Rabu, 29 November 2017

Lantak (7)

Novel

Lantak (7)
Oleh Wak Amin




14


DI lantai dua ...

Di tingkat dua ini ada beberapa ka mar tidur, tempat makan, menon ton acara televisi dan dapur.

Jam sembilan malam ...

Hi hi hi hi ...

Sekelompok anak tengah berbaris sambil mengucapkan ..."Om pimpa alaikum gambleng ... Kepalanya dua ... yang satu gepeng .."

Hi hi hi hi ...

Di kamar tengah ..

"Nancy ... Miss Nancy." Bisik Mrs Sabrina. Teman setidurnya ini merasa berat membuka matanya. Berulangkali Mrs Sabrina memintanya bangun, tak juga mau bangun.

Mrs Sabrina mulai kuatir. Selain suara anak-anak itu semakin kencang terdengar, Miss Nancy belum juga terjaga dari tidurnya.

Dia memutuskan untuk turun dari atas ranjang, mendekati meja, menuangkan air minum dari termos plastik. Setengah gelas air putih ia minum dan habiskan.

"Aku percikkan saja sedikit air ke mukanya. Mudah-mudahan dia terbangun dan tidak marah." Sabrina berucap dalam hati.

Preeess ..

Preeesss ...

Miss Nancy terjaga. Dengan cepat Mrs Sabrina menutup mulutnya, kemudian mengajaknya mengintip dari balik jendela kamar.

" Oooom pimpa ... Hi hi hi hi ...

Oooom pimpa .. Hi hi hi hi ...

Ooooom pimpa alaikum gambleng

Si dia ketawa pakek baju loreng ..."


"Dengar kan Miss?"

Miss Nancy mendekatkan telinganya ke dinding bawah jendela kamar.

"Ada kan?"

Miss Nancy menggelengkan kepala.

Teeess ...

"Kampret. Tahi cecak jatuh persis di mukanya Nancy yang sempat tengok ke plafon kamar.

Bhua ha ha ha ...

" Tahi cecak kampret," gerutu Miss Nancy.

He he he he ...

"Udah ah. Mau tidur lagi."

"Ntar dulu Miss." Sabrina mencegahnya. Dia kuatir suara anak-anak itu pertanda buruk bagi mereka. Apalagi merek kini berada di tengah lautan lepas.

Miss Nancy menguap.

"Please Miss. Ikut gue sekarang."

"Kemana?"

"Udah," kata Sabrina, "Pokoknya ikut gue aje."

Dengan langkah malas, Miss Nancy mengikuti saja kemana rekannya ini melangkahkan kedua kakinya.

Begitu juga ketika keluar kamar. Dia tak merasa takut dan kuatir. Berbeda dengan Sabrina yang harus mengendap-endap membuka dan menutup kembali pintu kamar.

"Ooom pimpa .. alaikum gambleng ..


Dia suka saya, tapi dia geleng-geleng ...


Hi hi hi hi ..."

Dua belas anak perempuan berusia belasan tahun, berseragam putih biru dengan dasi kupu-kupu dan rambut dikepang dua, kembali ke dapur, melewati kamarnya Miss Nancy dan Mrs Sabrina, setelah sampai di kamar paling ujung.

"Miss!"

"Nah, kalau yang ini memang saya dengar Sabrina," kata Missu Nancy. Suara anak-anak bernyanyi itu mulai terdengar, tapi tak seorang pun dari anak-anak itu yang dillihat dilihat keduanya.

"Sudah ... Yuk Miss kita masuk lagi," ajak Sabrina. Sebelum anak-anak itu tahu dan melihat mereka berdua lebih baik masuk dan sembunyi di dalam kamar.

"Oooom pimpa alaikum gambleng ...

Putus cinta si doi sableng ...

Hi hi hi hi ..."


Sssssst ...

Sssssst ...

Keduanya saling mengingatkan agar diam. Mulanya Sabrina yang tertawa melihat sepasang cecak pacaran, giliran Miss Nancy buka tutup pintu kamar karena merasa belum pas.

"Tuh mereka Miss!"

Sekelompok anak berwajah jelita dan belia melompat-lompat kecil sambil melenggok-lenggokkan badan dengan kedua tangan silih berganti ke kanan, kiri dan depan.

Haaaa ....?

"Apa aku sedang bermimpi Sab?"

Miss Nancy mengucek-ucek bola matanya.

"Tidak Miss. Kamu dan aku tidak sedang bermimpi. Ini nyata ada nya," ucap Mrs Sabruna. Lega karena berhasil melihat secara kasat mata anak-anak belia yang baru pertama kali mereka temukan di dalam kapal.


Sayang, ketika keduanya hendak melihat yang kedua kalinya, sekelompok anak dari dunia lain itu sudah tidak ada lagi. Juga nyanyian yang beberapa kali mereka dengar tadinya.


15


MENDENGAR celotehan Miss Nancy dan Sabrina, Mr Jodi ketawa ngakak. Sarapan pagi bersama di atas kapal menjadi riuh. Hanya Mr Clean yang tidak ada. Karena dia mengemudikan kapal seorang diri.

"Makanya jangan pikiran macam-macam," ledek Mr Jodi. Sudah dua gelas air kopi susu dia habiskan. Sedangkan Letnan Salam, dari tadi hanya senyum-senyum saja.

"Letnan ...!" Sapa Sabrina, mengalihkan obrolan pagi.

"Kebetulan saya tadi tidur pulas, Sab dan semuanya," aku Letnan Salam.

"Saya juga," sahut Mr Jodi, tak mau ketinggalan meramaikan pembicaraan.

"Mr Clean, Let?"

"Ayo ... Mulai lagi," gurau Mr Jodi. Menyebut nama Mr Clean, raut muka Miss Nancy seolah berubah pucat dan was-was.

"Eheeeem ..."

Mrs Sabrina batuk-batuk kecil. Dia menyindir rekan seprofesinya itu untuk secepanya mengajak Mr Clean ke lantai atas.

"Sebaiknya begitu Miss, apa salah nya," kata Letnan Salam. Lelaki seperti Mr Clean, dia semakin bersemangat bila diajak mengobrol, apalagi teman ngobrolnya cewek cantik jelita.

"Eheeem ..."

Giliran Mr Jodi batuk-batuk kecil.

"Atau perlu ditemenin Sabrins Miss?" Sindir Letnan Salam. Miss Nancy belum juga meninggalkan meja makan. Masih asyik menikmati nasi goreng.

"Miss ..!"

Sapaan Letnan Salam kali ini membuat Miss Nancy bangkit dari tempat duduknya.

"Air kopinya manis." Sabrina menuangkan sedikit susu ke dalam gelas air kopi.

"Beliau setahu saya suka dengan susu kalau minum air kopi." Diaduk sebentar, gelas kecil itu kemudian diambil Miss Nancy.

"Tengkiyu teman."

"Sama-sama. Good luck to you Miss Nancy." Pesan  Sabrina. Jangan lupa ingatkan Mr Clean untuk mandi.

Dari ruang kemudi, Mr Clean sesekali meneropong ke depan, kiri dan kanan serta belakang. Dia sama sekali tidak sadar di belakangnya sudah berdiri Miss Nancy sambil memegang segelas air kopi susu hangat

"Mr Clean ...!"

Panggilan ketiga, Mr Clean menoleh. Lalu tersenyum dan mengambil gelas dari tangan Miss Nancy. Tanpa kikuk ia hirup air minum kesukaannya itu.

"Terima kasih ya  Nancy."

Nancy tak menjawab. Hanya, usai menyunggingkan senyuman, dia duduk di sebelah kursi Mr Clean.

"Semalaman kamu di sini Clean?"

"Kebetulan Letnan Salam capek banget. Jadi aku yang gantikan beliau," terang Mr Clean. Menaruh gelas air kopi di atas meja tak jauh dari kemudi kapal.

"Enggak ngantuk apa?"

"Sebenarnya ia pagi ini. Mata mulai mengantuk, tapi entah kenapa tiba-tiba kantuk ini hilang."

Merasa disindir, Miss Nancy tak balas menyindir. Hanya diam. Lalu bilang ...

"Mungkin karena minum air kopi ya Clean?" Miss Nancy menduga-duga.

"Mungkin juga. Tapi menururku bukan karena itu Miss." Mr Clean mempercepat laju kapal.

Tampak di kanan kiri  bawah kapal membentuk gelombang yang semakin lama semakin membesar.

"Atau karena kehadiranku yang secara tiba-tiba mengganggu pikiran dan konsentrasimu Mr Clean?"

"Tepat sekali. Tapi bukan itu maksudku Miss."

Miss Nancy mencoba keker alias teropong kapal. Dia tampak senang bisa melihat dari dekat gulungan ombak dan percikan air yang membuih sementara ikan paus besar sesekali melompat ke atas permukaan air, tak jauh dari kapal yang terus melaju.

"Nancy ...!"

Miss Nancy menoleh. Mr Clean sudah tidak ada lagi di dekatnya.

Kemana dia?

"Mr Clean ..!"

"Clean ...!"

"Mr Clean ...!"

Beberapa langkah kedua kakinya menuruni anak tangga, bersua Mr Clean yang baru saja kembali dari ruang makan di lantai dua.

"Aku bawakan ini. Mau kan?" Mr Clean memperlihatkan dua buah telur mata sapi dalam satu piring, dipolesi sedikit kecap asin di atasnya.

"Anggap ini untuk memperat hubungan kita, Nancy."

Miss Nancy mencobanya dengan memotong sedikit pinggiran telur mata sapi itu dengan garpu ...

Eheeem ...

"Bagaimana? Enak kan buatanku?"

Miss Nancy tak menjawab. Dia hanya ingin memeluk erat-erat pria yang sangat ia cintai itu.


16


BYUUR ...

Bleeep ...

Mr Jodi terjun dari atas kapal. Semua rekan-rekannya kuatir karena lama sekali baru muncul dari dalam air.

Ketika melihat Miss Nancy, Mr Jodi pun berteriak dengan memanggil-manggil namanya, agar segera terjun menyusulnya yang sudah lebih dulu berada di dalam air.

"Clean ...!"

"Mau ..?"

Karena Sabrina juga mau mencoba bagaimana rasanya melompat dari atas kapal, Miss Nancy yang semula ragu untuk mandi, memutuskan menyusul rekannya Mr Jodi.

"Saya juga ikut." Semakin gembira hati Miss Nancy mendengar uca pan Mr Clean barusan. Kini mereka berempat sama-sama melompat ke dalam air.

Letnan Salam?

"Saya jadi pemantau sajalah," kata Letnan Salam tertawa lebar. Dia melambaikan tangan pada Mr Jodi yang berteriak-teriak memanggil namanya. Memintanya ikut mandi bersama.

Pagi hari di tengah lautan lepas sangat menyenangkan. Dari kejauhan tampak ratusan burung camar terbang rendah sebelum bersembunyi di balik pohon kelapa dan belantara yang masih perawan.

Belum satu pun kapal yang terlihat, apalagi melintas. Baik kapal barang maupun kapal nelayan. Kapal yang kerap digunakan nelayan untuk menangkap ikan.

Sampai saat ini kapal yang dinaiki Letnan Salam aman-aman saja. Tidak bocor dan persediaan makanan masih ada. Lengkap tersimpan di tempat penyimpanan makanan.

"Ayo Miss. Kejarlah aku!" Teriak Mrs Sabrina. Menyelam dan berenang. Kini dia berada di depan kapal. Terasa Lebih sejuk dan dingin.

"Tungguuu!" Jawab Miss Nancy. Dia menyelam. Lalu timbul lagi di permukaan air, dan berenang. Di belakangnya Mr Jodi dan Mr Clean ikut mengawal.

"Masa gitu aja dikawal-kawal sega la," sindir Sabrina. Yang disindir tak tahu di belakangnya ada dua pria hebat yang sedari tadi turut berenang.

Hi hi hi hi ...

Miss Nancy ketawa. Ketika mereka ngumpul di depan kapal, mesin kapal menyala.

"Clean ...Kamu lihat kan?" Mr Jodi merasa kapal mulai bergerak.

Meski lambat dan memutar, Mr Jodi dan kawan-kawan ingin segera naik karena kapal siap berangkat.

"Letnan ...!"

"Letnan ...!"

Berulangkali Mr Clean memanggil dan mencari tahu keberadaan Sang Bos, belum terlihat batang hidung yang bersangkutan.

Kemana gerangan dia?

Baru keluar dari kamar mandi. Bermaksud mengeringkan rambutnya yang basah di jendela lantai dua.

Saat melihat keluar, kapal berputar lambat. Dia segera naik ke ruang kemudi.

"Letnan ...!"

"Letnan ...!"

"Letnan ...!"

Letnan Salam kemudian keluar dari ruang kemudi. Dia berjalan ke tengah, ingin memanggil rekan-rekannya untuk segera naik.

"Clean ...!"

"Clean ...!"

"Sabrinaaa ...!"

Saling memanggil, Letnan Salam akhirnya menemukan Mr Clean di depan kapal. Dia menurunkan tangga. Karena di tengah, tidak mudah bagi anak buahnya itu untuk secepatnya sampai di bawah tangga.

Mereka harus berenang dengan cepat ke kanan, karena kapal memang berputar ke sebelah kanan.

Sport jantung juga melihat bagai mana Miss Nancy dan Sabrina harus bersusah payah menaiki tangga.

Karena untuk bisa naik harus memegang kuat-kuat bagian bawah tangga.

"Biar aku yang duluan naik, Sab." Kata Mr Clean. Dibantu Mr Jodi yang mendorong tubuhnya sedikit ke atas, lambat tapi pasti Mr Clean berhasil menaiki tangga.

Dia naik selangkah, la pun mengu lurkan tangan kanannya ...

"Kamu aja dulu Miss," ucap Sabrina. Sekuat tenaga Mr Clean menarik tangan Miss Nancy.

Sempat tarik ulur. Hampir berhasil. Lepas lagi.

Byuuur ...

"Kamu bisa Miss." Mr Jodi memberi semangat. Bersama Sabrina, dia dorong kedua kaki Miss Nancy sehingga lebih mendekat ke tangan Mr Clean.

Huuuup ..

Eyaaaaah ...

"Yang kuat Nancy."

"Licin Clean."

"Coba lagi."

Satu ... Dua ... Tiga ...

Huuup ...

Eyaaaaah...

Puuuk ...

Cepat-cepat dipeluk Mr Clean, agar Miss Nancy tak jatuh lagi ...

Plak ... Pak .. Plak ... Pak ...

"Sayang Clean," kata Mr Jodi sekadar intermezo.

"Sayang kenapa?"

"Enggak ada kamera ..."

Ha ha ha ha ...

"Udah, enggak perlu kameralah," sindir Sabrina. "Yang penting hati udah bicara."

Bhua ha ha ha ...

Miss Nancy tak jadi marah ketika Sabrina bilang ..."Aku dukung kalian sampe jadian ..."

Tobe continued

Kamis, 23 November 2017

Embedat (6-Habis)

Cerita Pilihan



Embedat (6)
Oleh Wak Amin


10

SETELAH dibawak ke rumahnyo, besok baru dikuburke. Jakir, Jul samo Badu berunding parak dapur rumahnyo Mansur yang mayatnyo dikumbut kain, ditelentangke tengah rumah.

Rundingan dak lamo idak. Denget bae. Paling duwo menit. Budak tigoni langsung ke rumahnyo Mang Ridwan. Malemtula. Ngenjuk tau Mansur mati ditembak uwong.

Siapo laye?

"Dak katik siapo-siapo. Pacak dipastike yang nembaknyo uwong yang embedat warung mamang tula," kato Jakir sambil ngepalke tinjunyo, enggocoh kayu parak garang.

"Kalu mak itu kito gari bae. Kito carila budak-budaktu," usul Mang Ridwan.

Berempat langsung nancep ke ru mah Mang Salim. Diintip dari batang pohon seri. Sepi-sepi bae.

Mungkin karno la malem. Daripado diceridik'i uwong lemakla balik duken. Cuman tanggung nian kalu nak balik. Nyaroke badan namonyotu.

Jadi?

"Kito besumput disinila bae," kato Jul. "Kalu bae gektu ado yang lewat, langsung kito sikat."

"Kalu bukan budaktu, cakmano?" Tanyo Jakir.

"Kito embat ..."

He he he he ...

Ssssst ...

Ado lanang gemuk lagi bejalan. Jalannyo lucu. Zig-zug, dewekan pulo.

Setengah mabuk. Mato merah. Baju tebukak kancing pucuk. Idak beselop. Nyekel gudu.

" Ha ha ha ha ...
Mang Salim memang hebat
Sekali tembak
Langsung sekarat ...

Ha ha ha ha ..."


"Mang Ridwan?"

"Tunggu sedenget lagila," uji Mang Ridwan.

Baru nak metu dari batang pohon seri, Roni samo Abdul nyongol. Nutul  Mang Salim.

Bukan nak ngapo-ngapo. Cuman nak ngembek gudu dari tangan Mang Salim, yang tinggal separo kurang dikit isinyo.

"Mang Salim ... Mang Salim!" Panggil Roni.

Namonyo jugo uwong mabuk. Nolehla dio. Tapi dak pulo tau kalu yang manggilnyo barusan duwo anak buahnyo.

"Mang Salim. Ini aku samo Abdul," kato Roni. Ngembek gudu, melok minum.

Abis denget tula.

"Ngapo kau abisi?"

"Bos kan sudah  ..."

"Ooo iyo. Lupo aku."

"Ha ha ha ha ...
Mang Salim memang hebat
Sekali tembak
Langsung sekarat

Ha ha ha ha ..."


Endenger bosnyo nyanyi, Abdul jugo melok nyanyi, lenak parak mabuk ...

"Ha ha ha ha ...
Mang Bedul memang hebat
Ado musuh langsung disikat
Tak kenal baik atau  jahat
Yang penting dio sikaat .."


Dahtu nyusul pulo Roni ...

"He he he he ...
Mang Roni uwong kuat
Sekali tau pacak teluncat
Muko pucat biso tamat ..."

Betigo ketawo ngakak ...

Ado sikok budak mudo pakek sepeda numpang lewat. La dikringke dak jugo minggir. Akhirnyo balik arah.

Lewat jalan lain ...

"Ha ha ha ha ...
Malemni memang nikmat
Apo bae kito embat
Sampe-sampe dak ngeliyat
Perut kenyang badan kuat

Ha ha ha ha ..."


Gedebug ...

Buuuugh ...

Namonyo teler. Mang Salim nyampak. Palaknyo keno tanah. Idung samo mulutnyo bengor dikit.

Hua ha ha ha ...

Abdul samo Roni ketawo libar.


11

BANGUN la agak siang. Kapan tebangun, uwong tigoni, Mang Salim, Roni samo Abdul tekejut. Bukan lagi di rumah, tapi la di jeru sel.

"Apo salah aku, apo salah aku?" Pekik Mang Salim, duwo-duwonyo nangis cak budak kecik.

"Ngapo aku disini," uji Roni, duduk di semen sambil enggoyang-goyangke sikilnyo.

"Keluarke kami," kato Abdul. Nyantukke kepalaknyo ke dinding. Bebunyi nyaring.

Datangla penunggu sel.

Kesiyan, tapi makmano.

"Metuke kamek oi  Te .." Roni ngerengek. Mak itula sifat dio kalu mintak tulung samo cewek.

Kebetulan yang jago selni betino. Masih gadis pulo. Cak betino ke banya'anla. Ramah, cantik.

Kurang apolagi.

"Tolongla Te. Aku lum tebiaso tiduk di sini. Aku biaso tiduk di rumah," kato Abdul. Sempet bemain mato pulo samo cewekni.

Untung bae ketemu cewek yang idak pemarah. Walau dak boleh, dio senyum-senyum bae.

"Jangan nemen igo Dek main matotu," uji si cewek sambil embukak gembok.

Dio ngongkon Abdul, Roni samo Mang Salim duduk.bebener. Jangan pecak ayam tecuguk mangkuk.

"Ngapo Te, dak boleh apo?"

"Bukan dak boleh. Gek sakit mato."

He he he he ...

Priiit ...

Penjago sel lanang ngenjuk tando sel mesti dikunci. Enjingok sel Mang Salim samo duwo konconyoni lum tetutup, si petugas endeket.

"Sudah galo Dek?"

"Sudah. Tinggal bantalnyo.bae," kato si betino. Metu, yang ngunci sel petugas lanang.

"Dadaah Dek!" Mang Salim endadahke tangannyo. Abdul samo Roni mak itu jugo.

"Hei ... Dak boleh," tegur petugas lanang. Nyerem-nyeremke rainyo. Dak biaso serem. Mesti biso supayo yang di jeru sel idak besak kepalak.

Treeeeng ...

Di rumah Mang Ridwan ...

"Jadi cakmano Jul, Kur, Du?"

"Beres Mang. Kito tunggu bae hasilnyo, uji Jakir. Ngirup banyu kopi idak begulo.

Sedep jugo ruponyo. Karno mungkin makanannyo cempedak samo nangko.

Apo dak raso nak terbang ...

Hi hi hi hi ...

" Konco-konconyo makmanola?"

"Makmano aponyo Mang?"

"Maksud mamang Jul, gektu enggari mamang budak-budaktu. Balas dendem, cakmano?"

"Tenang bae Mang," kato Jakir. "Karno ado kami betigo. Kami betigo siap nulung mamang kalu ado apo-apo."

"Kalu dak katik?"

"Ngincit bae Mang Ridwan."

Ha ha ha ha ...

"Itula ujiku samo mamangmuni," nyimbat Bik Ridwan. "Amun uji bibikni, beberapo arini dak usah duken bejualan."

"Kalu dak bejualan, apo yang nak dimakan kito seberanak."

He he he he ..

"Idak pulo Mang. Pasti ado tula yang dimakan. Bener dak Bik?"

Jul nyaranke bejualan bae di rumah. Enjuk tau erte soal keamanannyo. Pasti maklum dio.

"Kiro2 la sebulan apo lebih, baru bejualan di tempat yang lamo."

"Makmano Kak? Awaktula yang mutuske. Kau kan lanang. Aku melok kakak bae," uji Bik Ridwan.

"Aku?"

"Yo mamang melok jualan jugola. Beduwo jualan. Tarokke barang di garang. Ado meja samo kursi. Jadi latu. Pasti banyak uwong yang datang.

" Maksudnyo jualan sayur cak itu?"

"Sementaroni dak usah duken Mang. La aman gek baru duwa'an ke pasar pagi.

Eeeem ...

Lum ado jawaban. Cuman bagus jugola. Namonyo jugo cari makan. Kalu kito galak, ado-ado tula jalannyo ...

Bener dak Lur?



TAMAT