri.

"Sekarang Zainab sendirian Om," uc ap Zainab sembari memelukku er at.

Aku menenangkannya. Aku belai rambutnya yang hitam keemasan. Aku cium keningnya.

"Ya Allah. Kuatkan hatiku."

Kuberharap tak patah semangat me neruskan perjuangan ini.

"Dari dia, kuharap padamu ya Allah, kau tak lemahkan aku. Kuberlindu
ng padamu. Bantu aku Ya Allah."

Kulihat Zainab tertidur pulas. Ku buka pakaian luarku. Kubentangkan di atas rumput yang separonyo ter tutupi serakan batu kecil.

Kurebahkan tubuh Zainab. Pelan sekali agar tak terusik dari tidur pulasnya.

Kuseka keringat di seputar wajahku dengan telapak tangan. Kupandang langit yang cerah. Tampak mata ha ri bersinar terang.

Rasa kantuk menghampiriku. Sepa njang malam hingga pagi jelang si ang ini aku memang tak tidur. Te r us berjaga dari tembakan senapan dan rudal yang sewaktu-waktu me nghantamku.

Kusandarkan tubuhku di batang po hon besar itu. Mataku mulai berat. Tapi terus kulawan sampai akhirn ya dari kejauhan sayup-sayup ter dengar orang berteriak yang diseli ngi suara rentetan tembakan.

Kugendong Zainab. Kubawa pergi mendekati sebuah jalan pertigaan. Lengang.

Aku bertemu dengan seorang pria sepuh bersama cucunya tergopoh-gopoh menuju benteng pinggiran kota.

"Gawat Pak. Pasukan tank masuk kota," katanya, berlalu pergi dengan wajah yang penuh ketakutan.

"Ingin kucari dimana posisi pasu kan tank itu. Tapi, bagaimana dengan Zainab?"

Pikiranku berkecamuk awalnya. Na mun setelah itu, dengan mengucap bismillahi allaahu akbar, kubergerak bersama Zainab mendekati jalan ke cil yang kanan kirinya disesaki tum pukan sisa reruntuhan gedung.

Aku hanya ingin memastikan apa betul ada pasukan tank memasuki wilayah kota seperti yang dicerita kan si kakek barusan.









Mang Kerio (110)

Mang Kerio (110)
Oleh Wak Amin



ABIS bejualan pempek, Bu Asih da tang ke kantor Mang Kerio, pakai motor besar roda tiga Viar. Motor itu dia parkirkan di pelataran kantor yang pagi jelang siangni cuma tecu guk motor Cek Leha samo mobil Mang Kerio.

Disambut hangat Cek Leha, Bu Asih embawakke sebungkus besak pem pek lenjer, ada'an, pempek kerupuk samo pempek tahu. Lengkap samo sebotol plastik cuko.

Heeem ...

Dak usah ditawak'i lagi. Langsung bedelep. Makan ada'an, karno kecik, sekali tigo. Sempat keselek, dimi numke cepet, langsung ilang. Pin dah ke pempek tahu.

"Imat-imat Mang," uji Cek Leha ngi ngetke Mang Kerio. Jangan banyak igo, kalu abis cakmano.

"Dak apo-apo Dek Leha, Mang Ke rio. Gek kubikinke lagi."

"Ai ngerepotke laju."

"Dak pulo Dek. Ibuk la biaso kulu kulir. Ngantar sano sini. Kadang sore kadang jugo malam."

"Dewek'an Bu Asih ngantarnyo?"

"Iyola Dek. Tapi pake' motor besak roda tigo. Itu tecuguk di luar."

"Idak takut apo Bu?"

"Takut jugola. Namonyo jugo beti no. Tapi nak diapoke. Kalu daktu ibuk samo anak ibuk dak makan. Laki ibuk kau la tawula dewek Dek Leha."

Mang Kerio tebatuk-batuk. Keba nyak'an gino ngirup cuko. Ampir setengah botol abis lantak dio de wek.

"Maafke mamang yo Bu Asih. Bia sola caro uwong hobi makan pempek. Lupo galo-galo ..."

He he he ...

"Ai biaso bae Mang Kerio. Terus te rang aku senang. Dengan mamang hobi makan pempek kalu bae pem pek yang kujual abis terus ..."

Ha ha ha ha ...

Hening sejenak. Setelah itu ...

"Nah sekarang Bu Asih, ado yang nak mamang tunjukke sekarang. Mamang harap ibu dak tekejut."

"Insya Allah dak apo-apo Mang," kato Bu Asih. Matonyo dak lepas dari amplop cokelat di tangan Mang Kerio.

Rabu, 22 Mei 2019

Mang Kerio (109)

Mang Kerio (109)
Oleh Wak Amin


DI Pinggir jalan ..

"Ai mano dio mamangni. Uwong le nak balik dio lum datang-datang ju go."

Cek Leha kesel karno Mang Kerio lum datang. Padohal rombongan Pak Jamil sudah metu dari warung minuman.

Sambil ketawo ngakak, rambut keri ting bepenesan. Katonyo, kalu cak ini seminggu sekali bae, seger ba dan kitoni.

Nyahutla telingo libar. "Siapo yang nak embandarinyo. Terus terang amun aku dak katik fulus oi iyo."

"Tenang bae Bro," kato perut besak," serahke bae samo Bos kito. Ye dak ye dak ..."

Ngecik'i balak, Pak Jamil langsung ngiyoke.

"Sudah aku nak balik," ujinyo. Dija wab cs nyo .. "Siap Bos."

Pas Pak Jamil ngengkol motor, terus pegi disusul cs nyo, barula Mang Kerio metu.

"Mamang kemano bae sih. Uwong la pegi galo baru metu," kato Cek Le ha. Kesel campur marah. Tapi tet ep bae dio sayang samo Mang Ke rio.

Selain baek, sudah dianggap bapak dewek ...

Sssssst ..

Mang Kerio ngajak Cek Leha ma suk jeru mobil yang diparkir di balik pohon kelapo samo manggo.

"Motor Leha Mang. Gek ilang."

"Idak. Cayola sama mamang," kato Mang Kerio sambil nunjukke foto-foto di hape.

Haaaa ...!

"Jadi ..."

"Mangkonyo melok mamang seka rang ...

Cek Leha masih eran makmano Ma ng Kerio biso masuk ke warung mi numantu sambil moto pulo.

"Itu resio Ha."

"Ngapo cak itu Mang. Apo dak cayo samo Leha?"

"Bukan dak cayo. Takutnyo kalu ku omongke caronyo, gek kau niru pu lo ..."

"Ai mamang, cak itu niyan samo Leha. Dakken adola Leha nirunyo Mang. Karno yang biaso cak itutu kan mamang dewek."

"Yo sudahla. Gek lain waktu mama ng ceritoke. Sekarang kito fokus du lu ke foto-fotoni ..."

Karno aus, Mang Kerio minum du ken. Sebotol banyu putih dingin abus diminumnyo.

Cek Leha mak itu jugo. Tapi bukan banyu putih dingin. Tapi minuman sachet yang dio beli di warung wak tu nunggu Mang Kerio tadi.

"Foto-fotoni Ha, gektu kito tunjukke ke Bu Asih."

"Regonyo berapo sikok Mang?"

Ha ha ha ...

"Leha .. Leha. Terangla gratis."

"Iyola Mang. Lehatu penesan bae. Dak us ah pulo diembek ati."

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (35-tamat)

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (35-tamat)

By aminuddin





176. Ayat 282 :

"... Wala ya-ba kaatibun ayyaktuba kamaa 'allamahullaahu falyaktub. Walyumlilillazii'alaihil haqqu wal yattaqillaaha rabbahuu wala yabkhas minhu syai-an ...
Zaalikum aqsathu 'indallaahi wa aqwamu lisysyahaadah ...
Wattaqullaah. Wayu'allimukumullaah. Wallaahu bikulli syai-in 'aliim."

( ... Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya .....
Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu ..
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

177. Ayat 283:

"Wainkuntum 'alaa safarin walam tajiduu kaatiban farihaanum maqbuudhah. Fain amina ba'dhukum ba'dhan falyu-addillazii-tumina amaanatahuu walyattaqillaaha rabbah. Wala taktumuusy syahaadah. Wamayyaktumhaa fainnahu itsmun qalbuh. Wallaahu bimaa ta'maluuna 'aliim."

(Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah secara tidak tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipe gang (85) (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu me mpercayai sebagian yang lain, ma ka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutang nya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan jangan lah kamu (para saksi ) menyembu nyikan persaksian. Dan barang sia pa yang menyembunyikannya, ma ka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Ma ha Mengetahui apa yang kamu kerjakan).

178. Ayat 284 :

"Lillaahi maafissamaawaati wamaa fil ardh. Wain tubduu maa fii anfusakum aw tukhfuuhu yuhaasibkum bihillaah. Fataghfiru limayyasyaa-u wa yu'azzibu mayyasyaa-a. Wallaahu 'ala kulli syau-in qadiir."

(Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu me nyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Ma ka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyiksa sia pa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu).


179. Ayat 285 :

"Aamanarrasuulu bimaa unzila ilaihi mirrabbihii wal mu-minuun. Kullun aamana billaahi wamalaa-ikatihi wakutubihii warusulihi. Laa nufarriqu baina ahadim mirrusulih. Waqaaluu sami'naa wa atha'naa ghufraanaka rabbanaa wailaikal mashiir."

(Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula ora ng-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengata kan) : "Kami tidak membeda-beda kan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya," dan mereka mengatakan : "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkau lah tempat kami kembali).

180. Ayat 286 :

"Laa yukalllifullaahu nafsan illa wus'ahaa .."


(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggu pannya ...).




















____
(85). Barang tanggungan (borg) itu diadakan bila satu sama lain tidak percaya mempercayai.

Selasa, 21 Mei 2019

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (34)

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (34)

By aminuddin




166. Ayat 268 :

"Asysyaithaanu ya'idukumul faqra waya-murukum bil fahsyaa-i. Wallaahu ya'idukum maghfiratam minhu wafadhlaa. Wallaahu waasi'un 'aliim."

(Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia (78). Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui).


167. Ayat 269:

"Yu'til hikmata mayyasyaa-u ..."

(Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya ..).

168. Ayat 270 :

"Wamaa anfaqtum min nafaqatin aw nazartum min nazrin fainnallaaha ya'lamuhu ..."

(Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan (79), maka sesungguhnya Allah mengetahuinya ...).

169. Ayat 271 :

"... Wayukaffir 'ankum min sayyi-atikum. Wallaahu bimaa ta'maluuna khabiir."

(... Dan Allah menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesala hanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan).

170. Ayat 272 :

"Laisa 'alaika hudaahum walaakinnallaaha yahdii mayyasyaa-u. Wamaa tunfiquu min khairin falianfusikum. Wamaa tunfiquuna illabtighaa-a wajhillaah..
.."

(Bukanlah kewajibanmu menjadi kan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanja kan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah ...).

171. Ayat 273 :

"Lilfuqara-illaziina uhshiruu fii sabiilillaah ... Wamaa tunfiquu min khairin fainnallaaha bihii 'aliim."

(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah ... Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui).

172. Ayat 275

"Allaziina ya-'kuluunarribaa laa yaquumuuna illa kamaa yaquumul lazii yatakhabbatuhusy syaithaanu minal mass. Zaalika biannahum qaaluu innamal bai'u mitslurribaa. Waahallallaahul bai'a waharra marribaa. Faman jaa-ahuu mau'idzhatum mirrabbihi fantahaa falahuu maa salaf. Wa amruhuu ilallaah. Waman 'aada fa-ulaa-ika ashhaabunnaar. Hum fiihaa khaaliduun."

(Orang-orang yang makan (meng ambil) riba (80) tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila (81). Keada an mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepada nya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (82) (sebelum datang larangan) ; dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya).

173. Ayat 276:

"Yamhaqullaahurribaa wayurbiishshadaqaati wallaahu la yuhibbu kullu kaffaarin atsiim."

(Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah (83). Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa (84).

174. Ayat 278 :

"Yaayyuhallaziina aamanuttaqullaaha wazaruu maa baqiya minarribaa in kuntum mukminiin."

(Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman).


175. Ayat 279 :

"Faillam taf'aluu fa-zanuu biharbim minallaahi warasuulih ..."


(Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ke tahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu ...).


176. Ayat 281 :

"Wattaquu yauman turja'uuna fiihi ilallaah ..."


(Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah ...).










______
(78). Balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan sewaktu di dunia.

(79). Nazar adalah janji untuk melakukan sesuatu kebaktian terhadap Allah SWT untuk mende katkan diri kepada-Nya baik dengan syarat maupun tidak.

(80). Riba itu ada dua macam : nasi-ah dan fadhl. Riba Nasi-ah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Sedangkan Riba Fadhl adalah penukaran lebih dari satu barang sejenis yang disya ratkan oleh orang yang menukarkan seperti mas, perak, gandum, beras dan garam. Riba yang dimaksud dalam ayat ini adalah Riba Nasi-ah yang berlipat ganda yang umum terjadi di masyarakat Arab zaman jahiliyah.

(81). Yakni orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan setan.

(82). Riba yang sudah diambil (dipu ngut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

(83). Yang dimaksud dengan me musnahkan riba ialah memusnah kan harta itu atau meniadakan berkahnya. Sedangkan menyubur kan sedekah ialah memperkem bang harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.

(84).Orang-orang yang menghalal kan riba dan tetap melakukannya.


Mang Kerio (108)

Mang Kerio (108)
Oleh Wak Amin


DIMANO Cek Leha?

Cek Leha masih melok'i Pak Jamil. Lakinyo Bu Asih. Masuk lurung, me tu ke jalan besak. Ampir bae nyam pak waktu motornyo nyenggol se lop tengah jalan.

Sempet ngepot. Pak Ramli sempet nyingok dari balik kaco spion. Tapi dio dak pulo curiga karno memang dak kenal Cek Leha, temasuk apo kendaknyo.

Cek Leha dewek ecak-ecak dak tau. Dio terus bae melok'i Pak Jamil. Ba ru berenti waktu mobil Pak Jamil berenti parak warung.

Dak pulo besak warungnyo. Cu man, entah makmano banyak uwong di jerunyo ..

Nah, waktu Pak Jamil datang, uwo ng yang lagi ngudut samo 'minum itu langsung tegak. Ketawo sambil ngomong, " Bos kito datang."

Betepuk tangan pulo ...

"Leha dak berani Mang marak'inyo," kato Cek Leha.

"Sudah, tunggu bae disano."

"Siap Mang."

"Tetep waspada."

"Siap Mang."

Setelah gabung, lanang besak item pelayan warung marak-'i sambil ba wak pena samo notes.

"Yang biasotula Pak Ranjit." Kato Pak Jamil, melok ketawo samo kon co-konconyo yang ngenawoi betino di tivi nyanyi sambil ngenjit-ngenjit dak tekeruan.

Selang duwo menit, Pak Ranjit em bawak tafsi besak berisi li mo botol minuman lemak samo rokok sepak besak.

Lum sempat ditarok di meja, rokok sepak taditu tinggal sebungkus, di embek rebutan oleh cs nyo Pak Ja mil.

"Minumannyo idak."

"Idak Bos," kato si perut besak, "la kenyang. Sepuluh botol bos la ng endep di perut ini."

Ha ha ha ha ...

"Aku kagekla Bos. Sudah abis pu nyo aku, pasti punyo Bos aku libas," uji rambut keriting.

Ha ha ha ..

"Aku jugo Bos," uji telingo lebar.

Dari lanang betujuh itu, cuman si kok yang tegak marak'i Pak Jamil. Dio embek sebotol, lalu dipasati nyo.

"Ai Bos. Inini minuman anjing," ka tonyo sambil embandingke botol minumannyo yang produk luar ne geri.

He he he he ..

Yang lain pado ketawo. Serempak ngangkat botol sambil embaco tu lisan yang ado di botol minuman itu.






Senin, 20 Mei 2019

Mang Kerio (107)

Mang Kerio (107)
Oleh Wak Amin




DASAR Mang Kerio. Waktu mato si pit cs mandi di danau deket utan ya ng baru separo di buka', Mang Ke rio ngembek'i tumpuk'an celano ba ju pucuk tebing.

"Nak kujingok. Apo rasonyo telan jang abis," uji Mang Kerio jeru ati.

Dio kesel, lamo dipelok'i, kironyo kemano, taunyo cuman mandi.

Bugil pulo ..

Caro wong mandila. Kejer sano ke jer sini. Nyelem sano nyelem sini. Cak budak kecik main urik'an di banyu.

Cuman dak ngelumpat bae ..

La puas mandi, naikla wong limoni ngelewati jembatan kayu. Sampe pucuk tekejut, baju samo celano ilang dak tau kemano.

"Kacauni," uji mato sipit. Bingung. Makmano nak balik kalu baju samo celano dak katik.

"Tepakso nunggu ari gelep," kato brewok.

"Lamola kalu nunggu malem. Tepe guk disini bejam-jam dak pake' apo-apo, apo kato wong.

"Jadi makmano kesimpulannyo?" Tanyo palak petak.

Sssst ...

Ruponyo ado mobil berenti. Dak la motu metula betino cantik-cantik.
Ketawo-ketawo, saling cubit.

Mang Kerio cuman merhatike dari jauh. Dio dak galak endeket. Takut ketauan mato sipit cs.

Terus makmano?

Yo enjingok betino-betinoni beselfi ria. Gantian moto pake' hape andro id ...

Semulo bejalan lancar ...

Giliran betino terakhir moto, tibo-ti bo enjerit. Belari ke mobil sambil nutupi rainyo.

"Ado apo Shinta?"

"Jingokla dewek .."

Serempak tekejut. Karno tefoto lana ng telanjang ...

"Na .. Itu uwongnyo!" Dak sengajo tejingok mato sipit yang nak besi yap nyebur ...

Awwww ...

Serempak enjerit waktu mato sipit cs bebaris metu dari balik pohon utan pinggir telago.

Becepet masuk mobil.

Ha ha ha ...

"Takut betino-betinotu nyingok kito," uji mato sipit.

"Bukan takut tapi ngeri. Madak'i ado tuyul besak deket utan," kato palak petak.



Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (33)

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (33)

By aminuddin







161. Ayat 263 :

"Qaulum ma'ruufuw wamaghfiratun khairum min shadaqatiy yatba'uhaa azaa. Wallaahu ghaniyyun haliim.'


(Perkataan yang baik dan pembe rian maaf (75) lebih baik dari sede kah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun).


162. Ayat 264 :

"Ya aayuhalllaziina aamanuu la tubthiluu shadaqaatikum bil manni wal azaa. Kallaziina yunfiqu maalahuu ri-a-annaasi wala yu'minu billaahi wal yaumil aakhiru famatsaluhuu kamatsali shafwaanin 'alaihi turaabun fa ashaabahu waabilun fatarakahuu shaldaa. La yaqdiruuna 'ala syai-im mimmaa kasabuu. Wallaahu laa yahdil qaumal kaafiriin."


(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti ora ng yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpama an orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (76).


163. Ayat 265 :

"Wamatsalullaziina yunfiquuna amwaalahumub tighaa-a mardhaatillaahi watatsbiitam min anfusihim kamatsali jannatin birabwatin ashaabahaa waabilun fa aatat ukulahaa dhi'fain. Faillam yushibha waabilun fathal. Wallaahu bimaa ta'maluuna bashiir."


(Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat).



164. Ayat 266 :

" ........ Kazaalika yubayyinullaahu lakumul aayaati la'allakum tatafakkaruun."

(..... Demikianlah Allah menerang kan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya (77).


165. Ayat 267 :


"Ya ayyuhallaziina aamanuu anfiquu minaththayyibaati maa kasabtum wamimmas akhrajnaa lakum minal ardh ...............
Wa'lamuu annallaaha ghaniyyun hamiid."


(Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) seba gian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu ......
Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji).

















______
(75). Perkataan yang baik maksud nya menolak dengan cara yang ba ik, dan maksud pemberian maaf ialah memaafkan tingkah laku yang kurang sopan dari si peminta.

(76). Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akherat.

(77). Inilah perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya kare na riya, membangga-banggakan pemberiannya pada orang lain dan menyakiti hati orang.

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (32)

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (32)

By aminuddin


157. Ayat 259:

" ... Qaala annaa yuhyii haazihillaahu ba'da mautihaa. Faamaatahullaahu mi-ata 'aamin tsumma ba'atsahu qaala kam labi-tsta. Qaala labitstu yauman aw ba'dha yaumin. Qaala bal labitsta mi'ata 'aamin fandzhur ilaa tha'aamika wasyaraabika lam yatasannah. Wandzhur ila himaarika. Walinaj'alaka aayatallinnaasu wandzhur ilaal 'idzhaami kaifa nunsyizuha tsumma naksuuha lahman. Falamma tabayyana lahu qaala a'lamu annallaaha 'ala kulli syai-in qadiir."

(.. Dia berkata :"Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh?" Maka Allah mema tikan orang itu seratus tahun, kemu dian menghidupkannya kembali. Allah bertanya : "Berapakah lamanya kamu tinggal disini?" Ua menjawab : "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman : "Sebenarnya kamu telah tinggal disini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami menu tupnya dennan daging". Maka tatkala telah nyata kepadanya  (bagaimaba Allah menghidupkan yang telah mati)  diapun berkata: " Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu).

158. Ayat 260 :

" ...Qaala awalam tu-min. Qaala balaa walaakin liyatma-inna qalbii. Qaala fakhuz arba'atam minaththairi fashurhunna ilaika tsummaj 'al 'ala kulli jabalim minhunna juz-an tsummad 'uhunna ya-tiinaka sa'yan. Wa'lam annallaaha 'aziizun hakiim."

(... Allah berfirman : " Apakah kamu belum percaya?" Ibrahim menja wab: "Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya." Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah burung-burung itu kepadamu, kemudian letakkanlah tiap-tiap seekor dari padanya atas tiap-tiap bukit (73). Sesudah itu panggillah dia, niscaya dia akan datang kepada kamu dengan segera." Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

159. Ayat 261 :

"Matsalullaziina yunfiquuna amwaalahum fii sabiilillahi kamatsali habbatin anbatat sab'a sanaabila fii kulli sunbulatim mi-atu habbah. Wallaahu yudhaa'ifu limay yasyaa-u wallaahu waasi'un 'aliim."

(Perumpamaan (nafkah yang dike luarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (74) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir : seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetetahui).

160. Ayat 262 :

"Allaziina yunfiquuna amwaalahum fii sabiilillahi tsumma la yutbi'uuna maa anfaquu mannawwalaa azaal lahum ajruhum 'inda rabbihim wa laa khaufun 'alaihim walaahum yahzanuun."

(Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka).














_____
(73). Menurut Abu Muslim Al Ashfahani pengertian ayat di atas ialah bahwa Allah memberi penjelasan kepada Nabi Ibrahim as tentang cara Dia menghidupkan orang-orang yang mati. Disuruh Nabi Ibrahim as mengambil empat ekor burung lalu memeliharanya dan menjinakkannya hingga burung itu dapat datang seketika, bilamana dipanggil. Kemudian, burung-burung yang sudah pandai itu, diletakkan di atas tiap-tiap bukit seekor, lalu burung-burung itu dipanggil dengan satu tepukan/ seruan, niscaya burung-burung itu akan datang dengan segera, walaupun tempatnya terpisah-pisah dan berjauhan. Maka demikian pula Allah menghidupkan orang-orang  yang mati yang tersebar di mana-mana, dengan satu kalimat cipta "hiduplah kamu semua" pastilah mereka itu hidup kembali.
Jadi menurut Abu Muslim sighat amar (bentuk kata perintah) dalam ayat ini, pengertiannya khabar (bentuk berita) sebagai cara penjelasan. Pendapat beliau ini dianut pula oleh Ar Razy dan Rasyid Ridha.
Sebagian ahli tafsir mengganti kata "jinakkanlah" dalam ayat dengan kata "potong-potonglah" dan kata "tiap-tiap seekor"mereka ganti dengan " tiap bagian" (dari burung yang telah dipotong itu). Karena dalam ayat ini terdapat kata "Shur" yang dalam bahasa arab dapat berarti jinakkanlah! atau potong-potonglah!

(74). Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pemba ngunan perguruan, rumah sakit, usaha penyeledikan ilmiah dab lain-lain.

Minggu, 19 Mei 2019

Mang Kerio (106)

Mang Kerio (106)
Oleh Wak Amin




DI warung makan ...

Selesai embandari makan siang, ka wan-kawan Pak Jamil lum jugo ba ngun dari tempat duduk masing-masing. Pak Jamil eran. Mangko nyo dio betanyo:

"Nunggu apolagi?"

"Biasola Bos. Piti," uji lanang bere wok sambil ngirup banyu kopi item manis

"Iyo Bos," kato mato sipit, "perut me mang la kenyang. Tapi kalu dompet kosong apo retinyo. Ye dak kawan-kawan?"

"Yeee .. Betuuul!" Jawab yang lain serempak.

Pak Jamil jago gengsila. Dakken ado dipanggil Bos tapi saro. Yang namonyo Bos tu kan beduit.

Dio metuke klepiserempak etuke duit abang samo biru. Dio bagike sikok-sikok. Yang nerimo serempak nyi um dulu duit enjuk'an bos.

"Mugo bae rejeki Bos betambah," kato brewok sambil ketawo en ngi pas-ngipaske duwo lembar duit limo puluh ribu kertas.

"Kalu cak ini terus Bos ditanggung lancar apo yang digaweke," kato ma to sipit sambil ngepulke asap ro kok.

Ha ha ha ha ...

"Kalu aku Bos. Bukan bae senang," kato dahi libar, " dengan duit serat us ribu di tangan ini aku pacak beli galo-galo. Yo rokok, yo makanan, yo minuman."

Ha ha ha ha ...

Sebelum ninggalke warung makan, konconyo Pak Jamil serempak ng anter Sang Bos ke parkiran motor sebelah kanan warung.

Dak jauh dari situ, di deretan gero bak jualan, Cek Leha yang lagi ma kan bakso sedap, diem-diem ngela porke gerak-gerik Pak Jamil dan cs nya samo Mang Kerio.

Mang Kerio manggut-manggut bae. Dio mintak samo Cek Leha tetep ngawasi gerak-gerik Pak Jamil.

"Yang konconyo biar Mang Kerio yang nangani," uji Mang Kerio.

"Tapi Mang lenak berangkat uwong-uwong dak jelasni. Apo tekejer Ma mang?"

"Tekejerla. Mamang kan dak jauh idak."

"Memangnyo Mang Kerio dimano?"

"Di buri di kau Cek Leha."

Cek Leha noleh ...

"Ai Mamang, ngapo dak ngenjuk tau dari tadi ..."

Ngeraso keno olah, kepengen Cek Leha nak nepuk punggung Mang Kerio yang lembut separo itu pake' kipas plastik punyonyo tukang ge robak sate.






Pramasastra Bahasa Arab (11)

Pramasastra Bahasa Arab (11)
Oleh Wak Amin




I. Kata Benda, Kata Benda Tempat dan Waktu, Penekanan dan Penge cilan


I. Bahan Pelajaran :

a. DR Thaha Husein seorang 'allamah (ulama besar) Mesir dan penulis terkenal (masyhur) (Adduktuur Thaha Husainun 'allamatu mishriyyu wakaatibun masyhuuru).

b. (Dia) menjabat posisi (jabatan) Menteri Pendidikan pada Pemerin tahan Nahas Pasya (Waqad syaghala manshibu waziirit tarbiyati fii hukuumatin nahaasi baasyaa).

c. Dan dia (berasal) dari keluarga miskin, bapaknya adalah seorang petani (yang) tinggal (di) desa (Wahuwa min baitin faqiirin faqad kaana waaliduhu fallaahan sakanar riifa).

d. Dia  belajar di sekolah desa, Uni versitas Azhar dan Universitas Me sir (Waqad darasa fii madrasatil qaryati wafil jaami-'il azhsri wal jaami'atil mishriyyah).

e. Kemudian dia pergi ke Paris, dimana dia tinggal (menetap) selama masa yang panjang untuk belajar Sastra Barat (Tsumma safara ila baariisa haitsu aqaama muddatan thawiilatan lidiraasatil -adabil gharbiyyi).

f. Ketika ia kembali ke Mesir, ia menjadi dosen (guru) Sejarah Klassik dan dosen Sastra Arab (Wa 'inda rujuu'ihi ilaa mishra ashbaha ustaazat taariikhil kalaasiikiyyi fa-ustaazal -adabil 'arabiyyi).

g. Karena itu dia (adalah) cermin yang jelas dari apa yang baik di Timur dan Barat (Lazaalika fahuwa miratun shahiihatun limaa huwa hasanun fisy syarqi wal gharbi).

h. Dia menggabungkan antara jiwa budaya (kemajuan) Barat dan jiwa budaya Timur (Faqad jama'a baina ruuhil madiiniyyatil 'arabiyyati wa pruuhi madiiniyyatisy syarqiyyah).

i. Dia menimbang dengan timbangan akal setiap persoalan (urusan) yang dibahasnya (Wawazana bimiizaanil 'aqli kulla amrin bahatsa fiih).

j. Tanpa keraguan, dia (adalah) pribadi terbesar dalam gerakan kebudayaan Arab modern (Wahuwa biduuni syakki a'dzhamu syakh shiyyatin fil harakatil adabiyyatil 'arabiyyatil hadiitsah).

II. Pembahasan Tata Bahasa :

1. Adduktuuru kata pinjaman (baha sa asing). Kata benda Thaha bera sal dari Al-Quran, kata yang tetap (tidak mengalami perubahan harkat).

Husnun kata (nama) pengecilan da ri Hasanun bentuk Fu'ailun (harfiah = Hasan kecil). Bentuk ini digunak an untuk pengecilan arti kata ben da tiga huruf. Pengecilan arti yang dimaksud dalam : keadaan, ukuran dan sebagainya.
Kata benda 'Allamatun dalam arti penekanan, atau kebalikan kata  pengecilan di atas, dari kata kerja 'Alima dalam bentuk Fa'aalun. Ben tuk ini dengan pengertian sesuatu yang lebih intensif, lebih bersanga tan, dan mendalam keadaannya.

Kemudian bentuk Fa'aalun itu dite kankan (diperbesar lagi) dengan memberi akhiran fathah dan dhommah seperti dalam 'Allamatun = sangat alim, ulama besar, sangat ahli.

Bentuk Fa'alatun feminin, tetapi dapat digunakan rangkap, masculin atau feminin. Bila sebagai kata ben da (bukan manusia) selamanya sebagai feminin, misalnya Thayyaaratun.

2. Kata benda Manshiba dari kata kerja Nashaba = menjabat, berja batan bentuk Maf'alun. Bentuk ini seperti Maf'alun dan Maf"alatun, menunjukkan tempat atau waktu terjadi aksi. Di sini Manshiba = tem pat (posisi) seorang menjabat.

An Nahaasi kata benda (nama) dalam bentuk Fa'aalun ...

3. Fallaahan = petani (orang tani) juga dalam bentuk Fa'aalun.

4. Madrasati  kata benda tempat dari kata kerja Darasa = belajar.

6. Ustaaza berasal dari kata Parsi.

7. Kata benda Mir atun (<Mir-ta Mir-yata) dari kata kerja Ra'aa = melihat dalam bentuk Mif'alatun. Bentuk ini sama dengan bentuk Maf'aalun dan Mif'aalun bermakna alat. Disini Mir-atun berarti alat untuk melihat yaitu kaca muka.

8. Al Madiinati kata benda nisbah feminin dari Madiinatun nisbah se sudah dihilangkan "Ya" nya. Jadi kata Madiinatun = kota (modern) dan Madaniyyatun = budaya, kebudayaan (civilization).

9. Miizaan < Miwzaanun kata ben da alat dari kata kerja Wazana =  menimbang bentuk Mif'aalun.

10. Syakhsyiyyatin kata benda nisbah feminin dari Syakhshun = seseorang dalam pengertian abstract = pribadi.

Catatan :
Kata benda tempat dan waktu yang berasal dari kata kerja ditandai de ngan bentuk participle pasif dan mashdar "mim" dari kata kerja itu.

III. Latihan :

Kairo, 2 Maret (oleh Koresponden Al Ahram (khusus) (Al Qaahiratu fii 2 Maarisa -- limuraasili "Al Ahram" Al Khaashshi) :

1. Yang Mulia Riyadh Bey Assulhi, Perdana Menteri Libanon, tiba di pelabuhan udara Kairo pagi (hari) inu untuk menghadiri (sidang) Maje lis Liga Arab (Washala Shabaahal yaumi ila mathaaril qaahirati daula tu riyaadhi bikish shulhi ra-iisil wi zaarati allubnaa niyyati lihudhuuril majlisil jaami'atil 'arabiyyati.

2. Sebentar sebelum tibanya, turun (mendarat) pula di pelabuhan udara itu kapal terbang Yang Mulia Amir (Pangeran) Faisal yang datang dari Jeddah (Waqubaula wushuulihi nazalat fil mathaari thayyaaratu sumuwwil amiiri Faishal qaadimatan min juddati).

3. Dan (kapal terbang) itu terlambat dari ketentuan sampainya selama satu jam (Waqad ta-akhlharat 'an mau'idin wushuulihaa muddata saa'ah).

4. Yang Mulia Riyadh Bey berkata bahwa pendirian Libanon mengenai amandemen "Perjanjian Liga Arab" senantiasa demikian halnya (tetap demikian) (Waqad qaala daulatu riyaadhin bik inna mauqifa lubnaana min ta'diili miitsaaqil jaami'atil 'arabiyyati maa zaala 'ala maa kaana 'alaih).

5. Ia menambahkan (berkata) bahwa sekarang pada Liga Arab tanggung jawab yang besar untuk menjaga persatuan bangsa Arab (Wazaada qaa-ilan inna 'ala maa kaanal jaami'atil 'arabiyyati ala aana mas-uuliyyata kubraa fii hifdzhi wahdatil ummatil 'arabiyyati).


IV. Ulangan :

a. Terjemahkan ke bahasa Indonesia :

1. Shuuratu ra-iisi hizbil mu'aaradhati 'alash shafhatil uulaa minal jariidah.

2. 'Aqada majlisul kulliyyati jalsatan shabaahal yaumi takallama fiihaa 'allamatun qadima min amriika 'an mas-uuliyyatil hukuumati nahwal faqiiri wal fallaah.

3. Thalabal wizaaratu minal majlisi ilghaa-a manshibi ustaazil lughatil almaaniyyati fil jaami'atil wathaniyyah.

4. 'Ayyanatil hukuumatu syakhshiyyatan rasmiyyata kamanduubin 'anha fil mu-tamaril adabiyyil lazij tama'a fil qaahirah.

5. Innii 'ala mau'idin ma'a muwadzhdzafin fii wizaaratit tarbiyati libahtsi haajatil madiinati limadrasatin jadiidatin wa baitin lira-iisihaa.

6. Inna shadiiqii husainan syakhshiyyatun kabiiratun. Faqad kaana muhaamiyan kabiiran tsumma ashbaha qaadhiyan fii dimasyqa. Wahuwal aana fii wadzhiifati mu'aawinin liwaziiril 'adl. Wahua fauqa kulli haazaa kaatibun masyhuur.

b. Terjemahkan ke bahasa Arab :

1. Perjanjian Liga Arab (adalah) cermin kesatuan bangsa Arab.

2. Tiap-tiap pribadi bertanggung jawab atas perdamaian dunia.

3. Kapal terbang yang mendarat di pelabuhan udara Halim hari ini (ada lah) kapal terbang yang besar.

4. Cutter, Presiden Amerika (adalah) seorang pemimpin yang dicintai

5. Sebentar sebelum shalat subuh, petani itu bangun dan pergi ke mas jid desa itu.



Sabtu, 18 Mei 2019

Mang Kerio (105)

Mang Kerio (105)
Oleh Wak Amin




"ASSALAMUALAIKUM. Ini Mang Ke rio. Dengan siapa saya bicara?"

"Waalaikum salam. Saya, Bu Asih, Mang Kerio," jawab si penelepon de ngan suara serak-serak basah.

"Selamat pagi Bu Asih. Apa yang kira-kira bisa Mamang bantu?"

Bu Asih tak menjawab ...

"Bu Asih. Halo!"

"Ya Mang. Maaf saya tadi batuk tiba-tiba."

"Ooo begitu. Mamang kira ada apa."

"Begini Mang. Sudah beberapa bu lan terakhir ini saya tidak lagi me nerima nafkah materi. Saya tidak menerima lagi uang gaji dari suami saya."

"Ibu pernah tanya kepada suami ibu kenapa dia tega berbuat begitu sama ibu?"

"Sudah Mang," jawab Bu Asih teri sak.

"Apa kata suami ibu?"

"Saya boros Mang. Padahal uang gaji itu sudah saya hemat-hemat kan.Saya jelaskan serinci-rincinya. Tapi suami saya tetap menganggap saya boros. Tak bisa mengatur ua ng ..."

"Ibu bekerja?"

"Tidak tadinya. Tapi sejak saya tak terima uang per bulan dari suami saya, saya terpaksa berjualan pem pek .."

"Eem maaf Bu Asih ya. Apa dengsn ibu berjualan pempek kebutuhan ibu dan anak-anak ibu tercukupi?"

"Kadang cukup kadang tidak Mang," jelas Bu Asih.

"Kalau tidak cukup gimana Bu?"

"Saya ngutang ke tetangga."

"Uang panas Bu?"

"Alhamdulillah tidak Mang. Tapi yang namanya utang, walau de ngan tetangga, tetap harus dibayar. Begitu kan Mang?"

"Oh iya Bu. Harus begitu."

"Saya minta bantuan Mang Kerio untuk mengatasi masalah yang sa ya hadapi sekarang ini. Terserah bagaimana caranya."

"Baik Bu. Mamang akan bantu. Tapi sebelumnya mamang tanya dulu. Boleh kan Bu?"

"Boleh Mang."

"Yang ibu Asih inginkan adalah gaji suami ibu kembali ke ibu. Betul?"

"Betul Mang."

"Eeem satu lagi Bu Asih. Apa ibu mengalami KDRT juga?"

Bu Asih belum menjawab ..

"Bu Asih. Halo!"

"Ya mengalami juga, tapi hanya sesekali ..."











Jumat, 17 Mei 2019

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (31)

Lafadz Allah dalam Surah Al-Baqarah (31)

By aminuddin




154. Ayat 256 :

" ... Famayyakfur biththaaghuuti wayu'min billaahi faqadistamsaka bil 'urwatil wusyqa lan fishaama laha. Wallaahu samii'un 'aliim."

(.. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (71) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuar yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Me ngetahui).


155. Ayat 257 :

"Allaahu waliyyullaziina aamanuu yukhrijuhumminadzhdzhulumaati ilan nuur .."

(Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) ...).


156. Ayat  258 :

"Alam tara ilal lazii haajja ibraahim fi rabbihii an aataahullaahul mulk .... Fainnallaaa ya-ti bisysyamsi minal masyriqi fa-'ti  bi haa minal maghribi fabuhital lazii kafar. Wallaahu laa yahdil qaumadzhdzhaalimiin."

(Apakah kamu tidak memperhati  kan orang (72) yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan ...
"Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari  dari timur, maka terbitlah dia dari barat," lalu heran terdiam lah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim).

















____
(71). Thaghut ialah setan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT.

(72). Yaitu Namrudz raja Babilonia.

Mang Kerio (104)

Mang Kerio (104)
Oleh Wak Amin



16. Episode : 'Dak Ngenjuk Duit Gaji'

MANG Kerio narik nafas panjang. Dio bangun dari tempat duduknyo. Marak'i jendelo. Dio geser hordeng dikit. Agak terang. Ado sinar ma tohari yang masuk.

Dio baru balik ke tempat duduknyo waktu Cek Leha noktok dan masuk ke ruang kerjonyo ..

Seperti biaso, Cek Leha ngenjukke beberapo map kertas, diterimo Ma ng Kerio ...

Dio buka' sikok-sikok map iju yang isinyo beberapo lembar kertas putih bematerai yang nak  ditando tanga ni.

Dibaco denget. Dahtu .. sreet .. sree et. Dengan santainyo surat-surat penting itu ditanda tangani  Mang Kerio.

"Masih ado lagi Ha?"

"Masih Mang. Tapi tanda tangan nyo besok bae," uji Cek Leha, nge mbek lagi map anyar itu, besiyap nak dibawak ke ruang penyimpa nan arsip dan dokumen.

"Leha nak baco lagi poin to poin," kato Cek Leha. Endenger jawaban barusan, Mang Kerio seneng.

"Mamang salut samo kau Ha," puji Mang Kerio.

Ngeraso dipuji, Cek Leha senyum- senyum bae.

Kriiiiing ...

Telepon bedering. Kenceng niyan suwaronyo.

"Awak bae Ha ngangkatnyo."

"Baik Mang. Bismillah  ...."

Ternyato dari betino. Nangis-nangis nak ketemu Mang Kerio. Cek Leha cubo nekelnyo, karena samo-samo betino, si betino tetep dak galak.

"Mang .." Cek Leha ngenjuk isyarat si penelepon nak ngomong samo Mang Kerio.

Mang Kerio nak ketawo tapi dak ja di. "Ado-ado bae pagi ini," katonyo di jeru ati