Minggu, 11 November 2018

Cerita Rakyat (3)

Cerita Rakyat (3)
Oleh aminuddin


3. RIAU


- Batu Belah Batu Betangkup

DALAM cerita ini digambarkan seo rang janda yang hidup dengan dua orang anaknya, yaitu Yang Sari dan Pang Yakop. Yang Sari berumur 14 tahun dan Pang Yakop berumur 1,5 tahun. Janda ini bekerja mencari ikan dan berladang.

Janda ini sangat ingin memakan telur ikan temakul yang didapatkan di laut. Karena inginya dia memakan telur tersebut, sampai-sampai dia berpesan kepada anaknya, Yang Sari, “Tinggalkan sedikit untuk Mak telur ikan temakul. Janganlah engkau habiska ya!”.

Akan tetapi, Yang Sari lupa pada pesan Maknya. Telur itu habis dimakannya karena enak.

Maknya sangat kesal dan marah dan pergi ke tepi pantai di dekat sebuah batu besar. Di situ beliau menyesali hidup ini apalagi anaknya tidak mau mendengar pesannya.

Lalu janda itu bersumpah, “Batu belah batu bertangkup; daripada aku berpanjang derita; batu belah bertangkup, tangkuplah aku.

Entah kekuatan gaib mana yang muncul, tiba-tiba batu besar tadi benar betangkup dan tertelanlah janda itu di dalamnya.

Tinggalah Yang Sari dan Pang Ya kob berdua tanpa ayah dan ibu. Ya ng Sari sangat tertekan dan menye sal, tetapi tak ada gunanya.

_ Bujang Sri Ladang

MENGISAHKAN  seorang perjaka yang tidak mau menikah. Akan tetapi, pada suatu hari dia minta izin pada kedua orang tuanya pergi merantau.

Dalam perantauannya itulah dia bertemu dengan 11 orang puteri yang sedang mandi di danau.

Lalu, Bujang Sri Ladang menyembunyikan baju-baju puteri itu sehingga mereka merasa kehilangan.

Ketika sedang mencari baju-baju itu, tiba-tiba Bujang muncul dan menanyakan apakah yang sedang dicari.

Mereka menjawab bahwa mereka kehilangan baju-baju yang dipakai untuk pulang ke kayangan.

Pada saat itu, Bujang bertanya, “Jika baju itu kutemukan, apa upahnya?”

Salah seorang puteri menjawab. “Apa saja yang kamu minta akan kami kabulkan”.

Bujang pun menanyakan niatnya bahwa dia menginginkan salah seorang diantara puteri itu untuk menjadi istrinya.

Setelah sepakat, salah seorang puteri bersedia menjadi istri Bujang, tetapi dengan satu syarat, yaitu Bujang tidak boleh makan buah delima selama mereka menikah.

Bujang pun sanggup memenuhi janji itu. Tak lama setelah itu, Bujang dan salah seorang puteri itu menikah.

Suatu hari Bujang dan teman-temannya pergi berburu di hutan. Di dalam hutan, teman Bujang menemukan buah delima yang sedang masak.

Bujang sangat lapar. Tanpa menyadari sumpahnya, Bujang pun memakan buah delima itu.

Setelah makan, barulah Bujang sadar bahwa dia telah melanggar janji.

Lalu ia buru-buru pulang ke rumah untuk melihat istrinya. Istrinya sudah siap-siap akan terbang ke kayangan tetapi Bujang masih sempat menyambar rambut istrinya yang panjang dan Bujang pun ikut terbang.

Akan tetapi Bujang tidak dapat mencapai kayangan dan berada di awang-awang, sedangkan istrinya telah berkumpul kembali dengan kakak-kakaknya di kayangan.



---- Si Jangoi


SYAHDAN alkisah, menurut yang empunya cerita kehidupan masya rakat di Pulau Penyengat sangatlah harmonis dan bahagia.

Masyarakatnya ramah tamah, ber sopan santun, dan saling kasih mengasihi antara satu sama lainnya.

Kebahagiaan kehidupan mereka agak terganggu ketika munculnya seorang anak yang bernama jangoi.

Jangoi adalah julukan untuk anak yang nakal, yang suka mengusik orang.

Apalagi mengusik anak dara, tak perduli pagi, siang, petang ataupun malam.

Di saat orang menjaring, Jangoi pun suka merusak jaring orang.
Alkisah, ada,-ada saja yang diker jakan atau diganggunya.

Pernah juga orang-orang kampong merasa geram dan marah kepada Jangoi, hingga suatu ketika Jangoi ditangkap dan diikat di sebuah pohon.

Tetapi entah bagaimana, e’eh ….. tahu-tahu si Jangoi lepas dari ikatan dan menghilang.

Orang kampong pun jadi heran. Pa dahal ikatan di pohon itu begitu kuat, tapi ternyata si Jangoi dapat melepaskan diri.

Untuk beberapa hari, sejak Jangoi di tangkap dan menghilang, keadaan kampong agak tenang. Tak pernah terdengar lagi soal si Jangoi yang suka mengganggu orang.

Tapi ketentraman itu tidak lama. Rupanya entah dari mana, tahu-tahu si Jangoi muncul lagi. Kali ini kelakuannya lebih jahat.

Tidak hanya suka mengganggu ataupun mengusik, tapi sengaja mengejar-ngejar anak-anak pe rempuan atau anak dara yang mau pergi atau pulang mengaji. Akibat nya,  sebagian dari mereka takut pergi untuk mengaji.

Malahan suatu ketika, pada suatu malam Jangoi bersembunyi pada sebuah pohon yang rimbun. Ia me makai pakaian putih, layaknya ma yat yang baru keluar dari lobang kubur.

Entah mukena siapa yang dicurinya ...

Begitu orang-orang pulang dari surau dan melewati pokok rimbun itu, Jangoi pun keluar dengan melompat-lompat layaknya lembaga atau hantu.

Maka berlari sambil berteriak-teriak ketakutan orang-orang itu, khusus nya orang perempuan dan anak-anak.

Penduduk setempat sangat marah! Maka dicarilah akal untuk menang kap si Jangoi. Orang-orang kampong sengaja mengintai dan mencari kelengahan Jangoi.

Alhasil, pada suatu ketika, dapatlah si Jangoi ditangkap oleh orang kampong. Beramai-ramai orang kampong itu mengarak si Jangoi. Kedua tangannya diikat ke belakang.

Sesampainya di sebuah pohon yang besar, si Jangoi diikat. Sekali ini, si Jangoi tidak ditinggal begitu saja. Melainkan dijaga oleh orang dewasa.

Jaganya bergantian. Pokoknya, istilah kata orang, tak boleh leke .....

Huh! Baru kau rasa sekarang, ya? Kau tak akan dapat lepas lagi, Jangoi. Kami jaga engkau berganti-ganti,” kata orang yang menjaganya.

Apa jawab si Jangoi?

“Kalau ada orang menjaga enak juga. Engkau orang jadi pengawal aku, si Jangol!” Ejek Jangoi.

“Kurang ajar! Dasar anak bertuah!” kata si penjaganya dengan marah.

“Aku diikat, engkau orang menjaga. Engkau orang juga yang penat!” Ejek Jangoi lagi.

Naik pitam juga orang yang men jaganya melihat perangai si Jangoi.

“Hei, dengar! Budak macam kau ‘ni tak perlu dilayan!” Kata si penjaganya dengan geram.

“Tak, layan sudah! Akupun tak rugi!” Jawab si Jangoi sambil ketawa-ketawa.

“Iiih …. Kalau bukan masih budak lagi, sudah aku lumat-lumatkan, engkau ‘ni!” Begitu geramnya di penjaga itu melihat perangai Jangoi.

Adaaaa …. saja jawabnya. Maka si penjaga itupun tak hendak melayan si Jangoi lagi.

Memang sungguh luar biasa, istilah kata orang, tak boleh leke. Padahal orang yang menjaganya betul-betul dan dijaga secara berganti-ganti.

Tapi dalam sekelip mata, si Jangoi boleh hilang dari pokok tempat ia diikat. Para penjaga kalang-kabut mencari-cari, sampai kemerata tempat.

Tapi si Jangoi hilang macam di telan bumi ...

Akhirnya, orang-orang kampong jadi putus asa. Mereka tak tahu lagi bagaimana untuk mencari dan menangkap si Jangoi.

Orang-orang kampong sangat khawatir kalau-kalau si Jangoi muncul lagi dan buat perangai yang lebih teruk.

Dan betul saja, tak sampai sepekan si Jangoi pun muncul. Sekali ini bukan anak dara, anak-anak ataupun orang perempuan, melainkan orang-orang tua pun diusik dan ditakuti-takuti.

Layaknya jadi macam orang minyak!.

Suasana kampong betul-betul kelam-kabut dibuat ulah si Jangoi. Maka akhirnya orang kampong berkumpul dengan dipimpin oleh Orang Tua di kampong itu.

Mereka bermusyawarah untuk mencari jalan keluar yang terbaik ....



"Wahai orang-orang kampong, nampaknya perangai si Jangoi tak boleh kita diamkan begitu saja. Si Jangoi telah membuat kerusuhan di kampong kita ini!” kata Prang Tua itu.

“Kalau dapat sekali ini, kita rejam saja, Tok!” ujar salah seorang penduduk.

“Tapi si Jangoi itu masih budak-budak lagi, takkanlah hendak direjam pula!” kata penduduk yang lain.

“Memang masih budak-budak, tapi kelakuannya sudah melampau batas! Sudah membuat kampong kita ini kacau balau!” Kata salah seorang penduduk yang lainnya pula.

“Yang penting kita dapat menangkap dahulu budak yang bernama Jangoi itu. Bagaimana dan apa yang patutu kita buat, biarlah nanti kalau si Jangoi sudah tertangkap. Kita jangan biarkan lagi si Jangol itu buat kerusuhan di kampong kita ini. Itu yang penting!” akhirnya Orang Tua yang memimpin musyawarah itu berkata.

Banyak orang kampong yang mem buru dan hendak menangkap si Jangoi ..

Pada hari petang menjelang maghrib, si Jangoi mulai dengan perangainya mengusik orang yang akan pergi sembahyang.

Maka serentak orang-orang kampong yang sudah bersiap sedia, langsung mengejar Jangoi.

Maka terjadilah kejar-mengejar, walaupun ramai orang yang memburunya, tak mudah untuk menangkap Jangoi.

Jangoi pandai menggelecek, lari sana, sembunyi di sini. Badannya pun macam belut, licin. Payah di tangkap.

Tetapi dengan usaha yang gigih da ri orang-orang kampong, akhirnya Jangoi dapat tertangkap.

Begitu Jangoi dapat tertangkap, langsung diikat serta diapit oleh beberapa orang dewasa sehingga tak dapat lari.

Langsung dibawa kehadapan Orang Tua ...

“Hei Jangoi …. Aku hendak bertanya kepadamu. Jawablah dengan jujur …. Apa sebenarnya maksudmu suka mengganggu orang-orang kampong, hingga kelakuanmu seperti orang minyak?!" Tanya Orang Tua.

Tapi si Jangoi tidak menjawab. Ia hanya tertawa-tawa saja.

“Baiklah, kalau kamu tidak mau menjawab. Tapi beritahukan kepadaku, ilmu apa yang kamu pakai sehingga dapat melepaskan ikatan dan menghilangkan diri …?" Tanya lagi si Orang Tua dengan sabar.

Ternyata si Jangoi masih belum ingin menjawab. Ia masih diam dan hanya tersenyum-senyum.

Orang Tua itu pun hampir habis kesabarannya, tapi masih juga ditahannya. Lalu Orang Tua itu berkata lagi ...

“Sekarang jelaskan apa syaratnya supaya kamu tidak boleh melepaskan diri dan menghilang lagi?!”

“Benarkah orang-orang kampong ingin menyingkirkan aku dari kampong ini?” Tiba-tiba si Jangoi bicara.

“Kamu budak yang sangat nakal, yang hilang sama sekali dari kampong ini!” ujar seorang penduduk dengan geram.

“Kalau kau tak mau memberitahu syaratnya, tubuhmu akan kami bakar hidup-hidup!” kata orang yang lainnya pula.

Mendengar tubuhnya mau dibakar, si Jangoi ketakutan.

“Jangan, jangan dibakar. Aku tidak akan mati, tapi akan sangat menderita …”

“Kalau begitu katakanlah syaratnya!” Ujar Orang Tua di kampong itu.

“Baiklah! Jika orang-orang kampong sangat benci padaku, dan ingin melenyapkan aku, mudah saja. Syaratnya, pisahkan tubuhku menjadi tiga bagian. Kepala, badan dan kaki.” Jelas Jangoi menerangkan.

Mendengar penjelasan dari si Jangoi,  orang-orang kampong sangat terkejut. Terumanya si Orang Tua.

Sungguhnya itu hanya ingin mena kuti-nakuti. Tak akan tergamak atau sampai hati mereka untuk membakar si Jangoi hidup-hidup, apalagi harus memenggal tubuh si Jangoi menjadi tiga bagian, kepala, badan dan kaki.

Melihat orang-orang kampong sangat terkejut dan sepertinya tak sampai hati untuk memenggal dirinya menjadi tiga bagian, si Jangol pun berkata, “Kenapa orang-orang menjadi ketakutan dan tak sampai hati untuk memenggal aku? Kalau tubuhku tidak dipisahkan, aku tidak akan mati dan aku akan terus mengacau!” Ujar si Jangoi.

Kata-katanya, betul-betul membuat orang kampong serba salah. Kalau tidak melakukan seperti apa kata si Jangol, kampong tidak akan aman.

Tapi kalau melakukan syarat yang dikatakan oleh Jangol, mereka juga tak sampai hati.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya si Jangol dibunuh. Namun orang kampong tidak mengikut arahannya dari Jangol untuk memisahkan ketiga bagian tubuhnya.

Akhirnya, tak sampai seminggu si Jangol bangkit dari kuburnya, dan hidup kembali, serta mengacau orang kampong lebih dahsyat.

Si Jangoi betul-betul jadi macam orang minyak ...

Terpaksalah orang kampong mencari orang yang berilmu, orang pandai, untuk menangkap Jangoi.

Setelah berusaha dengan keras, akhirnya si Jangoi dapat tertangkap.

“Wahai orang kampong sekaliannya, kita memang harus melakukan seperti arahan yang diberikan oleh si jangoi ini. Sebab itulah petuahnya, jika kita tidak melakukannya. Si Jangoi akan terus dengan perangkainya. Bahkan semakin hari, semakin jahat. Memang kita tak sampai hati, sebab si jangoi masih budak lagi. Demi kepentingan orang banyak, terpaksalah kita harus mengorbankan si Jangoi!”

Demikian kata orang pandai itu dengan panjang lebar.

Akhirnya dengan perasaan serba salah, orang-orang kampongpun melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Jangoi.

Konon, kepala Jangoi di tanam di Pulau Los, badannya di tanam di Pulau Penyengat, sedangkan kakinya di tanam di Pulau Paku.

Memang sungguh ajaib .....!

Sejak kejadian itu si Jangoi memang tak pernah muncul lagi. Kampong itupun kembali tentram seperti semula.

Oleh sebab itu, kalau ada anak nakal, selalu disebut orang,
“Huh! Kelaku macam si Jangoi!”













____
www.butang-emas.net > 2011/06 > 14 ce ..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar