Cerita untuk Anak
Soleh (10)
Oleh Wak Amin
SEMINGGU kemudian ...
Bu Guru Elisa membaca sepucuk 'surat cinta' di depan siswanya. Dia tahu tak mungkin surat itu ditulis Nawas buat Latifah.
"Baca saja Bu, biar kita tahu semua," kata Kadir dan Lukman bersemangat.
"Baiklah. Ibu akan membacanya. Tapi, sebelum ibu baca, ibu akan tanya dulu sama Latifah dan Nawas ya ..."
Siswa diam.
"Latifah ..."
"Saya Bu Guru."
"Boleh ibu baca ya isi suratnya?"
"Boleh Bu."
"Nawas?"
"Boleh Bu."
"Baiklah. Terima kasih."
Bu Elisa membaca 'surat sakti' itu.
"Buat temanku Latifah ...
Latifah ...
Aku menyayangimu selalu."
Wala walaa ...
Waaaau
Duileeee ...
"Ibu lanjutkan bacanya ..."
"Latifah ...
Aku, Nawas mengasihimu
Aku cinta kamu ... "
Wuuuu ...
Gombaaaal ...
"Ibu lanjutkan bacanya .."
"Latifah ...
Nanti sore aku ingin ke
rumahmu
Kita belajar bersama ...
Boleh kan Latifah?"
"Boleh ..." kata Pardi.
Hik .. Hik ... Hik ...
"Ibu lanjutkan bacanya ya ..."
"Ya Bu Guruuu ..."
"Latifah ...
Jangan bilang-bilang ya
Aku ke rumahmu ...
Cukuplah kau dan aku
saja yang tahu ..."
"Iya deh ..."
Ha ha ha ha ...
"Ibu lanjutkan bacanya ..."
"Lanjut Bu Guru."
"Itu dulu dari aku Latifah
Tunggu ya ...
Sore nanti aku akan datang
ke rumahmu ...
Salam dari aku.
Nawas .."
Plak ... pak ... plak .. pak ...
Wuuuu ...
Eheeem ...
"Sekarang ibu lipat kembali suratnya. Dan sekarang ibu minta Lukman sama Kadir ke depan."
Haaaa ...?
Huuuu ...?
"Untuk apa Bu?" Tanya Kadir seolah tak bersalah. Begitu juga dengan Lukman.
Siswa lain pada heran. Bengong.
Ada apa?
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Tiba-tiba Bu Elisa memanggil Lukman dan Kadir, termasuk beberapa teman dekat keduanya, seperti Pardi dan Yunus.
Jumat, 30 Maret 2018
Rabu, 28 Maret 2018
Soleh (9)
Cerita untuk Anak
Soleh (9)
Oleh Wak Amin
PRAAAK ...
Ha ha ha ha ...
Nawas terjatuh saat hendak duduk. Pasalnya, kursi yang ia duduki tiba-tiba bergeser.
Untung cuma pantatnya saja yang kena, menyentuh lantai. Bukan kepala misalnya.
Jadi Nawas masih bisa bangun. Tak sampai pingsan, apalagi mengalami koma.
Dan untungnya lagi, belum banyak siswa yang masuk kelas, meski lonceng tanda masuk dari keluar main pertama baru saja dibunyikan.
"Enggak apa-apa kamu kan Was?" Tanya Latifah, bermaksud hendak menolong tadinya.
"Biar Fah. Saya enggak apa-apa."
Setelah berdiri, lalu membetulkan letak kursi, yang entah kenapa tadinya bergeser agak ke belakang.
"Mukamu merah, Was. Pasti kamu kaget dan malu."
"Ya, tapi enggak apa-apalah Fah."
"Pasti ada yang jahil, Was. Tapi siapa ya orangnya?"
"Sudahlah. Yuk kita sama-sama duduk," ajak Nawas.
Setelah masuk kelas, tepatnya mendekati jam keluar main yang kedua, Lukman dan Kadir berbisik ...
"Enggak apa-apa dia Man?"
"Kamu sih kurang kuat."
"Kurang kuat apanya?"
"Coba pasang paku juga."
"Huuusy ... Bahaya tau."
Bu Elisa menoleh. Menghentikan sejenak menulis di papan tulis.
"Lukman, Kadir."
Keduanya diam, dan duduk dengan sopan.
Bu Elisa melanjutkan menulis di papan tulis.
Tak lama kemudian ...
Teng ...
Teng ...
Teng ...
Keluar main kedua ...
Ketika keluar dari ruangan kelas, tidak melihat ada kulit pisang 'terkapar' di lantai, kaki Nawas menginjaknya dan terdengarlah suara .....
Gedebug ..
Duuup ...
Jatuh terduduk.
Ha ha ha ha ...
Kadir dan Lukman, keduanya paling duluan yang ketawa, tentunya sambil mengejek ...
"Buta lu."
"Bukan buta Dir," kata Lukman," Tapi tak melihat ..."
He he he he ...
"Habis kepikiran terus sama Lati fah," sahut Pardi.
"Latifah? Memangnya ada apa dengan Latifah?" Tanya Kadir penasaran.
"Belum tahu kan? Makanya kamu itu harus gaul. Latifah itu pacarnya Nawas tau."
Haaa?
Ha ha ha ha ...
Soleh (8)
Cerita untuk Anak
Soleh (8)
Oleh Wak Amin
SORE harinya, Nawas didatangi Lukman dan Kadir. Keduanya mendatangi kediaman Nawas mengguna kan sepeda motor.
Untunglah, Nawas sempat melihat Lukman dan Kadir turun dari sepeda motor. Diparkirkan di parit luar pintu pagar kayu.
"Bu ..Bu .. sini!" Nawas menarik tangan ibunya. Dia membisikkan sesuatu di telinga perempuan paruh baya itu.
Kaget sebentar, lepas itu senyum.
"Ya sudah ... Biar ibu yang ngomong," kata si ibu. Membuka pintu, menengok jejeran pot bunga yang sudah harus disirami agar tetap mekar dan menghijau.
Lukman bergegas ...
"Bu .. Bu. Ada Nawas?" Tanyanya dengan napas sedikit tersengal.
"Enggak ada Nak," jawab si ibu dengan tenang.
"Kemana ya Bu?"
"Tadi ikut bapaknya bersepeda. Ibu kurang tahu kemana mereka. Ada pesan untuk Nawas? Nanti ibu sam paikan pesannya kalau ada."
Lukman dan Kadir saling menoleh.
"Enggak ada Bu. Mari Bu, kami pulang," ucap Lukman sambil membungkukkan badan.
Setelah motor melaju, tak lama kemudian datanglah Soleh. Nawas tak menduga teman karibnya itu datang ke rumah.
Ada apa?
"Mengembalikan buku kamu yang aku pinjam. Kamu pasti sudah lupa kan? Aku saja sudah lupa. Sudah lama sekali."
"Buku apa Leh?"
"Matematika."
"Matematika?"
"Coba lihat dululah. Benar punya kamu. Soalnya disitu tertulis jelas nama kamu ..."
"Sebentar ... Sebentar."
Nawas akhirnya mengiyakan. Benar, katanya pada Soleh.
"Terima kasih ya Leh."
"Akulah yang berterima kasih padamu Nawas," jawab Soleh. Membelokkan sepeda mini bututnya, hendak pulang ke rumah karena sebentar magrib tiba.
"Leh .. Leh. Tunggu Leh!"
Setengah berlari. Nawas membisikkan sesuatu di telinga kanan Soleh.
"Ah, yang benar?"
"Tak percaya, tanya saja sama ibuku Leh."
Ibundanya Nawas tengah memotong bunga. Dirapikan agar indah dipandang mata.
"Tak usah. Aku percaya kamu."
Soleh turun dari sepeda.
"Kamu temui?"
Nawas menggelengkan kepalanya.
"Pasti mau membalas sakit hati mereka berdua sama kamu. Betul kan Was?"
Soleh (8)
Oleh Wak Amin
SORE harinya, Nawas didatangi Lukman dan Kadir. Keduanya mendatangi kediaman Nawas mengguna kan sepeda motor.
Untunglah, Nawas sempat melihat Lukman dan Kadir turun dari sepeda motor. Diparkirkan di parit luar pintu pagar kayu.
"Bu ..Bu .. sini!" Nawas menarik tangan ibunya. Dia membisikkan sesuatu di telinga perempuan paruh baya itu.
Kaget sebentar, lepas itu senyum.
"Ya sudah ... Biar ibu yang ngomong," kata si ibu. Membuka pintu, menengok jejeran pot bunga yang sudah harus disirami agar tetap mekar dan menghijau.
Lukman bergegas ...
"Bu .. Bu. Ada Nawas?" Tanyanya dengan napas sedikit tersengal.
"Enggak ada Nak," jawab si ibu dengan tenang.
"Kemana ya Bu?"
"Tadi ikut bapaknya bersepeda. Ibu kurang tahu kemana mereka. Ada pesan untuk Nawas? Nanti ibu sam paikan pesannya kalau ada."
Lukman dan Kadir saling menoleh.
"Enggak ada Bu. Mari Bu, kami pulang," ucap Lukman sambil membungkukkan badan.
Setelah motor melaju, tak lama kemudian datanglah Soleh. Nawas tak menduga teman karibnya itu datang ke rumah.
Ada apa?
"Mengembalikan buku kamu yang aku pinjam. Kamu pasti sudah lupa kan? Aku saja sudah lupa. Sudah lama sekali."
"Buku apa Leh?"
"Matematika."
"Matematika?"
"Coba lihat dululah. Benar punya kamu. Soalnya disitu tertulis jelas nama kamu ..."
"Sebentar ... Sebentar."
Nawas akhirnya mengiyakan. Benar, katanya pada Soleh.
"Terima kasih ya Leh."
"Akulah yang berterima kasih padamu Nawas," jawab Soleh. Membelokkan sepeda mini bututnya, hendak pulang ke rumah karena sebentar magrib tiba.
"Leh .. Leh. Tunggu Leh!"
Setengah berlari. Nawas membisikkan sesuatu di telinga kanan Soleh.
"Ah, yang benar?"
"Tak percaya, tanya saja sama ibuku Leh."
Ibundanya Nawas tengah memotong bunga. Dirapikan agar indah dipandang mata.
"Tak usah. Aku percaya kamu."
Soleh turun dari sepeda.
"Kamu temui?"
Nawas menggelengkan kepalanya.
"Pasti mau membalas sakit hati mereka berdua sama kamu. Betul kan Was?"
Senin, 26 Maret 2018
Soleh (7)
Cerita untuk Anak
Soleh (7)
Oleh Wak Amin
"MAAFKAN kami. Kami salah."
Hik ... hik .. Hik ...
"Lukman. Ulangi lagi!"
"Baik Bu," jawab Lukman menyesali diri.
Kali ini berdua Kadir berkata ...
"Maafkan kami. Kami memang salah. Kami janji tidak akan lagi mengulanginya ..."
Lepas itu ...
"Suruh ngaji Bu Guru," kata Marfuah sambil berdiri.
"Iya Bu," sahut Marwiyah.
"Iya Bu." Anisah ikut-ikutan angkat jari telunjuk sambil berdiri.
Ternyata, Bu Guru Elisa mengapresiasi permintaan siswanya.
"Kalian berdua siap?" Tanya Bu Guru Elisa.
"Siap Bu," jawab keduanya serempak.
Ditunggu satu menit belum ada reaksi. Dua puluh detik setelahnya, sama juga. Kadir dan Lukman masih belum mau bernyanyi.
Siswa mulai kesal ...
"Keliling lapangan saja Bu," usul Nawas.
"Iya Bu, kalau mereka tak mau nyanyi," kata siswa lain. Susul menyusul bicara. Angkat jari telunjuk.
Bu Guru Elisa berdiri. Dia mendekati Kadir dan Lukman yang 'berlagak' bengong.
"Kalian pilihlah. Mau keliling lapangan atau bernyanyi saja."
Belum ada jawaban.
"Bagaimana? Pilih yang mana?"
Eeeeem ...
"Nyanyi saja Bu Guru Elisa."
Plak ... pak .. plak .. pak ..
Siswa bertepuk tangan.
Lukman dan Kadir bersiap duet. Lima detik kemudian terdengarlah suara emas keduanya ...
"Ampar-ampar pisang
Pisangku belum masak
Masak bigi
Dihurung bari-bari
Masak bigi
Dihurung bari-bari ...
Mangga lepok
Mangga lepok
Patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api
Apinya elang curupan ...
Bengkok dimakan api
Apinya elang curupan ...
Nang mana batis kutung
Dikiti pi mawang
Nang mana batis kutung
Dikiti pi mawang ...."
Soleh (7)
Oleh Wak Amin
"MAAFKAN kami. Kami salah."
Hik ... hik .. Hik ...
"Lukman. Ulangi lagi!"
"Baik Bu," jawab Lukman menyesali diri.
Kali ini berdua Kadir berkata ...
"Maafkan kami. Kami memang salah. Kami janji tidak akan lagi mengulanginya ..."
Lepas itu ...
"Suruh ngaji Bu Guru," kata Marfuah sambil berdiri.
"Iya Bu," sahut Marwiyah.
"Iya Bu." Anisah ikut-ikutan angkat jari telunjuk sambil berdiri.
Ternyata, Bu Guru Elisa mengapresiasi permintaan siswanya.
"Kalian berdua siap?" Tanya Bu Guru Elisa.
"Siap Bu," jawab keduanya serempak.
Ditunggu satu menit belum ada reaksi. Dua puluh detik setelahnya, sama juga. Kadir dan Lukman masih belum mau bernyanyi.
Siswa mulai kesal ...
"Keliling lapangan saja Bu," usul Nawas.
"Iya Bu, kalau mereka tak mau nyanyi," kata siswa lain. Susul menyusul bicara. Angkat jari telunjuk.
Bu Guru Elisa berdiri. Dia mendekati Kadir dan Lukman yang 'berlagak' bengong.
"Kalian pilihlah. Mau keliling lapangan atau bernyanyi saja."
Belum ada jawaban.
"Bagaimana? Pilih yang mana?"
Eeeeem ...
"Nyanyi saja Bu Guru Elisa."
Plak ... pak .. plak .. pak ..
Siswa bertepuk tangan.
Lukman dan Kadir bersiap duet. Lima detik kemudian terdengarlah suara emas keduanya ...
"Ampar-ampar pisang
Pisangku belum masak
Masak bigi
Dihurung bari-bari
Masak bigi
Dihurung bari-bari ...
Mangga lepok
Mangga lepok
Patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api
Apinya elang curupan ...
Bengkok dimakan api
Apinya elang curupan ...
Nang mana batis kutung
Dikiti pi mawang
Nang mana batis kutung
Dikiti pi mawang ...."
Soleh (6)
Cerita untuk Anak
Soleh (6)
Oleh : Wak Amin
"INI kan Bu?" Nawas berdiri, lalu mendekati Bu Guru Elisa yang hendak kembali ke depan papan tulis.
"Ada namanya ...?"
"Sebentar Bu. Yang ini ... Latifah. Satunya lagi Jamilah. Betul Bu," jawab Nawas. Memberikan dua buku tulis itu kepada Bu Guru Elisa.
Bu Guru Elisa membuka lembar per lembar buku tulis itu. Dia panggil Jamilah dan Latifah. Maju, mendekati meja mengajarnya.
Dia hanya ingin memastikan buku tulis berbungkus kertas kado motif bunga dan berplastik putih itu memang benar milik Latifah dan Jamilah.
"Sekarang duduklah kembali," pinta Bu Guru Elisa. Dia belum memulai pelajaran. Masih penasaran. Dia ingin siswanya jujur dan berterus terang.
Karena jika tidak ada yang mengaku, lalu nanti ketahuan siapa pelakunya, yang bersangkutan akan di kenai hukuman yang setimpal.
"Ayolah ... Mengaku saja. Ibu hitung sampai sepuluh mulai dari sekarang .."
"Satu ... Dua. Tiga ... Empat .."
Nawas angkat jari telunjuk. Dia tak tega. Daripada nanti Bu Guru Elisa marah, dan seluruh siswa disuruh berdiri di depan kelas, lebih baik beri tahu saja siswa yang mengambil buku tulis tipis itu.
"Saya tahu siapa yang mengambilnya Bu. Tapi ..." Nawas mulai gugup setelah Kadir dan Lukman meman dang dengan sorot mata tajam kepadanya.
"Tak usah takut. Katakan saja Was," kata Bu Guru Elisa.
"Yang mengambilnya .."
"Yang mengambilnya ..."
"Yang mengambilnya Kadir dan Lukman Bu Guru."
Haaaa?
Seluruh siswa terperanjat. Mereka serempak melihat ke arah Kadir dan Lukman.
"Betul kalian berdua yang mengambilnya?"
Belum ada jawaban.
"Kadir, Lukman. Ibu ulangi lagi ya. Kalian kan yang mengambil dan menyembunyikannya?"
"Sudah. Ngaku sajalah," sahut Marwiyah.
"Sudah Bu. Hukum sajalah. Maling mana ada yang ngaku," kata Anisah.
"Pukul saja Bu biar ngaku," timpal Marfuah sambil ketawa melihat Kadir dan Lukman cuma menunduk dengan muka berkeringat.
"Ibu hitung ya sampai lima. Satu ... Duua .."
Lukman melirik Kadir. Memberi isyarat lebih baik mengaku saja.
"Tiii ga .."
Kadir mulai cemas. Dengan menggerakkan kaki kirinya, dia meminta Lukman saja yang bicara.
"Empat ..."
"Betul Bu," jawab Lukman.
Ha ha ha ha ...
"Betul apa?"
"Kami berdua yang mengambil dan menyembunyikan buku PR Jamilah dan Latifah," aku Lukman, diiyakan Kadir.
Soleh (6)
Oleh : Wak Amin
"INI kan Bu?" Nawas berdiri, lalu mendekati Bu Guru Elisa yang hendak kembali ke depan papan tulis.
"Ada namanya ...?"
"Sebentar Bu. Yang ini ... Latifah. Satunya lagi Jamilah. Betul Bu," jawab Nawas. Memberikan dua buku tulis itu kepada Bu Guru Elisa.
Bu Guru Elisa membuka lembar per lembar buku tulis itu. Dia panggil Jamilah dan Latifah. Maju, mendekati meja mengajarnya.
Dia hanya ingin memastikan buku tulis berbungkus kertas kado motif bunga dan berplastik putih itu memang benar milik Latifah dan Jamilah.
"Sekarang duduklah kembali," pinta Bu Guru Elisa. Dia belum memulai pelajaran. Masih penasaran. Dia ingin siswanya jujur dan berterus terang.
Karena jika tidak ada yang mengaku, lalu nanti ketahuan siapa pelakunya, yang bersangkutan akan di kenai hukuman yang setimpal.
"Ayolah ... Mengaku saja. Ibu hitung sampai sepuluh mulai dari sekarang .."
"Satu ... Dua. Tiga ... Empat .."
Nawas angkat jari telunjuk. Dia tak tega. Daripada nanti Bu Guru Elisa marah, dan seluruh siswa disuruh berdiri di depan kelas, lebih baik beri tahu saja siswa yang mengambil buku tulis tipis itu.
"Saya tahu siapa yang mengambilnya Bu. Tapi ..." Nawas mulai gugup setelah Kadir dan Lukman meman dang dengan sorot mata tajam kepadanya.
"Tak usah takut. Katakan saja Was," kata Bu Guru Elisa.
"Yang mengambilnya .."
"Yang mengambilnya ..."
"Yang mengambilnya Kadir dan Lukman Bu Guru."
Haaaa?
Seluruh siswa terperanjat. Mereka serempak melihat ke arah Kadir dan Lukman.
"Betul kalian berdua yang mengambilnya?"
Belum ada jawaban.
"Kadir, Lukman. Ibu ulangi lagi ya. Kalian kan yang mengambil dan menyembunyikannya?"
"Sudah. Ngaku sajalah," sahut Marwiyah.
"Sudah Bu. Hukum sajalah. Maling mana ada yang ngaku," kata Anisah.
"Pukul saja Bu biar ngaku," timpal Marfuah sambil ketawa melihat Kadir dan Lukman cuma menunduk dengan muka berkeringat.
"Ibu hitung ya sampai lima. Satu ... Duua .."
Lukman melirik Kadir. Memberi isyarat lebih baik mengaku saja.
"Tiii ga .."
Kadir mulai cemas. Dengan menggerakkan kaki kirinya, dia meminta Lukman saja yang bicara.
"Empat ..."
"Betul Bu," jawab Lukman.
Ha ha ha ha ...
"Betul apa?"
"Kami berdua yang mengambil dan menyembunyikan buku PR Jamilah dan Latifah," aku Lukman, diiyakan Kadir.
Kamis, 22 Maret 2018
Soleh (5)
Cerita untuk Anak
Soleh (5)
Oleh Wak Amin
RUPANYA, gara-gara kesaksian Jamilah dan Latifah, Kadir sakit hati. Demikian pula halnya Lukman. Me reka sepakat akan memberikan pelajaran berharga buat kedua teman siswi satu kelasnya itu.
Pelajaran apa?
Ketika jam keluar main pertama, siswa kelas lima pada keluar ruangan. Saat itulah, Lukman dan Kadir menyelinap masuk. Mereka membuka tas Latifah dan Jamilah.
Di dalam tas itu ada buku tulis. Ter tulis 'PR Matematika'. Nah, buku tulis ini harus dikumpul hari ini. Akan diperiksa Bu Guru Elisa.
Sudah menjadi kelaziman, siswa yang tidak membuat PR akan di setrap. Berdiri di depan kelas.
"Siiiip ..." Kata Kadir. Dia puas dan sakit hatinya bakal terbalas siang hari ini.
Teeeng ...
Teeeng ...
Teeeng ..
Lonceng berbunyi tiga kali. Siswa masuk dengan tertib ke ruangan kelas.
Tak lama kemudian, Bu Guru Elisa masuk dan mempersilakan siswanya mengumpulkan buku PR Mate matika untuk diperiksa dan diberi nilai.
Giliran Latifah dan Jamilah. Siswa pada bingung, terutama teman siswinya, seperti Marwiyah dan Anisah.
"Kenapa Jamilah?" Tanya Marwiyah. Mengikuti gerak-gerik Jamilah yang sibuk mencari buku tulisnya di dalam tas dan di sekitar meja belajarnya.
Demikian pula halnya dengan Latifah. Bedanya, Latifah pasrah saja buku tulisnya hilang, sedangkan Jamilah melaporkan kejadian yang menimpanya dan Latifah kepada Bu Guru Elisa.
"Benar hilang?"
"Benar Bu."
"Sudah. Kalau begitu kembalilah ke tempat dudukmu .."
Sempat riuh, akhirnya tenang. Setelah Bu Guru Elisa meminta para siswanya menghadap ke papan tulis.
"Perhatikan ya ...!"
"Ya Bu Guru ..."
"Teman kalian Jamilah dan Latifah baru saja kehilangan buku tulis PR Matematika. Hilangnya di dalam tas. Sekarang ibu mau tanya sama kalian. Apakah ada salah satu dari kalian yang mengambil atau menyembunyikannya?"
"Saya tidak Bu." Kata Marwiyah dengan tenang dan suara lantang.
"Saya juga tidak Bu," sahut Anisah.
"Alesan saja Bu," timpal Lukman.
"Pokoknya Bu. Siapa yang tak kumpul PR dihukum Bu. Disetrap Bu." Usul Kadir.
"Iya Bu," sahut Lukman.
"Saya setuju Bu," kata Pardi, temannya Kadir.
"Diam semuanya!"
Bu Guru Elisa mulai naik darah. Untungnya, dia masih bisa kontrol diri.
"Ibu hanya tanya sama kalian. Siapa dari kalian yang mengambil dan menyembunyikan buku tulis Latifah dan Jamilah?"
Kali ini tak seorang siswa pun memberi komentar.
Serempak diam.
Bu Guru Elisa mendekati Soleh. Siswa lain mulai gugup dan gemeteran.
"Kamu tahu Leh?"
Soleh (5)
Oleh Wak Amin
RUPANYA, gara-gara kesaksian Jamilah dan Latifah, Kadir sakit hati. Demikian pula halnya Lukman. Me reka sepakat akan memberikan pelajaran berharga buat kedua teman siswi satu kelasnya itu.
Pelajaran apa?
Ketika jam keluar main pertama, siswa kelas lima pada keluar ruangan. Saat itulah, Lukman dan Kadir menyelinap masuk. Mereka membuka tas Latifah dan Jamilah.
Di dalam tas itu ada buku tulis. Ter tulis 'PR Matematika'. Nah, buku tulis ini harus dikumpul hari ini. Akan diperiksa Bu Guru Elisa.
Sudah menjadi kelaziman, siswa yang tidak membuat PR akan di setrap. Berdiri di depan kelas.
"Siiiip ..." Kata Kadir. Dia puas dan sakit hatinya bakal terbalas siang hari ini.
Teeeng ...
Teeeng ...
Teeeng ..
Lonceng berbunyi tiga kali. Siswa masuk dengan tertib ke ruangan kelas.
Tak lama kemudian, Bu Guru Elisa masuk dan mempersilakan siswanya mengumpulkan buku PR Mate matika untuk diperiksa dan diberi nilai.
Giliran Latifah dan Jamilah. Siswa pada bingung, terutama teman siswinya, seperti Marwiyah dan Anisah.
"Kenapa Jamilah?" Tanya Marwiyah. Mengikuti gerak-gerik Jamilah yang sibuk mencari buku tulisnya di dalam tas dan di sekitar meja belajarnya.
Demikian pula halnya dengan Latifah. Bedanya, Latifah pasrah saja buku tulisnya hilang, sedangkan Jamilah melaporkan kejadian yang menimpanya dan Latifah kepada Bu Guru Elisa.
"Benar hilang?"
"Benar Bu."
"Sudah. Kalau begitu kembalilah ke tempat dudukmu .."
Sempat riuh, akhirnya tenang. Setelah Bu Guru Elisa meminta para siswanya menghadap ke papan tulis.
"Perhatikan ya ...!"
"Ya Bu Guru ..."
"Teman kalian Jamilah dan Latifah baru saja kehilangan buku tulis PR Matematika. Hilangnya di dalam tas. Sekarang ibu mau tanya sama kalian. Apakah ada salah satu dari kalian yang mengambil atau menyembunyikannya?"
"Saya tidak Bu." Kata Marwiyah dengan tenang dan suara lantang.
"Saya juga tidak Bu," sahut Anisah.
"Alesan saja Bu," timpal Lukman.
"Pokoknya Bu. Siapa yang tak kumpul PR dihukum Bu. Disetrap Bu." Usul Kadir.
"Iya Bu," sahut Lukman.
"Saya setuju Bu," kata Pardi, temannya Kadir.
"Diam semuanya!"
Bu Guru Elisa mulai naik darah. Untungnya, dia masih bisa kontrol diri.
"Ibu hanya tanya sama kalian. Siapa dari kalian yang mengambil dan menyembunyikan buku tulis Latifah dan Jamilah?"
Kali ini tak seorang siswa pun memberi komentar.
Serempak diam.
Bu Guru Elisa mendekati Soleh. Siswa lain mulai gugup dan gemeteran.
"Kamu tahu Leh?"
Soleh (4)
Cerita untuk Anak
Soleh (4)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN harinya ...
Sepulang sekolah ...
Jamilah dan Latifah kaget bukan kepalang melihat ban sepedanya kempes.
"Gimana ini Latifah?" Tanya Jamilah, seolah hendak menangis.
"Tenang sajalah. Yuk aku antar kamu pulang," kata Latifah.
"Bagaimana dengan sepedanya?"
"Sudah. Enggak apa-apa. Biar aku yang bawa," kata Latifah. Dia buka kunci setang sepeda, lalu membawa itu sepeda dari belakang sekolah.
"Aku ikut ya!"
"Boleh."
Sampai di depan pintu gerbang sekolah, Kadir yang sudah tiba lebih dulu di rumah, lalu kembali lagi ke sekolah, menghentikan sepeda motornya.
Ditemani Lukman, Kadir bermaksud ikut mendorong itu sepeda mini.
"Tidak usah Dir. Biar kami berdua saja," jawab Latifah.
"Nanti capek. Kalian berdua kan perempuan. Kami laki-laki. Tau sendirilah. Ya enggak Lukman?"
"Betul sekali. Betul apa yang barusan dikatakan Kadir itu Latifah, Jamilah .."
"Atau begini saja. Jamilah ikut saya, Latifah sama Lukman berdua mendorong sepeda," usul Kadir.
"Enggak mau ah. Itu namanya enak di kamu Dir. Enggak enak di aku. Tul kan Jamilah?"
"Iya Dir. Lagian ini kan sepeda aku. Walau bagaimana pun aku harus bertanggung jawab karena ini sepeda aku," jelas Jamilah.
Jamilah tampak gugup melihat Kadir nekat ingin mengajaknya pulang pakai sepeda motor. Dia menolak karena tak ingin dipisahkan dari Latifah.
Ketika Lukman dan Kadir tengah berbisik, datanglah Soleh dan Nawas. Teman satu kelas tapi jarang masuk sekolah karena seringkali sakit.
Betapa gembiranya Jamilah melihat kedatangan Soleh yang secara kebetulan itu. Begitu juga dengan Latifah. Dia tak henti-hentinya tertawa geli melihat Nawas berjoget dengan kaki sebelah.
Lukman dan Kadir, keduanya merasa tidak senang dengan kehadiran Nawas dan Soleh.
Emosi mereka terbakar ...
"Kenapa kamu joget-joget? Menyindir aku ya?"
Kadir tersinggung berat. Hampir saja dia 'menggocoh' Nawas yang sudah siap menangkis sekiranya pukulan tangan kanan itu jadi dilakukan.
Jeritan minta tolong Jamilah dan Latifah didengar beberapa pemuda yang baru saja pulang dari mengontrol tanaman padi mereka yang sebentar lagi akan dipanen.
"Kak, tolong Kak!" Rengek Latifah.
"Iya Kak. Merela hendak berkelahi," sahut Jamilah.
Empat pemuda tadi mendekati Lukman dan Kadir. Ketika ditanya kenapa mau berkelahi, keduanya balik menyalahkan Soleh dan Nawas.
Untung saja, pemuda yang rata-rata masih berkepala dua ini tak mudah terprovokasi. Sebelum memutuskan siapa yang salah, mendengar terlebih dulu keterangan Soleh dan Nawas, serta kesaksian Jamilah dan Latifah.
Soleh (4)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN harinya ...
Sepulang sekolah ...
Jamilah dan Latifah kaget bukan kepalang melihat ban sepedanya kempes.
"Gimana ini Latifah?" Tanya Jamilah, seolah hendak menangis.
"Tenang sajalah. Yuk aku antar kamu pulang," kata Latifah.
"Bagaimana dengan sepedanya?"
"Sudah. Enggak apa-apa. Biar aku yang bawa," kata Latifah. Dia buka kunci setang sepeda, lalu membawa itu sepeda dari belakang sekolah.
"Aku ikut ya!"
"Boleh."
Sampai di depan pintu gerbang sekolah, Kadir yang sudah tiba lebih dulu di rumah, lalu kembali lagi ke sekolah, menghentikan sepeda motornya.
Ditemani Lukman, Kadir bermaksud ikut mendorong itu sepeda mini.
"Tidak usah Dir. Biar kami berdua saja," jawab Latifah.
"Nanti capek. Kalian berdua kan perempuan. Kami laki-laki. Tau sendirilah. Ya enggak Lukman?"
"Betul sekali. Betul apa yang barusan dikatakan Kadir itu Latifah, Jamilah .."
"Atau begini saja. Jamilah ikut saya, Latifah sama Lukman berdua mendorong sepeda," usul Kadir.
"Enggak mau ah. Itu namanya enak di kamu Dir. Enggak enak di aku. Tul kan Jamilah?"
"Iya Dir. Lagian ini kan sepeda aku. Walau bagaimana pun aku harus bertanggung jawab karena ini sepeda aku," jelas Jamilah.
Jamilah tampak gugup melihat Kadir nekat ingin mengajaknya pulang pakai sepeda motor. Dia menolak karena tak ingin dipisahkan dari Latifah.
Ketika Lukman dan Kadir tengah berbisik, datanglah Soleh dan Nawas. Teman satu kelas tapi jarang masuk sekolah karena seringkali sakit.
Betapa gembiranya Jamilah melihat kedatangan Soleh yang secara kebetulan itu. Begitu juga dengan Latifah. Dia tak henti-hentinya tertawa geli melihat Nawas berjoget dengan kaki sebelah.
Lukman dan Kadir, keduanya merasa tidak senang dengan kehadiran Nawas dan Soleh.
Emosi mereka terbakar ...
"Kenapa kamu joget-joget? Menyindir aku ya?"
Kadir tersinggung berat. Hampir saja dia 'menggocoh' Nawas yang sudah siap menangkis sekiranya pukulan tangan kanan itu jadi dilakukan.
Jeritan minta tolong Jamilah dan Latifah didengar beberapa pemuda yang baru saja pulang dari mengontrol tanaman padi mereka yang sebentar lagi akan dipanen.
"Kak, tolong Kak!" Rengek Latifah.
"Iya Kak. Merela hendak berkelahi," sahut Jamilah.
Empat pemuda tadi mendekati Lukman dan Kadir. Ketika ditanya kenapa mau berkelahi, keduanya balik menyalahkan Soleh dan Nawas.
Untung saja, pemuda yang rata-rata masih berkepala dua ini tak mudah terprovokasi. Sebelum memutuskan siapa yang salah, mendengar terlebih dulu keterangan Soleh dan Nawas, serta kesaksian Jamilah dan Latifah.
Selasa, 20 Maret 2018
Soleh (3)
Cerita untuk Anak
Soleh (3)
Oleh Wak Amin
KRIIING ...
Kriiing ...
Kriiing ...
Sreeet ..
Guarrr ...
Jatuh. Terkena kursi teras rumah warga. Salah seorang ibu buru-buru keluar dari dalam rumahnya. Dia se gera menolong setelah tahu yang terjatuh barusan adalah Soleh.
Syukurlah, meski jatuh berdua Jamilah, berikut sepeda mini bututnya, dua siswa kelas lima sekolah dasar ini tidak mengalami lecet sedikitpun.
"Hati-hati ya Nak Soleh," pesan si ibu.
"Ya Bu."
Sepeda mini butut dikayuh lagi. Keduanya tiba di rumah sekolah bertepatan dengan terdengarnya bunyi lonceng tanda masuk kelas.
Keduanya turun dari sepeda.
Dan ...
Horeee ...
"Yeee dua-an
Teman kita gandengan
Senyum-senyum hai kawan
Cocok nian pasangan ..."
Horeee ...
Plak pak plak pak ...
Riuh oleh tepuk tangan teman sekelas, baru reda setelah Bu Guru Elisa masuk kelas dan bersiap memulai pelajaran.
" Bu, saya ..." Kadir tiba-tiba angkat jari telunjuk.
"Ada apa Dir. Belum sarapan pagi ta?"
Ha ha ha ha ...
"Belum Bu. Beras di rumah Kadir habis. Jadi tak bisa sarapan pagi," ledek Lukman.
Bhua ha ha ha ..
"Ini Bu. Mau kasih tahu saja. Eheem ..." Kadir melirik Soleh dan Jamilah.
"Kenapa Dir? Kalian habis berantem apa?" Tanya Bi Guru Elisa.
"Bukan Bu," sahut Latifah. "Tapi sakit hati .."
He he he he ...
"Sakit hati? Sakit hati kenapa?" Semakin penasaran Bu Guru Elisa.
"Sakit hati tengok Jamilah berdua datang ke sekolah," kata Marfuah.
"Ah yang bener? Betul ya Dir?"
"Enggak betul Bu," jawab Kadir. Duduk kembali setelah sempat berdiri tadinya.
"Bohong Bu. Tadi saya lihat Kadirnya merengut saja pas tengok Jamilah dan Soleh berdua masuk kelas ..."
Hu hu hu hu ...
"Ya sudah. Saleh memang ibu yang pinta untuk menemani Jamilah ke sekolah. Karena kedua orang tuanya ada kerjaan yang tak bisa di tinggalkan. Kan kasihan tengok Jamilah ke sekolah sendirian."
"Jamilah kan punya sepeda Bu Elisa," ujar Latifah.
"Gilirkan saja Bu," usul Lukman. "Hari ini Soleh sudah. Nah, besoknya saya ..."
He he he he ...
"Enak saja. Enggak Bu. Besok Kadir saja Bu yang ngantar Jamilah ke sekolah."
"Tidak Bu," sahut Pardi. " Lebih adil kalau kita tanya langsung saja sama Jamilahnya. Maunya dia siapa?"
Jamilah cuma diam.
Begitu juga Soleh.
"Bagaimana Jamilah?"
"Terserah ibu guru sajalah," jawab Jamilah, terasa berat saat berucap kata.
Dipikir-pikir, ditimbang sana-sini, akhirnya diputuskan yang mengantar Jamilah besok adalah Latifah.
Horeeee ...
Heroooo ...
Wuuuuu ...
Soleh (3)
Oleh Wak Amin
KRIIING ...
Kriiing ...
Kriiing ...
Sreeet ..
Guarrr ...
Jatuh. Terkena kursi teras rumah warga. Salah seorang ibu buru-buru keluar dari dalam rumahnya. Dia se gera menolong setelah tahu yang terjatuh barusan adalah Soleh.
Syukurlah, meski jatuh berdua Jamilah, berikut sepeda mini bututnya, dua siswa kelas lima sekolah dasar ini tidak mengalami lecet sedikitpun.
"Hati-hati ya Nak Soleh," pesan si ibu.
"Ya Bu."
Sepeda mini butut dikayuh lagi. Keduanya tiba di rumah sekolah bertepatan dengan terdengarnya bunyi lonceng tanda masuk kelas.
Keduanya turun dari sepeda.
Dan ...
Horeee ...
"Yeee dua-an
Teman kita gandengan
Senyum-senyum hai kawan
Cocok nian pasangan ..."
Horeee ...
Plak pak plak pak ...
Riuh oleh tepuk tangan teman sekelas, baru reda setelah Bu Guru Elisa masuk kelas dan bersiap memulai pelajaran.
" Bu, saya ..." Kadir tiba-tiba angkat jari telunjuk.
"Ada apa Dir. Belum sarapan pagi ta?"
Ha ha ha ha ...
"Belum Bu. Beras di rumah Kadir habis. Jadi tak bisa sarapan pagi," ledek Lukman.
Bhua ha ha ha ..
"Ini Bu. Mau kasih tahu saja. Eheem ..." Kadir melirik Soleh dan Jamilah.
"Kenapa Dir? Kalian habis berantem apa?" Tanya Bi Guru Elisa.
"Bukan Bu," sahut Latifah. "Tapi sakit hati .."
He he he he ...
"Sakit hati? Sakit hati kenapa?" Semakin penasaran Bu Guru Elisa.
"Sakit hati tengok Jamilah berdua datang ke sekolah," kata Marfuah.
"Ah yang bener? Betul ya Dir?"
"Enggak betul Bu," jawab Kadir. Duduk kembali setelah sempat berdiri tadinya.
"Bohong Bu. Tadi saya lihat Kadirnya merengut saja pas tengok Jamilah dan Soleh berdua masuk kelas ..."
Hu hu hu hu ...
"Ya sudah. Saleh memang ibu yang pinta untuk menemani Jamilah ke sekolah. Karena kedua orang tuanya ada kerjaan yang tak bisa di tinggalkan. Kan kasihan tengok Jamilah ke sekolah sendirian."
"Jamilah kan punya sepeda Bu Elisa," ujar Latifah.
"Gilirkan saja Bu," usul Lukman. "Hari ini Soleh sudah. Nah, besoknya saya ..."
He he he he ...
"Enak saja. Enggak Bu. Besok Kadir saja Bu yang ngantar Jamilah ke sekolah."
"Tidak Bu," sahut Pardi. " Lebih adil kalau kita tanya langsung saja sama Jamilahnya. Maunya dia siapa?"
Jamilah cuma diam.
Begitu juga Soleh.
"Bagaimana Jamilah?"
"Terserah ibu guru sajalah," jawab Jamilah, terasa berat saat berucap kata.
Dipikir-pikir, ditimbang sana-sini, akhirnya diputuskan yang mengantar Jamilah besok adalah Latifah.
Horeeee ...
Heroooo ...
Wuuuuu ...
Minggu, 18 Maret 2018
Soleh (2)
Cerita untuk Anak
Soleh (2)
Oleh Wak Amin
"BU Guru Elisa ..."! Sapa Soleh keti ka pulang dari sekolah. Keduanya baru hendak mengayuh sepeda.
Bu Guru Elisa di luar pagar sekolah, sementara Soleh berada di belakangnya. Soleh menyandarkan sepe danya di batang pohon, lalu memberitahu gurunya itu jika tadi ia tidak mengatakan yang sebenarnya.
" Maafkan Soleh Bu Guru," kata Soleh. Dia sangat menyesal telah berbohong pada Bu Elisa.
"Saya serba salah Bu. Saya takut," ujar Soleh berterus terang.
"Ya sudah. Sekarang pulanglah. Nanti sore ibu coba berkunjung ke rumahnya Jamilah."
"Baik Bu."
Sore hari di kediaman Jamilah ...
Tante Hawiyah, ibundanya Jamilah sedang membersihkan pekarangan rumah. Dia memotong bunga, merapikannya sehingga jejeran bunga di pekarangan kelihatan rapi dan enak dipandang.
Dia menyambut ramah kedatangan Bu Guru Elisa.
Keduanya berbincang sejenak tentang Jamilah.
"Maafkan kami Bu Guru Elisa. Maunya tadi saya yang antar. Cuma, entah kenapa saat diantar papanya, Jamilah justru meronta dan menangis," jelas Tante Hawiyah.
"Meronta gimana Bu?"
"Dia tidak mau diantar Papanya. Maunya saya. Sementara sayanya lagi enggak enak badan," terang ibunya Jamilah.
"Sakit barangkali Bu?"
"Enggak. Sehat-sehat saja Bu Elisa. Oh ya, sebentar ya Bu, saya panggilkan dulu Jamilahnya." Tante Hawiyah buru-bu ru masuk ke kamar Jamilah.
Jamilah masih tertidur pulas. Sang Ibu berusaha untuk membangunkannya, tapi si anak tak juga mau bangun.
Si ibu pasrah. Tak mau berbuat nekat. Dia biarkan Jamilah tidur pulas. Dia keluar kamar. Menemui kembali Bu Guru Elisa yang tengah melihat sesuatu di layar hape androidnya.
"Gimana Bu?" Agak ceria raut muka Bu Elisa setelah melihat senyuman mengulas di bibir Tante Hawiyah.
"Tidur Bu."
Sedikit kaget, meski setelah itu senyumnya mengembang.
"Ya sudah. Enggak apa-apa Bu."
"Besok mungkin saya antar dia ke sekolah Bu Guru Elisa."
"Pelan-pelan sajalah Bu. Tak usah terlalu dipaksa," saran Bu Elisa.
"Baik Bu," ucap Tante Hawiyah.
"Aduh ... Sampai kelupaan. Air minumnya Bu, saya lupa."
"Aduh ... Ibu bikin kaget saja. Saya kira apa. Tak usah repot-repotlah Bu. Sudah sore. Sebentar lagi Mag rib. Saya harus pamit Bu."
"Maaf ya Bu ..."
Bu Guru Elisa pulang, Om Salim datang. Tapi tak sempat berpapasan, apalagi ketemuan.
Hanya dapat titipan salam ..
Soleh (2)
Oleh Wak Amin
"BU Guru Elisa ..."! Sapa Soleh keti ka pulang dari sekolah. Keduanya baru hendak mengayuh sepeda.
Bu Guru Elisa di luar pagar sekolah, sementara Soleh berada di belakangnya. Soleh menyandarkan sepe danya di batang pohon, lalu memberitahu gurunya itu jika tadi ia tidak mengatakan yang sebenarnya.
" Maafkan Soleh Bu Guru," kata Soleh. Dia sangat menyesal telah berbohong pada Bu Elisa.
"Saya serba salah Bu. Saya takut," ujar Soleh berterus terang.
"Ya sudah. Sekarang pulanglah. Nanti sore ibu coba berkunjung ke rumahnya Jamilah."
"Baik Bu."
Sore hari di kediaman Jamilah ...
Tante Hawiyah, ibundanya Jamilah sedang membersihkan pekarangan rumah. Dia memotong bunga, merapikannya sehingga jejeran bunga di pekarangan kelihatan rapi dan enak dipandang.
Dia menyambut ramah kedatangan Bu Guru Elisa.
Keduanya berbincang sejenak tentang Jamilah.
"Maafkan kami Bu Guru Elisa. Maunya tadi saya yang antar. Cuma, entah kenapa saat diantar papanya, Jamilah justru meronta dan menangis," jelas Tante Hawiyah.
"Meronta gimana Bu?"
"Dia tidak mau diantar Papanya. Maunya saya. Sementara sayanya lagi enggak enak badan," terang ibunya Jamilah.
"Sakit barangkali Bu?"
"Enggak. Sehat-sehat saja Bu Elisa. Oh ya, sebentar ya Bu, saya panggilkan dulu Jamilahnya." Tante Hawiyah buru-bu ru masuk ke kamar Jamilah.
Jamilah masih tertidur pulas. Sang Ibu berusaha untuk membangunkannya, tapi si anak tak juga mau bangun.
Si ibu pasrah. Tak mau berbuat nekat. Dia biarkan Jamilah tidur pulas. Dia keluar kamar. Menemui kembali Bu Guru Elisa yang tengah melihat sesuatu di layar hape androidnya.
"Gimana Bu?" Agak ceria raut muka Bu Elisa setelah melihat senyuman mengulas di bibir Tante Hawiyah.
"Tidur Bu."
Sedikit kaget, meski setelah itu senyumnya mengembang.
"Ya sudah. Enggak apa-apa Bu."
"Besok mungkin saya antar dia ke sekolah Bu Guru Elisa."
"Pelan-pelan sajalah Bu. Tak usah terlalu dipaksa," saran Bu Elisa.
"Baik Bu," ucap Tante Hawiyah.
"Aduh ... Sampai kelupaan. Air minumnya Bu, saya lupa."
"Aduh ... Ibu bikin kaget saja. Saya kira apa. Tak usah repot-repotlah Bu. Sudah sore. Sebentar lagi Mag rib. Saya harus pamit Bu."
"Maaf ya Bu ..."
Bu Guru Elisa pulang, Om Salim datang. Tapi tak sempat berpapasan, apalagi ketemuan.
Hanya dapat titipan salam ..
Soleh (1)
Cerita untuk Anak
Soleh (1)
Oleh Wak Amin
KRIIIING ...
Kriiiing ...
Kriiiing ...
"Kue .. Peeeek .."
"Kue murah. Banyak macam. Ada pempek ... Peeeek"
"Pek ... peeem .. peeek."
Soleh turun dari sepedanya. Seperti biasa, jika melewati jembatan gantung, dia turun dan lebih senang meng gandeng sepedanya sambil berjalan.
Sepeda mini butut ...
Usai salat Subuh, sebelum berangkat ke sekolah, Soleh menyempat kan diri berjualan kue keliling kam pung.
Bermacam-macam kue dia jual. Mulai dari pempek, kue ketan, donat, bakwan hingga pipis ketan dan pisang.
Soleh sangat senang ...
Buktinya, saat dan setelah berjualan, dia tak pernah mengeluh. Justru senang karena dia dapat uang jajan dari ibunya, hasil keuntungan jualan kue keliling.
Sang ibu sebenarnya kurang suka Soleh berjualan kue. Dia takut, karena terlalu capek, harus berbagi waktu dengan bersekolah, belum lagi tugas yang lain, jatuh sakit.
Namun berulangkali Soleh mengatakan bisa menjaga kebugaran dan kesehatan.
"Ibu tenang saja. Soleh cuma jualan sebentar. Pulang ke rumah, sarapan pagi dan berangkat ke sekolah."
"Tapi kalau kamu ada kerjaan lain, biar ibu saja yang berjualan ya Nak."
"Iya Bu."
Ayahnya Soleh, Pak Roni adalah seorang petani. Dia bercocok tanam padi, sayur mayur bersama rekan-rekannya sesama petani. Berangkat dari rumah lepas Subuh, atau paling lambat pukul 07.00 pagi.
Sementara ibunya membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue keliling. Terkadang pakai sepeda mini, kali lain berjalan kaki. Ia memutuskan berjalan kaki jika jarak tempuh menjajakan kue tidak terlalu jauh dari kediamannya.
Hanya berkeling Desa Harum Wangi ...
"Peeeek .. Tukang pempeeek .. Sini Paaak ..!" panggil dua anak perem puan dari teras rumah.
Soleh mendekat ...
"Lain kali panggil kakak. Kak Soleh. Coba .." Pinta sang ibu sembari memberikan piring seng kepada Soleh.
"Beli kue ya Kak Soleh," ucap dua anak tadi malu-malu.
"Nah, begitu. Enak ibu dengarnya."
"Yang mana Bu?"
"Eeeeem .."
"Yang ini Kak. Tiga. Itu lima dan yang itu dua." Tunjuk si anak ber ambut ikal mayang.
Tiga pipis ketan, lima pempek dan dua bakwan.
"Tambah yang ini ya Nak Soleh. Dua saja," kata Bu Maryam. Dia pilih lemper dan donat.
Lepas dari kediaman Bu Maryam, dan menyinggahi beberapa rumah warga, Soleh bermaksud pulang.
Saat hendak membelokkan sepeda mininya ke sebelah kanan ...
"Enggak mau Papa. Enggak mau," teriak seorang anak perempuan seusia Soleh.
"Itu kan Jamilah .."
"Kenapa ya?"
"Enggak mau Pa. Jamilah enggak mau diantar Papa. Jamilah maunya sama Mama ..."
Jamilah menangis tersedu-sedan.
Soleh (1)
Oleh Wak Amin
KRIIIING ...
Kriiiing ...
Kriiiing ...
"Kue .. Peeeek .."
"Kue murah. Banyak macam. Ada pempek ... Peeeek"
"Pek ... peeem .. peeek."
Soleh turun dari sepedanya. Seperti biasa, jika melewati jembatan gantung, dia turun dan lebih senang meng gandeng sepedanya sambil berjalan.
Sepeda mini butut ...
Usai salat Subuh, sebelum berangkat ke sekolah, Soleh menyempat kan diri berjualan kue keliling kam pung.
Bermacam-macam kue dia jual. Mulai dari pempek, kue ketan, donat, bakwan hingga pipis ketan dan pisang.
Soleh sangat senang ...
Buktinya, saat dan setelah berjualan, dia tak pernah mengeluh. Justru senang karena dia dapat uang jajan dari ibunya, hasil keuntungan jualan kue keliling.
Sang ibu sebenarnya kurang suka Soleh berjualan kue. Dia takut, karena terlalu capek, harus berbagi waktu dengan bersekolah, belum lagi tugas yang lain, jatuh sakit.
Namun berulangkali Soleh mengatakan bisa menjaga kebugaran dan kesehatan.
"Ibu tenang saja. Soleh cuma jualan sebentar. Pulang ke rumah, sarapan pagi dan berangkat ke sekolah."
"Tapi kalau kamu ada kerjaan lain, biar ibu saja yang berjualan ya Nak."
"Iya Bu."
Ayahnya Soleh, Pak Roni adalah seorang petani. Dia bercocok tanam padi, sayur mayur bersama rekan-rekannya sesama petani. Berangkat dari rumah lepas Subuh, atau paling lambat pukul 07.00 pagi.
Sementara ibunya membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue keliling. Terkadang pakai sepeda mini, kali lain berjalan kaki. Ia memutuskan berjalan kaki jika jarak tempuh menjajakan kue tidak terlalu jauh dari kediamannya.
Hanya berkeling Desa Harum Wangi ...
"Peeeek .. Tukang pempeeek .. Sini Paaak ..!" panggil dua anak perem puan dari teras rumah.
Soleh mendekat ...
"Lain kali panggil kakak. Kak Soleh. Coba .." Pinta sang ibu sembari memberikan piring seng kepada Soleh.
"Beli kue ya Kak Soleh," ucap dua anak tadi malu-malu.
"Nah, begitu. Enak ibu dengarnya."
"Yang mana Bu?"
"Eeeeem .."
"Yang ini Kak. Tiga. Itu lima dan yang itu dua." Tunjuk si anak ber ambut ikal mayang.
Tiga pipis ketan, lima pempek dan dua bakwan.
"Tambah yang ini ya Nak Soleh. Dua saja," kata Bu Maryam. Dia pilih lemper dan donat.
Lepas dari kediaman Bu Maryam, dan menyinggahi beberapa rumah warga, Soleh bermaksud pulang.
Saat hendak membelokkan sepeda mininya ke sebelah kanan ...
"Enggak mau Papa. Enggak mau," teriak seorang anak perempuan seusia Soleh.
"Itu kan Jamilah .."
"Kenapa ya?"
"Enggak mau Pa. Jamilah enggak mau diantar Papa. Jamilah maunya sama Mama ..."
Jamilah menangis tersedu-sedan.
Pulau Harimah (20)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (20)
Oleh Wak Amin
"KEKUATAN kita Mister ..." Kata Sersan Daud.
"Untuk menangkap orang sekuat Mayor Nawi, selain fisik juga memperhitungkan kekuatan kita Mister. Nah, saya melihat kita akan dengan mudah dipukul mundur. Kenapa? Karena ini bukan daratan, tapi lautan. Air Mister," terang Sersan Daud.
Mr Lenox menunggu penjelasan Sersan Daud berikutnya ...
"Kalau kita batalkan penyerangan, kita sedikitnya memiliki dua keuntungan. Pertama, kita matangkan penyerangan. Kedua, menghindari banyaknya korban yang berjatuhan," kata Sersan Daud.
"Oke. Bagaimana dengan yang lain?"
Hampir lima belas menit Mr Lennox memberi waktu dan kesempatan pa da anggota pasukan Zero One Ze ro untuk menyampaikan usulan dan saran. Tapi tak satupun yang bersedia angkat bicara.
Dia kemudian mengajak diskusi se jenak Sersan Daud dan Sersan Faisol. Diperoleh kesepakatan serangan ke Pulau Harimau dibatalkan.
Di luar perkiraan, pembatalan ini di sambut dengan sukacita oleh segenap anggota pasukan tanpa terkecuali.
Mereka berharap pembatalan ini membawa berkah dan harapan baru bagi mereka. Setidaknya mereka bisa mempertegas serangan den gan prioritas menangkap Mayor Na wi dan membiarkan pengikutnya kembali ke 'jalan yang benar.'
Sementara itu ...
Pasca berdirinya enam rumah dan beberapa biduk serta alat menang kap ikan, termasuk pelabuhan kecil tempat melabuhkan sampan dan kapal kayu kecil, digelar pesta sederhana di malam harinya.
Pesta itu ditandai dengan tampilan aneka tari-tarian, duel tangan kosong dan menggunakan senjata seperti pedang dan tombak. Juga di meriahkan dengan makan ikan bakar, hasil tangkapan.
Banyak nian ikan yang dibakar malam itu. Jumlahnya mencapai lima puluh ekor. Hasil tangkapan kaum bapak dan ibu-ibu serta anggota keluarga mereka. Disantap bersama sebelum mendengarkan wejangan Mayor Nawi.
"Hidup Mayor ..."
"Hidup raja kita."
"Hidup Asy-Syifa ..."
"Hidup kita semua."
"Hiduuup."
Teriakan ini disambut senyuman Mayor Nawi. Dengan suara lantang dia mengajak pengikutnya untuk sa ma-sama membangun dan memaju kan Pulau Harimau.
"Mari kita singsingkan lengan baju. Kita majukan bersama-sama Pulau Harimau ini," ajak Mayor Nawi ber semangat.
Disambut teriakan ...
"Hidup Mayor Nawi ..."
"Hidup Asy-Syifa ..."
"Terima kasih. Terima kasih. Mari kita teruskan pesta ikan bakarnya."
"Horeeee ..."
"Sikaaaaat ..."
"Embaaaat ..."
"Badoook sampe tuweee ..."
Kemeriahan dan kesukariaan di Pulau Harimau ini sangat berbeda dengan keadaan di Perguruan Al-Kalam pimpinan Ki Ogan. Hening dan sangat sejuk.
Bersama siswa perguruan yang di pimpinnya, Ki Ogan mengajak sha lat Isya berjamaah di kediamannya. Yang tidak kebagian tempat duduk, mengambil tempat di teras dan tanah lapang yang bersih dan disinari cahaya bola lampu berwar na-warni.
Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran berikut maknanya, penyampaian tausiyah dari siswa senior, dan diakhiri doa bersama.
TAMAT ...
Pulau Harimau (20)
Oleh Wak Amin
"KEKUATAN kita Mister ..." Kata Sersan Daud.
"Untuk menangkap orang sekuat Mayor Nawi, selain fisik juga memperhitungkan kekuatan kita Mister. Nah, saya melihat kita akan dengan mudah dipukul mundur. Kenapa? Karena ini bukan daratan, tapi lautan. Air Mister," terang Sersan Daud.
Mr Lenox menunggu penjelasan Sersan Daud berikutnya ...
"Kalau kita batalkan penyerangan, kita sedikitnya memiliki dua keuntungan. Pertama, kita matangkan penyerangan. Kedua, menghindari banyaknya korban yang berjatuhan," kata Sersan Daud.
"Oke. Bagaimana dengan yang lain?"
Hampir lima belas menit Mr Lennox memberi waktu dan kesempatan pa da anggota pasukan Zero One Ze ro untuk menyampaikan usulan dan saran. Tapi tak satupun yang bersedia angkat bicara.
Dia kemudian mengajak diskusi se jenak Sersan Daud dan Sersan Faisol. Diperoleh kesepakatan serangan ke Pulau Harimau dibatalkan.
Di luar perkiraan, pembatalan ini di sambut dengan sukacita oleh segenap anggota pasukan tanpa terkecuali.
Mereka berharap pembatalan ini membawa berkah dan harapan baru bagi mereka. Setidaknya mereka bisa mempertegas serangan den gan prioritas menangkap Mayor Na wi dan membiarkan pengikutnya kembali ke 'jalan yang benar.'
Sementara itu ...
Pasca berdirinya enam rumah dan beberapa biduk serta alat menang kap ikan, termasuk pelabuhan kecil tempat melabuhkan sampan dan kapal kayu kecil, digelar pesta sederhana di malam harinya.
Pesta itu ditandai dengan tampilan aneka tari-tarian, duel tangan kosong dan menggunakan senjata seperti pedang dan tombak. Juga di meriahkan dengan makan ikan bakar, hasil tangkapan.
Banyak nian ikan yang dibakar malam itu. Jumlahnya mencapai lima puluh ekor. Hasil tangkapan kaum bapak dan ibu-ibu serta anggota keluarga mereka. Disantap bersama sebelum mendengarkan wejangan Mayor Nawi.
"Hidup Mayor ..."
"Hidup raja kita."
"Hidup Asy-Syifa ..."
"Hidup kita semua."
"Hiduuup."
Teriakan ini disambut senyuman Mayor Nawi. Dengan suara lantang dia mengajak pengikutnya untuk sa ma-sama membangun dan memaju kan Pulau Harimau.
"Mari kita singsingkan lengan baju. Kita majukan bersama-sama Pulau Harimau ini," ajak Mayor Nawi ber semangat.
Disambut teriakan ...
"Hidup Mayor Nawi ..."
"Hidup Asy-Syifa ..."
"Terima kasih. Terima kasih. Mari kita teruskan pesta ikan bakarnya."
"Horeeee ..."
"Sikaaaaat ..."
"Embaaaat ..."
"Badoook sampe tuweee ..."
Kemeriahan dan kesukariaan di Pulau Harimau ini sangat berbeda dengan keadaan di Perguruan Al-Kalam pimpinan Ki Ogan. Hening dan sangat sejuk.
Bersama siswa perguruan yang di pimpinnya, Ki Ogan mengajak sha lat Isya berjamaah di kediamannya. Yang tidak kebagian tempat duduk, mengambil tempat di teras dan tanah lapang yang bersih dan disinari cahaya bola lampu berwar na-warni.
Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran berikut maknanya, penyampaian tausiyah dari siswa senior, dan diakhiri doa bersama.
TAMAT ...
Pulau Harimau (19)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (19)
Oleh Wak Amin
"OKE. Cepat susuri. Sebelum kita kehilangan jejak," perintah Letnan Daus.
Agak sulit memang menemukan secara jelas dan pasti jejak Mayor Nawi beserta pengikut setianya.
Untuk itu, Mr Lenox memutuskan pasukan dibagi dua. Satu ke selatan, jalur pantai. Satunya lagi ke utara, jalur darat.
Diharapkan, dengan pembagian tugas dan jalur tempuh ini, pengejaran terhadap Mayor Nawi lebih cepat dan tepat sasaran.
"Sersan Daud ke utara, Sersan Faisol dan saya ke selatan ..."
"Siap laksanakan."
"Kita tetap satu arah dan fokus pad a jejak pengejaran," terang Mr Lenox.
"Kalau nanti pasukan selatan sudah menemukan jejak, pasukan utara cepat bergabung. Begitu juga sebaliknya. Paham?"
"Paham Mister ..."
"Oke. Kita berpencar sekarang ..." Perintah Mr Lenox.
Sementara itu, kapal yang ditumpangi Mayor Nawi beserta pengikutnya sudah sampai di Pulau Harimau.
Kapal yang mereka sewa itu sudah kembali ke tempat sandarnya semula. Sebuah pelabuhan yang kerap menjadi tempat berlabuh kapal-kapal yang hendak menaikkan dan menurunkan penumpang serta muatan barang.
Pelabuhan yang sudah lama dibangun itu tidak setiap hari ramai. Hanya pada hari-hari tertentu saja. Arus lalu-lintas dari dan ke pelabuhan tidak begitu padat.
Mungkin disebabkan banyak jalur tempuh menuju ke sana. Juga orang-orang tertentu yang keluar masuk pelabuhan.
Setelah menginjalkan kaki di Pulau Harimau, Mayor Nawi memerintahkan semua anak buahnya yang laki-laki membuat rumah untuk berteduh.
Rumah yang dibangun itu tak harus bagus. Tapi harus kuat dan kokoh serta tahan dengan goncangan.
Ada banyak pepohonan di sana, sehingga jika sekadar hanya untuk membikin rumah, tak seberapa. Bu ah-buahan di sekitar pohon yang tumbuh liar itu bisa dimakan karena tidak mengandung racun.
Selain membikin rumah, Mayor Nawi juga mengajak para pengi kutnya untuk membuat perahu dan alat menangkap ikan.
Karena ikan di sekitar pulau sangat lah banyak. Belum lagi yang dinaungi pepohonan rindang, pembatas antara pohon yang di bawahnya dialiri sungai-sungai kecil.
Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak bisa bim salabim. Untuk rumah, satu hari bisa dibangun dan diselesaikan dua unit rumah.
Rumah lumayan besar itu dapat me nampung lima puluh orang lebih. Bagi yang belum bisa tidur dan ber isti rahat di rumah, memilih tidur di luar rumah sekitar pekarangan. Bisa di atas dan bawah pohon, bisa juga di tangga dan sekitarnya.
Paling tidak diperlukan -6-12 unit rumah. Mayor Nawi tidak perlu me nyegerakan selesai sekian rumah. Karena dia juga harus membagi tugas pengikutnya, agar rumah, perahu dan membuka areal lahan untuk bercocok tanam sama-sama diselesaikan.
Pulau Harimau (19)
Oleh Wak Amin
"OKE. Cepat susuri. Sebelum kita kehilangan jejak," perintah Letnan Daus.
Agak sulit memang menemukan secara jelas dan pasti jejak Mayor Nawi beserta pengikut setianya.
Untuk itu, Mr Lenox memutuskan pasukan dibagi dua. Satu ke selatan, jalur pantai. Satunya lagi ke utara, jalur darat.
Diharapkan, dengan pembagian tugas dan jalur tempuh ini, pengejaran terhadap Mayor Nawi lebih cepat dan tepat sasaran.
"Sersan Daud ke utara, Sersan Faisol dan saya ke selatan ..."
"Siap laksanakan."
"Kita tetap satu arah dan fokus pad a jejak pengejaran," terang Mr Lenox.
"Kalau nanti pasukan selatan sudah menemukan jejak, pasukan utara cepat bergabung. Begitu juga sebaliknya. Paham?"
"Paham Mister ..."
"Oke. Kita berpencar sekarang ..." Perintah Mr Lenox.
Sementara itu, kapal yang ditumpangi Mayor Nawi beserta pengikutnya sudah sampai di Pulau Harimau.
Kapal yang mereka sewa itu sudah kembali ke tempat sandarnya semula. Sebuah pelabuhan yang kerap menjadi tempat berlabuh kapal-kapal yang hendak menaikkan dan menurunkan penumpang serta muatan barang.
Pelabuhan yang sudah lama dibangun itu tidak setiap hari ramai. Hanya pada hari-hari tertentu saja. Arus lalu-lintas dari dan ke pelabuhan tidak begitu padat.
Mungkin disebabkan banyak jalur tempuh menuju ke sana. Juga orang-orang tertentu yang keluar masuk pelabuhan.
Setelah menginjalkan kaki di Pulau Harimau, Mayor Nawi memerintahkan semua anak buahnya yang laki-laki membuat rumah untuk berteduh.
Rumah yang dibangun itu tak harus bagus. Tapi harus kuat dan kokoh serta tahan dengan goncangan.
Ada banyak pepohonan di sana, sehingga jika sekadar hanya untuk membikin rumah, tak seberapa. Bu ah-buahan di sekitar pohon yang tumbuh liar itu bisa dimakan karena tidak mengandung racun.
Selain membikin rumah, Mayor Nawi juga mengajak para pengi kutnya untuk membuat perahu dan alat menangkap ikan.
Karena ikan di sekitar pulau sangat lah banyak. Belum lagi yang dinaungi pepohonan rindang, pembatas antara pohon yang di bawahnya dialiri sungai-sungai kecil.
Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak bisa bim salabim. Untuk rumah, satu hari bisa dibangun dan diselesaikan dua unit rumah.
Rumah lumayan besar itu dapat me nampung lima puluh orang lebih. Bagi yang belum bisa tidur dan ber isti rahat di rumah, memilih tidur di luar rumah sekitar pekarangan. Bisa di atas dan bawah pohon, bisa juga di tangga dan sekitarnya.
Paling tidak diperlukan -6-12 unit rumah. Mayor Nawi tidak perlu me nyegerakan selesai sekian rumah. Karena dia juga harus membagi tugas pengikutnya, agar rumah, perahu dan membuka areal lahan untuk bercocok tanam sama-sama diselesaikan.
Rabu, 14 Maret 2018
Pulau Harimau (18)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (18)
Oleh Wak Amin
"Bagaimana Ul, menurut kamu. Kita naik kapal besar atau kecil saja?"
"Karena jumlahnya Kita banyak, se kali angkut sajalah, Bos. Kita sewa kapal besar yang dapat menampu ng seluruh orang-orang kita," usul Raul.
---
PIHAK berwajib benar-benar kecele. Pasalnya, setelah mendatangi kelo mpok bersenjata Asy-Syifa, tidak di ketemukan seorang pun disana. Padahal semua kekuatan penuh telah dikerahkan.
Sebenarnya, masih ada anggota kelompok Asy-Syifa yang bertahan dan ditempatkan disana. Namun, atas saran Paul, sebaiknya mereka bersembunyi saat petugas keamaan datang guna menghindari pertumpahan darah.
"Letnan ... Lapor! Tak seorang pun di markas Asy-Syifa yang kami te mukan," kata Mr Lenox.
"Periksa dan sisir lagi." Perintah Letnan Daus.
"Siap Letnan ..."
Di setiap sisi gedung berpagar ting gi itu, dipimpin Mr Lenox, bela san petugas keamanan menyusuri de ngan hati-hati guna menemukan sekaligus mengindari jebakan dan serangan dadakan.
Tak heran, saat melakukan penyisi ran, anggota pasukan yang ber san dikan Zero de Zero ini bersenjata kan lengkap laras panjang. Mereka tidak sendirian. Tapi berlapis meski tidak berkelompok.
Hampir satu jam menyisir, Mr Le nox berkesimpulan Mayor Nawi dan kelompoknya tidak ada di tempat.
"Mereka diperkitakan sudah meni nggalkan tempat ini pagi hari Let nan. Maaf kita terlambat, " jelas Mr Lenox.
"Bisa diperkirakan kemana larinya mereka?"
"Belum sejauh ini. Hanya diperoleh petunjuk mereka menuju selatan. Itu berarti mereka menuju jalur laut."
Pulau Harimau (18)
Oleh Wak Amin
"Bagaimana Ul, menurut kamu. Kita naik kapal besar atau kecil saja?"
"Karena jumlahnya Kita banyak, se kali angkut sajalah, Bos. Kita sewa kapal besar yang dapat menampu ng seluruh orang-orang kita," usul Raul.
---
PIHAK berwajib benar-benar kecele. Pasalnya, setelah mendatangi kelo mpok bersenjata Asy-Syifa, tidak di ketemukan seorang pun disana. Padahal semua kekuatan penuh telah dikerahkan.
Sebenarnya, masih ada anggota kelompok Asy-Syifa yang bertahan dan ditempatkan disana. Namun, atas saran Paul, sebaiknya mereka bersembunyi saat petugas keamaan datang guna menghindari pertumpahan darah.
"Letnan ... Lapor! Tak seorang pun di markas Asy-Syifa yang kami te mukan," kata Mr Lenox.
"Periksa dan sisir lagi." Perintah Letnan Daus.
"Siap Letnan ..."
Di setiap sisi gedung berpagar ting gi itu, dipimpin Mr Lenox, bela san petugas keamanan menyusuri de ngan hati-hati guna menemukan sekaligus mengindari jebakan dan serangan dadakan.
Tak heran, saat melakukan penyisi ran, anggota pasukan yang ber san dikan Zero de Zero ini bersenjata kan lengkap laras panjang. Mereka tidak sendirian. Tapi berlapis meski tidak berkelompok.
Hampir satu jam menyisir, Mr Le nox berkesimpulan Mayor Nawi dan kelompoknya tidak ada di tempat.
"Mereka diperkitakan sudah meni nggalkan tempat ini pagi hari Let nan. Maaf kita terlambat, " jelas Mr Lenox.
"Bisa diperkirakan kemana larinya mereka?"
"Belum sejauh ini. Hanya diperoleh petunjuk mereka menuju selatan. Itu berarti mereka menuju jalur laut."
Pulau Harimau (17)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (17)
Oleh Wak Amin
"OKE. Sore nanti siap?"
"Siap Bos. Tapi kalau boleh tahu, tujuan kita kemana?"
"Pulau Harimau, bagaimana?"
"Eeeem ... Saya baru kali ini men dengar nama itu Bos. Seperti apa kah Pulau Harimau itu? Besar dan luaskah? Dan, ada manusia kah ya ng hidup dan menetap disana?"
"Belum ada, kayaknya ..."
"Jadi?"
"Kita-kita inilah yang bakal meng huninya. Meski tak sebanding de ngan luasnya Pulau Harimau, tapi sebagian dari kita punya keluarga kan. Ada yang baru nikah, pasti akan lahir generasi baru. Anak cucu ..."
"Apa sudah dipastikan aman Bos? Maksud saya, sebelum ini kan be lum seorang manusia pun yang menghuni pulau itu. Tentu saja banyak kejadian aneh dan mistis disana ..."
"Kamu takut Paul?"
"Enggak jugalah Bos. Tapi biasa nya, namanya juga manusia, kalau sekiranya menemukan hal-hal yang aneh, pssti taky dan akhirnya bisa jadi stres. Saya kuatir akan meng ganggu anggota kita."
"Tenang sajalah. Nanti kita bawa juga orang pintar. Sekarang berita hukan yang lain. Kita siap-siap se belun terlambat."
Tentu, di satu sisi pengungsian yang dilakukan kelompok bersenjata As-Syifa ini untuk menghindari ke mungkinan terjadinya bentrokan yang berujung pada pertumpahan darah.
Pada sisi lain banyak di antara ang gotanya, terutama yang senior dan sudah hidup enak, merasa kebera tan. Tapu mereka tak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah keputusan ter tinggi Asy-Syifa.
'Melawan' perintsh Sang Bos berarti akan menanggung banyak risiko. Tak seorang pun anggota yang da pat membatalkan, apalagi sampai membela mati-matian rekan mere ka yang kena hukum dan siksa.
Daripada beratnya menanggung beban penderitaan, lebih baik memilih untuk tidak 'melawan arus.' Mereka kompak menuruti apa pun perintah Mayor Nawi. Karena mereka percaya setiap perintah pasti sudah dipikir matang dan masak-masak sebab akibatnya.
Mayor Nawi akan merasa senang jika omongannya didengar. Pada setiap kesempatan ia selalu mengajak anggota kelompoknya untuk loyal dan setia pada pimpinan. Bertanggung jawab atas maju mundurya Asy-Syifa.
Pulau Harimau (17)
Oleh Wak Amin
"OKE. Sore nanti siap?"
"Siap Bos. Tapi kalau boleh tahu, tujuan kita kemana?"
"Pulau Harimau, bagaimana?"
"Eeeem ... Saya baru kali ini men dengar nama itu Bos. Seperti apa kah Pulau Harimau itu? Besar dan luaskah? Dan, ada manusia kah ya ng hidup dan menetap disana?"
"Belum ada, kayaknya ..."
"Jadi?"
"Kita-kita inilah yang bakal meng huninya. Meski tak sebanding de ngan luasnya Pulau Harimau, tapi sebagian dari kita punya keluarga kan. Ada yang baru nikah, pasti akan lahir generasi baru. Anak cucu ..."
"Apa sudah dipastikan aman Bos? Maksud saya, sebelum ini kan be lum seorang manusia pun yang menghuni pulau itu. Tentu saja banyak kejadian aneh dan mistis disana ..."
"Kamu takut Paul?"
"Enggak jugalah Bos. Tapi biasa nya, namanya juga manusia, kalau sekiranya menemukan hal-hal yang aneh, pssti taky dan akhirnya bisa jadi stres. Saya kuatir akan meng ganggu anggota kita."
"Tenang sajalah. Nanti kita bawa juga orang pintar. Sekarang berita hukan yang lain. Kita siap-siap se belun terlambat."
Tentu, di satu sisi pengungsian yang dilakukan kelompok bersenjata As-Syifa ini untuk menghindari ke mungkinan terjadinya bentrokan yang berujung pada pertumpahan darah.
Pada sisi lain banyak di antara ang gotanya, terutama yang senior dan sudah hidup enak, merasa kebera tan. Tapu mereka tak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah keputusan ter tinggi Asy-Syifa.
'Melawan' perintsh Sang Bos berarti akan menanggung banyak risiko. Tak seorang pun anggota yang da pat membatalkan, apalagi sampai membela mati-matian rekan mere ka yang kena hukum dan siksa.
Daripada beratnya menanggung beban penderitaan, lebih baik memilih untuk tidak 'melawan arus.' Mereka kompak menuruti apa pun perintah Mayor Nawi. Karena mereka percaya setiap perintah pasti sudah dipikir matang dan masak-masak sebab akibatnya.
Mayor Nawi akan merasa senang jika omongannya didengar. Pada setiap kesempatan ia selalu mengajak anggota kelompoknya untuk loyal dan setia pada pimpinan. Bertanggung jawab atas maju mundurya Asy-Syifa.
Senin, 12 Maret 2018
Pulau Harimau (16)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau 16)
Oleh : Wak Amin
DEMI keamanan dan tindakan balasan yang mungkin saja dilakukan Mayor Nawi dan kelompoknya, pihak kepolisian dengan berar hati memindahkan sel tahanan sementara Agus cs ke penjara pinggiran kota, tempat berkumpulnya para napi kelas kakap.
Meski demikian, khusus Agus, Iwan dan Iwin dan sang penyusup Iqbal, ditempatkan dalam satu sel. Mereka menempati sel 15.
Tentu saja mereka diawasi dengan ketat. Per dua jam petugas secara bergantian menjaga dan mengawasi mereka. Termasuk juga napi yang lain.
Kepindahan Agus cs ini mengaget kan Mayor Nawi. Dia sangat marah dan berulangkali membanting tele pon, kursi dan meja. Dia tak terima dipermainkan seperti ini.
"Bukan dipermainkan Bos. Tapi mereka takut pada kita," terang Paul.
"Takut?"
"Takut apa?"
Ha ha ha ha ...
"Takut mati?"
"Salah satunya Bos ..."
"Yang lain lagi apa Paul?"
" Mereka tahu kita akan melakukan tindakan balasan. Maka itu Agus dan kawan-kawan dipindahkan agar aman. Setelah aman .."
"Kenapa Paul?"
"Baru mereka menangkap kita ..."
Hua ha ha ha ...
"Apa mereka berani Ul?"
"Kenapa tidak Bos. Mereka kan bukan satu dua orang yang akan menangkap kita. Tapi puluhan dan boleh jadi mencapai ratusan jumlahnya. Mereka tahu kita kuat. Orang-orang kita banyak ...," terang Paul.
"Kalau kita serang duluan, gimana Paul?"
"Serang kemana Bos?"
"Kemana sajalah. Pokoknya kita serang lebih dulu agar mereka tahu kita ini siapa .."
"Menurut saya, tidak perlu Bos. Mengapa tidak perlu, karena jika alasannya agar mereka tahu kehebatan kelompok bersenjata Asy-Syifa. Bukankah mereka sudah tahu tentang kita. Buktinya, teman kita Agus cs dipindahkan tempat tahanannya.."
Mayor Nawi mengangguk.
"Eeeem .. Masuk akal juga analisamu tadi Paul," kata Mayor Nawi sembari menghempaskan tubuhnya di sofa.
Dia meminta Paul menuangkan segelas bir pakai es batu ...
Dua menit keduanya belum bicara apa-apa. Memasuki menit ketiga, Mayor Nawi seolah terperanjat dan berkata ..
"Bagaimana jika kita mengungsi dulu Paul? Apakah itu salah?"
"Tidak Mayor. Anda benar. Tapi, menurut saya, jangan semuanya."
"Separo?"
"Begitulah kira-kira Mayor. Kenapa saya usulkan separo, kalau kita mengungsi semuanya, bagaimana de ngan markas kita. Siapa yang menjaganya. Bukankah banyak barang berharga yang kita punya di sini."
Pulau Harimau 16)
Oleh : Wak Amin
DEMI keamanan dan tindakan balasan yang mungkin saja dilakukan Mayor Nawi dan kelompoknya, pihak kepolisian dengan berar hati memindahkan sel tahanan sementara Agus cs ke penjara pinggiran kota, tempat berkumpulnya para napi kelas kakap.
Meski demikian, khusus Agus, Iwan dan Iwin dan sang penyusup Iqbal, ditempatkan dalam satu sel. Mereka menempati sel 15.
Tentu saja mereka diawasi dengan ketat. Per dua jam petugas secara bergantian menjaga dan mengawasi mereka. Termasuk juga napi yang lain.
Kepindahan Agus cs ini mengaget kan Mayor Nawi. Dia sangat marah dan berulangkali membanting tele pon, kursi dan meja. Dia tak terima dipermainkan seperti ini.
"Bukan dipermainkan Bos. Tapi mereka takut pada kita," terang Paul.
"Takut?"
"Takut apa?"
Ha ha ha ha ...
"Takut mati?"
"Salah satunya Bos ..."
"Yang lain lagi apa Paul?"
" Mereka tahu kita akan melakukan tindakan balasan. Maka itu Agus dan kawan-kawan dipindahkan agar aman. Setelah aman .."
"Kenapa Paul?"
"Baru mereka menangkap kita ..."
Hua ha ha ha ...
"Apa mereka berani Ul?"
"Kenapa tidak Bos. Mereka kan bukan satu dua orang yang akan menangkap kita. Tapi puluhan dan boleh jadi mencapai ratusan jumlahnya. Mereka tahu kita kuat. Orang-orang kita banyak ...," terang Paul.
"Kalau kita serang duluan, gimana Paul?"
"Serang kemana Bos?"
"Kemana sajalah. Pokoknya kita serang lebih dulu agar mereka tahu kita ini siapa .."
"Menurut saya, tidak perlu Bos. Mengapa tidak perlu, karena jika alasannya agar mereka tahu kehebatan kelompok bersenjata Asy-Syifa. Bukankah mereka sudah tahu tentang kita. Buktinya, teman kita Agus cs dipindahkan tempat tahanannya.."
Mayor Nawi mengangguk.
"Eeeem .. Masuk akal juga analisamu tadi Paul," kata Mayor Nawi sembari menghempaskan tubuhnya di sofa.
Dia meminta Paul menuangkan segelas bir pakai es batu ...
Dua menit keduanya belum bicara apa-apa. Memasuki menit ketiga, Mayor Nawi seolah terperanjat dan berkata ..
"Bagaimana jika kita mengungsi dulu Paul? Apakah itu salah?"
"Tidak Mayor. Anda benar. Tapi, menurut saya, jangan semuanya."
"Separo?"
"Begitulah kira-kira Mayor. Kenapa saya usulkan separo, kalau kita mengungsi semuanya, bagaimana de ngan markas kita. Siapa yang menjaganya. Bukankah banyak barang berharga yang kita punya di sini."
Pulau Harimau (15)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (15)
Oleh : Wak Amin
UPAYA pembebasan tahanan yang gagal total ini disiarkan sebuah stasiun televisi swasta nasional, ditonton masyarakat yang berdiam di rumah, kerja di kantoran dan pusat perbelanjaan maupun tempat lain di negeri ini.
Banyak dari pemirsa televisi yang mengutuk keras upaya pembebasan itu. Apalagi disebutkan keterlibatan kelompok bersenjata Asy-Syifa. Mereka sangat marah sekaligus memuji langkah antisipasi yang cepat dari pihak keamanan.
Sebab, jika upaya pembebasan ini berhasil, selain mencoreng nama baik pihak keamanan khususnya kepoli sian, juga akan menimbulkan keresahan di masyarakat, karena bukan tidak mungkin tindakan tak terpuji itu menimpa mereka dalam kejadian yang berbeda.
Raja Samson, setelah mendengar tertangkapnya anggota kelompok pimpinan Mayor Nawi, sangat senang. Dia mengucapkan terima ka sih atas kesuksesan mengantisipa si tindakan tak bertanggng jawab itu.
Demikian pula halnya Ki Ogan, Pedro dan Thomas. Mereka berharap pihak berwajib segera menangkap Mayor Nawi sebagai pimpinan tertinggi di Asy-Syifa.
"Kalau dia tertangkap baru amanlah negeri ini," ucap Pedro.
"Kalau tidak, atau dibiarkan saja, dia akan berbuat seenaknya. Semaunya. Sekehendak perutnya saja. Bisa-bisa terjadi perang saudara," sahut Thomas.
" Kita berdoa sajalah. Semoga kejadian yang kita tonton dan saksikan lewat televisi ini membuka mata dan hati pihak berwajib untuk ber tindak cepat dan tepat," jelas Ki Ogan.
Bagaimana dengan Mayor Nawi?
Dia marsh besar. Dia bertambah marah setelah salah seorang anak buahnya yang ditangkap pihak ber wajib menyebut dirinya sebagai da lang upaya pembebasan Agus cs yang gagal.
"Habis gue ...Paul."
"Paul ..."
Siapa Paul?
Dia adalah orang kepercayaan Ma yor Nawi. Namanya dipanggil Sang Bos untuk mencari solusi atas pelik nya kasus yang dihadapi saat ini.
"Apa perlu kita menghadap Raja?"
"Jangan Mayor."
"Kenapa?"
"Raja Samson pasti sudah tahu. Ka lau kita menemuinya sama artinya kita kepala ini untuk ditebas," kata Paul.
"Jadi menurutmu kita harus bagaimana sebaiknya?"
Pulau Harimau (15)
Oleh : Wak Amin
UPAYA pembebasan tahanan yang gagal total ini disiarkan sebuah stasiun televisi swasta nasional, ditonton masyarakat yang berdiam di rumah, kerja di kantoran dan pusat perbelanjaan maupun tempat lain di negeri ini.
Banyak dari pemirsa televisi yang mengutuk keras upaya pembebasan itu. Apalagi disebutkan keterlibatan kelompok bersenjata Asy-Syifa. Mereka sangat marah sekaligus memuji langkah antisipasi yang cepat dari pihak keamanan.
Sebab, jika upaya pembebasan ini berhasil, selain mencoreng nama baik pihak keamanan khususnya kepoli sian, juga akan menimbulkan keresahan di masyarakat, karena bukan tidak mungkin tindakan tak terpuji itu menimpa mereka dalam kejadian yang berbeda.
Raja Samson, setelah mendengar tertangkapnya anggota kelompok pimpinan Mayor Nawi, sangat senang. Dia mengucapkan terima ka sih atas kesuksesan mengantisipa si tindakan tak bertanggng jawab itu.
Demikian pula halnya Ki Ogan, Pedro dan Thomas. Mereka berharap pihak berwajib segera menangkap Mayor Nawi sebagai pimpinan tertinggi di Asy-Syifa.
"Kalau dia tertangkap baru amanlah negeri ini," ucap Pedro.
"Kalau tidak, atau dibiarkan saja, dia akan berbuat seenaknya. Semaunya. Sekehendak perutnya saja. Bisa-bisa terjadi perang saudara," sahut Thomas.
" Kita berdoa sajalah. Semoga kejadian yang kita tonton dan saksikan lewat televisi ini membuka mata dan hati pihak berwajib untuk ber tindak cepat dan tepat," jelas Ki Ogan.
Bagaimana dengan Mayor Nawi?
Dia marsh besar. Dia bertambah marah setelah salah seorang anak buahnya yang ditangkap pihak ber wajib menyebut dirinya sebagai da lang upaya pembebasan Agus cs yang gagal.
"Habis gue ...Paul."
"Paul ..."
Siapa Paul?
Dia adalah orang kepercayaan Ma yor Nawi. Namanya dipanggil Sang Bos untuk mencari solusi atas pelik nya kasus yang dihadapi saat ini.
"Apa perlu kita menghadap Raja?"
"Jangan Mayor."
"Kenapa?"
"Raja Samson pasti sudah tahu. Ka lau kita menemuinya sama artinya kita kepala ini untuk ditebas," kata Paul.
"Jadi menurutmu kita harus bagaimana sebaiknya?"
Pulau Harimau (14)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (14)
Oleh : Wak Amin
KEESOKAN harinya ...
Di sel tahanan sementara Agus, Iwan dan Iwin, tampak ramai. Hal ini disebabkan telah terjadi upaya 'pem bebasan' oleh kelompok bersen jata pada subuh dinihari saat suasana sel sepi dan beberap ta hanan terlelap tidur.
Sekelebat bayang-bayang melompat dari atap, lalu dengan menggu nakan kunci rahasia berhasil masuk sel untuk membebaskan Agus cs.
Saat bersamaan, seorang polisi yang baru keluar dari kamar kecil, segera membunyikan alarm dan sekaligus memberitahu rekan-rekannya sesama polisi, ada penyusup ma suk ke ruangan tahanan.
Agus sempat kaget karena mereka tidak tahu sama sekali bakal ada pembebasan hari ini oleh rekan se sama anggota Asy-Syifa yang lebih senior.
Awalnya berjalan lancar. Namun se telah teman si penyusup berhasil di amankan pihak berwajib di dekat pintu masuk, jadi tak berkutik.
"Buang senjata anda atau saya ha bisi teman anda," ancam polisi bertahi lalat.
Karena bersikukuh tak mau membuang senjatanya dan memaksa kan diri membawa pergi Agus cs, polisi terpaksa melepaskan tem bakan danengenai kaki si penyusup.
Doooor ..
Deeer ...
Doooor ...
Satu kali tembakan mengarah ke ke pala si penyusup, tewas seketika se telah yang bersangkutan melepas kan tembakan secara membabi-buta ke aparat keamanan.
Agus, Iwan dan Iwin dibuat tak ber kutik. Mereka hanya busa pasrah ketika tiga anggora polisi menceb loskan mereka lagi ke dalam sel tahanan.
Rekan si penyusup yang selamat di bawa ke ruangan lain untuk di min tai keterangan. Sementara mayat re kannya yang tewas terkapar di lan tai segera dilarikan k kerumah sakit terdekat.
Pulau Harimau (14)
Oleh : Wak Amin
KEESOKAN harinya ...
Di sel tahanan sementara Agus, Iwan dan Iwin, tampak ramai. Hal ini disebabkan telah terjadi upaya 'pem bebasan' oleh kelompok bersen jata pada subuh dinihari saat suasana sel sepi dan beberap ta hanan terlelap tidur.
Sekelebat bayang-bayang melompat dari atap, lalu dengan menggu nakan kunci rahasia berhasil masuk sel untuk membebaskan Agus cs.
Saat bersamaan, seorang polisi yang baru keluar dari kamar kecil, segera membunyikan alarm dan sekaligus memberitahu rekan-rekannya sesama polisi, ada penyusup ma suk ke ruangan tahanan.
Agus sempat kaget karena mereka tidak tahu sama sekali bakal ada pembebasan hari ini oleh rekan se sama anggota Asy-Syifa yang lebih senior.
Awalnya berjalan lancar. Namun se telah teman si penyusup berhasil di amankan pihak berwajib di dekat pintu masuk, jadi tak berkutik.
"Buang senjata anda atau saya ha bisi teman anda," ancam polisi bertahi lalat.
Karena bersikukuh tak mau membuang senjatanya dan memaksa kan diri membawa pergi Agus cs, polisi terpaksa melepaskan tem bakan danengenai kaki si penyusup.
Doooor ..
Deeer ...
Doooor ...
Satu kali tembakan mengarah ke ke pala si penyusup, tewas seketika se telah yang bersangkutan melepas kan tembakan secara membabi-buta ke aparat keamanan.
Agus, Iwan dan Iwin dibuat tak ber kutik. Mereka hanya busa pasrah ketika tiga anggora polisi menceb loskan mereka lagi ke dalam sel tahanan.
Rekan si penyusup yang selamat di bawa ke ruangan lain untuk di min tai keterangan. Sementara mayat re kannya yang tewas terkapar di lan tai segera dilarikan k kerumah sakit terdekat.
Pulau Harimau (13)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (13)
Oleh : Wak Amin
"KAMU yang angkat Dor."
"Kamu ajalah Jo. Kan tadi kamu yang terima. Bilang apalah. Jangan takut. Kami ada di sini .."
"Oke ..."
Cletek ...
"Ya. Dari siapa ya?"
"Gimana Pak Polisi. Sudah dilepaskan?"
"Sudah. Barusan saja Pak."
"Ah ... Bohong kamu."
"Benar Pak, eeh Tuan. Sudah kami lepas anak buah bapak. Barusan saja," jawab Jojo dengan entengnya.
"Dimana mereka sekarang?"
"Di sel ..."
Haaa ...?
"Katanya tadi dilepas ..."
"Sudah Bos. Mereka mau ke toilet. Kami lepaslah. Setelah itu, tanpa dipaksa, mereka balik lagi ke sel."
Ha ha ha ha ...
"Kampret ... Mempermainkan saya ya. Tunggu pembalasanku." Anca man Mayor Nawi kali ini tidak main-main.
---
SETELAH melalui dialog dari hati ke hati, Raja Samson memutuskan untuk menampung semua masukan dan berjanji menindaklanjuti dua saksi tunggal, Pedro dan Thomas.
"Ini sangat penting. Terima kasih saya ucapkan kepada Ki Ogan, Pedro dan Thomas, yang harus saya akui telah bersusah payah datang untuk menemui saya," kata Raja Samson sumringah.
"Terima kasih Tuan Raja," ucap Ki Ogan.
Karena sudah dijelaskan semua perihal kedatangan mereka bertuga ke istana raja, dan mendapat jawaban yang melegakan hati dari Raja Samson, Ki Ogan berpamitan.
"Sebentar Ki. Jangan buru-buru," ka ta Raja Samson. "Ada beberapa hal lagi yang ingin saya sampaikan pa da kalian bertiga."
"Baik, Tuanku Raja. Kami dengan senang hati mendengarkannya," uj ar Pedro dan Thomas serempak.
"Kalian bertiga saya minta tenang. Koperatiflah dengan petugas yang menangabi kasus ini. Percayakan lah kepada mereka. Biarkan mereka bekerja dengan sebaik-baiknya," na sihat Raja Samson.
"Satu hal lagi, kalau ada apa-apa, te leponlah pihak berwajib. Atau lang sung saja ke istana. Temui saya disini ...," jelas Raja Samson.
Sama seperti warga yang lain, kali an bertiga, kata Raja Samson, tidak saya beda-bedakan.
"Datang atau tidak kalian ke sini, saya harus bersikap adil. Mudah-mudahan kalian pahsm dengan ucapan saya barusan ..."
"Insya Allah Tuanku Raja," kata Ki Ogan. Merasa tersanjung dengan ucapan Raja Samson.
Itu pertanda beliau adalah raja yang baik, adil dan bijaksana ...
Pulau Harimau (13)
Oleh : Wak Amin
"KAMU yang angkat Dor."
"Kamu ajalah Jo. Kan tadi kamu yang terima. Bilang apalah. Jangan takut. Kami ada di sini .."
"Oke ..."
Cletek ...
"Ya. Dari siapa ya?"
"Gimana Pak Polisi. Sudah dilepaskan?"
"Sudah. Barusan saja Pak."
"Ah ... Bohong kamu."
"Benar Pak, eeh Tuan. Sudah kami lepas anak buah bapak. Barusan saja," jawab Jojo dengan entengnya.
"Dimana mereka sekarang?"
"Di sel ..."
Haaa ...?
"Katanya tadi dilepas ..."
"Sudah Bos. Mereka mau ke toilet. Kami lepaslah. Setelah itu, tanpa dipaksa, mereka balik lagi ke sel."
Ha ha ha ha ...
"Kampret ... Mempermainkan saya ya. Tunggu pembalasanku." Anca man Mayor Nawi kali ini tidak main-main.
---
SETELAH melalui dialog dari hati ke hati, Raja Samson memutuskan untuk menampung semua masukan dan berjanji menindaklanjuti dua saksi tunggal, Pedro dan Thomas.
"Ini sangat penting. Terima kasih saya ucapkan kepada Ki Ogan, Pedro dan Thomas, yang harus saya akui telah bersusah payah datang untuk menemui saya," kata Raja Samson sumringah.
"Terima kasih Tuan Raja," ucap Ki Ogan.
Karena sudah dijelaskan semua perihal kedatangan mereka bertuga ke istana raja, dan mendapat jawaban yang melegakan hati dari Raja Samson, Ki Ogan berpamitan.
"Sebentar Ki. Jangan buru-buru," ka ta Raja Samson. "Ada beberapa hal lagi yang ingin saya sampaikan pa da kalian bertiga."
"Baik, Tuanku Raja. Kami dengan senang hati mendengarkannya," uj ar Pedro dan Thomas serempak.
"Kalian bertiga saya minta tenang. Koperatiflah dengan petugas yang menangabi kasus ini. Percayakan lah kepada mereka. Biarkan mereka bekerja dengan sebaik-baiknya," na sihat Raja Samson.
"Satu hal lagi, kalau ada apa-apa, te leponlah pihak berwajib. Atau lang sung saja ke istana. Temui saya disini ...," jelas Raja Samson.
Sama seperti warga yang lain, kali an bertiga, kata Raja Samson, tidak saya beda-bedakan.
"Datang atau tidak kalian ke sini, saya harus bersikap adil. Mudah-mudahan kalian pahsm dengan ucapan saya barusan ..."
"Insya Allah Tuanku Raja," kata Ki Ogan. Merasa tersanjung dengan ucapan Raja Samson.
Itu pertanda beliau adalah raja yang baik, adil dan bijaksana ...
Jumat, 09 Maret 2018
Pulau Harimau (12)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (12)
Oleh : Wak Amin
Kepada Mayor Nawi, Agus meminta tolong dikeluarkan dari sel tahanan karena berbagai alasan, satu di an taranya Pedro dan Thomas bersembunyi di kediaman Ki Ogan. Sang Bos mengabulkan permintaan anak buahnya itu.
Sayang, jika selama ini Mayor Nawi mampu 'menekan' pihak kepolisian agar melepaskan anak buahnya ya ng bermasalah, kini tak bisa berbu at apa-apa lagi.
Hal ini dikarenakan polisi yang menahan dan memeriksa Agus, Iwan dan Iwin tetap bersikukuh tak mau melepaskan.
"Anda tahu siapa saya?"
"Tahu nama, tapi tak tahu orang. Belum pernah lihat," jawab polisi ganteng berbadan kekar.
"Saya pencabut nyawa, tahu?"
"Bukannya yang mencabut nyawa itu malaikat Izrail tuan?"
Hua ha ha ha ...
Mendengar sayup-sayup polisi pa da tertawa, Mayor Nawi naik pitam. Dengan suara lantang dia mengata kan siapa saja yang berani melawan perintahnya akan menanggung akibatnya.
"Saya merasa tidak melawan perintah anda Tuan .."
"Dengarkan ya. Saya tunggu lima belas menit lagi. Jika saya telepon lagi belum juga anak buah saya di lepaskan, maka saya akan bertindak apa yang saya suka ..."
Kletek ...
Telepon ditutup.
"Dasar Bos kurang kerjaan. Enak aje merintah-merintah gue. Ai keplak baru tahu rase," omel polisi berhi dung mancung.
Ha ha ha ha ...
"Awas kamu Jo. 'Ntar kena marah si Bos. Tahu rasa kamu." Temannya bertahi lalat di kening mengingatkan.
Bhua ha ha ha ...
Lima belas menit kemudian ..
Kriiiing ...
Kriiing ...
Pulau Harimau (12)
Oleh : Wak Amin
Kepada Mayor Nawi, Agus meminta tolong dikeluarkan dari sel tahanan karena berbagai alasan, satu di an taranya Pedro dan Thomas bersembunyi di kediaman Ki Ogan. Sang Bos mengabulkan permintaan anak buahnya itu.
Sayang, jika selama ini Mayor Nawi mampu 'menekan' pihak kepolisian agar melepaskan anak buahnya ya ng bermasalah, kini tak bisa berbu at apa-apa lagi.
Hal ini dikarenakan polisi yang menahan dan memeriksa Agus, Iwan dan Iwin tetap bersikukuh tak mau melepaskan.
"Anda tahu siapa saya?"
"Tahu nama, tapi tak tahu orang. Belum pernah lihat," jawab polisi ganteng berbadan kekar.
"Saya pencabut nyawa, tahu?"
"Bukannya yang mencabut nyawa itu malaikat Izrail tuan?"
Hua ha ha ha ...
Mendengar sayup-sayup polisi pa da tertawa, Mayor Nawi naik pitam. Dengan suara lantang dia mengata kan siapa saja yang berani melawan perintahnya akan menanggung akibatnya.
"Saya merasa tidak melawan perintah anda Tuan .."
"Dengarkan ya. Saya tunggu lima belas menit lagi. Jika saya telepon lagi belum juga anak buah saya di lepaskan, maka saya akan bertindak apa yang saya suka ..."
Kletek ...
Telepon ditutup.
"Dasar Bos kurang kerjaan. Enak aje merintah-merintah gue. Ai keplak baru tahu rase," omel polisi berhi dung mancung.
Ha ha ha ha ...
"Awas kamu Jo. 'Ntar kena marah si Bos. Tahu rasa kamu." Temannya bertahi lalat di kening mengingatkan.
Bhua ha ha ha ...
Lima belas menit kemudian ..
Kriiiing ...
Kriiing ...
Pulau Harimau (11)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (11)
Oleh : Wak Amin
"Mukul apa Bos?" Sindir mata lebar.
"Mukul kecoak," jawab yang lain serempak.
Ha ha ha ha ...
"Angkat tangan. Jatuhkan senjata!"
--
AGUS, Iwan dan Iwin serta beberapa pemuda yang bersekongkol ing in membakar gedung perguruan Al-Kalam amat kaget ketika beberapa anggota polisi meminta mereka menghentikan pertarungan dan sekali gus menyerahkan senjata tajam seperti pedang, parang, pisau belati, besi dan pentungan kayu.
"Cepaaat. Pengen kepalamu ilang ha?" Hardik polisi berbadan kekar.
Agus coba melawan dengan membalas tatapan mata tajam sang polisi.
"Mau saya congkel mata kamu?"
"Silakan Pak, kalau bapak berani dan tak punya malu ..."
"Okeee ... Sekarang buka mulut kamu ..." Perintah polisi tadi. Ia mulai marah dan kesal melihat ulah dan sikap Agus yang sengaja memperlambat proses penangkapan.
Buuug ...
Buuuug ...
Dua kali pukulan keras didaratkan rekan polisi ke kepala Agus, membuat yang bersangkutan jatuh tersungkur.
"Jangan bergerak ...!"
Dibantu Ki Ogan, Pedro dan Thomas serta beberapa siswa Al-Kalam, Agus dan konco-konconya dinaikkan ke mobil dinas kepolisian dengan kedua tangan diborgol.
"Ayo cepat naik ... Tunggu apalagi? Tunggu nenek moyang lu?" Bentak petugas berkumis keriting pada Iwan yang pura-pura sempoyongan dengan harapan tidak jadi dibawa ke kantor polisi.
Operasi penangkapan terhadap Agus cs berjalan lancar. Di depan petugas kepolisian, Ki Ogan menceri takan kronologis kejadian yang di alaminya.
Keterangan berharga yang diberi kan Ki Ogan dijadikan pedoman pihak kepolisian saat memeriksa lebih jauh Agus cs.
Tidak demikian halnya Agus dan rekan-rekannya. Di dalam sel sementara, mereka bersikukuh tidak ber maksud berbuat jahat pada Ki Ogan.
Mereka akhirnya tak bisa mengelak setelah beberapa warga mendatangi kantor polisi dan memberikan kesaksian atas rencan jahat anggota kelompok bersenjata Asy-Syifa itu.
"Kalau bapak tidak mengizinkan kami pulang, bapak akan tahu sendiri akibatnya," ancam Agus, yang me minta waktu untuk menelepon Sang Bos.
Pihak kepolisian tidak bersedia awalnya. Ini dikarenakan ulah Agus yang sempat mengambil senjata dari pinggang salah seorang anggota dan hendak menembaknya agar bisa melarikan diri dari sel tahanan.
Agus diizinkan menelepon Sang Bos setelah mendapat izin dari atasan dan anggota polisi yang menangkapnya.
Tentu dengan syarat harus dikawal dan disaksikan petugas yang ditunjuk agar kontak jarak jauh itu berla ngsung aman dan lancar.
"Kalau macam-macam saya tembak kepala anda. Mengeeti?" Kata petugas berpostur tubuh kurus tinggi.
Kali ini Agus tak berkutik. Bukan satu orang polisi saja yang bakal menembaknya jika bebuat macam-macam.
Ada enam anggota polisi yang siaga penuh. Mereka bersenjatakan lengkap dan siap mengamankan 'markas kepolisian' dari orang-orang yang ingin membuat kegaduhan.
Pulau Harimau (11)
Oleh : Wak Amin
"Mukul apa Bos?" Sindir mata lebar.
"Mukul kecoak," jawab yang lain serempak.
Ha ha ha ha ...
"Angkat tangan. Jatuhkan senjata!"
--
AGUS, Iwan dan Iwin serta beberapa pemuda yang bersekongkol ing in membakar gedung perguruan Al-Kalam amat kaget ketika beberapa anggota polisi meminta mereka menghentikan pertarungan dan sekali gus menyerahkan senjata tajam seperti pedang, parang, pisau belati, besi dan pentungan kayu.
"Cepaaat. Pengen kepalamu ilang ha?" Hardik polisi berbadan kekar.
Agus coba melawan dengan membalas tatapan mata tajam sang polisi.
"Mau saya congkel mata kamu?"
"Silakan Pak, kalau bapak berani dan tak punya malu ..."
"Okeee ... Sekarang buka mulut kamu ..." Perintah polisi tadi. Ia mulai marah dan kesal melihat ulah dan sikap Agus yang sengaja memperlambat proses penangkapan.
Buuug ...
Buuuug ...
Dua kali pukulan keras didaratkan rekan polisi ke kepala Agus, membuat yang bersangkutan jatuh tersungkur.
"Jangan bergerak ...!"
Dibantu Ki Ogan, Pedro dan Thomas serta beberapa siswa Al-Kalam, Agus dan konco-konconya dinaikkan ke mobil dinas kepolisian dengan kedua tangan diborgol.
"Ayo cepat naik ... Tunggu apalagi? Tunggu nenek moyang lu?" Bentak petugas berkumis keriting pada Iwan yang pura-pura sempoyongan dengan harapan tidak jadi dibawa ke kantor polisi.
Operasi penangkapan terhadap Agus cs berjalan lancar. Di depan petugas kepolisian, Ki Ogan menceri takan kronologis kejadian yang di alaminya.
Keterangan berharga yang diberi kan Ki Ogan dijadikan pedoman pihak kepolisian saat memeriksa lebih jauh Agus cs.
Tidak demikian halnya Agus dan rekan-rekannya. Di dalam sel sementara, mereka bersikukuh tidak ber maksud berbuat jahat pada Ki Ogan.
Mereka akhirnya tak bisa mengelak setelah beberapa warga mendatangi kantor polisi dan memberikan kesaksian atas rencan jahat anggota kelompok bersenjata Asy-Syifa itu.
"Kalau bapak tidak mengizinkan kami pulang, bapak akan tahu sendiri akibatnya," ancam Agus, yang me minta waktu untuk menelepon Sang Bos.
Pihak kepolisian tidak bersedia awalnya. Ini dikarenakan ulah Agus yang sempat mengambil senjata dari pinggang salah seorang anggota dan hendak menembaknya agar bisa melarikan diri dari sel tahanan.
Agus diizinkan menelepon Sang Bos setelah mendapat izin dari atasan dan anggota polisi yang menangkapnya.
Tentu dengan syarat harus dikawal dan disaksikan petugas yang ditunjuk agar kontak jarak jauh itu berla ngsung aman dan lancar.
"Kalau macam-macam saya tembak kepala anda. Mengeeti?" Kata petugas berpostur tubuh kurus tinggi.
Kali ini Agus tak berkutik. Bukan satu orang polisi saja yang bakal menembaknya jika bebuat macam-macam.
Ada enam anggota polisi yang siaga penuh. Mereka bersenjatakan lengkap dan siap mengamankan 'markas kepolisian' dari orang-orang yang ingin membuat kegaduhan.
Pulau Harimau (10)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (10)
Oleh : aminuddin
GILIRAN Iwan yang maju. Diawali dengan pukulan bertubi-tubi yang diarakan ke muka dan dada Pedro. Hanya menghindar. Belum melaku kan aksi balasan.
Ketika Iwan lengah ..
Draaak ...
Duub .. dub ... dub ..
Sebuah pukulan telak tepat mengenai bawah ketiak Iwan. Mengerang kesakitan.
Belum sempat membalas, sebuah pukulan tangan kiri mengenai dagu Iwan. Terhuyung. Sempoyongan.
Dub ...dub ...
Kraaaak ...
Pedro mematahkan tangan lawan nya, hingga jatuh tak sadarkan diri.
Agus mulai ketar-ketir. Tapi itu ia tutupi dengan mengancam Pedro.
"Setelah Ki Ogan saya habisi, kamu giliran berikutnya. Paham?" Bentak Agus.
"Paham ..."
"Maju Ki ..."
Agus mengambil ancang-ancang. Kedua kaki dibuka lebar. Tangan kiri ke bawah, tangan kanan ke atas. Siap menahan serangan Ki Ogan.
Ki Ogan cuma tersenyum ...
Dia hanya berdiri. Lalu bersiap melepaskan pukulan ke kedua kaki Agus. Entah bagaimana, kaki itu pun semakin lama semakin sulit digerakkan.
Kraaaak ...
Praaak ...
Terlalu lebar buka selangkangan, menyebabkan pantat Agus menyentuh tanah sebelum akhirnya jatuh dalam posisi kedua kali mengangkang.
Ha ha ha ha ...
He he he he ...
"Hebat apa," komentar pemuda berkulit sawo matang.
"Belum digocoh sudah roboh."
Hua ha ha ha ...
Merasa malu, Agus cepat-cepat berdiri. Setelah mengomeli kedua re kannya Iwan dan Iwin, yang sudah siuman dan ikut bersama yang lain menertawakan dirinya, ia siap me lanjutkan duel dengan Ki Ogan.
"Majulah Ki ..."
"Saya sudah maju."
Ha ha ha ha ...
"Maju kemana lagi Bos." Teriak pria bermata besar sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Pelukan saja Bos," sahut teman si mata besar. Ketawa tapi ditahan.
Dub ... dub ...
Plaak .. Gredeeek ...
Semakin ditangkis semakin kesaki tan. Semua yang hadir tak satupun merasa iba. Mereka malah ketawa geli setelah melihat tak satu pun pukulan Agus yang mengenai sasaran.
Tanpa sepengetahuan Agus,Ki Ogan justru bersembunyi dengan aman di belakangnya.
He he he he ...
Pulau Harimau (10)
Oleh : aminuddin
GILIRAN Iwan yang maju. Diawali dengan pukulan bertubi-tubi yang diarakan ke muka dan dada Pedro. Hanya menghindar. Belum melaku kan aksi balasan.
Ketika Iwan lengah ..
Draaak ...
Duub .. dub ... dub ..
Sebuah pukulan telak tepat mengenai bawah ketiak Iwan. Mengerang kesakitan.
Belum sempat membalas, sebuah pukulan tangan kiri mengenai dagu Iwan. Terhuyung. Sempoyongan.
Dub ...dub ...
Kraaaak ...
Pedro mematahkan tangan lawan nya, hingga jatuh tak sadarkan diri.
Agus mulai ketar-ketir. Tapi itu ia tutupi dengan mengancam Pedro.
"Setelah Ki Ogan saya habisi, kamu giliran berikutnya. Paham?" Bentak Agus.
"Paham ..."
"Maju Ki ..."
Agus mengambil ancang-ancang. Kedua kaki dibuka lebar. Tangan kiri ke bawah, tangan kanan ke atas. Siap menahan serangan Ki Ogan.
Ki Ogan cuma tersenyum ...
Dia hanya berdiri. Lalu bersiap melepaskan pukulan ke kedua kaki Agus. Entah bagaimana, kaki itu pun semakin lama semakin sulit digerakkan.
Kraaaak ...
Praaak ...
Terlalu lebar buka selangkangan, menyebabkan pantat Agus menyentuh tanah sebelum akhirnya jatuh dalam posisi kedua kali mengangkang.
Ha ha ha ha ...
He he he he ...
"Hebat apa," komentar pemuda berkulit sawo matang.
"Belum digocoh sudah roboh."
Hua ha ha ha ...
Merasa malu, Agus cepat-cepat berdiri. Setelah mengomeli kedua re kannya Iwan dan Iwin, yang sudah siuman dan ikut bersama yang lain menertawakan dirinya, ia siap me lanjutkan duel dengan Ki Ogan.
"Majulah Ki ..."
"Saya sudah maju."
Ha ha ha ha ...
"Maju kemana lagi Bos." Teriak pria bermata besar sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Pelukan saja Bos," sahut teman si mata besar. Ketawa tapi ditahan.
Dub ... dub ...
Plaak .. Gredeeek ...
Semakin ditangkis semakin kesaki tan. Semua yang hadir tak satupun merasa iba. Mereka malah ketawa geli setelah melihat tak satu pun pukulan Agus yang mengenai sasaran.
Tanpa sepengetahuan Agus,Ki Ogan justru bersembunyi dengan aman di belakangnya.
He he he he ...
Rabu, 07 Maret 2018
Pulau Harimau (9)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (9)
Oleh : aminuddin
"Itu mereka Ki!" Kata si pemuda yang tertangkap basah saat hendak menyiram bensin di gedung perguruan Al-Kalam.
Agus cs tampak bersiap hendak me masuki gedung perguruan sambil membawa pedang.
"Ayo teman-teman ...!" Teriaknya pasa Iwan, Iwin dan beberapa pe muda kampung.
"Berhenti ...!" Kata Ki Ogan. Persis di depan Agus.
"Kalian mau apa? Mau membakar rumah dan perguruan saya?"
"Tidak Ki," jawab salah seorang pemuda berambut gondrong.
"Kami hanya ingin berburu babi."
"Tidak ada babi di sini. Kalian berbo hong. Kaluan ingin membakar per guruan saya. Ini saksinya ..."
Si pemuda kurus ini mengaku di ha dapan Agus dan teman-temannya sekampung, dia memang disuruh membumi-hanguskan Perguruan Al-Kalam.
"Lebih baik kalian bubar sajalah. Ji ka tidak akan saya laporkan kepa da pihak yang berwajib," ancam Ki Ogan. Sudah habis kesabarannya menghadapi ulah Agus, Iwan dan Iwin.
"Laporkan saja Ki," tantang Agus. Siap berduel dengan Ki Ogan.
"Baik. Jika kalian memang menghendaki itu. Saya ladeni," jawab Ki Ogan.
Ki Ogan mundur beberapa langkah. Beberapa siswa Ki Ogan sudah mengepung Agus dan kawan-kawan.
Tanpa mereka sadari, pesilat muda sudah semakin dekat. Mereka datang dari berbagai posisi. Dari be lakang, depan, kiri dan kanan. Bahkan sudah bergabung dengan Pedro, Thomas dan Ki Ogan.
Agus bertambah pucat. Namun karena gengsi dan tak mau dikatakan pengecut, dia tetap berlagak angkuh dan sombong di hadapan Ki Ogan.
"Satu lawan satu Ki," tantang Agus.
"Okeee ... Siapa lawan siapa dan kapan?"
"Sekaranglah Ki. Saya lawan anda, dua teman saya lawan mereka." Menunjuk penuh kebencian pada Ped ro dan Thomas.
"Nak Pedro, Thomas. Gimana?"
"Siap Ki."
Selain Ki Ogan, Pedro dan Thomas serta Agus, Iwan dan Iwin, semua ya ng hadir mundur beberapa lang kah dengan membentuk setengah lingkaran.
Duel one by one ini diawali dengan pertarungan antara Thomas dan Iwan. Semula berlangsung seru.
Sayangnya, keseruan itu cuma berlangsung dua menit. Karena setelah itu Thomas berhasil mencekik leher Iwan sampai pingsan sebelum dia banting Iwan ke tanah sekuat-kuatnya.
Bedebuuug ...
Tak ada suara lagi.
Pulau Harimau (9)
Oleh : aminuddin
"Itu mereka Ki!" Kata si pemuda yang tertangkap basah saat hendak menyiram bensin di gedung perguruan Al-Kalam.
Agus cs tampak bersiap hendak me masuki gedung perguruan sambil membawa pedang.
"Ayo teman-teman ...!" Teriaknya pasa Iwan, Iwin dan beberapa pe muda kampung.
"Berhenti ...!" Kata Ki Ogan. Persis di depan Agus.
"Kalian mau apa? Mau membakar rumah dan perguruan saya?"
"Tidak Ki," jawab salah seorang pemuda berambut gondrong.
"Kami hanya ingin berburu babi."
"Tidak ada babi di sini. Kalian berbo hong. Kaluan ingin membakar per guruan saya. Ini saksinya ..."
Si pemuda kurus ini mengaku di ha dapan Agus dan teman-temannya sekampung, dia memang disuruh membumi-hanguskan Perguruan Al-Kalam.
"Lebih baik kalian bubar sajalah. Ji ka tidak akan saya laporkan kepa da pihak yang berwajib," ancam Ki Ogan. Sudah habis kesabarannya menghadapi ulah Agus, Iwan dan Iwin.
"Laporkan saja Ki," tantang Agus. Siap berduel dengan Ki Ogan.
"Baik. Jika kalian memang menghendaki itu. Saya ladeni," jawab Ki Ogan.
Ki Ogan mundur beberapa langkah. Beberapa siswa Ki Ogan sudah mengepung Agus dan kawan-kawan.
Tanpa mereka sadari, pesilat muda sudah semakin dekat. Mereka datang dari berbagai posisi. Dari be lakang, depan, kiri dan kanan. Bahkan sudah bergabung dengan Pedro, Thomas dan Ki Ogan.
Agus bertambah pucat. Namun karena gengsi dan tak mau dikatakan pengecut, dia tetap berlagak angkuh dan sombong di hadapan Ki Ogan.
"Satu lawan satu Ki," tantang Agus.
"Okeee ... Siapa lawan siapa dan kapan?"
"Sekaranglah Ki. Saya lawan anda, dua teman saya lawan mereka." Menunjuk penuh kebencian pada Ped ro dan Thomas.
"Nak Pedro, Thomas. Gimana?"
"Siap Ki."
Selain Ki Ogan, Pedro dan Thomas serta Agus, Iwan dan Iwin, semua ya ng hadir mundur beberapa lang kah dengan membentuk setengah lingkaran.
Duel one by one ini diawali dengan pertarungan antara Thomas dan Iwan. Semula berlangsung seru.
Sayangnya, keseruan itu cuma berlangsung dua menit. Karena setelah itu Thomas berhasil mencekik leher Iwan sampai pingsan sebelum dia banting Iwan ke tanah sekuat-kuatnya.
Bedebuuug ...
Tak ada suara lagi.
Pulau Harimau (8)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (8)
Oleh : Wak Amin
UNTUK mewujydkan hal itu, sepu langnya mereka dari tepian sungai, malam harinya, bersama para pe muda kampung ya.g dibayar, mere ka bermaksud membakar Perguru an Al-Kalam.
Mereka sudah menyiapkan bebe rapa peralatan seperti tali, bensin, minyak tanah, pisau dan senjata api. Mereka baru akan beraksi tepat pada tengah malam.
Mereka memulai rencana jahat itu dari arah belakang komplek pergu ruan. Tak lazim memang. Selain sepi, hanya jalan setapak dan jarang dilalui warga.
Warga setempat lebih memilih jalan depan perguruan. Selain ramai, mudah dan banyak jalan pintas serta lebih cepat menuju ke lokasi yang dituju.
Sampai lonceng berdentang dua belas kali, Ki Ogan tak mau tidur. Badannya terasa panas. Setelah menunaikan shalat dua rakaat, dia beristirahat di ruang belakang sambil berzikir.
Lepas berzikir, dia menuju pintu belakang. Saat itulah, dari balik jendela, dia melihat sekelebat bayangan memasuki pagar belakang.
Bismillahirrohmsnirrohim ..
Dia melompat turun. Dia mengejar bayangan itu. Ternyata seorang pemuda kampung yang tengah membawa dirijen berisi bensin dan korek api. Dengan gugup dia mengaku disuruh Agus cs.
"Mereka menyuruh saya.Dirijen beri si bensin ini saya tuangkan ke seti ap sudut gedung, lalu saya sulut dan terbakarlah gedung perguruan ini," jelas si pemuda ketakutan. Juga ada rasa penyesalan.
"Astsghfirullah. Ikut saya!" ucap Ki Ogan. Melompat naik masuk pintu belakang. Dia membangunkan Pedro dan Thomas serta siswa latihnya.
Seketika itu juga Ki Ogan memerintahkan untuk menyebar ke setiap ruangan. Ada di antaranya mengikuti Ki Ogan mencari tahu keberadaan Agus cs.
Pulau Harimau (8)
Oleh : Wak Amin
UNTUK mewujydkan hal itu, sepu langnya mereka dari tepian sungai, malam harinya, bersama para pe muda kampung ya.g dibayar, mere ka bermaksud membakar Perguru an Al-Kalam.
Mereka sudah menyiapkan bebe rapa peralatan seperti tali, bensin, minyak tanah, pisau dan senjata api. Mereka baru akan beraksi tepat pada tengah malam.
Mereka memulai rencana jahat itu dari arah belakang komplek pergu ruan. Tak lazim memang. Selain sepi, hanya jalan setapak dan jarang dilalui warga.
Warga setempat lebih memilih jalan depan perguruan. Selain ramai, mudah dan banyak jalan pintas serta lebih cepat menuju ke lokasi yang dituju.
Sampai lonceng berdentang dua belas kali, Ki Ogan tak mau tidur. Badannya terasa panas. Setelah menunaikan shalat dua rakaat, dia beristirahat di ruang belakang sambil berzikir.
Lepas berzikir, dia menuju pintu belakang. Saat itulah, dari balik jendela, dia melihat sekelebat bayangan memasuki pagar belakang.
Bismillahirrohmsnirrohim ..
Dia melompat turun. Dia mengejar bayangan itu. Ternyata seorang pemuda kampung yang tengah membawa dirijen berisi bensin dan korek api. Dengan gugup dia mengaku disuruh Agus cs.
"Mereka menyuruh saya.Dirijen beri si bensin ini saya tuangkan ke seti ap sudut gedung, lalu saya sulut dan terbakarlah gedung perguruan ini," jelas si pemuda ketakutan. Juga ada rasa penyesalan.
"Astsghfirullah. Ikut saya!" ucap Ki Ogan. Melompat naik masuk pintu belakang. Dia membangunkan Pedro dan Thomas serta siswa latihnya.
Seketika itu juga Ki Ogan memerintahkan untuk menyebar ke setiap ruangan. Ada di antaranya mengikuti Ki Ogan mencari tahu keberadaan Agus cs.
Langganan:
Postingan (Atom)