Bola Pingpong (9)
Oleh Wak Amin
"HAI nona cantik. Keluarlah. Ini abang," rayu Johan.
"Bukan gitu caranya Bro merayu wanita itu," sindir Firdaus.
"Terus gimana?"
"Gini. Coba lihat caraku ..." Firdaus bersiul. Lama juga bersiulnya. Dia, Johan dan Bos Ahmad tak tahu di belakang mereka ada hiu yang kian mendekat.
Ha ha ha ...
"Cuma sebegitu aja?"
"Baru keluarin kata-kata merayu. Pasti dia mau. Keluar dari persem bunyiannya."
"Yang kata-kata merayu itu gima na. Kepingin aku mendengarnya."
"Okelah kalau begitu," jawab Firda us.
Seketika ...
Praaak ..
Byuuur ...
Si hiu menabrak jetski sampai ter belah dua. Ahmad, Firdaus dan Jo han terpental ke air.
Hiu makin beringas. Dia cabik-ca bik tubuh Ahmad, lalu Johan. Tera khir Firdaus yang nyaris berhasil naik ke atas boom.
Maria yang sempat menyaksikan adegan brutal si hiu dengan cepat naik boom. Meski kapalnya harus hancur berserakan di atas permuka an air.
Dooor ...
Dooor ...
Satu peluru yang dilesakkan Mr Fo rd berhasil melukai badan hiu. Tapi si hiu tak kenal menyerah.
Dia kejar Mr Ford. Makin beringas. Jetski berputar ke kanan. Mengeli lingi kapal besar yang siap hendak berangkat beberapa saat lagi.
Melihat Mr Ford dikejar si hiu, para kru kapal serempak keluar dari rua ngan mereka. Menuju gladak atas kapal.
Kapten Kapal, Kolonel Laut Johns on memerintahkan beberapa anak buahnya dengan melepaskan tem bakan kapsul ke arah hiu.
Tembakan kapsul tidak membuat mati si ikan hiu besar itu. Hanya berfungsi sebagai pembius. Ping san sementara waktu.
Jumat, 30 Agustus 2019
Bola Pingpong (8)
Bola Pingpong (8)
Oleh Wak Amin
IIICH ...
Maria berusaha berontak. Tapi ce ngkraman Mr Ford sangat kuat.
"Aku mohon padamu nona. Kita berdamai sebentar," bisik Mr Ford. Karena mendengar suara Maria, Firdaus cs kembali memutar jetski nya.
"Sepertinya dari arah sana Bos," ka ta Johan, menunjuk ke sebelah ka nan, tempat dimana Mr Ford dan Maria bersembunyi saat ini.
"Saya kesana nona kesana."
"Emangnya kamu siapa, suruh-su ruh aku ke jalur kiri?"
Sssst ...
"Udah, jangan ngajak berantem melulu. Cepat sana!"
Ahmad melihatnya ...
"Itu dia kapalnya. Cepat dekati!"
"Siap Bos," kata Firdaus.
Begitu jetski putar ke kanan, Maria sudah memacu kencang jetskinya. Dia menuju boom tempat bersan darnya kapal-kapal besar.
Sedangkan Mr Ford masih menung gu di balik batu apung besar. Dia ba ru memacu jetskinya setelah Firda us cs hampir tiba di boom.
Seketika berubah tenang setelah ta dinya terdengar suara jetski Maria. Ia kini bersembunyi di balik kapal besar pengangkut kendaraan roda dua dan empat.
"Matika mesinnya Han," kata Ah m ad. Dia meminta Johan dan Fir da us melihat dengan jeli ke sekitar boom.
"Pasti sembunyi disini dia," duga Ahmad.
"Yakin Bos?" Tanya Firdaus.
"Tadi kan kita lihat jetski si perem puan itu mengarah ke boom ini. La gian kalau tidak disini kemana lagi dia sembunyi."
Eeeem ...
"Sembunyi dimana, ayo ...!"
"Yach, di boom inilah Bos. Bos me mang hebat," puji Firdaus dan Jo han.
Oleh Wak Amin
IIICH ...
Maria berusaha berontak. Tapi ce ngkraman Mr Ford sangat kuat.
"Aku mohon padamu nona. Kita berdamai sebentar," bisik Mr Ford. Karena mendengar suara Maria, Firdaus cs kembali memutar jetski nya.
"Sepertinya dari arah sana Bos," ka ta Johan, menunjuk ke sebelah ka nan, tempat dimana Mr Ford dan Maria bersembunyi saat ini.
"Saya kesana nona kesana."
"Emangnya kamu siapa, suruh-su ruh aku ke jalur kiri?"
Sssst ...
"Udah, jangan ngajak berantem melulu. Cepat sana!"
Ahmad melihatnya ...
"Itu dia kapalnya. Cepat dekati!"
"Siap Bos," kata Firdaus.
Begitu jetski putar ke kanan, Maria sudah memacu kencang jetskinya. Dia menuju boom tempat bersan darnya kapal-kapal besar.
Sedangkan Mr Ford masih menung gu di balik batu apung besar. Dia ba ru memacu jetskinya setelah Firda us cs hampir tiba di boom.
Seketika berubah tenang setelah ta dinya terdengar suara jetski Maria. Ia kini bersembunyi di balik kapal besar pengangkut kendaraan roda dua dan empat.
"Matika mesinnya Han," kata Ah m ad. Dia meminta Johan dan Fir da us melihat dengan jeli ke sekitar boom.
"Pasti sembunyi disini dia," duga Ahmad.
"Yakin Bos?" Tanya Firdaus.
"Tadi kan kita lihat jetski si perem puan itu mengarah ke boom ini. La gian kalau tidak disini kemana lagi dia sembunyi."
Eeeem ...
"Sembunyi dimana, ayo ...!"
"Yach, di boom inilah Bos. Bos me mang hebat," puji Firdaus dan Jo han.
Rabu, 28 Agustus 2019
Bola Pingpong (7)
Bola Pingpong (7)
Oleh Wak Amin
MARIA sempat beberapa kali mele paskan tembakan ke arah jetski Mr Ford. Namun tak satu pun temba kan itu yang mengena.
Maria justru kehilangan jejak kini. Jetski Mr Ford tiba-tiba menghila ng di dekat pulau berdempet.
Kemana ya?
Maria memperlambat laju jetski nya. Sambil berdiri dia melihat ke sekitar pulau tak berpenghuni itu. Sepi ...
Dari belakang ...
Jetski Mr Ford melaju kencang dan berhasil melewati kepala Maria ya ng cepat-cepat menunduk.
Byuuur ...
Basah kuyup kena cipratan air ...
Ha ha ha ...
"Busyet. Awas ya!"
Maria geram dan marah. Dia kejar Mr Ford dengan kekuatan penuh. Je tski di depannya justru zig zug. Lalu belok kanan.
Menghilang lagi ...
"Nah itu dia!" Johan melihat Maria sedang mencari sesuatu.
"Cepat tembak," kata Ahmad.
Dooor ..
Dooor ...
Dua kali tembakan yang dilepaskan Firdaus sempat mengenai kaca de pan jetski. Mari bergegas memutar, mengarahkan jetskinya ke kanan.
Jetski Firdaus cs mendekat. Tapi mereka tak menemukan jetski Ma ria. Berputar-putar mengelilingi pu lau berdempet itu.
"Kemana ya cecunguk itu?" Tanya Johan penasaran. Baru kali ini dia dipermainkan wanita.
"Sembunyi kali," duga Ahmad.
"Tak bakalan jauh Bro. Tenang. Pas ti di sekitar pulau ini. Tak kan jauh," kata Firdaus.
"Hei adik cayang. Keluarlah. Abang tak bakalan tendang. Yuk kita berse nang-senang .." Rayu Johan dengan suara nyaring.
Maria mendengarnya ...
"Pacar ya?!"
Oleh Wak Amin
MARIA sempat beberapa kali mele paskan tembakan ke arah jetski Mr Ford. Namun tak satu pun temba kan itu yang mengena.
Maria justru kehilangan jejak kini. Jetski Mr Ford tiba-tiba menghila ng di dekat pulau berdempet.
Kemana ya?
Maria memperlambat laju jetski nya. Sambil berdiri dia melihat ke sekitar pulau tak berpenghuni itu. Sepi ...
Dari belakang ...
Jetski Mr Ford melaju kencang dan berhasil melewati kepala Maria ya ng cepat-cepat menunduk.
Byuuur ...
Basah kuyup kena cipratan air ...
Ha ha ha ...
"Busyet. Awas ya!"
Maria geram dan marah. Dia kejar Mr Ford dengan kekuatan penuh. Je tski di depannya justru zig zug. Lalu belok kanan.
Menghilang lagi ...
"Nah itu dia!" Johan melihat Maria sedang mencari sesuatu.
"Cepat tembak," kata Ahmad.
Dooor ..
Dooor ...
Dua kali tembakan yang dilepaskan Firdaus sempat mengenai kaca de pan jetski. Mari bergegas memutar, mengarahkan jetskinya ke kanan.
Jetski Firdaus cs mendekat. Tapi mereka tak menemukan jetski Ma ria. Berputar-putar mengelilingi pu lau berdempet itu.
"Kemana ya cecunguk itu?" Tanya Johan penasaran. Baru kali ini dia dipermainkan wanita.
"Sembunyi kali," duga Ahmad.
"Tak bakalan jauh Bro. Tenang. Pas ti di sekitar pulau ini. Tak kan jauh," kata Firdaus.
"Hei adik cayang. Keluarlah. Abang tak bakalan tendang. Yuk kita berse nang-senang .." Rayu Johan dengan suara nyaring.
Maria mendengarnya ...
"Pacar ya?!"
Selasa, 27 Agustus 2019
Bola Pingpong (6)
Bola Pingpong (6)
Oleh Wak Amin
SAAT Maria mengejar Mr Ford, tiba lah rombongan Firdaus, Ahmad dan Johan. Ketiganya turun dari mobil. Tapi setelah itu masuk lagi.
Mobil melaju menuju gardu dan ber henti di sana. Johan turun dari mo bil sambil berkacak pinggang.
"Hei Bung. Mana orang yang jaga ini gardu?"
"Sakit dan saya yang menggantikan nya Pak."
"Pak, Pak .. Tolong satu kapalnya. Bisa?"
"Enggak bisa Pak."
"Lho yang itu bukan kapal. Dasar geblek."
"Itu punya orang Pak."
"Ah .. Tak bisa. Sana!" Meski pelan, dorongan tangan kuri Johan baru san membuat si petugas gardu terjatuh, kecebur dalam air.
Firdaus menolongnya ..
"Makanya, kalau penakut jangan sok berani tau," kata Firdaus sete lah si petugas dengan pakaian ba sah kuyup sudah berada di atas gardu lagi.
"Mana kuncinya?"
"Sebentar Pak. Saya cari dulu."
"Dimana?" Johan sudah habis ke sabaran. Matanya melotot.
Sang Bos menenangkan si anak bu ah ...
"Jangan melotot lah. Bisa keluar bi ji mata kamu."
"Habis. Bego amat itu orang."
"Namanya juga orang Han. Biasa lah. Santai, santai ..."
Ha ha ha ha ...
Oleh Wak Amin
SAAT Maria mengejar Mr Ford, tiba lah rombongan Firdaus, Ahmad dan Johan. Ketiganya turun dari mobil. Tapi setelah itu masuk lagi.
Mobil melaju menuju gardu dan ber henti di sana. Johan turun dari mo bil sambil berkacak pinggang.
"Hei Bung. Mana orang yang jaga ini gardu?"
"Sakit dan saya yang menggantikan nya Pak."
"Pak, Pak .. Tolong satu kapalnya. Bisa?"
"Enggak bisa Pak."
"Lho yang itu bukan kapal. Dasar geblek."
"Itu punya orang Pak."
"Ah .. Tak bisa. Sana!" Meski pelan, dorongan tangan kuri Johan baru san membuat si petugas gardu terjatuh, kecebur dalam air.
Firdaus menolongnya ..
"Makanya, kalau penakut jangan sok berani tau," kata Firdaus sete lah si petugas dengan pakaian ba sah kuyup sudah berada di atas gardu lagi.
"Mana kuncinya?"
"Sebentar Pak. Saya cari dulu."
"Dimana?" Johan sudah habis ke sabaran. Matanya melotot.
Sang Bos menenangkan si anak bu ah ...
"Jangan melotot lah. Bisa keluar bi ji mata kamu."
"Habis. Bego amat itu orang."
"Namanya juga orang Han. Biasa lah. Santai, santai ..."
Ha ha ha ha ...
Senin, 26 Agustus 2019
Bola Pingpong (5)
Bola Pingpong (5)
Oleh Wak Amin
MR Ford sengaja menghentikan mo bilnya dekat pelabuhan. Dia tidak tu run. Tetap berada di dalam mobil. Dia menelepon seseorang.
"Dia mengejar saya Jenderal," kata Mr Ford sembari melihat ke belaka ng dari balik kaca spion.
Maria rupanya ...
"Maaf Jenderal. Si perempuan itu sudah ada di belakang mobilku se karang. Saya harus segera pergi sekarang."
Maria terkecoh. Saat dia turun dari motor dan hendak mendekati mobil Mr Ford, itu mobil melaju cepat. Se mpat ngepot pula.
Debu beterbangan kemana-mana.
"Kampret tu orang," umpat Maria. Dia kejar sampai ujung pelabuhan. Ada jembatan di sana.
Mr Ford berlari kencang menuju gar du dan tempat berlabuhnya jetski dan motor cepat lainnya.
Mr Ford melompat. Dia kepas tali sauh. Dia nyalakan mesin. Jetski pun melaju cepat.
Dari kejauhan Maria memacu ken cang sepeda motornya. Sampai di gardu tempat kapal berlabuh, dia bersitegang dengan pemilik kapal motor cepat.
"Tidak bisa Mbak. Ini mau dkapalslsebentar lagi," kata si lelaki bertu buh tinggi kurus itu.
"Saya tak mau tau. Saya siap bayar. Situ maunya berapa?"
"Maaf Mbak. Bukan saya tak mau sewakan atau apa. Tapi ini sudah dibooking. Bisa kena marah saya."
"Kan cuma sebentar. Enggak lama kok. Saya janji deh, kalau situ kena marah, saya siap enjelasinya."
Si empunya jetski masih bimbang dan ragu ...
"Mas boleh pilih. Mau sewakan, atau saya paksa pake' kapal ini sekarang!" Ancam Maria.
Mulai ketakutan ...
"Si .. si .. silakan Mbak dipake' jetskinya. Enggak usah bayar. Gratis aja," kata pria berkumis keriting itu gemetaran.
"Saya bayar nanti."
"Enggak usah Mbak. Pake' aja ..."
Oleh Wak Amin
MR Ford sengaja menghentikan mo bilnya dekat pelabuhan. Dia tidak tu run. Tetap berada di dalam mobil. Dia menelepon seseorang.
"Dia mengejar saya Jenderal," kata Mr Ford sembari melihat ke belaka ng dari balik kaca spion.
Maria rupanya ...
"Maaf Jenderal. Si perempuan itu sudah ada di belakang mobilku se karang. Saya harus segera pergi sekarang."
Maria terkecoh. Saat dia turun dari motor dan hendak mendekati mobil Mr Ford, itu mobil melaju cepat. Se mpat ngepot pula.
Debu beterbangan kemana-mana.
"Kampret tu orang," umpat Maria. Dia kejar sampai ujung pelabuhan. Ada jembatan di sana.
Mr Ford berlari kencang menuju gar du dan tempat berlabuhnya jetski dan motor cepat lainnya.
Mr Ford melompat. Dia kepas tali sauh. Dia nyalakan mesin. Jetski pun melaju cepat.
Dari kejauhan Maria memacu ken cang sepeda motornya. Sampai di gardu tempat kapal berlabuh, dia bersitegang dengan pemilik kapal motor cepat.
"Tidak bisa Mbak. Ini mau dkapalslsebentar lagi," kata si lelaki bertu buh tinggi kurus itu.
"Saya tak mau tau. Saya siap bayar. Situ maunya berapa?"
"Maaf Mbak. Bukan saya tak mau sewakan atau apa. Tapi ini sudah dibooking. Bisa kena marah saya."
"Kan cuma sebentar. Enggak lama kok. Saya janji deh, kalau situ kena marah, saya siap enjelasinya."
Si empunya jetski masih bimbang dan ragu ...
"Mas boleh pilih. Mau sewakan, atau saya paksa pake' kapal ini sekarang!" Ancam Maria.
Mulai ketakutan ...
"Si .. si .. silakan Mbak dipake' jetskinya. Enggak usah bayar. Gratis aja," kata pria berkumis keriting itu gemetaran.
"Saya bayar nanti."
"Enggak usah Mbak. Pake' aja ..."
Minggu, 25 Agustus 2019
Bola Pingpong (4)
Bola Pingpong (4)
Oleh Wak Amin
MARIA terus mengejar. Tepat di tepi jalan dia paksa berhenti pengenda ra motor. Karena takut, si pria peng endara buru-buru turun dari sepeda motornya sambil menyerahkan kun ci.
"Maaf ya Mas. Pinjam sebentar," ka ta Maria dengan raut muka ramah.
Reeeen ...
Reeeen ...
Melaju kencang menyusuri jalan ra ya. Kali ini dia beroperasi sendirian. Tidak ditemani Letnan Subekti dan Mayor Hanafi. Kedua temannya ini tewas ditembak.
Dari sebuah bengkel ...
"Ayo cepat kejar taun," perintah Ah mad pada Johan yang keasyikan merokok dan tengok cewek masuk kafe.
"Siap Bos."
Mesin ngadat ...
Ahmad marah.
"Tadi nyala, kenapa sekarang tidak. Mobil yang rusak mesinnya atau kamu yang bodoh, haaa?"
"Biar saya periksa Bos Ahmad."
Firdaus turun dari mobil. Dia buka kap dan periksa mesin. Sedangkan Johan menyalakan mobil.
Kriiiing ...
Telepon masuk. Biasa, dari Big Bos Rahmat.
"Gimana? Berhasil kagak?" Tanya Rahmat dengan suara datar.
"Berhasil satu Bos. Satunya masih lolos."
"Bagus, bagus. Yang masih hidup siapa, yang mati siapa?"
"Yang mati yang laki Bos. Yang perempuan belum."
"Waduh. Justru yang perempuan harusnya dulu kalian dooor. Laki belakangan tak apa-apa."
"Yah gimana lagi Bos. Memang gitu keadaannya," jawab Ahmad seraya meminta Johan tak otak-atik dulu kunci kontak mobil.
"Ya sudah. Sekarang tugas lu same tu dua orang harus habisi perempu an sok jagoan itu. Mengerti?"
"Mengerti Bos."
"Kalu sampe gagal aku makan kepa la kalian bertiga. Paham?"
"Paham Bos."
Oleh Wak Amin
MARIA terus mengejar. Tepat di tepi jalan dia paksa berhenti pengenda ra motor. Karena takut, si pria peng endara buru-buru turun dari sepeda motornya sambil menyerahkan kun ci.
"Maaf ya Mas. Pinjam sebentar," ka ta Maria dengan raut muka ramah.
Reeeen ...
Reeeen ...
Melaju kencang menyusuri jalan ra ya. Kali ini dia beroperasi sendirian. Tidak ditemani Letnan Subekti dan Mayor Hanafi. Kedua temannya ini tewas ditembak.
Dari sebuah bengkel ...
"Ayo cepat kejar taun," perintah Ah mad pada Johan yang keasyikan merokok dan tengok cewek masuk kafe.
"Siap Bos."
Mesin ngadat ...
Ahmad marah.
"Tadi nyala, kenapa sekarang tidak. Mobil yang rusak mesinnya atau kamu yang bodoh, haaa?"
"Biar saya periksa Bos Ahmad."
Firdaus turun dari mobil. Dia buka kap dan periksa mesin. Sedangkan Johan menyalakan mobil.
Kriiiing ...
Telepon masuk. Biasa, dari Big Bos Rahmat.
"Gimana? Berhasil kagak?" Tanya Rahmat dengan suara datar.
"Berhasil satu Bos. Satunya masih lolos."
"Bagus, bagus. Yang masih hidup siapa, yang mati siapa?"
"Yang mati yang laki Bos. Yang perempuan belum."
"Waduh. Justru yang perempuan harusnya dulu kalian dooor. Laki belakangan tak apa-apa."
"Yah gimana lagi Bos. Memang gitu keadaannya," jawab Ahmad seraya meminta Johan tak otak-atik dulu kunci kontak mobil.
"Ya sudah. Sekarang tugas lu same tu dua orang harus habisi perempu an sok jagoan itu. Mengerti?"
"Mengerti Bos."
"Kalu sampe gagal aku makan kepa la kalian bertiga. Paham?"
"Paham Bos."
Bola Pingpong (3)
Bola Pingpong (3)
Oleh Wak Amin
PAK ...
Rahmat tiba-tiba menepuk tangan kanannya. Ada apa gerangan?
"Nyamuk tau," jawab Ahmad saat ditanya Johan.
"Kalau ditembak saja gimana Bos?" usul Firdaus.
Ssssst ...
Rombongan peserta rapat keluar ge dung, menuju kendaraan mereka ya ng terparkir di areal gedung perkan toran berlantai lima itu.
Dari atas gedung seberang jalan, Mr Ford membidikkan senjatanya ke sasaran utama, Mayor Hanafi
Doooor ...
Kena dada, Mayor Hanafi tewas se ketika. Maria sempat melihat ke ar ah gedung. Dia berlari kencang me nyeberangi jalan.
Dengan santainya Mr Ford berjalan melenggang sambil bersiul riang menuju mobilnya yang parkir di parkiran bawah tanah.
Dooor ...
Dooor ...
Mobil melaju, walau di tengah bero ndongan peluru yang dilesakkan Maria.
Terus mengejar ...
Lewat lift, melewati anak tangga, ketemu di areal parkir ..
Syiiit ...
Kaca separo dibuka.
"Hai sayang .." Sapa Mr Ford sambil tertawa.
Mobil pun melaju. Maria lambat be raksi setelah tadinya sempat ter kesima.
Dooor ...
Dooor ..
Menembak angin ..
Oleh Wak Amin
PAK ...
Rahmat tiba-tiba menepuk tangan kanannya. Ada apa gerangan?
"Nyamuk tau," jawab Ahmad saat ditanya Johan.
"Kalau ditembak saja gimana Bos?" usul Firdaus.
Ssssst ...
Rombongan peserta rapat keluar ge dung, menuju kendaraan mereka ya ng terparkir di areal gedung perkan toran berlantai lima itu.
Dari atas gedung seberang jalan, Mr Ford membidikkan senjatanya ke sasaran utama, Mayor Hanafi
Doooor ...
Kena dada, Mayor Hanafi tewas se ketika. Maria sempat melihat ke ar ah gedung. Dia berlari kencang me nyeberangi jalan.
Dengan santainya Mr Ford berjalan melenggang sambil bersiul riang menuju mobilnya yang parkir di parkiran bawah tanah.
Dooor ...
Dooor ...
Mobil melaju, walau di tengah bero ndongan peluru yang dilesakkan Maria.
Terus mengejar ...
Lewat lift, melewati anak tangga, ketemu di areal parkir ..
Syiiit ...
Kaca separo dibuka.
"Hai sayang .." Sapa Mr Ford sambil tertawa.
Mobil pun melaju. Maria lambat be raksi setelah tadinya sempat ter kesima.
Dooor ...
Dooor ..
Menembak angin ..
Jumat, 23 Agustus 2019
Bola Pingpong (2)
Bola Pingpong (2)
Oleh Wak Amin
SEMINGGU kemudian ..
DI ruang rapat ...
"Dugaan sementara, yang membu nuh Letnan Subekti adalah seorang profesional. Dia pembunuh bayar an," kata Pangsar Jenderal Sutarm an sambil memperlihat slide foto pelaku.
"Dia amat hebat dan selama ini suk ses menjalankan tugasnya," imbuh Pangsar.
"Tentang Kamil, pelakunya adalah kelompok mafia. Karena tidak me nginginkan rahasia mereka terbo ngkar, ya dihabisilah Kamil, saksi kunci."
"Saya Pangsar."
"Silakan Non Maria."
"Kembali ke Letnan Subekti. Mak sud saya pelakunya. Boleh tahu siapa dia punya nama."
"Mr Ford Non Maria," jawab Pang sar.
"Masih layang dan tampan. Apa Non Maria ...?"
Ha ha ha ...?
Peserta rapat lain serempak keta wa.
Maria jadi perhatian ...
"Yang saya tahu orangnya baik. Ta pi kenapa ya jadi pembunuh bayar an. Apalagi, sesuai hasil pelacakan intelijen kami, Non Maria dan May or Hanafi bakal jadi target berikut nya."
Mayor Hanafi dan Maria saling pan dang ...
"Jenderal tak perlu risaukan itu. Ka mi berdua siap mengatasinya," ka ta Mayor Hanafi dengan suara ma ntap, tegas.
"Saya apresiasi itu," jelas Pangsar. "Satu hal yang mesti saya harus sampaikan, walau agak berat ka rena baru dugaan sementara, Mr Ford adalah orang suruhan Raja Jasina."
Haaaa ...
"Enggak kapok-kapok juga itu raja," kata Maria. Geram mendengar na ma Raja Jasina disebut-sebut da lam rapat terbatas itu.
"Non Maria."
"Saya Jenderal."
"Baik-baik saja kan?" Pangsar Sutar man melihat mukanya Maria sem pat memerah tadinya.
Oleh Wak Amin
SEMINGGU kemudian ..
DI ruang rapat ...
"Dugaan sementara, yang membu nuh Letnan Subekti adalah seorang profesional. Dia pembunuh bayar an," kata Pangsar Jenderal Sutarm an sambil memperlihat slide foto pelaku.
"Dia amat hebat dan selama ini suk ses menjalankan tugasnya," imbuh Pangsar.
"Tentang Kamil, pelakunya adalah kelompok mafia. Karena tidak me nginginkan rahasia mereka terbo ngkar, ya dihabisilah Kamil, saksi kunci."
"Saya Pangsar."
"Silakan Non Maria."
"Kembali ke Letnan Subekti. Mak sud saya pelakunya. Boleh tahu siapa dia punya nama."
"Mr Ford Non Maria," jawab Pang sar.
"Masih layang dan tampan. Apa Non Maria ...?"
Ha ha ha ...?
Peserta rapat lain serempak keta wa.
Maria jadi perhatian ...
"Yang saya tahu orangnya baik. Ta pi kenapa ya jadi pembunuh bayar an. Apalagi, sesuai hasil pelacakan intelijen kami, Non Maria dan May or Hanafi bakal jadi target berikut nya."
Mayor Hanafi dan Maria saling pan dang ...
"Jenderal tak perlu risaukan itu. Ka mi berdua siap mengatasinya," ka ta Mayor Hanafi dengan suara ma ntap, tegas.
"Saya apresiasi itu," jelas Pangsar. "Satu hal yang mesti saya harus sampaikan, walau agak berat ka rena baru dugaan sementara, Mr Ford adalah orang suruhan Raja Jasina."
Haaaa ...
"Enggak kapok-kapok juga itu raja," kata Maria. Geram mendengar na ma Raja Jasina disebut-sebut da lam rapat terbatas itu.
"Non Maria."
"Saya Jenderal."
"Baik-baik saja kan?" Pangsar Sutar man melihat mukanya Maria sem pat memerah tadinya.
Bola Pingpong (1)
Sambungan dari serial 'Mana Tahan' ..
Bola Pingpong (1)
Oleh Wak Amin
TIBA di markas dengan kepala di perban, Ahmad melapor kepada Bos Rahmat, nyaris menembak mati Mayor Hanafi dan Maria.
"Nyaris, nyaris. Apaan nyaris. Itu sama artinya kalian berdua ini gagal tau .."
Mata Bos Rahmat memerah. Dia marah besar.
"Kenapa kepala lu diperban-perban segala?"
"Luka Bos," jawab Ahmad gugup. Le bih gugup lagi Johan. Sempat ter kencing di celana.
"Kena gocoh si perempuan atau oleh mayor itu?"
"Bukan Bos. Jatuh dari truk, tak sengaja kepala mengenai aspal," kata Johan.
"Diam kamu bodoh. Aku tak tanya kamu tau. Aku tanya bosmu yang tekak ini ..."
Johon terpaksa diam.
Kriiiing ...
Telepon berbunyi ..
Firdaus bergegas mendekati meja telepon batu di ruang belakang. Ha nya sebentar. Lalu berjalan tergo poh-gopoh menemui Bos Rahmat.
Dia membisikkan sesuatu ...
Sang Bos sedikit terperanjat, sebe lum tertawa terbahak-bahak.
Juga ikut tertawa Johan dan bos nya, Ahmad.
"Kenapa tertawa ha?"
"Bos ketawa, kami ketawalah," kata Johan rada gemetaran.
"Tak boleh tau .."
Hua ha ha ha ...
Hua ha ha ha ...
"Kenapa kalian diam?" Satu-satu di plototi Bos Rahmat.
"Ayo, ketawalah ..."
"Siap Bos"
Ha ha ha ha ...
He he he he ...
Hi hi hi hi ...
Bola Pingpong (1)
Oleh Wak Amin
TIBA di markas dengan kepala di perban, Ahmad melapor kepada Bos Rahmat, nyaris menembak mati Mayor Hanafi dan Maria.
"Nyaris, nyaris. Apaan nyaris. Itu sama artinya kalian berdua ini gagal tau .."
Mata Bos Rahmat memerah. Dia marah besar.
"Kenapa kepala lu diperban-perban segala?"
"Luka Bos," jawab Ahmad gugup. Le bih gugup lagi Johan. Sempat ter kencing di celana.
"Kena gocoh si perempuan atau oleh mayor itu?"
"Bukan Bos. Jatuh dari truk, tak sengaja kepala mengenai aspal," kata Johan.
"Diam kamu bodoh. Aku tak tanya kamu tau. Aku tanya bosmu yang tekak ini ..."
Johon terpaksa diam.
Kriiiing ...
Telepon berbunyi ..
Firdaus bergegas mendekati meja telepon batu di ruang belakang. Ha nya sebentar. Lalu berjalan tergo poh-gopoh menemui Bos Rahmat.
Dia membisikkan sesuatu ...
Sang Bos sedikit terperanjat, sebe lum tertawa terbahak-bahak.
Juga ikut tertawa Johan dan bos nya, Ahmad.
"Kenapa tertawa ha?"
"Bos ketawa, kami ketawalah," kata Johan rada gemetaran.
"Tak boleh tau .."
Hua ha ha ha ...
Hua ha ha ha ...
"Kenapa kalian diam?" Satu-satu di plototi Bos Rahmat.
"Ayo, ketawalah ..."
"Siap Bos"
Ha ha ha ha ...
He he he he ...
Hi hi hi hi ...
Rabu, 21 Agustus 2019
Mana Tahan (24)
Mana Tahan (24)
Oleh Wak Amin
SEBUAH truk lewat, tak lama kemudian ..
"Kita lompat Bos," ucap si anak bu ah. Penasaran, marah dan geram ka rena merasa telah dipermainkan Maria dan Mayor Hanafi.
Lompatan pertama berhasil. Si an ak buah sukses melompat. Tapi lo mpatan kedua gagal. Kaki sang bos nginjak ujung bak truk, terjatuh ke jalan beraspal.
Berguling-gulingan. Tapi tidak sam pai mati ...
Si anak buah tak tega melihatnya. Dia akhirnya melompat dari truk. Dia berlari mendekati bosnya yang masih terguling di jalan.
Kuatir juga si anak buah. Pasti kena marah. Karena dia lah yang punya inisiatif melompat ke bak truk.
"Bos, bangun Bos," kata si anak bu ah sambil menarik-narik tangan sang bos.
Belum juga sadar, si anak buah bi ngung. Bagaimana caranya agar sang bos sadar.
Sebab kalau tidak sadar-sadar, keta huan Pak Polisi ini. Bisa gawat. Bi sa ketangkap. Masuk bui.
Iccch ngeri aku ..
Aku tak mau masuk bui. Kalau ma suk hotel atau mal, maulah aku ...
"Johan. Han .." Sang bos memang gil si anak buah dengan suara yang amat lemah.
Si anak buah ketawa. Girang bukan main tengok bosnya sudah sadar. Sudah siuman.
"Johan. Dimana di kau?"
"Di sebelah kanan Bos," jawab si anak buah.
"Dimana aku sekarang?"
"Di jalan Bos."
Haaa!
"Dimana?"
"Di tengah jalan Bos," kata si anak buah dengan perasaan riang.
"Bukan di hotel Han?"
"Bukan Bos."
"Kenapa aku bisa disini ya Han?"
"Bos jatuh dari truk," kata Johan, terpaksa terus terang.
Haaaa!
"Kok bisa ya Han?"
"Begitulah Bos. Tadi Bos melompat ke bak truk dari atas jembatan. Wa ktu melompat ke bak truk, Bos terla mbat. Bukan bak yang diinjak tapi pintunya bak .."
"Terus, terus .."
"Karena salah injak, Bos jatuhlah ke jalan. Kasihan lihat Bos jatuh, aku lompat dari truk dan nolongin Bos. Saya takut Bos kenapa-kenapa be gitu."
"Tapi aku tak apa-apa kan Han?"
"Tidak apa-apa Bos."
"Kepalaku pecah tidak?"
"Tidak Bos."
"Tanganku luka tidak?"
"Tidak Bos."
"Kaki?"
"Tidak Bos."
Sang bos tiba-tiba menguap.
"Tolong jagain aku ya."
"Jagain apa Bos?"
"Aku ngantuk. Mataku berat. Aku mau tidur dulu. Sebentar aja."
"Siap Bos," ucap Johan, heran cam pur penasaran. (tamat)
Oleh Wak Amin
SEBUAH truk lewat, tak lama kemudian ..
"Kita lompat Bos," ucap si anak bu ah. Penasaran, marah dan geram ka rena merasa telah dipermainkan Maria dan Mayor Hanafi.
Lompatan pertama berhasil. Si an ak buah sukses melompat. Tapi lo mpatan kedua gagal. Kaki sang bos nginjak ujung bak truk, terjatuh ke jalan beraspal.
Berguling-gulingan. Tapi tidak sam pai mati ...
Si anak buah tak tega melihatnya. Dia akhirnya melompat dari truk. Dia berlari mendekati bosnya yang masih terguling di jalan.
Kuatir juga si anak buah. Pasti kena marah. Karena dia lah yang punya inisiatif melompat ke bak truk.
"Bos, bangun Bos," kata si anak bu ah sambil menarik-narik tangan sang bos.
Belum juga sadar, si anak buah bi ngung. Bagaimana caranya agar sang bos sadar.
Sebab kalau tidak sadar-sadar, keta huan Pak Polisi ini. Bisa gawat. Bi sa ketangkap. Masuk bui.
Iccch ngeri aku ..
Aku tak mau masuk bui. Kalau ma suk hotel atau mal, maulah aku ...
"Johan. Han .." Sang bos memang gil si anak buah dengan suara yang amat lemah.
Si anak buah ketawa. Girang bukan main tengok bosnya sudah sadar. Sudah siuman.
"Johan. Dimana di kau?"
"Di sebelah kanan Bos," jawab si anak buah.
"Dimana aku sekarang?"
"Di jalan Bos."
Haaa!
"Dimana?"
"Di tengah jalan Bos," kata si anak buah dengan perasaan riang.
"Bukan di hotel Han?"
"Bukan Bos."
"Kenapa aku bisa disini ya Han?"
"Bos jatuh dari truk," kata Johan, terpaksa terus terang.
Haaaa!
"Kok bisa ya Han?"
"Begitulah Bos. Tadi Bos melompat ke bak truk dari atas jembatan. Wa ktu melompat ke bak truk, Bos terla mbat. Bukan bak yang diinjak tapi pintunya bak .."
"Terus, terus .."
"Karena salah injak, Bos jatuhlah ke jalan. Kasihan lihat Bos jatuh, aku lompat dari truk dan nolongin Bos. Saya takut Bos kenapa-kenapa be gitu."
"Tapi aku tak apa-apa kan Han?"
"Tidak apa-apa Bos."
"Kepalaku pecah tidak?"
"Tidak Bos."
"Tanganku luka tidak?"
"Tidak Bos."
"Kaki?"
"Tidak Bos."
Sang bos tiba-tiba menguap.
"Tolong jagain aku ya."
"Jagain apa Bos?"
"Aku ngantuk. Mataku berat. Aku mau tidur dulu. Sebentar aja."
"Siap Bos," ucap Johan, heran cam pur penasaran. (tamat)
Selasa, 20 Agustus 2019
Mana Tahan (23)
Mana Tahan (23)
Oleh Wak Amin
TIDAK semulus yang diperkirakan saat Maria dan Mayor Hanafi menu ju kantor Pangsar Jenderal Sutarm an. Selain macet, mobil yang diso piri Mayor Hanafi itu ada yang mem buntuti. Semakin lama semakin de kat.
"Kita jalan saja Non Maria," kata Ma yor Hanafi. Turun dari mobil yang terjebak di tengah kemacetan.
Kedua bergegas menyeberang ja lan. Lalu menghilang di balik jalan setapak gedung pencakar langit ya ng tinggi megah menjulang.
Sebuah mobil melaju sangat cepat, melewati jalan sempit. Lalu belok kanan dan ...
"Itu mereka Bos," kata si anak buah sambil menunjuk ke kiri. Mayor Ha nafi dan Maria berlari menyusuri jembatan layang.
Dooor ...
Dooor ..
Si anak buah melepaskan tembak an. Mayor Hanafi dan Maria terus berlari. Tepat di tengah jembatan keduanya berhenti.
Ada truk tronton lewat ...
"Non ... Satu, dua, tii ga."
Huupp ..
Keduanya meloncat dari atas jembatan, jatuhnya persis di tengah bak tronton yang mengangkut barang-barang tekstil dari pe labuhan laut menuju mal besar di pusat kota.
"Kampret." Umpat si anak buah se raya melepaskan tembakan berkali-kali ke arah mobil tronton yang me laju dengan kecepatan sedang.
Oleh Wak Amin
TIDAK semulus yang diperkirakan saat Maria dan Mayor Hanafi menu ju kantor Pangsar Jenderal Sutarm an. Selain macet, mobil yang diso piri Mayor Hanafi itu ada yang mem buntuti. Semakin lama semakin de kat.
"Kita jalan saja Non Maria," kata Ma yor Hanafi. Turun dari mobil yang terjebak di tengah kemacetan.
Kedua bergegas menyeberang ja lan. Lalu menghilang di balik jalan setapak gedung pencakar langit ya ng tinggi megah menjulang.
Sebuah mobil melaju sangat cepat, melewati jalan sempit. Lalu belok kanan dan ...
"Itu mereka Bos," kata si anak buah sambil menunjuk ke kiri. Mayor Ha nafi dan Maria berlari menyusuri jembatan layang.
Dooor ...
Dooor ..
Si anak buah melepaskan tembak an. Mayor Hanafi dan Maria terus berlari. Tepat di tengah jembatan keduanya berhenti.
Ada truk tronton lewat ...
"Non ... Satu, dua, tii ga."
Huupp ..
Keduanya meloncat dari atas jembatan, jatuhnya persis di tengah bak tronton yang mengangkut barang-barang tekstil dari pe labuhan laut menuju mal besar di pusat kota.
"Kampret." Umpat si anak buah se raya melepaskan tembakan berkali-kali ke arah mobil tronton yang me laju dengan kecepatan sedang.
Senin, 19 Agustus 2019
Mana Tahan (22)
Mana Tahan (22)
Oleh Wak Amin
LETNAN Subekti masih bersama pe tugas ikut memeriksa secara detil sal tempat dimana Kamil dirawat sebelum dihabisi.
"Saya kira ada pihak ketiga yang ikut bermain Mayor," kata Maria. Takutnya musuh dalam selimut.
"Mayor paham kan msksud saya?"
"Sangat paham Non."
"Menurut saya Mayor, apa tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan .?"
"Maksud Non Maria?"
"Untuk memberitahu Jenderal Sutar man."
Mayor Hanafi berpikir sejenak ...
Kriiiing ..
Telepon masuk. Seorang petugas melaporkan Letnan Subekti tertem bak.
"Sekarang di sal almarhum Kamil," kata seorang petugas yang tidak ik ut mengejar pelaku penembakan.
"Oke. Saya kesana sekarang!"
"Mayor!"
"Letnan kena tembak."
Tembakan yang dilepaskan penem bak 'gelap' itu, walau cuma satu pe luru, karena tepat bersarang di jan tung, membuat Letnan Subekti se karat.
Menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Mayor Hanafi. Sayang nya, tak sempat bicara, selain se nyum mengembang ke Maria dan teman dekatnya itu.
Maria menitikkan air mata, sedang kan Mayor Hanafi mencium kening Letnan Subekti sesaat setelah mere bahkan tubuh kurus tinggi itu ke hambal pelapis lantai sal.
"Tidurlah dengan tenang sahabat," ucap Mayor Hanafi. Tak lama sete lah itu telepon berdering lambat.
"Tolong Non, angkat."
"Baik Mayor."
Dari siapa gerangan?
Pangsar Yauman Jenderal Sutar man. Meminta Maria dan Mayor Hanafi segera menemuinya di kantor sekarang.
"Siap Jenderal."
Oleh Wak Amin
LETNAN Subekti masih bersama pe tugas ikut memeriksa secara detil sal tempat dimana Kamil dirawat sebelum dihabisi.
"Saya kira ada pihak ketiga yang ikut bermain Mayor," kata Maria. Takutnya musuh dalam selimut.
"Mayor paham kan msksud saya?"
"Sangat paham Non."
"Menurut saya Mayor, apa tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan .?"
"Maksud Non Maria?"
"Untuk memberitahu Jenderal Sutar man."
Mayor Hanafi berpikir sejenak ...
Kriiiing ..
Telepon masuk. Seorang petugas melaporkan Letnan Subekti tertem bak.
"Sekarang di sal almarhum Kamil," kata seorang petugas yang tidak ik ut mengejar pelaku penembakan.
"Oke. Saya kesana sekarang!"
"Mayor!"
"Letnan kena tembak."
Tembakan yang dilepaskan penem bak 'gelap' itu, walau cuma satu pe luru, karena tepat bersarang di jan tung, membuat Letnan Subekti se karat.
Menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Mayor Hanafi. Sayang nya, tak sempat bicara, selain se nyum mengembang ke Maria dan teman dekatnya itu.
Maria menitikkan air mata, sedang kan Mayor Hanafi mencium kening Letnan Subekti sesaat setelah mere bahkan tubuh kurus tinggi itu ke hambal pelapis lantai sal.
"Tidurlah dengan tenang sahabat," ucap Mayor Hanafi. Tak lama sete lah itu telepon berdering lambat.
"Tolong Non, angkat."
"Baik Mayor."
Dari siapa gerangan?
Pangsar Yauman Jenderal Sutar man. Meminta Maria dan Mayor Hanafi segera menemuinya di kantor sekarang.
"Siap Jenderal."
Minggu, 18 Agustus 2019
Mana Tahan (21)
Mana Tahan (21)
Oleh Wak Amin
ORANG yang paling kaget dan ter kejut atas tewasnya Kamil adalah Maria. Penasaran bercampur geram dia telepon Mayor Hanafi sekadar meminta konfirmasi.
"Ini saya lagi di rumah sakit Non Maria," kata Mayor Hanafi. Bersa ma Letnan Subekti dan petugas ke polisian, dia ikut melihat kondisi sal tempat dimana Kamil dirawat dan diketemukan tewas.
"Baik, saya segera kesana Mayor," kata Maria.
Dia bergegas ke luar rumah. Dari ba lik kaca jendela samping kanan pin tu utama keluar masuk, persis di lu ar pagar, ada dua lelaki berbadan te gap mondar-mandir mengitari mo bil putih yang parkir di tepi jalan.
Maria berpikir sebentar. Dia tak jadi lewat pintu depan.
Lalu?
Lewat belakang dengan cara me lo mpati pagar kawat berduri. Kete mu lorong, dia menumpang sebuah mo bil yang hendak keluar dari lorong itu.
Di persimpangan lampu merah dia turun. Lalu naik gojek menuju ru mah sakit. Sepuluh menit kemu dian dia tiba disana.
Rumah sakit masih beroperasi se perti biasa. Hanya di beberapa sal yang berdekatan dengan sal Kamil disterilkan. Pasien terus berdata ngan dari dalam dan luar kota.
"Pagi Mayor."
"Pagi Non Maria," jawab Mayor Ha nafi. Dia mengajak Maria ke dekat pos jaga sal.
"Motifnya belum tahu Non. Dugaan sementara untuk menghilangkan jejak," jelas Mayor Hanafi.
"Yang bikin penasaran, udah dijaga ke tat eeh malah kebobolan. Gima na enggak kesel Mayor, coba?"
"Saya juga kesal Non. Tapi ya begi tulah realitanya. Mau gimana lagi."
"Udah kontak Panglima Mayor?"
Ssssst ..
Ada dua petugas lewat di dekat me reka berdiri saat ini. Keduanya si buk menulis dan memotret.
"Gimana kalau kita ke mobil saja Non?"
"Oke ..."
Sambil menuruni anak tangga, Ma yor Hanafi mencerirakan bahwa dia sudah berusaha menelepon Pang lima Yauman, Jenderal Sutarman.
"Tapi tak berhasil ..."
Oleh Wak Amin
ORANG yang paling kaget dan ter kejut atas tewasnya Kamil adalah Maria. Penasaran bercampur geram dia telepon Mayor Hanafi sekadar meminta konfirmasi.
"Ini saya lagi di rumah sakit Non Maria," kata Mayor Hanafi. Bersa ma Letnan Subekti dan petugas ke polisian, dia ikut melihat kondisi sal tempat dimana Kamil dirawat dan diketemukan tewas.
"Baik, saya segera kesana Mayor," kata Maria.
Dia bergegas ke luar rumah. Dari ba lik kaca jendela samping kanan pin tu utama keluar masuk, persis di lu ar pagar, ada dua lelaki berbadan te gap mondar-mandir mengitari mo bil putih yang parkir di tepi jalan.
Maria berpikir sebentar. Dia tak jadi lewat pintu depan.
Lalu?
Lewat belakang dengan cara me lo mpati pagar kawat berduri. Kete mu lorong, dia menumpang sebuah mo bil yang hendak keluar dari lorong itu.
Di persimpangan lampu merah dia turun. Lalu naik gojek menuju ru mah sakit. Sepuluh menit kemu dian dia tiba disana.
Rumah sakit masih beroperasi se perti biasa. Hanya di beberapa sal yang berdekatan dengan sal Kamil disterilkan. Pasien terus berdata ngan dari dalam dan luar kota.
"Pagi Mayor."
"Pagi Non Maria," jawab Mayor Ha nafi. Dia mengajak Maria ke dekat pos jaga sal.
"Motifnya belum tahu Non. Dugaan sementara untuk menghilangkan jejak," jelas Mayor Hanafi.
"Yang bikin penasaran, udah dijaga ke tat eeh malah kebobolan. Gima na enggak kesel Mayor, coba?"
"Saya juga kesal Non. Tapi ya begi tulah realitanya. Mau gimana lagi."
"Udah kontak Panglima Mayor?"
Ssssst ..
Ada dua petugas lewat di dekat me reka berdiri saat ini. Keduanya si buk menulis dan memotret.
"Gimana kalau kita ke mobil saja Non?"
"Oke ..."
Sambil menuruni anak tangga, Ma yor Hanafi mencerirakan bahwa dia sudah berusaha menelepon Pang lima Yauman, Jenderal Sutarman.
"Tapi tak berhasil ..."
Sabtu, 17 Agustus 2019
Mana Tahan (20)
Mana Tahan (20)
Oleh Wak Amin
DI luar rumah sakit ...
Pihak keamanan rumah sakit me ngamankan seorang pria yang didu ga hendak meledakkan rumah sa kit.
Si pria sempat melakukan perlawa nan. Dia berhasil meloloskan diri dengan cara melompat dari mobil boks yang hendak membawanya ke kantor polisi setelah terjadi bom da lam kotak meledak.
Seorang petugas security, yang me mbawa kotak itu untuk diamankan, tewas mengenaskan dengan muka nyaris hancur terkena ledakan.
Meski tidak terlalu keras, ledakan itu merusak pos jaga, gerobak gore ngan, rumah makan dan motor ser ta mobil yang terparkir di area ru mah sakit.
Saat semua perhatian terfokus di bagian depan rumah sakit, seorang laki-laki tampan berkacamata, yang menyamar sebagai dokter, dengan langkah cepat memasuki sal Kamil dirawat.
Tidak lama dia berada di ruangan itu. Kurang dari tiga menit, lalu ke luar lagi tanpa seorang pun yang melihatnya.
Lelaki tadi menuruni anak tangga samping rumah sakit. Berjalan sedi kit ke kanan, ada beberapa mobil te rparkir di sana. Khusus parkir tim dokter rumah sakit.
Dia kemudian mendekati mobil pu tih sedan. Pintu terbuka. Dia pun masuk. Lampu depan menyala. Mo bil pun melaju dengan mulus mele wati tangga lantai bawah rumah sakit.
"Semua beres Bos," kata si pria tadi yang bernama Firdaus. Mobil belok kanan, keluar dari area belakang ru mah sakit menuju jalan utama pu sat kota.
"Kembali ke markas, cepat!" Perin tah Rahmat, sang bos.
"Siap komandan ...!"
Oleh Wak Amin
DI luar rumah sakit ...
Pihak keamanan rumah sakit me ngamankan seorang pria yang didu ga hendak meledakkan rumah sa kit.
Si pria sempat melakukan perlawa nan. Dia berhasil meloloskan diri dengan cara melompat dari mobil boks yang hendak membawanya ke kantor polisi setelah terjadi bom da lam kotak meledak.
Seorang petugas security, yang me mbawa kotak itu untuk diamankan, tewas mengenaskan dengan muka nyaris hancur terkena ledakan.
Meski tidak terlalu keras, ledakan itu merusak pos jaga, gerobak gore ngan, rumah makan dan motor ser ta mobil yang terparkir di area ru mah sakit.
Saat semua perhatian terfokus di bagian depan rumah sakit, seorang laki-laki tampan berkacamata, yang menyamar sebagai dokter, dengan langkah cepat memasuki sal Kamil dirawat.
Tidak lama dia berada di ruangan itu. Kurang dari tiga menit, lalu ke luar lagi tanpa seorang pun yang melihatnya.
Lelaki tadi menuruni anak tangga samping rumah sakit. Berjalan sedi kit ke kanan, ada beberapa mobil te rparkir di sana. Khusus parkir tim dokter rumah sakit.
Dia kemudian mendekati mobil pu tih sedan. Pintu terbuka. Dia pun masuk. Lampu depan menyala. Mo bil pun melaju dengan mulus mele wati tangga lantai bawah rumah sakit.
"Semua beres Bos," kata si pria tadi yang bernama Firdaus. Mobil belok kanan, keluar dari area belakang ru mah sakit menuju jalan utama pu sat kota.
"Kembali ke markas, cepat!" Perin tah Rahmat, sang bos.
"Siap komandan ...!"
Jumat, 16 Agustus 2019
Mana Tahan (19)
Mana Tahan (19)
Oleh Wak Amin
KARENA terluka parah di bagian ka ki, Kamil harus dirujuk ke rumah sa kit. Dia mendapat perawatan inten sif dengan penjagaan ketat dari pi hak keamanan.
Selama dirawat, Kamil sering mera ung-raung setiap malam. Bukan ka rena menahan sakit di kedua kaki nya, tapi takut tim dokter mengam putasi kakinya.
"Mati aku. Tolong aku suster. Aku tak mau kakiku dipotong," rengek Kamil.
Suster di sampingnya cuma terse nyum geli melihat kelakuan Kamil. Dia tak sangka bos mafia bisa juga bertingkah seperti anak kecil.
"Siapa bilang kaki Tuan mau dipo tong?" Tanya suster ramah.
"Saya suster.'
He he he ...
"Kenapa suster ketawa. Saya serius nih."
"Saya mau tanya, boleh kan Tuan?"
"Boleh, tapi cepat suster."
"Tuan Kamil dokter bukan?"
"Bukanlah suster."
"Terus yang berhak potong kaki Tuan, Tuan atau dokter?"
"Dokter lah sus. Masa harus saya."
"Apa dokter pernah bilang sama Tuan kalau kaki Tuan bakal diamputasi begitu?"
Kamil menggelengkan kepala.
"Kalau dokter aja enggak bilang kaki Tuan bakal diamputasi, kena pa mesti takut?"
"Takut aja sus. Dokter juga kan ma nusia. Bisa saja dia berubah pikir an. Dari awalnya tidak diamputasi jadi diamputasi."
"Kalau sekiranya iya, apa Tuan ta kut?"
"Takuuut. Takuuut susteeer!" Jerit Kamil, membuat suster yang bertu gas di kamar lain tergopoh-gopoh ke salnya Kamil.
Perlu waktu hampir satu jam untuk menenangkan Kamil. Itu pun sete lah pasukan keamanan turun tang an untuk menangkan Kamil.
Oleh Wak Amin
KARENA terluka parah di bagian ka ki, Kamil harus dirujuk ke rumah sa kit. Dia mendapat perawatan inten sif dengan penjagaan ketat dari pi hak keamanan.
Selama dirawat, Kamil sering mera ung-raung setiap malam. Bukan ka rena menahan sakit di kedua kaki nya, tapi takut tim dokter mengam putasi kakinya.
"Mati aku. Tolong aku suster. Aku tak mau kakiku dipotong," rengek Kamil.
Suster di sampingnya cuma terse nyum geli melihat kelakuan Kamil. Dia tak sangka bos mafia bisa juga bertingkah seperti anak kecil.
"Siapa bilang kaki Tuan mau dipo tong?" Tanya suster ramah.
"Saya suster.'
He he he ...
"Kenapa suster ketawa. Saya serius nih."
"Saya mau tanya, boleh kan Tuan?"
"Boleh, tapi cepat suster."
"Tuan Kamil dokter bukan?"
"Bukanlah suster."
"Terus yang berhak potong kaki Tuan, Tuan atau dokter?"
"Dokter lah sus. Masa harus saya."
"Apa dokter pernah bilang sama Tuan kalau kaki Tuan bakal diamputasi begitu?"
Kamil menggelengkan kepala.
"Kalau dokter aja enggak bilang kaki Tuan bakal diamputasi, kena pa mesti takut?"
"Takut aja sus. Dokter juga kan ma nusia. Bisa saja dia berubah pikir an. Dari awalnya tidak diamputasi jadi diamputasi."
"Kalau sekiranya iya, apa Tuan ta kut?"
"Takuuut. Takuuut susteeer!" Jerit Kamil, membuat suster yang bertu gas di kamar lain tergopoh-gopoh ke salnya Kamil.
Perlu waktu hampir satu jam untuk menenangkan Kamil. Itu pun sete lah pasukan keamanan turun tang an untuk menangkan Kamil.
Kamis, 15 Agustus 2019
Mana Tahan (18)
Mana Tahan (18)
Oleh Wak Amin
KAMIL sempat kaget.
"Anda penduduk Yauman Nona?" Ta nya Kamil sambil menoleh ke bela kang.
"Jangan bergerak ..."
Kamil tertawa sinis dan mengejek.
"Tembak saja kalau berani. Ha ha .. Saya yakin anda tak bakalan berani."
"Kata siapa?"
"Kata saya. Ha ha .."
Dooor ...
Dooor ...
Dua peluru bersarang di paha kiri Kamil. Kali ini dia jatuh tersungkur. Tak bisa berdiri lagi.
"Bangun. Ayo bangun!" Maria tarik paksa tangan Kamil. Tapi tak bisa karena tak mampu berdiri lagi.
Saat Maria lengah, menoleh ke kiri, ada sesuatu yang bergerak di se mak belukar, Kamil mencabut pis tolnya.
Dooor ...
Dooor ...
Keduluan Mayor Hanafi. Pistol ter lepas dari tangan Kamil. Menge ra ng kesakitan. Tangan kanannya ter tembak.
Kamil tak bisa apa-apa lagi. Dia ha nya bisa pasrah saat dibawa menu ju truk yang terparkir di tengah ja lan.
Warga kampung satu persatu kelu ar dari rumah mereka. Juga peng endara yang melintas. Penasaran melihat orang ramai berkumpul de kat truk.
Polisi datang ke lokasi kejadian. Me ngamankan truk, senjata beserta pe luru dan bahan peledak yang berse rakan di jalan.
Kamil dibawa menggunakan mobil kepolisian menuju kantor polisi un tuk si mintai keterangan dengan pe ngawalan ketat pihak berwajib.
Sementara Mayor Hanafi cs melap orkan penangkapan Kamil kepada Pangsar Jenderal Sutarman dengan catatan sang bos mafia belum mau buka mulut.
"Biarkan saja. Yang penting anda be rtiga selamat dan salah satu dari mereka berhasil kita amankan," ka ta Pangsar Jenderal Sutarman.
Oleh Wak Amin
KAMIL sempat kaget.
"Anda penduduk Yauman Nona?" Ta nya Kamil sambil menoleh ke bela kang.
"Jangan bergerak ..."
Kamil tertawa sinis dan mengejek.
"Tembak saja kalau berani. Ha ha .. Saya yakin anda tak bakalan berani."
"Kata siapa?"
"Kata saya. Ha ha .."
Dooor ...
Dooor ...
Dua peluru bersarang di paha kiri Kamil. Kali ini dia jatuh tersungkur. Tak bisa berdiri lagi.
"Bangun. Ayo bangun!" Maria tarik paksa tangan Kamil. Tapi tak bisa karena tak mampu berdiri lagi.
Saat Maria lengah, menoleh ke kiri, ada sesuatu yang bergerak di se mak belukar, Kamil mencabut pis tolnya.
Dooor ...
Dooor ...
Keduluan Mayor Hanafi. Pistol ter lepas dari tangan Kamil. Menge ra ng kesakitan. Tangan kanannya ter tembak.
Kamil tak bisa apa-apa lagi. Dia ha nya bisa pasrah saat dibawa menu ju truk yang terparkir di tengah ja lan.
Warga kampung satu persatu kelu ar dari rumah mereka. Juga peng endara yang melintas. Penasaran melihat orang ramai berkumpul de kat truk.
Polisi datang ke lokasi kejadian. Me ngamankan truk, senjata beserta pe luru dan bahan peledak yang berse rakan di jalan.
Kamil dibawa menggunakan mobil kepolisian menuju kantor polisi un tuk si mintai keterangan dengan pe ngawalan ketat pihak berwajib.
Sementara Mayor Hanafi cs melap orkan penangkapan Kamil kepada Pangsar Jenderal Sutarman dengan catatan sang bos mafia belum mau buka mulut.
"Biarkan saja. Yang penting anda be rtiga selamat dan salah satu dari mereka berhasil kita amankan," ka ta Pangsar Jenderal Sutarman.
Rabu, 14 Agustus 2019
Mana Tahan (17)
Mana Tahan (17)
Oleh Wak Amin
"MAYOR. Dia lari ke hutan. Saya siap kejar!"
"Oke. Saya dan Letnan Subekti juga siap mengejar," kata Mayor Hanafi.
Meski belum tahu persis posisi Ka mil, Maria yakin, cepat atau lam bat, Kamil pasti tertangkap.
Dooor ..
Doooor ...
Tembakan kedua Kamil mengenai lengan kanan Maria. Tembakan keti ga tak jadi dilepaskan karena Maria lebih dulu menembak.
Aduuuh ...
Timah panas itu menembus paha kanan Kamil. Dia jatuh tersungkur. Tapi tidak pingsan.
"Non Maria. Roger."
"Sudah dekat Mayor."
"Oke. Tetap waspada Nona."
"Siap Mayor."
Karena sudah tahu posisi Kamil, meski sakit dan berdarah, Maria terus mengejar.
Semakin dekat ...
Sementara Kamil coba berdiri. Kali pertama tidak bisa. Baru kali ke d ua yang bisa. Itu pun terjatuh lagi sambil menahan sakit.
Maria mendengar jelas suara era ngan itu. Ternyata berasal dari se belah kirinya. Kira-kira berjarak se ratus meter dari posisinya saat ini.
Kamil akhirnya bisa berdiri ...
Dia bersiap melangkah ...
Tiba-tiba terdengar suara ..
"Jangan bergerak!"
Oleh Wak Amin
"MAYOR. Dia lari ke hutan. Saya siap kejar!"
"Oke. Saya dan Letnan Subekti juga siap mengejar," kata Mayor Hanafi.
Meski belum tahu persis posisi Ka mil, Maria yakin, cepat atau lam bat, Kamil pasti tertangkap.
Dooor ..
Doooor ...
Tembakan kedua Kamil mengenai lengan kanan Maria. Tembakan keti ga tak jadi dilepaskan karena Maria lebih dulu menembak.
Aduuuh ...
Timah panas itu menembus paha kanan Kamil. Dia jatuh tersungkur. Tapi tidak pingsan.
"Non Maria. Roger."
"Sudah dekat Mayor."
"Oke. Tetap waspada Nona."
"Siap Mayor."
Karena sudah tahu posisi Kamil, meski sakit dan berdarah, Maria terus mengejar.
Semakin dekat ...
Sementara Kamil coba berdiri. Kali pertama tidak bisa. Baru kali ke d ua yang bisa. Itu pun terjatuh lagi sambil menahan sakit.
Maria mendengar jelas suara era ngan itu. Ternyata berasal dari se belah kirinya. Kira-kira berjarak se ratus meter dari posisinya saat ini.
Kamil akhirnya bisa berdiri ...
Dia bersiap melangkah ...
Tiba-tiba terdengar suara ..
"Jangan bergerak!"
Selasa, 13 Agustus 2019
Mana Tahan (16)
Mana Tahan (16)
Oleh Wak Amin
JONI tiba-tiba, dari pintu depan mo
bil, naik ke bak truk. Dia ditugasi Ka mil memeriksa apakah peti kiriman masih utuh atau justru sudah ber kurang.
Terjadi duel seru antara Maria deng an Joni di atas bak truk. Berawal da ri rencana Maria yang hendak mem buang barang kiriman ke jalan.
Hiyaaat ...
Tendangan Joni berhasil dielakkan Maria. Begitu juga beberapa kali pu kulan yang dilepaskan, tak satupun yang mengenai sasaran.
Justru tendangan balasan memutar dari Maria lah yang kena. Tepat me ngenai perut.
Eeeegh ...
Joni terjatuh.
Joni mencoba bangun. Namun se ketika Maria menarik kedua kaki nya. Dia seret, lalu dia lempar ke jalan.
Berguling-gulingan ...
"Mayor. Salah seorang dari mereka saya lempar ke jalan," lapor Maria.
"Dia naik ke bak truk dan mengajak saya duel Dan," lanjut Maria.
"Oke. Lempar barangnya sekarang Nona Maria," perintah Mayor Hana fi.
"Siap Mayor!"
Satu-satu senjata ilegal itu dilemp ar ke jalan, disusul bahan peledak dan peluru dalam jumlah besar.
Hampir separo barang selundupan itu sudah bertebaran di jalan.
Syiiiiit ...
Graaaw ...
Truk berhenti mendadak. Evan, Ka mil, Kalam dan Fandi turun dari mo bil.
Dooor ...
Dooor ...
Sambil melompat dari bak truk dan bergulingan di jalan, Maria melepas kan beberapa kali tembakan. Berha sil menewaskan Kalam dan Fandi.
Kamil geram . .
Trot tot trot tot ..
Dia lepaskan tembakan secara membabi buta ..
Evan kesakitan. Dadanya berdarah. Terkena tembakan rupanya ia. Si pe nembaknya tidak lain adalah Let nan Subekti.
Kamil tak bisa berbuat apa-apa. Da rah semakin banyak. Berceceran di jalan ...
"Doooor .."
Kamil menembak kepala anak buah nya itu. Tewas seketika. Setelah itu dia melompat ke semak belukar tak jauh dari truk.
Oleh Wak Amin
JONI tiba-tiba, dari pintu depan mo
bil, naik ke bak truk. Dia ditugasi Ka mil memeriksa apakah peti kiriman masih utuh atau justru sudah ber kurang.
Terjadi duel seru antara Maria deng an Joni di atas bak truk. Berawal da ri rencana Maria yang hendak mem buang barang kiriman ke jalan.
Hiyaaat ...
Tendangan Joni berhasil dielakkan Maria. Begitu juga beberapa kali pu kulan yang dilepaskan, tak satupun yang mengenai sasaran.
Justru tendangan balasan memutar dari Maria lah yang kena. Tepat me ngenai perut.
Eeeegh ...
Joni terjatuh.
Joni mencoba bangun. Namun se ketika Maria menarik kedua kaki nya. Dia seret, lalu dia lempar ke jalan.
Berguling-gulingan ...
"Mayor. Salah seorang dari mereka saya lempar ke jalan," lapor Maria.
"Dia naik ke bak truk dan mengajak saya duel Dan," lanjut Maria.
"Oke. Lempar barangnya sekarang Nona Maria," perintah Mayor Hana fi.
"Siap Mayor!"
Satu-satu senjata ilegal itu dilemp ar ke jalan, disusul bahan peledak dan peluru dalam jumlah besar.
Hampir separo barang selundupan itu sudah bertebaran di jalan.
Syiiiiit ...
Graaaw ...
Truk berhenti mendadak. Evan, Ka mil, Kalam dan Fandi turun dari mo bil.
Dooor ...
Dooor ...
Sambil melompat dari bak truk dan bergulingan di jalan, Maria melepas kan beberapa kali tembakan. Berha sil menewaskan Kalam dan Fandi.
Kamil geram . .
Trot tot trot tot ..
Dia lepaskan tembakan secara membabi buta ..
Evan kesakitan. Dadanya berdarah. Terkena tembakan rupanya ia. Si pe nembaknya tidak lain adalah Let nan Subekti.
Kamil tak bisa berbuat apa-apa. Da rah semakin banyak. Berceceran di jalan ...
"Doooor .."
Kamil menembak kepala anak buah nya itu. Tewas seketika. Setelah itu dia melompat ke semak belukar tak jauh dari truk.
Senin, 12 Agustus 2019
Mana Tahan (15)
Mana Tahan (15)
Oleh Wak Amin
HUUP ..
Deeep ..
Maria berhasil melompat di atas truk.
"Komandan. Saya di atas truk," kata Maria. Dia lambaikan tangan ketika truk gede itu keluar dari pekarangan rumah menuju jalan merah.
"Letnan. Kita susul dia!"
"Siap Mayor!"
Keduanya terpaksa mengambil jal an pintas. Jika tidak, sepeda yang mereka kayuh akan sulit mengejar laju truk yang semakin kencang.
"Ke kanan saja Mayor," usul Letnan Subekti. Ke kanan ada jalan menan jak. Tidak terlalu jauh, sudah kete mu jalan tanah, warga kampung sebelah.
Belok kiri, lalu ke kanan lagi. Maria melaporkan dia kesulitan untuk tu run mendekat ke dekat sopir.
"Ada lima orang Komandan, terma suk sopir," kata Maria. Masih berta han di belakang truk. Berpegangan di terpal tebal pembungkus kotak besar yang entah apa isinya.
Penasaran, Maria berusaha mem buka terpal itu. Benar ada kotak. Lima buah kotak besar terbikin daru kayu.
Di dalam kotak ada plastik besar. Maria membukanya dengan hati-ha ti. Karena tadinya dia nyaris jatuh saat truk berbelok kencang.
Astaga ...
Maria kaget bukan kepalang. Di da lam plastik itu ada senjata, peluru dan bahan peledak.
"Mayor. Roger!"
"Roger. Ada apa Maria?"
"Senjata, peluru dan bahan peledak Komandan, isinya ..."
Dugaan Mayor Hanafi tepat.
"Mohon petunjuk Mayor. Apa perlu senjata dan semua yang ada di da lam kotak ini saya lempar ke ja lan?"
"Pilih lokasi yang aman Nona." Pe san Mayor Hanafi.
"Siap Komandan!"
Mayor Hanafi memperkencang laju sepedanya. Di belakangnya Letnan Subekti. Jarak keduanya dengan truk sekitar seperempat kilometer.
Oleh Wak Amin
HUUP ..
Deeep ..
Maria berhasil melompat di atas truk.
"Komandan. Saya di atas truk," kata Maria. Dia lambaikan tangan ketika truk gede itu keluar dari pekarangan rumah menuju jalan merah.
"Letnan. Kita susul dia!"
"Siap Mayor!"
Keduanya terpaksa mengambil jal an pintas. Jika tidak, sepeda yang mereka kayuh akan sulit mengejar laju truk yang semakin kencang.
"Ke kanan saja Mayor," usul Letnan Subekti. Ke kanan ada jalan menan jak. Tidak terlalu jauh, sudah kete mu jalan tanah, warga kampung sebelah.
Belok kiri, lalu ke kanan lagi. Maria melaporkan dia kesulitan untuk tu run mendekat ke dekat sopir.
"Ada lima orang Komandan, terma suk sopir," kata Maria. Masih berta han di belakang truk. Berpegangan di terpal tebal pembungkus kotak besar yang entah apa isinya.
Penasaran, Maria berusaha mem buka terpal itu. Benar ada kotak. Lima buah kotak besar terbikin daru kayu.
Di dalam kotak ada plastik besar. Maria membukanya dengan hati-ha ti. Karena tadinya dia nyaris jatuh saat truk berbelok kencang.
Astaga ...
Maria kaget bukan kepalang. Di da lam plastik itu ada senjata, peluru dan bahan peledak.
"Mayor. Roger!"
"Roger. Ada apa Maria?"
"Senjata, peluru dan bahan peledak Komandan, isinya ..."
Dugaan Mayor Hanafi tepat.
"Mohon petunjuk Mayor. Apa perlu senjata dan semua yang ada di da lam kotak ini saya lempar ke ja lan?"
"Pilih lokasi yang aman Nona." Pe san Mayor Hanafi.
"Siap Komandan!"
Mayor Hanafi memperkencang laju sepedanya. Di belakangnya Letnan Subekti. Jarak keduanya dengan truk sekitar seperempat kilometer.
Minggu, 11 Agustus 2019
Mana Tahan (14)
Mana Tahan (14)
Oleh Wak Amin
DI lain tempat ...
"Hati-hati Non Maria. Mereka ber senjata dan kejam," kata Mayor Ha nafi ketika Maria bersiap melom p at dari semak belukar ke pekarang an rumah bertingkat dua di ujung sebuah kampung.
"Siap Mayor ..."
Huuuup ...
Loncatan pertama urung karena sa lah seorang kawanan mafia keluar dari pintu. Berdiri sambil melihat ke sekitar pekarangan rumah tua itu.
Pria brewokan itu masuk lagi. Di saat bersamaan Maria melakukan lompatan kedua. Mengendap-endap menuju samping kanan rumah tak berpenghuni itu.
Ada jendela. Dio intip dari luar. Tak ada orang di dalam. Ruangan itu ko song.
"Saya lanjut ke belakang Mayor," ka ta Maria lewat telepon genggam.
"Oke. Kami segera masuk. Roger."
"Roger."
Di belakang rumah kayu berfondasi semen dan batu bata coran itu ada tangga besi menuju lantai dua. Ma ria menaikinya.
Treeng ...
Sepatu Maria menginjak besi yang tersangkut di jari tangga.
"Joni. Periksa di luar!" Perintah Bre wok alias Kamil, bos mafia dengan nada suara tinggi.
"Siap Bos."
Diperiksa. Tak ada siapa-siapa di lu ar. Joni masuk lagi. Dia tutup dan kunci pintu itu.
Padahal, persis di plafon atas pintu, Maria sembunyi. Dia turun lagi se telah pintu ditutup lagi.
"Aman Bos. Tak ada siapa-siapa," kata Joni lega.
"Oke. Sekarang kita berangkat. Ev an. Kamu bawa mobil. Yang lain siap mengamankan .."
"Siap Bos."
Pintu garasi bawah tangga terbuka. Sebuah truk besar keluar. Melaju dengan kecepatan sedang.
Oleh Wak Amin
DI lain tempat ...
"Hati-hati Non Maria. Mereka ber senjata dan kejam," kata Mayor Ha nafi ketika Maria bersiap melom p at dari semak belukar ke pekarang an rumah bertingkat dua di ujung sebuah kampung.
"Siap Mayor ..."
Huuuup ...
Loncatan pertama urung karena sa lah seorang kawanan mafia keluar dari pintu. Berdiri sambil melihat ke sekitar pekarangan rumah tua itu.
Pria brewokan itu masuk lagi. Di saat bersamaan Maria melakukan lompatan kedua. Mengendap-endap menuju samping kanan rumah tak berpenghuni itu.
Ada jendela. Dio intip dari luar. Tak ada orang di dalam. Ruangan itu ko song.
"Saya lanjut ke belakang Mayor," ka ta Maria lewat telepon genggam.
"Oke. Kami segera masuk. Roger."
"Roger."
Di belakang rumah kayu berfondasi semen dan batu bata coran itu ada tangga besi menuju lantai dua. Ma ria menaikinya.
Treeng ...
Sepatu Maria menginjak besi yang tersangkut di jari tangga.
"Joni. Periksa di luar!" Perintah Bre wok alias Kamil, bos mafia dengan nada suara tinggi.
"Siap Bos."
Diperiksa. Tak ada siapa-siapa di lu ar. Joni masuk lagi. Dia tutup dan kunci pintu itu.
Padahal, persis di plafon atas pintu, Maria sembunyi. Dia turun lagi se telah pintu ditutup lagi.
"Aman Bos. Tak ada siapa-siapa," kata Joni lega.
"Oke. Sekarang kita berangkat. Ev an. Kamu bawa mobil. Yang lain siap mengamankan .."
"Siap Bos."
Pintu garasi bawah tangga terbuka. Sebuah truk besar keluar. Melaju dengan kecepatan sedang.
Sabtu, 10 Agustus 2019
Mana Tahan (13)
Mana Tahan (13)
Oleh Wak Amin
MENDENGAR pasukan lautnya ka lah perang melawan pasukan Yam an, Raja Jasina marah bukan main. Saking marahnya, semua tamu ya ng hendak bertemu dengannya hari ini dia tolak.
"Katakan saya sibuk. Atur ulang jad wal bertamunya," kata Raja Jasina pada sekretaris istana.
"Baik Raja," ucap si sekretaris, ber segera ke luar ruangan khusus Raja Jasina guna menemui para tamu yang sudah antre menunggu dan ingin bertemu dengan orang yang paling berkuasa di negeri Jasina saat ini.
Pangsar Jenderal Amir, beberapa saat kemudian masuk ke ruangan Sang Raja. Di ruangan itu terlihat kosong.
Kemana Raja Jasina?
Sang Raja menemui Pangsar Jen deral Amir dua menit kemudian di dampingi Jenderal Agus.
Tanpa penjelasan lebih lanjut dari Jenderal Amir, Raja Jasina berucap dengan lantang ...
"Hari ini anda saya pecat."
"Beri kesempatan saya untuk ber bicara Tuan Raja. Ada yang perlu saya jelaskan."
"Tidak ada waktu lagi Jenderal. Silakan keluar sekarang!"
"Siap Tuan Raja!"
Dua pengawal masuk dan meminta Jenderal Amir membuka pakaian di nas kemiliteran yang dia kenakan.
"Ikut kami Jenderal," kata salah se orang pengawal. Meminta Sang Jen deral masuk ke ruang ganti pakai an yang letaknya di belakang rua ngan kedap suara itu.
Raja Jasina berbincang serius de ngan Jenderal Agus. Pengganti Jenderal Amir, yang setelah ber ganti pakaian, pamit dan keluar ruangan.
Langkah kedua kakinya tidak beru bah. Tampak mantap dan gagah. Sayang, ketika hendak memasuki mobil dinasnya, tiga perwira yang tak lain anak buahnya, mencegat nya dan memaksanya naik mobil lain yang telah disediakan di luar pekarangan istana raja.
Oleh Wak Amin
MENDENGAR pasukan lautnya ka lah perang melawan pasukan Yam an, Raja Jasina marah bukan main. Saking marahnya, semua tamu ya ng hendak bertemu dengannya hari ini dia tolak.
"Katakan saya sibuk. Atur ulang jad wal bertamunya," kata Raja Jasina pada sekretaris istana.
"Baik Raja," ucap si sekretaris, ber segera ke luar ruangan khusus Raja Jasina guna menemui para tamu yang sudah antre menunggu dan ingin bertemu dengan orang yang paling berkuasa di negeri Jasina saat ini.
Pangsar Jenderal Amir, beberapa saat kemudian masuk ke ruangan Sang Raja. Di ruangan itu terlihat kosong.
Kemana Raja Jasina?
Sang Raja menemui Pangsar Jen deral Amir dua menit kemudian di dampingi Jenderal Agus.
Tanpa penjelasan lebih lanjut dari Jenderal Amir, Raja Jasina berucap dengan lantang ...
"Hari ini anda saya pecat."
"Beri kesempatan saya untuk ber bicara Tuan Raja. Ada yang perlu saya jelaskan."
"Tidak ada waktu lagi Jenderal. Silakan keluar sekarang!"
"Siap Tuan Raja!"
Dua pengawal masuk dan meminta Jenderal Amir membuka pakaian di nas kemiliteran yang dia kenakan.
"Ikut kami Jenderal," kata salah se orang pengawal. Meminta Sang Jen deral masuk ke ruang ganti pakai an yang letaknya di belakang rua ngan kedap suara itu.
Raja Jasina berbincang serius de ngan Jenderal Agus. Pengganti Jenderal Amir, yang setelah ber ganti pakaian, pamit dan keluar ruangan.
Langkah kedua kakinya tidak beru bah. Tampak mantap dan gagah. Sayang, ketika hendak memasuki mobil dinasnya, tiga perwira yang tak lain anak buahnya, mencegat nya dan memaksanya naik mobil lain yang telah disediakan di luar pekarangan istana raja.
Jumat, 09 Agustus 2019
Mana Tahan (12)
Mana Tahan (12)
Oleh Wak Amin
"STOOP ..!" Teriak Kolonel Laut San toso sambil mengarahkan senjata nya tepat ke kepala Kolonel Basuki.
Kolonel Basuki menolak berhenti. Dia hanya memperlambat laju se koci ...
"Stop. Atau anda saya tembak." An caman ini tidak main-main.
Pasalnya, Kolonel Santoso sempat beberapa kali melepaskan temba kan ke air, tempat dimana sekoci Kolonel Basuki melaju perlahan.
"Baik, baik. Saya akan berhenti Kolo nel ... Please, turunkan senjatanya. Kita bicara baik-baik ..."
"Tidak perlu," jawab Kolonel Santo so dengan angkuhnya.
"Kenapa Kolonel? Saya hanya ingin mengajak anda bergabung bersa ma kami. Itu saja .."
"Anda siapa?"
"Saya Kolonel Basuki, Komandan Cahaya."
"Terima kasih. Tapi saya rasa tidak perlu. Saya minta anda jangan men dekat ke saya sekarang kalau tidak peluru dalam senjata yang saya pe gang ini menembus kepala anda Kolonel Basuki."
"Anda mengancam saya Kolonel?"
"Betul Kolonel," kata Kolonel Santo so, bersiap menembak.
"Saya hitung sampai tiga Kolonel. Mundur sekarang. Cepaat!"
"Baik saya akan kembali ke kapal sekarang ..."
Balik badan ...
Trot tot ...
Trot tot ...
Guaaam ...
Sekoci meledak, tubuh Kolonel San toso tercabik-cabik di udara, sebe lum jatuh ke laut, dibawa air pasa ng.
*****
Oleh Wak Amin
"STOOP ..!" Teriak Kolonel Laut San toso sambil mengarahkan senjata nya tepat ke kepala Kolonel Basuki.
Kolonel Basuki menolak berhenti. Dia hanya memperlambat laju se koci ...
"Stop. Atau anda saya tembak." An caman ini tidak main-main.
Pasalnya, Kolonel Santoso sempat beberapa kali melepaskan temba kan ke air, tempat dimana sekoci Kolonel Basuki melaju perlahan.
"Baik, baik. Saya akan berhenti Kolo nel ... Please, turunkan senjatanya. Kita bicara baik-baik ..."
"Tidak perlu," jawab Kolonel Santo so dengan angkuhnya.
"Kenapa Kolonel? Saya hanya ingin mengajak anda bergabung bersa ma kami. Itu saja .."
"Anda siapa?"
"Saya Kolonel Basuki, Komandan Cahaya."
"Terima kasih. Tapi saya rasa tidak perlu. Saya minta anda jangan men dekat ke saya sekarang kalau tidak peluru dalam senjata yang saya pe gang ini menembus kepala anda Kolonel Basuki."
"Anda mengancam saya Kolonel?"
"Betul Kolonel," kata Kolonel Santo so, bersiap menembak.
"Saya hitung sampai tiga Kolonel. Mundur sekarang. Cepaat!"
"Baik saya akan kembali ke kapal sekarang ..."
Balik badan ...
Trot tot ...
Trot tot ...
Guaaam ...
Sekoci meledak, tubuh Kolonel San toso tercabik-cabik di udara, sebe lum jatuh ke laut, dibawa air pasa ng.
*****
Kamis, 08 Agustus 2019
Mana Tahan (11)
Mana Tahan (11)
Oleh Wak Amin
KINI dia sendirian ...
Beberapa anggota pasukan yang ik ut bersama mendampinginya meni nggalkannya sendirian di atas seko ci, sejenis kapal kecil bermuatan 5-6 orang.
"Cobalah kau bujuk lagi komam dantu Med," kata salah seorang daru mereka, paling akhir naik kapal perang Cahaya.
"Sudah. Dasar komandantu keras kepala. Tak mau dia. Apalah da ya ku. Aku ini kan prajurit biasa. Kau tau itu kan?"
"Ya ya. Aku tau itu. Tak usah nangis lah kau. Aku kan cuma kasih tau sa ja. Kalau tak bisa tak apa-apalah. Yang penting kita telah berbuat se suatu. Jangan sampailah orang-orang mengira kita mengkhianati komandan."
Tak lama kemudian ..
"Saudara Kolonel Santoso. Saya Ko lonel Basuki meminta anda untuk segera merapat ke kapal kami ..."
Dari atas kapal ber loudspeaker, Ko lonel Basuki mengulangi lagi per mi ntaannya agar komandan kapal pe rang Maria itu segera menyerahkan diri dan akan diperlakukan secara manusiawi.
Karena tak juga mau menyerah, se sekali melepaskan tembakan ke ar ah Kolonel Basuki, dan meleset me ngenai tiang geladak kapal, bebera pa anggota pasukan Yauman mulai gerah.
"Izinkan kami menangkapnya ko mandan," kata mereka serempak.
"Sabar. Biar saya membujuknya la gi," kata Kolonel Basuki, optimis bi sa membujuk Kolonel Santoso un tuk menyerahkan diri.
Karena bujukannya tak pernah di gu bris, Kolonel Basuki meminta anak buahnya menyiapkan sekoci.
"Saya yang akan menghampirinya," kata Kolonel Basuki.
"Jangan komandan. Berbahaya. Serahkan saja kepada kami ..."
"Tak usah. Biarlah saya saja yang turun. Kalian awasi saja dari atas kapal .."
"Siap Komandan!"
Oleh Wak Amin
KINI dia sendirian ...
Beberapa anggota pasukan yang ik ut bersama mendampinginya meni nggalkannya sendirian di atas seko ci, sejenis kapal kecil bermuatan 5-6 orang.
"Cobalah kau bujuk lagi komam dantu Med," kata salah seorang daru mereka, paling akhir naik kapal perang Cahaya.
"Sudah. Dasar komandantu keras kepala. Tak mau dia. Apalah da ya ku. Aku ini kan prajurit biasa. Kau tau itu kan?"
"Ya ya. Aku tau itu. Tak usah nangis lah kau. Aku kan cuma kasih tau sa ja. Kalau tak bisa tak apa-apalah. Yang penting kita telah berbuat se suatu. Jangan sampailah orang-orang mengira kita mengkhianati komandan."
Tak lama kemudian ..
"Saudara Kolonel Santoso. Saya Ko lonel Basuki meminta anda untuk segera merapat ke kapal kami ..."
Dari atas kapal ber loudspeaker, Ko lonel Basuki mengulangi lagi per mi ntaannya agar komandan kapal pe rang Maria itu segera menyerahkan diri dan akan diperlakukan secara manusiawi.
Karena tak juga mau menyerah, se sekali melepaskan tembakan ke ar ah Kolonel Basuki, dan meleset me ngenai tiang geladak kapal, bebera pa anggota pasukan Yauman mulai gerah.
"Izinkan kami menangkapnya ko mandan," kata mereka serempak.
"Sabar. Biar saya membujuknya la gi," kata Kolonel Basuki, optimis bi sa membujuk Kolonel Santoso un tuk menyerahkan diri.
Karena bujukannya tak pernah di gu bris, Kolonel Basuki meminta anak buahnya menyiapkan sekoci.
"Saya yang akan menghampirinya," kata Kolonel Basuki.
"Jangan komandan. Berbahaya. Serahkan saja kepada kami ..."
"Tak usah. Biarlah saya saja yang turun. Kalian awasi saja dari atas kapal .."
"Siap Komandan!"
Rabu, 07 Agustus 2019
Mana Tahan (10)
Mana Tahan (10)
Oleh Wak Amin
"FIRE!" Teriak Kolonel Laut Santo so. Teriakan ini membuat seluruh anggota pasukan yang tersisa se makin bersemangat.
Dengan keputusan nekat dan bera ni, Sang Kolonel memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan sekoci perang ke laut.
Ada sekitar sepuluh sekoci. Selain sekoci, satu pesawat tempur tersi sa dikerahkan. Saat bersamaan, da ri kapal perang Cahaya, diluncurkan satu buah rudal nyamuk.
Rudal ini tak mampu dihadang pa sukan Jasina, sehingga dengan mu dahnya menghantam kapal Mari, yang beberapa saat kemudian ter bakar.
Beruntung Kolonel Laut Santoso se lamat dari ledakan dahsyat itu. Dia terjun dari kapal dengan menggu nakan pelampung bersama bebe rapa pengawalnya.
Namun sekitar seratus lebih kru di atas kapal Mari tewas terbakar. Ma rah, sedih dan geram tampak meng gurat di raut muka Kolonel Santoso yang sempat terpana menyaksikan Mari perlahan tenggelam.
Sementara pasukan sekoci terus mendekat ke lokasi kapal Cahaya yang berjarak kurang lebih sepuluh kilometer.
Semakin dekatnya pasukan sekoci Jasina ini sempat membuat geli sah sebagian kru kapal perang Ca haya.
Namun dengan tenangnya Kolonel Basuki mengajak anggota pasukan nya untuk tidak terpancing melaku kan hal yang sama. Melakukan pe nghadangan dan penyerangan ba lik dengan sekoci.
Justru Sang Kolonel memerintah kan peluncuran dua pesawat tem pur secara serempak dan bersila ngan arah. Tindakan ini diambil untuk menahan laju pasukan mu suh.
Meski berisiko terkena tembakan dari pasukan sekoci, tapi beberapa saat usai lepas landas dari kapal perang Cahaya, dua pesawat tem pur yang pernah diuji coba Presiden Bais ini sukses bermanuver degan terbang rendah di atas permukaan laut sambil melepaskan beberapa kali tembakan dan bom air.
Sebagian pasukan sekoci tewas, se bagiannya lagi sempat melompat ke dalam air. Sebelum akhirnya be berapa di antaranya berhasil di sela matkan pasukan laut Yauman.
Bagaimana dengan nasib Kolonel Laut Santoso?
Oleh Wak Amin
"FIRE!" Teriak Kolonel Laut Santo so. Teriakan ini membuat seluruh anggota pasukan yang tersisa se makin bersemangat.
Dengan keputusan nekat dan bera ni, Sang Kolonel memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan sekoci perang ke laut.
Ada sekitar sepuluh sekoci. Selain sekoci, satu pesawat tempur tersi sa dikerahkan. Saat bersamaan, da ri kapal perang Cahaya, diluncurkan satu buah rudal nyamuk.
Rudal ini tak mampu dihadang pa sukan Jasina, sehingga dengan mu dahnya menghantam kapal Mari, yang beberapa saat kemudian ter bakar.
Beruntung Kolonel Laut Santoso se lamat dari ledakan dahsyat itu. Dia terjun dari kapal dengan menggu nakan pelampung bersama bebe rapa pengawalnya.
Namun sekitar seratus lebih kru di atas kapal Mari tewas terbakar. Ma rah, sedih dan geram tampak meng gurat di raut muka Kolonel Santoso yang sempat terpana menyaksikan Mari perlahan tenggelam.
Sementara pasukan sekoci terus mendekat ke lokasi kapal Cahaya yang berjarak kurang lebih sepuluh kilometer.
Semakin dekatnya pasukan sekoci Jasina ini sempat membuat geli sah sebagian kru kapal perang Ca haya.
Namun dengan tenangnya Kolonel Basuki mengajak anggota pasukan nya untuk tidak terpancing melaku kan hal yang sama. Melakukan pe nghadangan dan penyerangan ba lik dengan sekoci.
Justru Sang Kolonel memerintah kan peluncuran dua pesawat tem pur secara serempak dan bersila ngan arah. Tindakan ini diambil untuk menahan laju pasukan mu suh.
Meski berisiko terkena tembakan dari pasukan sekoci, tapi beberapa saat usai lepas landas dari kapal perang Cahaya, dua pesawat tem pur yang pernah diuji coba Presiden Bais ini sukses bermanuver degan terbang rendah di atas permukaan laut sambil melepaskan beberapa kali tembakan dan bom air.
Sebagian pasukan sekoci tewas, se bagiannya lagi sempat melompat ke dalam air. Sebelum akhirnya be berapa di antaranya berhasil di sela matkan pasukan laut Yauman.
Bagaimana dengan nasib Kolonel Laut Santoso?
Selasa, 06 Agustus 2019
Mana Tahan (9)
Mana Tahan (9)
Oleh Wak Amin
"FIRE ..!"
SEBUAH rudal dilepaskan. Menga rah ke kapal perang Cahaya. Diba las dengan tembakan dari dalam air lurus ke depan.
Meski dalam air, laju rudal yang di lepaskan mampu mendahului rud al musuh sebelum terjadi ledakan dahsyat di udara.
Saking dahsyatnya ledakan itu ter jadi, air laut muncrat ke udara ber sama ribuan ikan kecil dan besar yang kemudian nyemplung ke da lam air tanpa bekas.
Kedua kapal perang, baik Cahaya maupun Mari sempat berguncang beberapa saat.
Langit berubah gelap. Hujan seolah akan segera turun ...
Beberapa saat kemudian. Sebuah pesawat tempur yang lepas landas dari kapal Mari mendekat dan siap beraksi ...
Tembakan jarak jauh dilepaskan ..
Jegaaar ...
Guaaar ...
Tepat mengenai bagian depan ka pal Mari. Beberapa fasilitas rusak. Tiga anak buah Kolonel Laut Basu ki terlempar dari atas kapal, nyem plung ke laut.
"Fire ...!" Perintah Kolonel Laut Basu ki.
Rudal nyamuk dilepaskan. Kurang dari satu menit kemudian terdeng ar ledakan keras di udara. Pesawat tempur yang leluasa bermanuver itu hancur berkeping-keping.
Ha ha ha ...
Para kru tertawa. Lawan pasti ked er. Rudal nyamuk belum ada tandi ngannya.
"Bangsaat. Mustahil," kata Kolonel Laut Santoso. Tak percaya dengan kejadian barusan.
Sejauh ini pesawat tempur Jasina amat canggih dan tak tertandingi oleh angkatan perang manapun.
"Kenapa diam? Kasih solusi saya," bentak Kolonel Santoso pada anak buanya yang cuma diam dan meny esali hancurnya pesawat tempur kebanggaan Raja Jasina itu.
"Terbangkan lagi pesawat satunya Kolonel," kata salah seorang dari anggota pasukan berambut keri ting.
"Betul Kolonel," kata yang lain sam bil meneriakkan yel-yel 'Hidup Jasi na, Hidup Raja Jasina, Jayalah Ja sina, Pantang Mundur, Lebih Baik Mati daripada Menyerah.'
Oleh Wak Amin
"FIRE ..!"
SEBUAH rudal dilepaskan. Menga rah ke kapal perang Cahaya. Diba las dengan tembakan dari dalam air lurus ke depan.
Meski dalam air, laju rudal yang di lepaskan mampu mendahului rud al musuh sebelum terjadi ledakan dahsyat di udara.
Saking dahsyatnya ledakan itu ter jadi, air laut muncrat ke udara ber sama ribuan ikan kecil dan besar yang kemudian nyemplung ke da lam air tanpa bekas.
Kedua kapal perang, baik Cahaya maupun Mari sempat berguncang beberapa saat.
Langit berubah gelap. Hujan seolah akan segera turun ...
Beberapa saat kemudian. Sebuah pesawat tempur yang lepas landas dari kapal Mari mendekat dan siap beraksi ...
Tembakan jarak jauh dilepaskan ..
Jegaaar ...
Guaaar ...
Tepat mengenai bagian depan ka pal Mari. Beberapa fasilitas rusak. Tiga anak buah Kolonel Laut Basu ki terlempar dari atas kapal, nyem plung ke laut.
"Fire ...!" Perintah Kolonel Laut Basu ki.
Rudal nyamuk dilepaskan. Kurang dari satu menit kemudian terdeng ar ledakan keras di udara. Pesawat tempur yang leluasa bermanuver itu hancur berkeping-keping.
Ha ha ha ...
Para kru tertawa. Lawan pasti ked er. Rudal nyamuk belum ada tandi ngannya.
"Bangsaat. Mustahil," kata Kolonel Laut Santoso. Tak percaya dengan kejadian barusan.
Sejauh ini pesawat tempur Jasina amat canggih dan tak tertandingi oleh angkatan perang manapun.
"Kenapa diam? Kasih solusi saya," bentak Kolonel Santoso pada anak buanya yang cuma diam dan meny esali hancurnya pesawat tempur kebanggaan Raja Jasina itu.
"Terbangkan lagi pesawat satunya Kolonel," kata salah seorang dari anggota pasukan berambut keri ting.
"Betul Kolonel," kata yang lain sam bil meneriakkan yel-yel 'Hidup Jasi na, Hidup Raja Jasina, Jayalah Ja sina, Pantang Mundur, Lebih Baik Mati daripada Menyerah.'
Senin, 05 Agustus 2019
Mana Tahan (8)
Mana Tahan (8)
Oleh Wak Amin
"LALU apa rencana anda selanjut nya Nona Maria?"
"Kalau boleh diizinkan saya ingin mengabdi untuk negeri ini Jenderal," kata Maria.
Pangsar Jenderal Sutarman cuma tersenyum ...
"Dalam bentuk apa Nona kalau boleh saya tahu?"
"Saya siap melakukan apa saja untuk kemajuan negeri ini Jenderal."
"Baiklah," kata Jenderal Sutarman, " mau Nona saya pertemukan deng an Mayor Hanafi dan Letnan Su bekti?"
"Mau dan siap Jenderal. Tapi kalau boleh saya tahu alasan Jenderal m empertemukan keduanya dengan saya."
"Mereka berdua sudah menyatakan diri pasa saya untuk tidak kembali ke negeri Jasina, Nona."
"Berarti ... Sama dengan saya Jenderal."
"Tepat sekali," kata Jenderal Sutar man. "Pertemuan mereka dengan Nona sekaligus untuk tukar pan dang dan tukar pikiran."
"Apa semuanya baik-baik saja Jenderal?"
"Insya Allah Nona. Makanya saya ingin sekalian kalian bertiga berte mu. Apalagi kalian dari negeri yang sama. Jasina.
Pertemuan itu berlangsung di sebu ah tempat di pinggiran kota. Ada se buah hotel di tepian pantai dengan pemandangannya yang amat elok dan menawan hati.
Pangsar Jenderal Sudirman sudah beberapa kali melakukan pertemu an yang rame dikunjungi saat hari libur itu.
Bersama Presiden Bais dan menteri terkait, Pangsar Jenderal Sutarman membahas situasi keamanan nege ri Yauman.
Oleh Wak Amin
"LALU apa rencana anda selanjut nya Nona Maria?"
"Kalau boleh diizinkan saya ingin mengabdi untuk negeri ini Jenderal," kata Maria.
Pangsar Jenderal Sutarman cuma tersenyum ...
"Dalam bentuk apa Nona kalau boleh saya tahu?"
"Saya siap melakukan apa saja untuk kemajuan negeri ini Jenderal."
"Baiklah," kata Jenderal Sutarman, " mau Nona saya pertemukan deng an Mayor Hanafi dan Letnan Su bekti?"
"Mau dan siap Jenderal. Tapi kalau boleh saya tahu alasan Jenderal m empertemukan keduanya dengan saya."
"Mereka berdua sudah menyatakan diri pasa saya untuk tidak kembali ke negeri Jasina, Nona."
"Berarti ... Sama dengan saya Jenderal."
"Tepat sekali," kata Jenderal Sutar man. "Pertemuan mereka dengan Nona sekaligus untuk tukar pan dang dan tukar pikiran."
"Apa semuanya baik-baik saja Jenderal?"
"Insya Allah Nona. Makanya saya ingin sekalian kalian bertiga berte mu. Apalagi kalian dari negeri yang sama. Jasina.
Pertemuan itu berlangsung di sebu ah tempat di pinggiran kota. Ada se buah hotel di tepian pantai dengan pemandangannya yang amat elok dan menawan hati.
Pangsar Jenderal Sudirman sudah beberapa kali melakukan pertemu an yang rame dikunjungi saat hari libur itu.
Bersama Presiden Bais dan menteri terkait, Pangsar Jenderal Sutarman membahas situasi keamanan nege ri Yauman.
Minggu, 04 Agustus 2019
Mana Tahan (7)
Mana Tahan (7)
Oleh Wak Amin
USAI pelepasan ...
Salah seorang ajudan Pangdar Jen deral Sutarman memberitahu ada seorang wanita yang mengaku Ma ria ingin bertemu.
Bertatap muka ...
"Jenderal. Saya langsung kembali ke Al ' la hari ini. Presiden Bais su dah saya beritahu," kata Zainab.
"Baik Panglima. Terima kasih telah memenuhi undangan kami. Sampai kan salam saya buat Jenderal Man sur, Jenderal Ihsan dan semuanya."
"Siap Jenderal. Saya akan sampai kan sesaat setelah saya kembali tiba dan Al 'la."
"Terim kasih duhai saudara perem puanku. Teriring doa selamat sam pai tujuan dari saya .."
"Terima kasih Panglima. Dengan senang hati saya mohon pamit."
Setelah bersama rombongan Pre siden Bais menuju istana, Zainab berpisah arah. Dia menuju airport Yauman, dan Jenderal Ihsan, ayah angkatnya sudah siap menyambut kepulangannya di airport Al A'la.
Sementara Maria, setelah Presiden Bais dan rombongan sampai di ista na barulah dia bertemu dengan Pa ngsar Jenderal Sutarman di ruang kerjanya.
Walau tak resmi, karena tidak dijad walkan ada pertemuan khusus hari ini, kehadiran Maria disambut deng an ramah dan hangat oleh Jenderal Sutarman.
"Setelah ini saya akan memperte mukan anda dengan Mayor Habafi dan Letnan Subekti," kata Pangsar Jenderal Sutarman menindaklanjuti hasil per temuan terdahulu.
Sudah dua kali Jenderal Sutarman bertemu dengan Maria. Pertemuan pertama teejadi sesaat sebelum ke datangan Mayor Hanafi dan Letnan Subekti yang kemudian berhasil dia mankan di airport Yauman.
Maria ingin meminta perlindungan dari Presuden Baus dan Panglima Jenderal Sutarman. Karena dicari Raja Jasina untuk ditangkap hidup-hidup dan diadili di pengadilan Jasi na atas tuduhan berkhianat karena menolak menjalankan tugas mem bunuh Presiden Bais.
"Saya akui, saya telah membunuh rekan-rekan saya saat itu Jenderal Sutarman," kata Maria sedih.
"Tapi," lanjut Maria, "Hal itu terpak sa saya lakukan karena saya, dari hati nurani yang paling dalam, me nolak menjalankan perintah kotor dan amat kejam ini."
Saya akhirnya mengambil jalan pin tas yang menurut saya bisa menye lesaikan masalah. "Ternyata keliru Jenderal. Semakin saya menghabi si teman-teman saya, kelakuan Ra ja Jasina semakin nekat saja."
"Nyawa saya terancam. Saya paling dicari dan dijadikan target utama setelah presiden anda Jenderal Su tarman," jelas Maria.
Oleh Wak Amin
USAI pelepasan ...
Salah seorang ajudan Pangdar Jen deral Sutarman memberitahu ada seorang wanita yang mengaku Ma ria ingin bertemu.
Bertatap muka ...
"Jenderal. Saya langsung kembali ke Al ' la hari ini. Presiden Bais su dah saya beritahu," kata Zainab.
"Baik Panglima. Terima kasih telah memenuhi undangan kami. Sampai kan salam saya buat Jenderal Man sur, Jenderal Ihsan dan semuanya."
"Siap Jenderal. Saya akan sampai kan sesaat setelah saya kembali tiba dan Al 'la."
"Terim kasih duhai saudara perem puanku. Teriring doa selamat sam pai tujuan dari saya .."
"Terima kasih Panglima. Dengan senang hati saya mohon pamit."
Setelah bersama rombongan Pre siden Bais menuju istana, Zainab berpisah arah. Dia menuju airport Yauman, dan Jenderal Ihsan, ayah angkatnya sudah siap menyambut kepulangannya di airport Al A'la.
Sementara Maria, setelah Presiden Bais dan rombongan sampai di ista na barulah dia bertemu dengan Pa ngsar Jenderal Sutarman di ruang kerjanya.
Walau tak resmi, karena tidak dijad walkan ada pertemuan khusus hari ini, kehadiran Maria disambut deng an ramah dan hangat oleh Jenderal Sutarman.
"Setelah ini saya akan memperte mukan anda dengan Mayor Habafi dan Letnan Subekti," kata Pangsar Jenderal Sutarman menindaklanjuti hasil per temuan terdahulu.
Sudah dua kali Jenderal Sutarman bertemu dengan Maria. Pertemuan pertama teejadi sesaat sebelum ke datangan Mayor Hanafi dan Letnan Subekti yang kemudian berhasil dia mankan di airport Yauman.
Maria ingin meminta perlindungan dari Presuden Baus dan Panglima Jenderal Sutarman. Karena dicari Raja Jasina untuk ditangkap hidup-hidup dan diadili di pengadilan Jasi na atas tuduhan berkhianat karena menolak menjalankan tugas mem bunuh Presiden Bais.
"Saya akui, saya telah membunuh rekan-rekan saya saat itu Jenderal Sutarman," kata Maria sedih.
"Tapi," lanjut Maria, "Hal itu terpak sa saya lakukan karena saya, dari hati nurani yang paling dalam, me nolak menjalankan perintah kotor dan amat kejam ini."
Saya akhirnya mengambil jalan pin tas yang menurut saya bisa menye lesaikan masalah. "Ternyata keliru Jenderal. Semakin saya menghabi si teman-teman saya, kelakuan Ra ja Jasina semakin nekat saja."
"Nyawa saya terancam. Saya paling dicari dan dijadikan target utama setelah presiden anda Jenderal Su tarman," jelas Maria.
Sabtu, 03 Agustus 2019
Mana Tahan (6)
Mana Tahan (6)
Oleh Wak Amin
PANGSAR Al A'la Zainab yang di minta Presiden Bais naik ke atas podium, berucap singkat.
Udai menyampaikan sepatah dua patah kata, ia kemudian menya nyi kan sebuah lagu penggugah hati dan penyemangat hidup.
'Al-Jumhūrīyah al-Muttaḥidâh', itu judul lagu yang ia senandungkan ...
Inilah syairnya ...
:
الجمهورية المتحدة
رددي أيتها الدنيا نشيدي
ردديه وأعيدي وأعيدي
واذكري في فرحتي كل شهيد
وأمنحيه حللاً من ضوء عيدي
رددي أيتها الدنيا نشيدي
رددي أيتها الدنيا نشيدي
وحدتي..وحدتي..يانشيداً رائعاً يملاُ نفسي
أنت عهد عالق في كل ذمة
رايتي.. رايتي..يانسيجاً حكته من كل شمس
أخلدي خافقة في كل قمة
أمتي.. أمتي.. امنحيني البأس يامصدر بأسي
وأذخريني لك يا أكرم أمة
عشت إيماني وحبي سرمديا
ومسيري فوق دربي عربيا
وسيبقى نبض قلبي يمنيا
لن ترى الدنيا على أرضي وصيا
Raddidi Ayyatuha 'D-dunya Nashidi
Raddidihi Wa-a 'idi Wa-a idi
Wa 'Dhkuri Fi Farhati Kulla Shahidi
Wa'Mnahihi Hullalan Min Daw'i Idi
Raddidi Ayyatuha 'D-dunya Nashidi
Raddidi Ayyatuha 'D-dunya Nashidi
Wahdati, Wahdati, Ya Nashidan Ra'i'an Yamla'u Nafsi
Anti Ahdun 'Aliqun Fi Kulli Dhimmah
Rayati, Rayati, Ya Nasijan Hiktahu Min Kulli Shamsi
Ukhludi Khafiqatan Fi Kulli Qimmah
Ummati, Ummati, Imnahini 'L-ba'sa Ya Masdari Ba'si
Wa 'Dhkhurini Laki Ya Akrama Ummah
'Ishtu Imani Wa-hubbi sarmadia
Wa-masiri Fawqa Darbi Arabiyya
Wa-sayabqa Nabdu Qalbi Yamaniyya
Lan Tara 'D-dunya Ala Ardi Wasiyya.
Oleh Wak Amin
PANGSAR Al A'la Zainab yang di minta Presiden Bais naik ke atas podium, berucap singkat.
Udai menyampaikan sepatah dua patah kata, ia kemudian menya nyi kan sebuah lagu penggugah hati dan penyemangat hidup.
'Al-Jumhūrīyah al-Muttaḥidâh', itu judul lagu yang ia senandungkan ...
Inilah syairnya ...
:
الجمهورية المتحدة
رددي أيتها الدنيا نشيدي
ردديه وأعيدي وأعيدي
واذكري في فرحتي كل شهيد
وأمنحيه حللاً من ضوء عيدي
رددي أيتها الدنيا نشيدي
رددي أيتها الدنيا نشيدي
وحدتي..وحدتي..يانشيداً رائعاً يملاُ نفسي
أنت عهد عالق في كل ذمة
رايتي.. رايتي..يانسيجاً حكته من كل شمس
أخلدي خافقة في كل قمة
أمتي.. أمتي.. امنحيني البأس يامصدر بأسي
وأذخريني لك يا أكرم أمة
عشت إيماني وحبي سرمديا
ومسيري فوق دربي عربيا
وسيبقى نبض قلبي يمنيا
لن ترى الدنيا على أرضي وصيا
Raddidi Ayyatuha 'D-dunya Nashidi
Raddidihi Wa-a 'idi Wa-a idi
Wa 'Dhkuri Fi Farhati Kulla Shahidi
Wa'Mnahihi Hullalan Min Daw'i Idi
Raddidi Ayyatuha 'D-dunya Nashidi
Raddidi Ayyatuha 'D-dunya Nashidi
Wahdati, Wahdati, Ya Nashidan Ra'i'an Yamla'u Nafsi
Anti Ahdun 'Aliqun Fi Kulli Dhimmah
Rayati, Rayati, Ya Nasijan Hiktahu Min Kulli Shamsi
Ukhludi Khafiqatan Fi Kulli Qimmah
Ummati, Ummati, Imnahini 'L-ba'sa Ya Masdari Ba'si
Wa 'Dhkhurini Laki Ya Akrama Ummah
'Ishtu Imani Wa-hubbi sarmadia
Wa-masiri Fawqa Darbi Arabiyya
Wa-sayabqa Nabdu Qalbi Yamaniyya
Lan Tara 'D-dunya Ala Ardi Wasiyya.
Jumat, 02 Agustus 2019
Mana Tahan (5)
Mana Tahan (5)
Oleh Wak Amin
SEMENTARA di pelabuhan laut Yau man sudah hadir Presiden Bais, Pa ngsar Jenderal Sutarman, Pangsar Al- A'la Jenderal Zainab, Kolonel La ut Basuki dan beberapa pejabat terkait.
Tampak megah kapal perang Caha ya yang tengah bersandar di pelabu han Sami'na wa Atha'na. Dilengkapi dua pesawat tempur canggih dan rudal nyamuk.
Kolonel Laut Basuki, atas persetu juan Presiden Yauman, ditunjuk se bagai Komandan dengan memim pin 50 personil angkatan laut ber pengalaman.
Langit cerah. Air laut tenang seolah ikut menyimak secara sungguh-su ngguh pidato pelepasan dari Presi den Bais ...
Dalam pidatonyo, orang nomor sa tu di Negeri Yauman ini mengajak semua rakyatnya ikut berdoa agar misi yang diembankan kepada Kolo nel Laut Basuki dan kawan-kawan sukses.
"Saya tidak menginginkan kita ber perang. Tapi kita tak bisa menge lak dan menghindari perang. Apala gi itu menyangkut harkat dan mar tabat rakyat Yauman," kata Presi den Bais dengan suara lantang.
"Kita tak boleh kalah oleh teroris. Sekali kita kalah hancur sudah ne geri ini ..."
Presiden Bais menghentikan seje nak pidatonya ...
"Kita harus lawan teroris dengan segala kemampuan dan kekuatan yang kita miliki. Kita harus bersatu dan sepakat untuk tidak memberi sejengkal pun tanah Yauman dita paki dan diduduki teroris."
Hening ...
Hanya sesekali terdengar desiran suara ombak menyinggahi tepian laut berpasir putih ..
"Kepada saudara Kolonel Laut Basu ki, saya titip pesan agar selalu men jaga kekompakan, persatuan dan kesatuan. Karena hanya dengan ca ra inilah kita bisa memenangi sebuah peperangan."
"Selamat jalan. Semoga sukses. Pu lang membawa kemenangan, meng harumkan Negeri Yauman .."
Oleh Wak Amin
SEMENTARA di pelabuhan laut Yau man sudah hadir Presiden Bais, Pa ngsar Jenderal Sutarman, Pangsar Al- A'la Jenderal Zainab, Kolonel La ut Basuki dan beberapa pejabat terkait.
Tampak megah kapal perang Caha ya yang tengah bersandar di pelabu han Sami'na wa Atha'na. Dilengkapi dua pesawat tempur canggih dan rudal nyamuk.
Kolonel Laut Basuki, atas persetu juan Presiden Yauman, ditunjuk se bagai Komandan dengan memim pin 50 personil angkatan laut ber pengalaman.
Langit cerah. Air laut tenang seolah ikut menyimak secara sungguh-su ngguh pidato pelepasan dari Presi den Bais ...
Dalam pidatonyo, orang nomor sa tu di Negeri Yauman ini mengajak semua rakyatnya ikut berdoa agar misi yang diembankan kepada Kolo nel Laut Basuki dan kawan-kawan sukses.
"Saya tidak menginginkan kita ber perang. Tapi kita tak bisa menge lak dan menghindari perang. Apala gi itu menyangkut harkat dan mar tabat rakyat Yauman," kata Presi den Bais dengan suara lantang.
"Kita tak boleh kalah oleh teroris. Sekali kita kalah hancur sudah ne geri ini ..."
Presiden Bais menghentikan seje nak pidatonya ...
"Kita harus lawan teroris dengan segala kemampuan dan kekuatan yang kita miliki. Kita harus bersatu dan sepakat untuk tidak memberi sejengkal pun tanah Yauman dita paki dan diduduki teroris."
Hening ...
Hanya sesekali terdengar desiran suara ombak menyinggahi tepian laut berpasir putih ..
"Kepada saudara Kolonel Laut Basu ki, saya titip pesan agar selalu men jaga kekompakan, persatuan dan kesatuan. Karena hanya dengan ca ra inilah kita bisa memenangi sebuah peperangan."
"Selamat jalan. Semoga sukses. Pu lang membawa kemenangan, meng harumkan Negeri Yauman .."
Mana Tahan (4)
Mana Tahan (4)
Oleh Wak Amin
RAJA Jasina pada akhirnya meme rintahkan Panglima Besar Jenderal Amir untuk menyerang Negeri Yau man lewat laut dengan pengopera sian kapal perang MARI.
Berkekuatan seribu personil angka tan laut dan dua pesawat tempur di geladak utama, dikomandoi Kolonel Santoso. Berangkat meninggalkan pelabuhan besar Jasina jelang su buh dengan cuaca cerah.
Dilepas Raja Jasina dan Pangsar Jenderal Amir, Sang Raja berpesan misi penyerangan besar ini tidak boleh gagal.
"Kalian camkan itu. Kalian pahami itu baik-baik. Saya yakin kalian se pendapat dengan saya, bahwa pe nyerangan ini harus berhasil. Se bab, jika sampai gagal berarti ka li an mencoreng muka saya dengan tinja .."
Semua menyimak ..
Hening ...
"Hudup Jasina!" Teriak Jenderal Fatoni, Raja Jasina sambil menge palkan tinju ke atas.
"Hidup Raja!" Jawab personil MARI dan Kolonel Laut Santoso.
Yel-yel ini berulangkali terdengar. Sampai akhirnya Sang Raja me nyampaikan pesan terakhir ..
"Di pundak kalian ada nama Jasi na. Bikin banggalah dia. Tunjukkan pada dunia kitalah yang paling he bat dan paling perkasa di jagat raya ini .."
Lima menit kemudian Raja Jasina dan rombongan turun dari kapal ke banggaan Jasina yang besar dan mewah itu.
Seruling MARI berbunyi, merinding kan bulu roma ...
Kapal perang itu pun mulai menja uh dari kerumunan orang yang me lepasnya pergi jauh ...
Oleh Wak Amin
RAJA Jasina pada akhirnya meme rintahkan Panglima Besar Jenderal Amir untuk menyerang Negeri Yau man lewat laut dengan pengopera sian kapal perang MARI.
Berkekuatan seribu personil angka tan laut dan dua pesawat tempur di geladak utama, dikomandoi Kolonel Santoso. Berangkat meninggalkan pelabuhan besar Jasina jelang su buh dengan cuaca cerah.
Dilepas Raja Jasina dan Pangsar Jenderal Amir, Sang Raja berpesan misi penyerangan besar ini tidak boleh gagal.
"Kalian camkan itu. Kalian pahami itu baik-baik. Saya yakin kalian se pendapat dengan saya, bahwa pe nyerangan ini harus berhasil. Se bab, jika sampai gagal berarti ka li an mencoreng muka saya dengan tinja .."
Semua menyimak ..
Hening ...
"Hudup Jasina!" Teriak Jenderal Fatoni, Raja Jasina sambil menge palkan tinju ke atas.
"Hidup Raja!" Jawab personil MARI dan Kolonel Laut Santoso.
Yel-yel ini berulangkali terdengar. Sampai akhirnya Sang Raja me nyampaikan pesan terakhir ..
"Di pundak kalian ada nama Jasi na. Bikin banggalah dia. Tunjukkan pada dunia kitalah yang paling he bat dan paling perkasa di jagat raya ini .."
Lima menit kemudian Raja Jasina dan rombongan turun dari kapal ke banggaan Jasina yang besar dan mewah itu.
Seruling MARI berbunyi, merinding kan bulu roma ...
Kapal perang itu pun mulai menja uh dari kerumunan orang yang me lepasnya pergi jauh ...
Langganan:
Postingan (Atom)