Kamis, 25 Februari 2016

Cerbung Musi Bebanyu (Bag 27-29= TAMAT)



Pujangga …
Oleh Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu (Bag 27-29 = TAMAT)


BALIK dari acara pisah sambut siswa lamo dan baru kemarintu, Lebay en Mamat diundang oleh pihak stasiun televise swasta lokal untuk bincang-bincang seputar perkembangan seni budaya. Bincang-bincang itu dikemas dalam tema ‘Lebih Dekat dengan Seni Budaya.’
Namonyo jugo lanang baru nak ngetop, bujang duwo ikoni dak nulak lagi. Apolagi pihak stasiun televisi la payah-payah ngutus pegawainyo ngantarke undangan.
“Ini namonyo rejeki, Bay. Kito dak boleh nulak en nyia-nyiakenyo.  Ngapo? Lum tentu dio datang lagi gektu. Makmano nurut awak kiro-kiro, Bay?”
“Yo benerla kato awaktu, Mat. Yang penting sekarang kito dak usah duken ngomong soal ini ke yang lain. Gektu jadi rame. Lebih baik kito fokuske bae ke bincang-bincang itu …”
“Setuju. Akur kalu mak itu, Bay …”
Karno dak ado yang tau, selain Mamat en Lebay, dak katik pulok yang meloki apolagi sampe ngeretoki budak duwoni. Ngenoke pakaian putih celano item, keduwonyo, waktu la sampe di ruangan bincang-bincang, langsung duduk di kursi yang tela disediake.
Rai ngadep kamera. Bekeringet dingin jugo, walau suhu ruangan pakek AC. Daklamotu datangla Mbak Nita, presenter cantik  bebakat, nyalami Mamat en Lebay, sebelum akhirnyo ngambek tempat duduk di  parak Lebay.
Betigo bekelakar betok. Dahtu ketawo.
Kamera …
Eksyen …
“Selamat sore pemirsa di rumah. Sore hari ini kami sengaja mengundang dua seniman berbakat, masing-masing Mamat dan Lebay…..”
Kamera bejalan …
“Selamat sore, Bung Mamat …!”
“Sore juga. Selamat sore pemirsa di rumah …”
“Selamat sore, Bung Lebay …!”
“Sore juga. Selamat srore pemirsa semuanya …”
Kamera endeket …
“Baiklah pemirsa. Tema bincang-bincang kita sore hari ini adalah ‘Lebih Dekat dengan Seni Budaya’. Kita langsung saja ke Bung Mamat lebih dulu …”
Kamera mundur …
“Bung Mamat, menurut anda, apa sih puisi itu sebenarnya?”
“ Puisi itu adalah bentuk kesusastraan yang paling tua. Tradisi berpuisi sudah merupakan tradisi kuno dalam masarakat. Sejak kelahirannya, puisi memang sudah menunjukkan ciri-ciri khusus seperti yang kita kenal sekarang ini, meskipun sebenarnya puisi  itu tidak mengalami perkembangan dan perubahan dari tahun ke tahun …”
“ Saya akan mengutip pendapat penyair kita Sapardi Djoko Damono. Menurut beliau, puisi itu adalah keterampilan berbahasa, seni berkata-kata yang paling tinggi, yang paling canggih. Di sana setiap kata adalah sesuatu yan bermakna. Tidak ada yang mubazir dari apa yang dituliskan sang penyair. Disitu pula kelebihan puisi dibandingkan bahasa biasa atau karya yang lain …”
“Puisi bagi saya, kata Sapardi, adalah sebentuk cara untuk mengungkapkan yang banyak dengan cara yang paling sedikit. Bagaimana caranya inilah yang menyebabkan tidak semua orang mampu melakukannya.
“Lantas, Bung Mamat. Gimana cara kita memahami sebuah puisi itu?”
“Mungkin Bung Lebay yang duduk di sebelah saya ini bisa menjelaskan lebih jauh, Mbak Nita.” Kato Ma mat ngelirik Lebay yang dari taditu cuman senyum-senyum terus. Senyum dengan Mbak Nita, apo dengan pemirsa, dak pulo jelas.
“Oke. Silakan Bung Lebay …”
“Terima kasih Mbak Nitaku … Begini, setiap puisi pasti berhubungan dengan penyair. Karena puisi diciptakan dengan mengungkapkan diri penyair itu sendiri. Puisi memberikan tema, nada, perasaan dan amanat. Rahasia di balik majas, diksi, imaji, kata konkret dan verifikasi akan dapat ditafsirkan dengan tepat jika kita berusaha memahami rahasia penyairnya.”
Ada suasana tertentu di saat seseorang dituntut untuk berpuisi dan pada saat lain  seseorang dituntut untuk berprosa. Tuntutan pengucapan ini juga turut memberi warna konkret prosa dan puisi.
“Puisi diciptakan dalam suasana perasaan yang intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Dalam puisi kita berbicara tentang dirinya sendiri …”
Memahami puisi dapat dilakukan dengan pendekatan obyektif  terhadap puisi-puisi besar yang sudah sangat terkenal. Tapi dalam puisi-puisi yang gelap atau bersifat khas, usaha pemahaman puisi tidak da pat memencilkan puisi sebagai suatu karya yang bersifat otonom. Faktor dari luar turut dijadikan acuan pemahaman.
“Menghadapi puisi-puisi yang sukar dan belum termasyhur, saya menganjurkan untuk mengikutsertakan faktor genetik puisi sebagai sumber acuan untuk menelaah makna puisi.  Faktor genetik itu meliputi penyair dan kenyataan sejarah yang melatarbelakangi proses penulisan puisi tersebut.”
Puisi yang gelap, uji Lebay,  dan sukar dapat ditafsirkan maknanya dengan lebih mudah jika kita mampu memahami faktor genetiknya.
“Kalau prosa, Bung Lebay?”
“ Kalau prosa, pengarangnya tidak membicarakan dirinya sendiri. Tapi juga berbicara tentang kisah orang lain, atau tentang dunia …”
“Oke , kembali ke Bung Mamat. Menurut Bung Mamat, sejauhmanakah  keterakaitan antara puisi dengan sang penulis, dalam hal ini penyairnya?”
“Pada pokoknya puisi dibangun oleh dua unsur pokok, yaitu struktur fisik, berupa bahasa yang digunakan dan struktur batin serta staruktur makna yakni pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh penyair.”
Kedua unsur ini , kato Mamat, merupakan kesatuan yang saling berkaitan secara fungsional. Penyair mempunyai maksud tertentu, mengapa baris-barisnya dan bait-baitnya disusun sedemikian rupa? Mengapa digunakan kata-kata, lambang, kiasan dan sebagainya?
“Semua yang ditampilkan oleh penyair mempunyai makna, bahkan karena yang digunakan adalah kata-kata yang dikonsentrasikan, yang dipadatkan, maka semua yang diungkapkan oleh penyair harus bermakna. Tidak boleh mengungkapkan sesuatu yang mubazir. “
“Baiklah, Bung Mamat dan Bung Lebay. Lalu, bagaimana penerimaan masyarakat terhadap diri dan keberadaan penyair. Maksudnya, yach, sambutan masyarakat terhadap penyair, apa menggembirakan atau justru kebalikannya. Dicueki dan malah tidak dianggap sama sekali …?
“Ya, itulah yang patut kita sayangkan. Masih ada sebagian dari masyarakat kita yang kurang peduli ter hadap jati diri penyair. Mereka hanya melihat penampilan luarnya saja. Rambut gondrong, kusut, mandi jarang, pakaian seenaknya dan sekenanya saja. Pakai sandal, merokok dan sedikit-sediki kumpul, ngolor ngidul. Lantas  baca puisi yang isinya memperotes selalu, enggak kalangan tertentu, yang diprotes bia sanya pemerintah. Padahal tidak semuanya begitu. Sebagian kecil, mungkin adalah. “
Sejujurnya, kata Lebay, penyair itu juga sama dengan profesi lain. Mereka perlu makan, minum, bergaul dan masyarakat hendaknya tidak memandang sebelah mata, apalagi sinis terhadap mereka. Kendati mereka tak ingin dihormati, tapi paling tidak mereka itu diakui eksistensinya dan diberi ruang untuk berkarya dan berkreasi …
“Bisa diperjelas lagi Bung Mamat  tentang ucapan anda barusan .. Soal ruang me ruang tadi misalnya?”
“Maksudnya, penyair kan tidak cukup hanya berkicau di dalam gedung tertutup, serba terbatas. Tapi, be rilah mereka ruang untuk membacakan karya yang mereka hasilkan di tempat-tempat umum terbuka, atau tempat tertentu, semisal di stasiun kereta api, taman kota. Selain tentunya pentas berkelanjutan di gedung seni pertunjukan ...”
Lembaga-lembaga pendidikan seperti rumah sekolah, pusat kursus dan keterampilan, memberi kesem patan kepada penyair untuk berkiprah, tampil membacakan puisinya. Para guru dan siswa harus mende ngar. Mungkin saja buah pikiran dari si penyair bermanfaat untuk paling tidak demi kemajuan dunia pendidikan kita.
“Perlu saya tambahkan sedikit, Mbak Nita,” simbat Mamat, yang paling penting, baik pemerinth, swasta, BUMN dan segenap masyarakat, lihatlah eksisten penyair secara utuh. Bukan sepotong-sepotong, agar bisa dirasakan kehadirannya dan bermanfaat banyak bagi semua.”
“Teima kasih Bung Mamat dan Bung Lebay. Kita break dulu sebentar. Ada iklan yang mau lewat ….”
                                                                        --------------------------------------


Jangan Ngelamun Bae
Oleh Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu  (28)

“BAIKLAH pemirsa sekalian. Kita lanjutkan bincang-bincang kita pada sore hari ini dengan tema Lebih Dekat dengan Seni Budaya …”
Mamat en Lebay mulai tegang lagi. Taditu idak. Sempat bekelakar dengan Mbak Nita.
“Bung Mamat dan Bung Labay. Kalian berdua. Kita tahu seni budaya itu tidak cuma sebatas puisi. Banyak lagilah yang lain. Seperti seni tari, drama, teater, seni lukis, pahat dan termasuklah seni suara. Eeeem … Bagaimana kondisinya saat ini menurut bung berdua?”
Mamat duluan …
“Ada yang menggembirakan dan ada juga yang tidak menggembirakan.”
“Bisa diceritakan dan dicontohkan, Bung Mamat?”
“Yang menggembirakan, misalnya lagu daerah. Untuk saat ini telah banyak bermunculan. Promosi lumayan gencar dan sepertinya sudah diterima masyarakat luas. Mungkin, yach, entah karena jenuh dengan menjamurnya lagu-lagu saat ini, lantas masyarakat  ingin sesuatu yang lain. Nah, lagu daerah mungkin bisa mengapresiasi suasana dan hasrat  tersembunyi  masyarakat itu …”
“Yang tidak atau belum menggembirakan, apa saja Bung Mamat?”
“Banyak, Mbak. Kita bisa contohkan, seni lukis dan seni pahat. Yang kita lihat, mereka yang tampil dalam ajang pameran dan sebagainya itu kan boleh dibilang orang, pemain lama dalam arti lama dari segi usia maupun pengalaman. Itu pun tidak semuanya. Nah, bagaimana dengan yang muda-muda, yang enerjik dan berbakat. Karena sampai saat ini belum terlihat jelas. Samar-samar mungkin. Muncul sebentar, setelah itu hilang entah ke mana. Begitulah seterusnya. Sampai akhirnya tenggelam dan hilang sungguhan. Ada yang ganti profesi,  juga ada yang terpaksa hijrah ke daerah lain …”
Lebay neruske …
“Kenapa?”
“Kenapa ini semua sampai terjadi, Bung Lebay?”
“Karena, menurut saya, tak ada kesempatan dan magang. Kita yang uda-muda ini, walau saya sendiri, bukan ahli lukis dan pahat memahat, terkadang bekerja sendiri. Artinya, buat ini itu, sampai mema sarkannya, kita sendirilah. Mbak kan tahu, yang lain? Kita enggak tahu. Padahal mereka ka nada.”
“Kurang komunikasi maksudnya?”
“Iya. Kurang lebih begitulah. Yang tua, tak salah toh menghampiri yang muda. Kita bukan apa-apa. Na manya juga orang muda, rasa malu dan segan, terkadang masih ada. Nah, kalau ada komunikasi kan lebih enak. Kita bisa tahu apa kekurangan kita dan juga apa kelebihan kita. Dan yang paling pokok adalah kesediaan yang tua mau membagi pengetahuan dan pengalaman kepada yang muda. Dengan demikian kita saling isi mengisi. Yang muda misalnya, bisa menerjemahkan keinginan dari yang tua, yang hingga kini belum terwujud …”
“Tadi disebutkan ada juga seniman yang terpaksa hijrah ke daerah lain. Kalau boleh tahu, sejauhmanakah tingkat perbedaan masing-masing daerah dalam mengapreiasi para seniman dari berbagai bidang keahlian ini?”
“ Begini Mbak. Harus diakui bahwa setiap daerah berbeda tingkat penerimaannya terhadap seniman. Kota A umpamanya, katakanlah seni lukis, benar-benar diperhatikan. Mulai dari kemudahan berkreasi, tempat mangkal dan memasarkan karya hingga diskusi dan terbukanya kesempatan membagi ilmu dan keterampilan kepada yang berminat. Jadi eksistensinya mereka benar-benar diakui gitu lho. Dampaknya apa?  Seni budaya bergairah, pariwisata juga. Lapangan kerja baru tersedia, dan yang paling penting, kehidupan seniman secara perlahan terangkat ke permukaan. Ttidak lagi susah, melarat sampai akhir hayat.”
“Bandingkan misalnya, Mbak, dengan kota B. Sudah kehidupan susah, dilirik pun tidak karya, jangan kan eksistensinya. …”
“Menurut Bung Mamat, di mana letak salahnya?”
“Di pengambil kebijakan, terutama …”
“Kenapa bisa begitu ya Bung Mamat?”
“Kita enggak ada niat nyalahin siapa-siapa gitu. Lagian ini kan menurut pendapat saya, Mbak. Pendapat saya pribadi …”
“Oke-oke. Saya bisa mengerti. Mohon Bung Mamat lanjutkan …”
“Kenapa harus pengambil kebijakan. Karena suara mereka didengar masyarakat. Misalnya, masyarakat diimbau jangan membuang sampah sembarangan. Kena denda lho. Walaupun belum sepenuhnya sadar, tapi imbauan itu didengarkan, Mbak. Buktinya, di tempat-tempat tertentu kawasannya bersih dan benar-benar bebas sampah. Nah, begitu juga dengan seni budaya ini …”
“Apalagi jika nantinya pemerintah  memperhatikan betul-betul eksistensi dan keberadaan pekerja seni, mengakui dan menghargai mereka secara utuh. Saya yakin seni budaya kita akan maju pesat dan tak kalah pesatnya dengan kemajuan yang telah diraih oleh negara-negara lain di dunia …”
“Indah sekali ya Bung Mamat. Mudah-mudahan para pemirsa bisa menyimak penjelasan Bung Mamat barusan …”
Mamat senyum-senyum bae …
“Pemirsa. Beralih kita ke Bung Lebay …Menurut anda, apa perlu kalangan swasta dan pihak terkait lainnya turut serta menggairahkan seni budaya kita saat ini?”
“Perlu sekali, Mbak Nita.”
Batuk-batuk kecik …
“Kenapa perlu? Karena pertama, keterbatasan pemerintah dalam mengakomodasi aktivitas berkesenian di suatu daerah. Tugas mereka kan banyak, semuanya prioritas. Enggak ada yang enggak prioritas. Nah, ini yang pertama. Yang kedua, bisa ikut membantu permodalan, skill dan promosi. Ketiga, membantu menyalurkan pekerja seni. Tepatnya, diajak bergabung , misalnya  menjadi tempat magang kerja, pelati han, tenaga lepas atau diperbantukan di perusahaan tertentu. Jadi keahlian mereka termanfaatkan. Sayang kan, Mbak, kalau potensi yang mereka miliki tak kita seksamai …”
“Terakhir, buat bung berdua … Ada pesan yang ingin disampaikan barangkali buat pemirsa di rumah. Silakan …”
Mamat duken …
“Kepada para seniman, saya berpesan agar teruslah berkarya. Jangan mudah putus asa. Binalah selalu hubungan dengan sesama. Jangan malu untuk bertanya. Jangan sungkan untuk belajar. Jangan kikir untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Perluaslah networking. Bekerja samalah  dengan siapapun demi kemaslahatan bersama. Jangan sekali-kali merasa asing di tempat sendiri, dan mengasingkan diri. Kita ini makhluk sosial. Tidak eksklusif. Menyendiri dan merasa  diri paling pintar dan benar sendiri. Karena selain merugikan diri sendiri, tindakan seperti itu  membuat kita terisolasi yang pada akhirnya turut menghambat eksistensi diri …”
“ Bung Lebay, silakan …”
“Saya pendek saja …”
“Panjang juga enggak apa-apa, Bung Lebay.”
 Lebay ketawo libar …
“Kita para seniman harus mau mengoreksi diri, mengevaluasi dan turut serta memberikan andil terhadap kemajuan bangsa ini dari sisi seni budaya. Selalulah berkarya. Karena dengan karya itulah kita bisa membantu sesama. Dengan karya itulah kita bisa terus eksis, terus memberi dan berbuat baik kepada sesama hamba Allah SWT di dunia ini …”
                                                                            --------------------------         


Nrimo Tawakan …
Oleh Wak Amin
Musi Bebanyu (29)

“MAT … Oi Mat …!”
Sampe tigo kali Mang Lebay manggilnyo. Mamat baru nyetopke sepeda pempeknyo. Dio noleh denget. Dahtu ketawo ngakak. Pecak ketawonyo wong beduit, toke iwak besak.
“Akutu tadi ketemu dengan bos kau, Wak Peng di pasar iwak,” kato Lebay, muterke sepedanyo nyabrang jalan, endeketi sepedanyo Mamat.
“Kito minggir dikit bae supayo lemak kito ngomong,” uji Mamat  negakke sepeda, beduwo duduk deket tanggo rumah uwong.
Beceritola Lebay kalau Wak Peng ngundang ke rumahnyo sore gek. Dak pulo dienjuk taunyo nak ngapo. Tapi yang jelas, rasan lemakla. Dak katik apo-apo. Pokoknyo jangan dak datang …
Mamat lum nanggapi.
“Mun ujiku datangi bae. Gek kurewangi.”
Mamat baru pacak senyum.
“Niyan apo? Mecem dak cayo.
“Kitoni la lamo bekawan, Mat. Apo selamo kubekawan dengan kautu aku pernah embohongi awak. Idak kan …”
“Bukan cak itu, Bay. Cuman … akutu ..”
“Buntu?”
“Ai kauni macak-macak bae. Buntu apo.”
“Kalu idak ngapo?”
“Akutu dak galak ngeretoki awaktu. Tapi karno awak la oke, yo jadi bae …”
“ Oke …”
Na, cak itu Bay …
Samo koncotu galakla nulung …
Siapo lagila kalu bukan konco …
Betul dak  Brooo…?
Singkat cerito …
Lepas ashar, berangkatla lanang duwo ikokni ke rumah Wak Peng. Makek motornyo Mayang. Di sepan jang jalan dak berenti besiul dan bedendang, pecak budak ABG pacaran bae. Selamo di jalan ado-ado bae yang diceritoke. Mulaki dari sepan levis yang a duwo minggu dak kalo dicuci, apolagi digosok pakek areng, sampe lupo sikat gigi la sebulan ini.
Yang idak kalo lupo cuman sikok. Apokah itu? Idak lain, nyelipke kelepit di kantong celano. Ado dak ado duit, yang penting kembung. Dikembung-kembungke isi dompettu. Biar dijingok uwong beduit. Padohal isinyo kartu namo galo …
Belok kanan …
“Ngebut dikitla, Mat,” kato Lebay. Dio dak tahan nyelik motor motong galo-galo. Jalan pecak kilat nyamber pohon pete.
“Biarla Bay. Kapan lagi kito biso nikmati idup ini. Pagi bejualan. Malem mentas, dak olah besenang-senang cak ini …”
“Yo, ajakla Ningsihtu bejalan-jalan, Mat. Dak dengan Ningsih, dengan aku jadi. Kalu misalnyo kau takut dewekan, gek kurewangi. Atau kito samo-samo. Berempat jadi. Aku, awak, Ningsih dan Mayang …”
Belok kiri …
“Mat … Mat … rem dikit. Ado ayam nak nyabrang …”
Kok … kokok … kok … kokok … kok …
Untungla selamat galo-galo. Ayam tesabrang, bujang duwoni pacak terus ngelenggang.
“Ke kanan, Mat … Ngapo cak lupotu?”
Mamat ketawo bae …
Stooooop …!
“Sampela kito … " Uji Lebay turun sambil nyekeli buri motor supayo Mamat pacak melenggang turun dan markirke itu motor di buri toko besak pempek Wak Peng.
Plak … plak … plak …
Ruponyo la disambut denga tepuk tangan oleh Wak Peng dan Ningsih di ruang tamu yang besak. Ketawo lepas, saling salaman dan ngucapke selamat.
Selamat apo …?
Naik pangkat kali …
Bukan … bukan … dapet bonus …
Pastila … naik gaji …
“Selamet ya Bay en Mamat. Kamu beduwo la masuk tivi. Wak bae, la setuwoni lum pernah masuk jeru tivi …”
Ketawo libar.
“Ai Wak Peng. Ado-ado bae. Biaso baela, Wak.” Kato Lebay sambil nyicipi  pempek kapal selem yang tehidang di pucuk piring lengkap samo cukonyo …
Sedaaaap …
Nikmaaaaat …
Rugi dak makannyo …
Beceritola Wak Peng, kalu dalam watu dekatnila dio nak embukak cabang lagi di daerah. Jauh jugola dari tempat kito duduk ini. Masih sepi kalu dibandingke kantor kitoni.
“Untuk jagka pendek, lumla. Tapi jangka panjang, bagus prospeknyo. Menurut Wak …”
“Kiro-kiro …” Lebay dak ngelanjutke omongannyo karno lagi kelemakan ngirup cuko pempek iwak delek itu.
“Na … itula Wak ngundang kamu beduwo samo ponakanku, Ningsih, soreni …” Wak Peng melok ngembek pempek ada’an, langsung ditelen bulat-bulat.
“Gedungnyo la ado.  Walaupun kecik, alhamdulillah la punyo dewek. Yang lain gek kito susulke bae. Na, kepengen Wakni … yang ngurusnyotu kamu beduwo bae. Makmanola kiro-kiro?”
“Maksud Wak, aku samo Lebay, cak itu Wak …?”
“Kurang lebihla , Mat. Kalu kamu beduwo oke, Wak punyo sikok permintaan lagi …”
“Apola Wak. Omongke bae …” Uji Lebay besemangat.
“Aku nitipke ponakanku Ningsih. Makmanola. Galak dak kamu beduwo embimbingnyo?”
Mamat en Lebay saling masati. Dahtu samo-samo ngadepke rai ke Ningsih. Yang diadepi senyum-senyum bae …
“Kemarintu la kutanyo samo dio. Galak dak kau Ning? Jawabnyo, galak. Apolagi dio kan la tamat es em a. Kalu gektu disano dia pengen kuliah misalnyo, kuliahla. Wak senengla …”
Bepikir denget.
“Terus terang, Wak. Aku samo Mamatni setuju bae. Kalu pekaro Ningsih bukan hal yang besak. Cuman kami beduwoni nak nanyo samo uwak, apo yang kiro-kiro nak digaweke gektu di sano. Apo payah apo …?”
Ha ha ha ha …
“Abiskela duken pempek dos samo es campur kamutu,” uji Wak Peng. Dio ngongkon Ningsih nyiapke tigo gelas kopi item anget di dapur.
“Mudah bae Bay, Mat. Dak sulit dak. Wak la siapke tempat tiduk di buri toko. Lapangan untuk main tenis meja dan bulu tangkis. Pegawainyo gek ditambahke sikok duwo lagila  dari sini. Selebihnyo, kalu masih kurang, dari sanola. Tegantung kebutuhan kamu beduwola gektu. Bagian mano yang jadi prioritas, diduluke. Kalu soal gawean, kamu beduwo bebagi tugasla. Makmano caronyo pempek kitotu laku, banyak dibeli uwong. Syukur-syukur jadi primadona, besak dan luas jangkauan pemasarannyo …”
Kriiiing … kriiiing … kriiiing …
Telepon bedering. Disambut  lanang kecik tapi belagak. Si penelepon ngatoke ingin ketemu malem gek dengan  Wak Peng.
“Na … jadi, dak usah dipikirke igo. Siapke diri bae. Wak jugo tetap mantau dari sini … Sekali-kali enjingok makmano keadaan kamu gek di sano …”

                                                      ------ ---------- TAMAT  --------------------
  
         

Selasa, 23 Februari 2016

Cerbung Musi Bebanyu (Bagg 23-26)



Kerak Nerako
Oleh Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu (23)

LUM sempet Ningsih, Yuli dan Olis, beganti baju, sudah disambut dengan siraman rohani. Panitia ‘Pisah Sambut Siswa Baru dan Lama’ siswa es em a ini nampilke penceramah top, namonyo Ustad Cecep.Masih mudo, belagak pulo. Bodi bagus, gemuk idak, kurus jugo idak. Tinggi semampai, pasla buat ukuran lanang jaman mak ini.
Eheeem …
“Assalamualaikum warohamtullahi wabarokatuh …” Ucap Ustad Cecep dengan suaro lantang. Nyaringla cak itu.
“Waalaikum salam,” jawab yang hadir serempak.
“Makmano, la lapar lum?”
“Luuuuum …”
“Niyan apo. Jangan bohongi aku … Beduso besak kau embohongi ustad, tau dak.”
Hadirin saling bebisik.
 “Aku tanyo lagi yo. Jawab dengan jujur. La lapar lum?”
“Lapaaaar.”
“Na mak itu. Soalnyo ustad jugo lapar. Tapi dak pacak ngomongkenyo. Panitia lum nyuruh makan. “
Ngeraso disindir, panitia berseragam serbo putih, cuman pacak nyengir bae.
Kagek sakit ustad …
Laju dak pacak ceramah lagi …
Cak keiyo niyan …
“Baiklah hadirin sekalian. Arini aku dak becerito duken. Galak dak kiro-kiro endengernyo?”
“Galaaak …”
“Mak ini ceritonyo. Ado uwong nanyo, makmano benyanyitu. Boleh apo idak. Na, ustad tanyo balik ke dio. Awakni nak nguji apo betanyo niyan. Dijawab oleh si betanyo tadi, memang nak betanyo niyan. Dahtu ustad tanyo lagi, apo dasar awak betanyo soal nyanyitu. Dio jawab, ustad, aku kepingin jadi penyanyi.”
Seru caknyotu ustad …
Buka’la galo-galo …
Biar tau galo …
“Terus, ustad tanyo lagi samo budaktu. Ngapo kau nak jadi penyanyi. Apo dak katik gawean lain selain benyanyi. Apo jawabnyo? Nak tau dak …?”
“Nak tauuuuu …”
“Jawab wong taditu, mudah nyari duit. Sekali nyanyi ratusan ribu dapet, itu paling kecik. Kalau lagi mujur, besak cetukannyo, pacak ratusan juta. Na, kalike bae ustad. Sebulan sepuluh kali nyanyi, la berapo dapet duit. Bandingkela kalu misalnyo, aku beniago. Untung sehari paling banyak sepuluh dua puluh ribu rupiah. Lum dipotong pajak, sebulan paling tigo ratus ribu rupiah. Lum temasuk duit rokok dan tetek bengek lainnyo …”
“Ni budak, tau jugo di duit ruponyo, ujiku di jeru ati bae .”
Ha ha ha ha …
Ustad Cecep ketawo.
Yang lain pado ketawo galo …
“Itu namonyo apola? Ustad Cecep ngelemparke pertanyaan ke hadirin.
Diem galo-galo.
“Pengen lemak, begawe dak galak …”
Ha ha ha ha …
Singkat ceritonyo, kato Ustad Cecep, dengan wong lanang taditu kumongke bahwa siapo bae nak benyanyi, please. Silakan. Boleh bae, asalke meloki aturan …
“Aturan makmano? Yo, caro bepakaian misalnyo. Harus sopan. Kalu betino, yo nutupi aurat. Dak boleh kejingokan, apolagi sengajo dijingokke, buka’-buka’an cak itu. Berok pendek. Kapan nunggit, masya Allah, kejingokan kue lapisnyo …”
Ha ha ha ha …
Memang yang mak itu dicari, ustad …
Lemak nyeliknyo …
Make’nyo jugo …
Ilang stres  kito …
“Jadi saudara-saudara dan adik-adikku sekalian. Dak katik larangan kamu-kamuni nak benyanyi. Asalke, yo itu tadi. Jangan macam-macam. Bepakaianla yang sopan, lagu yang dibawakke bagus, bukan jorok dan ngajak wong ke jalan dak bener. .. Eeeem .. sampe sini, paham dak maksudnyo?”
“Setengaaaah, ustad.” Kato lanang berambut lurus.
“Setengahnyo lagi apo?”
“Batasannyo ustad. Yang dak bolehtu makmano, yang bolehtu makmano niyan. Masih lum jelas.”
“Ooo mak itu. Sebelum ustad jawab, kito enjuk adik atau kakakmu ini tepuk tangan duken.”
Plak .. plak … plak … plak …
“Jadi adik-adikku sekalian. Islam membolehkan siapo bae nak benyanyi. Tegasnyo, dak katik yang ngela rang kamu benyanyi. Di kamar mandi boleh, dimano bae. Asalke dak dicampur dengan omongan kotor, cabul dan lainnyo yang dapat mengarah kepada perbuatan duso …”
Ustad Cecep enjingok jam.
“Sampe mano tadi? Tanyo Ustad Cecep.
“Perbuatan dusooo …”
“Na itu … Kalu misalnyo, kito benyanyi, lalu diringi musik, dak apo-apo.  Bagus. Asalke musik taditu dak sape embangkitke nafsu syahwat … “
Malah, katoU stad Cecep, disunatke dalam keadaan riang gembira, ngibur ati. Kapan? Waktu ari rayo, ngantenke anak, kedatangan orang yang la lamo dak kalo datang, walimah, aqiqah atau waktu lahirnyo seorang bayi.
“Makmano yang endengernyo ustad?”
“Maksudnyo, boleh apo idak, cak itu?”
“Kiro-kiro cak itula, ustad …”
La jelas bolehla …
Buat apo nyanyo kalu dak katik penonton …
Samo bae bo’ong …
Mulut bebuih, duit  tak boleh …
“Jawaban ustad mak ini ..” Uji Ustad cecep tesenyum dikit.
“Barang siapo endengerke nyanyian dengan niat untuk membantu maksiat kepada Allah Taala, maka jelas yang bersangkutan adalah fasik. Sebaliknyo, barang siapo beniat untuk ngehibur ati agar pacak berbakti kepada Allah SWT, dan tangkas dalam bebuat kebaikan, maka yang bersangkutan adalah orang yang taat dan bebuat baik serta perbuatannya masuk perbuatan yang benar.”
Ustad Cecep narik nafas denget.
“Bagi siapo bae yang dak katik niat taat kepada Allah, jugo idak untuk bemaksiat, maka perbuatannyo dianggap penesan bae yang tentunyo di bolehkela. Samo misalnyo, kito pegi ke kebon untuk belibur,” jelas Ustad Cecep.
“Makmano dengan bejoget, ustad?” Tanyo wali murid, serius niyan nanyonyo.
“Untuk joget alias lenggang, kato Ustad Cecep, samo jugo. Samo dalam reti ado yang dibolehke, ado jugo yang idak dibolehke.  Lantas, makmano niyan yang dak dibolehketu, ustad?”
“Yang secara sengajo bejoget agar nafsu kito bangkit, nimbulke fitnah dan perbuatan ca …”
“Luuuuk …” Teriak siswa baru.
Hayaaa …
Ketawo galo …
“Caaaa  …” Ustad Cecep nunggu hadirin ngomong.
“Buuuuul.”
“Betul .. betul. Seratus untuk kamu galo-galo …”
“Terus ustad, makmanola sikap kito kalu idak bener nyanyinyo?” Tanyo betino bekerudung, mancung ke luar idungnyo.
Kalu nyanyiannyotu pacak embangkitke nafsu, jelas Ustad Cecep, dan nimbulke fitnah serta nafsu kebinatangannya pacak ngalahke sisi rohaniahnyo, “Minimal kito ngehindarinyo. Jangan endeket, apolagi sampe melok nyanyi samo begoyang …”
“Ngapo mak itu, ustad?”
“Ancur galo-galo …” Jawab Ustad Cecep.
“Apo maksudnyo, ustad, ancur galo-galotu ?” Gantian Bu Guru yang betanyo, sambil nunjuk tapi jari telunjuknyo begoyang-goyang, mungkin la kelaperan.
“Dak boleh pahalo, malah boleh duso. Di akherat sano gektu jadi kerak …”
“Nasiiiii … Teriak siswa baru.
“Bukannyo nasi. Nasitula pikirannyo …”
Ha ha ha ha ..
“Tapi keraaak neee …”
“Rakoooooo …”
“Betul … betul …”
                                                                        -------------------------------
 


Jangan Lupoke Dio
Oleh  Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu (24)


SAMPE  mano tadi, Buk?”
Yang ditanyo ustad, betino tuwo, giginyo bae la ompong galo, cuman senyum-senyum, lain dak.
“Dak endanger lagi, ustad. La pekak,” jawab ibu mudo di sebelahnyo.
Ha ha ha ha …
“Sampe mano tadi, Pak?” Ustad Cecep nanyo ke lanang gendut, duduk cak lagi saro niyan.
“Baru kilometer limo, ustad. Lum nyampe kilometer 12.”
Ha ha ha ha …
Ketawo galo. Kalu yang taditu pekak, lanang sikokni ketidukan. Maklum baela, badan bae besak, segalonyo pasti nyenyaaak.
“Maaf ustad, ketidukan,” kato si lanang taditu malu ati.
Makonyo kalu makan jangan banyak igo …
Biar dak ngantuk …
Ngemalu wong lanang bae …
Dah dibisiki panitia, Ustad Cecep ngangguk. Dio senyum libar dengan yang hadir.
“Ustad lanjutke dengan pacaran. Kito sekalini ngomong soal ngepek-ngepekan. Makmano, galak dak kiro-kiro?”
“Galaaak.” Serempak  siswa lamo en baru ngatoke galak sambil tegak. Baru duduk lagi setelah dikongkon duduk oleh ustad.
“Payu kalu mak itu. Kito masuk ke sesi pacaran. Sebelum ngomong lebih lanjut, aku nak nanyo duken. Boleh dak?”
“Boleeeeh.”
Ustad Cecep ngarahke rainyo ke siswa betino. Anehnyo, nunduk galo-galo. Nunduk sambil bebisik. Takut kalu gektu ditunjuk ustad, dikongkon ngomong soal pacaran.
Iyola niyan …
Yang keno kongkon siswi yang duduk paling kiri. Dikongkon tegak ngadepke rai ke depan, nyingok hadirin.
“Cubo adik ceritoke, dak pacak banyak dikit jadila, tentang apa itu pacaran …. Silake ..!”
Asyik …
Yang ngomong cantiiiik …
Kalu nurut aku, ustad, kato siswi berambut lurus ini, pacarantu serbo bedua’an. Jalan dua’an, makan dua’an, cuman tiduk bae dakdo dua’an. Terus curhat-curhatan, sisip dikit belajuan …
Ha ha ha ha ..
Pengalaman caknyotu ..
Namonyo jugo budak mudo …
“Ngap biso mak itu, Dik?
“Karno kujingok seari-ari, waktu pacarantu memang mak itu, ustad. Malah, kalu yang nekat, besepian. Beduwo bae. Padohal bapak samo emaknyo la ngelarang, ustad …”
“Oke … oke,” kato Ustad Cecep. “Menurut kamu dewek, makmanola bagusnyo pacarantu?”
“Kalu nurut aku, ustad ye, lemakla tembak langsung bae. Abis pekaro …”
Cak kealiman bae …
Diotu uwong bukan umpan pelor …
Main tembak-tembak langsung bae …
“Jadi, dak usah pacar-pacaran lagi? Kagek nyesel. Dak tau dilemak …”
Ketawo galo-galo.
“Kalu aku ustad, lemak dak lemak, nyesel dak nyesel, dak usah lagila pacaran. Lanang ngesir, betino galak, langsung bae ngadep ke uwong tuwo betino. Diterimo lamar, dak diterimo mundur teratur.”
Ha ha ha ha ...
“Tepuk tangan duken untuk adik kito yang cae’em ini,”pinta Ustad Cecep kepada yang hadir, sebelum nyilake siswi bepakaian putih abu-abu itu turun lambat-lambat dari pucuk panggung.
Plak … plak .. plak … plak …
Jadi, kato Ustad Cecep, saudara-saudaraku sekalian. Bepacarantu sebaiknyo diganti bae dengan perkenalan. Bukan kenalan langsung antaro gadis dan bujang. Bukan cak itu. Tapi kenalnyo lewat pihak ketiga yang memang dipecayo.
“Ngapo mesti nak mak itu, Ustad?”
“Kalu kenal langsung, ditakutke kenyanya’an. Yang namonyo langsung, dienjuk buntut, laju nak paho. Betul dak?”
“Betuuuul …”Kato siswa betino serempak.
“Salaaah …” kata siswa lanang.
“Arini betemu mato, besoknyo ngajak jalan. Duduk di taman, bemotor boncengan. Dahtu …”
Hadirin diem.
“Bibir bekenoan, ustad,” jawab siswa bekepalak gundul.
“Pecah perawan, ustad.” Simbat yang lain sambil ketawo ditahan.
“Hussyy. Dak boleh mak itu. Marah gek uwong tuwo,” tegur wali murid bebadan kecik item legem.
Na, ujar Ustad Cecep, kito dak tau apo yang bakal terjadi kemudian. Jangankan kito, uwong tuwonyo bae dak tau kalu anaknyo cak itu. Kalu tau pasti dilarangnyo.
“Bener dak?”
“Bener, ustad.”
“La besak perutni baru ngomong ke uwong tuwo, sambil nangis-nangis pulo. Bener dak?”
Dak ado yang enjawab.
“Bener ustad.” Tibo-tibo salah sikok siswa betino emberanike ngomong.
“Kalu la cak itu, ustad ye,” kato siswi taditu, “Yang disalahke pastila betino. Ngapo dibiarke tebukak.”
Ha ha ha ha …
“Tebukak aponyo” Tanyo ustad sambil embetulke letak kopiahnyo.
“Barang beregotu ustad. Namonyo lanang, dikit bae dilanjakke, apolagi bukak banyak …”
Ha ha ha ha …
Mati kito …
Masih budak la tau galo …
Apo dak anyut jadinyo …
“Seharusnyo ye ustad,” masih kato siswi tadi tula, “Lanang jugo harusnyo disalahke. Terus terang ustad. Sebagai betino aku kesiyan nyelik kaumku dimak ituke. La sakit, dibuat morat-marit …”
Kasiyan deh lu …
Cubola dulu samo aku …
Dakke sampe mak itu …
Ustad Cecep nyelik jam lagi. Dio minum denget. Aus niyan pecaknyo. Yo namonyo jugo ceramah, pastila, dak aus, laper, atau suaro abis …
Ahai …
“Sampe mano taditu?”
“La sakit, dibuat morat-marit, ustad,” kato siswi bebadan kurus tapi belagak caro dio bepakaian.
“Na, itula akibatnyo. La kembung perut, baru nangis. Nyesel. Ngapo waktu kempes  dulutu dak nangis. Karno lum dicubo …”
Ustad Cecep merhatike sikok-sikok dari jauh siswa betino.
“Jadi adik-adik yang betino. Ati-ati jago diri. Sebab, yang namonyo lanang nak lemaktula. Rasan nak lemak, saro dak galak. Bener dak?”
“Beneeer,” jawab siswa betino serempak.
“Apola sebabnya mak itu? Karno lanang bukan betino. Titik. Jadi dio dak tau dan ngalami apo itu menstruasi, apo itu hamil. Nah, yang betino?”
La bunting …
Salah dikit, laki embanting …
Apo dak pening bin pusing …
Tapi, kato Ustad Cecep, telepas betino yang paling banyak nanggung akibatnyo, bepacaranla yang benar. Makmanola yang benertu? Adi tigo, dindo-dindo yang cindo …
Apo bae?
Pertamo, idak melanggar perintah Allah SWT. “Ini yang pertamo.”
Nah, yang keduwo, inget selalu kepada yang nyiptake kito. “Ini yang keduwo … “
Ketigo, libatkela selalu uwong tuwo kito, saudara-saudara, sanak kerabat kito. “Temasukla uwong yang lebih mudo atau tuwo dari kito … “
                                                                         --------------------------


Nyium Bauk Surgo
Oleh Wak Amin
Cerbung Musi Bebanyu (25)


“SAMPE mano taditu?”
“Libatkan selalu wong tuwooo.” Serempak hadirin ngomong sambil senyum-senyum ketawo.
“Nak terus apo idak?”
“Teruuuus …”
“Nak terus apo makan?”
“Makaaaan.”
Galo-galo ketawo.
“Kato panitia le kepalang tanggung ustad. Abiskela duken, baru kito makan samo-samo …”
Hadirin bisik-bisik bae.
“Lanjut?”
“Lanjuuuut …”
“Baikla saudara-saudara sekalian. Ini yang terakhir, buncitan.” Ustad Cecep nyelik jam lagi. Nyingok hadirin pecak gembira galo.
Namonyo perut ustad …
Apo yang dijingok dak lagi pasaaaat …
“Kapanla terakhir berarti sudahni maaa …”
“Makaaaan …”
Sampe kenyang …
Apo yang terakhir ini, kato Ustad Cecep dengan nada suaro agak dinyaringke supayo dak lesu yang endengarnyo, caro endidik anak.
Makmano?
Pertamo, kata sang ustad, parakke dio dengan Tuhan. Keduwo, tanamkan selalu bebuat baik kepada sesamo. Ketiga, hormati yang lebih tuwo, sayangi yang lebih mudo, dan ayomila yang seumur dengan kito.
“Apo maksud parakke dengan Tuhan?”
Maksudnyo, kato Ustad Cecep, tanamkan iman dan takwa, beribadah dengan ikhlas hanya kepada Allah SWT. Jauhi larangan dan teladanila Rasulullah SAW.
“Ini idak, yang ditiru Michael Jackson, David Beckham dan yang lain-lain. Kadangtu waktu ditanyo ngapo niru si tuwotu, apo jawabnyo. Melok-melok bae …”
Ha ha ha ha …
“Apo dak ancur dunio …”
Seharusnyo, “Yang kito tirutu … siapo?” Tanyo Ustad Cecep.
“ Mick Jaggeeeer …” Teriak siswa yang bekelamin lanang.
“James Booooond,” simbat siswi yang duduk di urutan tengah.
“Mati kito … Pacak kelebu kalu mak ini …” uji Ustad Cecep.
Namonyo budak mudo …
Galo-galonyo cak nak dio …
Dak mikirke akibatnyo …
“Ustad ulangi yo. Siapo yang harus kito meloki dan contoh?”
“Rasulullah,” jawab wali murid bebaju putih tangan panjang, bekopiah item lamo.
“Naaa … itu baru klop namonyo.”
Ngapo kito katoke klop, karno beliautu adalah junjungan kito. Utusan Allah. Punya akhlak dan budi pekerti yang mulia, serta nabi yang terakhir.
“Sampe sini paham dak?”
“Paham ustaaad …”
Niyan apo …
Gek ditanyo dak tau …
Namonyotu purak-purak dak tau …
“Kalu mak itu, kito lanjutke lagi yang keduwo …”
Teng … teng .. teng …
Lonceng jam bebunyi duo belas kali. Tando jam dua  belas siang.
“Apo yang keduwo?  Selalu bebuat baik kpeada sesamo. Apo retinyo? Retinyotu galak nulung uwong. Idak berat tangan, idak kikir dan idak …”
“Sombong,” simbat siswa berambut potongan cepak.
“Betul … betul …”
Kalu kito galak nulung uwong, gektu kito ditolong Tuhan. Sebaliknyo, kalu kito dak galak nulung uwong,  Yang Kuaso dak bakalan nulung kito …
“Paham?”
“Pahaaaam …”
“Perlu contoh dak?”
“Dak perluuuu …”
“Perlu ustaaad …”
Supayo adil, Ustad Cecep nanyo lagi.
“Perlu contoh dak?”
“Perluuu …:
“Na, mak itu. Harus kompak supayo rezeki kito tambah banyak …”
Apo contohnyo? Mudah bae. Ado kawan sekelas kito buntu. Dak katik niyan duit sepeser pun untuk embayar duit SPP. Nemui kito, nak minjem duit.
“Makmano. Ditulung apo idak?”
“Dituluuuung …”
“Gratis apo mintak balikke pinjamantu gek …?”
“Balikkeeee …” Jawab siswa serempak.
“Kapan-kapan bae …” Uji guru betino sambil ketawo geli.
“Bagus. Bagus galo jawabannyo adik-adik dan ibuk-ibuk sekalian. Tapi yang lebih bagus lagi kalu kito enjukke bae duittu sebagai sedekah, bukannyo pinjaman. Ngapo?”
Duit kito dak katik lagi ustad …
Husss, peritungan niyan …
Yo namonyo duit …
Dak makan kalu dak ado duit …
“Pahalonyo besak niyan,” jelas Ustad Cecep, becepet nambahke .. “Kalu idak, yo dak apo-apo, asalke bae dak kito batasi kapan utangtu pacak dibalikke. Ngerti kiro-kiro?”
“Ngertiiiii …”
“Na, yang ketigo. Hormatila yang tuwo, sayangila yang lebih mudo, dan ayomi yang seumur dengan kito. Perlu nak diterangke?”
“Perluuuu …”
“Jangan panjang igo, ustad.” Kato siswi berambut poni.
“Ngapo?”
“Perutni ustad. La be bunyi dari tadi. Kroook … kriukkk. Krokk …”
Ketawo galo.
Ado-ado bae …
Perut bae bebunyi …
Apolagi yang bukan perut …
Pasti benyanyi …
Hi hi hi hi
“Payula kalu mak itu, ustad pendekke bae penjelasannyo …”
Apo pacak?
“Dengan uwong tuwo kito hormati. Jangan galak ngelawan. Ujinyo jangan metu malem-malem, kamu metu … Apo gawe?”
“Llanang tula yang  galak metutu, ustad.” Uji siswi bekulit putih cak kapas.
“Betino jugo, ustad. Galak kelayapan malam. Dugem … Pegi malem balik subuh.” Simbat siswa berambut keriting digulung, dak galak ngalah.
Ampir nak begocoh.
Priiiit … priiiit … priiiit …
“Sudah … sudah …” Beberapa ikok guru tepakso ngelerai, nenangke lanang inoni. Malu samo uwong banyak kalu sampe begocoh.
Ustad Cecep tepakso turun panggung, melok nenangke. Alhamdulilla h tenang. La pacak penesan dan ketawo-tawo lagi.
“Darah mudo. Panas galo-galo,” kato Ustad Cecep. “Makmano nak endinginkenyo? Itula tugas kito samo-samo, terutamo uwong tuwo dan para guru di sekolah …”
“Yang mudo harus pacak embawak diri, yang tuwo pacak nyesuaike diri … Sampe sini ado yang masih nak ditanyoke?”
Diem galo-galo.
“Jadi kesimpulannyo, anak itu amanah dari Allah SWT kepada kito selaku  uwong tuwo. Harus dijago baik-baik. Kalu idak …”
“Nagapo ustad?” Tanyo Pak Satpam sekolah yang lenak besiap enjago meja makan besak.
“Kalu idak, kito dak bakalan biso nyium …”
“Betinooo …” Teriak siswa baru serempak.
“Bukan betino adik-adikku … Tapi nyium bauk sur …”
“Goooo …”
                                                                        -----------------------------------


 Payu Kito Balik
Oleh Wak Amin
Musi Bebanyu (26)

LEPAS salat zuhur bejamah yang diimami Ustad Cecep, dilanjutke dengan acaro santap siang besamo.
Na, pas uwong, dak lanang dak betino, sedang lemak-lemaknyo makan nasi kunyit panggang ayam,
Mamat en Lebay dikongkon naik panggung.
“Idup Ok om kito,” uji Ningsiih ngajak Olis samo Yuli betepuk tangan nyemangati Mamat dan Lebay
supayo dak lemes gino waktu nyanyi gektu.
“Terimo kasih hadirin atas kesediannyo nerimo kami beduwoni. Kami tegak disinini nak nyanyi, katik la in. Nyanyike apo. Lagu, la jelas. Karya siiapo, Ismail Marzuki, la tentu. Judulnyo … “Selendang Sutera.”
Betepuk tangan galo.
Ado yang betepuk tangan pakek garpu, mukul lambat-lambat ke piring. Ado yang  nepak-nepak kursi. Ado lagi yang narokke duken piring berisi nasi ke kursi, baru betepuk tangan. Pokoknyo serula …
Mamat metik gitar samo anggota personil ben pengiring, Lebay besiap metuke suaro emasnyo … Inila dio syair lagunyo …   

 “Selenda sutra
     tanda mata darimu …
        telah kutrima
            sebulan yang lalu …
          
            Selendang sutra
              mulai di saat itu
                turut serentak
                   di dalam baktiku …                      
 
                          Ketika lenganku
                            terluka parah
                              selendang sutramu
                                   turut berjasa

                                        Selendang sutra
                                            kini pembalut luka
                                               cabik semata
                                                   tercapai tujuannya … “

Abis Lebay, Mamat yang benyanyi. Beganti posisi. Kalu taditu Mamat nyekel gitar, sekarang mikropon. Mak itu jugo mamang kito, Lebay. Kalu taditu nyekel mikropon sambil nyanyi, sekarang nyekel gitar ngiringi konco benyanyi.
“Terima kasih, terima kasih,”uji Mamat nanggepi tepuk tangan siswo baru dan lamo yang baru berenti betepuk setelah dio ngomong  mak ini …
“Izinkan saya nyumbangke sebuah tembang. Judulnyo …? Waduh, maaf hadirin aku lupo niyan. “
Ha ha ha ha …
“Lum two la pelupo,” kato wali murid bekopiah putih. Saking ngakaknyo ketawo lupo kalu pas ngangap giginyo la dak katik galo ruponyo  
Ompong niyeee …
Namonyo jugo la tuweee …
Idak ompong, rambut ditumbuhi uban ..
Irama musik melantun merdu. Satu … duwo .. tiii .. go. Metula suaro emas Mamat.

“Terpujilah wahai engkau
   ibu bapak guru …
    namamu akan selalu hidup
      dalam sanubariku …

    Semua baktimu akan kuukir
    di dalam hatiku
       s’bagai prasasti trima kasihku
       ‘ntuk pengabdianmu …

       Engkau bagai pelita
        dalam kegelapan
         engkau laksana embun
           penyejuk dalam kehausan …

            Engkau patriot pahlawan bangsa
              tanpa tanda jasa …”

Terakhir, sebelum turun panggung, Mamat en Lebay dikongkon lagi nyanyo beduwo. Duet. Idak pacak nulak karno yang ngongkon bukan bae  Ningsih dan konco-konconyo,  tapi jugo para ibu- bapak guru temasukla wali muridnyo jugo.
Apo judul lagunyo?
Ampar-ampar Pisang dan Dek Sangke.
Plak … plak … plak … plak …
“Selamat menikmati,” kato MC, lanang belagak tinggi semampai.
Sambil nikmati semangko, kates, pisang ambon dan es krim, Ningsih samo konco-konconyo dak berenti  muji penampilan Mamat en Lebay  di pucuk panggung. Dak kalah dengan penyanyi top …
Inila dio duet nyanyinyo …
Lagu pertamo …

           “Ampar ampar pisang
             pisangku belum masak
               masak sabigi
                 dihurung bari-bari
                  masak sabigi
                   dihurung bari-bari …

                     Mangga lepk mangga lepo
                         patah kayu bengkok
                          bengkok dimakan api
                            apinya clang curupan
                                 bengkok dimakan api
                                   apinya clang curupan …

                                     Nang mana batis kutung
                                       dikitipi dawang
                                         Nangmana batis kutung
                                          dikitipi dawang …”

Lagu keduwo …

    “Dek sangke aku dek sangke
       awak tunak ngaku juare
        alamat badan ‘kan sare
           akhirnye masuk penjare …

           Dek sangke ture sangke
            ujiku lanang tak batanye tua bangke
               anaknye ‘lah gadis gale
               
               Dek sangke gadis tegile
                dek sangke ture dek sangke
                     cempedak babuah nangke
                        dek sangke ture sangke
                         cempedak babuah nangke …

                           Dek sangke aku dek sangke
                            ujiku gadis tak batanye jande mude
                             anaknye ‘lah ade tige
                             Ddek sangke bujang tegile

                                Dek sangke ture sangke
                                  cempedak babuah nangke
                                     dek sangke ture sangke
                                       cempedak babuah nangka ….”

“Tambah sikok lagi oiii …” Pekik yang hadir. La besiap-siap nak balik.
Bebisik denget dengan anggota personil ben pengiring. Daklamo dak. Cuman dua puluh detik. Tedengerla lagu cak ini …

        “ Gelang sipaku gelang
                        gelang si rama-rama
                               mari pulang
                                  marilah pulang
                                      marilah pulang bersama-sama

                                           Mari pulang
                                              marilah pulang
                                                marilah pulang bersama-sama …”

                                                                           ----------------------------