Cerita Rakyat (1)
Oleh aminuddin
1. ACEH
Putroe Phang ...
PADA abad ke-17 Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda mengalami masa keemasan dan termasuk salah satu kekuatan adi daya di dunia khususnya di kawasan Selat Malaka.
Di balik kesuksesan seorang laki-laki selalu ada orang perempuan di balik layar. Bagi Sultan Iskandar Muda, perempuan di balik layar itu adalah permaisurinya yang bernama Puteri Pahang yang dalam bahasa Aceh lebih dikenal dengan sebutan Putroe Phang.
Perkenalan Sultan Iskandar dengan Puteri Pahang ini berawal ketika Aceh Darussalam berhasil menaklukkan Pahang.
Bersamaan dengan itu, keluarga istana Pahang bersama sekitar 10.000 penduduknya berimigrasi ke Aceh untuk memperkuat pasukan Sultan Iskandar Muda.
Sultan Iskandar Muda rupanya tertarik dengan seorang puteri dan Pahang yang bernama Puteri Kamaliah.
Puteri Kamaliah kemudian dinikahi Sultan Iskandar Muda dan diangkat menjadi permaisurinya.
Karena Puteri Kamaliah berasal dan Pahang, rakyat Aceh memanggilnya dengan Putroe Phang.
Puteri Kamaliah masyhur karena cerdas dan bijaksana dalam memu tuskan persoalan yang dihadapi masyarakat Aceh Darussalam.
Pada suatu hari terdapat kasus pembagian harta waris dengan dua ahli waris yakni seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
Adapun harta yang menjadi objek pembagian adalah berupa sawah dan rumah. Diputuskan bahwa anak perempuan mendapatkan sawah sedangkan anak laki-lakinya mendapat rumah.
Si anak perempuan tidak menerima keputusan tersebut dan melakukan banding.
Mendengar kasus tersebut, Putroe Phang langsung meresponnya dan membela si perempuan dengan argumen bahwa wanita tidak mem punyai rumah dan tidak dapat tinggal di meunasa (mushola) sedangkan anak laki-laki dapat tinggal di mushola.
Oleh karena itu, yang layak meneri ma rumah adalah wanita sedang kan yang layak menerima sawah adalah anak laki-laki.
Argumen Putroe Phang itu kemudian disetujui oleh Sultan Iskandar Muda.
Sejak itu, Puteri Kamaliah yang le bih dikenal oleh masyarakat Aceh sebagai Putroe Phang itu menjadi rujukan dalam penyelesaian masalah hukum.
Kerja sama Sultan Iskandar Muda yang gagah, berani, dan adil dengan Permaisuri Putroe Phang yang bijaksana dan selalu membela rak yat yang lemah terutama wanita dan kaum papa mengantarkan kejayaan Aceh menuju masa keemasan.
Di samping Permaisuri Putroe Phang yang berkontribusi bagi pembangunan Aceh Darussalam, terdapat pula beberapa lembaga pemerintahan.
Secara struktural, Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin ekse kutif tertinggi yang dibantu bebe rapa pejabat tinggi.
Mereka adalah Qadhi Malikul Adil dengan empat orang mufti di bawahnya, Menteri Dirham (keuangan), Baitul Mal yang di bawahnya ada Balai Furdhan (bea cukai).
Di samping lembaga eksekutif terdapat pula lembaga musyawa rah yang terdiri atas:
1. Balairung Sari, terdiri atas empat anggota hulubalang.
2. Balal Gading, terdiri atas 22 ulama.
3. Balai Majelis Mahkamah Rakyat (Parlemen), terdiri atas 73 anggota yang mewakili setiap mukim (daerah), Aceh Darussalam dibagi atas 73 mukim.
Balai Sari dan Balai Gading masih merupakan rumpun lembaga ekse kutif sedangkan Balai Majelis Mah kamah Rakyat masuk dalam rumpun lembaga legislatif.
Lembaga-lembaga ini secara resmi dibentuk pada 12 Rabiul Awal 1042 (1633) dan ditulis dalam suatu un dang-undang yang disebut dengan Qanun Al-Asyi Darussalam.
Perkawinan Sultan Iskandar Muda dengan Puteri Kamaliah dianugerahi seorang puteri yang bernama Puteri Sari Alam yang menikah dengan Sultan Iskandar Tsani dan setelah suaminya itu meninggal Puteri Sari Alam naik tahta menjadi Sultanah dengan gelar Sultanah Tajul Alam Safiatuddin.
Sultan lskandar Tsani juga dikenal dengan Raja Mughal. Ia adalah putera dan Raja Ahmad Syah Pahang. yang termasuk keluarga Pahang yang dibawa Sultan Iskandar Muda ke Aceh.
Nama asli Puteri Pahang adalah Puteri Jamilah (ada yang menyebut “Kamaliah”) yang juga terkenal dengan nama Putroe Phang.
Menurut satu riwayat, perkawinan Puteri Pahang dengan Sultan Iskan dar Muda berlangsung setelah me lalui peristiwa yang sangat luar biasa.
Pada suatu hari Sultan Pahang bersama permaisurinya yang ber nama Puteri Jamaliah (Putroe Phang) menghadap Sultan Iskandar Muda dan dalam pertemuan itu Sultan Pahang yang bernama Raja Abdullah (Raja Raden) menyatakan mengetahui niat suci Iskandar Muda menaklukan kerajaannya demi memperjuangkan agama dan menyingkirkan kawasan Melayu dan imperialis Barat dan untuk itu rela menceraikan istrinya untuk dinikahi Sultan Iskandar Muda.
Setelah mendapatkan persetujuan dan keluarga permaisuri Puteri Sendi Ratna Indra (permaisuri pertama), Sultan Iskandar Muda bercerai dengan Puteri Sendi Ratna Indra.
Setelah masing-masing istri menye lesaikan masa iddahnya, Sultan Iskandar menikah dengan Puteri Jamaliah dan Raja Abdullah meni kah dengan Puteri Sendi Ratna lndra.
Bukti cinta Sultan Iskandar Muda terhadap Putroe Phang adalah ba ngunan Gunongan. Bangunan ini dibangun untuk membuktikan cintanya kepada Putroe Phang.
Putroe Phang sangat berpengaruh dalam pemerintahan dan penyusunan undang-undang kerajaan sampai-sampai lahir semboyan:
Adat bak Poeu Meureuhom
Hukum bak Syiah Kuala
Qanun bak Putroe Phang
Reusam bak Bentara
Artinya:
Adat dari Marhum Mahkota Alam
Hukum dan Syiah Kuala
Qanun dan Puteri Pahang
Resam dan Bentara (‘uleebalang)
Adat meukoh reubung
Hukum Meukoh purih
Adatjeutabarangho takong
Hukum hanjuet barangho takih
Artinya:
Adat dapat dipotong seperti memotong rebung
Hukum seperti memotong sagak (hujung buluh keras)
Hukum tak dapat diatur dengan semena-mena
(melainkan wajib didasarkan Quran dan Hadis)
Ketika Putri Phang mangkat, upaca ranya dilakukan dengan megah dan khidmat. Kain jendela dan tirai Ista na Keraton Darud Dunia diganti de ngan kain warna hitam.
Upacara pelepasan dilaksanakan dengan khidmat seperti dilukiskan oleh Muhammad Junus Djamil sebagai berikut:
Ketika jenazah diturunkan dari Is tana, Sultan Iskandar Muda turun di depan, di dampingi dua bentara keraton yang berpakaian serba hitam berselempang merah. Yang di sebelah kanan memegang pe dang terhunus bersandar di bahu kanannya dan yang di sebelah ki rinya memegang payung hitam terbuka yang disebut Payoong panyang-go.
Di Mideuen (halaman istana) telah siap segenap barisan dan setelah berhenti sejenak tampil ke muka bentara Keujruen Tandil Keraton Darud Dunia (Tandil Mujahid Chik Seri Dewa Purba) untuk mengucap berita duka dan memohon doa selamat kepada Allah SWT serta selawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Keranda jenazah yang berhias ser ba indah dengan hiasan keemasan dan permata diletakkan di atas tandu keemasan yang berbentuk segitiga. Masing-masing ujung segitiga dipikul oleh tiga pembesar dan tiga dewan negara, yaitu dewan Mong-mong Angkatan Laut, Angkatan Darat.
Di depan sekali berdiri Ketua De wan Mufti empat (Khuja Madinah) yang lebih terkenal dengan Khuja Pakeh yang berpakaian serba putih (sorban dan jubah) dengan tongkat di tangan kanannya.
Di belakangnya diikuti dua pembe sar negara Perdana Menteri Seri Ratna Bijaya Sang Raja Meukuta Dilamcaya yang bernama Orang Kaya Seri Maharaja Laila dan Qodli Malikul Adil, keduanya memegang jambangan air mawar yang dibuat dari emas berhias permata.
Di belakang mereka, dua orang Bentara yang membawa jamba ngan teurapan-geutanggi yang mengeluarkan asap dari pemba karan ramuan-ramuan setanggi yang harum semerbak baunya.
Di sebelah kanan keranda (peti jena zah) berdiri Laksamana Meurah Ganti yang berpakaian serba hitam, berselimpang merah serta pedang yang terhunus bersandar di bahu nya.
Di sebelah kiri berdiri Bentara Tan dil (Datuk Bendahara Muhammad Tun Sari Lanang) yang mengem bangkan payung kuning keemasan yang berumbai mutiara ke atas ke randa dan beliau juga berpakaian hitam dan teungkulook leumbayung di kepalanya, serta berselempang merah.
Di bagian belakang jenazah (dian tara dua cabang tandu) berdiri Seri Sultan Iskandar Muda yang diikuti di belakangnya sebelah kanan oleh Putera Mahkota (Poteu Cut) dan di belakang sebelah kiri adalah me nantu beliau, Pangeran Husain Mu ghayat Syah bin Sultan Ahmad Perak.
Di belakangnya barulah barisan menteri-menteri dan raja-raja serta iringan yang berjumlah ratusan mengikuti di belakang mereka.
Setelah selesai ucapan berita duka barisan bergerak menuju Masjid Raya Baiturrahman dan setelah selesai upacara shalat jenazah, jenazah kembali ke Kraton Darud Dunia dan terus menuju ke pemakaman raja-raja/Sultan.
Keranda jenazah dibawa masuk ke dalam makam lalu dilaksanakan upacara pemakaman. Yang turun ke dalam liang lahat adalah Laksamana Meurah Ganti dan Datuk Bendahara Muhammad Tun Seri Lanang (Bentara Tandil Samalanga).
Ke dalam Keranda ditungkanlah emas urai (pasir tanah) sekitar tubuh jenazah Putroe Pahang, ke randa (peti mati) ditutup lalu di tim bun dengan tanah sebagaimana biasa dan acara pemakaman selesai.
____
Sumber : http://www.modusaceh-news.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar