Peluk Aku Ya Allah (35)
Oleh Wak Amin.
"TAHAN Jenderal!"
"Biarkan Jenderal. Mereka anak bu ahku .."
"Saya paham Jenderal. Sebaiknya biarkan mereka yang mengurus nya," kata Jenderal Komar.
Sersan Doni dan Sersan Azis di tu gasi memeriksa kondisi pasukan srigala yang terkena ledakan itu. Apakah masih bisa dikenali atau justru tidak sama sekali.
Apa pun hasilnya, Jenderal Komar meminta laporan secepatnya. Dan, seperti dugaan sebelumnya, jasad beberapa anggota pasukan Srigala sudah hancur. Berserakan di semak jalan berbukit.
Diputuskan secepatnya menyingkir. Jenderal Fatoni tak keberatan. "Asal kan kita tetap membalas serangan musuh."
"Baik Jenderal. Saya setuju," kata Jenderal Komar.
Pasukan panah yang tersisa memu lai kembali serangan. Puluhan anak panah diluncurkan. Ada yang terke na sasaran. Ada juga yang tidak ka rena meleset.
Mereka yang terkena hingga tewas tidak seberapa. Diperkirakan kurang dari sepuluh tentara. Mereka anggo ta pasukan utama satu pimpinan Zainab, Kolonel ihsan dan Kapten Adi
Kondisi ini tak menggoyahkan sege nap pasukan utama satu untuk te rus melakukan serangan. Target mereka adalah memukul mundur Jenderal Fatoni dan Jenderal Kom ar beserta seluruh pasukan yang mereka pimpin.
"Allahu akbar .." Teriak Zainab sam bil mengacungkan pedang pertan da terus menyerang sampai titik darah penghabisan.
Sayup-sayup kalimat ini terdengar di telinga pasukan pemberontak d an pasukan srigala. Mereka mulai kecut dan ciyut.
Mereka tak hiraukan omongan pim pinan mereka yang tiada henti-hen tinya memotivasi dan menyemang ati di tengah gempuran pasukan pribumi dan pemerintah.
"Tembaaak ..."
Anak panah dan peluru dilepaskan menuju persembunyian pasukan musuh. Serangan bertubi-tubi ini membuat kocar-kacir Jenderal Ko mar dan Jenderal Fatoni.
Kedua jenderal ini lari tunggang la nggang. Melihat pimpinan mereka ngacir, segenap pasukan ikut ngacir juga. Malah ada, karena saking takut dan paniknya, lupa dan bahkan ada yang melempar jauh-jauh senjatanya.
Minggu, 30 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (34)
Peluk Aku Ya Allah (34)
Oleh Wak Amin
MENDAPAT laporan dari Kapten Sambas atas tewasnya Mayor Kan dar, Jenderal Komar amat terpu kul. Kecewa dan menyesal karena mem biarkan orang terdekatnya tewas de ngan cara yang salah.
"Kita tak boleh lemah Jenderal. Kita harus kuat," kata Jenderal Fatoni menyemangati.
Dia merasakan betapa marahnya Jenderal Komar pasca tewasnya Mayor Kandar. Tapi di saat lawan berada di atas angin, hal itu tidak boleh diperlarut.
"Jenderal," lapor Letnan Bagus," pa sukan lawat semakin dekat. Mo hon petunjuk!"
"Beritahu yang lain, kita mundur sa mbil membalas setiap serangan ya ng dilancarkan," perintah Jenderal Fatoni.
"Siap laksanakan Jenderal!"
Pasukan utama satu dan dua sema kin dekat. Mereka menyebar ke seti ap tempat. Anehnya, tak ada lagi su ara tembakan, ledakan dan luncu ran anak panah.
Kenapa ya?
Inilah pertanyaan yang muncul di benak pasukan pemberontak dan pasukan srigala. Terutama pasu kan berkuda satu yang dipimpin Jenderal Komar.
"Apa tak sebaiknya kita pancing tembakan atau anak panah Jen deral?" Saran Sersan Herman.
"Boleh juga, tapi sambil bergerak mundur Sersan."
"Jenderal, saya."
"Silakan Sersan Azis."
"Apa tak sebaiknya kita tunda dulu serangan pancingannya Jenderal."
"Alasannya?"
"Posisi kita sekarang belum aman Jenderal. Jika mereka menyerang ba lasan dalam keadaan kita seper ti ini, saya yakin kita bukan saja ka lah tapi hancur ..."
"Bagaimana menurytmu Sersan Do ni?
" Saya sependapat dengan Sersan Azis Jenderal. Kita perkokoh per sembunyian kita. Saat posisi kita kuat atau pasukan lawan lengah baru kita serang habis-habisan."
Guaaaar ...
Terdengar ledakan dahsyat diiringi erangan memiluksn tak jauh dari persembunyian pasukan berkuda. Ada jatuh korban lagi. Mereka ada lah anak buahnya Jenderal Fatoni dari pasukan Srigala.
Oleh Wak Amin
MENDAPAT laporan dari Kapten Sambas atas tewasnya Mayor Kan dar, Jenderal Komar amat terpu kul. Kecewa dan menyesal karena mem biarkan orang terdekatnya tewas de ngan cara yang salah.
"Kita tak boleh lemah Jenderal. Kita harus kuat," kata Jenderal Fatoni menyemangati.
Dia merasakan betapa marahnya Jenderal Komar pasca tewasnya Mayor Kandar. Tapi di saat lawan berada di atas angin, hal itu tidak boleh diperlarut.
"Jenderal," lapor Letnan Bagus," pa sukan lawat semakin dekat. Mo hon petunjuk!"
"Beritahu yang lain, kita mundur sa mbil membalas setiap serangan ya ng dilancarkan," perintah Jenderal Fatoni.
"Siap laksanakan Jenderal!"
Pasukan utama satu dan dua sema kin dekat. Mereka menyebar ke seti ap tempat. Anehnya, tak ada lagi su ara tembakan, ledakan dan luncu ran anak panah.
Kenapa ya?
Inilah pertanyaan yang muncul di benak pasukan pemberontak dan pasukan srigala. Terutama pasu kan berkuda satu yang dipimpin Jenderal Komar.
"Apa tak sebaiknya kita pancing tembakan atau anak panah Jen deral?" Saran Sersan Herman.
"Boleh juga, tapi sambil bergerak mundur Sersan."
"Jenderal, saya."
"Silakan Sersan Azis."
"Apa tak sebaiknya kita tunda dulu serangan pancingannya Jenderal."
"Alasannya?"
"Posisi kita sekarang belum aman Jenderal. Jika mereka menyerang ba lasan dalam keadaan kita seper ti ini, saya yakin kita bukan saja ka lah tapi hancur ..."
"Bagaimana menurytmu Sersan Do ni?
" Saya sependapat dengan Sersan Azis Jenderal. Kita perkokoh per sembunyian kita. Saat posisi kita kuat atau pasukan lawan lengah baru kita serang habis-habisan."
Guaaaar ...
Terdengar ledakan dahsyat diiringi erangan memiluksn tak jauh dari persembunyian pasukan berkuda. Ada jatuh korban lagi. Mereka ada lah anak buahnya Jenderal Fatoni dari pasukan Srigala.
Jok-jok Koda (10)
Jok-jok Koda (10)
Oleh Wak Amin
RADU Mang Sehu ngalapahko mo tor ketek, Mang Ibnu, Komis, Daud rik Mang Iluy nutul Bedah jak bala kang. Lapah jak bah jambatan.
Tungguk lambahan balak, tiyan li maja buhoning pai. Ngintik jak bah. Mihya mak ongka lubang. Jadi juk sipa kita gangamastikona.
"Sabar .. Sabar," bisikkdu Mang Ko
mis. Ya yakin sijada lambahan Be dah.
Mak salah lagi ...
Ssssst
Wat baibai rogoh jak ijan, tanggo. Ngusu ng sondal jopit. Wat imbir podokna, kabolah kanan.
"Kabolah ja. Kabolah ja," cakdu Ma ng Iluy. Tikiri. Kintu tikanan kana han rabaina bakdu mak ongka tia ng.
Bedah nyuci sondal jopit. Mih sang robok. Radu sina ya cakak muloh.
"Api cakku. Bonor kan lambahan Bedah sija?"
Puk .. puk .. puk ...
Mang Iluy, Mang Daud rik Mang Ib nu kompak nopuk-nopuk galah Ma ng Komis.
Kadongiyanda jak dunggak.
"Bedah," cakdu bakas tuha, ubakna Bedah."
"Api Bak?"
"Cuba liyak pai di bah lambahan."
Bedah bugancang rogoh. Diliyakna sangrobok. Mak ongka api-api. Bak du pas Bedah ngaliyak di bah lam bahan, Mang Ibnu cs nyolom.
Tahan nafas.
Radu Bedah cakak ijan, mamang bu limaja luwah muloh jak lom wai.
Kadongiyan sawara ...
'Wat api Bedah?" Tanyadu ubakna sambil ngudut bupipa tojang ronik.
"Mak ongka api-api Bak."
"Bonor mak ongka api-api?"
"Bonor Bak."
"Yu radu," cak ubakna lapah ti do pan. Mojong di kursi rotan.
Ngudut rik ngopi. Kaniyanna punti guring rik gula pasir.
Oleh Wak Amin
RADU Mang Sehu ngalapahko mo tor ketek, Mang Ibnu, Komis, Daud rik Mang Iluy nutul Bedah jak bala kang. Lapah jak bah jambatan.
Tungguk lambahan balak, tiyan li maja buhoning pai. Ngintik jak bah. Mihya mak ongka lubang. Jadi juk sipa kita gangamastikona.
"Sabar .. Sabar," bisikkdu Mang Ko
mis. Ya yakin sijada lambahan Be dah.
Mak salah lagi ...
Ssssst
Wat baibai rogoh jak ijan, tanggo. Ngusu ng sondal jopit. Wat imbir podokna, kabolah kanan.
"Kabolah ja. Kabolah ja," cakdu Ma ng Iluy. Tikiri. Kintu tikanan kana han rabaina bakdu mak ongka tia ng.
Bedah nyuci sondal jopit. Mih sang robok. Radu sina ya cakak muloh.
"Api cakku. Bonor kan lambahan Bedah sija?"
Puk .. puk .. puk ...
Mang Iluy, Mang Daud rik Mang Ib nu kompak nopuk-nopuk galah Ma ng Komis.
Kadongiyanda jak dunggak.
"Bedah," cakdu bakas tuha, ubakna Bedah."
"Api Bak?"
"Cuba liyak pai di bah lambahan."
Bedah bugancang rogoh. Diliyakna sangrobok. Mak ongka api-api. Bak du pas Bedah ngaliyak di bah lam bahan, Mang Ibnu cs nyolom.
Tahan nafas.
Radu Bedah cakak ijan, mamang bu limaja luwah muloh jak lom wai.
Kadongiyan sawara ...
'Wat api Bedah?" Tanyadu ubakna sambil ngudut bupipa tojang ronik.
"Mak ongka api-api Bak."
"Bonor mak ongka api-api?"
"Bonor Bak."
"Yu radu," cak ubakna lapah ti do pan. Mojong di kursi rotan.
Ngudut rik ngopi. Kaniyanna punti guring rik gula pasir.
Jumat, 28 Juni 2019
Jok-jok Koda (9)
Jok-jok Koda (9)
Oleh Wak Amin
"LUY, Luy. Liyak pai," cakdu Mang Daud. Motor ketek dokdu Mang Se hu kak mulang.
"Tonang, tonang. Dang panik. Kita liyak lagi. Pasati nihan ngaliyakna," cawadu Mang Ibnu.
Api sai tiliyak?
Bedah rogoh jak ketek ngusung pa kaian. Rogoh mona. Di balakangna Rus, Romlah, Mala rik Nina.
Radu kaunyin rogoh, ompai Mang Sehu. Dunggak jambatan, Bedah cs kilu pandapat Mang Sehu.
Pakaian sai tiusungsa dipokko dipa mariya aman.
"Usit juga kuti limana mun cak ma mang. Mariya adil."
"Sapa sai kalah, yada ngusung pak aiansa ti lambahan. Singikko pai samantaro .. Juksipa?"
Bedah cs kilu waktu. Tiyan ga bu mufakat pai. Masing-masing kabo ratan bakdu pakaian sai tiusungsa pakaian bakas, layon bai.
Akhirna ...
"Juksija juga Mang Sehu. Sikam bu limasa makinda usit-usit lagi. Dipu tukko nyak sai ngabingiko pakaian rikian mamang. Kintu bagawoh wat sai kacantol," cakdu Bedah.
Ha ha ha ha ...
"Akurda yona. Mang satuju. Oke, ganta kuti bulima mulangda tilam bahan masing-masing. Rokob juga. Dang cawa-cawa rik sai barih," cak du Mang Sehu.
"Tungguk idan Mang?" Tanyadu Rus rik Mala.
"Dai disopok dapok."
"Mun mak dapok?"
"Jadiko jimat jugaya."
He he he he ...
"Jimat panglaris yo Mang?"
"Layonda jimat panglaris Mala," cak du Romlah.
"Jimat supayo awet muda," cakdu Nina.
"Layon .."
"Eeeem jimat supayo bakas haga di kita," jawabdu Mala.
"Nyak Mang Sehy," cakdu Rus. "Mun cakku paranti jago badan. Juk sai pandikar. Rik sapa juga mak ulah rabai. Membela yang benar ..."
He he he ...
"Layon hoda. Niku Dah? Wat komen tar?"
"Mak ongka Mang. Nyak turuk juga api cakdu mamang ..."
Ssssst ...
Di bah lambahan ...
"Tiyan kok bubar. Muloh ti lamba han masing-masing," bisikkdu Ma ng Komis.
"Sipa sai Bedah?" Tanyadu Mang Iluy.
"Sina. Kabolah kanan. Kaliyakan kan?"
"Kaliyakan Mang Komis." Cek cek .. Alang cindonana. Juk bidadari mu lang jak mandi.
Oleh Wak Amin
"LUY, Luy. Liyak pai," cakdu Mang Daud. Motor ketek dokdu Mang Se hu kak mulang.
"Tonang, tonang. Dang panik. Kita liyak lagi. Pasati nihan ngaliyakna," cawadu Mang Ibnu.
Api sai tiliyak?
Bedah rogoh jak ketek ngusung pa kaian. Rogoh mona. Di balakangna Rus, Romlah, Mala rik Nina.
Radu kaunyin rogoh, ompai Mang Sehu. Dunggak jambatan, Bedah cs kilu pandapat Mang Sehu.
Pakaian sai tiusungsa dipokko dipa mariya aman.
"Usit juga kuti limana mun cak ma mang. Mariya adil."
"Sapa sai kalah, yada ngusung pak aiansa ti lambahan. Singikko pai samantaro .. Juksipa?"
Bedah cs kilu waktu. Tiyan ga bu mufakat pai. Masing-masing kabo ratan bakdu pakaian sai tiusungsa pakaian bakas, layon bai.
Akhirna ...
"Juksija juga Mang Sehu. Sikam bu limasa makinda usit-usit lagi. Dipu tukko nyak sai ngabingiko pakaian rikian mamang. Kintu bagawoh wat sai kacantol," cakdu Bedah.
Ha ha ha ha ...
"Akurda yona. Mang satuju. Oke, ganta kuti bulima mulangda tilam bahan masing-masing. Rokob juga. Dang cawa-cawa rik sai barih," cak du Mang Sehu.
"Tungguk idan Mang?" Tanyadu Rus rik Mala.
"Dai disopok dapok."
"Mun mak dapok?"
"Jadiko jimat jugaya."
He he he he ...
"Jimat panglaris yo Mang?"
"Layonda jimat panglaris Mala," cak du Romlah.
"Jimat supayo awet muda," cakdu Nina.
"Layon .."
"Eeeem jimat supayo bakas haga di kita," jawabdu Mala.
"Nyak Mang Sehy," cakdu Rus. "Mun cakku paranti jago badan. Juk sai pandikar. Rik sapa juga mak ulah rabai. Membela yang benar ..."
He he he ...
"Layon hoda. Niku Dah? Wat komen tar?"
"Mak ongka Mang. Nyak turuk juga api cakdu mamang ..."
Ssssst ...
Di bah lambahan ...
"Tiyan kok bubar. Muloh ti lamba han masing-masing," bisikkdu Ma ng Komis.
"Sipa sai Bedah?" Tanyadu Mang Iluy.
"Sina. Kabolah kanan. Kaliyakan kan?"
"Kaliyakan Mang Komis." Cek cek .. Alang cindonana. Juk bidadari mu lang jak mandi.
Kamis, 27 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (33)
Peluk Aku Ya Allah (33)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN harinya perang dilanjut kan kembali. Berawal dari tewasnya salah seorang anggota pasukan uta ma dua terkena anak panah bera cun di dada.
Saat itu juga meriam ditembakkan ke sasaran disertai panah api yang diluncurkan bertubi-tubi. Mengarah ke pasukan berkuda pimpinan Jen deral Komar dan Jenderal Fatoni.
Korban berjatuhan di pihak pasu kan lawan mencapai belasan ora ng. Belum lagi kuda yang jatuh dsb mati tersungkur ke tanah terkena anak panah.
"Tembaaaak!" Teriak Jenderal Bais berulang kali.
Sang Jenderal meminta sebagian pasukan maju ke depan ...
Merasa terdesak, Jenderal Komar dan Jenderal Fatoni menginstruk sikan pasukan untuk mundur meng hindari bantaknya jatuh korban di pihak mereka.
Mayor Kandar tak setuju untuk mun dur. Baginya mundur adalah penge cut. Tak ada kamusnya tentara mundur dari medan perang.
Sikap berbeda diperlihatkan tiga koleganya masing-masing Mayor Tolib, Letnan Bagus dan Kapten Sambas.
Mereka berempat memilih mundur untuk mencari cara lain membalas serangan. Karena bila dipaksakan dengan kondisi seperti ini, medan terbuka dan serangan beruntun dari segala arah, pasti kalah dan akhir nya menyerah.
"Majuuu!" Teriak Mayor Kandar. Dia memberi aba-aba untuk membalas serangan dengan berlari ke depan sambil meluncurkan anak panah dan peluru ke pasukan pemerintah dan pasukan pribumi.
Hua ha ha ha ...
Mayor Kandar tertawa. Dia merasa banyak jatuh korban akibat terkena peluru yang dimuntahkan dan anak panah yang diluncurkan.
Dia terus maju tanpa mengindah kan permintaan Letnan Bagus un tuk segera mundur.
Sampai akhirnya sebuah ledakan besar mencabik-cabik dirinya dan membakar kawasan hutan di seki tarnya.
Oleh Wak Amin
KEESOKAN harinya perang dilanjut kan kembali. Berawal dari tewasnya salah seorang anggota pasukan uta ma dua terkena anak panah bera cun di dada.
Saat itu juga meriam ditembakkan ke sasaran disertai panah api yang diluncurkan bertubi-tubi. Mengarah ke pasukan berkuda pimpinan Jen deral Komar dan Jenderal Fatoni.
Korban berjatuhan di pihak pasu kan lawan mencapai belasan ora ng. Belum lagi kuda yang jatuh dsb mati tersungkur ke tanah terkena anak panah.
"Tembaaaak!" Teriak Jenderal Bais berulang kali.
Sang Jenderal meminta sebagian pasukan maju ke depan ...
Merasa terdesak, Jenderal Komar dan Jenderal Fatoni menginstruk sikan pasukan untuk mundur meng hindari bantaknya jatuh korban di pihak mereka.
Mayor Kandar tak setuju untuk mun dur. Baginya mundur adalah penge cut. Tak ada kamusnya tentara mundur dari medan perang.
Sikap berbeda diperlihatkan tiga koleganya masing-masing Mayor Tolib, Letnan Bagus dan Kapten Sambas.
Mereka berempat memilih mundur untuk mencari cara lain membalas serangan. Karena bila dipaksakan dengan kondisi seperti ini, medan terbuka dan serangan beruntun dari segala arah, pasti kalah dan akhir nya menyerah.
"Majuuu!" Teriak Mayor Kandar. Dia memberi aba-aba untuk membalas serangan dengan berlari ke depan sambil meluncurkan anak panah dan peluru ke pasukan pemerintah dan pasukan pribumi.
Hua ha ha ha ...
Mayor Kandar tertawa. Dia merasa banyak jatuh korban akibat terkena peluru yang dimuntahkan dan anak panah yang diluncurkan.
Dia terus maju tanpa mengindah kan permintaan Letnan Bagus un tuk segera mundur.
Sampai akhirnya sebuah ledakan besar mencabik-cabik dirinya dan membakar kawasan hutan di seki tarnya.
Jok-jok Koda.(8)
Jok-jok Koda (8)
Oleh Wak Amin
MAK sangaja, Mala ambuka' papan pusogi pak podokna mojong. Ya ti kanjot bakdu wat tumpukan kawai di lomna.
"Bedah. Liyak pai," cakdu Mala.
Haaa ...?
"Kawai sapa yoja?" Bedah modoki Mang Sehu sai lagi ngotong kamu di motor ketek.
Mang Sehu icak-icak tikanjot. Ya kok pacak wat kawai rik calana di san. Ya da sai nyingik kona.
"Dok kawan mamang," jawabdu Ma ng Sehu.
"Sapa sai nyingik kona? Pasti Mang Sehu yo?" Sobab, cakdu Bedah,mak mungkin tiba-tiba wat di lom mun mak wat sai ngurukkona.
Mang Sehu akhirna ngaku torus to rang. "Mamang mak ongka maksud api-api. Mih ya bugurau bagawoh."
Rus cawa ...
"Bonor mak cakku Bedah?" Rus so mpat ngaliyak Mang Ibnu cs cakak ketek.
Katahuman gancang-gancang lum pak lagi ti wai ...
"Bonor niku ngaliyakna Rus?"
"Bonor Mang Sehu. Bak api nyak mak koncong uyak di galah nya wakona bakdu mih nyak posai ngaliyakna."
"Bonor cakdu Rus ho Dah, Mala?"
"Bonor Mang," cawadu Mala. Bak api mak dicawako rik Mang Sehu sobab si mamang mak nyinggung sual rikian mamang.
"Pangrasa sikam bulima Mang Se hu posai ngusung ketek," cawadu Mala.
"Rik kawan mamang," akudu Mang Sehu.
"Radu sina saunisa mak pornah kajadian jolma bakas tuha mandi bintung. Wat ya sanak. Bonor mak kawan-kawan?"
"Bonor dayona Mala," cakdu Rus, Nina, Romlah rik Bedah.
"Mun wat juksipa?"
"Diarak jugaya. Gampang yona," jawabdu Bedah.
"Diarah bintung kamona?" Tanyadu Rus.
"Iyuda. Supayo mak lagi ngaluwot," cakdu Bedah.
"Mun ya tinadaimu juksipada?"
"Putuk hubungan. Sopok sai barih."
He he he he ..
Oleh Wak Amin
MAK sangaja, Mala ambuka' papan pusogi pak podokna mojong. Ya ti kanjot bakdu wat tumpukan kawai di lomna.
"Bedah. Liyak pai," cakdu Mala.
Haaa ...?
"Kawai sapa yoja?" Bedah modoki Mang Sehu sai lagi ngotong kamu di motor ketek.
Mang Sehu icak-icak tikanjot. Ya kok pacak wat kawai rik calana di san. Ya da sai nyingik kona.
"Dok kawan mamang," jawabdu Ma ng Sehu.
"Sapa sai nyingik kona? Pasti Mang Sehu yo?" Sobab, cakdu Bedah,mak mungkin tiba-tiba wat di lom mun mak wat sai ngurukkona.
Mang Sehu akhirna ngaku torus to rang. "Mamang mak ongka maksud api-api. Mih ya bugurau bagawoh."
Rus cawa ...
"Bonor mak cakku Bedah?" Rus so mpat ngaliyak Mang Ibnu cs cakak ketek.
Katahuman gancang-gancang lum pak lagi ti wai ...
"Bonor niku ngaliyakna Rus?"
"Bonor Mang Sehu. Bak api nyak mak koncong uyak di galah nya wakona bakdu mih nyak posai ngaliyakna."
"Bonor cakdu Rus ho Dah, Mala?"
"Bonor Mang," cawadu Mala. Bak api mak dicawako rik Mang Sehu sobab si mamang mak nyinggung sual rikian mamang.
"Pangrasa sikam bulima Mang Se hu posai ngusung ketek," cawadu Mala.
"Rik kawan mamang," akudu Mang Sehu.
"Radu sina saunisa mak pornah kajadian jolma bakas tuha mandi bintung. Wat ya sanak. Bonor mak kawan-kawan?"
"Bonor dayona Mala," cakdu Rus, Nina, Romlah rik Bedah.
"Mun wat juksipa?"
"Diarak jugaya. Gampang yona," jawabdu Bedah.
"Diarah bintung kamona?" Tanyadu Rus.
"Iyuda. Supayo mak lagi ngaluwot," cakdu Bedah.
"Mun ya tinadaimu juksipada?"
"Putuk hubungan. Sopok sai barih."
He he he he ..
Rabu, 26 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (32)
Peluk Aku Ya Allah (32)
Oleh Wak Amin
"KOLONEL .."
Setengah berbisik Zainal membe ritahu Kolonel Ihsan bahwa sudah ada pasukan musuh yang terlihat lewat alat teropong.
Kolonel Ihsan mengambil "keker" la lu dia amati dengan seksama. Dia memastikan orang yang di atas ku da itu adalah Jenderal Komar.
Saat itu juga dia memberitahu Jen deral Mansur dan Jenderal Bais be serta segenap pasukan untuk ber siaga penuh ...
"Tahan dulu Kolonel," kata Jenderal Mansur, usai berdiskusi sejenak de ngan koleganya Jenderal Bais.
Hal ini dimaksudkan agar pasukan yang mendekat ke benteng Al-A'la adalah pasukan pemberontak dan pasukan srigala.
"Siap Jenderal," jawab Kolonel Ihs an. Dua meriam besar siap ditem bakkan. Juga senjata api, pedang, tombak dan anak panah.
Zainab mulai mendekati meriam. Dia dipercaya menembakkan meri am untuk mengacaukan pasukan lawan.
Semakin dekat ...
Jenderal Bais memerintahkan pasu kan utama dua untuk melepaskan anak panah beracun. Ternyata se rangan awal ini mengejutkan Jen deral Komar dan Jenderal Fatoni.
Terjadilah jual-beli anak panah. Sa mpai akhirnya ..
"Fire Zainab!" Perintah Jenderal Mansur dengan suara lantang.
Tembakan meriam berhasil men cederai kuda yang ditunggangi Jenderal Komar.
Kuda jatuh, Jenderal Komar pun jat uh. Namun berhasil berdiri dan me merintahkan seluruh pasukannya meluncurkan anak panah api.
Seketika langit pun berubah kuning kemerah-merahan. Beberapa bagi an benteng terkena anak panah dan kobaran api yang kemudian bisa di padamkan pasukan utama satu dan dua.
Terdengar letusan senjata api dan suara ledakan dari kedua belah pi hak. Satu-satu prajurit tewas terke na anak panah dan tembakan.
Darah berceceran dimana-mana ..
Mayat bergelimpangan.
Terdengar teriakan .."Gempuur sampai habiiis .."
Teriakan itu berasal dari Jenderal Komar dan Jenderal Fatoni. Kedua jenderal ini amat marah dan sudah tak sabar ingin menghabisi musuh bebuyutan mereka.
Sementara di benteng Al A'la, Jenderal Mansur meminta segenap pasu kan untuk rehat sejenak. Menghen tikan tembakan dan peluncuran an ak panah.
"Kita rapatkan barisan, perkuat per tahanan dan siaga penuh, " kata Jenderal Bais.
Oleh Wak Amin
"KOLONEL .."
Setengah berbisik Zainal membe ritahu Kolonel Ihsan bahwa sudah ada pasukan musuh yang terlihat lewat alat teropong.
Kolonel Ihsan mengambil "keker" la lu dia amati dengan seksama. Dia memastikan orang yang di atas ku da itu adalah Jenderal Komar.
Saat itu juga dia memberitahu Jen deral Mansur dan Jenderal Bais be serta segenap pasukan untuk ber siaga penuh ...
"Tahan dulu Kolonel," kata Jenderal Mansur, usai berdiskusi sejenak de ngan koleganya Jenderal Bais.
Hal ini dimaksudkan agar pasukan yang mendekat ke benteng Al-A'la adalah pasukan pemberontak dan pasukan srigala.
"Siap Jenderal," jawab Kolonel Ihs an. Dua meriam besar siap ditem bakkan. Juga senjata api, pedang, tombak dan anak panah.
Zainab mulai mendekati meriam. Dia dipercaya menembakkan meri am untuk mengacaukan pasukan lawan.
Semakin dekat ...
Jenderal Bais memerintahkan pasu kan utama dua untuk melepaskan anak panah beracun. Ternyata se rangan awal ini mengejutkan Jen deral Komar dan Jenderal Fatoni.
Terjadilah jual-beli anak panah. Sa mpai akhirnya ..
"Fire Zainab!" Perintah Jenderal Mansur dengan suara lantang.
Tembakan meriam berhasil men cederai kuda yang ditunggangi Jenderal Komar.
Kuda jatuh, Jenderal Komar pun jat uh. Namun berhasil berdiri dan me merintahkan seluruh pasukannya meluncurkan anak panah api.
Seketika langit pun berubah kuning kemerah-merahan. Beberapa bagi an benteng terkena anak panah dan kobaran api yang kemudian bisa di padamkan pasukan utama satu dan dua.
Terdengar letusan senjata api dan suara ledakan dari kedua belah pi hak. Satu-satu prajurit tewas terke na anak panah dan tembakan.
Darah berceceran dimana-mana ..
Mayat bergelimpangan.
Terdengar teriakan .."Gempuur sampai habiiis .."
Teriakan itu berasal dari Jenderal Komar dan Jenderal Fatoni. Kedua jenderal ini amat marah dan sudah tak sabar ingin menghabisi musuh bebuyutan mereka.
Sementara di benteng Al A'la, Jenderal Mansur meminta segenap pasu kan untuk rehat sejenak. Menghen tikan tembakan dan peluncuran an ak panah.
"Kita rapatkan barisan, perkuat per tahanan dan siaga penuh, " kata Jenderal Bais.
Jok-jok Koda (7)
Jok-jok Koda (7)
Oleh Wak Amin
"SAI .. ruwa .. tolu ..."
Nyolom pas motor ketek lapah. Ma ng Sehu rik mouli cindo bulimaja mak pacak bakdu fokus ga ngitori pinggirdu lawok.
Byuuur ...
Partamo luwah jak wai Mang Ibnu. Radu sina Mang Iluy, Mang Komis rik Mang Daud.
Mihongas, kok tamtu.
Ngison, dang cawako lagi.
"Tidudo juga kita. Aman pocakna," cakdu Mang Komis.
Bah lambahan. Mak katinonganga mun busingik dija.
"Kintu wat buhana Mang?" Mang Iluy rabai bakdu tolahna lawok pas ti wat hantu ayo rik buha.
"Mang ongka. Parcayada rik nyak," cakdu Mang Komis.
Bakdu mak ongka sai barih, bupo dokda tiyan limaja di bah lamba han.
Waina ngison ...
Tiba-tiba ..
"Anak buha .." Cakdu Mang Iluy. Sai barih mih maha.
Mak mungkinda buha mih nganik joma sai. Podok munih. Mak jawoh.
"Cuba kuliyak pai." Mang Ibnu nyo lom sangarobok. Ya mih maha.
"Iwak anak'an," cakna. Api sai tikara baiko.
"Bubonor?"
"Liyakda mun mak parcaya."
"Nyolom nyak yo," cawadu Mang Iluy.
Waktu luwah jak wai mih rokob. Ra baina lobon. Liyomna sai lokok.
"Radu. Ganta," cakdu Mang Daud," kita buhoning pai dija."
"Mun cakku dang uniga," sarandu Mang Ibnu.
"Nyak hoda," cakdu Mang Komis.
"Kitaja bintung kaunyin-unyin. Juk sipada mun kita cakak. Mumpung sopi. Mak ongka jolma," cakdu Mang Iluy.
"Cakak tidipa?" Tanyadu Mang Da ud.
Bonor mak ongka jolma. Mihya kita mak pacak di lom lambahan. "Pa cak bagawoh wat jolmana. Bonor mak? Layon curita kintu ..."
"Kintu api Mang Daud?" Tanyadu Mang Iluy.
"Kita bulima nekat .."
"Maksud Mamang"
"Kita cakak bintung. Kita ratongi lambahan sai podok. Kita nginjam kawai. Onti kita ulohko lagi. Juk sipa?"
Oleh Wak Amin
"SAI .. ruwa .. tolu ..."
Nyolom pas motor ketek lapah. Ma ng Sehu rik mouli cindo bulimaja mak pacak bakdu fokus ga ngitori pinggirdu lawok.
Byuuur ...
Partamo luwah jak wai Mang Ibnu. Radu sina Mang Iluy, Mang Komis rik Mang Daud.
Mihongas, kok tamtu.
Ngison, dang cawako lagi.
"Tidudo juga kita. Aman pocakna," cakdu Mang Komis.
Bah lambahan. Mak katinonganga mun busingik dija.
"Kintu wat buhana Mang?" Mang Iluy rabai bakdu tolahna lawok pas ti wat hantu ayo rik buha.
"Mang ongka. Parcayada rik nyak," cakdu Mang Komis.
Bakdu mak ongka sai barih, bupo dokda tiyan limaja di bah lamba han.
Waina ngison ...
Tiba-tiba ..
"Anak buha .." Cakdu Mang Iluy. Sai barih mih maha.
Mak mungkinda buha mih nganik joma sai. Podok munih. Mak jawoh.
"Cuba kuliyak pai." Mang Ibnu nyo lom sangarobok. Ya mih maha.
"Iwak anak'an," cakna. Api sai tikara baiko.
"Bubonor?"
"Liyakda mun mak parcaya."
"Nyolom nyak yo," cawadu Mang Iluy.
Waktu luwah jak wai mih rokob. Ra baina lobon. Liyomna sai lokok.
"Radu. Ganta," cakdu Mang Daud," kita buhoning pai dija."
"Mun cakku dang uniga," sarandu Mang Ibnu.
"Nyak hoda," cakdu Mang Komis.
"Kitaja bintung kaunyin-unyin. Juk sipada mun kita cakak. Mumpung sopi. Mak ongka jolma," cakdu Mang Iluy.
"Cakak tidipa?" Tanyadu Mang Da ud.
Bonor mak ongka jolma. Mihya kita mak pacak di lom lambahan. "Pa cak bagawoh wat jolmana. Bonor mak? Layon curita kintu ..."
"Kintu api Mang Daud?" Tanyadu Mang Iluy.
"Kita bulima nekat .."
"Maksud Mamang"
"Kita cakak bintung. Kita ratongi lambahan sai podok. Kita nginjam kawai. Onti kita ulohko lagi. Juk sipa?"
Selasa, 25 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (31)
Peluk Aku Ya Allah (31)
Oleh Wak Amin
Dilanjutkan dengan firman-Nya :
"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah SWT, sebagai ketetapan yang ter tentu waktunya. Barang siapa meng hendaki pahala di dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akherat itu. Dan Kami akan membe ri balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS Ali Imran 145).
"... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki ke sukaran bagimu. Dan hendaklah ka mu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS Al-Baqarah 185).
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan mu memaklumkan : " Sesungguh nya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada mu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim 7).
"Dan sunggak jika kamu tanyakan kepada mereka : " Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."
"Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk."
"Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)."
"Dan Yang Menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi."
"Supaya kamu duduk di atas pung gungnya kemudian kamu ingat nik mat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya ka mu mengucapkan : Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya."
"Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."
"Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai ba gian daripada-Nya. Sesugguhnya manusia itu benar-benar penging kar yang nyata (terhadap rahmat Allah)." (QS Az Zukhruf 9-15).
Oleh Wak Amin
Dilanjutkan dengan firman-Nya :
"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah SWT, sebagai ketetapan yang ter tentu waktunya. Barang siapa meng hendaki pahala di dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akherat itu. Dan Kami akan membe ri balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS Ali Imran 145).
"... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki ke sukaran bagimu. Dan hendaklah ka mu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS Al-Baqarah 185).
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan mu memaklumkan : " Sesungguh nya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada mu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim 7).
"Dan sunggak jika kamu tanyakan kepada mereka : " Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."
"Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk."
"Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)."
"Dan Yang Menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi."
"Supaya kamu duduk di atas pung gungnya kemudian kamu ingat nik mat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya ka mu mengucapkan : Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya."
"Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."
"Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai ba gian daripada-Nya. Sesugguhnya manusia itu benar-benar penging kar yang nyata (terhadap rahmat Allah)." (QS Az Zukhruf 9-15).
Jok-jok Koda (6)
Jok-jok Koda (6)
Oleh Wak Amin
"MANG, ajak pai oo sikam bulima lapah-lapah. Sangarobok bagawoh," cakdu Bedah.
Layon Bedah bagawoh sai haga. Sai barih haga hoda. Apilagi Mala, Nina rik Romlah. Dang cawako. Ha njak nihan kintu diajak lapah.
"Jadi. Jolma di lambahan mak suya api?"
"Makwat Mang, asal dang uniga," cakdu Rus.
"Payu mun juksina."
Mak unisina mosin motor ketek dihurikko ...
Juksipa rik Mang Ibnu cs?
"Bukotong kuat-kuat," cawadu Ma ng Ibnu rik Mang Iluy. Pocak mak ongka daya lagi.
Ompai ngarasa kangisonan ...
"Tahanko pai. Nikuna bakas. Liyom mun katahuman tiyan dunggak ho pacak."
"Yu yu Mang. Kucuba pokokna yo Mang," cak Mang Iluy.
Mang Komis rik Mang Daud ga ca kak jak balakang. Mih urung bakdu motor ketek bubiluk ti kanan.
Buuur ...
Duuum ...
Juk dugan tiyak tiway ..
Bedah cs tikanjot kok tamtu.
"Sawara api jonaho Mang Sehu?" Tanyadu Rus. Ya rabai kintu hantu ayo sai bukatiyak.
"Mak mungkinda Rus. Juksipa ya cakak. Idan?"
"Iwak ngalumpak," cawadu Mang Sehu radu ngamariksa balakang ketek.
"Tinjuk juga Mang," cakdu Mala. Kin tu dapok pira harani ngapabolana.
Bonor mak nakan?
Oleh Wak Amin
"MANG, ajak pai oo sikam bulima lapah-lapah. Sangarobok bagawoh," cakdu Bedah.
Layon Bedah bagawoh sai haga. Sai barih haga hoda. Apilagi Mala, Nina rik Romlah. Dang cawako. Ha njak nihan kintu diajak lapah.
"Jadi. Jolma di lambahan mak suya api?"
"Makwat Mang, asal dang uniga," cakdu Rus.
"Payu mun juksina."
Mak unisina mosin motor ketek dihurikko ...
Juksipa rik Mang Ibnu cs?
"Bukotong kuat-kuat," cawadu Ma ng Ibnu rik Mang Iluy. Pocak mak ongka daya lagi.
Ompai ngarasa kangisonan ...
"Tahanko pai. Nikuna bakas. Liyom mun katahuman tiyan dunggak ho pacak."
"Yu yu Mang. Kucuba pokokna yo Mang," cak Mang Iluy.
Mang Komis rik Mang Daud ga ca kak jak balakang. Mih urung bakdu motor ketek bubiluk ti kanan.
Buuur ...
Duuum ...
Juk dugan tiyak tiway ..
Bedah cs tikanjot kok tamtu.
"Sawara api jonaho Mang Sehu?" Tanyadu Rus. Ya rabai kintu hantu ayo sai bukatiyak.
"Mak mungkinda Rus. Juksipa ya cakak. Idan?"
"Iwak ngalumpak," cawadu Mang Sehu radu ngamariksa balakang ketek.
"Tinjuk juga Mang," cakdu Mala. Kin tu dapok pira harani ngapabolana.
Bonor mak nakan?
Jok-jok Koda (5)
Jok-jok Koda (5)
Oleh Wak Amin
AWWW ...
Anjorit mangking. Cangkolang jak pangkalan pas ngaliyak Mang Ibnu, Mang Komis, Mang Daud rik Mang Iluy cakak ketek bintung.
Kadongiyan jak motor ketek, tiyan pakja bugancang ngalumpak. Icak-icak nyolom. Timbul tanggolom. Ng intik kintu mouli-mouli honjona kok lijung kaunyin.
Rupana makkung ...
"Mak salah liyak api niku Rus?" Ta nyadu Bedah, rikianna. Satongah mak parcaya.
"Bonor Dah. Mak salah lagi," cakdu Rus, yakin saratus porsin Mang Ib nu cs mandi mak bukawai.
Motor ketek akhirna bulabuh di pa ngkalan. Mang Sehu cakak jak ke tek.
"Maang .. Mang Sehuu!" Mang Se hu ngorah bupodok. Rus haga, mih Bedak rik sai barih rabai.
"Mak api-api. Payuda." Rus parcaya Mang Sehu layon jolma jahat.
"Rus!" Bedah ngotong pungudu Rus.
"Nyak yot," cakna.
"Nyak hoda," cak sai barih.
Waktu bupodok di motor ketek, Ma ng Ibnu cs bugintol di kabolah kiri. Kabolah kanan nimpil di darmaga kayu.
"Juksipa yoja Mang Komis," bisikdu Mang Iluy.
"Pacak mati kangisonan yoja," cak du Mang Daud. Nyolsol ngapi ya tu ruk mandi hanjona.
Sssst ...
"Dapok mak sikam cakak Mang?" Tanyadu Bedah. Ya kapingin. Kok uni mak cakak motor ketek.
Bedah hoda.
Sai barih apilagi.
"Dapok. Lajuda," cakdu Mang Sehu. Rogoh mona.
Nyambuk pungu Rus cs waktu ca kak motor ketek. Supayo mak ti yak. Ketek mak guyang.
Mojong di kursi tojang ...
Oleh Wak Amin
AWWW ...
Anjorit mangking. Cangkolang jak pangkalan pas ngaliyak Mang Ibnu, Mang Komis, Mang Daud rik Mang Iluy cakak ketek bintung.
Kadongiyan jak motor ketek, tiyan pakja bugancang ngalumpak. Icak-icak nyolom. Timbul tanggolom. Ng intik kintu mouli-mouli honjona kok lijung kaunyin.
Rupana makkung ...
"Mak salah liyak api niku Rus?" Ta nyadu Bedah, rikianna. Satongah mak parcaya.
"Bonor Dah. Mak salah lagi," cakdu Rus, yakin saratus porsin Mang Ib nu cs mandi mak bukawai.
Motor ketek akhirna bulabuh di pa ngkalan. Mang Sehu cakak jak ke tek.
"Maang .. Mang Sehuu!" Mang Se hu ngorah bupodok. Rus haga, mih Bedak rik sai barih rabai.
"Mak api-api. Payuda." Rus parcaya Mang Sehu layon jolma jahat.
"Rus!" Bedah ngotong pungudu Rus.
"Nyak yot," cakna.
"Nyak hoda," cak sai barih.
Waktu bupodok di motor ketek, Ma ng Ibnu cs bugintol di kabolah kiri. Kabolah kanan nimpil di darmaga kayu.
"Juksipa yoja Mang Komis," bisikdu Mang Iluy.
"Pacak mati kangisonan yoja," cak du Mang Daud. Nyolsol ngapi ya tu ruk mandi hanjona.
Sssst ...
"Dapok mak sikam cakak Mang?" Tanyadu Bedah. Ya kapingin. Kok uni mak cakak motor ketek.
Bedah hoda.
Sai barih apilagi.
"Dapok. Lajuda," cakdu Mang Sehu. Rogoh mona.
Nyambuk pungu Rus cs waktu ca kak motor ketek. Supayo mak ti yak. Ketek mak guyang.
Mojong di kursi tojang ...
Senin, 24 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (30)
Peluk Aku Ya Allah (30)
Oleh Wak Amin
DI benteng Al- A'la, pasukan peme rintah dan pasukan pribumi juga berbaur dengan satu. Mereka ter bagi menjadi empat pasukan. Pa sukan utama satu dan dua. Pasu kan pelapis satu dan dua.
Pasukan pasukan utama satu dipi mpin Zainab, Kolonel Ihsan dan Kapten Adi. Sedangkan pasukan pelapis dua dikomandoi Letnan Prayoga, Mayor Hadi dan Kolonel Daus.
Sementara pasukan pelapis satu di pimpin Jenderal Mansur. Pasukan pelapis dua dikomandoi Jenderal Bais.
Segenap pasukan belum diperintah kan untuk melakukan penyerang an. Namun tetap bersiaga penuh guna mengsntisipasi serangan tak terduga yang dilancarkan pasukan lawan.
Di saat masa 'menunggu', Zainab mencoba alat teropong gede milik pasukan pemerintah. Dia belum me lihat tanda-tanda kemunculan pa sukan pemberontak dan pasukan srigala.
Lewat 'keker' ini juga Zainab deng an leluasa menyaksikan lebih de kat keindahan hutan perawan dan perbukitan di sekitar benteng Al-A'la.
Berkali-kali Zainab mengucapkan kata "subhanallah ... subhanallah .. subhanallah ...
Sangat indah dan menakjubkan ba gi yang melihat dan menikmatinya. Allah SWT Maha Besar. Dia telah memberikan kenikmatan yang tia da terhingga kepada hamba-Nya.
Hanya sebagian besar dari kita ti dak pernah merasa puas, apalagi bersyukur. Padahal Allah SWT telah berfirman dalam QS Luqman ayat 12 dan 14 :
" Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu : "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguh nya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
" ... Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
Oleh Wak Amin
DI benteng Al- A'la, pasukan peme rintah dan pasukan pribumi juga berbaur dengan satu. Mereka ter bagi menjadi empat pasukan. Pa sukan utama satu dan dua. Pasu kan pelapis satu dan dua.
Pasukan pasukan utama satu dipi mpin Zainab, Kolonel Ihsan dan Kapten Adi. Sedangkan pasukan pelapis dua dikomandoi Letnan Prayoga, Mayor Hadi dan Kolonel Daus.
Sementara pasukan pelapis satu di pimpin Jenderal Mansur. Pasukan pelapis dua dikomandoi Jenderal Bais.
Segenap pasukan belum diperintah kan untuk melakukan penyerang an. Namun tetap bersiaga penuh guna mengsntisipasi serangan tak terduga yang dilancarkan pasukan lawan.
Di saat masa 'menunggu', Zainab mencoba alat teropong gede milik pasukan pemerintah. Dia belum me lihat tanda-tanda kemunculan pa sukan pemberontak dan pasukan srigala.
Lewat 'keker' ini juga Zainab deng an leluasa menyaksikan lebih de kat keindahan hutan perawan dan perbukitan di sekitar benteng Al-A'la.
Berkali-kali Zainab mengucapkan kata "subhanallah ... subhanallah .. subhanallah ...
Sangat indah dan menakjubkan ba gi yang melihat dan menikmatinya. Allah SWT Maha Besar. Dia telah memberikan kenikmatan yang tia da terhingga kepada hamba-Nya.
Hanya sebagian besar dari kita ti dak pernah merasa puas, apalagi bersyukur. Padahal Allah SWT telah berfirman dalam QS Luqman ayat 12 dan 14 :
" Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu : "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguh nya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
" ... Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
Peluk Aku Ya Allah (29)
Peluk Aku Ya Allah (29)
Oleh Wak Amin
"MENGHABISI Jenderal Bais," kata Jenderal Fatoni. Berharap rekannya sesama jenderal ini tidak asal me ngiyakan.
Ha ha ha ...
"Itu masalah kecil Jenderal. Beres la pokoknya."
"Kecil katamu Jenderal Komar?"
"Ya betul sahabat. Apa sulitnya. Dia tampak, kita tembak. Mati. Selesai tugasku kan sahabat?"
"Oke. Aku pegang kata-katamu Jenderal Komar."
"Kamu juga Jenderal. Aku pegang kata-katamu untuk menghabisi Jenderal Mansur."
"Oke Jenderal.
Kedua pasukan mulai bergerak je la ng pagi. Hari masih gelap. Ada dua pasukan. Pasukan berkuda dan pa sukan jalan kaki.
Kedua pasukan memililki tujuan sa ma, yakni memukul mundur dan me mbabat habis pasukan peme rintah dan pasukan pribumi.
Caranya mungkin berbeda. Karena lebih cepat bisa sampai ke sasar an, pasukan berkuda diharapkan mampu membuat kocar-kacir pasu kan lawan dengan pedang, anak pa nah dan senjata api.
Sedangkan pasukan jalan kaki diha rapkan menjadi pasukan berlapis, melakukan pengurungan dan men cegah pasukan lawan untul mela rikan diri.
Pasukan berkuda terbagi dua. Ber kuda satu dan berkuda dua. Berku da satu dipimpin Jenderal Komar, sedangkan Jenderal Fatoni mengo mandoi pasukan berkuda dua.
Bagaimana dengan pasukan ber jalan kaki?
Juga ada dua. Pejalan kaki satu dan pejalan kaki dua. Pasukan pejalan kaki satu dipimpin Letnan Subki, Kapten Andre dan Kolonel Topan.
Sementara pasukan pejalan kaki biasa dua dipimpin Mayor Kandar, Kapten Sambas, Letnan Bagus dan Mayor Tolib.
Oleh Wak Amin
"MENGHABISI Jenderal Bais," kata Jenderal Fatoni. Berharap rekannya sesama jenderal ini tidak asal me ngiyakan.
Ha ha ha ...
"Itu masalah kecil Jenderal. Beres la pokoknya."
"Kecil katamu Jenderal Komar?"
"Ya betul sahabat. Apa sulitnya. Dia tampak, kita tembak. Mati. Selesai tugasku kan sahabat?"
"Oke. Aku pegang kata-katamu Jenderal Komar."
"Kamu juga Jenderal. Aku pegang kata-katamu untuk menghabisi Jenderal Mansur."
"Oke Jenderal.
Kedua pasukan mulai bergerak je la ng pagi. Hari masih gelap. Ada dua pasukan. Pasukan berkuda dan pa sukan jalan kaki.
Kedua pasukan memililki tujuan sa ma, yakni memukul mundur dan me mbabat habis pasukan peme rintah dan pasukan pribumi.
Caranya mungkin berbeda. Karena lebih cepat bisa sampai ke sasar an, pasukan berkuda diharapkan mampu membuat kocar-kacir pasu kan lawan dengan pedang, anak pa nah dan senjata api.
Sedangkan pasukan jalan kaki diha rapkan menjadi pasukan berlapis, melakukan pengurungan dan men cegah pasukan lawan untul mela rikan diri.
Pasukan berkuda terbagi dua. Ber kuda satu dan berkuda dua. Berku da satu dipimpin Jenderal Komar, sedangkan Jenderal Fatoni mengo mandoi pasukan berkuda dua.
Bagaimana dengan pasukan ber jalan kaki?
Juga ada dua. Pejalan kaki satu dan pejalan kaki dua. Pasukan pejalan kaki satu dipimpin Letnan Subki, Kapten Andre dan Kolonel Topan.
Sementara pasukan pejalan kaki biasa dua dipimpin Mayor Kandar, Kapten Sambas, Letnan Bagus dan Mayor Tolib.
Jok-jok Koda (4)
Jok-jok Koda (4)
Oleh Wak Amin
KIRA jam tigoda tiyan pakja lapah tilambahan sai dok ketek. Pokna po dok lawok. Tiyangna kayu, mih nga hujam di lom wai pinggirdu lawok.
Jam satongah pak ompai ngahu rikko mosin ketek. Sai ngahurikko na Mang Sehu. Yoya wat ruwa ke tek. Balak rik ronik.
Lawok tonang waina. Langik holau. Corah. Mihya kabiyansa makwat ra miga. Sai ruwa motor ketek liyu. Wat sai ngatot punti. Wat sai nga tot jolma jak kota ti tiyuh, jak bala nja guwai jualan, monuhko isidu warung.
Motor ketek buhodak dipinggir. Po dok pohon balak.
Mosin dimatiko ...
Huuup ...
Mulaida ngawil ...
Bakdu radu tugas ngantak Mang Ib nu cs ngawil, Mang Sehu parmisi turui.
Landok nihan turuina. Mak ingok api-api. Lobih sangajam ya tika turui di balakang ketek.
Tikanjot ngaliyak mak ongka jolma di lom ketek. Sopi.
Tidipa tiyan pakja ..
Kawil uwat.
Mojong sangarobok. Radu sina ma ha posai.
Lucu mak lucu halokna ...
Ya podoki tumpukan kawai. Disi ngikkona di lom papan lantai ke tek.
Heeem ...
Pasti tiyan pakja mandi bintung. Mih dipaya?
Rabai kintu lobon, Mang Sehu nga hurikko mosin ketek. Lapah tido pan.
Wat mouli mandi rik nyuci di pang kalan. Ngaliyak Mang Sehu sonang. Bakdu kok konal. Kapingin hoda cakak ketek.
Lapah-lapah ...
Oleh Wak Amin
KIRA jam tigoda tiyan pakja lapah tilambahan sai dok ketek. Pokna po dok lawok. Tiyangna kayu, mih nga hujam di lom wai pinggirdu lawok.
Jam satongah pak ompai ngahu rikko mosin ketek. Sai ngahurikko na Mang Sehu. Yoya wat ruwa ke tek. Balak rik ronik.
Lawok tonang waina. Langik holau. Corah. Mihya kabiyansa makwat ra miga. Sai ruwa motor ketek liyu. Wat sai ngatot punti. Wat sai nga tot jolma jak kota ti tiyuh, jak bala nja guwai jualan, monuhko isidu warung.
Motor ketek buhodak dipinggir. Po dok pohon balak.
Mosin dimatiko ...
Huuup ...
Mulaida ngawil ...
Bakdu radu tugas ngantak Mang Ib nu cs ngawil, Mang Sehu parmisi turui.
Landok nihan turuina. Mak ingok api-api. Lobih sangajam ya tika turui di balakang ketek.
Tikanjot ngaliyak mak ongka jolma di lom ketek. Sopi.
Tidipa tiyan pakja ..
Kawil uwat.
Mojong sangarobok. Radu sina ma ha posai.
Lucu mak lucu halokna ...
Ya podoki tumpukan kawai. Disi ngikkona di lom papan lantai ke tek.
Heeem ...
Pasti tiyan pakja mandi bintung. Mih dipaya?
Rabai kintu lobon, Mang Sehu nga hurikko mosin ketek. Lapah tido pan.
Wat mouli mandi rik nyuci di pang kalan. Ngaliyak Mang Sehu sonang. Bakdu kok konal. Kapingin hoda cakak ketek.
Lapah-lapah ...
Minggu, 23 Juni 2019
Jok-jok Koda (3)
Jok-jok Koda (3)
Oleh Wak Amin
BAK API ...
"Nyak mih kapingin bagawoh. Kok uni mak tilawok," cakdu Mang Iluy, ngakuk wai kopi du Mang Ibnu, dii num tungguk bola.
Oooo .. Juksapona.
"Bak api tiba-tiba kapingin ho Mang Iluy?" Tanyadu Mang Komis sambil nyurilanko Mang Daud, jak jona ngu dut mak buapui.
"Saunika kanomonan di darak. Kok pacak kuti kan. Lambahanku ja pai ja podok lawok. Ganta mak lagi. Ja woh jak lawok. Podok rang raya ba lak. Mandi way liding. Paija bula ngui. Ingok kan kuti tolu ..?"
"Ingokda. Mak kambih lupa," cakdu Mang Daud. Ngaluwahko kaling ro nik isina tambaku sik.
"Mihya, jak sapa niku pacak sikam ga tilawok?"
"Andongi bagawoh Mang Iluy."
"Jakpa niku andongi?"
"Jak warung. Jonaho nyak singgah di warung. Amboli rukuk sabatang. Radu ambayar, liyuda Mang Daud. Pocak sawara Mang Ibnu. Kuintik da jak warung. Bonor Mang Ibnu, cakku di lom hati."
"Radu sina niku bupodok Mang?" Tanyadu Mang Komis. Ngakuk tam baku sik cutik, dikurukko di lom ru kuk pucuk.
Dipadokko ...
Digulung-gulung ...
Dijuk apuy ...
Diudut ...
Isssssst ..
Luwah hasok.
Sodooop ...
"Makwat Mang. Katahuman. Nyak mih andongi bagawoh. Kok radu. Pas Mang Ibnu rik Mang Daud ca kak lambahan, ompai nyak bupo dok.
Ooooo juksapona ...
"Juksipa Mang Benu?"
"Tunggu pai sangarobok Mang Komis yo. Nyak kuruk pai," cakdu Mang Ibnu.
Ya ga nolpun pai jolma sai galak nginjamko motor ketek.
Oleh Wak Amin
BAK API ...
"Nyak mih kapingin bagawoh. Kok uni mak tilawok," cakdu Mang Iluy, ngakuk wai kopi du Mang Ibnu, dii num tungguk bola.
Oooo .. Juksapona.
"Bak api tiba-tiba kapingin ho Mang Iluy?" Tanyadu Mang Komis sambil nyurilanko Mang Daud, jak jona ngu dut mak buapui.
"Saunika kanomonan di darak. Kok pacak kuti kan. Lambahanku ja pai ja podok lawok. Ganta mak lagi. Ja woh jak lawok. Podok rang raya ba lak. Mandi way liding. Paija bula ngui. Ingok kan kuti tolu ..?"
"Ingokda. Mak kambih lupa," cakdu Mang Daud. Ngaluwahko kaling ro nik isina tambaku sik.
"Mihya, jak sapa niku pacak sikam ga tilawok?"
"Andongi bagawoh Mang Iluy."
"Jakpa niku andongi?"
"Jak warung. Jonaho nyak singgah di warung. Amboli rukuk sabatang. Radu ambayar, liyuda Mang Daud. Pocak sawara Mang Ibnu. Kuintik da jak warung. Bonor Mang Ibnu, cakku di lom hati."
"Radu sina niku bupodok Mang?" Tanyadu Mang Komis. Ngakuk tam baku sik cutik, dikurukko di lom ru kuk pucuk.
Dipadokko ...
Digulung-gulung ...
Dijuk apuy ...
Diudut ...
Isssssst ..
Luwah hasok.
Sodooop ...
"Makwat Mang. Katahuman. Nyak mih andongi bagawoh. Kok radu. Pas Mang Ibnu rik Mang Daud ca kak lambahan, ompai nyak bupo dok.
Ooooo juksapona ...
"Juksipa Mang Benu?"
"Tunggu pai sangarobok Mang Komis yo. Nyak kuruk pai," cakdu Mang Ibnu.
Ya ga nolpun pai jolma sai galak nginjamko motor ketek.
Jumat, 21 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (28)
Peluk Aku Ya Allah (28)
Oleh Wak Amin
KEDUA jenderal yang cukup disega ni ini memanfaatkan masa istirahat nya dengan bertukar pikiran, khu susnya menyangkut upaya menyi kat habis pasukan pribumi dan pasukan pemerintah.
Sambil duduk lesehan di atas rum put dinaungi pepohonan rindang, Jenderal Fatoni mengusulkan agar pasukan pemberontak dan pasukan srigala berbaur jadi satu.
"Bisa satu atau lebih pasukan. Nah ini kita sebut pasukan bersama," kata Jenderal Fatoni.
"Pada prinspipnya saya setuju Jen deral. Karena menurut saya, kalau kita sudah sepakat dan seiya seka ta, semuanya bisa jalan. Tapi saya menghendaki lebih dari itu," ujar Jenderal Komar.
"Apa yang saya maksud lebih dari itu, tidak lain dan tidak bukan ada lah lebih dari sekadar pasukan. Um pamanya masalah teknis penyeran gan, strategi dan taktik," terang Je nderal Komar di dampingi Mayor Kandar.
"Tentu mencakup semuanya Jende ral," kata Jenderal Fatoni.
Yang penting, kata Jenderal Komar, sesama kita, utama personil pasu kan harus kompak, satu langkah dan saling percaya.
"Yang penting lagi taat pada pimpi nan. Itu saja," kata Jenderal Fatoni.
"Saya boleh tambahkan Jenderal?"
"Silakan Jenderal."
"Bantu saya juga untuk membekuk Jenderal Mansur sahabat .."
Ha ha ha ..
"Dia telah menghancurkan pasukan kami. Nyawa dibayar nyawa. Selain kepalanya harus ditebas, pasukan nya juga harus mati ..."
"Siap Jenderal. Saya akan mem ban tu anda melenyapkan Jenderal Mansur beserta seluruh pengikutnya."
Ha ha ha ha ...
"Tapi Jenderal Komar. Anda harus bantu saya juga."
Ha ha ha ...
"Bantu apa wahai sahabat. Katakan sekarang biar hatiku tenang ..."
Ha ha ha ha ...
Oleh Wak Amin
KEDUA jenderal yang cukup disega ni ini memanfaatkan masa istirahat nya dengan bertukar pikiran, khu susnya menyangkut upaya menyi kat habis pasukan pribumi dan pasukan pemerintah.
Sambil duduk lesehan di atas rum put dinaungi pepohonan rindang, Jenderal Fatoni mengusulkan agar pasukan pemberontak dan pasukan srigala berbaur jadi satu.
"Bisa satu atau lebih pasukan. Nah ini kita sebut pasukan bersama," kata Jenderal Fatoni.
"Pada prinspipnya saya setuju Jen deral. Karena menurut saya, kalau kita sudah sepakat dan seiya seka ta, semuanya bisa jalan. Tapi saya menghendaki lebih dari itu," ujar Jenderal Komar.
"Apa yang saya maksud lebih dari itu, tidak lain dan tidak bukan ada lah lebih dari sekadar pasukan. Um pamanya masalah teknis penyeran gan, strategi dan taktik," terang Je nderal Komar di dampingi Mayor Kandar.
"Tentu mencakup semuanya Jende ral," kata Jenderal Fatoni.
Yang penting, kata Jenderal Komar, sesama kita, utama personil pasu kan harus kompak, satu langkah dan saling percaya.
"Yang penting lagi taat pada pimpi nan. Itu saja," kata Jenderal Fatoni.
"Saya boleh tambahkan Jenderal?"
"Silakan Jenderal."
"Bantu saya juga untuk membekuk Jenderal Mansur sahabat .."
Ha ha ha ..
"Dia telah menghancurkan pasukan kami. Nyawa dibayar nyawa. Selain kepalanya harus ditebas, pasukan nya juga harus mati ..."
"Siap Jenderal. Saya akan mem ban tu anda melenyapkan Jenderal Mansur beserta seluruh pengikutnya."
Ha ha ha ha ...
"Tapi Jenderal Komar. Anda harus bantu saya juga."
Ha ha ha ...
"Bantu apa wahai sahabat. Katakan sekarang biar hatiku tenang ..."
Ha ha ha ha ...
Jok-jok Koda (1)
Jok-jok Koda (1)
Oleh Wak Amin
LAGI bangik mongan gulai tampu yak matah, kangkung tingrobus, sambol cungkadiro rik iwak botuk guring, anakdu bungsu Mang Ibnu ratong ngonjuk pacak kintu wat tamu di luwah.
"Sapa Loh?"
"Lupa nyak Bak," cakdu Duloh ngui kui hulu mak gatol.
"Cawako tunggu sangarobok. Ubak lokok mongan."
"Siap Bak."
Sapa tamu di luwah ho yo?"
Mang Komis. Wajar Duloh mak pa cak. Bakdu saunisa Mang Ibnu sai galak tilambahan.
"Cawaku rik ubakmu, wat Mang Komis. Juksina juga."
"Siyap Mang Komis.
Ompai ga bubuh lagi, Duloh ratong lagi.
"Tolahna Mang Komis, Bak."
"Sapa tolahna?"
"Mang Komis, cakna jona Bak," cak du Duloh. Tukoran pai. Ubakna lu wah nomuni Mang Komis. Ya mo ngan. Kok botoh jakjona.
Di luwah, Mang Komis rik Mang Ib nu ngudut rukuk pucuk butamba ku. Kok candu barangkali, pingsan ngahisop hasok luwah banguk, hi rung, rik mata.
"Kita nyopok iwak Nu, haga mak niku?"
"Rik api?"
"Parahuku. Haga yo?"
"Ngawil api anjala?"
"Kita liyakda nonti. Sai pontong niku haga."
"Kok tamtu haga. Mih idan? Ganta sada api nonti dibi?"
"Ngudut pai oi iyu."
"Haga kuguwaiko kopi?"
"Haga. Jak jona nyak gacawa. Mih bak apiya, mak luwah-luwah cawa na."
"Pahik api mamis?"
"Mamis juga Nu."
"Golas balak api ronik?"
"Balak jadi, ronik jadi. Sai ponting nginum kopi."
Ha ha ha ha ...
Oleh Wak Amin
LAGI bangik mongan gulai tampu yak matah, kangkung tingrobus, sambol cungkadiro rik iwak botuk guring, anakdu bungsu Mang Ibnu ratong ngonjuk pacak kintu wat tamu di luwah.
"Sapa Loh?"
"Lupa nyak Bak," cakdu Duloh ngui kui hulu mak gatol.
"Cawako tunggu sangarobok. Ubak lokok mongan."
"Siap Bak."
Sapa tamu di luwah ho yo?"
Mang Komis. Wajar Duloh mak pa cak. Bakdu saunisa Mang Ibnu sai galak tilambahan.
"Cawaku rik ubakmu, wat Mang Komis. Juksina juga."
"Siyap Mang Komis.
Ompai ga bubuh lagi, Duloh ratong lagi.
"Tolahna Mang Komis, Bak."
"Sapa tolahna?"
"Mang Komis, cakna jona Bak," cak du Duloh. Tukoran pai. Ubakna lu wah nomuni Mang Komis. Ya mo ngan. Kok botoh jakjona.
Di luwah, Mang Komis rik Mang Ib nu ngudut rukuk pucuk butamba ku. Kok candu barangkali, pingsan ngahisop hasok luwah banguk, hi rung, rik mata.
"Kita nyopok iwak Nu, haga mak niku?"
"Rik api?"
"Parahuku. Haga yo?"
"Ngawil api anjala?"
"Kita liyakda nonti. Sai pontong niku haga."
"Kok tamtu haga. Mih idan? Ganta sada api nonti dibi?"
"Ngudut pai oi iyu."
"Haga kuguwaiko kopi?"
"Haga. Jak jona nyak gacawa. Mih bak apiya, mak luwah-luwah cawa na."
"Pahik api mamis?"
"Mamis juga Nu."
"Golas balak api ronik?"
"Balak jadi, ronik jadi. Sai ponting nginum kopi."
Ha ha ha ha ...
Jok-jok Koda (2)
Jok-jok Koda (2)
Oleh Wak Amin
MAK unisina, liyuda Mang Daud. Ngusung tangkul sambil bunyanyi. Juksija nyanyianna ...
Alang saro nyopok duitsa
Anggoman di lambahan ga
suya bagawoh ...
Anak mih pacak nadahko
pungu ...
Alang mak bangik huriksa
Ooi iyuu ..
Kalopit mak ngisi duit
Banguk poros
Ngudut mak pacak ...
Amun pacak huriksa juksija
Guwai api kahwin gancang
Nyopok pai gawe sina
sai holaw ...
Mak nyusahko jolma tuha
sina sai disopok ...
Duhai iwak tulung nyak oi
Dang lijung kintu ditangkul
Sai jadida asal balak
Gulai mongan onti bingi ..
Ha ha ha ha ...
"Manjau pay sangarobok oi Mang Daud," cakdu Mang Ibnu, ompai ga rogoh jak ijan batu.
"Onti juga oi. Ga gancang yoja. Rabaina, kintu mak gancang iwakna cang kolang ..."
Ha ha ha ...
"Gabung rik sikam ruwa juga Mang Daud, haga yo?" Mun gabung kan jadi tolu. Kintu bagawoh iwakna bupodok.
"Kuti ruwa ga tidipa?"
"Ga nyopok iwak hoda Mang Daud," cakdu Mang Ibnu.
"Nyopok iwakna buparahu Mang. Hagayo?"
"Mih mojong," cakdu Mang Ibunu, "Mak kambih mak haga."
"Ganta api nonti?"
"Sangarobok lagi. Cakak dapai. Kita ngopi. Cawa-cawa sangarobok. Ra du sina ompai go tilawok," cakdu Mang Komis.
Ompaida ga mojong, hongas-ho ngas ratongda Mang Iluy sambil cawa .."Turuk nyak oi. Iyot nyak oi. Pangatu pingsan sada oi ..."
Oleh Wak Amin
MAK unisina, liyuda Mang Daud. Ngusung tangkul sambil bunyanyi. Juksija nyanyianna ...
Alang saro nyopok duitsa
Anggoman di lambahan ga
suya bagawoh ...
Anak mih pacak nadahko
pungu ...
Alang mak bangik huriksa
Ooi iyuu ..
Kalopit mak ngisi duit
Banguk poros
Ngudut mak pacak ...
Amun pacak huriksa juksija
Guwai api kahwin gancang
Nyopok pai gawe sina
sai holaw ...
Mak nyusahko jolma tuha
sina sai disopok ...
Duhai iwak tulung nyak oi
Dang lijung kintu ditangkul
Sai jadida asal balak
Gulai mongan onti bingi ..
Ha ha ha ha ...
"Manjau pay sangarobok oi Mang Daud," cakdu Mang Ibnu, ompai ga rogoh jak ijan batu.
"Onti juga oi. Ga gancang yoja. Rabaina, kintu mak gancang iwakna cang kolang ..."
Ha ha ha ...
"Gabung rik sikam ruwa juga Mang Daud, haga yo?" Mun gabung kan jadi tolu. Kintu bagawoh iwakna bupodok.
"Kuti ruwa ga tidipa?"
"Ga nyopok iwak hoda Mang Daud," cakdu Mang Ibnu.
"Nyopok iwakna buparahu Mang. Hagayo?"
"Mih mojong," cakdu Mang Ibunu, "Mak kambih mak haga."
"Ganta api nonti?"
"Sangarobok lagi. Cakak dapai. Kita ngopi. Cawa-cawa sangarobok. Ra du sina ompai go tilawok," cakdu Mang Komis.
Ompaida ga mojong, hongas-ho ngas ratongda Mang Iluy sambil cawa .."Turuk nyak oi. Iyot nyak oi. Pangatu pingsan sada oi ..."
Kamis, 20 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (27)
Peluk Aku Ya Allah (27)
Oleh Wak Amin
DI persimpangan tiga jalan, pasuk an pemberontak bertemu dengan pasukan srigala. Sama sekali tak saling kenal, sempat 'adu jotos' an tara prajurit terdepan kedua pa sukan.
Tapi tak berlangsung lama. Karena adu jotos tangan kosong dan meng gunakan pedang itu berhasil dilerai oleh Jenderal Komar dan Jenderal Fatoni.
Pasukan kedua belah pihak kem bali tenang ...
"Wahai tentaraku sekalian," kata Jenderal Komar," Mereka bukan mu suh kita. Mereka adalah kawan, teman dan sahabat kita ..."
Serempak kedua laskar pasukan an ti pemerintah ini berlari dan berpe lukan erat. Saling meminta maaf se belum kembali ke posisi mereka masing-masing.
Dilanjutkan pelukan persahabatan antara Jenderal Komar dan Jende ral Fatoni. Lama juga keduanya ber pelukan. Sempat bikin haru kedua pasukan.
"Lama kita tak bertemu Jenderal," ucap Jenderal Fatoni sambil mene puk pundak sahabatnya itu.
"Aku juga tak menyangka bertemu kamu disini Jenderal. Apa kabarmu sekarang? Kamu terlihat lebih segar dan berotot."
Ha ha ha ha ...
Jenderal Komar memperkenalkan tiga pengawalnya. "Sebelah kiri Ma yor Talib, tengah Kapten Sambas, sebelah kanan Letnan Bagus."
Mereka pun bersalaman sambil memberi hormat ...
Kepada sahabatnya, Jenderal Fato ni juga memperkenalkan orang ter dekat dan kepercayannya.
"Sama dengan kamu Jenderal Kom ar, saya juga punya tiga pengawal khusus. Ketiga-tiganya wajib ikut serta kemana saja saya berada."
Mereka adalah Letnan Subki, Kap ten Andre dan Kolonel Topan. "Me reka ini lebih berpengalaman dari saya Jenderal."
Ha ha ha ...
Jenderal Komar pun bercerita mere ka kini berusaha mengejar pasuk an pribumi.
"Mereka sudah terdeteksi, dan saya yakin dalam waktu yang tidak terla lu lama lagi dapat menangkap Jen deral Mansur hidup-hidup," kata Jen deral Komar sambil menahan rasa amarahnya yang mulai memuncak.
"Kamu dendam rupanya Jenderal. Apa yang terjadi sahabatku? Coba ceritakan kepadaku sekarang!"
"Nantilah kuceritakan sahabat. Se karang kita istirahat dulu. Bagai mana?"
"Baiklah sahabatku, Jenderal Ko mar yang gagah perkasa."
Oleh Wak Amin
DI persimpangan tiga jalan, pasuk an pemberontak bertemu dengan pasukan srigala. Sama sekali tak saling kenal, sempat 'adu jotos' an tara prajurit terdepan kedua pa sukan.
Tapi tak berlangsung lama. Karena adu jotos tangan kosong dan meng gunakan pedang itu berhasil dilerai oleh Jenderal Komar dan Jenderal Fatoni.
Pasukan kedua belah pihak kem bali tenang ...
"Wahai tentaraku sekalian," kata Jenderal Komar," Mereka bukan mu suh kita. Mereka adalah kawan, teman dan sahabat kita ..."
Serempak kedua laskar pasukan an ti pemerintah ini berlari dan berpe lukan erat. Saling meminta maaf se belum kembali ke posisi mereka masing-masing.
Dilanjutkan pelukan persahabatan antara Jenderal Komar dan Jende ral Fatoni. Lama juga keduanya ber pelukan. Sempat bikin haru kedua pasukan.
"Lama kita tak bertemu Jenderal," ucap Jenderal Fatoni sambil mene puk pundak sahabatnya itu.
"Aku juga tak menyangka bertemu kamu disini Jenderal. Apa kabarmu sekarang? Kamu terlihat lebih segar dan berotot."
Ha ha ha ha ...
Jenderal Komar memperkenalkan tiga pengawalnya. "Sebelah kiri Ma yor Talib, tengah Kapten Sambas, sebelah kanan Letnan Bagus."
Mereka pun bersalaman sambil memberi hormat ...
Kepada sahabatnya, Jenderal Fato ni juga memperkenalkan orang ter dekat dan kepercayannya.
"Sama dengan kamu Jenderal Kom ar, saya juga punya tiga pengawal khusus. Ketiga-tiganya wajib ikut serta kemana saja saya berada."
Mereka adalah Letnan Subki, Kap ten Andre dan Kolonel Topan. "Me reka ini lebih berpengalaman dari saya Jenderal."
Ha ha ha ...
Jenderal Komar pun bercerita mere ka kini berusaha mengejar pasuk an pribumi.
"Mereka sudah terdeteksi, dan saya yakin dalam waktu yang tidak terla lu lama lagi dapat menangkap Jen deral Mansur hidup-hidup," kata Jen deral Komar sambil menahan rasa amarahnya yang mulai memuncak.
"Kamu dendam rupanya Jenderal. Apa yang terjadi sahabatku? Coba ceritakan kepadaku sekarang!"
"Nantilah kuceritakan sahabat. Se karang kita istirahat dulu. Bagai mana?"
"Baiklah sahabatku, Jenderal Ko mar yang gagah perkasa."
Mang Kerio (138-tamat)
Mang Kerio (138)
Oleh Wak Amin
"KELEMAK'ANNYO dimanola Ma?" Tanyo Sinta penasaran.
"Yo banyakla," jawab Yunita, mintak tambah susu lagi. Segelas besak masih kurang.
"Gek Mama gendut."
"Kalu gendut ngapo memang?"
"Dak laku lagi Ma."
He he he ..
"Cepet. Cepet buatke susu Mama."
"Oke Ma."
Ruponyo Yunita bingung jugo nak mulak'i darimano dio nyeritoke soal lemak kelemak'antu.
Untungla, pas Sinta narokke gelas susu anget pucuk meja bulet, dio tau apo yang nak diomongke.
"Lanjut Ma ceritonyo."
"Di antaranyo waktu Papa kau enggendong Mama."
Yunita senyum-senyum dewek kalu ngingetnyo ...
"Perasaan biaso-biaso bae Ma."
"Itu kato kau. Kato Mama idak mak itu Say."
"Apola lemaknyo Ma?"
"Gendongannyotu Say. Kalu yang enggendong wong yang kito cinto pasti lemak. Sekarang Mama tanyo kau, waktu kau digendong Papa dulu cakmano?"
"Cakmanolaye. Susah ngomongke nyo Ma. Dikatoke lemak iyo jugo sih. Dikatoke dak lemak yo biso jugola."
"Ai dakken ado cak itu Say. Retinyo tu kau dak sayang samo Papa kau."
"Sayangla Ma."
"Ngapo biso lemak dak lemaktu?"
Sinta bepikir denget ...
"Mak ini Ma ..." Numpang nyicip seteguk susu Mamanyo. Karno lemak abis enam teguk.
"Makmanotu Say?" Yunita engge ser kursinyo supayo agak bedem petan dengan kursi Sinta.
"Eeem .. Dikatoke lemak karno wak tu digendong Papa raso adem. Po koknyo dunioni cak surgo Ma."
"Dak lemaknyo?"
"Mama galak cemburuan."
"Mama? Cemburu samo siapo?"
"Samo Sintala."
"Idak ah. Mama dak pernah cem buru," kato Yunita, asak enjawab bae.
"Ngapo setiap kali Sinta digendong Papa, muko Mama cemberut. Cak dak seneng?"
Senyum dak lemak ...
"Ngapola Ma?"
"Idak ngapo-ngapo Say. Cuman Pa pa kautu galak sekiwit ..."
"Sekiwit makmanotu Ma?"
"Sudah enggendong kau, Mama nak mintak gendong, jawab Papa kau .. La tuwo Ma. Jangan galak balik bu dak."
Ha ha ha ...(tamat)
Oleh Wak Amin
"KELEMAK'ANNYO dimanola Ma?" Tanyo Sinta penasaran.
"Yo banyakla," jawab Yunita, mintak tambah susu lagi. Segelas besak masih kurang.
"Gek Mama gendut."
"Kalu gendut ngapo memang?"
"Dak laku lagi Ma."
He he he ..
"Cepet. Cepet buatke susu Mama."
"Oke Ma."
Ruponyo Yunita bingung jugo nak mulak'i darimano dio nyeritoke soal lemak kelemak'antu.
Untungla, pas Sinta narokke gelas susu anget pucuk meja bulet, dio tau apo yang nak diomongke.
"Lanjut Ma ceritonyo."
"Di antaranyo waktu Papa kau enggendong Mama."
Yunita senyum-senyum dewek kalu ngingetnyo ...
"Perasaan biaso-biaso bae Ma."
"Itu kato kau. Kato Mama idak mak itu Say."
"Apola lemaknyo Ma?"
"Gendongannyotu Say. Kalu yang enggendong wong yang kito cinto pasti lemak. Sekarang Mama tanyo kau, waktu kau digendong Papa dulu cakmano?"
"Cakmanolaye. Susah ngomongke nyo Ma. Dikatoke lemak iyo jugo sih. Dikatoke dak lemak yo biso jugola."
"Ai dakken ado cak itu Say. Retinyo tu kau dak sayang samo Papa kau."
"Sayangla Ma."
"Ngapo biso lemak dak lemaktu?"
Sinta bepikir denget ...
"Mak ini Ma ..." Numpang nyicip seteguk susu Mamanyo. Karno lemak abis enam teguk.
"Makmanotu Say?" Yunita engge ser kursinyo supayo agak bedem petan dengan kursi Sinta.
"Eeem .. Dikatoke lemak karno wak tu digendong Papa raso adem. Po koknyo dunioni cak surgo Ma."
"Dak lemaknyo?"
"Mama galak cemburuan."
"Mama? Cemburu samo siapo?"
"Samo Sintala."
"Idak ah. Mama dak pernah cem buru," kato Yunita, asak enjawab bae.
"Ngapo setiap kali Sinta digendong Papa, muko Mama cemberut. Cak dak seneng?"
Senyum dak lemak ...
"Ngapola Ma?"
"Idak ngapo-ngapo Say. Cuman Pa pa kautu galak sekiwit ..."
"Sekiwit makmanotu Ma?"
"Sudah enggendong kau, Mama nak mintak gendong, jawab Papa kau .. La tuwo Ma. Jangan galak balik bu dak."
Ha ha ha ...(tamat)
Rabu, 19 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (26)
Peluk Aku Ya Allah (26)
Oleh Wak Amin
"MENURUT anda Jenderal, apakah pi hak pemerintah sudah memiliki st rategi khusus untuk menghadapi dua kelompok ini?" Tanya Jenderal Mansur.
"Sudah Jenderal Mansur. Kita juga sudah berbicara dengan Yang Mulia Presiden Akbar. Kami tentu tidak m au gegabah. Kami bisa lebih kuat jika mengajak serta pihak lain. Nah, saat di rapat, saya mengusulkan ke pada peserta rapat, kenapa tidak di coba untuk menawarkan kerjasama dengan pihak lain, dalam hal ini de ngan pasukan pribumi."
Waktu itu, kata Jenderal Bais, terja di perdebatan alot. "Saya sendiri sempat pesimis waktu itu. Karena hampir sebagian peserta rapat ti dak mendukung rencana saya Jen deral."
Rapat akhirnya diketuk dan ditutup tanpa hasil yang, menurut saya, ka ta Jenderal Bais, yang memuaskan dan melegakan hati.
Rapat dilanjutkan di hari berikut nya. Pada rapat kali ini sudah sepa ro peserta rapat mendukung ren cana dan usulan yang diajukan Jenderal Bais.
"Alhamdulillah disetujui juga akhir nya Jenderal Mansur dan Kolonel Ihsan," kata Jenderal Bais sambil tersenyum lega.
Kami carilah keberadaan anda dan pasukan pribumi Jenderal. "Kami pilih hari yang baik. Sebelum saya dan beberapa orang kepercayaan saya, seperti Mayor Hadi, Letnan Prayoga dan Kolonel Daus mene mui anda di istana megah ini."
Ha ha ha ...
"Megah dapat ketemu Jenderal," kara Jenderal Mansur setengah berkelakar.
Pembicaraan terhenti sejenak sete lah Zainab mempersilakan tamu un dangan mencicipi hidangan ala ka darnya di ruang tengah terbuka istana.
Pembicaraan dilanjutkan kembali usai shalat zuhur berjamaah ...
Kali ini lebih memfokuskan pada strategi meredam serangan dari pa sukan pemberontak dan pasukan srigala.
Oleh Wak Amin
"MENURUT anda Jenderal, apakah pi hak pemerintah sudah memiliki st rategi khusus untuk menghadapi dua kelompok ini?" Tanya Jenderal Mansur.
"Sudah Jenderal Mansur. Kita juga sudah berbicara dengan Yang Mulia Presiden Akbar. Kami tentu tidak m au gegabah. Kami bisa lebih kuat jika mengajak serta pihak lain. Nah, saat di rapat, saya mengusulkan ke pada peserta rapat, kenapa tidak di coba untuk menawarkan kerjasama dengan pihak lain, dalam hal ini de ngan pasukan pribumi."
Waktu itu, kata Jenderal Bais, terja di perdebatan alot. "Saya sendiri sempat pesimis waktu itu. Karena hampir sebagian peserta rapat ti dak mendukung rencana saya Jen deral."
Rapat akhirnya diketuk dan ditutup tanpa hasil yang, menurut saya, ka ta Jenderal Bais, yang memuaskan dan melegakan hati.
Rapat dilanjutkan di hari berikut nya. Pada rapat kali ini sudah sepa ro peserta rapat mendukung ren cana dan usulan yang diajukan Jenderal Bais.
"Alhamdulillah disetujui juga akhir nya Jenderal Mansur dan Kolonel Ihsan," kata Jenderal Bais sambil tersenyum lega.
Kami carilah keberadaan anda dan pasukan pribumi Jenderal. "Kami pilih hari yang baik. Sebelum saya dan beberapa orang kepercayaan saya, seperti Mayor Hadi, Letnan Prayoga dan Kolonel Daus mene mui anda di istana megah ini."
Ha ha ha ...
"Megah dapat ketemu Jenderal," kara Jenderal Mansur setengah berkelakar.
Pembicaraan terhenti sejenak sete lah Zainab mempersilakan tamu un dangan mencicipi hidangan ala ka darnya di ruang tengah terbuka istana.
Pembicaraan dilanjutkan kembali usai shalat zuhur berjamaah ...
Kali ini lebih memfokuskan pada strategi meredam serangan dari pa sukan pemberontak dan pasukan srigala.
- ********
Mang Kerio (137)
Mang Kerio (137)
Oleh Wak Amin
SEBENERNYO, kato Yunita, akhir nyo ngomong sejujurnyo, dio ingat samo lakinyo yang sudah 'koid', waktu bulan madu dulu.
Hik hik hik ...
Sinta ketawo tapi ditahan pake' ta ngan. Tedenger cak kucing lagi flu samo batuk.
"Mamatu ngambok'i apo nyinggung Sinta Ma?" Sinta balik betanyo wak tu Mamanyo nanyo ngapo sampe ketawo.
"Idak ngambok'i idak Say. Nying gung apolagi. Mamatu cuman ng enjuk tau kau bae. Bahwa antaro Mama samo Papa kautu ibarat Romeo and Yuliet."
Hik hik hik ...
Sekalini Sinta ketawo niyan.
"Bener Say. Waktu bulan madu du lu. Waktu di pantai, Mama samo Papa saling bekejeran."
"Papa yang ngejer, apo Mama?"
"Mama Say."
"Ngapo Mama yang ngejer. Mesti nyo kan Papa."
"Karno Mama kesakitan dicubit Papa."
"Tekejer Ma?"
"Tekejerla. Mama cepet belarinyo. Sedangke Papa kautu lambat cak bebek entok."
He he he ...
"Terus apo hubungannyo dengan Romeo and Yuliet Ma?"
"Papa kautu calak ruponyo. Waktu Mama dapet ningkepnyo, dio terum pak enggendong Mama .."
"Terus Ma?"
"Dahtu ditenggelemkenyo Mama."
"Mati dong Ma."
"Idak say. Kamitu samo-samo nye lem. Yo dahtu timbul lagi. Nyelem lagi. Dahtu ngajari Mama berena ng. Pokoknyo siipla Say."
"Mama puas?"
"Bukan lagi puas Say. Kelemak'an," kato Yunita sambil minum susu tebatuk-batuk.
Oleh Wak Amin
SEBENERNYO, kato Yunita, akhir nyo ngomong sejujurnyo, dio ingat samo lakinyo yang sudah 'koid', waktu bulan madu dulu.
Hik hik hik ...
Sinta ketawo tapi ditahan pake' ta ngan. Tedenger cak kucing lagi flu samo batuk.
"Mamatu ngambok'i apo nyinggung Sinta Ma?" Sinta balik betanyo wak tu Mamanyo nanyo ngapo sampe ketawo.
"Idak ngambok'i idak Say. Nying gung apolagi. Mamatu cuman ng enjuk tau kau bae. Bahwa antaro Mama samo Papa kautu ibarat Romeo and Yuliet."
Hik hik hik ...
Sekalini Sinta ketawo niyan.
"Bener Say. Waktu bulan madu du lu. Waktu di pantai, Mama samo Papa saling bekejeran."
"Papa yang ngejer, apo Mama?"
"Mama Say."
"Ngapo Mama yang ngejer. Mesti nyo kan Papa."
"Karno Mama kesakitan dicubit Papa."
"Tekejer Ma?"
"Tekejerla. Mama cepet belarinyo. Sedangke Papa kautu lambat cak bebek entok."
He he he ...
"Terus apo hubungannyo dengan Romeo and Yuliet Ma?"
"Papa kautu calak ruponyo. Waktu Mama dapet ningkepnyo, dio terum pak enggendong Mama .."
"Terus Ma?"
"Dahtu ditenggelemkenyo Mama."
"Mati dong Ma."
"Idak say. Kamitu samo-samo nye lem. Yo dahtu timbul lagi. Nyelem lagi. Dahtu ngajari Mama berena ng. Pokoknyo siipla Say."
"Mama puas?"
"Bukan lagi puas Say. Kelemak'an," kato Yunita sambil minum susu tebatuk-batuk.
Selasa, 18 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (25)
Peluk Aku Ya Allah (25)
Oleh Wak Amin
TANPA diduga, Jenderal Mansur mendapat kado istimewa hari ini. Dia kedatangan orang nomor satu di pasukan pemerintah. Namanya Jenderal Bais.
Pertemuan keduanya berlangsung akrab dan penuh sukacita. Kedua nya melakukan pertemuan di sebu ah ruangan belakang benteng Al A'la.
Turut mendampingi beberapa orang kepercayaan Jenderal Bais, Jende ral Mansur, Kolonel Ihsan, dan Zai nab.
Jenderal Bais menawarkan kerjasa ma dengan Jenderal Mansur. Kerja sama itu meliputi semua hal, khu susnya menyangkut keinginan pe merintahan saat ini untuk 'menyikat habis' pasukan pemberontak pim pinan Jenderal Komar.
"Mereka telah membuat berbagai kerusakan di hampir seluruh pen juru negeri. Rakyat jadi ketakutan. Tidak sedikit dari mereka yang te was mengenaskan," kata Jenderal Bais.
"Mereka pasti tidak sendirian Jen deral Bais. Karena setahu saya un tuk menghancurkan sebagian kota memerlukan persenjataan yang ti dak sedikit jumlahnya," ujar Jen deral Mansur.
Sementara persenjataan pasukan pemberontak mustahil memiliki per senjataan sebanyak itu. "Pasti ada pihak lain yang ikut bermain di air keruh."
"Aku awalnya tak mempercayai hal itu Jenderal. Namun setelah pihak intelijen kami menunjukkan ada ke terlibatan pihak lain, baru saya percaya," kata Jenderal Bais.
"Siapa mereka Jenderal?" Tanya Jenderal Mansur.
"Pasukan srigala Jenderal."
"Kalau tak salah pimpinannya ber nama Jenderal Fatoni. Betulkah itu Jenderal Bais?"
"Tepat sekali Kolonel. Dulu belum apa-apa. Namun sejak terjadinya beberapa kali peledakan pasukan srigala makin top. Hebatnya lagi, Jenderal Fatoni mengklaim dirinya lah orang yang paling hebat di jagat raya ini."
"Setahu saya Jenderal, orangnya memang ambisius, pemarah dan otoriter," jelas Kolonel Ihsan.
Oleh Wak Amin
TANPA diduga, Jenderal Mansur mendapat kado istimewa hari ini. Dia kedatangan orang nomor satu di pasukan pemerintah. Namanya Jenderal Bais.
Pertemuan keduanya berlangsung akrab dan penuh sukacita. Kedua nya melakukan pertemuan di sebu ah ruangan belakang benteng Al A'la.
Turut mendampingi beberapa orang kepercayaan Jenderal Bais, Jende ral Mansur, Kolonel Ihsan, dan Zai nab.
Jenderal Bais menawarkan kerjasa ma dengan Jenderal Mansur. Kerja sama itu meliputi semua hal, khu susnya menyangkut keinginan pe merintahan saat ini untuk 'menyikat habis' pasukan pemberontak pim pinan Jenderal Komar.
"Mereka telah membuat berbagai kerusakan di hampir seluruh pen juru negeri. Rakyat jadi ketakutan. Tidak sedikit dari mereka yang te was mengenaskan," kata Jenderal Bais.
"Mereka pasti tidak sendirian Jen deral Bais. Karena setahu saya un tuk menghancurkan sebagian kota memerlukan persenjataan yang ti dak sedikit jumlahnya," ujar Jen deral Mansur.
Sementara persenjataan pasukan pemberontak mustahil memiliki per senjataan sebanyak itu. "Pasti ada pihak lain yang ikut bermain di air keruh."
"Aku awalnya tak mempercayai hal itu Jenderal. Namun setelah pihak intelijen kami menunjukkan ada ke terlibatan pihak lain, baru saya percaya," kata Jenderal Bais.
"Siapa mereka Jenderal?" Tanya Jenderal Mansur.
"Pasukan srigala Jenderal."
"Kalau tak salah pimpinannya ber nama Jenderal Fatoni. Betulkah itu Jenderal Bais?"
"Tepat sekali Kolonel. Dulu belum apa-apa. Namun sejak terjadinya beberapa kali peledakan pasukan srigala makin top. Hebatnya lagi, Jenderal Fatoni mengklaim dirinya lah orang yang paling hebat di jagat raya ini."
"Setahu saya Jenderal, orangnya memang ambisius, pemarah dan otoriter," jelas Kolonel Ihsan.
Mang Kerio (136)
Mang Kerio (136)
Oleh Wak Amin
LA parak lamaran ...
Yunita melamun bae. Bukan apo-apo. Sedep niyan ngelamuntu. Le bih sedep dari makan lauk iwak patin sambal mangga.
"Mama bo'ong. Sinta tau Mama rin du Papa kan?" Goda Sinta. Dia ter paksa goda Sang Mama karena ma sih pagi buto sudah melamun di teras belakang rumah.
"Enggak ah. Mama enggak mela mun," jawab Yunita. Seneng niyan Sinta embawakke segelas susu seger.
Anget. Cangkir besak pulo ...
"Kalu bukan melamun apo Ma?"
"Meguk say ..."
He he he ...
"Samotu Ma. Meguk samo mela muntu."
"Beda say ..."
"Bedanyo dimano Ma?"
"Kalu meguktu lanang, kalu mela mun betino ..."
Ha ha ha ha ...
"Mamani pacak jugo penesan. Dak nyangko aku. Memang kato uwong Ma, uwong pemarahtu galak jugo penesan. Samola cak .."
"Nak Mama bantingke dak gelas ini?" Yunita dak galak dikolah-ko lahke arini.
"Jangan Ma. Maksud Sintatu .. Sa mola cak kawan aku waktu es em a dulu .."
Lego jugo Yunita endengernyo ...
"Tapi Ma, kalu boleh tau, salah dak kalu Sinta sekarang tibo-tibo tei nget samo Papa?"
"Idak salah idak. Ngapo memang?"
"Mama kan tau. Akuni anak betino. Waktu Papa masih idup Mama ji ngokla dewek betapo sayangnyo samo aku. Tiap ari dicium, digen dong. Mecem-mecemla. Pokoknyo senengla Sinta. Apo bae yang di minta Sinta pasti Papa ngenjuk. Na, lenak parak lamaranni Sinta tibo-tibo kangen Papa, Ma."
"Kangen aponyo? Cubo enjuk tau Mama sekarang ..."
"Galo-galonyo Ma."
"Sikok bae sebutke ..."
"Dicium samo digendong Ma," uji Sinta malu-malu.
"Kalu samo calon laki kau makmanola?"
"Dak boleh Ma. Beduso. Kito kan lum nikah ..."
"Tapi kau galak kan?"
Sinta diem bae ..
"Ayo ngaku. Galak jugo kan yang cak itutu?!"
"Mama genit ah."
"Kalu dak genit dak beranak gektu say ..."
"Kato siapo?"
"Kato Mamala .."
Oleh Wak Amin
LA parak lamaran ...
Yunita melamun bae. Bukan apo-apo. Sedep niyan ngelamuntu. Le bih sedep dari makan lauk iwak patin sambal mangga.
"Mama bo'ong. Sinta tau Mama rin du Papa kan?" Goda Sinta. Dia ter paksa goda Sang Mama karena ma sih pagi buto sudah melamun di teras belakang rumah.
"Enggak ah. Mama enggak mela mun," jawab Yunita. Seneng niyan Sinta embawakke segelas susu seger.
Anget. Cangkir besak pulo ...
"Kalu bukan melamun apo Ma?"
"Meguk say ..."
He he he ...
"Samotu Ma. Meguk samo mela muntu."
"Beda say ..."
"Bedanyo dimano Ma?"
"Kalu meguktu lanang, kalu mela mun betino ..."
Ha ha ha ha ...
"Mamani pacak jugo penesan. Dak nyangko aku. Memang kato uwong Ma, uwong pemarahtu galak jugo penesan. Samola cak .."
"Nak Mama bantingke dak gelas ini?" Yunita dak galak dikolah-ko lahke arini.
"Jangan Ma. Maksud Sintatu .. Sa mola cak kawan aku waktu es em a dulu .."
Lego jugo Yunita endengernyo ...
"Tapi Ma, kalu boleh tau, salah dak kalu Sinta sekarang tibo-tibo tei nget samo Papa?"
"Idak salah idak. Ngapo memang?"
"Mama kan tau. Akuni anak betino. Waktu Papa masih idup Mama ji ngokla dewek betapo sayangnyo samo aku. Tiap ari dicium, digen dong. Mecem-mecemla. Pokoknyo senengla Sinta. Apo bae yang di minta Sinta pasti Papa ngenjuk. Na, lenak parak lamaranni Sinta tibo-tibo kangen Papa, Ma."
"Kangen aponyo? Cubo enjuk tau Mama sekarang ..."
"Galo-galonyo Ma."
"Sikok bae sebutke ..."
"Dicium samo digendong Ma," uji Sinta malu-malu.
"Kalu samo calon laki kau makmanola?"
"Dak boleh Ma. Beduso. Kito kan lum nikah ..."
"Tapi kau galak kan?"
Sinta diem bae ..
"Ayo ngaku. Galak jugo kan yang cak itutu?!"
"Mama genit ah."
"Kalu dak genit dak beranak gektu say ..."
"Kato siapo?"
"Kato Mamala .."
Mang Kerio (135)
Mang Kerio (135)
Oleh Wak Amin
SUPAYO aman dan idak dijingok uwong, Cek Leha samo Sinta em bawaknyo ke bawah batang pohon besak.
Dikipas-kipaske pake' daun. Sinta sempet nak embuka' baju supayo emaknyo lemak dikipasi. Tapi dilarang Cek Leha.
"Lemak gino camer kau Sin," bisik Cek Leha, setengah penesanla.
"Lemak cakmano Kak?"
"Kau kan dak pakek beha?"
"Astsghfirullah. Iyo Kak. Kelupoan aku. Nak becepet taditu."
"Na apo jadinyo kalu kau bukak baju. Cubo Kakak nak endenger omongan kau .."
Hik hik hik ...
"Pasti yang nyendul itu jadi titik fokus .."
Pas ketawotula Yunita sadar dari pingsannyo. Sudah dienjuk minum baru dikongkon ngomong. Apo yang nyebabke dio sampe ping santu.
Apo kareno enjingok antu besak
serem. Atau ado ...
"Malu nak ngomongkenyo Nak sa mo kau," uji Yunita terus terang.
Haaa ..?
Cek Leha samo Sinta saling jingok. Mak itu jugo Hasan samo Mang Kerio.
"Omongke bae Te. Daripado dipen depke di jeru ati jadi penyakit gektu. Bener dak Mang?"
"Benerlatu. Cuman yo, segalonyo teserah samo Yunitala. Kalu aku dak apo-apo. Diomongke bagus, dak diomongke jugo bagus."
"Tapi kalu nurut Hasan, Te, omong ke bae lemaknyo. Jadi kito-kitoni biso tau apo masalah sebenernyo. Ini mun uji Hasan."
Yunita masih diem ...
Dah neguk banyu kopi, baru dio ngomong ...
"Tante seneng Nak Hasan kau nak sir anakku Sinta. Apolagi ngelamar nyo cepet. Tante ngerestuinyo. Cu man ini jadi beban jugo buat Tante."
Beban?
"Mama tepakso apo aku jadian samo Kak Hasan?" Tanyo Sinta eran campur masgul.
"Mama ..."
"Mama ngapo?"
"Kau dak marah kan kalu Mama omongke?"
"Idak Ma."
"Mama ... Mamatu sebenernyo pe ngen jugo dilamar samo bapaknyo Hasan, Nak."
"Mama!?
"Tante!?"
"Yun!?"
Oleh Wak Amin
SUPAYO aman dan idak dijingok uwong, Cek Leha samo Sinta em bawaknyo ke bawah batang pohon besak.
Dikipas-kipaske pake' daun. Sinta sempet nak embuka' baju supayo emaknyo lemak dikipasi. Tapi dilarang Cek Leha.
"Lemak gino camer kau Sin," bisik Cek Leha, setengah penesanla.
"Lemak cakmano Kak?"
"Kau kan dak pakek beha?"
"Astsghfirullah. Iyo Kak. Kelupoan aku. Nak becepet taditu."
"Na apo jadinyo kalu kau bukak baju. Cubo Kakak nak endenger omongan kau .."
Hik hik hik ...
"Pasti yang nyendul itu jadi titik fokus .."
Pas ketawotula Yunita sadar dari pingsannyo. Sudah dienjuk minum baru dikongkon ngomong. Apo yang nyebabke dio sampe ping santu.
Apo kareno enjingok antu besak
serem. Atau ado ...
"Malu nak ngomongkenyo Nak sa mo kau," uji Yunita terus terang.
Haaa ..?
Cek Leha samo Sinta saling jingok. Mak itu jugo Hasan samo Mang Kerio.
"Omongke bae Te. Daripado dipen depke di jeru ati jadi penyakit gektu. Bener dak Mang?"
"Benerlatu. Cuman yo, segalonyo teserah samo Yunitala. Kalu aku dak apo-apo. Diomongke bagus, dak diomongke jugo bagus."
"Tapi kalu nurut Hasan, Te, omong ke bae lemaknyo. Jadi kito-kitoni biso tau apo masalah sebenernyo. Ini mun uji Hasan."
Yunita masih diem ...
Dah neguk banyu kopi, baru dio ngomong ...
"Tante seneng Nak Hasan kau nak sir anakku Sinta. Apolagi ngelamar nyo cepet. Tante ngerestuinyo. Cu man ini jadi beban jugo buat Tante."
Beban?
"Mama tepakso apo aku jadian samo Kak Hasan?" Tanyo Sinta eran campur masgul.
"Mama ..."
"Mama ngapo?"
"Kau dak marah kan kalu Mama omongke?"
"Idak Ma."
"Mama ... Mamatu sebenernyo pe ngen jugo dilamar samo bapaknyo Hasan, Nak."
"Mama!?
"Tante!?"
"Yun!?"
Senin, 17 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (24)
Peluk Aku Ya Allah (24)
Oleh Wak Amin
TAK lama kemudian, setibanya di ujung bukit, pasukan pemberontak seolah mati kutu. Karena mereka ki ni dihadapkan pada lautan lepas yang besar ombaknya.
Mau menyeberang tak mungkin. Se lain tepi seberang lautan tak terli hat juga tak satu pun kapal besar dan kecil yang melintas. Berisiko besar jika dipaksakan.
"Sebaiknya kita tempuh jalan me mutar saja Komandan," usul Mayor Kandar.
"Tapi apa tidak lebih jauh Mayor?" Tanya Sersan Herman.
"Hanya itu jalan satu-satunya unt uk bisa menumpas Jenderal Man sur beserta pasukannya," kata Mayor Kandar beralasan.
"Apa tidak sebaiknya kita berkemah barang satu dua hari dulu Koman dan," saran Sersan Doni.
"Buat apa Sersan?"
"Menunggu kapal lewat Komandan."
"Kalau tidak ada kapal yang lewat?"
"Baru kita tinggalkan tempat ini de ngan menempuh jalan memutar seperti yang disarankan Mayor Kandar tadi Komandan."
"Bagaimana menurutmu Mayor?"
"Percuma menunggu Komandan. Tak bakalan ada kapal yang lewat. Jadi menurut saya, kita secepatnya tinggalkan tempat ini ..."
Jenderal Komar masih menimba ng. Karena sehari bermalam juga baik untuk memulihkan rasa jenuh dan lelah yang melanda lebih sepa ro anggota pasukan pemberontak.
Namun di sisi lain justru mengun tungkan pasukan pribumi. Mereka akan jauh lebih siap dalam bertah an dan menghalau serangan yang datang.
"Baiklah. Saya putuskan kita berma lam semalam saja di sini," kata Jen deral Komar.
Keputusan ini disambut penuh suka cita oleh segenap pasukan. Hanya Mayor Kandar yang kurang setuju. Namun setelah tahu alasannya de mi kebugaran pasukan, dia akhir nya setuju.
"Tapi saya ingatkan pada kalian se mua. Tetap waspada," kata Jende ral Komar dengan raut muka tegang.
"Siap Komandan."
"Dan saya ingatkan juga. Cuma semalam. Mengerti?"
"Mengerti Komandan."
Oleh Wak Amin
TAK lama kemudian, setibanya di ujung bukit, pasukan pemberontak seolah mati kutu. Karena mereka ki ni dihadapkan pada lautan lepas yang besar ombaknya.
Mau menyeberang tak mungkin. Se lain tepi seberang lautan tak terli hat juga tak satu pun kapal besar dan kecil yang melintas. Berisiko besar jika dipaksakan.
"Sebaiknya kita tempuh jalan me mutar saja Komandan," usul Mayor Kandar.
"Tapi apa tidak lebih jauh Mayor?" Tanya Sersan Herman.
"Hanya itu jalan satu-satunya unt uk bisa menumpas Jenderal Man sur beserta pasukannya," kata Mayor Kandar beralasan.
"Apa tidak sebaiknya kita berkemah barang satu dua hari dulu Koman dan," saran Sersan Doni.
"Buat apa Sersan?"
"Menunggu kapal lewat Komandan."
"Kalau tidak ada kapal yang lewat?"
"Baru kita tinggalkan tempat ini de ngan menempuh jalan memutar seperti yang disarankan Mayor Kandar tadi Komandan."
"Bagaimana menurutmu Mayor?"
"Percuma menunggu Komandan. Tak bakalan ada kapal yang lewat. Jadi menurut saya, kita secepatnya tinggalkan tempat ini ..."
Jenderal Komar masih menimba ng. Karena sehari bermalam juga baik untuk memulihkan rasa jenuh dan lelah yang melanda lebih sepa ro anggota pasukan pemberontak.
Namun di sisi lain justru mengun tungkan pasukan pribumi. Mereka akan jauh lebih siap dalam bertah an dan menghalau serangan yang datang.
"Baiklah. Saya putuskan kita berma lam semalam saja di sini," kata Jen deral Komar.
Keputusan ini disambut penuh suka cita oleh segenap pasukan. Hanya Mayor Kandar yang kurang setuju. Namun setelah tahu alasannya de mi kebugaran pasukan, dia akhir nya setuju.
"Tapi saya ingatkan pada kalian se mua. Tetap waspada," kata Jende ral Komar dengan raut muka tegang.
"Siap Komandan."
"Dan saya ingatkan juga. Cuma semalam. Mengerti?"
"Mengerti Komandan."
Minggu, 16 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (23)
Peluk Aku Ya Allah (23)
Oleh Wak Amin
SERSAN Azis selesai. Tapi kedua rekannya, Sersan Herman dan Ser san Doni hanya mampu melakukan push up seribu kali.
Keduanya pasrah. Apa pun huku m an yang ditimpakan Jenderal Ko mar, mereka siap menerimanya dengan lapang dada.
"Suruh bugil saja Dan," teriak pria berhidung betet sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Jangan Bro. Kemana muka ini di taruh kalau sampai bugil di depan orang banyak," kata temannya ber tubuh kurus tapi tinggi.
"Sudah Dan. Suruh nyanyi saja," sahut prajurit yang lain.
Jenderal Komar belum memutus kan hukuman apa yang cocok buat Sersan Herman dan Sersan Doni.
Dia masih berpikir. Berjalan mengi tari keduanya sambil mengetuk-ng etukkan tongkat kecil di telapak tangannya.
Suasana berubah hening. Senyap. Segenap anggota pasukan menung gu dengan sabar keputusan apa ge rangan yang bakal dijatuhkan pada kedua sersan itu.
Eeeem ...
Jenderal Komar menghentikan lang kahnya. Dia menatap tajam dan pe nuh amarah ke Sersan Doni dan Ser san Herman.
Lalu mengalihkan pandangannya ke pasukannya yang berbaris rapi. Didekatinya Sersan Azis.
"Anda punya usulan Sersan?"
"Tidak ada Komandan," jawab Ser san Azis.
Ketika dimintai saran hukuman apa yang sebaiknya diberikan kepada Sersan Herman dan Sersan Doni, Sersan Azis justru menyarankan pembebasan hukuman.
"Mereka sudah lelah Jenderal. Se mentara perang kita belum selesai ..."
Betul juga ya ..
"Oke Sersan. Terima kasih atas sa ranmu barusan," kata Jenderal Ko mar sambil menepuk-nepuk pundak Sersan Azis.
Jenderal Komar kemudian berucap lantang, sambil menghadapkan mu kanya ke Sersan Herman dan Ser san Doni ...
"Kalian berdua kubebaskan dari hukuman lanjutan .."
Mendengar putusan itu, Sersan Her man dan Sersan Doni duduk ber si mpuh di tanah, lalu seperti orang su jud, mencium tanah tanda bersyu kur karens sudah terbebas dari hu kuman yang kedua.
Oleh Wak Amin
SERSAN Azis selesai. Tapi kedua rekannya, Sersan Herman dan Ser san Doni hanya mampu melakukan push up seribu kali.
Keduanya pasrah. Apa pun huku m an yang ditimpakan Jenderal Ko mar, mereka siap menerimanya dengan lapang dada.
"Suruh bugil saja Dan," teriak pria berhidung betet sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Jangan Bro. Kemana muka ini di taruh kalau sampai bugil di depan orang banyak," kata temannya ber tubuh kurus tapi tinggi.
"Sudah Dan. Suruh nyanyi saja," sahut prajurit yang lain.
Jenderal Komar belum memutus kan hukuman apa yang cocok buat Sersan Herman dan Sersan Doni.
Dia masih berpikir. Berjalan mengi tari keduanya sambil mengetuk-ng etukkan tongkat kecil di telapak tangannya.
Suasana berubah hening. Senyap. Segenap anggota pasukan menung gu dengan sabar keputusan apa ge rangan yang bakal dijatuhkan pada kedua sersan itu.
Eeeem ...
Jenderal Komar menghentikan lang kahnya. Dia menatap tajam dan pe nuh amarah ke Sersan Doni dan Ser san Herman.
Lalu mengalihkan pandangannya ke pasukannya yang berbaris rapi. Didekatinya Sersan Azis.
"Anda punya usulan Sersan?"
"Tidak ada Komandan," jawab Ser san Azis.
Ketika dimintai saran hukuman apa yang sebaiknya diberikan kepada Sersan Herman dan Sersan Doni, Sersan Azis justru menyarankan pembebasan hukuman.
"Mereka sudah lelah Jenderal. Se mentara perang kita belum selesai ..."
Betul juga ya ..
"Oke Sersan. Terima kasih atas sa ranmu barusan," kata Jenderal Ko mar sambil menepuk-nepuk pundak Sersan Azis.
Jenderal Komar kemudian berucap lantang, sambil menghadapkan mu kanya ke Sersan Herman dan Ser san Doni ...
"Kalian berdua kubebaskan dari hukuman lanjutan .."
Mendengar putusan itu, Sersan Her man dan Sersan Doni duduk ber si mpuh di tanah, lalu seperti orang su jud, mencium tanah tanda bersyu kur karens sudah terbebas dari hu kuman yang kedua.
Mang Kerio (134)
Mang Kerio (134)
Oleh Wak Amin
DI kebun binatang ...
"Sekarang Sinta buka ya tutup matanya. Siap ya Mam?"
"Ntar dulu. Ntar dulu. Calon laki kamu ada kan?"
"Ada Ma."
"Oke. Silakan dibuka penutup mata nya," kata Sinta sambil menoleh ke belakang.
Mang Kerio, Hasan dan Cek Leha harap-harap cemas. Masih penasa ran apa yang bakal terjadi kemu dian.
Sepotong kain penutup mata dibu ka pelan-pelan ...
"Sekarang buka matanya Ma."
"Oke."
Mata dibuka. Tapi kok enggak ada manusianya. Cuma kera, terus hari mau, burung dan menjangan.
"Kau ajak kemana Mama say?" Yu nita ngeri bukan main tengok ha rimau hilir mudik seolah tengah mencari mangsanya.
"Tenang Ma. Sekarang Mama te ngok ke belakang deh."
"Enggak mau ah. Ngeri Mama," kata Yunita sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
"Ada Mang Kerio Ma," bisik Sinta.
"Ah yang bener say?"
"Tengok aja sendiri kalau Mama enggak percaya."
Yunita menoleh ...
Dia usap-usap bola matanya. Tak percaya kalau lekaki di depan ma tanya ini adalah Mang Kerio alias Zulfikar.
"Fikar?"
Zulfikar mendekat. Dia tak kuasa menerima pelukan dari Yunita. Di dekatnya, Hasan mencium tangan nya, disusul Cek Leha.
"Kita duduk dulu Ma." Sinta memilih taman kecil yang ada patung gajah nya.
Menggelar tikar, duduk bersila ber lima sambil mencicipi aneka kue yang sengaja dibawa Sinta untuk dikudap bersama-sama di kebun binatang ini.
Pengunjung mulai berdatangan ...
"Yun," ucap Mang Kerio. "Izinkan aku mau bicara kepadamu .."
Yunita mengizinkannya.
"Yun. Sebenarnya kedatanganku ber sama Cek Leha dan Hasan ini ..."
Mang Kerio tak sanggup melanjut kan ucapannya.
Yunita penasaran.
"Mau ngomong apa, asal itu kamu, Fikar, silakan. Aku tak keberatan."
"Terima kasih Yun."
Mengatur nafas sejenak ..
"Aku ingin menjodohkan anakku Hasan dengan Sinta, anakmu Yun, jikau kau berkenan ..."
Yunita terkejut.
Jatuh pingsan ia ..
Oleh Wak Amin
DI kebun binatang ...
"Sekarang Sinta buka ya tutup matanya. Siap ya Mam?"
"Ntar dulu. Ntar dulu. Calon laki kamu ada kan?"
"Ada Ma."
"Oke. Silakan dibuka penutup mata nya," kata Sinta sambil menoleh ke belakang.
Mang Kerio, Hasan dan Cek Leha harap-harap cemas. Masih penasa ran apa yang bakal terjadi kemu dian.
Sepotong kain penutup mata dibu ka pelan-pelan ...
"Sekarang buka matanya Ma."
"Oke."
Mata dibuka. Tapi kok enggak ada manusianya. Cuma kera, terus hari mau, burung dan menjangan.
"Kau ajak kemana Mama say?" Yu nita ngeri bukan main tengok ha rimau hilir mudik seolah tengah mencari mangsanya.
"Tenang Ma. Sekarang Mama te ngok ke belakang deh."
"Enggak mau ah. Ngeri Mama," kata Yunita sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
"Ada Mang Kerio Ma," bisik Sinta.
"Ah yang bener say?"
"Tengok aja sendiri kalau Mama enggak percaya."
Yunita menoleh ...
Dia usap-usap bola matanya. Tak percaya kalau lekaki di depan ma tanya ini adalah Mang Kerio alias Zulfikar.
"Fikar?"
Zulfikar mendekat. Dia tak kuasa menerima pelukan dari Yunita. Di dekatnya, Hasan mencium tangan nya, disusul Cek Leha.
"Kita duduk dulu Ma." Sinta memilih taman kecil yang ada patung gajah nya.
Menggelar tikar, duduk bersila ber lima sambil mencicipi aneka kue yang sengaja dibawa Sinta untuk dikudap bersama-sama di kebun binatang ini.
Pengunjung mulai berdatangan ...
"Yun," ucap Mang Kerio. "Izinkan aku mau bicara kepadamu .."
Yunita mengizinkannya.
"Yun. Sebenarnya kedatanganku ber sama Cek Leha dan Hasan ini ..."
Mang Kerio tak sanggup melanjut kan ucapannya.
Yunita penasaran.
"Mau ngomong apa, asal itu kamu, Fikar, silakan. Aku tak keberatan."
"Terima kasih Yun."
Mengatur nafas sejenak ..
"Aku ingin menjodohkan anakku Hasan dengan Sinta, anakmu Yun, jikau kau berkenan ..."
Yunita terkejut.
Jatuh pingsan ia ..
Sabtu, 15 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (22)
Peluk Aku Ya Allah (22)
Oleh Wak Amin
"AYO sedikit lagi ..." Teriak Jenderal Komar, menyemangati anak buah nya yang mulai disergap rasa bo san dan kelelahan.
"Sedikit lagi .. Sedikit lagi. Kapan nyampenya? Celetuk prajurit berba dan tegap dan paling tinggi postur tubuhnya di pasukan pemberontak.
Ssssst ...
"Jangan keras-keras Bro. Nanti ke na kempelang tau," kata prajurit ber telinga besar mengingatkan.
"Iya Bro. Kalau kempelang yang itu enak bisa dimakan pake' cabe. Lho yang ini kempelang bikin kepala pusing dan muntah-muntah."
He he he he ...
Mendengar sebagian anak buahnya tertawa, Jenderal Komar meminta pasukannya berhenti sejenak.
Dia mendekati anak buahnya yang tertawa tadi .."
"Kenapa tertawa?"
"Ada yang lucu saja Pak," jawab si telinga besar, yang diketahui ber nama Azis.
"Lucu kenapa haa?" Tanya Jenderal Komar dengan nada tinggi.
"Beliau Pak." Azis menunjuk teman nya yang paling tinggi, Herman. Ka rena dia lah yang memulai pergu rauan ini.
"Ada apa Sersan Herman?"
"Tidak kenapa-kenapa Pak," jawab Sersan Herman.
Paaak ...
Kena tampar ...
"Jangan main-main dengan saya ya. Saya ini pemimpin kalian. Mengerti?"
"Mengerti Jenderal."
"Push up seribu kali sekarang!" Pe rintah Jenderal Komar.
"Siap Jenderal."
Sersan Azis dan temannya yang ju ga ikut tertawa, Sersan Doni geli be rcampur iba melihat Sersan Her man dihukum push up.
Apa mungkin dia sanggup dalam keadaab kelelahan seperti sekara ng ini ...
"Kamu juga Sersan Azis. Push up!"
"Seribu Jenderal?"
"Dua ribu kali .."
Haaaa?
"Kamu juga Sersan Doni. Push up tiga ribu kali.".
"Siap Jenderal."
"Yang lain berjaga- jaga." Menunjuk beberapa anak buahnya mengawa si keadaan sekitar.
"Siap laksanakan Jenderal."
"Yang lain sama saya sekarang. Mengawasi Sersan Azis, Sersan Herman dan Sersan Doni."
"Siap Dan. Laksanakan!"
Oleh Wak Amin
"AYO sedikit lagi ..." Teriak Jenderal Komar, menyemangati anak buah nya yang mulai disergap rasa bo san dan kelelahan.
"Sedikit lagi .. Sedikit lagi. Kapan nyampenya? Celetuk prajurit berba dan tegap dan paling tinggi postur tubuhnya di pasukan pemberontak.
Ssssst ...
"Jangan keras-keras Bro. Nanti ke na kempelang tau," kata prajurit ber telinga besar mengingatkan.
"Iya Bro. Kalau kempelang yang itu enak bisa dimakan pake' cabe. Lho yang ini kempelang bikin kepala pusing dan muntah-muntah."
He he he he ...
Mendengar sebagian anak buahnya tertawa, Jenderal Komar meminta pasukannya berhenti sejenak.
Dia mendekati anak buahnya yang tertawa tadi .."
"Kenapa tertawa?"
"Ada yang lucu saja Pak," jawab si telinga besar, yang diketahui ber nama Azis.
"Lucu kenapa haa?" Tanya Jenderal Komar dengan nada tinggi.
"Beliau Pak." Azis menunjuk teman nya yang paling tinggi, Herman. Ka rena dia lah yang memulai pergu rauan ini.
"Ada apa Sersan Herman?"
"Tidak kenapa-kenapa Pak," jawab Sersan Herman.
Paaak ...
Kena tampar ...
"Jangan main-main dengan saya ya. Saya ini pemimpin kalian. Mengerti?"
"Mengerti Jenderal."
"Push up seribu kali sekarang!" Pe rintah Jenderal Komar.
"Siap Jenderal."
Sersan Azis dan temannya yang ju ga ikut tertawa, Sersan Doni geli be rcampur iba melihat Sersan Her man dihukum push up.
Apa mungkin dia sanggup dalam keadaab kelelahan seperti sekara ng ini ...
"Kamu juga Sersan Azis. Push up!"
"Seribu Jenderal?"
"Dua ribu kali .."
Haaaa?
"Kamu juga Sersan Doni. Push up tiga ribu kali.".
"Siap Jenderal."
"Yang lain berjaga- jaga." Menunjuk beberapa anak buahnya mengawa si keadaan sekitar.
"Siap laksanakan Jenderal."
"Yang lain sama saya sekarang. Mengawasi Sersan Azis, Sersan Herman dan Sersan Doni."
"Siap Dan. Laksanakan!"
Mang Kerio (133)
Mang Kerio (133)
Oleh Wak Amin
"HEBAT sekali. Cium dulu ah," kata Cek Leha, cium pipi kiri dan kanan Sinta yang masih berkeringat.
"Hebat kamu Dik," uji Hasan sem bari mempersilakannya duduk di tempatnya semula.
"Terima kasih Kak Hasan," jawab Sinta, agak malu-malu.
"Mamang salami juga dong." Tanpa diminta, Sinta cium tangan Mang Kerio.
Plak .. Pak .. Plak .. Pak ..
"Nah gitu, itu namanya calon me nantu," goda Cek Leha.
Yang digoda senyum-senyum sa ja ...
"Mamanya enggak dipeluk Sin?"
"Enggak mau Kak."
"Lho, emangnya kenapa?"
"Belum mandi ..."
He he he he ...
Kesel, dia cubit pahanya Sinta. Meri ngislah kesakitan. Saat ditanya Cek Leha kenapa, Sinta bilang hanya ke
jepit kaki kursi saja.
Sepulangnya dari rumah makan, Yu nita masih penasaran dengan laki-laki idaman yang dinyanyikan Sinta di rumah makan Pagi Berseri.
Dia cuma pengen tahu siapa gera ngan bakal calon pendamping hi dup si buah hati.
"Ada deh Mam. Tenang aja," kata Sinta, mempersilakan Mamanya mencicipi teh manis racikannya.
"Minum dulu Mam. Santai aja."
"Oke. Mama minum ..."
Kata Sinta, si calon laki orang baik. Bukan pengangguran dan dari ke luarga biasa-biasa saja.
"Bukan Ali kan?"
"Bukan Mam."
"Bukan Manaf kan?"
"Bukan Mam."
"Bukan Saiful kan?"
"Juga bukan Mam."
Heeeemmm ...
"Ini bukan, itu bukan. Lalu siapa ya? Atau jangan-jangan kamu ngeboho ngi Mama aja. Enggak ada laki-laki idaman itu."
"Ya memang enggak ada Mam."
"Nah, betul kan?"
"Ya memang enggak ada sekarang. Karena dia tak Sinta minta datang sekarang Mam."
Sang Mama masih tak percaya. Sin ta cuma berbohong saja.
"Kapan-kapan Sinta kenalin deh sa ma Mama." Sinta menyeruput teh. Sejak tadi belum minum. Sedang kan teh Mamanya sudah habis diseruput.
"Enggak kapan-kapan. Kalau bisa sekarang," kata Yunita, setengah memaksa.
Takutnya, kalau sudah jadian, sem entara kita selaku ibunya kurang sr eg sama itu calon laki anak, cova gimana.
Mumpung nasi baru masuk panci, lebih cepat tahu sosok calon man tu, itu lebih baik agar tidak ada pe nyesalan di kemudian hari.
Betul tidak?
Oleh Wak Amin
"HEBAT sekali. Cium dulu ah," kata Cek Leha, cium pipi kiri dan kanan Sinta yang masih berkeringat.
"Hebat kamu Dik," uji Hasan sem bari mempersilakannya duduk di tempatnya semula.
"Terima kasih Kak Hasan," jawab Sinta, agak malu-malu.
"Mamang salami juga dong." Tanpa diminta, Sinta cium tangan Mang Kerio.
Plak .. Pak .. Plak .. Pak ..
"Nah gitu, itu namanya calon me nantu," goda Cek Leha.
Yang digoda senyum-senyum sa ja ...
"Mamanya enggak dipeluk Sin?"
"Enggak mau Kak."
"Lho, emangnya kenapa?"
"Belum mandi ..."
He he he he ...
Kesel, dia cubit pahanya Sinta. Meri ngislah kesakitan. Saat ditanya Cek Leha kenapa, Sinta bilang hanya ke
jepit kaki kursi saja.
Sepulangnya dari rumah makan, Yu nita masih penasaran dengan laki-laki idaman yang dinyanyikan Sinta di rumah makan Pagi Berseri.
Dia cuma pengen tahu siapa gera ngan bakal calon pendamping hi dup si buah hati.
"Ada deh Mam. Tenang aja," kata Sinta, mempersilakan Mamanya mencicipi teh manis racikannya.
"Minum dulu Mam. Santai aja."
"Oke. Mama minum ..."
Kata Sinta, si calon laki orang baik. Bukan pengangguran dan dari ke luarga biasa-biasa saja.
"Bukan Ali kan?"
"Bukan Mam."
"Bukan Manaf kan?"
"Bukan Mam."
"Bukan Saiful kan?"
"Juga bukan Mam."
Heeeemmm ...
"Ini bukan, itu bukan. Lalu siapa ya? Atau jangan-jangan kamu ngeboho ngi Mama aja. Enggak ada laki-laki idaman itu."
"Ya memang enggak ada Mam."
"Nah, betul kan?"
"Ya memang enggak ada sekarang. Karena dia tak Sinta minta datang sekarang Mam."
Sang Mama masih tak percaya. Sin ta cuma berbohong saja.
"Kapan-kapan Sinta kenalin deh sa ma Mama." Sinta menyeruput teh. Sejak tadi belum minum. Sedang kan teh Mamanya sudah habis diseruput.
"Enggak kapan-kapan. Kalau bisa sekarang," kata Yunita, setengah memaksa.
Takutnya, kalau sudah jadian, sem entara kita selaku ibunya kurang sr eg sama itu calon laki anak, cova gimana.
Mumpung nasi baru masuk panci, lebih cepat tahu sosok calon man tu, itu lebih baik agar tidak ada pe nyesalan di kemudian hari.
Betul tidak?
Jumat, 14 Juni 2019
Pramasastra Bahasa Arab (18)
Pramasastra Bahasa Arab (18)
Oleh Wak Amin
S. Kata Kerja Pasif
I. Bahan Pelajaran :
a. Almarhum Riyadh Bey Asshulhi dilahirkan tahun 1894 dan dikata kan orang tahun 1893 (Wulidal mar huumu riyaadhun bikush shulhu sa nata 1894 waqiila sanata 1893).
b. Sesudah (dia) belajar di beberapa sekolah di Beirut dia dikirim ke is tambul untuk belajar hukum dan dia menjadi advocaat (pengacara) (Waba'da an darasa fii madaarisi bairuuta ursila ilaa isthambuula liyadrusasy syarii'ata wayumsiya muhaamiyan).
c. Pada (waktu) Perang Dunia Pertama, dia dipidana oleh pihak Kesultanan Turki karena ikut (bersekongkol) dalam gerakan perju angan Arab untuk kemerdekaan dengan hukuman mati (Wafil harbil 'aalamiyyatil uulaa 'auqiba min jaanibissuluthaatit turkiyyati lisytiraakihi fii harakatil jihaadil 'arabiyyi lil hurriyyati bi-an hukima 'alaihi bil i'daam).
d. Tetapi hukuman itu diganti de ngan dibuang ke Asia Kecil (Walaakinna zaalikal hukmas tubdila binnafyi ilaa aasiyash shughraa).
e. Dan dia ditunjuk (ditetapkan) sebagai Wakil Libanon Selatan pada Muktamar Syria yang diada kan untuk penobatan Faisal (Wa qad 'uyyina mumatstsilan 'an lubnaana janawiyyi fil mu-tamaris sauriyyillazii 'uqida limubaaya'ati faishalin).
f. Sewaktu Perancis menduduki (menaklukkan) Syria, dia dipaksa untuk keluar dari negeri itu, dan dia kembali ke Libanon (Wa 'indamaahtallal faransiyyuuna sauriyyatadh thurra ilal khuruji minal bilaadi tsumma 'aada ilaa lubnaan).
g. Pada tahun 1936, dia diminta mendampingi delegasi (utusan) Syria ke Muktamar Paris sebagai penasihat perundingan tentang perjanjian dengan Perancis (Wafi sanati 1936 du'iya liyuraafiqal wafdas sauriyya ila mu'tamari baariisa kamustasyaarin lil mufaawadhati bisya-ni mu'aahadatin ma'a faransa).
h. Sesudah amandemen konstitu si, dia ditunjuk sebagai Perdana Menteri pertama Republik Libanon Merdeka (Wa ba'da ta'diilid dustuuri 'uyyina awwalan ra-iisi wuzaara-a lil jumhuuriyyati allubnaaniyyatil mustaqillah).
i. Dan dia mati (terbunuh) di Amman pada musim panas 1951 (Waqutila aghtiyaalan fii 'ammaana fi shaifi 1951).
j. Dia dianggap sebagai pendiri Nasionalis Arab, dan dikatakan bahwa dia menjadi pelopor (bagi) kemerdekaan Libanon pada Perang Dunia Kedua (Wa yu'addu ashlan minal wathaniyyiinal 'arabi, wa yuqaalu innahu ashbaha daa'iyan lil -istiqlaalil lubnaaniyyi fil harbil 'aalamiyyatits tsaaniyah).
k. Dan diyakini orang bahwa dia salah satu dari penegak (tiang) kemerdekaan itu dan di antara ora ng-orang yang berkorban untuk itu (Wayu"taqadu annahu kaana min arkaani zaalikal istiqlaali waminal laziina dhahhau fii sabiilih).
l. Karena itu, namanya dihormati dan dimuliakan (disanjung) sebagai seorang pemimpin yang ikhlas (jujur), berkuasa (berwibawa) mengingat baktinya untuk negerinya (Lizaalika fa-inna asmahu yukramu wayuhfadzhu kaqaa-idin mukhlishiin qadiirini' tiraafan bikhidmatihi libalaadihi).
II. Pembahasan Tata Bahasa :
1. Kata kerja Wulida orang ketiga masculin tunggal perferect pasif dari kata kerja akar Walada. Perpect pa sif kata kerja yang mempunyai tiga suku kata dibentuk dengan jalan mengganti harkat suku pertamanya (perpect aktif) menjadi dhammah dan suku keduanya menjadi kasrah.
Kata kerja Qiila orang ketiga masculin tunggal perpect pasif dari Qaala. Perfect pasif kata kerja lowong pada I, IV, VII, VIII, dan X, suku tengahnya menjadi Ya yang didahului harkat kasrah.
Kata kerja Qiila orang ketiga mas culin tunggal perfect pasif dari Qa ala. Perpect pasif kata kerja lowong pola I, IV, VII, VIII dan X, suku tengah nya menjadi Ya yang didahului har kat kasrah.
2. Ursila kata kerja orang ketiga masculin tunggal perfect pasif pola IV dari Arsala. Karena aktifnya juga tiga suku kata, maka bentuk pasif nya disesuaikan dengan prinsip di atas (nomor 1). "Hamzah" pola ke empat adalah "hamzah" biasa, bu kan washal, baik dalam aktif mau pun pasifnya.
3. Kata kerja 'Uuqiba orang ketiga masculin tunggal perfect pasif pola III 'Aqaba. Dalam pola III dan IV alifnya diganti dengn "waw" karena dipengaruhi oleh dhammah yang mendahuluinya.
4. Kata kerja Ustubdila orang ketiga maaculin tunggal perfect pasif pola X Istabdala. Perfect pasif kata kerja empat suku kata dibentuk dengan mengganti aktifnya pada suku pertama dan kedua menjadi dhammah dan suku ketiganya menjadi kasrah.
5. Kata kerja 'Uyyina orang ketiga masculin tunggal perfect pasif dari pola II 'Ayyana.
6. Kata kerja Adhthurra < Udhthurira orang ketiga masculin tunggal perfect pasif dari pola VIII Idhtharra. Pada kata kerja ganda (bertasydid) seperti ini, kaarah suku ketiga disatukan dengan tasydid.
7. Kata kerja Du'iya orang ketiga masculin tunggal perfect pasif dari kata kerja Da'aa yang huruf lemah "lam" nya. Pada kata kerja perfect pasif yang berhuruf lemah "lam" nya, suku ketiganya menjadi huruf "Ya" dan berharkat fathah. Hal ini berlaku unruk semua pola.
10. Kata kerja Yu'addu (> Yu'dadu) orang ketiga masculin tunggal im perpect pasif dari 'Adda. Imperpect pasif dibentuk dengan jalan meng ganti harkat suku keduanya menjadi fathah.
Pada kata kerja seperti ini, harkat fathah yang seharusnya pada suku tengah dipindahkan ke suku sebe lumnya.
Kata kerja Yuqaalu orang ketiga masculin tunggal imperpect pasif dari kata kerja lowong (lemah) Qaala. Dalam imperpect pasif pola I, IV, VII, VIII dan X yang bersifat lemah suku tengahnya (lowong), maka harkat fathah yang seharus nya di tengah (sesuai dengan keten tuan di atas), harus dialihkan pada suku sebelumnya dan suku tengah diberi alif, dibunyikan seperti perpect juga.
11. Kata kerja Yu'taqadu orang keti ga masculin tunggal imperpect pasif dari pola VIII I'taqada.
12. Kata kerja Yukramu orang ke tiga masculin tunggal imperpect pasif dari kata kerja pola IV Akra ma. Bentuk imperpect pasif dari pola I dan IV adalah sama kea daannya.
Catatan :
Kata kerja imperpect pasif yang lemah "fanya" pola I dan IV, suku pertamanya selamanya dipanja ngkan dengan huruf "Waw". Dalam pola lain suku pertama tetap seperti biasa.
Kata kerja imperpect pasif yang " Lam" nya huruf lemah pada semua pola suku terakhirnya adalah "Alif" maqsurah.
III. Latihan :
1. Surat kabar "Al Ahram" didirikan pada tahun 1875 di Iskandariyah. Dua orang mendirikannya ialah dua ustad : Salim dan Bisyarah Taqla (Ussisat jariidatul "Ahraami" sanata 1875 fil iskandaariyyati wa mu-assisaaha humal ustaazaani Saliimun wa Bisyaratu Taqla).
2. Keduanya terpaksa (sedikit wak tu) sebelum itu untuk pindah (hijrah) dari negeri mereka yang asli yaitu Libanon, sesudah keduanya dilarang bekerja secara bebas pada surat kabar, disebabkan (tekanan) yang kuat oleh Turki (Wakaana qadidhthurra qubaila zaalika ilaa ayyuhaajiraa min bilaadihimal ashliyyati ay lubnaana ba'da an muni'aa minal 'amali fish shihaafati bihurriyyatit turkiyyi).
3. Markas surat kabar itu dipindahkan pada tahun 1900 ke Kairo dan semakin baiklah keadaannya (Wanukila markazul jariidati sanati 1900 ilal qaahirati wa tahassanat katsiiraa).
4. Tatkala Bisyarah Taqla mening gal dunia (wafat), isterinya berku asa sebagai direktur urusan surat kabar itu, hingga anaknya Jibril diajar mengenai (keadaan) surat kabar itu (Walammaa tuwaffiya Bisyaaratu Taqla tawallat zaujatuhu idaaratu syu-uunil jariidati hatta yu'allama abnuhaa jibriilu tilkasy syu-uuna
).
5. Tatkala Jibril mengambil over direksi, beberapa kantor dibuka di setiap kota yang penting, dan ditetapkan (ditunjuk) beberapa koresponden beberapa surat kabar itu disana untuk mengirimkan (me mindahkan) berita-berita yang benar (Wa 'indamaa tawalli jibriilul idaarata futihat makaatibu fii kulli mudunil muhimmati wa'uyyina muraasiluuna lil jariidati fiiha liyanquluul akhbaarash shahiihah).
6. Gambar fotografi dipergunakan secara luas dan linotyp dipergunakan untuk pertama kali du negeri-negeri Arab (Wastu'milatish shuuratul fuutuu gharaafiyyatu 'ala asasin waa-si'in wastukhdimalliinuu taibu li-awwali marratin fil buldaanil 'arabiyyati).
7. Maka jadilah Al Ahram dianggap sebagai surat kabar terbesar di dunia Arab (Fashaaratil "Ahraamu" tu'addu akbaral jaraa-idi fil 'aalamil 'arabiyyi).
8. Jibril wafat tahun 1943 (mening galkan) seorang putra dan dua orang putri (Watuwuffiya jibriilu sanata 1943 'ani abni wabnataini).
9. Adapun putranya bernama Basya rah juga, pergi dalam waktu singkat ke Amerika Utara, dan dia mengadakan hubungan dengan beberapa surat kabar Amerika, mempelajari pengelolaan surat kabar supaya dia menjadi seorang editor yang berdiri sendiri (berdikari) pada jabatan itu, dan percaya atas dirinya (Ammal iinu wasmuhu bisyaaratu aidhan faqad sharafa waqtan qashiira fii amriikasy syamaaliyyati wahuwa yuqiimush shilaati ma'ash shihaafatil amriikiyyati wayadrusu idaaratal jaraa-idi kay yushbiha muharriran yu'tamadu 'alaihi fii zaalikal manshibi wayuu tsaqu bih).
IV. Ulangan :
a. Terjemahkan ke bahasa Indonesia:
1. Sauhidal hilaalu fis samaa-i baadiyan min ba'di waraa-il jibaali lailata amsi fabtada-al ba'iidu wabtahajasy sya'bu.
2. Tu'rafu yasribul aana bismil madiinati wayuqaalu innaha attakhazat zaalikal isma ba'da hijratin nabiyyi ilaihaa.
3. Zahafal jaisul islaamiyyu 'alasy sya'mi waqtarafa minhaa fafutihat fii ayyaami 'umara tahta qiyaadati "Khalidi" wa 'indal istiilaa-i 'alaihaa ukrima ahluhaa wa quddima ilaihim ta'ahhudu bihifdzhi hayaatihim wa'adami qatlihim wa'aumiluu birifqin wahawaa fidzha 'alaa hurmati buyuutihim watahassanat haalatuhum.
4. Tu'tabarusy syajaa'atu min afdhalish shifaatil latii turaafiqur rajula wakhaashshatan fil harb.
5. Yusta'naful 'amalu qabla dzhuhril yaumi fiil ma'aamili ba'da an marra 'alal idhraabi dhiddasy syarikati syahrun kaamil. Waqadit tafaqat lajnatul muwadzhdzhafiina ma'a muhaamiisy syarikati wamudiirihaa 'alaa saa'atil 'amali wa 'ala tahqiiqil mathaalibil ukhraa.
6. Taquulul ahbaaru innahu u'lina fii 'aashimatil jumhuuriyyati anna hukuumatan jadiidatan syukkilatil yauma biqiyaadati naa-ibin qadiirin huwa ra-iisul hizbil wathaniyyi, wayabduu anna haazihil hukuumata tata-allafu min zu'amaa-i mukhlishiina yahkumuuna bil 'adli wal istiqaamati wayata'aawanuuna limashlahatil ummah, walaisat kal hukuumatir raj'iyyatil maadhiyati, walizaalika minal muntadzhari an tanaala tsiqatal majlis.
b. Terjemahkan ke bahasa Arab:
1. Sesudah revolusi, Perdana Men teri itu dikeluarkan dari negeri itu dan itu dituntutnya (dikehendaki ulnya) bahwa dia tidak akan kembali.
2. Kota itu dikalahkan (diduduki) dan banyak orang yang dipenjara kan.
3. Para wartawan itu diizinkan untuk menemui Menteri Dalam Negeri, supaya dapat mengemu kakan tuntutan (j) mereka.
4. Al Azhar didirikan pada tahun 972 M dan diyakini bahwa ia universitas tertua dunia.
5. Ahmad terpilih sebagai ketua perkumpulan untuk mempelajari Sejarah Dunia.
Oleh Wak Amin
S. Kata Kerja Pasif
I. Bahan Pelajaran :
a. Almarhum Riyadh Bey Asshulhi dilahirkan tahun 1894 dan dikata kan orang tahun 1893 (Wulidal mar huumu riyaadhun bikush shulhu sa nata 1894 waqiila sanata 1893).
b. Sesudah (dia) belajar di beberapa sekolah di Beirut dia dikirim ke is tambul untuk belajar hukum dan dia menjadi advocaat (pengacara) (Waba'da an darasa fii madaarisi bairuuta ursila ilaa isthambuula liyadrusasy syarii'ata wayumsiya muhaamiyan).
c. Pada (waktu) Perang Dunia Pertama, dia dipidana oleh pihak Kesultanan Turki karena ikut (bersekongkol) dalam gerakan perju angan Arab untuk kemerdekaan dengan hukuman mati (Wafil harbil 'aalamiyyatil uulaa 'auqiba min jaanibissuluthaatit turkiyyati lisytiraakihi fii harakatil jihaadil 'arabiyyi lil hurriyyati bi-an hukima 'alaihi bil i'daam).
d. Tetapi hukuman itu diganti de ngan dibuang ke Asia Kecil (Walaakinna zaalikal hukmas tubdila binnafyi ilaa aasiyash shughraa).
e. Dan dia ditunjuk (ditetapkan) sebagai Wakil Libanon Selatan pada Muktamar Syria yang diada kan untuk penobatan Faisal (Wa qad 'uyyina mumatstsilan 'an lubnaana janawiyyi fil mu-tamaris sauriyyillazii 'uqida limubaaya'ati faishalin).
f. Sewaktu Perancis menduduki (menaklukkan) Syria, dia dipaksa untuk keluar dari negeri itu, dan dia kembali ke Libanon (Wa 'indamaahtallal faransiyyuuna sauriyyatadh thurra ilal khuruji minal bilaadi tsumma 'aada ilaa lubnaan).
g. Pada tahun 1936, dia diminta mendampingi delegasi (utusan) Syria ke Muktamar Paris sebagai penasihat perundingan tentang perjanjian dengan Perancis (Wafi sanati 1936 du'iya liyuraafiqal wafdas sauriyya ila mu'tamari baariisa kamustasyaarin lil mufaawadhati bisya-ni mu'aahadatin ma'a faransa).
h. Sesudah amandemen konstitu si, dia ditunjuk sebagai Perdana Menteri pertama Republik Libanon Merdeka (Wa ba'da ta'diilid dustuuri 'uyyina awwalan ra-iisi wuzaara-a lil jumhuuriyyati allubnaaniyyatil mustaqillah).
i. Dan dia mati (terbunuh) di Amman pada musim panas 1951 (Waqutila aghtiyaalan fii 'ammaana fi shaifi 1951).
j. Dia dianggap sebagai pendiri Nasionalis Arab, dan dikatakan bahwa dia menjadi pelopor (bagi) kemerdekaan Libanon pada Perang Dunia Kedua (Wa yu'addu ashlan minal wathaniyyiinal 'arabi, wa yuqaalu innahu ashbaha daa'iyan lil -istiqlaalil lubnaaniyyi fil harbil 'aalamiyyatits tsaaniyah).
k. Dan diyakini orang bahwa dia salah satu dari penegak (tiang) kemerdekaan itu dan di antara ora ng-orang yang berkorban untuk itu (Wayu"taqadu annahu kaana min arkaani zaalikal istiqlaali waminal laziina dhahhau fii sabiilih).
l. Karena itu, namanya dihormati dan dimuliakan (disanjung) sebagai seorang pemimpin yang ikhlas (jujur), berkuasa (berwibawa) mengingat baktinya untuk negerinya (Lizaalika fa-inna asmahu yukramu wayuhfadzhu kaqaa-idin mukhlishiin qadiirini' tiraafan bikhidmatihi libalaadihi).
II. Pembahasan Tata Bahasa :
1. Kata kerja Wulida orang ketiga masculin tunggal perferect pasif dari kata kerja akar Walada. Perpect pa sif kata kerja yang mempunyai tiga suku kata dibentuk dengan jalan mengganti harkat suku pertamanya (perpect aktif) menjadi dhammah dan suku keduanya menjadi kasrah.
Kata kerja Qiila orang ketiga masculin tunggal perpect pasif dari Qaala. Perfect pasif kata kerja lowong pada I, IV, VII, VIII, dan X, suku tengahnya menjadi Ya yang didahului harkat kasrah.
Kata kerja Qiila orang ketiga mas culin tunggal perfect pasif dari Qa ala. Perpect pasif kata kerja lowong pola I, IV, VII, VIII dan X, suku tengah nya menjadi Ya yang didahului har kat kasrah.
2. Ursila kata kerja orang ketiga masculin tunggal perfect pasif pola IV dari Arsala. Karena aktifnya juga tiga suku kata, maka bentuk pasif nya disesuaikan dengan prinsip di atas (nomor 1). "Hamzah" pola ke empat adalah "hamzah" biasa, bu kan washal, baik dalam aktif mau pun pasifnya.
3. Kata kerja 'Uuqiba orang ketiga masculin tunggal perfect pasif pola III 'Aqaba. Dalam pola III dan IV alifnya diganti dengn "waw" karena dipengaruhi oleh dhammah yang mendahuluinya.
4. Kata kerja Ustubdila orang ketiga maaculin tunggal perfect pasif pola X Istabdala. Perfect pasif kata kerja empat suku kata dibentuk dengan mengganti aktifnya pada suku pertama dan kedua menjadi dhammah dan suku ketiganya menjadi kasrah.
5. Kata kerja 'Uyyina orang ketiga masculin tunggal perfect pasif dari pola II 'Ayyana.
6. Kata kerja Adhthurra < Udhthurira orang ketiga masculin tunggal perfect pasif dari pola VIII Idhtharra. Pada kata kerja ganda (bertasydid) seperti ini, kaarah suku ketiga disatukan dengan tasydid.
7. Kata kerja Du'iya orang ketiga masculin tunggal perfect pasif dari kata kerja Da'aa yang huruf lemah "lam" nya. Pada kata kerja perfect pasif yang berhuruf lemah "lam" nya, suku ketiganya menjadi huruf "Ya" dan berharkat fathah. Hal ini berlaku unruk semua pola.
10. Kata kerja Yu'addu (> Yu'dadu) orang ketiga masculin tunggal im perpect pasif dari 'Adda. Imperpect pasif dibentuk dengan jalan meng ganti harkat suku keduanya menjadi fathah.
Pada kata kerja seperti ini, harkat fathah yang seharusnya pada suku tengah dipindahkan ke suku sebe lumnya.
Kata kerja Yuqaalu orang ketiga masculin tunggal imperpect pasif dari kata kerja lowong (lemah) Qaala. Dalam imperpect pasif pola I, IV, VII, VIII dan X yang bersifat lemah suku tengahnya (lowong), maka harkat fathah yang seharus nya di tengah (sesuai dengan keten tuan di atas), harus dialihkan pada suku sebelumnya dan suku tengah diberi alif, dibunyikan seperti perpect juga.
11. Kata kerja Yu'taqadu orang keti ga masculin tunggal imperpect pasif dari pola VIII I'taqada.
12. Kata kerja Yukramu orang ke tiga masculin tunggal imperpect pasif dari kata kerja pola IV Akra ma. Bentuk imperpect pasif dari pola I dan IV adalah sama kea daannya.
Catatan :
Kata kerja imperpect pasif yang lemah "fanya" pola I dan IV, suku pertamanya selamanya dipanja ngkan dengan huruf "Waw". Dalam pola lain suku pertama tetap seperti biasa.
Kata kerja imperpect pasif yang " Lam" nya huruf lemah pada semua pola suku terakhirnya adalah "Alif" maqsurah.
III. Latihan :
1. Surat kabar "Al Ahram" didirikan pada tahun 1875 di Iskandariyah. Dua orang mendirikannya ialah dua ustad : Salim dan Bisyarah Taqla (Ussisat jariidatul "Ahraami" sanata 1875 fil iskandaariyyati wa mu-assisaaha humal ustaazaani Saliimun wa Bisyaratu Taqla).
2. Keduanya terpaksa (sedikit wak tu) sebelum itu untuk pindah (hijrah) dari negeri mereka yang asli yaitu Libanon, sesudah keduanya dilarang bekerja secara bebas pada surat kabar, disebabkan (tekanan) yang kuat oleh Turki (Wakaana qadidhthurra qubaila zaalika ilaa ayyuhaajiraa min bilaadihimal ashliyyati ay lubnaana ba'da an muni'aa minal 'amali fish shihaafati bihurriyyatit turkiyyi).
3. Markas surat kabar itu dipindahkan pada tahun 1900 ke Kairo dan semakin baiklah keadaannya (Wanukila markazul jariidati sanati 1900 ilal qaahirati wa tahassanat katsiiraa).
4. Tatkala Bisyarah Taqla mening gal dunia (wafat), isterinya berku asa sebagai direktur urusan surat kabar itu, hingga anaknya Jibril diajar mengenai (keadaan) surat kabar itu (Walammaa tuwaffiya Bisyaaratu Taqla tawallat zaujatuhu idaaratu syu-uunil jariidati hatta yu'allama abnuhaa jibriilu tilkasy syu-uuna
).
5. Tatkala Jibril mengambil over direksi, beberapa kantor dibuka di setiap kota yang penting, dan ditetapkan (ditunjuk) beberapa koresponden beberapa surat kabar itu disana untuk mengirimkan (me mindahkan) berita-berita yang benar (Wa 'indamaa tawalli jibriilul idaarata futihat makaatibu fii kulli mudunil muhimmati wa'uyyina muraasiluuna lil jariidati fiiha liyanquluul akhbaarash shahiihah).
6. Gambar fotografi dipergunakan secara luas dan linotyp dipergunakan untuk pertama kali du negeri-negeri Arab (Wastu'milatish shuuratul fuutuu gharaafiyyatu 'ala asasin waa-si'in wastukhdimalliinuu taibu li-awwali marratin fil buldaanil 'arabiyyati).
7. Maka jadilah Al Ahram dianggap sebagai surat kabar terbesar di dunia Arab (Fashaaratil "Ahraamu" tu'addu akbaral jaraa-idi fil 'aalamil 'arabiyyi).
8. Jibril wafat tahun 1943 (mening galkan) seorang putra dan dua orang putri (Watuwuffiya jibriilu sanata 1943 'ani abni wabnataini).
9. Adapun putranya bernama Basya rah juga, pergi dalam waktu singkat ke Amerika Utara, dan dia mengadakan hubungan dengan beberapa surat kabar Amerika, mempelajari pengelolaan surat kabar supaya dia menjadi seorang editor yang berdiri sendiri (berdikari) pada jabatan itu, dan percaya atas dirinya (Ammal iinu wasmuhu bisyaaratu aidhan faqad sharafa waqtan qashiira fii amriikasy syamaaliyyati wahuwa yuqiimush shilaati ma'ash shihaafatil amriikiyyati wayadrusu idaaratal jaraa-idi kay yushbiha muharriran yu'tamadu 'alaihi fii zaalikal manshibi wayuu tsaqu bih).
IV. Ulangan :
a. Terjemahkan ke bahasa Indonesia:
1. Sauhidal hilaalu fis samaa-i baadiyan min ba'di waraa-il jibaali lailata amsi fabtada-al ba'iidu wabtahajasy sya'bu.
2. Tu'rafu yasribul aana bismil madiinati wayuqaalu innaha attakhazat zaalikal isma ba'da hijratin nabiyyi ilaihaa.
3. Zahafal jaisul islaamiyyu 'alasy sya'mi waqtarafa minhaa fafutihat fii ayyaami 'umara tahta qiyaadati "Khalidi" wa 'indal istiilaa-i 'alaihaa ukrima ahluhaa wa quddima ilaihim ta'ahhudu bihifdzhi hayaatihim wa'adami qatlihim wa'aumiluu birifqin wahawaa fidzha 'alaa hurmati buyuutihim watahassanat haalatuhum.
4. Tu'tabarusy syajaa'atu min afdhalish shifaatil latii turaafiqur rajula wakhaashshatan fil harb.
5. Yusta'naful 'amalu qabla dzhuhril yaumi fiil ma'aamili ba'da an marra 'alal idhraabi dhiddasy syarikati syahrun kaamil. Waqadit tafaqat lajnatul muwadzhdzhafiina ma'a muhaamiisy syarikati wamudiirihaa 'alaa saa'atil 'amali wa 'ala tahqiiqil mathaalibil ukhraa.
6. Taquulul ahbaaru innahu u'lina fii 'aashimatil jumhuuriyyati anna hukuumatan jadiidatan syukkilatil yauma biqiyaadati naa-ibin qadiirin huwa ra-iisul hizbil wathaniyyi, wayabduu anna haazihil hukuumata tata-allafu min zu'amaa-i mukhlishiina yahkumuuna bil 'adli wal istiqaamati wayata'aawanuuna limashlahatil ummah, walaisat kal hukuumatir raj'iyyatil maadhiyati, walizaalika minal muntadzhari an tanaala tsiqatal majlis.
b. Terjemahkan ke bahasa Arab:
1. Sesudah revolusi, Perdana Men teri itu dikeluarkan dari negeri itu dan itu dituntutnya (dikehendaki ulnya) bahwa dia tidak akan kembali.
2. Kota itu dikalahkan (diduduki) dan banyak orang yang dipenjara kan.
3. Para wartawan itu diizinkan untuk menemui Menteri Dalam Negeri, supaya dapat mengemu kakan tuntutan (j) mereka.
4. Al Azhar didirikan pada tahun 972 M dan diyakini bahwa ia universitas tertua dunia.
5. Ahmad terpilih sebagai ketua perkumpulan untuk mempelajari Sejarah Dunia.
Peluk Aku Ya Allah (21)
Peluk Aku Ya Allah (21)
Oleh Wak Amin
MARYAM dimakamkan ...
Tidak ada yang istimewa di hari pe makaman itu. Berlangsung pagi ha ri. Upacara pemakaman dipimpin Kolonel Ihsan.
Doa dipercayakan kepada Kapten Adi. Pembacaan doa berlangsung khidmat. Rasa haru tak kuasa di sembunyikan Jenderal Mansur.
Demikian pula halnya dengan Zai nab. Dia meneteskan air mata keti ka jenazah Maryam diturunkan ke liang lahat. Lalu ditimbun lagi dan diratakan dengan tanah.
Maryam dimakamkan di belakang benteng Al 'la. Semua anggota pa sukan pribumi, kecuali yang dituga si berjaga di sekitar benteng, hadir dalam prosesi pemakaman yang singkat tapi padat itu.
Usai pemakaman, tak jauh dari pin tu gerbang Al A'la, Kolonel Ihsan mendekati Zainab yang masih ber duka.
"Nab!"
Zainab menoleh dengan tatapan mata sendu ...
"Om harap kamu tak lupakan janji," kata Kolonel Ihsan.
Janji apa?
"Insya Allah Om Kolonel. Siap untuk diingat!"
"Alhamdulillah, Om bersyukur kamu ingat. Om harap kamu tetap ingat selalu," harap Kolonel Ihsan.
Dia berharap, Zainab bukan saja amanah dan tak ingkar janji, tapi mengayomi segenap pasukan pribumi.
Tentu yang lebih penting lagi ada lah tidak kenal kata menyerah, men jaga persatuan dan kesatuan serta bertekad kuat membangun dan me makmurkan kembali negeri ini dari 'keterpurukan' akibat perang.
"Zainab juga berharap ayah .." Salah ucap, Zainab coba 'meralat.'
"Tak usah Zainab. Om tak keberat an kamu panggil ayah. Om sangat senang mendengarnya. Sudah be lasan tahun Om sebenarnya menu nggu sebutan itu."
Sejenak tertegun, lalu memeluk erat Kolonel Ihsan.
"Ayaaah!"
"Anakku Zainab."
Tampak Jenderal Mansur dan Kap ten ikut terharu menyaksikan adeg an tak biasanya Kolonel Ihsan dan Zainab.
Allahu Akbar ...
Maha Agung Engkau ya rabbi ...
*******
Oleh Wak Amin
MARYAM dimakamkan ...
Tidak ada yang istimewa di hari pe makaman itu. Berlangsung pagi ha ri. Upacara pemakaman dipimpin Kolonel Ihsan.
Doa dipercayakan kepada Kapten Adi. Pembacaan doa berlangsung khidmat. Rasa haru tak kuasa di sembunyikan Jenderal Mansur.
Demikian pula halnya dengan Zai nab. Dia meneteskan air mata keti ka jenazah Maryam diturunkan ke liang lahat. Lalu ditimbun lagi dan diratakan dengan tanah.
Maryam dimakamkan di belakang benteng Al 'la. Semua anggota pa sukan pribumi, kecuali yang dituga si berjaga di sekitar benteng, hadir dalam prosesi pemakaman yang singkat tapi padat itu.
Usai pemakaman, tak jauh dari pin tu gerbang Al A'la, Kolonel Ihsan mendekati Zainab yang masih ber duka.
"Nab!"
Zainab menoleh dengan tatapan mata sendu ...
"Om harap kamu tak lupakan janji," kata Kolonel Ihsan.
Janji apa?
"Insya Allah Om Kolonel. Siap untuk diingat!"
"Alhamdulillah, Om bersyukur kamu ingat. Om harap kamu tetap ingat selalu," harap Kolonel Ihsan.
Dia berharap, Zainab bukan saja amanah dan tak ingkar janji, tapi mengayomi segenap pasukan pribumi.
Tentu yang lebih penting lagi ada lah tidak kenal kata menyerah, men jaga persatuan dan kesatuan serta bertekad kuat membangun dan me makmurkan kembali negeri ini dari 'keterpurukan' akibat perang.
"Zainab juga berharap ayah .." Salah ucap, Zainab coba 'meralat.'
"Tak usah Zainab. Om tak keberat an kamu panggil ayah. Om sangat senang mendengarnya. Sudah be lasan tahun Om sebenarnya menu nggu sebutan itu."
Sejenak tertegun, lalu memeluk erat Kolonel Ihsan.
"Ayaaah!"
"Anakku Zainab."
Tampak Jenderal Mansur dan Kap ten ikut terharu menyaksikan adeg an tak biasanya Kolonel Ihsan dan Zainab.
Allahu Akbar ...
Maha Agung Engkau ya rabbi ...
*******
Mang Kerio (132)
Mang Kerio (132)
Oleh Wak Amin
"SELAMAT siang para hadirin, pe ng unjung sekalian. Kami mengunda ng anda sekalian untuk tampil ke at as panggung menyumbangkan la gu," kata salah seorang perempuan manis, penyanyi merangkap MC ru mah makan Pagi Berseri.
Merasa diundang naik ke atas pang gung untuk tarik suara, Sinta amat senang. Yunita coba menghalangi nya, tapi Sinta tetap nekat.
"Biarin saya Yun. Please!" Sinta su dah dewasa, kata Mang Kerio, beri kesempatan dia untuk berbuat yang terbaik, mungkin buat kita.
"Yo Ten. La besak Sintatu," kato Cek Leha, neruske omongan Mang Kerio.
"Hasan yakin Sinta akan baik-baik saja, Te ..." Hasan sudah tak sabar menunggu lagu apa yang bakal di nyanyikan Sinta.
"Lagu ini khusus saya persembah kan buat Mamaku yang tersayang. Beliaulah satu-satunya yang kumiliki saat ini ..."
Bedesau hati Yunita mendengar nya. Dia seolah tak percaya jika ucapan barusan terlontar dari mulut sang buah hati.
"Mudah-mudahan lagu ini dapat me nghibur kalian semua yang hadir di sini, khususnya Mamaku yang am at kucintai dan kusayangi ..."
Suasana berubah hening ...
Tak lama kemudian terdengar tem bang 'Mother, How Are You To day' ...
Mother, how are you today?
(Ibu, bagaimana kabarmu hari ini)?
Here is a note from your daughter
(Ini pesan dari putrimu)
With me everything is OK.
(Dan kabarku baik-baik saja)
Mother, how are you today?
(Ibu, bagaimana kabarmu hari ini)?
Mother, don’t worry, I’m fine.
(Ibu, jangan kuatir, kabarku baik)
Promise to see you this summer
(Ku janji akan menemuimu musim panas nanti)
This time there will be no delay
(Kali ini takkan tertunda lagi)
Mother, how are you today?
(Ibu, bagaimana kabarmu hari ini)?
Verse
I found the man of my dreams
(Kutemukan pria yang kuidamkan)
Next time you will get to know him
(Lain waktu kau kan mengenalnya)
Many things happened while I was away
(Banyak yang terjadi saat aku pergi)
Mother, how are you today?
(Ibu, bagaimana kabarmu hari ini)?
Plak .. Pak .. Plak .. Pak ...
"Terima kasih ... Terima kasih," uc ap Sinta sambil tak henti-hentinya membungkukkan badan di hadapan pengunjung rumah makan yang selalu ramai itu.
Oleh Wak Amin
"SELAMAT siang para hadirin, pe ng unjung sekalian. Kami mengunda ng anda sekalian untuk tampil ke at as panggung menyumbangkan la gu," kata salah seorang perempuan manis, penyanyi merangkap MC ru mah makan Pagi Berseri.
Merasa diundang naik ke atas pang gung untuk tarik suara, Sinta amat senang. Yunita coba menghalangi nya, tapi Sinta tetap nekat.
"Biarin saya Yun. Please!" Sinta su dah dewasa, kata Mang Kerio, beri kesempatan dia untuk berbuat yang terbaik, mungkin buat kita.
"Yo Ten. La besak Sintatu," kato Cek Leha, neruske omongan Mang Kerio.
"Hasan yakin Sinta akan baik-baik saja, Te ..." Hasan sudah tak sabar menunggu lagu apa yang bakal di nyanyikan Sinta.
"Lagu ini khusus saya persembah kan buat Mamaku yang tersayang. Beliaulah satu-satunya yang kumiliki saat ini ..."
Bedesau hati Yunita mendengar nya. Dia seolah tak percaya jika ucapan barusan terlontar dari mulut sang buah hati.
"Mudah-mudahan lagu ini dapat me nghibur kalian semua yang hadir di sini, khususnya Mamaku yang am at kucintai dan kusayangi ..."
Suasana berubah hening ...
Tak lama kemudian terdengar tem bang 'Mother, How Are You To day' ...
Mother, how are you today?
(Ibu, bagaimana kabarmu hari ini)?
Here is a note from your daughter
(Ini pesan dari putrimu)
With me everything is OK.
(Dan kabarku baik-baik saja)
Mother, how are you today?
(Ibu, bagaimana kabarmu hari ini)?
Mother, don’t worry, I’m fine.
(Ibu, jangan kuatir, kabarku baik)
Promise to see you this summer
(Ku janji akan menemuimu musim panas nanti)
This time there will be no delay
(Kali ini takkan tertunda lagi)
Mother, how are you today?
(Ibu, bagaimana kabarmu hari ini)?
Verse
I found the man of my dreams
(Kutemukan pria yang kuidamkan)
Next time you will get to know him
(Lain waktu kau kan mengenalnya)
Many things happened while I was away
(Banyak yang terjadi saat aku pergi)
Mother, how are you today?
(Ibu, bagaimana kabarmu hari ini)?
Plak .. Pak .. Plak .. Pak ...
"Terima kasih ... Terima kasih," uc ap Sinta sambil tak henti-hentinya membungkukkan badan di hadapan pengunjung rumah makan yang selalu ramai itu.
Peluk Aku Ya Allah (20)
Peluk Aku Ya Allah (20)
Oleh Wak Amin
DENGAN langkah cepat Zainab me ncari keberadaan Kolonel Ihsan. Ter nyata Sang Kolonel berada di pintu gerbang Al-A'la, berbincang serius dengan Kapten Adi.
Melihat Zainab datang, ia menghe tikan pembicaraannya dengan ora ng kepercayaan Jenderal Mansur itu ...
"Om Kolonel. Dipanggil Jenderal Mansur segera."
"Siap Komandan Zainab!"
"Siap juga Om Kolonel dan Kapten Adi"
Di atas pembaringan, Jenderal Man sur hanya bisa menangisi kepergi an selama-lamanya orang yang dia amat cinta.
Zainab, Kolonel Ihsan dan Kapten Adi seolah tak percaya Maryam te lah tiada. Andaikata satu menit le bih awal tentu dia masih bisa men dengar dan berucap sepatah dua patah kata dengan Maryam.
Tapi itulah takdir. Kehendak ilahi. Kita manusia harus bersangka baik pada-Nya. Semua yang terjadi pasti ada hikmah di baliknya.
"Kak Maryaaaam!"
Pecah juga akhirnya tangis Zainab. Hari ini ia tumpahkan rasa sedih nya dan rasa cinta serta sayang kepada kakaknya.
Kolonel Ihsan menenangkannya. Tapi tidak melarangnya untuk menangisi kepergian Zainab.
"Om tahu kalian berdua amat de kat. Kalian sudah seperti saudara. Kemana-mana selalu berdua. Om kagum pada kalian berdua. Om ba ngga punya dua perempuan hebat. Perempuan yang siap mati. Siap membela bangsa dan negaranya. Tapi hari ini ... Allah berkehendak lain."
"Oooom Ihsan!"
Zainab memeluk erat Kolonel Ih san. Keduanya menangis. Mene teskan air mata.
"Nab. Kamu harus ikhlaskan keper gian Maryam," kata Jenderal Man sur yang baru saja mendekat dari samping kanan Zainab.
"Kamu harus bangkitNak."
Zainab tak menjawab. Tapi dia me ngaku sangat kehilangan sosok Maryam dan berjanji akan terus mengenang perjuangannya.
"Saya juga berjanji akan terus me lanjutkan perjuangan ini sampai titik darah penghabisan."
Lega juga Kolonel Ihsan dan Jen deral Mansur mendengarnya.
"Kami berdua," kata Kolonel Ihsan," "Akan selalu mendukung setiap la ngkahmu, Nab. Engkaulah pemim pin utama pasukan pribumi saat ini."
"Bapak percaya sama kamu. Bapak, Kolonel Ihsan dan Kapten Adi yakin di tanganmu pasukan kita insya Allah akan kembali berjaya."
Oleh Wak Amin
DENGAN langkah cepat Zainab me ncari keberadaan Kolonel Ihsan. Ter nyata Sang Kolonel berada di pintu gerbang Al-A'la, berbincang serius dengan Kapten Adi.
Melihat Zainab datang, ia menghe tikan pembicaraannya dengan ora ng kepercayaan Jenderal Mansur itu ...
"Om Kolonel. Dipanggil Jenderal Mansur segera."
"Siap Komandan Zainab!"
"Siap juga Om Kolonel dan Kapten Adi"
Di atas pembaringan, Jenderal Man sur hanya bisa menangisi kepergi an selama-lamanya orang yang dia amat cinta.
Zainab, Kolonel Ihsan dan Kapten Adi seolah tak percaya Maryam te lah tiada. Andaikata satu menit le bih awal tentu dia masih bisa men dengar dan berucap sepatah dua patah kata dengan Maryam.
Tapi itulah takdir. Kehendak ilahi. Kita manusia harus bersangka baik pada-Nya. Semua yang terjadi pasti ada hikmah di baliknya.
"Kak Maryaaaam!"
Pecah juga akhirnya tangis Zainab. Hari ini ia tumpahkan rasa sedih nya dan rasa cinta serta sayang kepada kakaknya.
Kolonel Ihsan menenangkannya. Tapi tidak melarangnya untuk menangisi kepergian Zainab.
"Om tahu kalian berdua amat de kat. Kalian sudah seperti saudara. Kemana-mana selalu berdua. Om kagum pada kalian berdua. Om ba ngga punya dua perempuan hebat. Perempuan yang siap mati. Siap membela bangsa dan negaranya. Tapi hari ini ... Allah berkehendak lain."
"Oooom Ihsan!"
Zainab memeluk erat Kolonel Ih san. Keduanya menangis. Mene teskan air mata.
"Nab. Kamu harus ikhlaskan keper gian Maryam," kata Jenderal Man sur yang baru saja mendekat dari samping kanan Zainab.
"Kamu harus bangkitNak."
Zainab tak menjawab. Tapi dia me ngaku sangat kehilangan sosok Maryam dan berjanji akan terus mengenang perjuangannya.
"Saya juga berjanji akan terus me lanjutkan perjuangan ini sampai titik darah penghabisan."
Lega juga Kolonel Ihsan dan Jen deral Mansur mendengarnya.
"Kami berdua," kata Kolonel Ihsan," "Akan selalu mendukung setiap la ngkahmu, Nab. Engkaulah pemim pin utama pasukan pribumi saat ini."
"Bapak percaya sama kamu. Bapak, Kolonel Ihsan dan Kapten Adi yakin di tanganmu pasukan kita insya Allah akan kembali berjaya."
Kamis, 13 Juni 2019
Mang Kerio (131)
Mang Kerio (131)
Oleh Wak Amin
DI rumah makan ...
"MBAK .. Mau pesan apa?" Tanya pegawai wanita rumah makan, ayu dan manis lagi.
"Sin. Hei. Ngelamun aja," tegur Sang Mama heran. Tak biasanya si anak melamun.
Ada apa ya?
"Tengok hidungnya Kak Hasan Ma," bisik Sinta.
"Ada apa dengan hidungnya?"
"Mancung kali Ma."
He he he ...
Karena ketawa, Mang Kerio tanya, ada yang lucukah. Jawab Yunita, ada.
Apa?
Kata Sinta, Mam, kenapa disebut ru mah makan, bukan rumah tempat makan.
"Ya saya jawab Kar. Kenapa diseb ut rumah makan dan bukan rumah tempat makan karena kalau yang terakhir disebut orang ramai-ramai bawa bekal dan menumpang ma kan di tempat ini ..."
Ha ha ha ha ...
Dilucu-lucuin aja deh.
Ngecik'i balak ...
"Saya," kata Sinta pada perempuan langsing tinggi semampai, "Pesan ayam bakar satu, ikan bakar satu, pindang patin satu, ikan tempoyak satu dan sate ayam, sate kambing serta ayam goreng."
Si pegawai menulis ...
"Sudah?"
"Sudah Mbak," jawab si pegawai. Bersiap menulis lagi.
"Sekarang sayurnya. Sayur nangka, sayur kacang panjang, sayur asem, kuwah tempoyak, sambal tempe, sambal tempe dan tahu, malbi, tu mis kangkung, gado-gado, urapan, dan ketoprak."
Si pegawai menulis lagi ..
"Sudah?"
"Sudah Mbak. Ada lagi?"
"Tentu. Tak usah takut Dik. Yang sudah lauk sama sayur. Sekarang minumannya."
"Baik Mbak, saya tulis."
"Oke. Untuk minumannya. Jus na ngka, jus apel, jus alpokat, juz buah naga dan jus pepaya. Eeem .. Lalu air teh hangat manis dan dingin, air putih mineral, es campur, es kacang merah, es fogan serta susu sapi asli."
Selesai ditulis ...
"Sudah Mbak?"
"Masih ada Dik. Terakhir ini. Cuci mulut ... Pepaya satu, semangka sebelah, jeruk manis empat, sele bihnya dua dua, yaitu apel, salak, duren, manggis, duku, anggur dan lemon."
Selesai ditulis ...
"Cukup Dik .."
Oleh Wak Amin
DI rumah makan ...
"MBAK .. Mau pesan apa?" Tanya pegawai wanita rumah makan, ayu dan manis lagi.
"Sin. Hei. Ngelamun aja," tegur Sang Mama heran. Tak biasanya si anak melamun.
Ada apa ya?
"Tengok hidungnya Kak Hasan Ma," bisik Sinta.
"Ada apa dengan hidungnya?"
"Mancung kali Ma."
He he he ...
Karena ketawa, Mang Kerio tanya, ada yang lucukah. Jawab Yunita, ada.
Apa?
Kata Sinta, Mam, kenapa disebut ru mah makan, bukan rumah tempat makan.
"Ya saya jawab Kar. Kenapa diseb ut rumah makan dan bukan rumah tempat makan karena kalau yang terakhir disebut orang ramai-ramai bawa bekal dan menumpang ma kan di tempat ini ..."
Ha ha ha ha ...
Dilucu-lucuin aja deh.
Ngecik'i balak ...
"Saya," kata Sinta pada perempuan langsing tinggi semampai, "Pesan ayam bakar satu, ikan bakar satu, pindang patin satu, ikan tempoyak satu dan sate ayam, sate kambing serta ayam goreng."
Si pegawai menulis ...
"Sudah?"
"Sudah Mbak," jawab si pegawai. Bersiap menulis lagi.
"Sekarang sayurnya. Sayur nangka, sayur kacang panjang, sayur asem, kuwah tempoyak, sambal tempe, sambal tempe dan tahu, malbi, tu mis kangkung, gado-gado, urapan, dan ketoprak."
Si pegawai menulis lagi ..
"Sudah?"
"Sudah Mbak. Ada lagi?"
"Tentu. Tak usah takut Dik. Yang sudah lauk sama sayur. Sekarang minumannya."
"Baik Mbak, saya tulis."
"Oke. Untuk minumannya. Jus na ngka, jus apel, jus alpokat, juz buah naga dan jus pepaya. Eeem .. Lalu air teh hangat manis dan dingin, air putih mineral, es campur, es kacang merah, es fogan serta susu sapi asli."
Selesai ditulis ...
"Sudah Mbak?"
"Masih ada Dik. Terakhir ini. Cuci mulut ... Pepaya satu, semangka sebelah, jeruk manis empat, sele bihnya dua dua, yaitu apel, salak, duren, manggis, duku, anggur dan lemon."
Selesai ditulis ...
"Cukup Dik .."
Rabu, 12 Juni 2019
Peluk Aku Ya Allah (19)
Peluk Aku Ya Allah (19)
Oleh Wak Amin
SEHARI kemudian sekujur badan Maryam panas. Tapi di depan Zai nab dia berusaha sebisa mungkin selalu riang. Meladeni Zainab bica ra, bercanda, sampai akhirnya ...
Bruuuuk ...
Jatuh pingsan di kamarnya. Sang Ayah, Jenderal Mansur bergegas masuk ke kamar. Menenangkan Zainab yang menangis dan menci um kening Maryam yang tergolek lemah.
"Maryam ..."
Meski belum juga sadar, Jenderal Mansur yakin Maryam masih bisa bertahan dan disembuhkan.
Makanya, sebelum meninggalkan kamar tanpa ranjang itu, Jenderal Mansur membisikkan sesuatu di telinga anaknya itu.
"Kamu harus kuat Nak. Kami se mua bersama kamu. Allah bersa mamu Nak. Yakinlah, Dia akan se lalu menolong hamba-Nya yang ba ik dengan sesama dan percaya ak an kebesaran dan kasih sayang-Nya."
Sempat turun, beberapa hari kemu dian panas demamnya Maryam na ik lagi. Sempat tak sadarkan diri. Menggigil seperti orang yang ke dinginan.
Zainab yang setia menemaninya hanya bisa berdoa buat kesembu han Maryam, kakaknya. Agar bisa berdua lagi. Bercanda dan berbagi tugas bersama.
"Kak .."
"Kak Maryam."
Zainab mencoba menyadarkan Sa ng Kakak, meski itu sesuatu yang mustahil.
Allah berkehendak lain ...
Tangan Maryam tiba-tiba bergerak. Zainab terkejut, lalu dia memanggil Jenderal Mansur.
Sesampainya di kamar, mata Mar yam sudah terbuka. Dari mulutnya terucap sesuatu ...
"Ayah .."
Lemah sekali ...
"Anakku Maryam." Didekatkannya lah telinganya ke mulut Maryam.
"Ayah harus jaga Dik Zainab ya!"
"Ya Nak. Ayah berjanji."
"Mana Kolonel Mereka Ihsan Yah?"
"Ada. Sebentar," ucap Jenderal Man sur sembari meminta Zainab mema nggilkan Kolonel Ihsan yang bersia ga penuh bersama sebagian pasu kan di sekitar Al A'la.
Oleh Wak Amin
SEHARI kemudian sekujur badan Maryam panas. Tapi di depan Zai nab dia berusaha sebisa mungkin selalu riang. Meladeni Zainab bica ra, bercanda, sampai akhirnya ...
Bruuuuk ...
Jatuh pingsan di kamarnya. Sang Ayah, Jenderal Mansur bergegas masuk ke kamar. Menenangkan Zainab yang menangis dan menci um kening Maryam yang tergolek lemah.
"Maryam ..."
Meski belum juga sadar, Jenderal Mansur yakin Maryam masih bisa bertahan dan disembuhkan.
Makanya, sebelum meninggalkan kamar tanpa ranjang itu, Jenderal Mansur membisikkan sesuatu di telinga anaknya itu.
"Kamu harus kuat Nak. Kami se mua bersama kamu. Allah bersa mamu Nak. Yakinlah, Dia akan se lalu menolong hamba-Nya yang ba ik dengan sesama dan percaya ak an kebesaran dan kasih sayang-Nya."
Sempat turun, beberapa hari kemu dian panas demamnya Maryam na ik lagi. Sempat tak sadarkan diri. Menggigil seperti orang yang ke dinginan.
Zainab yang setia menemaninya hanya bisa berdoa buat kesembu han Maryam, kakaknya. Agar bisa berdua lagi. Bercanda dan berbagi tugas bersama.
"Kak .."
"Kak Maryam."
Zainab mencoba menyadarkan Sa ng Kakak, meski itu sesuatu yang mustahil.
Allah berkehendak lain ...
Tangan Maryam tiba-tiba bergerak. Zainab terkejut, lalu dia memanggil Jenderal Mansur.
Sesampainya di kamar, mata Mar yam sudah terbuka. Dari mulutnya terucap sesuatu ...
"Ayah .."
Lemah sekali ...
"Anakku Maryam." Didekatkannya lah telinganya ke mulut Maryam.
"Ayah harus jaga Dik Zainab ya!"
"Ya Nak. Ayah berjanji."
"Mana Kolonel Mereka Ihsan Yah?"
"Ada. Sebentar," ucap Jenderal Man sur sembari meminta Zainab mema nggilkan Kolonel Ihsan yang bersia ga penuh bersama sebagian pasu kan di sekitar Al A'la.
Mang Kerio (130)
Mang Kerio (130)
Oleh Wak Amin
LA agak lego dikit ...
"Eem .. Jadi cak ini Kar."
"Kar tu siapo Ma?" Kiroan Sinta, Kar tu anaknyo Mang Kerio, yang nak dipaduke samo dio.
Ke gee eran lu ...
"Kar tu namo asli Mang Kerio. Pang gilan di kelas .. Kar .. Kar .. Cak itu say. Kalu luar kelas Zulfikar ....Mak itu say. Paham ya?"
"Lebih dari paham Ma."
"Oke lanjut. Jadi Kar, makmanola bagusnyo ponakan kauni?"
Eeeem ...
Mang Kerio mikir denget. Bejalan marak''i jendelo. Enjingok'i mobil be baris-baris.
Dahtu duduk lagi ...
"Makmano Kar?"
"Mun ujiku Yun lepaske bae galo-galo ..."
"Lepaske yang tigo ikoktu, Kar?"
"Mak itula kiro-kiro Yun."
"Sin. Denger dak kato Mang Kerio barusan?"
"Denger Ma."
"Makmano pendapat kau?"
"Dak papo Ma dilepaske tigo-tigo nyo. Asal bae ..."
Sinta tesenyum geli.
"Asal bae maksud kautu apo Sinta. Mama jadi bingung. Yang jelas dan tegas kalu ngomongtu."
"Takutnyo gek Mama tesinggung."
Haaa ?
Yunita mambah bingung. Le nak mumet palakni. Tapi masih biso ditahanke.
"Mama dak apo-apo kan kalu Sinta omongke?"
"Idak. Omongke bae samo Mang Kerio. Sudahtu kito balik."
"Asal bae anak Mang Kerio yang lanangtu enjukke bae samo Sinta."
"Astaghfirullahal azhiem. Sinta!" Ma lu campur marah. Kalu bukan di de pan Mang Kerio, la diremetnyo rai cantik itu.
"Sudah .. Sudah .." Mang Kerio cubo nengahi ..
Dak lamotu telepon bebunyi. Diang kat Mang Kerio. Ruponyo dari anak nyo Hasan, yang mampir denget ke kantor abahnyo nak ngajak makan siang.
Oleh Wak Amin
LA agak lego dikit ...
"Eem .. Jadi cak ini Kar."
"Kar tu siapo Ma?" Kiroan Sinta, Kar tu anaknyo Mang Kerio, yang nak dipaduke samo dio.
Ke gee eran lu ...
"Kar tu namo asli Mang Kerio. Pang gilan di kelas .. Kar .. Kar .. Cak itu say. Kalu luar kelas Zulfikar ....Mak itu say. Paham ya?"
"Lebih dari paham Ma."
"Oke lanjut. Jadi Kar, makmanola bagusnyo ponakan kauni?"
Eeeem ...
Mang Kerio mikir denget. Bejalan marak''i jendelo. Enjingok'i mobil be baris-baris.
Dahtu duduk lagi ...
"Makmano Kar?"
"Mun ujiku Yun lepaske bae galo-galo ..."
"Lepaske yang tigo ikoktu, Kar?"
"Mak itula kiro-kiro Yun."
"Sin. Denger dak kato Mang Kerio barusan?"
"Denger Ma."
"Makmano pendapat kau?"
"Dak papo Ma dilepaske tigo-tigo nyo. Asal bae ..."
Sinta tesenyum geli.
"Asal bae maksud kautu apo Sinta. Mama jadi bingung. Yang jelas dan tegas kalu ngomongtu."
"Takutnyo gek Mama tesinggung."
Haaa ?
Yunita mambah bingung. Le nak mumet palakni. Tapi masih biso ditahanke.
"Mama dak apo-apo kan kalu Sinta omongke?"
"Idak. Omongke bae samo Mang Kerio. Sudahtu kito balik."
"Asal bae anak Mang Kerio yang lanangtu enjukke bae samo Sinta."
"Astaghfirullahal azhiem. Sinta!" Ma lu campur marah. Kalu bukan di de pan Mang Kerio, la diremetnyo rai cantik itu.
"Sudah .. Sudah .." Mang Kerio cubo nengahi ..
Dak lamotu telepon bebunyi. Diang kat Mang Kerio. Ruponyo dari anak nyo Hasan, yang mampir denget ke kantor abahnyo nak ngajak makan siang.
Peluk Aku Ya Allah (18)
Peluk Aku Ya Allah (18)
Oleh Wak Amin
USAI melakukan perjalanan sehari semalam, akhirnya pasukan pribu mi tiba di sebuah tempat yang me nyerupai perbukitan.
Ada bangunan benteng yang, walau sudah tua usianya, masih kokoh dan bisa digunakan sebagai perta hanan dan tempat beristirahat.
Benteng itu cukup luas. Di bagian tengahnya ada tanah lapang dan tempat duduk terbikin dari batu ya
ng khusus dipahat menyerupai kursi.
Di sekitarnya ditumbuhi aneka pepo honan, meski sudah lama tidak teru rus, masih lebat dan lumayan nya man untuk berlindung dari panas teriknya sinar matahari.
Di puncak benteng ada dua meriam tua. Dua meriam inilah yang saat ini diperbaiki Kolonel Ihsan dan Kap ten Adi. Meriam ini sangat diperluk an untuk mengantisipasi serangan darat dan udara yang dilancarkan pihak musuh.
Pasukan pribumi bergerak cepat. Jenderal Mansur memerintahkan anggota pasukannya merapikan semua sudut benteng Al A'la, luar dan dalam.
Sedangkan Kolonel Ihsan dan Kap ten Adi, selain menormalkan kem bali fungsi meriam, juga meminta sebagian anggota pasukan pribumi menata ulang persenjataan, terma suk memetakan dan memilih areal penyerangan, pertahanan berlapis serta tempat-tempat khusus yang bisa dijadikan persembunyian se mentara dalam keadaan terdesak karena dibombardir pasukan lawan.
Sementara Zainab dan Maryam ke bagian menyapu halaman tengah. Keduanya berbagi tugas. Zainab menyapu bagian sebelah kiri seda ngkan Maryam di sebelah kanan.
Sisa-sisa daun yang sudah layu, ran ting pepohonan dan bekas tumpu kan tanah yang sudah mengering itu dimasukkan ke dalam bak sam pah persegi empat buatan dua pra jurit pribumi menggunakan media tanah.
Setelah tugas pertama selesai, dua wanita cantik ini bergegas ke ruang belakang Al A'la. Di sana mereka memasak air dan menyiapkan ma kanan sisa perbekalan yang sem pat dibawa dari Al Hayat.
"Kak Maryam. Kalau capek istirahat dulu di kamar. Biar Zainab yang me neruskannya," kata Zainab. Dia meli hat Maryam kelelahan. Sorot mata nya sendu, sepertinya kekurangan tidur.
"Enggak Nab. Kakak enggak capek," jawab Maryam sembari mengering kan cucian piring dan gelas di atas lantai tanah yang sudah mengeras.
Maryam berbohong. Dia capek se benarnya. Tapi dia tak tega mem bi arkan Zainab bekerja sendirian di dapur.
Apa saya salah? Tanya Maryam dalam hati kecilnya ...
Oleh Wak Amin
USAI melakukan perjalanan sehari semalam, akhirnya pasukan pribu mi tiba di sebuah tempat yang me nyerupai perbukitan.
Ada bangunan benteng yang, walau sudah tua usianya, masih kokoh dan bisa digunakan sebagai perta hanan dan tempat beristirahat.
Benteng itu cukup luas. Di bagian tengahnya ada tanah lapang dan tempat duduk terbikin dari batu ya
ng khusus dipahat menyerupai kursi.
Di sekitarnya ditumbuhi aneka pepo honan, meski sudah lama tidak teru rus, masih lebat dan lumayan nya man untuk berlindung dari panas teriknya sinar matahari.
Di puncak benteng ada dua meriam tua. Dua meriam inilah yang saat ini diperbaiki Kolonel Ihsan dan Kap ten Adi. Meriam ini sangat diperluk an untuk mengantisipasi serangan darat dan udara yang dilancarkan pihak musuh.
Pasukan pribumi bergerak cepat. Jenderal Mansur memerintahkan anggota pasukannya merapikan semua sudut benteng Al A'la, luar dan dalam.
Sedangkan Kolonel Ihsan dan Kap ten Adi, selain menormalkan kem bali fungsi meriam, juga meminta sebagian anggota pasukan pribumi menata ulang persenjataan, terma suk memetakan dan memilih areal penyerangan, pertahanan berlapis serta tempat-tempat khusus yang bisa dijadikan persembunyian se mentara dalam keadaan terdesak karena dibombardir pasukan lawan.
Sementara Zainab dan Maryam ke bagian menyapu halaman tengah. Keduanya berbagi tugas. Zainab menyapu bagian sebelah kiri seda ngkan Maryam di sebelah kanan.
Sisa-sisa daun yang sudah layu, ran ting pepohonan dan bekas tumpu kan tanah yang sudah mengering itu dimasukkan ke dalam bak sam pah persegi empat buatan dua pra jurit pribumi menggunakan media tanah.
Setelah tugas pertama selesai, dua wanita cantik ini bergegas ke ruang belakang Al A'la. Di sana mereka memasak air dan menyiapkan ma kanan sisa perbekalan yang sem pat dibawa dari Al Hayat.
"Kak Maryam. Kalau capek istirahat dulu di kamar. Biar Zainab yang me neruskannya," kata Zainab. Dia meli hat Maryam kelelahan. Sorot mata nya sendu, sepertinya kekurangan tidur.
"Enggak Nab. Kakak enggak capek," jawab Maryam sembari mengering kan cucian piring dan gelas di atas lantai tanah yang sudah mengeras.
Maryam berbohong. Dia capek se benarnya. Tapi dia tak tega mem bi arkan Zainab bekerja sendirian di dapur.
Apa saya salah? Tanya Maryam dalam hati kecilnya ...
Selasa, 11 Juni 2019
Mang Kerio (129)
Mang Kerio (129)
Oleh Wak Amin
TOK tok tok ...
Lawang dibuka' ...
"Assalamualaikum ..."
Sudah dibalas salam oleh Mang Kerio samo Yunita, nyium tangan uwong duwoni, Sinta duduk manis parak emaknyo.
Sedangke Cek Le ha, karno ado gawe yang lum kelar dan mesti dikelarke siang ini jugo, balik ke ruang kerjonyo.
"Dak nyangko aku Yun. Belagak ju go ruponyo anak kauni," uji Mang Kerio.
"Siapo dulu Mamanya."
"Yunita Mang namonyo," uji Sinta sa mbil kedip-kedipan mato dengan Mamanyo.
Mang Kerio ketawo.
Yunita ngunyah dodol. Sinta mak itu jugo.
"Jadi Nak Sinta. Mamang samo Ma ma kauni kawan sekolah waktu es em a dulu. La lamo dak ketemu. Pas ketemunyo di sini. Di kantor mamang ini."
"Oooo ... Retinyotu cinta besemi yo Ma?"
"Mak itula kurang lebih say," kato Yunita, neruske nyicip dodol duren.
"Bener Mang?"
"Bener Nak Sinta. Tapi ..." Mang Ke rio ecak-ecak mikir.
"Tapi ngapo Mang?"
"Sekarang kami beduwo sudah pu nyo kehidupan dewek-dewek. Ma mang la bebini. Mama kau jugo."
"Tapi Mang, Papa la mati. Mama sekarang balik dewek'an lagi."
Mang Kerio cuman ketawo dak be suwaro bae ...
"Kalu Mamang masih cinto berat samo Mama, Sinta dak keberatan kalu balik'an lagi."
"Sinta. Jago mulut kau Nak." Dak seneng ruponyo Yunita di mak ituke samo anaknyo.
"Walau cinto, Mamani tau perasaan jugo. Mang Kerioni la ado bini, anak nyo barangkali la sepantaran kau besaknyo."
"Sinta cuman ngenjuk lampu iju bae Ma ..."
Mang Kerio nengahi ...
"Antaro Mamang samo Mama kau ni memang cinto besemi. Tapi bu kan antara sepasang kekasih yang lamo dak setemuan. Tapi antara ka wan sekolah yang lah lamo niyan dak ketemu ..."
"Yola Mang kalu mak itu. Sinta min ta maaf bae samo Mamang, jugo Mama."
"Dak papo Nak."
"Tapi Mang, ngomong-ngomong anak Mang Keriotu lanang apo betino?"
"Lanang Nak Sinta."
"Oooo. La bebini Mang?"
"Lum Nak."
"La punyo pacar lum Mang?"
"Eeeem ... Setau Mamang sih lum ado. Soalnyo kalu la ado pasti dio bawak ke rumah, ngenalkenyo sa mo Mamang ..."
Sinta noleh ke Mamanyo. Ngenjuk isyarat bebesan bae ...
Huks .. huks ... huks ...
Yunita batuk-batuk dikit ...
"Minumke duken Yun," kato Mang Kerio, megang segelas banyu teh susu yang baru bae dituangke dari termos aluminium.
Oleh Wak Amin
TOK tok tok ...
Lawang dibuka' ...
"Assalamualaikum ..."
Sudah dibalas salam oleh Mang Kerio samo Yunita, nyium tangan uwong duwoni, Sinta duduk manis parak emaknyo.
Sedangke Cek Le ha, karno ado gawe yang lum kelar dan mesti dikelarke siang ini jugo, balik ke ruang kerjonyo.
"Dak nyangko aku Yun. Belagak ju go ruponyo anak kauni," uji Mang Kerio.
"Siapo dulu Mamanya."
"Yunita Mang namonyo," uji Sinta sa mbil kedip-kedipan mato dengan Mamanyo.
Mang Kerio ketawo.
Yunita ngunyah dodol. Sinta mak itu jugo.
"Jadi Nak Sinta. Mamang samo Ma ma kauni kawan sekolah waktu es em a dulu. La lamo dak ketemu. Pas ketemunyo di sini. Di kantor mamang ini."
"Oooo ... Retinyotu cinta besemi yo Ma?"
"Mak itula kurang lebih say," kato Yunita, neruske nyicip dodol duren.
"Bener Mang?"
"Bener Nak Sinta. Tapi ..." Mang Ke rio ecak-ecak mikir.
"Tapi ngapo Mang?"
"Sekarang kami beduwo sudah pu nyo kehidupan dewek-dewek. Ma mang la bebini. Mama kau jugo."
"Tapi Mang, Papa la mati. Mama sekarang balik dewek'an lagi."
Mang Kerio cuman ketawo dak be suwaro bae ...
"Kalu Mamang masih cinto berat samo Mama, Sinta dak keberatan kalu balik'an lagi."
"Sinta. Jago mulut kau Nak." Dak seneng ruponyo Yunita di mak ituke samo anaknyo.
"Walau cinto, Mamani tau perasaan jugo. Mang Kerioni la ado bini, anak nyo barangkali la sepantaran kau besaknyo."
"Sinta cuman ngenjuk lampu iju bae Ma ..."
Mang Kerio nengahi ...
"Antaro Mamang samo Mama kau ni memang cinto besemi. Tapi bu kan antara sepasang kekasih yang lamo dak setemuan. Tapi antara ka wan sekolah yang lah lamo niyan dak ketemu ..."
"Yola Mang kalu mak itu. Sinta min ta maaf bae samo Mamang, jugo Mama."
"Dak papo Nak."
"Tapi Mang, ngomong-ngomong anak Mang Keriotu lanang apo betino?"
"Lanang Nak Sinta."
"Oooo. La bebini Mang?"
"Lum Nak."
"La punyo pacar lum Mang?"
"Eeeem ... Setau Mamang sih lum ado. Soalnyo kalu la ado pasti dio bawak ke rumah, ngenalkenyo sa mo Mamang ..."
Sinta noleh ke Mamanyo. Ngenjuk isyarat bebesan bae ...
Huks .. huks ... huks ...
Yunita batuk-batuk dikit ...
"Minumke duken Yun," kato Mang Kerio, megang segelas banyu teh susu yang baru bae dituangke dari termos aluminium.
Pramasastra Bahasa Arab (17)
Pramasastra Bahasa Arab (17)
By aminuddin
R. Kata Kerja Imperatif
I. Bahan Pelajaran :
a. Tuan Polan (anggota DPR) mengemukakan pidato di sidang parlemen kemarin di sekitar (me ngenai) "Kebebasan (kaum) Wanita". Dia mengemukakan (berkata) sebagai berikut (Alqannaa-ibus sayyidu fulaanul fulaaniyyu khithaaban fii majlisil barlamaani yauma amsi daara haula) :
b. "Wahai kaum konservatif, reaksioner, bukalah hatimu dan matamu untuk kenyataan (cahaya), turunlah dari tempatmu yang tinggi, lihatlah kenyataan dunia sekelilingmu, dimana kedudukan (tempat) kaum wanita dalam masyarakat, tentukanlah olehmu (secara hukum), hendaklah kamu adil dalam hukummu (Ayyuhal muhaafidzur raj'iyyu iftah qablaka wa 'ainaika linnuuri, inzil min 'alyaa-ika, undzur ila haqiiqatil 'aalami haulaka haitsu tahtallal mar'atu makaanahaa fiil mujtama'i wahkum 'alaihi wakun 'aadilan fii hukmika).
3. Merdekakanlah anak perempuan mu (Harriribnatak),
4. Perlakukanlah dia (f) sebagaima na engkau memperlakukan anak laki-lakimu, dan pertahanlah hak-haknya ('Aamilhaa kamaa tu'aamilub nataka wadaafi' 'an huquuqihaa).
5. Kirimkanlah dia ke sekolah (j) un tuk memperbaiki kedudukannya, dan tumpahkanlah kasih sayang-mu yang sempurna kepadanya, dan berilah dia apa yang diperlukan (dibutuhkan) nya (Arsilhaa ilal madaarisi li-islaahi haalihaa wamnah haa hubbakal kaamila wa a'thiha maa tahtaaju ilaih).
6. Berbicaralah padanya dengan lembut/sopan (bersahabat) (Takallam ilaihaa birufqin).
7. Wahai para pembaharu (yang ingin perbaikan), bekerjasamalah dengan kaum wanita untuk mem perbaiki masyarakat dan meme cahkan masalah-masalahnya (Ayyuhal mushlihuun, ta'aawanuu ma'al mar'ati fii ishlaahil mujtama'i wahalli masyaakilih).
8. Hindarkanlah olehmu (j) dari menganggap enteng kedudukan (derajat) nya (Insharifuu anittakh fiidhi min maqaamihaa).
9. Dan percaya (berpegang) pada nya dalam kehidupan umumnya, dan jangan kamu halangi (menghambat) jalannya (Wa'tamiduu 'alaihaa fil hayaatil 'ammati walaa ta'taridhuu sabiilahaa).
10. Tugaskan olehmu akan dia men jadi pegawai kantor, pabrik dan di setiap jabatan yang sesuai untuk nya secara alamiah dan jangan kamu mengisolirnya dari kehidupan umum karena kita banyak memerlukannya (Watakhdimuuhaa fil makaatibi wal ma'aamili wafi kul li manshibin yunaasibuhaa thabii'iy ya walaa taqtha'uuhaa 'anil hayaatil 'aammati fa-innanaa muhtaajuuna ilaiha katsiira).
11. Hendaklah setiap kita menger jakan tugas seperti itu (dengan cara) ini (Liya'mal kullun minnaa waajibahu fii haazas sabiil).
12. Sehingga kita mengeluarkannya dari kegelapan malamnya menuju cahaya subuh (yang terang-bende rang (Hatta tukhrijahaa min lailihaal aswadi ila nuurishshabaahi).
II. Pembahasan Tata Bahasa :
1. As sayyidu adalah bentuk fa'il dari kata kerja Saada menurut pro ses perubahan sebagai berikut: Sawiidun > Sayii(y)dun > Sayyidun > Sayyidun (bertasydid).
Kata Amsi berharakat tetap akhirannya kasrah tanpa tanwin.
2. Ayyuhaa partikel "seru" = wahai. Partikel ini selamanya terletak sebelum kata benda definitif berkata sandang "al."
Iftah masculin tunggal imperatif = memerintah, dari kata kerja Fataha = membuka.
Catatan :
Cara menjadikan imperatif adalah dari bentuk orang kedua jussif tung gal, dual dan jamak, dengan menghi langkan awalannya, sedang dalam pola I, VII, VIII, IX dan X, proses ini menjadikan awalan berharkat su kun, maka ditambahkan awalan hamzah washal.
Dalam pola II, III, V dan VI tidak diperlukan hamzah. Dalam pola I awalan hamzah yang ditambahkan berharkat -- apabila suku keduanya berharkat fathah atau kasrah. Teta pi mendapat harkat dhammah jika suku keduanya berharkat dham mah.
Dalam pola VII, VIII, IX dan X, "ham zah washalnya" berharkat kasrah. Dalam pola IV hamzahnya berhar kat fathah yang bukan washal.
Suku kedua dari Yaftah adalah fat hah, maka harkat "hamzah" nya pada imperatif jadi kasrah (> Iftah).
Inzil masculin tunggal imperatif dari kata kerja Nazala. Karena suku keduanya Yanzil adalah kasrah, maka harkat hamzah washal imperatifnya kasrah.
Undzhur. Masculin tunggal impe ratif dari kata kerja Nadzhara. Ka rena harkat suku kedua Yandzhur adalah dhammah, maka harkat hamzah washal dalam imperatif adalah dhammah.
Kun masculin tunggal imperatif dari kata kerja lowong (lemah) Kaana. Tidak ada penambahan hamzah, karena jika awalannya pada jussif dihilangkan huruf pertamanya, dan huruf pertama itu berharkat dan menjadi Takuunu > Takun > Kun.
3. Harrir adalah masculin tunggal imperatif pola II dari kata kerja Har rara. Dalam kata kerja pola II, III, V dan VI dijadikan imperatif hanyalah dengan jalan menghilangkan awalan jussifnya.
4. 'Aamil masculin tunggal imperatif pola III dari kata kerja 'Aamala (lihat nomor 3).
5. Arsil masculin tunggal imperatif pola IV dari kata kerja Arsala. Impe ratif kata kerja pola IV awalan "ham zah" nya tetap pada imperatif. Pada imperatif kata kerja pola IV, ham zahnya bukan washal.
A'thi adalah masculin tunggal impe ratif pola IV dari kata kerja A'thaa imperpect indikatif Yu'thii jussuf Yu' thi. Akhirannya yang huruf lemah dihilangkan.
Dalam imperatif kata kerja berhuruf lemah pada "lam" nya (semua pola) akhirannya yang huruf lemah dihila ngkan dalam tunggal dan jamak masculin.
6. Tatakallam masculin tunggal imperatif pola V dari kata kerja Tatakallama (lihat nomor 5).
7. Ta'aawanuu masculin jamak imperatif pola VI kata kerja Ta'aa wana (lihat nomor 3).
8. Insharifuu. Masculin jamak impe ratif pola VII dari kata kerja Insha rafa (lihat nomor 2).
9. A'tamiduu. Masculin jamak imperatif pola VIII kata kerja I'tamada (lihat nomor 2).
10. Astakhmiduu. Masculin jamak imperatif pola X kata kerja Istakh dama (lihat nomor 2).
11. Liya'mal. Terdiri dari dua kata partikel ... Li dan kata kerja jussif Ya'mal. Partikel Li disini dinamakan "Lam" imperatif karena berarti perintah.
"Lam" imperatif harus diiringi oleh kata kerja imperpect "jussif". Susu nan seperti ini dalam orang perta ma dan orang ketiga (yang biasa) diterjemahkan " hendaklah, dst."
Catatan :
Tashrif pola I imperatif sebagai berikut :
Tunggal Dual Jamak
If'al If'alaa If'aluu
Orang kedua (m)
If'alii If'alaa If'alna
Orang kedua (f)
III. Latihan :
1. Panglima itu kemarin mengemukakan pidato kepada tentara dengan kehadiran Wakil Presiden Republik dan Kepala Staf; dia berkata dalam pidatonya (Alqal qaa-ida khithaaban yauma amsi fil jaisyi bihudhuuri mumatstsili ra-iisil jumhuuriyyati wara-iisil arkaani faqaala fii khithaabihu):
2. "Ketahuilah olehmu bahwa kamu mempertahankan tanah airmu, (juga) mempertahankan rumah tanggamu dan keluargamu (I'lamuu annakum fii difaa'ikum 'an wathanikum tudaafi" uuna 'an buyuutikum wa'aa-ilaatikum).
3. Bersiaplah kamu untuk jihad (perjuangan) dan untuk mati yang hitam di lapangan, demi hak dan keyakinanmu (Ista'uddu lil jihaadi walil mautil aswadi fil maidaani fii sabiili qadhiyyatikum wa-iimaanikum).
4. Janganlah kamu mundur dari tempatmu ketika serangan, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan dalam keperkasaan, keberanian dan kepatuhan pada perintah (atasan) (Laa tataraaja'u min makaanikum 'indal muhaajamati bal kaunuu mitsaalan lisysyiddati wasysyajaa'ati wal inqiyaadi lil-awaamir).
5. Hendaklah setiap kamu membe ranikan yang lain dan (menjadi) pembantunya (Liyusyajji' kullun minkumul akhara wal yakun mu'aawinan lah).
6. Bila kamu menghadapi wanita, peliharalah kehormatannya, dan bila menghadapi (menemui) anak-anak (m) bergaullah dengan mereka dengan kasih sayang dan lurus hati (Waiza qaabaltumum ra-atan haafidzhuu " alaa hurmatihaa waiza laqiitum waladan 'aamiluuhu birrifqi wal i'tidaal).
7. Janganlah kamu curi sedikitpun kepunyaan orang lain (Walaa tasrifuu syai-an lighairikum).
8. Berdoalah kamu kepada Allah dalam shalatmu, dan berjalanlah dengan berkah-Nya, dan janganlah kamu alfa" (Ud'ullaaha fii shalaatikum wasiiruu 'ala barakatihi falan tafsyaluu).
IV. Ulangan :
a. Terjemahkan ke bahasa Indonesia :
1. Iqra' kitaabaka wasyaahidish shuurata zaatasy syaklil jamiilil latii fii awwalihi.
2. Uskut ayyuhal waladul kaslaanu ayy laa tanthiq, waqtarib min haazal makaani hatta tusyaahida ma a'maluhu fainnahu yusaa'iduka fii 'amalika.
3. Iq binafsika ayyuhar rajulu fii ayyi mujtama'i wakun musta'idda lihaa zihil hayaatish sha'bati walihalli masyaakilihaa, fasir fii thariiqika bisyajaa'atin wala tataraaja'.
4. I'mal 'amalakal yauma walla tata-akhkhar, walaa ta'tamid 'alaa qauli zu"amaa-il idhraabi bal ta'aawan ma'al mukhlishiina min ikhwanika.
5. Uhibba lighairika maa tuhibbu linafsika wakrah lahu maa takrahuhu lahaa.
6. Dhahhuu bi-anfusikum fii sabiili ummatikum.
7. Iftah baaba ghurfatika hatta yadkhulannuur.
b. Terjemahkan ke bahasa Arab :
1. Katakanlah kepada guru itu bahwa pelajaran itu sulit sekali.
2. Siarkan kepada tentara itu bahwa waktu untuk penyerangan sudah tiba.
3. Hubungilah teman-teman engkau dan setujuilah (dengan) dia menge nai tempat pertemuan (rapat).
4. Kerjakanlah kewajibanmu untul berkhidmat pada tanah airmu!
5. Bukalah olehmu pintu itu dan keluarlah dari rumah itu!
By aminuddin
R. Kata Kerja Imperatif
I. Bahan Pelajaran :
a. Tuan Polan (anggota DPR) mengemukakan pidato di sidang parlemen kemarin di sekitar (me ngenai) "Kebebasan (kaum) Wanita". Dia mengemukakan (berkata) sebagai berikut (Alqannaa-ibus sayyidu fulaanul fulaaniyyu khithaaban fii majlisil barlamaani yauma amsi daara haula) :
b. "Wahai kaum konservatif, reaksioner, bukalah hatimu dan matamu untuk kenyataan (cahaya), turunlah dari tempatmu yang tinggi, lihatlah kenyataan dunia sekelilingmu, dimana kedudukan (tempat) kaum wanita dalam masyarakat, tentukanlah olehmu (secara hukum), hendaklah kamu adil dalam hukummu (Ayyuhal muhaafidzur raj'iyyu iftah qablaka wa 'ainaika linnuuri, inzil min 'alyaa-ika, undzur ila haqiiqatil 'aalami haulaka haitsu tahtallal mar'atu makaanahaa fiil mujtama'i wahkum 'alaihi wakun 'aadilan fii hukmika).
3. Merdekakanlah anak perempuan mu (Harriribnatak),
4. Perlakukanlah dia (f) sebagaima na engkau memperlakukan anak laki-lakimu, dan pertahanlah hak-haknya ('Aamilhaa kamaa tu'aamilub nataka wadaafi' 'an huquuqihaa).
5. Kirimkanlah dia ke sekolah (j) un tuk memperbaiki kedudukannya, dan tumpahkanlah kasih sayang-mu yang sempurna kepadanya, dan berilah dia apa yang diperlukan (dibutuhkan) nya (Arsilhaa ilal madaarisi li-islaahi haalihaa wamnah haa hubbakal kaamila wa a'thiha maa tahtaaju ilaih).
6. Berbicaralah padanya dengan lembut/sopan (bersahabat) (Takallam ilaihaa birufqin).
7. Wahai para pembaharu (yang ingin perbaikan), bekerjasamalah dengan kaum wanita untuk mem perbaiki masyarakat dan meme cahkan masalah-masalahnya (Ayyuhal mushlihuun, ta'aawanuu ma'al mar'ati fii ishlaahil mujtama'i wahalli masyaakilih).
8. Hindarkanlah olehmu (j) dari menganggap enteng kedudukan (derajat) nya (Insharifuu anittakh fiidhi min maqaamihaa).
9. Dan percaya (berpegang) pada nya dalam kehidupan umumnya, dan jangan kamu halangi (menghambat) jalannya (Wa'tamiduu 'alaihaa fil hayaatil 'ammati walaa ta'taridhuu sabiilahaa).
10. Tugaskan olehmu akan dia men jadi pegawai kantor, pabrik dan di setiap jabatan yang sesuai untuk nya secara alamiah dan jangan kamu mengisolirnya dari kehidupan umum karena kita banyak memerlukannya (Watakhdimuuhaa fil makaatibi wal ma'aamili wafi kul li manshibin yunaasibuhaa thabii'iy ya walaa taqtha'uuhaa 'anil hayaatil 'aammati fa-innanaa muhtaajuuna ilaiha katsiira).
11. Hendaklah setiap kita menger jakan tugas seperti itu (dengan cara) ini (Liya'mal kullun minnaa waajibahu fii haazas sabiil).
12. Sehingga kita mengeluarkannya dari kegelapan malamnya menuju cahaya subuh (yang terang-bende rang (Hatta tukhrijahaa min lailihaal aswadi ila nuurishshabaahi).
II. Pembahasan Tata Bahasa :
1. As sayyidu adalah bentuk fa'il dari kata kerja Saada menurut pro ses perubahan sebagai berikut: Sawiidun > Sayii(y)dun > Sayyidun > Sayyidun (bertasydid).
Kata Amsi berharakat tetap akhirannya kasrah tanpa tanwin.
2. Ayyuhaa partikel "seru" = wahai. Partikel ini selamanya terletak sebelum kata benda definitif berkata sandang "al."
Iftah masculin tunggal imperatif = memerintah, dari kata kerja Fataha = membuka.
Catatan :
Cara menjadikan imperatif adalah dari bentuk orang kedua jussif tung gal, dual dan jamak, dengan menghi langkan awalannya, sedang dalam pola I, VII, VIII, IX dan X, proses ini menjadikan awalan berharkat su kun, maka ditambahkan awalan hamzah washal.
Dalam pola II, III, V dan VI tidak diperlukan hamzah. Dalam pola I awalan hamzah yang ditambahkan berharkat -- apabila suku keduanya berharkat fathah atau kasrah. Teta pi mendapat harkat dhammah jika suku keduanya berharkat dham mah.
Dalam pola VII, VIII, IX dan X, "ham zah washalnya" berharkat kasrah. Dalam pola IV hamzahnya berhar kat fathah yang bukan washal.
Suku kedua dari Yaftah adalah fat hah, maka harkat "hamzah" nya pada imperatif jadi kasrah (> Iftah).
Inzil masculin tunggal imperatif dari kata kerja Nazala. Karena suku keduanya Yanzil adalah kasrah, maka harkat hamzah washal imperatifnya kasrah.
Undzhur. Masculin tunggal impe ratif dari kata kerja Nadzhara. Ka rena harkat suku kedua Yandzhur adalah dhammah, maka harkat hamzah washal dalam imperatif adalah dhammah.
Kun masculin tunggal imperatif dari kata kerja lowong (lemah) Kaana. Tidak ada penambahan hamzah, karena jika awalannya pada jussif dihilangkan huruf pertamanya, dan huruf pertama itu berharkat dan menjadi Takuunu > Takun > Kun.
3. Harrir adalah masculin tunggal imperatif pola II dari kata kerja Har rara. Dalam kata kerja pola II, III, V dan VI dijadikan imperatif hanyalah dengan jalan menghilangkan awalan jussifnya.
4. 'Aamil masculin tunggal imperatif pola III dari kata kerja 'Aamala (lihat nomor 3).
5. Arsil masculin tunggal imperatif pola IV dari kata kerja Arsala. Impe ratif kata kerja pola IV awalan "ham zah" nya tetap pada imperatif. Pada imperatif kata kerja pola IV, ham zahnya bukan washal.
A'thi adalah masculin tunggal impe ratif pola IV dari kata kerja A'thaa imperpect indikatif Yu'thii jussuf Yu' thi. Akhirannya yang huruf lemah dihilangkan.
Dalam imperatif kata kerja berhuruf lemah pada "lam" nya (semua pola) akhirannya yang huruf lemah dihila ngkan dalam tunggal dan jamak masculin.
6. Tatakallam masculin tunggal imperatif pola V dari kata kerja Tatakallama (lihat nomor 5).
7. Ta'aawanuu masculin jamak imperatif pola VI kata kerja Ta'aa wana (lihat nomor 3).
8. Insharifuu. Masculin jamak impe ratif pola VII dari kata kerja Insha rafa (lihat nomor 2).
9. A'tamiduu. Masculin jamak imperatif pola VIII kata kerja I'tamada (lihat nomor 2).
10. Astakhmiduu. Masculin jamak imperatif pola X kata kerja Istakh dama (lihat nomor 2).
11. Liya'mal. Terdiri dari dua kata partikel ... Li dan kata kerja jussif Ya'mal. Partikel Li disini dinamakan "Lam" imperatif karena berarti perintah.
"Lam" imperatif harus diiringi oleh kata kerja imperpect "jussif". Susu nan seperti ini dalam orang perta ma dan orang ketiga (yang biasa) diterjemahkan " hendaklah, dst."
Catatan :
Tashrif pola I imperatif sebagai berikut :
Tunggal Dual Jamak
If'al If'alaa If'aluu
Orang kedua (m)
If'alii If'alaa If'alna
Orang kedua (f)
III. Latihan :
1. Panglima itu kemarin mengemukakan pidato kepada tentara dengan kehadiran Wakil Presiden Republik dan Kepala Staf; dia berkata dalam pidatonya (Alqal qaa-ida khithaaban yauma amsi fil jaisyi bihudhuuri mumatstsili ra-iisil jumhuuriyyati wara-iisil arkaani faqaala fii khithaabihu):
2. "Ketahuilah olehmu bahwa kamu mempertahankan tanah airmu, (juga) mempertahankan rumah tanggamu dan keluargamu (I'lamuu annakum fii difaa'ikum 'an wathanikum tudaafi" uuna 'an buyuutikum wa'aa-ilaatikum).
3. Bersiaplah kamu untuk jihad (perjuangan) dan untuk mati yang hitam di lapangan, demi hak dan keyakinanmu (Ista'uddu lil jihaadi walil mautil aswadi fil maidaani fii sabiili qadhiyyatikum wa-iimaanikum).
4. Janganlah kamu mundur dari tempatmu ketika serangan, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan dalam keperkasaan, keberanian dan kepatuhan pada perintah (atasan) (Laa tataraaja'u min makaanikum 'indal muhaajamati bal kaunuu mitsaalan lisysyiddati wasysyajaa'ati wal inqiyaadi lil-awaamir).
5. Hendaklah setiap kamu membe ranikan yang lain dan (menjadi) pembantunya (Liyusyajji' kullun minkumul akhara wal yakun mu'aawinan lah).
6. Bila kamu menghadapi wanita, peliharalah kehormatannya, dan bila menghadapi (menemui) anak-anak (m) bergaullah dengan mereka dengan kasih sayang dan lurus hati (Waiza qaabaltumum ra-atan haafidzhuu " alaa hurmatihaa waiza laqiitum waladan 'aamiluuhu birrifqi wal i'tidaal).
7. Janganlah kamu curi sedikitpun kepunyaan orang lain (Walaa tasrifuu syai-an lighairikum).
8. Berdoalah kamu kepada Allah dalam shalatmu, dan berjalanlah dengan berkah-Nya, dan janganlah kamu alfa" (Ud'ullaaha fii shalaatikum wasiiruu 'ala barakatihi falan tafsyaluu).
IV. Ulangan :
a. Terjemahkan ke bahasa Indonesia :
1. Iqra' kitaabaka wasyaahidish shuurata zaatasy syaklil jamiilil latii fii awwalihi.
2. Uskut ayyuhal waladul kaslaanu ayy laa tanthiq, waqtarib min haazal makaani hatta tusyaahida ma a'maluhu fainnahu yusaa'iduka fii 'amalika.
3. Iq binafsika ayyuhar rajulu fii ayyi mujtama'i wakun musta'idda lihaa zihil hayaatish sha'bati walihalli masyaakilihaa, fasir fii thariiqika bisyajaa'atin wala tataraaja'.
4. I'mal 'amalakal yauma walla tata-akhkhar, walaa ta'tamid 'alaa qauli zu"amaa-il idhraabi bal ta'aawan ma'al mukhlishiina min ikhwanika.
5. Uhibba lighairika maa tuhibbu linafsika wakrah lahu maa takrahuhu lahaa.
6. Dhahhuu bi-anfusikum fii sabiili ummatikum.
7. Iftah baaba ghurfatika hatta yadkhulannuur.
b. Terjemahkan ke bahasa Arab :
1. Katakanlah kepada guru itu bahwa pelajaran itu sulit sekali.
2. Siarkan kepada tentara itu bahwa waktu untuk penyerangan sudah tiba.
3. Hubungilah teman-teman engkau dan setujuilah (dengan) dia menge nai tempat pertemuan (rapat).
4. Kerjakanlah kewajibanmu untul berkhidmat pada tanah airmu!
5. Bukalah olehmu pintu itu dan keluarlah dari rumah itu!
Langganan:
Postingan (Atom)