Yaumul Ba'tsi (1)
Oleh aminuddin
Hari Kebangkitan
By Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.
HARI Kebangkitan, dalam bahasa Arab dikenal dengan tiga nama :
1. Yaumul Ba’tsi, Hari Kebangkitan,
2. Yaumul Maa’ad, Hari Kembali,
3. Yaumun Nusyuur, Hari Bangkit.
Yaumul Ba’tsi adalah hari dimana manusia oleh Allah سبحانه وتعالى dibangkitkan dari kuburannya, lalu ruh dikembalikan kepada jasadnya.
Setelah dibangkitkan, manusia akan digiring dan diproses, apakah menuju azab ataukah jannah (surga).
Yaumul Ba’tsi,l adalah proses pengembalian manusia menjadi manusia, tetapi alamnya sudah bukan berupa alam dunia lagi, melainkan alam setelah terjadinya Hari Kiamat.
Lalu apakah bumi dan mataharinya seperti ketika di dunia?
Wallaahu a’lam ...
Manusia diproses oleh Allah سبحانه وتعال untuk menuju suatu alam aba di,l yang tidak ada ujungnya. Bila manusia sudah di surga maka se lamanya di surga.
Apabila orang itu di neraka namun di dalam hatinya ada iman, maka akan Allh سبحانه وتعالى keluarkan dia dari neraka dan pada akhirnya dimasukkan ke dalam surga.
Hari Kebangkitan (Al-Ba’tsi) menu rut ajaran Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, adalah tidak bisa dipungkiri, pasti akan terjadi dan pasti adanya.
Dalilnya sangat kuat, yaitu Al-Qur an dan Sunnah Rasuulullah صلى الله عليه وسلم, Ijma’ para ulama dan semua itu tidak bisa dipungkiri, karena bila dipungkiri maka orang yang memungkirinya adalah kafir kepada Allah سبحانه وتعالى.
Ada beberapa dalil tentang Hari Kebangkitan, yaitu :
1. QS Al-Hajj (22) ayat 5 – 7 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئاً وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ ﴿٥﴾ ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٦﴾ وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ ﴿٧﴾
Ayat 5 :
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
Ayat 6 :
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Ayat 7 :
“Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.”
Ayat tersebut menunjukkan siste matika bahwa manusia itu awalnya tidak ada, lalu Allah سبحانه وتعالى lah yang menjadikannya ada, dan keberadaannya itu pun berfase (bertahap) dari mulai proses antara sperma dengan ovum, menjadi ja nin sampai kemudian sebagai bayi yang lahir ke dunia, lalu dewasa dan menjadi orangtua. Ada yang mati dalam perjalanan hidupnya, tapi ada juga yang sampai tua, baru kmudian mati.
Ada yang tahu dan ada yang tidak tahu terjadinya Hari Kiamat, maka Allah سبحانه وتعالى beritakan bahwa akan terjadi Hari Kiamat dan sete lah itu akan Allah سبحانه وتعالى bangkitkan.
Demikian itu adalah firman Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan ke
pada kita bahwasanya manusia akan diproses-Nya dengan perjala nan yang sedemikian panjang dan ujung-ujungnya akan dihisab.
Allah سبحانه وتعالى akan bangkitkan kita semua dan akan dikumpulkan pada waktu Yaumul Mahsyar.
2. QS At-Taghabun (64) ayat 7 :
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Robb-ku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
3. QS Ash-Shaffaat (37) ayat 50 – 61:
فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءلُونَ ﴿٥٠﴾ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ ﴿٥١﴾ يَقُولُ أَئِنَّكَ لَمِنْ الْمُصَدِّقِينَ ﴿٥٢﴾ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَاباً وَعِظَاماً أَئِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿٥٣﴾ قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿٥٤﴾ فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاء الْجَحِيمِ ﴿٥٥﴾ قَالَ تَاللَّهِ إِنْ كِدتَّ لَتُرْدِينِ ﴿٥٦﴾ وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ ﴿٥٧﴾ أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ ﴿٥٨﴾ إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿٥٩﴾ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٦٠﴾ لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلْ الْعَامِلُونَ ﴿٦١﴾
(50) " Lalu sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap."
(51) "Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman."
(52) "yang berkata: “Apakah ka
mu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (Hari Berbangkit)?"
(53) "Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”
(54) "Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”
(55) "Maka ia meninjaunya, lalu ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala."
(56) "Ia berkata (pula): “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku."
(57) "Jikalau tidaklah karena nikmat Robb-ku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka)."
(58) "Maka apakah kita tidak akan mati?"
(59) "melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?"
(60) "Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar."
(61) "Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja."
4. QS Al-A'raaf 50-51 :
وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُواْ عَلَيْنَا مِنَ الْمَاء أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ ﴿٥٠﴾ الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَهُمْ لَهْواً وَلَعِباً وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنسَاهُمْ كَمَا نَسُواْ لِقَاء يَوْمِهِمْ هَـذَا وَمَا كَانُواْ بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ ﴿٥١﴾
(50) "Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizqikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir."
(51) "(yaitu) orang-orang yang menjadikan dien mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mere ka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagai mana mereka melupakan pertemu an mereka dengan hari ini, dan (se bagaimana) mereka selalu mengi ngkari ayat-ayat Kami."
Maksud dari ayat di atas adalah :
Allah سبحانه وتعالى berfirman: “Pe nghuni neraka kelak akan memang gil penghuni surga: “Tolong alirkan kepada kami air atau apa saja yang Allah berikan سبحانه وتعالى rizqy kepadamu”.
Karena penghuni neraka itu penuh dengan siksa, maka mereka minta tolong kepada penduduk surga. Dan para penghuni surga akan menjawab:
“Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah mengharamkan (air, rizqy) bagi orang-orang kafir”.
Maka orang-orang penghuni neraka sama sekali tidak akan bisa menik mati air atau rizqy, karena Allah سبحانه وتعالى mengharamkan air dan rizqy kepada orang-orang kafir yang ada di neraka.
Ayat-ayat tersebut juga merupakan aba-aba kepada orang yang masih ragu akan adanya Hari Kebangkitan dan pembalasan di Hari Kiamat, karena sesungguhnya sedemikian dahsyat ancaman Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang tidak meyakininya.
Dalam Hadits Riwayat Imam Mus lim no: 2878 dari Shahabat Jaabir bin ‘Abdillah رضي الله عنه, bahwa beliau mendengar Rasuululah صلى الله عليه وسلم bersabda :
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap manusia akan dibangkitkan seperti ketika ia mati.”
Atas dasar hadits ini, maka kita se bagai seorang Muslim harus meren canakan agar mati kita hendaknya dalam keadaan yang baik (beramal saleh di sisi Allah سبحانه وتعالى).
Harus disadari dan diantisipasi. Jangan sampai kita tidak siap, dan jangan sampai kita mengatakan bahwa kita masih punya umur panjang karena kematian dapat datang setiap saat.
Bayangkan bila seseorang itu mati dalam keadaan berma’siat kepada Allah سبحانه وتعالى, maka ia akan di bangkitkan dalam keadaan seperti itu pula.
Kalau seseorang itu mati sedang ia dalam keadaan melawan Allah سبحانه وتعالى, serta memusuhi kaum mukminin, maka orang tersebut akan Allah سبحانه وتعالى bangkitkan dalam keadaan seperti itu pula.
Na’uudzu billaahi min dzaalik ..
Sebaliknya bila seseorang mati dalam keadaan yang saleh, misal nya ia mati dalam keadaan sujud, beribadah, bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى, maka alangkah berbahagianya orang tersebut, karena ia akan menghadap Allah سبحانه وتعالى dalam keadaan saleh.
Rasuulullah صلى الله عليه وسلم me ngajarkan kepada kita bahwa sha lat yang kita lakukan itu adalah hendaknya bagaikan shalat kita yang terakhir.
Hal ini sebagaimana dalam sabda beliau صلى الله عليه وسلم melalui Abu Ayyuub رضي الله عنه yang diberitakan dalam hadits rwayat Imaam Ibnu Majah no: 4171, di-hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albaany da lam Shahih Ibnu Majah no: 3363, dimana beliau رضي الله عنه berkata bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Rasuulullah صلى الله عليه وسلم lalu orang itu berkata:
“Wahai Rasul, ajarilah aku dan ringkaslah.”
Rasuulullah صلى الله عليه وسلم menjawab :
إِذَا قُمْتَ فِي صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ ، وَلاَ تَكَلَّمْ بِكَلاَمٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ ، وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
“Jika kamu shalat, maka shalatlah seperti shalat perpisahan, dan ja nganlah kamu berbicara dengan suatu perkataan dimana kamu akan menyesal karenanya. Dan putuskanlah harapanmu dari apa yang ada di tangan manusia.”
Artinya, shalat yang kita lakukan adalah shalat yang penuh dengan kontrol, penuh dengan kesadaran bahwa bila Allah سبحانه وتعالى tidak memberikan kesempatan untuk shalat berikutnya, baik shalat di waktu Shubuh ataupun shalat Ta hajud di malam hari, maka shalat yang kita lakukan di saat itu adalah shalat kita yang terbaik.
Dalam hadits yang lain, riwayat Imam Al-Bukhar no: 3414 dan Ima m Muslim no: 2373 dari shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasuulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
…فَإِنَّهُ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَيَصْعَقُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ ، وَمَنْ فِي الأَرْضِ إِلاَّ مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ بُعِثَ فَإِذَا مُوسَى آخِذٌ بِالْعَرْشِ فَلاَ أَدْرِي أَحُوسِبَ بِصَعْقَتِهِ يَوْمَ الطُّورِ أَمْ بُعِثَ قَبْلِي
“….Sungguh sangkakala akan ditiup sehingga manusia kacau, panik dan kemudian musnahlah semua yang ada di langit dan yang ada di bumi, kecuali yang Allah سبحانه وتعالى ke hendaki. Kemudian sangkakala ditiup kembali, sedang aku adalah orang yang pertama kali dibang kitkan, kemudian tiba-tiba aku lihat Musa عليه السلام berpegangan pada ‘Arsy. Aku tidak tahu apakah Musa عليه السلام juga termasuk orang yang mengalami kepanikan hari Kiamat itu ataukah orang yang dibang
kitkan sebelum aku”.
Rasuulullah صلى الله عليه وسلم menje laskan bahwa ada Hari Kebangki tan setelah mati dan itu jelas seka li. Oleh karena itu, kita tidak boleh ragu bahwa Hari Kiamat dan Hari Kebangkitan pasti terjadi dan hen daknya kita betul-betul mempersiap kan diri sebaik-baiknya.
Allah SWZt berfirman (QS An-Naazi'aat 6-14) :
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ ﴿٦﴾ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ﴿٧﴾ قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ ﴿٨﴾ أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ ﴿٩﴾ يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ ﴿١٠﴾ أَئِذَا كُنَّا عِظَاماً نَّخِرَةً ﴿١١﴾ قَالُوا تِلْكَ إِذاً كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ ﴿١٢﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ ﴿١٣﴾ فَإِذَا هُم بِالسَّاهِرَةِ ﴿١٤﴾
(6) "(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam."
(7) "tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua."
(8) _Hati manusia pada waktu itu sangat takut."
(9) "pandangannya tunduk."
(10) "(Orang-orang kaafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula?"
(11) "Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?”
(12) "Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”.
(13) "Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja."
(14) "Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permu kaan bumi (yang baru)."
Kita temui pula dalam hadits riwa yat Imam Al Bukhar no: 4935 dan Imam Muslim no: 2955, dari shaha bat Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa beliau رضي الله عنه berdialog dengan Razuulullah صلى الله عليه وسلم kemu dian Rasuulullh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ قَالَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا قَالَ أَبَيْتُ قَالَ أَرْبَعُونَ شَهْرًا قَالَ أَبَيْتُ قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً قَالَ أَبَيْتُ قَالَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ لَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَيْءٌ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهْوَ عَجْبُ الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Antara dua tiupan itu ada empat puluh”. Kemudian Abu Hurairah رضي الله عنه bertanya'
“Maksudnya empat puluh hari?”
Maka Rasuulullh صلى الله عليه وسلم mengingkari.
Abu Hurairah رضي الله عنه bertanya lagi, “Maksudnya empat puluh bulan?”
Rasuulullah صلى الله عليه وسلم pun mengingkari.
Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, “Maksudnya empat puluh tahun?”.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم meng ingkari (untuk memberitahukan bahwa Rasuulullah صلى الله عليه وسلم sendiri pun tidak mengetahuinya).
Lalu Rasuulullah صلى الله عليه وسلم menjelaskan, “Kemudian Allah سبحانه وتعالى turunkan air dari langit, kemudian mereka tumbuh sebagaimana layaknya kecambah yang tumbuh. Setiap apa yang dimiliki dan apa yang ada pada tubuh manusia semuanya akan rusak, kecuali hanya satu tulang, yaitu tulang yang ada dibawah tulang rusuk (– tulang ekor — pent.). Dari tulang itu lah manusia akan kembali dibentuk pada hari Kiamat.”
Berikutnya adalah apa yang diberi takan dalam hadits riwayat Imam Muslim no: 2940, dari seorang shahabat bernama ‘Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash رضي الله عنه, bahwa Rasuulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِى أُمَّتِى فَيَمْكُثُ أَرْبَعِينَ – لاَ أَدْرِى أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ أَرْبَعِينَ شَهْرًا أَوْ أَرْبَعِينَ عَامًا – فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلاَ يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلاَّ قَبَضَتْهُ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ دَخَلَ فِى كَبَدِ جَبَلٍ لَدَخَلَتْهُ عَلَيْهِ حَتَّى تَقْبِضَهُ ». قَالَ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « فَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ فِى خِفَّةِ الطَّيْرِ وَأَحْلاَمِ السِّبَاعِ لاَ يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا فَيَتَمَثَّلُ لَهُمُ الشَّيْطَانُ فَيَقُولُ أَلاَ تَسْتَجِيبُونَ فَيَقُولُونَ فَمَا تَأْمُرُنَا فَيَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَةِ الأَوْثَانِ وَهُمْ فِى ذَلِكَ دَارٌّ رِزْقُهُمْ حَسَنٌ عَيْشُهُمْ ثُمَّ يُنْفَخُ فِى الصُّورِ فَلاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلاَّ أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا – قَالَ – وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ – قَالَ – فَيَصْعَقُ وَيَصْعَقُ النَّاسُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ – أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللَّهُ – مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوِ الظِّلُّ – نُعْمَانُ الشَّاكُّ – فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ ثُمَّ يُقَالُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ. وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ – قَالَ – ثُمَّ يُقَالُ أَخْرِجُوا بَعْثَ النَّارِ فَيُقَالُ مِنْ كَمْ فَيُقَالُ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَمِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ – قَالَ – فَذَاكَ يَوْمَ يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا وَذَلِكَ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ
“Akan keluar di tengah-tengah umatku Dajjal dan Dajjal itu akan tinggal selama empat puluh(tidak tahu apakah empatpuluh hari atau empatpuluh bulan ataukah empatpuluh tahun).
Setelah itu Allah سبحانه وتعالى akan bangkitkan ‘Isa bin Maryam عليه السلام, seolah-olah seorang shahabat bernama ‘Urwah bin Mas’uud رضي الله عنه, kemudian ‘Isa bin Maryam عليه السلام akan mencari Dajjal itu dan akan membunuhnya.
Manusia akan tinggal selama tujuh tahun, tidak ada permusuhan dian tara mereka. Kemudian Allah سبحانه وتعالى kirimkan angin dingin dari arah Syam (– sekarang Syria – pent.), Allah سبحانه وتعالى pun mematikan mereka sehingga tidak ada seorangpun yang ada dalam hatinya sebiji sawit kebaikan (keimanan) yang tersisa.
Walaupun jika seandainya seorang dari mereka masuk ke tengah gu nung sekalipun untuk bersembunyi, kecuali angin itu akan merenggut nyawanya.”
Demikian aku mendengarnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, laly beliau bersabda lagi, “Lalu setelah itu tersisa manusia-manusia jahat, seolah mereka itu menganggap ringan untuk berbuat jahat, kerusakan, permusuhan dan kedzoliman.
Mereka tidak mau tahu kebaikan. Mereka tidak mengingkari kemungkaran.
Lalu setan menjelma pada mereka dan mengatakan, “Tidakkah kalian ikuti aku?”
Lalu mereka mengatakan, “Apa yang kamu perintah pada kami?”
Setan kemudian memerintahkan pada mereka untuk menyembah berhala. Ketika itu mereka berada dalam rizqy dan kehidupan yang baik.
Kemudian Allah سبحانه وتعالى tiup sangkakala sehingga tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali memperhatikan dengan cermat kejadian ini dan orang per tama kali yang mendengarnya ada lah seseorang yang sedang membu at makanan untuk untanya.
Kemudian ia menjadi pingsan dan manusia lain pun akan pingsan pula. Setelah itu Allah سبحانه وتعالى turunkan hujan dari langit, seperti bayang-bayang (perowi hadits ini ragu – pent.), lalu manusia tubuh nya akan tumbuh.
Setelah itu ditiup kembali sangka kala oleh Israfil, lalu manusia akan bangun satu sama lain saling memandang.
Kemudian dikatakanlah,“Wahai manusia, mari menghadap Robb kalian dan berdirilah, sesungguhnya kalian akan ditanya.”
Kemudian dikatakan, “Keluarkan segerombolan manusia untuk menjadi penghuni neraka.”
Lalu ditanya, “Dari berapa?”
Dijawab, “Setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan; maka itulah hari dimana Allah سبحانه وتعالى jadikan anak-anak beruban dan hari dimana betis tersingkap.”
Itulah proses Hari Kebangkitan. Kalau kita lihat proses Hari Kebang kitan itu waktunya adalah selang empat puluh tahun dari Hari Kia mat.
Lalu Allah سبحانه وتعالى menurunkan air dari langit, dimana manusia akan ditumbuhkan kembali dari tulang bagian belakang (tulang ekor)-nya yang memang tidak pernah hancur.
Dan setelah itu, tumbuhlah mereka menjadi manusia lagi, dimana sesu dahnya Allah سبحانه وتعالى akan beri kesadaran mereka satu dengan yang lainnya.
Imam Ath-Thohaawy رحمه الله ketika menjelaskan ayat Al-Quran yang berkenaan dengan masalah Hari Kebangkitan, antara lain seba gai berikut :
“Bahwa Ibnu ‘Abdil ‘Iz Al Hanafi ketika menjelaskan ayat-ayat ten tang Hari Kebangkitan, beliau mengatakan: “Maka renungkanlah apa yang menjadi jawaban dari pertanyaan dimana orang-orang kafir menanyakan, “Apakah kami ketika sudah menjadi tulang-belulang maka kami akan dibangkitkan menjadi ciptaan yang baru?”
Maka dijawablah bahwa, “Jika kamu mengatakan bahwa tidak ada Pencipta, tidak ada Penguasa, tidak ada Robb di dunia ini, maka cobalah kamu pikirkan tentang ciptaan yang tidak akan dihabisi oleh kematian sebagai contohnya: batu, besi, dan apa lagi yang lebih besar dari batu ataupun besi tersebut. Yang seperti itu tidak akan mengalami mati. Karena yang mengalami mati adalah makhluk yang bernyawa. Pikirkanlah bahwa yang tidak mengalami mati itu hanyalah batu, besi atau yang semisalnya.”
Kata beliau: “Bila kalian jawab bahwa sesuatu yang tidak mengalami keabadian itu, kemudian bisa terjadi (tercipta), maka apa pula yang dapat menghalangi antara kalian dengan Pencipta kalian untuk mengembalikan kalian dalam bentuk ciptaan yang baru?”
Atau kata beliau dalam penjelasan yang lain: “Kalau seandainya kalian, wahai orang-orang kafir, yang mana kalian tahu bahwa batu atau besi, atau ciptaan selain itu, maka sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Berkuasa untuk merusak kalian ataupun untuk meniadakan kalian. Kemudian Allah سبحانه وتعالى ubah keadaan kalian itu dari keada an satu kepada keadaan yang lain nya. Siapa yang akan mampu dan berkuasa untuk berbuat kepada fi sik-fisik ini, padahal batu dan besi yang sangat keras itu pun dapat menjadi rusak. Kalau saja batu dan besi yang demikian keras itu oleh Allh سبحانه وتعالى Maha Berkuasa untuk menghancurkannya, maka betapa mudahnya untuk menghan curkan dan memusnahkan yang lebih lemah daripada itu.”
Perhatikanlah firman Allah سبحانه وتعالى dalam QS An-Naazi’aat (79) ayat 27-46:
أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقاً أَمِ السَّمَاء بَنَاهَا ﴿٢٧﴾ رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا ﴿٢٨﴾ وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا ﴿٢٩﴾ وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا ﴿٣٠﴾ أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءهَا وَمَرْعَاهَا ﴿٣١﴾ وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا ﴿٣٢﴾ مَتَاعاً لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ ﴿٣٣﴾ فَإِذَا جَاءتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى ﴿٣٤﴾ يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ مَا سَعَى ﴿٣٥﴾ وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَن يَرَى ﴿٣٦﴾ فَأَمَّا مَن طَغَى ﴿٣٧﴾ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿٣٨﴾ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿٣٩﴾ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ﴿٤٠﴾ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿٤١﴾ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ﴿٤٢﴾ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَاهَا ﴿٤٣﴾ إِلَى رَبِّكَ مُنتَهَاهَا ﴿٤٤﴾ إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخْشَاهَا ﴿٤٥﴾ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا ﴿٤٦﴾
Artinya:
(27) "Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya".
(28) Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya."
(29) "dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang."
(30) "Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya."
(31) "Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya."
(32) "Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh."
(33) "(semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu."
(34) "Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang."
(35) "Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya."
(36) "dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat."
(37) "Adapun orang yang melampaui batas."
(38) "dan lebih mengutamakan kehidupan dunia."
(39) "maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal-(nya)."
(40) "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Robb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya."
(41) "maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal-(nya)."
(42) "(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?"
(43) "Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)?"
(44) "Kepada Robb-mulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)."
(45) "Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)."
(46) "Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari."
Intinya adalah bahwa sebenarnya manusia itu dibandingkan dengan penciptaan langit, penciptaan bumi ataupun penciptaan benda-benda lainnya adalah lebih mudah bagi Allah سبحانه وتعالى.
Oleh karena itu, mengembalikan manusia dari tidak ada menjadi ada, bagi Allah سبحانه وتعالى adalah sesuatu perkara yang sangatlah mudah.
Terakhir, dalam QS Al Israa’ (17) ayat 49-51, oleh Allah سبحانه وتعالى dihikayatkan bahwa orang-orang kafir itu bertanya dengan pertanya an yang lain:
وَقَالُواْ أَئِذَا كُنَّا عِظَاماً وَرُفَاتاً أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقاً جَدِيداً ﴿٤٩﴾ قُل كُونُواْ حِجَارَةً أَوْ حَدِيداً ﴿٥٠﴾ أَوْ خَلْقاً مِّمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ فَسَيَقُولُونَ مَن يُعِيدُنَا قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُؤُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَن يَكُونَ قَرِيباً ﴿٥١﴾
(49) "Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?“
(50) "Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi."
(51) "atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”.
"Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?”
"Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”.
"Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepada mu dan berkata, “Kapan itu (akan terjadi)?”
Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”.
___
https://abumuhammadzz.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar