Sabtu, 10 November 2018

Kisah di Balik Berita (60)

Kisah di Balik Berita (60)
Oleh aminuddin


Kisah Sukses VI



Dari Keluarga Sederhana


JAKOB Oetama lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang pensiunan guru dari wilayah Sleman.

Pria kelahiran Magelang, 27 September 1931 ini mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia pers dan jurnalis sejak muda.

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Se minari Yogyakarta, Jakob muda mulai men cari pengalaman dengan mengajar di SMP Mardiyuwana dan SMP Van Lith Jakarta.

Di usianya yang ke 24, Jakob mulai aktif menjadi tim redaktur mingguan Penabur di Jakarta.

Passion yang besar terhadap dunia jurnalistik mendorong Jakob untuk melanjutkan studinya di dua universitas sekaligus, yakni Perguruan Tinggi Publistik Jakarta dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Pada awal tahun 1960-an Jakob berkenalan dengan Ojong yang menjadi rekan satu tim dalam pengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia.

Saat itu pergaulan Ojong sangat luas. Ia menjalin relasi yang baik dengan banyak tokoh seperti Soe Hok Gie, Prof. Widjojo Nitisastro, Arief Budiman dan beberapa tokoh lainnya.

Ojong dan Jakob sama-sama pernah berprofesi menjadi guru dan sama-sama memiliki minat terhadap dunia pers dan sejarah.

Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi kerjasama Jakob dan Ojong dalam membuat sebuah baran majalah baru yang diberi nama Intisari.

Majalah Intisari pertama kali terbit pada Agustus 1963 dan bertujuan untuk memuat beragam konten mengenai perkembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi dari seluruh penjuru dunia.

Konten-konten Intisari kemudian diperkuat oleh bantuan teman-teman Jakob dan Ojong dari Yogyakarta, seperti Swantoro, J. Adisubrata, Indra Gunawan dan Kurnia Munaba.

Berkiblat pada Reader’s Digest besutan Amerika, Intisari berusaha menyajikan berita-berita yang intelek dan kompeten yang diharapkan membawa pengaruh positif bagi dunia pengetahuan Indonesia.

Sukses mengasuh majalah Intisari sejak tahun 1963, dua tahun kemudian Jakob beserta Ojong dan rekan-rekan lainnya mendirikan surat kabar harian yang diberi nama Kompas.

Nama Kompas sendiri berasal dari usulan Bung Karno ketika berdis kusi dengan Jakob dan tim pengu rus Yayasan Bentara Rakyat.

Surat kabar harian Kompas menjunjung tinggi nilai-nilai independen sumber berita yang digali secara mandiri, serta mengutamakan kecermatan di bidang profesi dan moral pemberitaan.

Kompas berkembang menjadi sebuah surat kabar harian yang berkualitas dan mengedepankan konten-konten yang informatif dan edukatif.

Dari situ berdirilah sebuah kelom pok usaha bernama Kompas Gramedia ...

Nama Gramedia digunakan sebagai member label pada usaha toko buku.

Atau dengan kata lain, tim Gramedia lah yang bertanggung jawab atas proses produksi dan pencetakan surat kabar harian Kompas.

Hingga saat ini di bawah pengenda lian Jakob Oetama, Kompas Grame dia berhasil menjadi salah satu me dia cetak unggulan bahkan sukses melebarkan sayap ke bidang-bida ng usaha lainnya seperti media per televisian dan bisnis perhotelan.

Sosok Jakob Oetama yang humble, spontan dan sangat menginspirasi perkembangan jurnalistik dan pers Indonesia.

Jakob Oetama tak hanya dikenal sebagai sosok yang berdedikasi bagi dunia pers dan jurnalistik Indonesia.

Ia juga sering berkontribusi dalam berbagai organisasi di dalam dan luar negeri, misalnya pernah menjabat  Sekjen dan Dewan Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia dan anggota asosiasi internasional Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

Ia juga pernah aktif menyalurkan suara rakyat melalui posisinya sebagai anggota DPR utusan golongan pers.

Dedikasinya bagi dunia pers dan jurnalistik Indonesia membawanya menerima gelar doktor honoris cau sa ke-18 dari Universitas Gajah Ma da.

UGM menilai  Jakob Oetama telah berhasil mengembangkan kultur jurnalistik dan pers yang jujur dan edukatif bagi Indonesia sejak tahun 1965.







______

www.suksesindonesia.com > berita> id = ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar