Rabu, 31 Juli 2019

Mana Tahan (3)

Mana Tahan (3)
Oleh Wak Amin





DI ruang tahanan bawah tanah ...

Kreeeeeng ...

"Mayoor .. Letnaan .. Silakan keluar. Ada seseorang yang ingin bertemu anda sekarang," ucap pria berkumis dan berbadan tinggi serta besar.

"Siapa dia teman kalau boleh ta hu?" Tanya Mayor Hanafi.

"Panglima kami Mayor .. Letnan."

Panglima Jenderal Sutarman  da ta ng sendiri ke penjara pinggiran kota tanpa pengawalan. Hal ini sudah se ring ia lakukan saat ber kunjung ke berbagai daerah di negeri Yauman.

Sosok yang ramah tapi tegas dan cepat dalam mengambil keputu san. Selain Presiden Bais, pendu duk Yauman juga amat mencintai panglima Jenderal Sutarman. Da lam berbagai kesempatan mereka selalu mengelu-elukan keduanya.

"Selamat siang Jenderal," kata Ma yor Hanafi dan Letnan Subekti. Ke duanya serempak memberi hormat dan menyalami Sang Panglima.

Dengan nada berkelakar, Jenderal Sutarman menjelaskan maksud ke datangannya yang terkesan menda dak ke penjara hanya untuk sila ltu rahmi saja.

"Untuk memastikan saja apa kalian berdua sehat-sehat saja selama berada disini?"

"Alhamdulillah Panglima. Kami ber dua sehat-sehat saja. Tidur kami pu las dan makan cukup," jelas Ma yor Hanafi.

"Syukurlah. Saya sangat senang mendengarnya."

"Terima kasih Jenderal."

Menindaklanjuti pembelotan yang dilakukan anak buah Jenderal Amir dari negeri Jasina, Jenderal Sutar man kemudian menceritakan tenta ng ancaman akan menyerang dan menghancurkan negeri Yauman.

"Dalam waktu dekat dia, atas perin tah Raja Jasina, akan mengerahkan armada kapal perang .."

"Pasti karena pembelotan kami. Be tul kan Jenderal?" Tanya Mayor Ha nafi.

"Salah satunya begitu Mayor, Let nan. Selebihnya karena faktor den dam pribadi. Ingin menghabisinya wa Sang Presiden."

"Apa yang bisa kami berdua bantu Jenderal? Karena kami sudah man tap tidak akan kembali ke Jasina, kecuali ..."

"Kecuali apa Mayor?"

"Anda mengusir kami."

Ha ha ha ..

                         ******






Selasa, 30 Juli 2019

Mana Tahan (2)

Mana Tahan (2)
Oleh Wak Amin





"TAPI kalau menurut bapak, kalau pun dia dibunuh, sulit juga mena ngkap pelakunya," kata lelaki beru ban, pemilik kedai.

"Alasannya Pak?" Tanya si kacama ta sambil mengunyah kerupuk iwak kesukaannya.

"Kalau ternyata si pembunuhnya nanti bukan orang penting apa mau pihak berwajib menangkapnya?"

"Bukan lagi mau Pak. Tapi harus, malah wajib," kata teman si kaca mata, terbatuk-batuk setelah menye ruput kopi susu.

"Betul kata teman saya Pak," kata su kacamata, "Kita selaku pendu duk Jasina seharusnya sama-sama mendorong pemerintah untuk sece patnya membawa pelakunya jika diketemukan ke pengadilan."

"Bagaimana caranya?"

"Gampang Pak. Kita kasih tau saja unek-unek kita ke lembaga terkait dengan alasan-alasan yang masuk akal tentunya. Mudah-mudahan direspon .."

Pemilik kedai tertawa ..

"Tapi menurut bapak tidak segam pang itulah Nak. Direspons ya di respons. Tapi tindak lanjut dari res pons itu yang dipertanyakan. Bapak kuatir apa yang kita sampaikan itu pada akhirnya masuk tong sampah."

"Tapi kita harus optimis Pak," kata si kacamata.

"Ya optimis boleh Nak. Tapi pesi mis juga tidak dilarang kan?"

Ha ha ha ha ...

"Pak kopinya satu. Yang kental dan pahit ya Pak," kata salah seorang pengunjung yang baru saja datang dari jauh.

Lelaki tampan, berkacamata hitam. Ramah dia menyapa ..

Sengaja dia mampir ke kedai kopi langgananannya. Saban minggu, pulang dari luar kota, dia mampir sekadar untuk minum kopi.

"Enak kopinya Mas," ujarnya saat di tanya si kacamata dan temannya ketika mencicipi 'gorengan' di atas meja panjang kedai berbahan kayu dengan atap sirep itu.


Mana Tahan (1)

Novel Islami ..

Sambungan dari serial 'Langit tak Berbintang ...'

Mana Tahan (1)
Oleh Wak Amin



TIGA hari kemudian ...

"Anda punya otak enggak Jenderal Daud?"

Pertanyaan ini tak dijawab Sang Pa nglima. Dia hanya menjelaskan se cara singkat berdasarkan hasil la poran pihak berwenang Yauman kro nologis penangkapan Mayor Hanafi dan Letnan Subekti dan dimana ke duanya kini diamankan dan diinte rogasi.

"Saya tak mau soal itu Panglima. Sekarang anda dipersilakan keluar dari ruangan saya," kata Raja Jasi na sambil menahan amarah.

"Siap Jenderal ..."

Tak seorang anggota pasukan pe ngawal Raja Jasina pun yang me ngantar Jenderal Daud keluar dari ruangan kerja Raja Jasina.

Dia baru disambut dengan sinis ol eh beberapa perwira yang selama ini dibawah komando tugasnya se bagai Panglima Besar Negeri Jasi na.

Pria berbadan tegap itu kemudian memaksa masuk Sang Panglima ke sebuah mobil di dekat pintu ger bang istana raja.

Mobil pun melaju cepat ...

Tak seorang pun yang tahu kemana Sang Panglima akan dibawa. Yang cuma tahu keesokan harinya Jen deral Daud diketemukan tewas di kamarnya.

Beberapa saat setelah kematian nya, Sang Raja mengumumkan per gantian Pangsar dari almarhum Je nderal Daud kepada pengggantinya Jenderal Amir.

Pergantian Pangsar ini tak bagitu mendapat sambutan yang hangat dari seluruh rakyat Jasina. Info dari mulut ke mulut justru terfokus pads kematian Jenderal Daud yang terke san mendadak itu.

Apa benar Sang Jenderal bunuh di ri?  Rasanya mustahil. Karena yang rakyat tahu lelaki sulit senyum itu amat membenci mereka yang mela kukan aksi bunuh diri karena dinilai sebagai tindakan pengecut,  pena kut, banci dan lari dari tanggung jawab.

Tapi kalau dia memang dibunuh, si apa yang membunuhnya? Kenapa dia harus dibunuh? Bukankah Sang Jenderal sangat disegani di Negeri Jasina ini, salah satu orang keper cayaan Raja Jasina di kemiliteran?

"Semua mungkin saja terjadi Bro," kata lelaki berkacamata pada te mannya yang kutu buku saat ke duanya menyeruput kopi di salah satu kedai kopi pinggiran kota, pagi hari.

"Maksud kamu?" Tanya sang tem an sambil menuangkan susu ka lengan ke gelas kopi miliknya.

"Bisa bunuh diri, bisa juga dibunuh," jawab si kacamata, gantian menu angkan susu kalengan ke dalam ge las air kopi hitam yang tersisa sepa ro.

Minggu, 28 Juli 2019

Langit tak Berbintang (24-tamat)

Langit tak Berbintang (24)
Oleh Wak Amin

KEDUANYA adalah Mayor Hanafi dan Letnan Subekti. Pengiriman ini dilakukan amat rahasia. Sayang ketika sampai di airport Yauman, kedua perwira terbaik Jasina ini langsung diamankan pihak berwa jib.

Keduanya tidak bisa mengelak saat diinterogasi pasukan khusus Yaum an setibanya di airport. Keduanya di bawa menggunakan mobil khu sus kemiliteran untuk ditanyai lebih lan jut ikhwal kedatangan keduanya se cara rahasia ke negeri Yauman.

Sementara Sanaf dan Arman yang sempat beberapa saat berada di air port untuk menjemput Mayor Hana fi dan Letnan Subekti harus gigit ja ri setelah dua 'teman baru' mereka ini diamankan pihak berwajib.

Belum sempat melapor ke Pangli ma Besar Jasina, Jenderal Daud, Arman dan Sanaf segera kabur me nggunakan sepeda motor, keluar dari airpiort menuju jalan raya uta ma simpang lima.

Maria sudah menunggu keduanya sedari tadi. Dia duduk di atas motor yang diparkir di bawah batang po hon besar dan rindang.

Setelah melihat sepeda notor yang dikemudikan Arman dan Sanaf me lintas tak jauh dari pohon yang usi anya sudah ratusan tahun itu, Ma ria menyalakan mesin motor.

Langsung tancap gas. Kurang dari dua menit dia sudah berhasil me mepet sepeda motor di depannya. Sanaf menoleh ..

"Cepat Bro. Dia di belakang kita," bisik Sanaf mulai gelisah.

"Siapa?"

"Maria tau ..."

Reeen ...

"Hai ..." Sapa Maria. Dia dahului Ar man, memotong jalan ke sebelah kiri.

Syiiiit ...

Arman terpaksa mengerem.

Tak lama kemudian ...

Dooor ...

Dooor ...

Setelah memastikan Arman dan Sa naf tewas, Maria meniup sisa asap tembakan di mulut pistol, sebelum dimasukkannya kembali ke saku jaket tebalnya. (TAMAT)





Langit tak Berbintang (23)

Langit tak Berbintang (23)
Oleh Wak Amin


TAK lama kemudian Maria meng hampiri dengan cara melintangkan sepeda motornya di tengah jalan.

Mobil ngerem, Maria turun dari motornya ...

"Halo Bos!" Sapa Maria. Berbeda de ngan sebelumnya, Maria kali ini pe lit bicara.

Usai membalas sapaan Maria, yang disapa menodongkan pistol ke ke pala Bos Malik.

Tak terdengar letusan. Tapi dari ke pala Bos Malik keluar darah segar.

Tewas seketika dengan mata terbe lalak dan mulut menganga.

Klakson berbunyi karena tertindih kepala Bos Malik.

Maria berhasil kabur sebelum Sa naf dan Arman datang. Keduanya amat terkejut melihat Bos mereka tewas ditembak tanpa terdengar suara letusan senjata api sama sekali.

Keduanya bingung, sebelum akhir nya mayat Sang Bos dipindahkan ke kursi belakang sementara kemu di diambil alih Arman kembali.

Tentu saja, setelah mengetahui Ma lik tewas, Jenderal Daud selaku Pa nglima Besar Jasina marah besar.

Dia mengutuk keras pembunuhan terhadap Malik ...

Dia mengirim dua anak buahnya  untuk membantu Arman dan Sanaf menangkap Maria dan membunuh Presiden Bais atas perintah Raja Jasina.

Jumat, 26 Juli 2019

Langit tak Berbintang (22)

Langit tak Berbintang (22)
Oleh Wak Amin




"ARMAN!"

"Siap Bos."

"Kenapa mogok?"

"Sebentar Bos. Saya periksa me sinnya."

"Cepat. Jangan lama-lama tau."

"Baik Bos."

Melihat Sanaf tak turun, Bos Malik menegurnya.

"Bantu Arman sana!"

"Nanti aja Bos. Pas dorong mobil. Kalau soal mesin saya kurang pa ham .."

"Yang paham apa dong?"

"Perempuan Bos."

Praaak ...

Tepak punggung ...

"Kampret kamu. Buaya darat tau."

Kening Arman mengkerut ...

"Oke Man?" Tanya Sang Bos.

"Kayaknya harus dorong Bos."

Eheem ...

"Oke. Kita bagi tugas aja. Kalian ber dua yang dorong, aku pegang setir. Oke?"

"Oke Bos," jawab Sanaf. Arman ke beratan, tapi tak berani menguta rakan.

Bos Malik pindah tempat duduk. Ta di di belakang sekarang di depan. Siap ambil alih kemudi.

"Siap Bos?" Teriak Sanaf.

"Siap .."

Satu .. Dua .. Tiii .. ga ..

Sekali dorong mesin mobil menya la.

Mobil melaju lambat ...

Kamis, 25 Juli 2019

Langit tak Berbintang (21)

Langit tak Berbintang (21)
Oleh Wak Amin


"SIAPA Bos?" Tanya Sanaf kehera nan. Tak biasanya Sang Bos kaget luar biasa. Sampai-sampai harus terbatuk dan meminta Arman meng hentikan mobil sebentar.

"Maria tau."

Haaa?

Arman dan Sanaf juga pada kaget. Keduanya harus minum untuk me nghilangkan rasa kaget.

"Bos tau dimana saya?" Pancing Maria agar Bos Malik marah besar.

Ternyata benar ..

Bos Malik amat marah karena Ma ria justru ada di belakang mobil me reka.

"Lihat ..."

"Lihat kemana Bos?" Tanya Arman.

"Belakang tau."

Tengok ke belakang, eee enggak ada siapa-siapa.

"Enggak ada siapa-siapa Bos. Me mangnya ada siapa Bos. Maria?"

Sanaf jadi bingung sendiri ...

"Maria tau ..."

Ha ha ha ..

Sanaf ketawa terpaksa. Saat dita nya Sang Bos kenapa, dia jawab lucu. Masa kenapa tipu perem puan.

"Halo Tuan-tuan yang ganteng," sa pa Maria dari balik kaca mobil.

Reeen ...

"Kejar aku Tuan-tuan!"

He he he ...

"Kampret sialan .." Bos Malik geram bukan main. Baru kali ini dia diper mainkan wanita.

"Marahi Bos," kata Sanaf.

"Iya Bos," ujar Arman sambil memu kul-mukul setir mobil.

"Kejar tau .."

"Siap Bos."

Maunya sih cepat, tapi entah kena pa laju mobil justru tersendat-sen dat.

Bikin darah tinggi Sang Bos ...



Rabu, 24 Juli 2019

Langit tak Berbintang (20)

Langit tak Berbintang (20)
Oleh Wak Amin


"HEI .. Ada otak enggak lu ha?" Hardik Sanaf.

Si pemuda bukannya ketakutan. Dia malah cengar-cengir saja.

"Ngapa lu cengar-cengir?" Sanaf naik pitam.

Ingin sekali dia menghajar pemuda yang menurut dia angkuh dan som bong itu.

"Sudah, sudah." Malik melerai. Ar man juga.

"Kau tak tengok orang-orang yang ada di belakangnya itu?" Tanya Malik sambil berbisik.

"Tengok Bos."

"Kalau dia keroyok kita sekarang, mampuslah kita Naf. Paham?"

"Tapi kan kita ada pistol. Sikat aja sekalian."

"Pihak berwajib jadi tahu kebera daan kita tau .."

"Jadi gimana Bos?"

"Cepat masuk mobil ...!"

"Siap Bos."

Saat Arman menghidupkan mesin mobil, Bos Malik masih berbincang-bincang dengan si pemuda, sebe lum akhirnya bersalaman dan ma suk ke dalam mobil.

Mobil melaju lambat. Tepat di pe rempatan melaju cepat.

Kemana Maria gerangan?

Dia sekarang tengah menunggu di pertigaan ...

Dia menelepon ...

Siapa yang dia telepon?

"Halo Bos Malik!"

"Halo juga. Dengan siapa saya bicara?" Tanya Malik.

"Maria Bos."

He he he he ...



Selasa, 23 Juli 2019

Langit tak Berbintang (19)

Langit tak Berbintang (19)
Oleh Wak Amin




"KAMPRET tuh perempuan!" Ump at Arman yang kaki kanannya keje pit pintu mobil. Sedangkan Bos Ma lik dan Sanaf terjatuh ke bawah jok belakang.

"Man! Tolong aku," teriak Malik dan Sanaf bergantian.

"Sebentar Bos," jawab Arman. "Sedi kit lagi .."

"Apanya yang sedikit Man?"

"Kakiku Bos. Kejepit."

"Tarik aja yang kenceng kenapa sih? Takut ya?"

"Putus Bos kalau dipaksakan. Nanti saya tak punya kaki lagi gimana?"

"Beli aja yang baru di pasar. Banyak jualannya tau ..."

Hik hik hik ..

Sanaf masih sempat ketawa.

"Itu Bos kaki ayam ..."

"Ah masa?"

"Iyalah Bos. Saya sendiri pernah ke pasar. Cari kaki ayam. Banyak Bos rupanya ..."

Uiiiich ...

Awww ..

Terlepas juga akhirnya. Arman le ga. Dia berhasil keluar dari mobil. Lalu membantu Malik dan Sanaf.

Di luar banyak orang menonton. Sa lah seorang dari mereka, pemuda berambut gondrong, mendekat dan bertanya baik-baik kepada Arman, Malik dan Sanaf.

"Apa yang bisa saya bantu bapak-bapak bertiga?"



Senin, 22 Juli 2019

Langit tak Berbintang (18)

Langit tak Berbintang (18)
Oleh Wak Amin




TERNYATA Maria sudah melaju de ngan motornya. Dia sempat melam baikan tangan pada Arman yang sempat mengejarnya.

"Kejar cepat!" Perintah Bos Malik. Kembali ke mobil.

Mesin sulit dinyalakan ...

"Kampret," ucap Arman kesal sam bil membanting pintu mobil.

Diutak-atik sebentar. Beres. Mobil melaju. Tapi kemana?

"Saya lihat tadi ke depan, Bos."

"Ya sudah. Jalan lurus saja."

"Tapi Bos. Si Marianya kan sudah jauh. Tak mungkin kita mengejar nya."

"Lalu? Diem saja?"

"Bukan Bos. Bagaimana kalau kita lewat jalan pintas saja. Bisa lebih cepat."

Eeeem ...

Berpikir sejenak ...

"Boleh," kata Bos Malik.

Sanaf juga setuju ...

"Arman!"

"Siap Bos. Laksanakan!"

Maria belum jauh rupanya. Dia se ngaja menunggu kedatangan Ar man dan kawan-kawan.

Sambil menunggu, dia tengok me sin. Kenapa agak melambat. Tidak secepat sebelum tiba di kedai do gan.

Sebuah mobil meluncur cepat. Me lihat ada Maria lagi utak-atik sepe da motor di trotoar, Arman pun ba lik arah.

Dengan kecepatan tinggi dia belok kan mobil ke kanan. Hilang keseim bangan, mobil pun miring ke ka nan.

Masuk parit ...

He he he he ...

Maria ketawa ngakak. Dia dekati itu mobil dengan sepeda motornya. Tu run sebentar, lalu bertanya..

"Kenapa Om mobilnya?"

Minggu, 21 Juli 2019

Langit tak Berbintang (17)

Langit tak Berbintang (17)
Oleh Wak Amin



(Oh, bayangkan sebuah tanah, itu adalah tempat yang jauh
Tempat karavan unta berkeliaran
Dimana kau berkeliaran di antara setiap budaya dan bahasa
Ini kacau, tapi hei, ini rumah

Saat angin dari timur
Dan matahari dari barat
Dan pasir di gelas itu benar
Ayo turun, mampir
Hop karpet dan terbang
Untuk malam di Arab lainnya

Saat kau berkelok-kelok di jalan-jalan di pasar-pasar terkenal
Dengan kios-kios yang penuh kapulaga
Kau bisa mencium setiap bumbu
Sementara kau menawar harganya
Dari sutra dan syal satin

Oh, musik yang diputar saat kau bergerak melalui labirin
Dalam kabut kesenangan murnimu
Kau terjebak dalam tarian
Kau tersesat dalam trans
Malam di Arab lainnya

Malam di Arab
Seperti hari-hari Arab
Lebih sering daripada tidak lebih panas daripada panas
Dalam banyak hal baik

Malam di Arab
Seperti mimpi orang Arab
Tanah mistis ajaib dan pasir ini
Lebih dari kelihatannya

Ada jalan yang bisa menuntunmu
Baik atau keserakahan
Kekuatan perintah yang kau inginkan
Biarkan kegelapan terungkap atau menemukan kekayaan yang tak terhitung
Baik, takdirmu ada di tanganmu

Hanya satu yang bisa masuk kesini, yang nilainya jauh di dalamnya. Berlian di kasar

Malam di Arab
Seperti hari-hari Arab
Mereka tampak bersemangat, lepas landas, dan terbang
Terkejut dan takjub

Malam di Arab
Menghadapi bulan Arab
Orang bodoh yang lengah bisa jatuh dan jatuh
Di luar sana, di bukit pasir)


Maria berbalik arah. Dia tidak kem bali ke tempat duduknya semula se telah tahu ada yang mematai-ma tainya sejak tadi.

Mereka adalah Sanaf, Arman dan Bos Malik. Mereka tak berani men dekat untuk menangkap Maria, kare na berisiko terjadi keributan, semen tara mereka sendiri bukan warga Yauman.

"Sebaiknya kita tunggu sampai dia selesai bernyanyi," kata Malik keti ka Maria bernyanyi di atas pang gung.

Maria pura-pura tidak tahu. Dia te rus bernyanyi. Suara emasnya mam pu menyihir pengunjung kedai dog an. Ada yang berbisik, takjub dan bahkan ada pula yang bersiap naik ke atas panggung menemani Maria bernyanyi.

"Bos. Maria!" Tegur Arman, melihat Sang Bos justru asyik ngobrol den gan dua perempuan muda yang lagi asyik menikmati es dogan.

"Mana .. Mana?" Tanya Malik. Ke cele dia kali ini. Tak sempat tengok Maria turun dari panggung.

Karena dia menduga Maria pasti kembali ke tempat duduknya.

Dugaan itu meleset rupanya ...



Sabtu, 20 Juli 2019

Langit tak Berbintang (16)

Langit tak Berbintang (16)
Oleh Wak Amin


"AMAN," kato Maria dalam hati. Ha us, dia mampir ke kedai khusus do gan.

Sudah lama dia tak minum dogan. Tak tanggung-tanggung, Maria pe san tiga dogan sekaligus.

Minum di tempat ...

Maksudnya?

Dogan yang dibelah bagian atasnya diletakkan di atas meja. Supaya le bih nikmat dimasukkan es batu.

Lalu dihisap pelan-pelan pakai pi pet ..

Pengunjung kedai lumayan bany ak. Lebih dari separo bangku terisi. Ada juga memilih duduk lesehan di tanah lapang bawah pohon kelapa yang lebat buahnya.

Kedai dogan ini, selain menjual es dogan berbagai rasa, untuk lebih memanjakan pelanggannya, pihak kedai mempersilakan memetik bu ah dogan di pohonnya.

Tak perlu bersusah payah untuk me manjatnya. Karena di batang poh on dibikin lekukan untuk kita me napak saat menaiki pohon kelapa.

Asyik bukan?

Di sebelah kanan kedai ada pang gung dan seperangkat alat band se perti gitar, organ, drum dan alat tiup harmonika serta seruling.

Maria memberanikan diri naik ke atas panggung. Spontan pengun jung kedai bertepuk tangan.

"Arabian Night, itulah lagu yang di pilih dan dibawakan Maria kali ini ...


Oh, imagine a land, it's a faraway place
Where the caravan camels roam
Where you wander among every culture and tongue
It's chaotic, but hey, it's home

When the wind's from the east
And the sun's from the west
And the sand in the glass is right
Come on down, stop on by
Hop a carpet and fly
To another Arabian night

As you wind through the streets at the fabled bazaars
With the cardamom-cluttered stalls

You can smell every spice
While you haggle the price
Of the silks and the satin shawls

Oh, the music that plays as you move through a maze
In the haze of your pure delight
You are caught in a dance
You are lost in the trance
Of another Arabian night

Arabian nights
Like Arabian days
More often than not are hotter than hot
In a lot of good ways

Arabian nights
Like Arabian dreams
This mystical land of magic and sand
Is more than it seems

There's a road that may lead you
To good or to greed through
The power your wishing commands
Let the darkness unfold or find fortunes untold
Well, your destiny lies in your hands

Only one may enter here, one whose worth lies far within. A diamond in the rough

Arabian nights
Like Arabian days
They seem to excite, take off and take flight
To shock and amaze

Arabian nights
'Neath Arabian moons
A fool off his guard could fall and fall hard
Out there on the dunes"

Jumat, 19 Juli 2019

Langit tak Berbintang (15)

Langit tak Berbintang (15)
Oleh Wak Amin






"UNTUNG .. Untung. Untung Mbah mu tau."

Bos Malik marah besar ..

"Kayaknya tak untung lagi ini Bos. Sudah tak sabar mau mati dia Bos. Mohon petunjuk."

"Petunjuk. Petunjuk. Petunjuk apaan haa?"

"Andai dia mati Bos, dikubur dimana Bo?"

"Lempar aja ke laut."

Waduuuh ...

"Jangan Bos."

"Lho emangnya kenapa?"

"Ntar kalau keluarganya mau zia rah gimana Bos?"

"Bilang aja nanti kalau ketemu kelu arganya Muhsin hilang tau."

"Siap Bos. Cuma .." Amran garuk-ga ruk kepala. Pasalnya, Muhsin be lum juga 'koid.'

Nafas masih ada ...

"Tunggu aja dulu," pesan Bos Ma lik.

"Jangan sekarang dilemparnya tau ..."

"Kenapa Bos?"

"Lum mati tau ..."

"Oh iya. Kelupaan Bos. Ingat waktu kecil dulu Bos. Bosan berenang, ya gantian lempar ke sungai. Asyik Bos. Kayak dogan jatuh ke air dari pohonnya. Bunyinya itu Bos. Je gum. Jegum ..."

Eheeem ...

"Terus?"

"Astaghfirullah Bos. Nafasnya Bos," teriak Arman karena terkejut.

"Kenapa dengan nafasnya Man?"

"Berhenti Bos .."

Busyeet ...

"Itu tandanya sudah mati tau ..."

"Kok enggak bilang-bilang ke saya ya Bos. Padahal saya di dekatnya sekarang .."

"Enggak sempet mungkin. Sudah .. Sudah. Cepet lempar sana. Sebe lum ketahuan sama pihak berwajib."

"Siap Bos!"

Berat nian. Aneh, pikir Arman. Ada apa ya? Padahal, kalau tengok bodi, tak seberapa. Gemuk tidak. Ceking juga tidak.

Sedang-sedang saja ...




Langit tak Berbintang (14)

Langit tak Berbintang (14)
Oleh Wak Amin



SEMENTARA di tempat lain ...

Di atas jembatan terlibat adu jotos antara Maria dengan Muhsin dan Arman di atas sepeda motor.

Berawal dari Muhsin yang nekat me lompat ke sepeda motor yang diken darai Maria. Sempat oleng, dengan satu kali sepakan Muhsin menjerit kesakitan.

Kena mukanya. Hilang keseimban gan, tapi tak juga jatuh dari sepeda motor. Kaki kanannya menyentuh aspal.

Terseret dekat ban belakang ..

Dooor ...

Dooor ...

Dua kali Arman melepaskan temba kan ke arah Maria. Tapi satu pun tak ada yang mengena. Justru cela na Muhsin yang jadi sasaran.

Mulanya tali pinggang yang putus. Setelah itu celana. Karena kuatnya seretan aspal dari sepeda motor ya ng berlari kencang, celana Muhsin robek sebelum akhirnya terlepas, melayang jauh ke pinggir jemba tan dan jatuh ke dalam air.

He he he he ...

Arman ketawa ngekek sedangkan Muhsin berteriak kaget.

"Tolong oi. Cepeet tembaaak .!"

Belum sempat menembak, Maria sudah mendahului Arman dengan menendang tangan Muhsin yang be rpegangan erat di besi belakang jok sepeda motor.

Syiiiiit ...

Ngerem mendadak ..

Kepala Muhsin membentur bagian belakang motor sebelum terlempar jauh ke belakang.

Nyaris ditabrak sepeda motor di be lakang Arman.

Arman berbalik arah. Urung menge jar Maria. Dia tak tega meninggal kan Muhsin tergeletak sendirian di tengah jalan.

Untung tak mati ...








Rabu, 17 Juli 2019

Langit tak Berbintang (13)

Langit tak Berbintang (13)
Oleh Wak Amin

PRESIDEN Bais menyambut hangat kedatangan Zainab dan Kolonel Adi dari Negeri Al-A'la. Dia amat sena ng.

"Terima kasih saya ucapkan. Berke nan rupanya menginjakkan kaki la gi ke istana Yauman," kata Presiden
Bais sambil mempersilakan kedua tamu istimewanya itu duduk di tem pat duduk yang telah disediakan.

"Saya menyampaikan salam dari Jenderal Mansur dan Jenderal Ih san. Mereka mengundang bapak Presiden untuk berkunjung ke Al-A'la," ujar Zainab, Panglima Besar Al-A'la.

"Beliau berdua juga mendoakan se moga bapak Presiden selalu diberi kesehatan, kelapangan rezeki, di mudahkan mengemban amanah rakyat dan diberi kelamatan dunia dan akherat."

"Amin. Terima kasih atas doanya. Saya juga berdoa untuk keduanya dan seluruh rakyat Al-A'la agar di beri kesehatan, keselamatan, kom pak bersatu dan menjadi negeri ya ng makmur, baldatun thayyibatun warobbun ghafuur," kata Sang Pre siden yang pagi itu didampingi Pa nglima Besar Yauman, Jenderal Sutarman beserta para menteri.

"Amin. Terima kasih atas doanya bapak Presiden," kata Zainab dan Kolonel Adi.

Saya juga berharap, lanjut Presiden Bais, hubungan baik antara negeri Yauman dan Al-A'la tetap diperta hankan, dan mudah-mudahan lebih ditingkatkan lagi di masa menda tang.

"Kami juga berharap demikian bap ak Presiden. Kami berharap kedua negeri bisa saling membantu satu sama lain demi lancarnya pemba ngunan di berbagai bidang," harap Zainab.

"Saya juga berharap kita bisa sali ng kirim orang terbaik di bidang ter tentu yang kita sepakati bersama," jelas Presiden Bais.

"Kami dari negeri Al-A'la selalu me mbuka pintu lebar-lebar buat negeri Yauman, khususnya bapak Presid en," terang Zainab.

"Terima kasih Panglima Zainab."

Pembicaraan pun beralih ke berba gai sektor seperti ekonomi, poli tik, hankam, budaya, sastra, kesenian dan hukum.

Belum membicarakan tentang upa ya pembunuhan terhadap Presiden Bais yang gagal beberapa waktu lalu.

Pramasastra Bahasa Arab (20-tamat)

Pramasastra Bahasa Arab (20-tamat)
Oleh Wak Amin

U. Tashrif

ADA dua belas (12) kata kerja tiga suku kata (huruf) dipakai sebagai model beragam kata kerja dalam bahasa Arab.

No    Kata kerja        Tipe kata kerja

1.      Fa'ala               Sehat

2.      Radda              Bertasydid

3.      Wadha'a          Huruf lemah    
                                  "Fa"

4.      Qaama            Lowong (asal
                                  nya "waw = im
                                  perpect)

5.       Nama            Lowong (asal
                                 nya " Ya" = im
                                 perpect)

6.       Saara             Lowong (asal
                                 nya"Ya = imper
                                 pect)

7.       Qadaa           Lemah "Lam"
                                 (asalnya "waw"
                                 = imperpect)

8.        Ramaa         Lemah "Lam"
                                 (asalnya "ya" =
                                 imperpect)

9.        Radhiya.      Lemah "lam"
                                (asalnya "ya"
                                bentuk Fa'ila de
                                ngan "alif maqsu
                                rah" = imperpect)

10.      Asara          Awalan "hamzah"

11.      Ba-usa        Hamzah "fa"

12.      Qara-a         Akhiran "ham
                                zah"

Contoh-contoh :

- Perpect Pola I Aktif

a. Fa'ala Fa'alat Fa'alta Fa'alti Fa'altu (tunggal)

b. Fa'ala Fa'altaa Fa'altuma (dual)

c. Fa'aluu Fa'alna Fa'altum Fa'altunna Fa'alnaa (jamak).

- Imperpect  Indicatif Pola I Aktif

a. Yaf'alu Taf'alu Taf'alu Taf'alna Taf'aliina Af'alu (tunggal)

b. Yaf'alaani Taf'alaani Taf'alaani (dual)

c. Yaf'aluuna Yaf'alna Taf'aluuna Taf'alna npaf'alu (jamak)

- Imperpect Subjunctif  Pola I  Aktif

a. Yaf'ala Taf'ala Taf'ala Taf'alii Af'ala (tunggal)

b. Yaf'alaa Taf'alaa Taf'alaa (dual)

c. Yaf'aluu Yaf'alna Taf'aluu Taf'alna Taf'ala (jamak).

- Imperpect Jussif Pola I Aktif

a. Yaf'al Taf'al Taf'al Taf'alii Af'al (tunggal)

b. Yaf'alaa Taf'alaa Taf'alaa (dual)

c. Yaf'aluu Yaf'alna Taf'aluu Taf'alna naf'al (jamak).

- Perpect  Pola II  Aktif

a. Fa' 'ala Fa' 'alat Fa' 'alta Fa' 'alti Fa' 'altu (tunggal)

b. Fa' 'ala Fa' 'altaa Fa' 'altumaa (dual)

c. Fa' 'aluu Fa' 'alna Fa' 'altum Fa' 'altunna Fa' 'alna (jamak).

- Imperpect Indicatif Pola II Aktif

a. Yufa' 'ilu Tufa' 'ilu Tufa' 'ilu Tufa' 'iliina Ufa' 'ilu (tunggal)

b. Yufa' 'ilaani Tufa' 'ilaani Tufa' ' ilaani (dual)

c. Yufa' 'iluuna Yufa' 'ilna Tufa' 'iluuna Tufa' 'ilna nufa' 'ilu (jamak).

- Imperpect Subjunctif Pola II Aktif

a. Yufa' 'ila tufa' 'ila tufa' ' ila tufa' 'ilii ufa' 'ila (tunggal)

b. Yufa' 'ilaa tufa' 'ilaa tufa' 'ilaa (dual)

c. Yufa' 'iluu yufa' 'ilna tufa' 'iluu tufa' 'ilna nufa' 'ila  (jamak).

- Imperpect Jussif Pola II Aktif

a. Yufa' 'il tufa' 'il tufa' 'il tufa' 'il tufa' 'ilii ufa' 'il (tunggal)

b. Yufa' ' ilaa tufa' 'ilaa tufa' 'ilaa (dual)

c. Yufa' 'iluu yufa' 'ilna tufa' 'iluu tufa' 'ilna nufa' 'il (jamak).

- Perpect  Pola III  Aktif

a. Faa'ala Faa'alat Faa'alta Faa'alti Faa'altu (tunggal)

b. Faa'alaa Faa'alataa Faa'altumaa (dual)

c. Faa'aluu Faa'alna Faa'altum Faa'altunna Faa'alnaa (jamak).

- Imperpect Indicatif Pola III Aktif

a. Yufaa'ilu Tufaa'ilu Tufaa'ilu Tufaa'iliina Ufaa'ilu (tunggal)

b. Yufaa'ilaani Tufaa'ilaani Tufaa'ilaani (dual)

c. Yufaa'iluuna Yufaa'ilna Tufaa'iluuna Tufaa'ilna nufaa'ilu (jamak).

- Imperpect  Subjunctif  Pola III Aktif

a. Yufaa'ilu Tufaa'ilu Tufaa'ila Tufaa'ilii Ufaa'ila (tunggal)

b. Yufaa'ilaa Tufaa'ilaa Tufaa'ilaa (dual)

c. Yufaa'iluu Yufaa'ilna Tufaa'iluu Tufaa'ilna nufaa'ila (jamak).

- Imperpect  Jussif Pola III Aktif

a. Yufaa'il Tufaa'il Tufaa'il Tufaa'ilii Ufaa'il (tunggal)

b. Yufaa'ilaa Tufaa'ilaa Tufaa'ilaa (dual)

c. Yufaa'iluu Yufaa'ilna Tufaa'iluu Tufaa'ilna nufaa'il (jamak).

- Perpect  Pola III Aktif

a. Af'ala Af'alat Af'alta Af'alti Af'altu (tunggal)

b. Af'ala Af"alataa Af'altumaa (dual)

c. Af'aluu Af'alna Af'altum Af'altunna Af'alnaa (jamak).

- Imperpect  Indicatif Pola III Aktif

a. Yuf'ilu Tuf'ilu Tuf'ilu Tuf'iliina Uf'ilu (tunggal)

b. Yuf'ilaani Tuf'ilaani Tuf'ilaani (dual)

c. Yuf'iluuna Yuf'ilna Tuf'iluuna Tuf'ilna
Gluf'ilu (jamak).

- Imperpect Subjunctif Pola IV Aktif

a. Yuf'ila Tuf'ila Tuf'ila Tuf'ilii Uf'ila (tunggal)

b. Yuf'ilaa Tuf'ilaa Tuf'ilaa (dual)

c. Yuf'iluu Yuf'ilna Tuf'iluu Tuf'ilna nuf'ila (jamak).

- Imperpect  Jussif  Pola IV Aktif

a. Yuf'il Tuf'il Tuf'il Tuf'ilii Uf'il (tunggal)

b. Yuf'ilaa Tuf'ilaa Tuf'ilaa (dual)

c. Yuf'iluu Yuf'ilna Tuf"iluu Tuf'ilna Tuf'il  (jamak).

- Perpect   Pola V   Aktif

a. Tafa' 'ala Tafa' 'alat Tafa' 'alta Tafa' ' alti Tafa' 'altu (tunggal)

b. Tafa' 'alaa Tafa' 'alataa Tafa' 'altumaa ( dual)

c. Tafa' ' aluu Tafa' 'alna Tafa' 'altum Tafa' 'altunna Tafa' 'alnaa (jamak).

-- Imperpect Indicatif Pola V Aktif

a. Yatafa' 'alu Tatafa' 'alu Tatafa' 'alu Tatafa' 'aliina Atafa' 'alu (tunggal)

b. Yatafa' 'alaani Tatafa' 'alaani Tatafa' 'alaani (dual)

c. Yatafa' 'aluuna Yatafa' 'alna Tata fa' 'aluunaTatafa' 'alna natafa' 'alu (jamak).

- Imperpect Subjunctif Pola V Aktif

a. Yatafa' 'alu tatafa' 'ala tatafa' ' ala tatafa' 'alii Atafa' 'ala (tunggal)

b. Yatafa' 'ala tatafa' 'ala tatafa' 'ala (dual)

c. Yatafa' 'aluu Yatafa' 'alna tatafa' 'aluu tatafa' 'alna natafa' 'ala (jamak).

- Imperpect Jussif Pola V Aktif

a. Yatafa' 'al tatafa' 'al tatafa' 'al tatafa' 'alii atafa' 'al (tunggal)

b. Yatafa' 'alaa tatafa' 'ala tatafa' 'ala (dual)

c. Yatafa' 'aluu yatafa' 'alna tatafa' 'aluu tatafa' 'alna natafa' 'al (jamak).

- Perpect Pola VI Aktif

a. Tafaa 'ala tafaa 'alat tafaa 'alta  tafaa 'alti tafaa 'altu (tunggal)

b. Tafaa 'ala tafaa 'alataa tafaa 'altumaa (dual)

c. Tafaa 'aluu tafaa 'alna tafaa 'altum tafaa 'altunna tafaa 'alnaa (jamak).

- Imperpect  Indicatif  Pola VI Aktif

a. Yatafaa 'alu tatafaa 'alu tatafaa 'alu tatafaa 'aliina atafaa 'alu (tunggal)

b. Yatafaa 'alaani tatafaa 'alaani tatafaa 'alaani (dual)

c. Yatafaa 'aluuna yatafaa 'alna tatafaa 'aluuna tatafaa 'alna natafaa 'alu (jamak).

- Imperpect Subjunctif Pola VI Aktif

a. Yatafaa 'ala tatafaa 'ala tatafaa 'ala tatafaa 'alii Atatafaa "ala (tunggal)

b. Yatafaa 'alaa tarafaa 'alaa tatafaa 'alaa (dual)

c.Yatafaa 'aluu yatafaa 'alna tatafaa 'aluu tatafaa 'alna natafaa 'ala (jamak).

- Imperpect Jussif Pola VI Aktif

a. Yatafaa 'al  tatafaa 'al tatafaa 'al tatafaa 'alii atafaa 'al (tunggal)

b. Yatafaa 'alaa tatafaa 'alaa tatafaa ' alaa (dual)

c. Yatafaa 'aluu yatafaa 'alna tatafaa 'aluu tatafaa 'alna natafaa 'al (jamak).

- Imperpect Subjunctif Pola VI Aktif

a. Yatafaa 'ala tatafaa 'ala tatafaa 'ala tatafaa 'alii atafaa 'ala (tunggal)

b. Yatafaa 'alaa tatafaa 'alaa tatafaa 'alaa (dual)

c. Yatafaa 'aluu yatafaa 'alnaa tatafaa 'aluu tatafaa 'alna natafaa 'ala (jamak).

- Imperpect Jussif Pola VI Aktif

a. Yatafaa 'al tatafaa 'al tatafaa 'al tatafaa 'alii atafaa 'al (tunggal)

b. Yatafaa 'alaa tatafaa 'alaa tatafaa 'alaa (dual)

c. Tatafaa 'aluu  yatafaa 'alna tatafaa 'aluu tatafaa 'alna natafaa 'al (jamak).

- Perpect  Pola VII Aktif

a. Infa 'ala Infa 'alat infa 'alta infa 'alti infa 'altu (tunggal)

b. Infa 'alaa infa 'alataa infa 'altumaa (dual)

c. Infa 'aluu infa 'alna infa 'altum infa 'altunna infa 'alnaa (jamak).

- Imperpect Indicatif Pola VII Aktif

a. Yanfa 'ilu tanfa 'ilu tanfa 'ilu tanfa 'aliina anfa 'ilu (tunggal)

b. Yanfa'ilaani tanfa'ilaani tanfa'ilaani (dual)

c. Yanfa 'iluuna yanfa 'ilna tanfa 'iluuna tanfa 'ilna nanfa 'ilu (jamak).

- Imperpect Subjunctif Pola VII Aktif

a. Yanfa 'ila tanfa'ila tanfa 'ila tanfa 'ilii anfa 'ila (tunggal)

b. Yanfa 'ila tanfa 'ila tanfa 'ila (dual)

c. Yanfa 'iluu yanfa 'ilna tanfa 'iluu tanfa 'ilna nanfa 'ila (jamak).

- Imperpect Jussif Pola VII Aktif

a. Yanfa 'il tanfa 'il tanfa 'il tanfa 'ilii anfa 'il (tunggal)

b. Yanfa 'ilaa tanfa 'ilaa tanfa 'ilaa (dual)

c. Yanfa 'iluu yanfa 'ilna tanfa 'iluu tanfa 'ilna nanfa 'il (jamak).

- Perpect  Pola VIII  Aktif

a. Ifta 'ala ifta 'alat ifta 'alta ifta 'alti ifta 'altu (tunggal)

b. Ifta 'alaa ifta 'altaa ifta 'altumaa (dual)

c. Ifta 'aluu ifta 'alna ifta 'altum ifta 'altunna ifta 'alna (jamak).

- Imperpect Indicatif Pola VIII Aktif

a. Yafta 'ilu tafta 'ilu tafta 'ilu tafta 'iliina afta 'iluu (tunggal)

b. Yafta 'ilaani tafta 'ilaani tafta 'ilaani (dual)

c. Yafta 'iluuna yafta 'ilna tafta 'iluuna tafta 'ilna nafta 'ilu (jamak).


- Imperpect Subjunctif Pola VIII Aktif

a. Yafta'ila tafta'ila tafta'ila tafta'ilii afta'ila (tunggal)

b. Yafta'ila tafta'ila tafta'ila (dual)

c. Yafta'ilu yafta 'ilna tafta'iluu tafta'ilna nafta'ila (jamak).

- Imperpect Jussif Pola VIII Aktif

a. Yafta'il tafta'il tafta'il tafta'ilii afta'il (tunggal)

b. Yafta'ilaa tafta'ilaa tafta'ilaa (dual)

c. Yafta'iluu yafta'ilna tafta'iluu tafta'ilna nafta'il (jamak).


- Perpect  Pola X Aktif

a. Istaf'ala istaf'alat istaf'alta istaf'alti istaf'altu (tunggal)

b. Istaf'alaa istaf'alataa istaf'altumaa (dual)

c. Istaf'aluu istaf'alna istaf'altum istaf'altunna istaf'alnaa (jamak).


- Imperpect Indicatif Pola X Aktif

a. Yastaf'ilu tastaf'ilu tastaf'ilu tastaf'iliina astaf'ilu (tunggal)

b. Yastaf'ilaani tastaf'ilaani tastaf'ilaani (dual)

c. Yastaf'iluuna yastaf'ilna tastaf'iluuna tastaf'ilna nastaf'ilu (jamak).


- Imperpect Subjunctif Pola X Aktif

a. Yastaf'ila tastaf'ilaa tastaf'ila tastsf"ilii astaf'ila (tunggal)

b. Yastaf'ilaa tastaf'ilaa tastaf'ilaa (dual)

c. Yastaf'iluu yastaf'ilna tastaf'iluu tastaf'ilna nastaf'ila (jamak).


- Imperpect Jussif Pola X Aktif

a. Yastaf'il tastaf'il tastaf'il tastaf'ilii astaf'il (tunggal)

b. Yastaf'ilaa tastaf'ilaa tastaf'ilaa (dual)

c. Yastaf'iluu yastaf'ilna tastaf'iluu tastaf'ilna nastaf'il (jamak).


-  Imperpect Indicatif Semua Pola Pasif (orang ketiga tunggal saja)

(Yuf'alu  yufa' 'alu yufaa 'alu yuf'alu yutafa' 'alu yutafaa 'alu yunfa'alu yufta'alu yustaf'alu).


- Participle  Aktif Semua Pola

(Faa'il mufa' 'ilu mufaa'ilu muf'ilu mutafa' 'ilu mutafaa'ilu munfa'ilu mufta'ilu muf'allu mustaf'ilu).


- Participle  Pasif  Semua Pola

(Maf'uula mufa' 'ala mufaa 'ala muf'alla mutafa' 'ala mutafaa 'ala munfa'ala mufta'ala munfa'alla, mustaf'alla).




____________
Disarikan dari Kitab Pramasastra Bahasa Arab karya Kasim Soelaiman.


Selasa, 16 Juli 2019

Langit tak Berbintang (12)

Langit tak Berbintang (12)
Oleh Wak Amin




KRIIING ...

Telepon masuk ...

"Angkat tu Bro."

"Kamu aja Bro," kata Muhsin, mem berikan telepon genggam itu pada Arman.

"Kamu ajalah."

"Oke. Tapi jangan kemana-mana ya Bro."

"Siap. Aku tetap berdiri di sini .."

Sang Bos, Malik menanyakan hasil penelusuran dua anak buahnya itu. Sebelumnya dilaporkan bertemu Maria di pusat perbelanjaan.

"Eeem ... Dapat Bos," jawab Muhsin gugup setengah mati.

"Cepat bawa kesini."

"Iya iya Bos. Cuma ..."

"Apa kamu perlu dikawal Sanaf?"

"Enggak usah Bos."

"Bisa kan berdua Arman?"

"Bisa Bis. Cuma ..."

"Cuma. Cuma lagi. Cuma apa?" Ma lik mulai geram. Volume suaranya mulai meninggi.

"Setelah dilihat dari dekat bukan Maria Bos. Tapi mirip saja," kata Arman, mengambil alih pembica raan.

"Mirip gimana?"

"Ya wajahnya doang Bos. Hidung dan sebagainya jauh banget beda nya Bos."

"Bener cuma mirip?"

"Kami pastikan begitu Bos."

"Oke. Sekarang suruh pergi jauh-jauh wanita itu."

"Baik Bos."

"Dan cepat cari perempuan yang bernama Maria itu."

"Siap Bos."

Telepon ditutup ...

Muhsin dan Arman ketawa ngakak sampai sakit perut. Orang-orang di sekeliling mereka pada kaget dan geleng-geleng kepala melihat kela kuan keduanya.

                          ******

Senin, 15 Juli 2019

Langit tak Berbintang (11)

Langit tak Berbintang (11)
Oleh Wak Amin


 PASCA selamat dari upaya pembu nuhan yang dilakukan orang suru h an Raja Jasina, Jenderal Fatoni, pe ngamanan terhadap Presiden Bais terus ditingkatkan, baik selama pe rawatan di rumah sakit maupun ke tiga berada di istana kepresidenan.

Guna mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, kunjungan ker ja ke berbagai daerah di kurangi, ke cuali sangat mendesak demi kesi nambungan pembangunan

Sedangkan Maria saat ini masih be rsembunyi di Yauman. Dia belum berani untuk kembali ke kampung halamannya di Jassina.

Dia takut bakal ditangkap dan diha bisi  karena telah mengkhianati ke sepakatan 'misi rahasia' yang dia manahkan Raja Jasina kepadanya.

Suatu sore, di sebuah pusat perbe lanjaan, Maria sempat berpapasan dengan dua lelaki berkacamata hi tam.

Keduanya mengenali wajah Maria. Sebaliknya Maria tidak sama seka li. Namun melihat gelagat dua pria tinggi  besar itu, yang terus mengun titnya hingga ke pelataran mall, Ma ria mulai curiga.

"Lari. Ya aku harus lari," bisiknya da lam hati.

Berlari ke kanan dimana banyak ora ng berdiri di sana, dua lelaki tadi be lari ke arah tempat yang sama.

Sayang mereka tak berhasil menge jar Maria ...

"Hebat juga tuh cewek," kata Muh sin. Kesal tapi penasaran, seperti apa Maria itu. Ingin sekali menjajal sejauhmana kehebatannya.

"Yang jelas ya brow, dia itu bukan cewek sembarangan tau," ujar Arm an. Mulut masam, dia sulut rokok kretek dan hisap dalam-dalam.

"Kalau bukan sembarangan kenapa dia lari saat kita mendekat Bro?"

"Jelaslah dia lari. Mukamu itu ka yak pisau bekarat ..." Seloroh Ar man.

He he he ...

"Ah kamu Bro. Orang serius kamu main-main .."

"Tenang Bro. Tenang. Merokok dulu lah."

Bukan tak mau rokok, tapi ...

"Si Marianya Bro?"

"Tak usah pikirinlah Bro."

"Tak usah pikirin gimana."

"Bilang saja belum ketemu kalau ditanya Bos. Gampang kan?"

















Minggu, 14 Juli 2019

Langit tak Berbintang (10)

Langit tak Berbintang (10)
Oleh Wak Amin

BEBERAPA detik kemudian ...

Letnan Subki cs melompat dari mo bil jip yang disopiri Sersan Urip. Keti ganya melihat dari dekat jasad Sa ng Kolonel yang penuh darah di ke pala dan mulut.

"Maafkan saya Letnan, Kapten An dre dan Sersan Urip," ucap Maria.

Dari belakang Letnan Subki cs, Ma ria dengan leluasa menarik pelatuk dan terdengar ...

Dooor ...

Dooor ...

Door ...

Sebanyak tiga kali ke kepala Letnan Subki, Kapten andre dan Sersan Ur ip. Ketiganya roboh seketika. Dari kepala bagian belakang keluar da rah segar.

Maria menarik nafas sejenak. Lalu dia rapikan empat jasad tentara Ja sina itu ke tepi trotoar.

Jalanan sepi ...

Satu pun tak ada kendaraan yang la lu-lalang, apalagi para pejalan kaki. Boleh jadi massa tumpah ruwah di pusat kota.

Beberapa hari kemudian ...

Setelah mendengar laporan dari ber bagai pihak yang dapat dipercaya bahwa Letnan Subki cs gagal men jalankan misi dan justru  tewas di habisi Naria, bukan oleh pihak kea manan Yauman, Raja Jasina marah besar.

Praaak ...

"Bangsaaat."

Mata memerah ...

Di hadapan Panglima Jasina, Jen deral Daud dan beberapa perwira militer, Raja Jasina memerintahkan untuk mencari dan menangkap hi dup-hidup Nona Maria.

"Bawa kepada saya secepatnya. Sa ya akan penggal kepalanya, dan hi sap sampai habis otaknya," kata Sa ng Raja.

Geram dan marah besar ...

"Bagaimana dengan misi utama sebelumnya Tuanku Raja?"

"Tetaplah. Dia harus mati. Saya be lum tenang kalau si jenderal kepa rat itu belum mati panglima. Anda paham?"

"Paham paduka Raja."

"Terima kasih. Sekarang saya per silakan anda membentuk tim de n gan misi ganda. Menangkap hidup-hudup Maria dan menembak mati Presiden Bais."

"Siap Paduka Raja."

"Panglima!"

"Ya Paduka Raja."

"Saya tak ingin mendengar kata 'gagal' lagi panglima."





Langit tak Berbintang (9)

Langit tak Berbintang (9)
Oleh Wak Amin





PENGEJARAN dimulai ...

Kolonel Topan berboncengan de ng an Maria, sedangkan Letnan Subki, Kapten Andre dan Sersan Urip me nyusul kemudian menggunakan mo bil jip terbuka.

Sementara kepanikan warga di pu sat kota berangsur-angsur bisa di kendalikan mayat-mayat beberapa anggota paspampres 'diamankan' menggunakan mobil ambulance.

Tampak petugas kepolisian masih berjaga-jaga di beberapa tempat di pusat kota. Beberapa lajur jalan su dah mulai dibuka.

Namun angkutan umum belum di perbolehkan beroperasi kecuali di beberapa tempat di luar pusat kota tempat terjadinya ledakan dan per cobaan pembunuhan terhadap Presiden Bais.

Syiiiiits ...

Sepeda motor berhenti di pertigaan atas permintaan Maria.

Setelah itu ...

Dooor ...

Dooor ...

Dua peluru bersarang di dada dan kepala Kolonel Topan. Jatuh ter sungkur ke trotoar.

Tewas seketika ...

"Elang Satu .. Elang Satu ... Roger."

"Elang Satu disini. Merpati silakan masuk ..."

"Lapor. Kolonel Topan tewas di tembak .."

Kaget namun tetap tenang.

"Posisi di pertigaan, trotoar jalan."

"Kami meluncur kesana. Harap di tunggu. Roger."

"Siap Letnan Subki. "

"Terima kasih."

Pengejaran terpaksa dihentikan se jenak. Sambil menunggu kedatan gan Letnan Subki cs, Maria mene lentangkan tubuh Kolonel Topan.

Dipandanginya wajah tampan yang sudah mulai pucat pasi itu.

Kemudian muncung pistol kecil itu dia masukkan ke mulut Sang Kolo nel ..

"Maafkan saya Kolonel ..."

Doooor ..

Dooor ...

Jumat, 12 Juli 2019

Langit tak Berbintang (8)

Langit tak Berbintang (8)
Oleh Wak Amin


"GANTENG juga ya Bapak Presiden kita," kata seorang ibu yang ikut ber gabung dengan para ibu lainnya. In gin melihat dari dekat Kepala Nega ra mereka yang amat duelu-elukan rakyat Yauman.

"Naksir ya. Nanti kubilangin sama Bapak Presiden," jawab rekannya, seorang ibu muda berparas cantik, sambil tertawa.

"Huuusy. Jangan ah. Lagian apa dia mau dengan aku. Kan enggak?"

Hik hik hik ...

"Jodoh kan enggak kemana. Kada ng dicari dia lari, didiemin dia de kat. Datang sendiri ..."

He he he ...

"Kasihan Bapak Presiden lah," kata ibu berkebaya. Meski sudah mema suki gerbang lansia, masih kuat ber diri rame-rame.

"Kasihan kenapa Buk?" Tanya ibu berparas cantik tadi.

"Beliau kan sudah beristeri. Anak udah pada gede semuanya. Lain soal kalau beliau ..."

Eheeem ..

"Duren. Duda keren .."

Ha ha ha ha ...

Guaaaam ...

Guaaar ...

Terjadi ledakan tak jauh dari mobil yang ditumpangi Presiden Bais. Se ketika warga panik.

Saat itulah puluhan anak panah d an desingan peluru mengarah ke Presiden Bais, saat turun dari mobil dan diselamatkan paspampres ke sebuah gedung di ujung jalan.

Sebuah mobil anti peluru berhenti beberapa saat kemudian. Lalu me laju membawa Presiden dan penga  walnya menuju simpang tiga.

"Elang I, sasaran utama lolos. Cep at turun." Perintah Kolonel Topan.

"Siap Kolonel!"

"Saya bersama Maria segera mela kukan pengejaran."

"Kami siap menyusul Kolonel."

"Jangan lupa. Kembali ke awal. Lakukan penyamaran ..."

"Siap Kolonel."

Kamis, 11 Juli 2019

Langit tak Berbintang (7)

Langit tak Berbintang (7)
Oleh Wak Amin


HARI ini berlangsung perayaan Hari Kemerdekaan Negeri Yauman. Ber bagai kegiatan digelar. Mulai dari pameran, seminar, perlombaan ber bagai tangkai olahraga hingga per tunjukan teater dan musik.

Hari ini, Jenderal Bais yang terpilih sebagai penguasa baru Yauman pa sca mangkatnya Presiden Akbar ka rena sakit. Suksesi kepemimpinan berjalan lancar, aman dan terken dali.

Tak ada kekacauan di sana sini ...

Hari ini Presiden Bais akan berke liling kota untuk menemui rakyat nya. Setiap jalan telah disterilkan. Segenap pasukan pengaman pre siden disiagakan di setiap tempat untuk mengamankan acara temu penguasa dengan rakyat ini.

Dari atas gedung pencakar langit, sudah menyebar tiga pemanah dan penembak jitu. Mereka adalah Ser san Urip, Letnan Subki, dan Kapten Andre.

Sedangkan di bawah gedung, tepat nya di tengah kerumunan warga, su dah ada sejam lalu Kolonel Topan dan Maria. Keduanya disiagakan un tuk membunuh Preseliden Bais dari jarak dekat.

"Elang I, Elang I. Merpati memang gil."

"Elang I disini ... Siap terima perin tah," kata Letnan Subki, Elang I.

Elang II, Kapten Andre dan Elang III, Sersan Urip. Keduanya mempersi apkan busur dan anak panah.

"Bagaimana keadaan disana?"

"Aman Merpati."

Lima belas menit kemudian ...

"Elang I, Naga memanggil."

"Elang I disini," kata Letnan Subki, " Elang siap menerima perintah."

"Amankan posisi dan siap mem bidik."

"Siap laksanakan Kolonel!"

Iring-iringan Sang Presiden mulai memasuki kawasan tempat berku mpulnya rakyat Yauman. Memben tang di tiga jalan dengan hanya di beri tali sebagai pembatas yang di jaga petugas pengaman khusus.

Berdiri di atas mobil tak bertutup, di dampingi para pengawal kepreside nan, Presiden Bais tampak gagah dengan jas biru muda.

Sesekali dia melambaikan tangan kepada rakyatnya yang hari itu sere mpak melambaikan tangan. Ada ya ng menjerit histeris, menangis dan tak henti-hentinya memanggil "Ba is .. Bais, Presiden Kami."

Di kalangan rakyat Yauman, Presi den Bais dikenal luas. Merakyat, sa ma seperti presiden pendahulunya. Amat dicintai dan disayangi oleh semua kalangan, baik yang kaya maupun yang papa.









Rabu, 10 Juli 2019

Langit tak Berbintang (6)

Langit tak Berbintang (6)
Oleh Wak Amin


"MAAF Nona Maria. Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya Sersan Urip, antara serius dan tidak.

"Boleh Sersan," jawab Maria sambil membetulkan letak duduknya.

"Nona sudah punya pacar kah?"

"Sudah Sersan, tapi dulu. Sekarang tidak lagi."

"Kenapa Nona? Apa kalian berdua putus?"

"Oh tidak Sersan. Jangan kan pu tus, bertengkar saja pun tidak kami .."

"Dimana dia sekarang Nona?" Ta nya Kapten Andre.

"Sudah di alam lain Kapten," kata Nona Maria. Coba menyegarkan suasana yang terlihat kaku.

"Dia tewas saat berkecamuknya perang."

"Apa dia seperti kami Nona?"

"Oh tidak Kapten. Dia rakyat biasa. Warga sipil yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang perang," aku Maria, nyaris tak kedengaran suara nya.

"Maafkan saya Nona," kata Kapten Andre. "Saya tak bermaksud meng ungkit masa lalu anda."

"Tak mengapa Kapten. Saya ikhlas menerima kenyataan tak menge nakkan ini ..."

Belum sempat Kolonel Topan berta nya, Raja Jasina memasuki ruang an. Semuanya berdiri memberi hor mat kepada Sang Raja.

"Lama menunggu Nona?"

"Oh tidak Tuan Paduka Raja," ujar Maria seolah salah tingkah.

Tak lama berselang masuklah dua orang pelayan istana. Membawa bu ah-buahan dan minuman yang seri ng disuguhkan kepada tamu yang datang ke istana.

"Silakan Nona dicicipi," kata Raja Ja sina.

"Terima kasih Tuanku Paduka Raja. Eeeem ..." Sambil melirik ke Letnan Subki, Kapten Andre, Kolonel Topan dan Sersan Urip.

                          *****






Selasa, 09 Juli 2019

Langit tak Berbintang (5)

Langit tak Berbintang (5)
Oleh Wak Amin





JENDERAL Fatoni, Raja Jasina am at kagum dan memuji penampilan Maria di atas pentas barusan.

"Mari Nona Maria," kata Kapten An dre, menyilakan Maria memasuki ruang khusus tempat dimana Raja Jasina menggelar rapat bersama.

"Anda juga Sersan Urip. Silakan."

"Terima kasih Kolonel Topan.

Sesaat ruangan kedap suara itu he ning. Sang Raja masih berada di ka marnya.

Sambil menunggu keluarnya Raja Jasina dari kamar, Kapten Andre menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Maria.

" Raja amat senang melihat penam pilanmu tadi, Nona Maria."

"Anda sendiri bagaimana Kapten?"

"Apalagi saya Nona Maria," kata Kapten Andre sambil tertawa.

"Saya juga Nona Maria," ujar Letnan Subki.

"Saya juga Nona. Tadinya saya kira anda biasa-biasa saja. Bernyanyi se perti orang kebanyakan. Ternyata anda Nona Maria, luar biasa penam pilannya kali ini. Amat sangat sem purna," puji Kolonel Topan.

"Bakat Nona," sela Sersan Urip, " me mang luar biasa. Itu karunia terbe sar dari Yang Maha Kuasa."

"Terima kasih," ucap Maria. Terus terang dia  merasa tersanjung de ngan pujian bertubi-tubi itu.

"Tapi Nona," kata Kolonel Topan, "Kenapa anda tidak menari?"

"Ya Nona. Padahal itu juga kami tunggu-tunggu selain suara anda Nona," ujar Letnan Subki.

"Apa anda takut atau ada sesuatu yang lain yang membuat anda tak nyaman untuk menari Nona Ma ria?" Tanya Kapten Andre.

"Oh tidak sama sekali Kapten," ja wab Maria.

"Syukurlah kalau tidak Nona. Saya senang mendengarnya."

"Tapi berjanjilah kepada kami Nona Maria. Suatu saat anda harus mena ri selain bernyanyi .." Pinta Sersan Urip.

"Saya janji Sersan .."

Langit tak Berbintang (4)

Langit tak Berbintang (4)
Oleh Wak Amin


DILANJUTKAN dengan tembang
'Amout wa Ansak' (Aku mati dan Melupakanmu)  ...

أموت و أنساك بغمض عيني و بفتح و أنا شيفاك

بعيش أيامي من غيرك كأني معاك

بجد كتير كدة عليا ضلمني هواك

Aku mati dan aku melupakanmu, aku menutup mataku dan membukanya dan aku melihatmu

Aku menjalani hari-hariku tanpamu seakan-akan aku bersamamu

Sungguh, ini lebih banyak dari itu, cintamu tidak adil bagiku

يا عذاب لأنا عرفة فبعدو و لا فقربوا برتاح

لفيت لفيت الدنيا و ما لقيت غير هواك

Hai penderitaan, saya tidak dapat beristirahat dengan itu jauh ataupun dekat

Dunia berlalu dan berlalu, semuanya yang berlalu adalah cintamu

ما فيش أحلام بجد حقيقة أنا عايشة معك إحساس

مخليني اشوفك غير بقية الناس

ده حب الدنيا في عنية و أنا شيفاك

Tidak ada mimpi, sungguh itulah kebenarannya, aku hidup denganmu

Itu membuat saya melihatmu, bukan orang lain

Itu adalah cinta dunia ketika aku melihatmu

يا عذاب لأنا عرفة فبعدو و لا فقربوا برتاح

لفيت لفيت الدنيا و ما لقيت غير هواك

Hai penderitaan, saya tidak dapat beristirahat dengan itu jauh atau pun dekat ..

Tepuk tangan kembali bergema.

"Terima kasih .. Terima kasih," ucap Maria sambil membungkukkan ba dannya berkali-kali.

"Baiklah para hadirin sekalian, teru tama Paduka Tuan Raja Jasina. Be rikut ini saya akan membawakan lagu berjudul 'Albi Nadak'."

Tepuk tangan bergema lagi ..


ليك أنا ملك ليك تعالى قرب ضمني محتاجة ليك
ليك وروحي فيك يا حب عمري انا عمري كله
هأعيشه ليك

هواك هو الحياة وأنت اللي أنا بعشق هواااااااه
كان قلبي مناه أجمل ملاك يكون معااااااااه

ياه قلبي نداك واتمناك تبقى انت ويايا
ياه بعد سنين شوق وحنين الاقيك هنا معايا

ياه ضمني ليك ده انت حبيبي حياتي ليك
وهاعيش عمري عشان عينيك وعمري فداك

ياه قلبي نداك واتمناك تبقى انت ويايا
ياه بعد سنين شوق وحنين الاقيك هنا معايا

ياه ضمني ليك ده انت حبيبي حياتي ليك
وهاعيش عمري عشان عينيك وعمري فداك

ايه احتاج لايه لو كنت جنبي معايا ديما قوللي ايه
ياه ده انا من زمان محتاجة لقلب يحس بيا واحس بيه

هواك هو الحياة وأنت اللي أنا بعشق هواااااااه
كان قلبي مناه أجمل ملاك يكون معااااااااه

ياه قلبي نداك واتمناك تبقى انت ويايا
ياه بعد سنين شوق وحنين الاقيك هنا معايا

ياه ضمني ليك ده انت حبيبي حياتي ليك
وهاعيش عمري عشان عينيك وعمري فداك

ياه قلبي نداك واتمناك تبقى انت ويايا
ياه بعد سنين شوق وحنين الاقيك هنا معايا


ياه ضمني ليك ده انت حبيبي حياتي ليك
وهاعيش عمري عشان عينيك وعمري فداك

Hanya padamu...
Diri ini hanya milikmu
Datanglah mendekat
Air mataku mengalir
Mengharapkan mu

Hanya padamu...
Dan jiwaku padamu
Wahai kasihku
Usia kita, usiaku
Seluruh hidupku untukmu

Cintamu adalah kehidupanku

Dirimu membuat kita bercinta dengan sebenar-benarnya cinta

Hatiku disini, keindahanmu millikku
Jadi bersatu

Oh….Hatiku memanggilmu
mengharapkanmu senantiasa tinggal dihatiku

Hanya dirimu

Oh….Setelah bertahun-tahun lihatlah sayang
Kita berjumpa di sini dan bersama

Airmataku mengalir karenamu
Engkaulah kekasihku, hidupku hanya untukmu

Seluruh hidupku, usiaku..
Karena matamu, aku serahkan segalanya

Apa yang aku harapkan

Indahnya apabila kau di sisiku selamanya

Katakanlah kepadaku..

Diri ini..sekian lama mengharapkan Hati ini
perasaan ini, bersama hati dan perasaanmu
Cintamu adalah kehidupanku

Dirimu membuat kita bercinta dengan sebenar-benarnya cinta

Hatiku disini, keindahanmu millikku
Jadi bersatu

Oh….Hatiku memanggilmu
mengharapkanmu senantiasa tinggal dihatiku

Hanya dirimu ..

Oh….Setelah bertahun-tahun lihatlah sayang
Kita berjumpa di sini dan bersama

Airmataku mengalir karenamu
Engkaulah kekasihku, hidupku hanya untukmu

Seluruh hidupku, usiaku..
Karena matamu, aku serahkan segalanya ...

Minggu, 07 Juli 2019

Langit tak Berbintang (3)

Langit tak Berbintang (3)
Oleh Wak Amin

"SURUH dia temui saya nanti ma lam di istana Kapten andre."

"Siap Tuan Paduka Raja."

"Baiklah. Untuk sementara kita akhi ri dulu pertemuan ini. Kita lanjutkan nanti soal teknisnya. Dan jangan lu pa Marianya nanti malam."

"Siap Paduka Raja."

Malam di istana ...

Para undangan khusus Sang Pa du ka Raja sudah menempati tempat duduk masing-masing ..

Tak lama kemudian berdiri di atas panggung seorang perempuan can tik, tinggi dan langsing.

Dia bersiap membawakan temba ng romantis berjudul 'Qarib Minni Swaya' ...

Para undangan pun bertepuk tang an bersamaan terdengarnya lantu nan musik pengiring biduanita Ma ria malam itu ...


Nafsil hanin fil bode wizekerool ghomilah
Ma'a shortak kulli yum nafsil kalaam
Mak'dar sathomin ruhi wa la ghamad fii lillah
Ablamma fakor fiikanan ghaait manaam
Waa syuk biibat ya habibif hudhni sa'at
Wasa'at lau zadi syuk mainaimniiss
Lanhar wa la liil, malaksif khayaa li badiil
Wa la min ayyamakki yum mabiyu hassniss ...

Allah ya Salam
Faaniik ahla kalam
Arrab menni shwayya shwayya
Albi wa albak sawa yetla u
Eddon'ya enta malet'ha alayya
Dal hubbili mahadesh da u

Arrab menni shwayya shwayya
Edd ma te'dar arrab tany
Eddon'ya enta malet'ha alayya
Wekaennak makhlook alashani

Wal hagabansaha wa awad'na lahna khadna haa
Hayatna lahna issna ha alaihaa baa iish
Fiishkuti fii kalaamm, iyash fii kulli ayami ainiik
Fiikulli ahlaami mabitsibniish

Wal hagabansaha wa awad'na lahna khadna haa
Hayatna lahna issna ha alaihaa baa iish
Fiishkuti fii kalaamm, iyash fii kulli ayami ainiik
Fiikulli ahlaami mabitsibniish


(Aku masih memiliki kerinduan yang sama
dan mengingat kenangan indah kami
Sambil memegang fotomu setiap hari

Aku tidak bisa merasa nyaman atau menutup mataku di malam hari

Saya merasa terbebani oleh kerinduan selama berjam-jam
Terkadang kerinduan mencegah saya dari tidur

Siang dan malam, Aku tidak bisa menggantikanmu dalam pikiranku
Dan tidak ada satu hari pun Anda tidak terjawab

Allaaah yaa Salaaaam
Di matamu Aku menemukan kata-kata yang paling indah

Mendekatlah sedikit demi sedikit
Jadi hatiku dan hatimu bisa menemukan satu sama lain
Kamu telah memenuhi duniaku
Inilah Cinta yang tak seorang pun pernah rasakan

Mendekatlah sedikit demi sedikit
Sebisa mungkin, mendekatlah
Dan itu seperti Anda diciptakan hanya untuk saya
Dan tidak ada yang bisa menghapus janji yang kita buat satu sama lain).

Pramasastra Bahasa Arab (19)

Pramasastra Bahasa Arab (19)
Oleh aminuddin

T.  Bilangan (Angka-angka)

I. Bahan Pelajaran :

a. (Se) bulan terdiri dari tiga puluh hari atau tiga puluh satu (hari) selain bulan Februari (Yata-allafusy syahru min tsalaatsiina yauman au waahidin wa tsalaatsiina illa syahra fibraayiri).

b. Bulan itu (Februari), dua puluh de lapan hari pada tiap-tiap tiga dari empat tahun (Fahuwa tsamaani yatun wa 'isyruuna yauman fii kulli tslaatsin min arba'i sanawaatin).

c. Tetapi pada tahun keempat ia dua puluh sembilan hari (Ammaa fissanatir raabi'ati fahuwa tis'atun wa 'isyruuna yauman).

d. Dalam setahun (ada) dua belas bulan. Jadi setahun terdiri dari tiga ratus enam puluh lima, seperempat hari (Wafissanatitsnaa 'asyara syahran, fatata-allafus sanatu iz min tsalaatsi mi-atin wa khamsatin wa sittiina yauman warub'il yaumi).

e. Tiap-tiap sehari (ada) dua puluh empat jam, dan satu jam dibagi menjadi enam puluh menit (Wafi kulli yaumin arba'un wa 'isyruuna saa'atan watanqasimus saa'atu ilas sittiina daqiiqah).

f. Tiga puluh menit dinamakan setengah jam, dua puluh menit sepertiga jam, dan lima belas menit seperempat jam, dan empat puluh lima menit tiga perempat jam (Fatusamma tsalaatsuuns daqiiqatan nishfa saa-atin wal 'isyruuna daqiiqatan tsultsa saa'atin wal khamsa 'asyrata daqiiqatan rub'a saa'atin wal khamsu wal arba'uuna daqiiqatan tsalaatsata arba'is saa'ati).

g. Adapun musim dalam setahun adalah yang pertama musim semi, mulai pada bulan yang ketiga dari (setiap) tahun (Ammaa fushuulus sanati fahiya awwalan fashlur rabii'i wayabtadii fisy syahrits tsaalitsi minas sanati).

h. Yang kedua musim panas, mulai bulan keenam (Tsaniyan fashlu shaifi wayabtadii fisy syahri saadisi).

i. Yang ketiga musim gugur, mulai bulan kesembilan (Tsaalitsan fashlul khariifi wayabtadii fisy syahri taasi'i).

j. Yang keempat musim dingin (winter), mulai bulan kedua belas ( Raabi'an fashlu syitaa-i wayabtadii fisy syahrits tsaaniya 'asyara).

II. Pembahasan Tata Bahasa :

1. Bilangan Utama :

- SATU

Masculin              Feminin

1. Waahidun        Waahidatun

(Bilangan utama yang menjadi adjective harus mengikuti kata ben da sebelumnya, seperti Lailatun waahidatun dan Yaumun waahidun).

Ahadun                 Ihdaa

(Bilangan alternatif dipakai sebagai adjective, seperti kata ganti Lam ajid ahadan = Saya tidak mendapat seorang pun.

- DUA

Masculin                    Feminin

2. Itsnaani                  Itsnataani

(Biasa digunakan sebagai adjecti ve karena kata benda sebelumnya juga dual, seperti Lailataani, Yau maani. Juga digunakan sebagai kata ganti yang berarti dual).

- TIGA sampai SEPULUH

Masculin                     Feminin

3. Tsalaatsatun          Tsalaatsun

4. Arba'atun                Arba'un

5. Khamsatun            Khamsun

6. Sittatun                  Sittun

7. Sab'atun                 Sab'un

8. Tsamaaniyatun     Tsamaanin

9. Tis'atun                  Tis'un

10. 'Asyaratun           'Asyrun

(Bilangan 3-10 mempunyai  harkat -- fathah dan ta marbuthah tanwin da lam masculin dan tanpa harkat -- fathah dan ta marbuthah tanwin dalam feminin.  Jadi keadaannya terbalik. Jenis kata tunggalnya dianggap menjadi jenis bilangan itu. Bilangan-bilangan ini diperlu kan seperti biasa. Semuanya dihu bungkan dengan kata benda dalam keadaan genitif jamak).

Umpamanya :

- Arba'i sanawaatin

- Tsalaatsata arbaa'i

Catatan :

Bilangan 3-10 dapat mengikuti kata benda sebagai adjective, tetapi ke tentuan di atas masih tetap ber la ku, seperti Rijaalun tsalaatsatun.

- SEBELAS

Masculin                   Feminin

11. Ahada 'asyara   Ihda 'asyrata

(Bilangan ini tidak berobah).

- DUA BELAS

Masculin                    Feminin

12. Itsnaa 'asyara    Itsnataa 'asyratap

(Bagian pertama dari 12 dalam keadaan dual menjadi genitif dan accusatif Itsnay 'asyara (m) dan Itsnatay 'asyrata (f). Bagian keduanya adalah tetap.

- TIGA BELAD Sampai SEMBILAN BELAS

Masculin                           Feminin

13. Tsalaatsata 'asyara   Tsalaatsa 'asyrata

14. Arba'ata 'asyara         Arba'a 'asyrata

15. Khamsata 'asyara     Khamsa 'asyrata

16. Sittata 'asyara            Sitta 'asyrata

17. Sab'ata 'asyara           Sab'a 'asyrata

18. Tsamaaniyata 'asyara Tsamaaniya 'asyrata

19. Tis'ata 'asyara           Tis'a 'asyrata

(Bilangan-bilangan ini tetap, tidak berobah. Ketentuan yang berlaku seperti dengan 1 - 10 (satuan) tidak berlaku bagi 'asyara nya).

- DUA PULUH Sampai SEMBILAN PULUH SEMBILAN

Masculin                       Feminin

20. 'Isyruuna                 Sama

21. Waahidun      Ihda wa'isyruuna
wa'isyruuna

22. Itsnaani         Itsnataani wa'
wa 'isyruuna        isyruuna

23. Tsalaatsatu  Tsalaatsu wa'isy
       wa'isyruuna  ruuna

30. Tsalaatsuuna    Sama

40. Arba'uuna          Sama

50. Khamsuuna      Sama

60. Sittuuna            Sama

70. Sab'uuna           Sama

80. Tsamaanuuna  Sama

90. Tis'uuna            Sama

(Puluhannya tidak berbeda dengan jenis kata bendanya, dan disesuai kan dengan masculin jamak. Gabu ngan bilangan disusun seperti : empat, dan dua puluh burung (j). Dan ketentuan bilangan satuan (1 s/d 9) tetap diperlakukan sebagai masculin/feminin).

Catatan

Bilangan dari 11 s/d 99 diiringi de ngan kata benda dalam keadaan accusatif tunggal yang dianggap sebagai accusatif.

Contohnya :

a. Min tsalaatsiina yauman (lihat I no 1/a).

b. Tsamaaniyatun wa 'isyruuna yauman (lihat I no 2/b).

c. Itsnaa 'asyara syahran (lihat I no 4/d).

d. Arba'a wa 'isyruuna saa'atan (lihat I no 5/e).

e. Khamsa 'asyrata daqiiqatan (lihat I no 6/f).

- SERATUS dan seterusnya

Masculin                    Feminin

100. Mi-atun.          Mi-atun (mim bercagak tanpa harkat)

200. Mi-ataani

300. Tsalaatsu mi-atin

400. Arba'a mi-atin

1000. Alfun

2000. Alfaani

3000. Tsalaatsatu aalaafin

11.000. Ahada 'asyara alfan

100.000. Mi-atu alfin

1.000.000. Malyuunun

2.000.000. Malyuunaani

3.000.000. Tsalaatsatu malaayiina

(Kata Mi-atun, Alfun dan Malyuu nun dianggap sebagai kata benda yang dihitung sebagai kali, seperti 300, 6000, 20.000, atau 5.000.000. Tetapi Mi-atun tetap dalam kea daan tunggal dalam kali 300 s/d 900 dan tidak jamak seperti halnya dengan bilangan satuan (3-9).

Sedangkan pada bilangan ratusan, ribuan dan jutaan (seperti 100, 300, 1000, 300.000) kata Mi-atun, Alfun dan Malyuuna dihubungkan dengan kata benda (yang dihitung) yang genitif tunggal.

Dalam bilangan gabungan di atas 100, maka bilangan terakhirlah ya ng menentukan kasus penyesuaian nya dengan kata benda (yang dihi tung). Jadi harkatnya bergantung pada kasusnya sendiri.

Dalam gabungan yang terdiri dari jutaan, ribuan, ratusan, puluhan dan satuan, bilangan yang terbesar dile takkan di depan sekali, sedangkan satuan diletakkan sebelum pulu han. Tiap-tiapnya dihubungkan dengan kata penghubung).

Contoh :

Fatata-allafussanatu izan min tsa laatsi mi-atin wa khamsatin wa sittiina yauman.

Catatan :

Dalam contoh ini kata Tsalaatsi tidak mempunyai ta marbuthah karena Mi-atin feminin. Kata Mi-atin
adalah genitif tunggal walaupun sesudah genitif jamak Tsalaatsi.

Kata Khamsatin mempunyai ta mar buthah karena Yauman adalah mas culin. Kata Yauman berkasus accu satif tunggal karena kata bilangan terakhir dalam susunan kalimat ini yaitu Sittiina adalah bilangan antara 11 s/d 99.

2. Bilangan Tingkat :

Masculin                        Feminin

Ke-1. Awwalun              Uulaa

Ke-2. Tsaani

Ke-3. Tsaalitsun

Ke-4. Raabi'un

Ke-5. Khaamisun

Ke-6. Saadisun      

Ke-7. Saabi-un

Ke-8. Tsaaminun

Ke-9. Taasi'un

Ke-10. 'Aasyirun

Ke-11. Alhaadiya  Alhaadiyata 'asy
'asyara                   rata

Ke-12. Ats tsaaniya 'asyara

Ke-13. Ats tsaalitsa 'asyara

Ke-20. Al 'isyruuna

Ke-21. Al haadii  Al haadiyata wal
wal 'isyruuna      'isyruuna

Ke-22. Ats tsaanii wal 'isyruuna

Ke-23. Ats tsaalitsu wal 'isyruuna

Ke-100. Al mi-atu

(Bilangan tingkat ke-1 pertama dalam bentuk Af'alu walaupun dengan tanwin. Tingkat ke-2 - 10 dengan bentuk Faa'ilun. Semuanya adalah adjective biasa, disesuai kan (mengikuti) kata bendanya.

Ketentuan seperti bilangan utama (m/f) yang terbalik, tidak berlaku, dan tetap memakai ta marbuthah bagi feminin (kecuali feminin Uulaa).

Harus diingat bahwa Ta dari Sitta tun = "6" bilangan utama diganti de ngan Dal dan Sin nya dalam bila gan tingkat. Bilangan tingkat ini mungkin saja tidak definitif.

Bilangan tingkat 11 - 19 adalah tidak berobah, Haadiya adalah bentuk Faa-ilun dengan terjadi  dari Hadaa < Wahada.

Bilangan tingkat Awwalun tidak dipakai dalam bilangan tingkat yang lebih tinggi. Femininnya seperti feminin "ke - 11".

Bagi tingkat puluhan ( ke 20, 30 dan seterusnya) bilangan utama yang dipakai semuanya tidak terpengaruh oleh jenis (tetap) sebagai masculin jamak.

Untuk gabungan bilangan tingkat yang terdiri dari puluhan dan satu an, adalah satuannya tingkat disam bungkan dengan puluhan utama. Apabila satuannya definitif (berkata sandang) maka puluhannya juga definitif).

Catatan :

1. Kadangkala bilangan tingkat juga dihubungkan dengan kata ganti/ ka ta benda seperti Awwaluhum = ya ng pertama dari mereka; Saadisu rajulun (laki-laki yang keenam).

2. Bilangan adverb: pertama kali, kedua kali, dan seterusnya. Diben tuk dengan menjadikannya tidak definitif dalam accusatif (bertan win). Tsaaniyan, Awwalan.

Contoh :

- Fissanatir raabi'ati.

- Amma fushuulus sanati fahiya awwalan.

- Fisy syahrits tsaalitsi.

- Fisy syahrits tsaaniya 'asyara.

3. Pecahan :

Bilangan pecahan 1/3 s/d 1/10 adalah dengan bentuk Fu'lun atau Fu'ulun (sebagian kecil). Jamaknya berbentuk Af'aalun. Pecahan diikuti langsung oleh kata benda (yang dihitung) sesudahnya.

1/2     Nishfun   (jamak Anshaafun)

1/3     Tsultsun (jamak Atslaatsun)

1/4      Rub'un

1/5      Khumsun

1/6      Sudsun

1/7      Sub'un

1/8      Tsumnun

1/9       Tus'un

1/10     'Usyrun


Pecahan-pecahan yang tertinggi biasanya diletakkan di depan sekali. Seperti Khamsatu ajzaa-i min sittatin wa 'isyriina juz-a = seperlima bagian dari 26 bagian.

Prosen diletakkan di depan sekali, seperti Arba'uuna bil mi-ati minasy sya'bi = 40 ℅ dari penduduk (bangsa) itu.

Contoh :

- Watusammaa ... Nishfa saa'atin

- Watusamma ... Tsultsa saa'atin

- Watusamma .. Rub'a saa'atin

- Watusamma .. Tslaatsata arbaa'is saa'ati

4. Lain-lain :

Dalam pelajaran di atas ada dua hal yang belum diuraikan mengenai bilangan (1 no 2) kata Sanawaatin adalah kata jamak biasa, dari Sana tun. Kata ini dengan menyisipkan waw dalam jamaknya.

Jadi Sanatun berasal dari Sanwa tun dan waw dikembalikan dalam jamak feminin yang sehat (biasa). Contoh lain adalah Akhawaatun jamak Ukhtun dan Safawatun jamak Safatun.

(Dalam no 4) kata Izan (sama de ngan izan) adalah kata perangkai = karena itu, dari itu.

III. Latihan :

1. Ini adalah (nama) bulan tahun Masehi, seperti yang dikenal dengan "Hilal al Khasib" (haazihi hiya asyhuru sanatii miilaadiyyati, kamaa tu'rafu fil hilaalil khashiibi : Kaanuunuts tsaanii, syubaathu, azaarun, niisaanun, ayyaarun, hazairaanun, tammuuzun, abun, ayluulun, tasyriinul awwalu, tisyriinuts tsaanii, kaanuunul awwalu).

2. Bulan-bulan itu dinamakan di Mesir dan beberapa negeri lain : Januari, dst (Watusamma haazihil asyhuru mishra waba'dhil buldaanil ukhraa:  yanaayiru, fibraayiru, maarisu, abriilu, maayuu, yuunyuu, yuulyuu, aghustusu, sabtambiru, uktuubiru, nuupambiru, diisambiru).

3. Adapun (nama) bulan tahun Hijriyah adalah : Muharram, Shafar, Rabi'ul awwal, Rabi'ul akhir (stani), Jumadil awwal, Jumadil akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Zulka'idah, Zulhijjah (Ammaa asyhurul sinatil hijriyati fatusamma : al muharramu, shafarun, rabii'ul awwalu, rabii'uts tsaanii, jumaadal uulaa, jumaadal aakhiratu, rajabun, sya'baanu, ramadhaanu, syawwaalun, zul qa'dati, zul hijjati).

4. Adapun (nama) hari dalam seminggu adalah hari Ahad, Senin, hari Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan hari Sabtu (Ammaa ayyamul.l usbuu'i fahiya : yaumul ahadi, yaumul itsnaini, yaumuts tsulatsaa-i, yaumul arbi'aa-i, yaumul khamiisi, yaumul jum'ati, yaumus sabti).

5. Penanggalan ditulis dan dibaca seperti ini : Hari Selasa, hari ketujuh belas bulan Februari tahun 1953 Masehi, yaitu hari yang ketiga bu lan Jumadil akhir tahun 1372 Hijriyah (Wayuktabut taariikhu aw yuqra-u 'alaa haazihith tharriiqati : yaumats tsulatsaa-i fis saabi'a 'asyara min (syahri) fibraayira sanata alfin wa tis'i mi-atin wa tsalaatsin wa khamsiina milaadiy yatan ay al yaumuts tsaalitsu min (syahri) jumaadaal aakhirati sanata alfin wa tsalaatsi mi-atin watsna taini wa sab'iina hijriyyatan).


IV. Ulangan :

a. Terjemahkan ke Bahasa Indonesia :

1. Fi Syarii'atil islaamiyyati tu'thal mar'atu nishfa maa yanaaluhu ar rajulu wayaquulul ba'dhu inna zaalika kaafin lahaa.

2. Limishra khamsata 'asyara mamatstsilan fil umami mutaahidati lahum shifatun rasmiyyatun yahdhuru ba'dhuhum al jalasaati bainamaa ya'malul ba'dhul aakharu fii 'iddati makaatiba kamastasyaariina yabhatsuuna fil qaraaraatil mukhtalifati, wayaquumu haa-ulaa-i bitandhiimi su-uunil wafd.

3. Ashshalaatu wal hajju min arkaanil islaamil khamsati, wa yajibu 'alal muslimil qaadiri ayyaquuma bihimaa.

4. Fii lunduna yuujadu katsiirun minal janaa-inil  'ammaatil latii tamtaddul waahidatu minhaa ba'dal ukhraa. Wala'alla 'adadahaa aktsarul mi'ati. Walimu'adzdzhamil buyuuti fii muduni bariithaaniyaa basaatiinu aw janaa-inu khashshah.

5. Washala kuulumbuusu ilaa amriika qaadiman isbaaniyaa Spanyol sanata alfin wa-arba'i mi-atin watsnataini watis'iina fa-assasa musta'maratin isbaaniyyatan, wafil 'aami nafsihi adhtharral isbaanul 'araba ilaal khuruuji min isbaaniyaal latii samaahal "arabul andalusa

6. Khalaqa menjadikan Allaahus samaawaatil waasi'ati wal-ardhu wa kulla maa fil wujuudi fii sittati ayyaamin wastaraaha fil yaumis saabi'i.

7. Yaluuhu lii annal ustaadza fulaaniyya yakaadu laa ya'rifu kam huwa tsultsuts tsalaatsati.


8. Tata'allaful ba'satu diraasiyyatul 'iraqiyyatu min tsalaatsi mi'ati thaalibin qadimuu min jamii'i ajzaa-il 'iraaqi wantasyaruu fii jaami'aati amriikal kubraa wahum yasta'idduuna likhidmati ummatihim watahqiiqi majdihaa wamadaniitihima.


b. Terjemahkan ke Bahasa Arab :

1. (Kaum) Umaiyah mempunyai empat belas khalifah.

2. Indonesia mempunyai lebih dari seratus empat puluh juta penduduk.

3. Presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno, menyiar kan (memproklamirkan) Kemerde kaan pada 17 Agustus 1945.

4. Para pegawai Departemen Pendi dikan mengemukakan lima (ma cam) tuntutan mereka kepada men terinya dan mereka berkata akan se nantiasa mogok sampai tuntutan mereka dilaksanakan (dipenuhi).

5. Perwujudan (didirikannya) Liga Arab menggambarkan langkah per tama menuju kerjasama antara 10 negara-negara Arab.

Langit tak Berbintang (2)

Langit tak Berbintang (2)
Oleh Wak Amin




MENDENGAR seterunya Jenderal Bais mulai sakit-sakitan dan Jen de ral Mansur yang mulai uzur, Jende ral Fatoni memanggil tiga orang ke percayaannya masing-masing Let nan Subki, Kapten Andre dan Ko lonel Topan ke istana.

Menggelar pertemuan tertutup, pra ktis hanya empat orang saja yang ada dan hadir dalam ruangan sejuk itu. Uniknya, ketiga anak buah Jen deral Fatoni ini belum diberitahu alasan pemanggilan mereka ke istana.

"Saya sengaja tak memberitahu ala san pemanggilan kalian bertiga ka rena betapa penting dan sangat ra hasianya tugas yang kalian harus emban," kata Jenderal Fatoni me ngawali pertemuan tertutup dan dijaga ketat pasukan pengaman istana.

"Kalian bertiga saya tugaskan mem bunuh Jenderal Bais setelah keluar dari ruangan ini nanti. Kalian siap untuk melakukannya?"

"Siap Raja Jasina .."

"Sekarang apa yang harus diper siapkan?" Tanya Sang Raja.

"Pasukan Paduka Raja," jawab Letnan Subki.

"Berapa orang?"

"Satu saja Paduka Raja."

"Kapten Andrea?"

"Tambah satu lagi Tuan Paduka Raja."

"Baiklah. Anda punya usul siapa orangnya Kapten?"

"Maria Tuan Paduka Raja."

Ha ha ha ...

Mendengar nama Maria, Kolonel Topan tertawa.

"Kolonel!" Tegur Sang Raja

"Siap Paduka Raja."

"Saya peringatkan anda Kolonel. Se kali lagi kamu tertawa di ruangan ini, saya pancung kepalamu. Mengerti?"

"Mengerti Paduka Raja."

"Teruskan Kapten."

"Maria adalah rakyat biasa. Dua bu kan siapa-siapa bagi saya Tuan Pa duka Raja. Saya, Letnan Subki dan Kolonel Topan secara tidak senga ja pernah bertemu di tempat hibu ran malam."

Heeeem ...

"Terus Kapten .."

"Semula kami bertiga Maria hanya wanita biasa. Penyambut tamu dan  penggoda laki-laki hidung belang ....."

"Lalu ..?"

"Ternyata salah wahai Tuan Paduka Raja."

"Bisa sampai salah itu kenapa Kap ten. Apa kalian bertiga yang bodoh atau justru si Maria itu yang mem permainkan kalian?"

"Kami yang bodoh Tuan Paduka Raja," jawab Letnan Subki.

"Sekali lagi saya dengar kaliab se perti itu, aku turunkan pangkat kalian. Mengerti?"

"Mengerti Tuan Paduka Raja."

" Teruskan Kapten ceritanya .." Pinta Sang Raja.

" Ternyata Maria pandai bernyanyi dan menari Tuan Paduka Raja."

Wah .. wah ...

Luar biasa.








Jumat, 05 Juli 2019

Langit tak Berbintang (1)

Novel Islami
(Sambungan dari 'Peluk Aku Ya Allah')



Langit tak Berbintang (1)
Oleh Wak Amin

BEBERAPA tahun kemudian ...

Setelah mangkatnya Jenderal Ko mar karena diracun orang suruhan Jenderal Fatoni, tongkat kepemim pinan pasukan pemberontak, dari semula diemban Jenderal Komar ke Jenderal Fatoni.

Peralihan ini awalnya mendapat pe nolakan keras dari segenap pasu kan pemberontak yang dipelopori Kapten Sambas, Letnan Bagus, dan Mayor Tolib.

Namun penolakan ini berhasil dire dam pasca ditangkap dan dibunuh nya tiga orang kepercayaan Jende ral Komar itu.

Situasi kembali terkendali ..

Sejak saat itu seluruh pasukan pem berontak dan pasukan srigala men daulat Jenderal Fatoni sebagai pe mimpin tertinggi mereka.

Mereka bersumpah setia akan me ngabdi pada Jenderal Fatoni ..

Jenderal Fatoni saat ini menguasai wilayah Jasina. Sebuah wilayah pe desaan yang sebagian penduduk nya hidup berkecukupan.

Mata pencaharian penduduk Jasi na adalah bercocok tanam dan ber dagang. Mereka dikenal ramah ke pada siapapun.

Mereka suka menolong, tanpa pam rih dan sukarela ..

Namun, sejak berkuasanya Jende ral Fatoni, penduduk setempat be rubah menjadi takut. Tidak ramah seperti dulu lagi.

Mereka takut untuk keluar rumah, kecuali dalam keadaan terpaksa. Ke ladang dan atau berbelanja ber bagai keperluan di pasar.

Mereka, oleh Jenderal Fatoni, diwa jibkan membayar upeti sesuai ting kat kesejahteraan. Yang paling kaya upetinya harus jauh lebih besar. Up eti ini diberikan tepat waktu. Satu tahun sekali atau dihelatnya perhe latan besar di istana.

Jenderal Fatoni telah mengangkat dirinya sebagai Raja Jasina. Dia ber kuasa penuh atas wilayah kekua saannya.

Ucapannya  harus didengar. Perin tahnya wajib dituruti. Mereka yang coba membangkang akan dihabisi tanpa ampun ..


Kamis, 04 Juli 2019

Peluk Aku Ya Allah (40)

Peluk Aku Ya Allah (40)
Oleh Wak Amin




PENGEKSEKUSIAN dilakukan ma lam hari. Bertindak selaku ekseku tor Letnan Subki, Kapten Andre dan Kolonel Topan.

Disaksikan Jenderal Komar, Jende ral Fatoni, Kapten Sambas, Letnan  Bagus dan Mayor Tolib. Eksekusi menggunakan senjata api.

Mereka yang dieksekusi duduk ber sila dengan mata tertutup dan ke dua tangan terikat. Mereka tahu ba kal dieksekusi, tapi tidak tahu de ngan cara apa dan bagaimana ek sekusi dilakukan.

"Tembaaaak ...!" Perintah Jenderal Fatoni.

Trot tot .. tot .. tot ...

Belasan peluru menembus dada dan kepala. Prajurit muda usia itu pun tewas dan dengan satu kali sentuhan ke depan, jasad mereka menggelinding menyusuri tebing laut sebelum jatuh tenggelam ke dalam air.

Jenderal Fatoni amat puas. Demiki an pula halnya dengan Jenderal Ko mar, yang sebagian pasukannya ik ut buang-buang senjata, ditembak mati bersama tentara srigala.

Bekas eksekusi, seperti tali dan ba ju yang dijadikan penutup mata, ju ga ikut dilarung ke laut.

Malam bergerak larut ...

Suara anjing hutan terdengar dari kejauhan, disertai petir yang sam bar menyambar.

Tak lama kemudian hujan turun le bat ...

Akan kemana pasukan srigala dan pasukan pemberontak setelah ini?

Apakah diam-diam mereka menye rah?

Atau justru lari jauh ke hutan untuk menghimpun kekuatan baru?

Atau mungkin tetap bertahan, lalu melakukan serangan secara tiba-tiba ke markas pasukan pemerin tah dan pasukan pribumi?

Semula antara Jenderal Fatoni dan Jenderal Komar berselisih paham mengenai hal ini ..

Namun selisih paham dan beda pendapat itu akhirnya teratasi ber kat campur tangan Kapten Sambas, Letnan Bagus, Mayor To lib, Letnan Subki, Kapten Andre dan Kolonel Topan. (bersambung)

Rabu, 03 Juli 2019

Peluk Aku Ya Allah (39)

Peluk Aku Ya Allah (39)
Oleh Wak Amin




"HUKUM saja mereka Komandan ji ka memang bersalah," kata Letnan Subki.

"Menurut anda apa mereka bersalah Letnan?"

"Sangat bersalah Dan."

"Dimana salahnya Letnan? Beritahu saya sekarang .."

"Mereka buang senjata tanpa izin kami bertiga selaku komandan pa sukan pejalan kaki satu."

"Kalau anda tahu apa mereka anda izinkan Letnan?"

"Tidak Komandan."

"Kenapa?"

"Itu tindakan bodoh bin tolol Koman dan. Lebih bodoh dari binatang pali ng bodoh sekalipun Komandan."

"Oke. Sekarang saya mau tanya pada anda Letnan."

"Siap Komandan."

"Hukuman apa sebaiknya diberikan kepada mereka Letnan?"

"Hukuman mati dengan cara ditem bak secara bersama-sama."

"Apa itu tidak terlalu kejam Letnan?"

"Tergantung kita yang melihatnya Komandan."

"Maksud anda Letnan?"

"Kalau kita lihat kejam ya kejam. Ta pi kalau kita lihat tidak kejam ya ti dak kejamlah."

"Kejamnya dimana, tidak kejamnya dimana Letnan?"

"Kejamnya di pelaksanaan, tidak ke jamnya diputusan kita. Komandan."

"Baik Letnan. Apa dampaknya jika hukuman tembak itu kita lakukan?"

"Aman terkendali Dan. Mereka ya ng buang senjata kita bereskan. Se dangkan yang tidak kita wanti-wan ti untuk tidak melakukan itu."

"Anda siap mengeksekusi mereka Letnan?"

"Siap jika diminta Komandan."

"Baiklah. Lakukan itu sekarang."

"Siap Komandan!"

"Kapten Andre?"

"Siap Jenderal."

"Kolonel Topan?"

"Siapkan Komandan."

"Bantu Letnan Subki dan kumpul kan mereka sekarang ke depan saya dan Jenderal Komar."

"Siap laksanakan Komandan."

Jok-jok Koda (14)

Jok-jok Koda (14)
Oleh Wak Amin





DI podok rangraya tanoh ...

Bak bik buk ...

"Kilu hampun oi. Sikam mak nga maling makwak," cakdu Mang Ib nu. Pudak sombob kaunyin. Rah nyulcul jak hirung.

Juksapona hoda rik Mang Komis. Pandok ditiyakko ti lawok kintu Bedah cs mak ratong.

"Dang dik. Dang dik. Ayukmu kilu tulung nihan," cakdu Bedah.

"Kita losaiko holau-holau." Mang Kades nongahi.

Mang Komis rik Mang Ibnu mak kona gobuk lagi.

Mihya ...

Praaak ...

"Adooow."

Kayu golam kona huluna Mang Da ud. Sompat anjorit. Untung mak ma ti.

Luwah rah jak hulu. Wat nafas mih mak pacak cawa.

Pingsan.

Juksipa Mang Iluy?

Goh-gohda.

Sumangna. Huluna digobuk rik panyapu. Layon rik kayu.

Mihya kona tarajang jolma tiyuh. Lokok ngura munih. Bayangkoda bak kuti. Mak sompat anjorit lagi. Sakik kaunyin badan.

"Radu-radu. Hodakko. Mun mak bu hodak sikam lapor ti polisi. Haga kuti?"

Mang Kades lobon kasabaran ...

Rokob kaunyin-unyin.

Mak unisina ratongda Pak Erte rik Mang Sehu. Tiyan ruwaja langsung nomuni Mang Kades. Anjolasko ikh wal kajadian sabonorna.

Mak unisina ...

"Ganta bubar kaunyin-unyin." Pa rintah Mang Kades.

"Tapi Mang Kades," cakdu jolma bakas buwok kariting protes.

"Mak ongka tapi-tapian. Ganta mu lang di pok masing-masing. Onti mamang rik sai barih nyalosaikona. Paham makwat?"

"Pahaaaam .."

"Sapa jak kuti makkung paham?"

Rokob kaunyin.

"Ganta bubar kaunyin."

Ragu ga mulang ..

"Bubaaaaar!"

Ompai bubar jolma ngura sanga ti yuhsa. Pingsansa mak cawa-cawa lagi.

Bubar. Mulang nihan ti lambahan masing-masing.

Turui sai landok ...

Juksina hoda harapan Mang Kades rik sai barih. Mang Ibnu, Mang Da ud, Mang Komis rik Mang Iluy pac ak ngalobonko kajadian ompaisa.

Mak ongka lagi dondam ..

Kita kaunyinsa bersaudara. (TAMAT)









Selasa, 02 Juli 2019

Peluk Aku Ya Allah (38)

Peluk Aku Ya Allah (38)
Oleh Wak Amin


TIGA bawahan Jenderal Fatoni ma sing-masing Letnan Subki, Kapten Andre dan Kolonel Topan, datang menghadap.

"Anda bertiga tahu kenapa saya panggil untuk datang menghadap saya?"

"Tahu Jenderal." jawab Kolonel Topan.

"Kenapa?"

"Kenapa pasukan kita pada ngacir dan buang senjata."

"Anda Kapten andre?"

"Perlu penjelasan soal buang-buang senjata."

"Anda Letnan Subki?"

"Perlu penjelasan lebih lanjut aksi buang-buang senjata Komandan."

"Baiklah. Sekarang saya mau tanya, boleh tidak hal itu dilakukan? Saya mulai dari Kolonel Topan."

"Tidak boleh Jenderal."

"Kenapa?"

"Itu sama artinya pengkhianat Jen deral .."

"Terus?"

"Pelakunya harus diberi sangsi seberat-beratnya Jenderal."

"Anda sendiri bagaimana Kapten Andre?"

"Diperbolehkan Komandan."

Paaak paak ..

Kena tampar. Keras sekali, seba nyak dua kali. Kanan dan kiri.

"Kenapa?"

"Sebagai bagian dari strategi Koma ndan," jawab Kapten Andre dengan suara lantang

"Strategi apa?"

"Menghindar dan pukul Komandan."

"Maksudnya Kapten?"

"Kita buang senjata, lalu kita ngacir, itulah yang saya maksud dengan menghindar. Sedangkan pukul, di saat yang tepat kita lakukan sera ngan balik dengan cara yang ber beda."

"Anda yakin itu berhasil?"

"Kenapa tidak Komandan. Bukan kah Komandan sendiri yang menga jarkan kepada kami untuk selalu op timis dan percaya diri," terang Kap ten Andre.

"Tanggapan anda Letnan Subki?"

Jok-jok Koda (13)

Jok-jok Koda (13)
Oleh Wak Amin


MANG Kades ompai ga rogoh jak ijan. Di bah ijan kok wat Mang Ha syim rik Mang Rozak. Tiyan ruwaja pamangku tiyuh.

Di podok warung ronik ..

"Sina Rus Mang Kades," cakdu Be dah.

Ngaliyak Mang Kades, Rus cangko lang, tapi mak jadi.

"Onti kasorup niku. Lapah juga ya," cawadu Romlah.

"Nonti ..."

"Makwat. Parcayada rik nyak," cak du Romlah.

"Panggil jugaya mak api-api," sa randu Nina rik Mala.

"Nyak juga," cakdu Bedah.

"Mamaaang ...!"

"Oi Mamaaang!"

"Mang Kadeees!"

Mang Rozak buhodak sangrabok.

"Mang ..."

"Mang Kadeees. Tunggu sikam. Wat sai ga tiumungko. Ponting Mang.

Bedah ngalamaiko punguna. Juk sina hoda Mala, Rus, Nina rik Rom lah.

"Tiyaan .."

"Bedah Mang Rozak," cakdu Mang Hasyim.

"Lupa-lupa ingok nyakna," jawsbdu Mang Rozak.

"Kita ponah pai dija," cawadu Mang Kades. "Kintu bagawoh mak ponting ga."

Sambil mihongas Bedah nyuritako Mang Ibnu cs. Ya kilu mahaf, layon da ngamaling barang, mih ngakuk kawai rik calana.

Ha ha ha ...

Tikahahada Mang Kades, Mang Ha syim rik Mang Rozak.

"Ongka gawe halokna," cakdu Mang Hasyim.

"Mun cakku Mang kita susul jugaga sai barih. Nyak rabai," cakdu Bedah, "Dikapulukko warga. Pacak mati Mang Kades .."

"Oke. Kita cangkolang ganta. Ma mang hitung .. Sai .. ruwa ... toooolu ..

Senin, 01 Juli 2019

Peluk Aku Ya Allah (37)

Peluk Aku Ya Allah (37)
Oleh Wak Amin



DI dekat anak sungai ...

"KITA harus tetap lawan Jenderal Komar, apapun alasannya," kata Jenderal Fatoni.

"Tapi saya ragu Jenderal."

"Kenapa, dan apa yang sebenarnya telah terjadi pada anda Jenderal Komar?"

"Tidak ada Jenderal Fatoni. Saya baik-baik saja. Kenapa saya ragu, karena pasukan kita sekarang su dah kurang dari separo jumlahnya. Kekuatan kita sudah berkurang. Di tambah lagi setengah dari mereka sudah tidak bersenjata lagi seka rang," jelas Jenderal Komar.

"Kenapa bisa begitu Jenderal?"

"Mereka sengaja membuang senja ta sebagai isyarat sudah tak mau berperang lagi. Sudah kalah, tapi tidak mau menyerah."

Jenderal Fatoni marah besar. Dia panggil Letnan Bagus untuk meng hadap dan menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan sebagian pasukan pemberontak dan pasukan srigala.

Menurut Letnan Bagus, tindakan membuang senjata merupakan be ntuk dan cara lain untuk mengek presikan diri bahwa sebagian dari pasukan kita sudah tidak punya mo tivasi lagi untuk melanjutkan pera ng ini.

"Ibaratnya mengaku kalah tapi tau mau menyerah. Lebih baik melari kan diri dari pada menyerahkan diri. Karena itu namanya berani babi," te rang Letnan Bagus.

"Kenapa anda tidak berusaha men cegahnya Letnan?"

"Sudah Jenderal. Tapi saya tidak bi sa berbuat banyak karena situa sa at itu tengah berkecamuk perang dan pasukan kita terus terdesak dan lebih memilih menghindari kontak senjata."

Merasa belum puas dengan jawab an yang diberikan, Jenderal Fatoni memerintahkan untuk memanggil beberapa orang anggota pasukan srigala untuk dimintai keterangan.

"Suruh mereka menghadap saya sekarang Letnan."

"Siap Jenderal."


                                  *****