Selasa, 29 Agustus 2017

El-Maut (15)




Novel …

El- Maut (15)
Oleh Wak Amin


29
DUEL tangan kosong antara Mr Clean dan Iskandar belum juga berakhir. Padahal keduanya sama-sama luka lebam di muka, tangan dan kaki. Mereka masih berduel, mungkin karena adu gengsi, tak seorang pun mau menjauh dengan cara melarikan diri, misalnya.
Hiyaaaat …
Iskandar melepaskan tendangan memutar beberapa kali namun ber hasil dielakkan Mr Clean dengan cara menunduk, sambil koprol ke kanan. Dia hanya menunggu diserang, lawan terpancing rupanya.
“Mampus kau polisi busuk,” teriak Iskandar. Mendekati Mr Clean de ngan jurus pukul tendang dan koprol. Pukulan diarahkan ke perut, tendangan memutar ke arah kaki.
Untuk mengunci  lawan agar tidak bisa membalas serangan, Iskandar berguling-gulingan ke lantai dengan cara berputar, mengelilingi Mr Clean.
Mr Clean melompat ke belakang. Dia kini berada di dekat tabung gas pemadam kebakaran. Dia mengambil ancang-ancang dengan menarik kedua tangannya sejajar dengan dada. Bersiap melepaskan tenaga dalam.
Iskandar tak gentar. Tak henti-hentinya ia memperagakan berbagai ju rus mulai dari jurus monyet menari, ayam mematuk hingga pangeran bercinta. Tujuuannya membuat takut lawan.
Mr Clean pejamkan mata. Mulutnya terkatup rapat. Begitu lawan me nyerang, dia dorong kedua tangannya ke depan. Karena kuatnya doro ngan tenaga dalam itu, Iskandar terpental. Kepala membentur dinding.
Eeeeegh …
“Aduh …” Ringisnya.
Lawan belum jera. Meski penglihatannya sudah berkunang-kunang, te tap melakukan perlawanan. Hanya saja perlawanannya kali ini dinilai cu rang, karena tidak menggunakan tangan kosong. Justru pakai senjata.
“Rasakan ini!” Ucap Iskandar tertawa lebar.
Dooor …
Dooor …
Dooor …
Tewas seketika.
Sayangnya, yang tewas bukan Mr Clean, tapi Iskandar. Tiga peluru menembus kepalanya, mengelarkan darah, tewas tergeletak.
“Thanks Miss.”
“Udah. Yuk cari bomnya,” ajak Miss Nancy.
Tak sampai lima menit, bom itu berhasil dijinakkan dengan tingkat kehati-hatian dan kewaspadaan yang sangat tinggi.
Sampai berkeringat Mr Clean mencabut kabel yang tersambung. Mele set sedikit, salah cabut misalnya, bakal terjadi ledakan. Begitu juga de ngan Miss Nancy. Bagaimana susah payahnya ia menahan kotak hitam kecil tempat menaruh bom itu.
Sementara Mr Jodi hanya bisa berdoa. Tak henti-hentinya mulutnya komat-kamit mengucapkan sesuatu yang intinya agar pelepasan bom berjalan lancar dan sukses.
Treeeesh …
Ketik …
Cabutan kabel terakhir oleh Mr Clean melegakan hati Mr Jodi. Tak kua sa ia membendung air matanya. Dia tak bisa bayangkan bagaimana keadaan dirinya jika bom akhirnya meledak. Tentu dia bersama yang lain tidak ada lagi di dunia ini. Hanya tinggal nama.
“Mr Jodi?”
“Turuti ajalah Mr Clean. Nanti … He he he he ..” Mr Jodi menirukan perempuan menangis karena ditinggal suami pergi jauh.
“Awas ya Mr Jodi …”
“Jangan Miss .. “Mr Clean mencegah Miss Nancy untuk mengejar Mr Jodi yang sembunyi di balik mobil kepunyaan Sobar, Bos El-Maut.
“Clean. Lepaskah ah!” Ucap Miss Nancy, kesal karena merasa dihalang-halangi.

30
ATAS permintaan Inspektur Polisi Smith, Mr Clean dan Miss Nancy, ke duanya ditunjuk untuk menjemput kedatangan Mrs Sabrina di bandara, tengah hari. Isteri Muhsin ini datang sendirian untuk menemani Mr Clean bertugas di kepolisian negara lain.
Tiba di bandara lebih cepat, Mr Clean mentraktir Miss Nancy makan siang di resto bandara. Tak diduga sebelumnya, pengunjung resto ra mai. Hampir seluruh meja terisi. Hanya menyisakan dua meja, salah satunya meja yang ditempati Mr Clean dan Miss Nancy.
“Terserah Miss aja, maunya apa.” Mr Clean mempersilakan Miss Nancy memilih sendiri menu makan siang yang ditawarkan.
Daftar menu berupa booklet cantik itu dibaca berulangkali oleh Miss Nancy. Berkali-kali ia membolak-balik lembaran kertas berwarna-warna itu. Sampai akhirnya ia melonjak kegirangan.
“Mister. Aku dada sama paha bakar,” bisiknya dengan nada manja.
“Nanti hitam lho Miss,” ledek Mr Clean, gentian membolak-balik lembaran kertas tebal bergambar itu.
“Biarin. Item juga kan enggak apa-apa. Asalkan …”
“Enggak item betulan gitu ?”
“Bukan. Asalkan orang yang aku suka melihatnya senang,” kata Miss Nancy, memainkan bola matanya. Menari-nari di sela sepatu hitam yang ia kenakan.
Mr Clean diam sejenak, lalu …
“Mr Jodi kah?”
Miss Nancy menggelengkan kepala. Ia cemberut begitu Mr Clean menyebut nama Mr Jodi.
Kenapa ya?
“Enggak apa-apa Mister. Kesel aja,” jawab Miss Nancy, memainkan jari jemarinya di dekat serbet yang tersusun rapi bersama tisu, sendok dan garpu di tengah meja.
“Jangan terlalu Miss kesalnya.” Mr Clean mengingatkan.
“Kenapa? Enggak boleh apa?”
“Bukan enggak boleh. Nanti jatuh hati.”
“Sori ya law. Lagian dia kan sudah punya kekasih Mr Clean.”
“Oh ya? Kenapa dia enggak bilang-bilang sama saya ya Miss?”
Sesaat pembicaraan terhenti. Wanita cantik berkulit putih, pelaya resto menyapa ramah.
“Ini pesanan kami berdua Dik.” Selain dada dan paha bakar, Miss Nancy juga memesan es jeruk lemon.
Sementara Mr Clean cuma dua. Nasi ayam panggang dan air putih.
“Tidak campur batu es Tuan?” Tanya si pelayan ramah.
“Enggak usah Dik. Cukup air putih saja,” kata Mr Clean, juga dengan ramah.
“Terima kasih Tuan dan Nyonya. Mohon ditunggu ya!” Si pelaya berlalu pergi.
“Dik .. Dik. Saya belum …”
“Miss Nancy.” Mr Clean mencegahnya. Dia pegang tangan perempuan di sampingnya itu, lalu berkata kepada si pelayan resto …
“Maksudnya .. Belum makan siang. Jadi jangan lama-lama ya Dik nyiapinnya.”
Si pelayan tersenyum manis.
“Baik Tuan. Saya permisi dulu.”
Miss Nancy mengaku dia agak risih dipanggil Nyonya.
“Saya kan belum …”
“Nanti sama aku, mau kan?”
Serasa mau copot jantung ini mendengarnya. Begitu santainya Mr Clean menyebut … “Nanti sama aku.” Sedangkan Miss Nancy justru beda.
“Main-main atau serius enggak ya Mr Clean?” Dalam hatinya ia ber tanya. Menerka-nerka, mana yang benar. Main-main atau serius kah?
“Miss Nancy!”
“Oh ya Mr Clean. Aku ke toilet dulu ya. Enggak lama, cuma sebentar aja.”
Miss Nancy berpura-pura pergi ke toilet. Sesampainya di kamar kecil, dia tidak melakukan apa-apa. Bab tidak, bak juga tidak.
Lalu …?
Berdiri saja. Agar tak dicurigai beberapa perempuan yang antri berdiri di depan toilet, dia mengusap muka dan kedua tangannya, sebelum keluar dari toilet untuk menemui kembali Mr Clean.
Dia terkejut.
Kenapa?
Mr Clean sudah tidak ada lagi di tempatnya. Hanya meningggalkan pe san singkat di secarik kertas yang bertuliskan …

           “Sebentar ya Miss. Aku temui Mrs Sabrina dulu …”

Tobe Continued   

Minggu, 27 Agustus 2017

El-Maut (14)



Novel ...

El-Maut (14)
Oleh Wak Amin



27
"MISS Nancy ...!"

"Saya Inspektur."

"Segera ke rumah sakit kota. Ada info dua anggota jaringan El-Maut menyelinap masuk."

"Baik Inspektur. Laksanakan ..."

Aktivitas rumah sakit kota berjalan seperti biasa. Tak ada tanda-tanda diselinapi anggota jaringan El-Maut. Petugas keamanan sibuk menga wasi dan mengatur arus keluar ma suk kendaraan roda dua dan empat.

Mereka baru meningkatkan insen sitas pengamanan setelah menda pat telepon dari Mr Clean.

"Sebentar lagi kami tiba di rumah sakit," kata Miss Nancy, meminta kerjasama yang baik dengan pihak rumah sakit untuk keleluasaan me reka mengambil tindakan yang di perlukan nantinya.

Pihak rumah sakit tidak keberatan. Hanya masalahnya sekarang bagai mana caranya agar pasien dan ang gota keluarganya, termasuk karya wan dan petugas medis tidak panik.

"Takutnya nanti jika kita mengambil tindakan secara berlebihan, aktivi tas rumah sakit justru akan tergang gu," kata Bu Candra, kepala rumah sakit dalam pertemuan singkat de ngan kepala keamanan, Pak Jamil dan beberapa anak buahnya.

"Kalau soal itu Bu, serahkan saja kepada kami. Biar kami menga tasinya," jelas Pak Jamil. "Yang penting aktivitas berjalan seperti biasa."

"Baiklah kalau begitu Pak. Selamat bekerja," ucap Bu Candra. Pertemu an tertutup itu menyepakati untuk mendahulukan kepentingan dan ke selamatan pasien dan anggota keluarganya.

Sementara itu ...

Di ruang belakang lantai dasar rumah sakit, Ismail dan Iskandar baru saja selesai menaruh dua buah bom. Bom yang bisa diledak kan jarak jauh itu ditargetkan meledak satu jam kemudian.

Tujuan peledakan untuk memberi tahu pihak pemerintah bahwasanya jaringan El-Maut tetap eksis hingga kini.

Mereka juga ingin mrmberitahu pa da pihak keamanan untuk tidak mengganggu aktivitas bisnis jaringan El-Maut.

Melalui siaran televisi internal El-Maut, Bos Sobar tampil lima belas menit di hadapan para anak buah nya. Dengan bangga dia memperli hatkan beberapa kemajuan yang dicapai jaringan El- Maut.

"Saya minta saudara-saudara jangan takut kepada pemerintah. Jangan takut dengan ancaman dan sweping yang dilakukan petugas keamanan. Harus kita lawan. Mengerti?"

"Mengerti." Jawab serempak ribuan pendukungnya. Entah dari mana dan bagaimana cara orang nomor satu di jaringan El-Maut ini me ngumpulkan anak buahnya sebanyak itu.

Karena selama ini petugas keama nan memperkirakan jumlah anggo ta El-Maut hanya seribuan orang saja karena telah banyak yang keluar dan ditangkap aparat keamanan.

"Hidup El-Maut ..." Teriak Bos Sobar.

"Hidup El- Maut," jawab pendukungnya dengan berapi-api.

"Hidup El-Maut."

"Hidup."

"Hidup El-Maut."

"Hidup."

Sebelum mengakhiri jumpa dengan anak buah sekaligus pendukungnya Bos Sobar meminta agar semua anggota jaringan El-Maut siap membela kebenaran..

"Anda semua termasuk saya adalah pahlawan kebenaran. Siapa yang coba-coba melawan kebenaran, maka tanggung sendirilah akibatnya."

"Hidup El-Maut."

"Hidup El- Maut."

"Kita harus berantas kezaliman. Ki ta harus tegakkan kebenaran. Kita berada di pihak yang tertindas. Kita bela mereka sampai titik darah penghabisan."

"Hidup El-Maut."

"Hidup El-Maut."

"Jangan lupa. Kami dari jaringan El-Maut tidak akan segan-segan mengambil tindakan beresiko. Membom sebuah tempat yang menurut kami itu harus diledakkan karena tidak sesuai dengan pandangan hidup kami."

"Hidup El-Maut."

"Hidup El-Maut."

"Kepada seluruh masyarakat saya menyerukan mari kita bersatu mem basmi kemungkaran. Melawan kezaliman dan menegakkan kebenaran. Jangan takut kepada kami. Kami berpihak kepada masyarakat. Anda semuanya."

"Hidup El-Maut."

"Hidup El-Maut."

"Salam dari kami. Jaringan El-Maut."

Seketika tayangan televisi teralih ke tayangan lain. Diperlihatkan beberapa anggota jaringan El-Maut berhasil menguasai kota dan menja lankan misi kebenaran demi keselamatan semua pihak.

Pemandangan ini sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di rumah sakit kota. Setelah mena ruh bom, Ismail dan Iskandar keluar dari ruangan lantai dasar itu.

Tapi apa yang terjadi kemudian?

Aksi tembak menembak pun tak terhindarkan antara dua anak buah Bos Sobar dengan Mr Clean, Miss Nancy dan Mr Jodi, yang berhasil menyelinap masuk ke lantai bawah tanah ini.



28
MISS Nancy dengan cekatan bersembunyi di balik lemari besi ketika Ismail melepaskan tiga kali temba kan  ke arahnya dan Mr Jodi. Mr Jodi sendiri melompat cepat ke tumpukan kardus yang tersusun rapi dekat toilet.
Dooor …
Dooor …
Ismail panik karena dia belum juga menemukan jalan keluar. Ada satu lubang kecil sebesar kepala manusia, dia mencoba memanfaatkan lubang itu agar bisa keluar dari rumah sakit.
Namun itu tidak mudah baginya. Selain kecil dan tidak bisa cepat untuk keluar dari lubang itu, Miss Nancy dan Mr Jodi tentu  dengan mudah menangkapnya.
Ismail akhirnya memilih bersembunyi di balik dinding yang menghubungkan antara ruang tengah ke rua ng kecil tempat penyimpanan barang. Dia mengontak rekannya Iskandar, tapi tidak diangkat-angkat. Dia kesal.
Ingin rasanya dia memarahi Iskandar. Tapi, dimana dia sekarang, tak pula tahu. Masih hidup kah atau sudah mati kena tembak.
“Saya telepon Bos sajalah,” bisiknya dalam hati. Dia tekan nomor kontak Sang Bos, tapi belum sempat tersambung, sebuah tembakan yang dilepaskan Miss Nancy nyaris mengenai tangannya.
Karena cukup kencang peluru itu meluncur, pistol di tangan Ismail terjatuh dan terlempar beberapa me ter ke depan. Dia bermaksud mengambil pistol itu tapi sia-sia karena dengan hanya satu kali tembakan dari pistol Mr Jodi, pistol kecil berdaya letus kencang itu terlempar semakin jauh, sebelum hancur ber keping-keping setelah membentur keras dinding rumah sakit.
“Menyerahlah Tuan. Saya tahu Tuan tidak berpistol lagi,” ejek Mr Jodi sambil tertawa ngakak.
“Sebaiknya begitu Tuan bodoh,” sahut Miss Nancy memanas-manasi.
Ismail geram bukan main. Ingin rasanya dia berdiri sekarang. Tapi itu sama artinya berani babi, bukan berani mati. Ya tertangkaplah.
“Tuan teroris. Menyerahlah atau kami akan menembak Tuan,” ancam Mr Jodi. Tidak main-main ancamannya kali ini.
“Tembak kalau berani,” tantang Ismail. Dia yakin Miss Nancy dan Mr Jodi tak akan berani menembaknya. Sebab, kalau dia sampai tewas, tak ada informasi yang didapat, digali untuk penyelidikan lebih lanjut.
“Tuan teroris. Anda siap ditembak?” Mr Jodi masih memberi kesempatan pada Ismail untuk menyerah kan diri. Dia sama tak khawatir sumber dan rantai informasi jadi terputus pasca tewasnya pelaku.
“Silakan Tuan polisi,” jawab Ismail dengan suara lantang.
Miss Nancy akhirnya mencoba yang satu ini. Apa? Di dekatnya ada sebuah ban sepeda ukuran kecil. Ban itu ia polesi  minyak dari botol kecil yang ia sembunyikan di saku celananya.
Ban itu kemudian ia gelindingkan dengan lambat tanpa sepengetahuan Ismail. Miss Nancy sengaja me minta Mr Jodi mengalihkan konsentrasi pelaku dengan melakukan negosiasi pelepasan.
Ban sepeda mulai bergulir. Satu detik, dua detik dan sampai lima belas detik berhenti persis dekat kaki kanan Ismail yang duduk bersandar sambil berbicara dengan Mr Jodi.
“Saya jamin Tuan bisa bebas nantinya,” kata Mr Jodi, sengaja membikin Ismail tidak curiga setelah setelah sebuah ban kecil berhenti di dekatnya.
Ha ha ha ha …
Saat itulah …
Guaaar …
Guaaam …
Traaaash …
Terjadi sebuah ledakan. Tidak terlalu keras memang. Tapi berhasil membuat Ismail menjerit, tunggang langgang menyelamatkan diri karena seluruh badannya dipenuhi api, kecuali mukanya.
Miss Nancy mendekat …
Di belakangnya Mr Jodi siap menembak …
Keduanya belum melakukan tindakan apa pun. Selain menyaksikan bagaimana tubuh Ismail terbakar, berguling-gulingan di lantai, menjerit minta tolong dengan sekujur badan mulai dari pada hingga ke kaki berubah hitam legam.
Tak seorang pun yang menolongnya sampai akhirnya badan yang kekar itu tak bergerak lagi.

Tobe Continued

Rabu, 23 Agustus 2017

El-Maut (13)



Novel …

Novel ..

El-Maut (13)

Oleh Wak Amin

 
25

DI dalam mobil boks besar berwarna putih, Idris diinterogasi dan disiksa fisiknya oleh Ismail dan Iskandar.  Dia dipaksa untuk buka mulut tentang apa saja yang telah ia bocorkankepada pihak kepolisian terkait jaringan El-Maut.
Meski berulangkali Idris membantahnya, Ismail dan Iskandar tetap tak percaya. Atas perintah Bos Sobar, Idris diturunkan di jalanan yang sepi setelah lebih dulu ditembak mati.
“Pilih jalan yang betul-betul lengang. Paham?” Perintah Bos Sobar sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja dan marah. Dia minta kepada dua anak buahnya itu bekerja sebaik-baiknya.
“Jangan sampai ketahuan. Bila ketahuan kepala kalian berdua bakal aku tebas.”
“Siap Bos,” jawab Ismail. Merasa yakin perintah Sang Bos akan terlaksana sesuai rencana.
“Mana Iskandar?”
“Ada di samping saya Bos. Bos …”
“Ya. Mana dia?”
Iskandar diperintahkan untuk membantu Ismail. “Kamu harus professional, mengerti?”
“Mengerti  Bos.”
“Laksanakan secepatnya!”
“Siap Bos.”
Pak Fendi, sopir mobil boks, menepikan mobil ke kiri. Lebih aman dari lalu-lalang kendaraan besar dan kecil yang melintas dengan kecepatan hampir maksimal.
“Turun!” Bentak Iskandar. Dia tending bokong Idris berkali-kali sampai jatuh tersungkur,  terlempar dari mobil.
“Aku ini temanmu juga Dar,” kata Idris. Dia meminta dua temannya itu bersikap lebih sopan dan manusiawi. Tidak justru memperlakukannya seperti binatang. Ditendang, didorong dan dipukuli.
“Sudah terlambat Bro,” ujar Iskandar. Belum sempat berdiri, dua butir peluru menghantam kepala Idris. Tewas seketika, meregang nyawa.
Mayatnya dilempar ke semak belukar dalam keadaan bugil. Setelah itu, Ismail dan Iskandar minta Pak Fendi menjalankan mobil.  Melesat cepat sebelum dilihat orang lain.
Kabar tewasnya Idris masih simpang siur. Beberapa anggota polisi yakin Idris hanya melarikann diri setelah melumpuhkan dua penjaga sel tahanannya.
Sebaliknya Mr Clean percaya Idris diculik anggota jaringan El-Maut ke mudian menghabisinya karena dianggap telah membocorkan rahasia kelompok teroris terbesar itu. Dianggap onak dan mengganggu kelan caran operasional El-Maut, Idris lebih baik dihabisi.
Untuk membuktikan hal itu tidaklah mudah. Karena sehari setelah ke jadian itu, mayat Idris belum berhasil diketemukan. Tugas utama Mr Clean adalah harus lebih dulu menemukan jasad korban.
Ditemani Miss Nancy dan Mr Jodi, mereka bekerja siang dan malam. Menjelang subuh, lewat pengerahan anjing pelacak, jasad Idris akhirnya diketemukan dalam keadaan telah membusuk.
“Biadab!” Ucap Miss Nancy. Saking marah dan kecewanya, dia tendang tanah yang menyemak di sekitar tempat Idris diketemukan.
“Miss. Bantu gue dong,” rayu Mr Clean.  Masih menyimpan rasa ama rah, ikut membawa jasad  Idris untuk dimasukkan ke dalam mobil ambulance.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Miss Nancy lebih banyak diam. Karena Mr Jodi masih di TKP bersama petugas lain, Mr  Clean lah yang menghiburnya.
“Miss Nancy. Ayo pilih warna apa?” Mr Clean memperlihatkan dua be kas sobekan kain. Satu berwarna merah, satunya lagi berwarna putih.
Miss Nancy belum meresponsnya.
“Ayolah Miss.  Demi aku. Tolong pilih warna kesukaanmu,” pinta Mr Clean. Dia ingin menenangkan hati mitra kerjanya itu, sehingga lebih fokus dan tidak melulu tegang ketika menjalankan tugas di lapangan.
“Tidak kedua-duanya Mister.” Akhirnya Miss Nancy buka suara. Semula, Mr Clean kecewa,  Miss Nancy tidak memilih  salah satu dari dua warna yang ia perlhatkan tadi.
“Maaf ya Mister,” ucapnya kemudian. Dia tahu Mr Clean kecewa. Kare na itu ia berharap jawabannya barusan tidak mengganggu keharmoni san kerja mereka berdua.
“Taka apa-apa Miss,” kata Mr Clean.” Yang penting ada jawaban darimu. Terima kasih.”
Ambulance pun tiba jua di rumah sakit.


26
KRIIIING …
Kriiiing …
Kriiiing …
Kletek ..
“Halo!”
“Mr Clean … Sabrina nich.”
“Enggak salah dengar nich. Bukannya Sabrina. Tapi Nyonya Muhsin.”
Ha ha ha ha …
“Udah ah. Becanda melulu. Serius nich Clean. Aku mau nyampeke sesuatu padamu.”
“Oh ya? Apa selama ini aku tidak serius Nyonya Muhsin?”
Ha ha ha ha …
“Ayo mulai lagi. Kapan seriusnya Mr Clean?”
“Ya sekaranglah. Tapi sebentar ya Sabrina Muhsin. Aku minum kopi dulu.”
“Emangnya belum sarapan sesiang ini Mr Clean?”
“Belumlah. Kamu kan tahu. Banyak masalah di sini. Semalam saja aku pulang hampir subuh. Eeee taunya, pas bangun kesiangan. Untung ada telepon dari kamu. Kalau enggak …” Mr Clean menyeruput kopi manis yang ia bikin hampir subuh tadi.
“Kalau enggak kenapa Mr Clean?”
“Eggak bangun-bangunlah. Capek kali Sab …” Mr Clean menyeruput kopi lag. Tersisa separo.
Sabrina menahan diri. Dia sengaja belum bicara karena harus merapikan pakaian sang suami sebelum dimasukkan ke dalam lemari setelah digosok barusan.
“Clean. Bagaimana menurutmu kalau aku menyusul kamu?”
Eheeeem …
Mr Clean menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dari balik jendela dia melihat seorang wanita turun dari mobil. Langkahnya mantap. Menye berang jalan sebelum mendekati pintu apartemennya.
Niiing .. Noooong.
“Sebentar ya Sab, ada kolegaku Miss Nancy.” Mr Clean mematikan sebentar telepon selulernya.
Dia bergegas keluar kamar menuju pintu. Dia tak ingin Miss Nancy berlama-lama menunggu di luar.
Celetek …
Pintu terbuka …
“Sendirian Miss. Mr Jodi mana?” Mr Clean sangat tersanjung didatangi Miss Nancy.
“Di mobil Mister. Ayo cepat!”
“Masuklah dulu. Aku ganti pakaian sebentar ya Miss.”
“Oke. Jangan lama-lama ah.”
Telepon berdering lagi ketika Mr Clean sudah berganti pakaian dan siap berangkat bersama Miss Nancy. Telepon baru diangkat setelah Mr Clean hendak menutup pintu, bersiap menuju mobil yang parkir di seberang jalan.
“Bagaimana Mr Clean?”
“Pada prinsipnya aku setuju,” jawab Mr Clean. Karena buru-buru ia lupa menutup ruisliting celananya.
“Aku ditugasin Letnan Salam, Clean. Aku harus maulah, walau aku sendiri …”
“Kenapa? Enggak tahan ninggalin Muhsin kan?”
He he he he …
“Ayo .. ngeledek lagi.”
“Bukannya ngeledek. Tapi namanya juga pengantin baru. Enggak bakalan tahan pisah lama-lama. Betul enggak Sab?”
“Ya betul juga sih.Cuma Clean, aku mau nanya nich. Seberapa gawat kah keadaan di sana?”
“Gawat enggak gawatlah. Dijalanin ajalah Sab,” jelas Mr Clean.
“Oke .. kapan kamu berangkat. Aku siap jemput kamu.”
“Oke.”
Pisahan dulu ya.”
“Oke.”
Sebelum berangkat, sekadar ingin tahu, Miss Nancy menanyakan perempuan yang menelepon Mr Clean barusan.
“Ehem. Mau tau aja.” Ledek Mr Jodi. Miss Nancy cemberut, tak lama. Ia ketawa lagi akhirnya setelah mr Clean menyebutnya dengan sebutan ‘Polwan manis dan cantik’.
Teman sekerja Miss. Baru aja kawin. Bulan madunya di sini,” terang Mr Clean, menawari Miss Nancy permen cokelat. Tidak menolak. Juga Mr Jodi.
“Ooo ..  terus, terus …”
“Dia dan suaminya disuruh pulang, aku diminta datang ke sini buat bantu kalian.”
“Lalu?”
“Dia telepon tadi, bakal datang kesini. Diminta Letnan Salam, bosnya aku, untuk menemani saya, kamu dan Mr Jodi.”
“Bagus itu Mr Clean. Itu artinya aku ada teman perempuan.”
“Sayang ya Mister,” celetuk Mr Jodi sambil mengunyah sekali tiga permen pemberian Mr Clean.
“Sayang kenapa Mr Jodi?”
Syiiiiit …
Mobil ngerem pelan.
“Udah kawin.”
Ha ha ha ha …

Tobe Continued

Minggu, 20 Agustus 2017

El-Maut (12)



Novel ...

El-Maut (12)
Oleh Wak Amin

24

SATUAN petugas keamanan gabu ngan dikerahkan. Inspektur Polisi Smith memerintahkan tiga anak buahnya yakni Mr Jodi, Miss Nancy dan Mr Clean untuk mengolah TKP, sebelum melakukan pengejaran terhadap pelaku peledakan bom taman kota.

Petugas pemadam kebakaran,  am bulance dan mobil kepolisian dike rahkan untuk mensterilkan TKP. Ma yat-mayat diangkut. Darah-darah yang berceceran di jalan dan lain tempat dibersihkan, percikan api
yang tersisa terus dipadamkan se dangkan bangunan yang hancur dirapikan.

Warga dilarang mendekat. Hanya bi sa menonton dari kejauhan. Diba tasi tali yang khusus dipasang un tuk mereka yang ingin melihat kondisi TKP terkini.

Beragam mimik dan prilaku diperli hatkan. Ada yang menangis, sedih, marah dan tak sedikit yang mengu tuk pelaku yang dengan sengaja menghabisi nyawa orang lain secara keji dan tidak berpri kemanusiaan.

Di antara kerumunan warga yang menonton, ada beberapa anggota keluarga korban. Setelah mendapat kabar dari kerabat yang menonton peristiwa ledakan dari stasiun tele visi, segera meluncur ke TKP.

Mereka tidak diperbolehkan masuk, apalagi ikut serta membantu me ngevakuasi korban karena sudah ada petugas khusus untuk itu.

Mereka hanya bisa dengan leluasa mencari dan menemukan anggota keluarga mereka yang jadi  korban peledakan setelah berada di rumah sakit.

Merek tentu kecewa, meski keba nyakan dari mereka bisa memaha mi dan mengerti pemberlakuan atu ran ketat itu.

Apalagi setelah menyaksikan pihak rumah sakit yang kewalahan me layani para korban. Mereka terpak sa memberlakukan antrean berla pis guna menghindari terjadinya sesuatu yang tak diinginkan.

Tangis yang memecah, jeritan me nyayat hati dan sumpah serapah mewarnai suasana tiga rumah sakit yang ditunjuk.

Karena tak kuasa menerima ke nyataan anak, isteri, suami, menan tu dan cucu mereka tewas secara mengenaskan. Banyak di antara ke luarga korban yang jatuh pingsan. Tampak para petugas medis segera mengamankan mereka, dibantu petugas keamanan.

Sementara di ruang tahanan Mar kas Besar Kepolisian Besar, Idris dijaga ketat oleh dua anggota pa sukan bersenjata lengkap dan rom pi anti peluru. Mereka menjaga ruangan di mana Idris ditahan sementara waktu.

Di luar markas kepolisian, Ismail dan Iskandar yang ditunjuk Bos So bar untuk menculik dan menghabisi Idris, keluar dari mobil yang diparkir di seberang jalan.

Mobil berwarna serba putih itu dipi lih karena lebih cepat 'larinya' serta lebih aman untuk membawa lari orang yang diculik.

Ismail dan Iskandar, keduanya tan pa bersusah payah berhasil menye linap masuk ke markas kepolisian setelah melewati pos jaga dengan memperkenalkan diri untuk berte mu dengan Inspektur Smith.

Pengelabuan berlangsung lancar. Hanya dalam hitungan detik mere ka sudah tiba di sel tempat rekan mereka Idris ditahan.

Dua anggota polisi yang berjaga-ja ga di sekitar sel tak pula tahu ada penyelinap masuk lewat belakang sel tahanan khusus. Mereka baru tahu setelah Iskandar dan Ismail memergoki mereka dan mengajak berduel. Satu lawan satu.

Ismail menghadapi anggota berma ta sipit sementara Iskandar duel de ngan si mata besar. Duel berlang sung seru. Saling jual beli pukulan, sama terjatuh dan terjengkang.

Pada satu kesempatan, Ismail ber hasil mendaratkan pukulan ke dagu sipit, mengalami  batuk-batuk sebe lum akhirnya sempoyongan.

Si sipit roboh. Tapi berusaha bang kit dan saat itulah ...

Dooor ...

Dooor ...

Dua peluru menembus kepalanya. Sipit tewas seketika.

Bagaimana dengan Iskandar dan si mata besar?

Sama-sama terpojok, tersudut. Terluka di bagian kepala, Ismail memutuskan untuk mengakhiri duel yang memakan waktu itu.

Ketika Iskandar jatuh tersungkur dan hendak dicekik si mata besar, Ismail mendekat sambil mengacam.

"Kupecahkan kepalamu. Lempar pistol itu. Cepaaaat...!"

Si mata lebar mengatur siasat. Dia lempar pistol di tangan ke samping Iakandar.

Kemudian dengan cekatan meng ambil pistol di balik baju rompinya dengan tangan kiri. Sayang, Ismail bergerak cepat.

Sebelum tangan kekar itu mem bidikkan senjatanya ke arah Iskan dar yang baru saja berdiri, Ismail sudah men-door nya lebih dulu.

Sama seperti rekannya si mata si pit, dua peluru menghantam kepala mata besar hingga tewas.

Tobe continued

Dikirim dari Acer Liquid Z330