Kisah di Balik Berita (52)
Oleh aminuddin
15 Cara Menulis Berita yang Benar
TIDAK semua peristiwa layak dija dikan berita. Kadangkala karena tingginya kebu tuhan akan berita, ada saja penulis berita yang mengganggap trafik sebagai yang terpenting.
Dalam menulis berita mereka lebih mementingkan bagaimana mening katkan trafik daripada isi berita.
Ini salah kaprah, karena yang perlu diperha tikan pertama kali oleh penulis berita adalah ba gaimana menulis sebuah berita yang baik, menarik, dan sesuai aturan.
Berikut ini akan pakar komunikasi paparkan 15 cara menulis berita sebagai panduan ba gi anda.
1. Menemukan peristiwa untuk dijadikan berita
Berita berisi peristiwa yang sifatnya aktual dan penting untuk disebarluaskan. Contoh mudahnya adalah peristiwa kebakaran, ben cana alam, dan kejadian mendadak lainnya yang menarik perhatian umum.
Jika tidak ada, maka perlu dilakukan pencarian kegiatan-kegiatan atau peristiwa unik yang muncul di masyarakat.
Misalnya berita mengenai pejabat pemerintah yang masuk ke pasar tradisional.
Orang biasa yang naik angkutan umum tidak menarik untuk dijadikan berita, tapi jika hal itu dilakukan oleh publik figure tentu layak menjadi sebuah berita.
Contoh lain misalnya berita mengenai adat istiadat di suatu daerah, dan lain sebagainya.
2. Pencarian sumber berita
Ketika peristiwa yang akan dijadikan berita telah ditemukan, maka penulis berita perlu mencari sumber irformasi yang yang tepat agar isi berita akurat.
Misalnya berita tentang perampokan, maka informasi bisa didapatkan dengan melaku kan wawancara dengan pihak kepolisian ter kait, saksi mata perampokan, atau warga sekitar.
3. Wawancara , observasi, dan dokumentasi
Seperti dicontohkan sebelumnya, melakukan wawancara perlu dilakukan untuk mendapatkan fakta mengenai peristiwa perampokan yang terjadi, data korban serta proses kejadian.
Wawancara dilakukan melalui tanya jawab dengan sumber informasi. Observasi dilakukan dengan mengamati gejala yang tampak di lokasi kejadian.
Sedangkan dokumentasi dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan data yang ber sumber dari buku, majalah, arsip, atau dokumen lainnya.
4. Mencatat hal-hal penting
Dalam proses pencarian informasi perlu dilakukan pencatatan hal-hal penting ber kenaan dengan berita yang akan ditulis.
Pencatatan dapat dipandu dengan pertanyaan 5W1H yaitu:
What : peristiwa apa yang terjadi,
Who: siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut,
Where: di mana peristiwa itu terjadi,
When: kapan peristiwa itu terjadi,
Why: mengapa peristiwa itu terjadi, dan
How: bagaimana proses terjadinya peristiwa.
5. Membuat kerangka berita
Kerangka berita merupakan gamba ran kasar bagaimana informasi ya ng telah dikumpulkan akan diramu dalam sebuah laporan berita.
Berita terdiri dari tiga unsur yaitu judul, teras, serta kelengkapan atau penjelasan berita.
Model berita yang ditulis juga bisa berupa berita langsung, yang mengemukakan unsur 5W + 1H pada awal paragraf (biasanya alinea kesatu dan kedua); atau juga berita tidak langsung yang mengemukakan unsur 5W + 1H pada pertengahan hingga akhir paragraf.
6. Menulis teras berita
Teras berita merupakan alenia pertama sebuah berita. Teras berita sebaiknya ringkas (maksimal 35 kata), dan sebaiknya diawali dengan unsur “who” (siapa) dan “what” (apa).
Sesuaikan struktur penulisan dengan kaidah bahasa Indonesia yaitu SPOK: Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan.
Untuk berita mengenai peristiwa yang akan terjadi, unsur waktu dan tempat biasanya ditempatkan di bagian akhir paragraf.
Gunakan seminim mungkin kutipan atau pertanyaan pada teras berita.
7. Menulis isi berita
Isi berita merupakan detail informasi yang ingin disampaikan dalam sebuah berita. Isi berita ditulis setelah teras berita.
Dalam menulis isi berita, sebaiknya susun dalam paragraf – paragraf pendek yang berisi 3 hingga 5 kalimat saja.
Usahakan pula agar setiap paragraf hanya berisi satu ide. Paragraf yang pendek dan hanya berisi satu ide akan mendorong pembaca untuk melanjutkan membaca serta memudahkan pembaca untuk melakukan pemindaian.
8. Penyuntingan berita
Penyuntingan berita dilakukan untuk menghindari kesalahan-kesalahan penulisan informasi yang mungkin terjadi.
Misalnya penulisan ejaan (nama, lokasi, dan sebagainya); tata baha sa; makna kalimat; pembedaan opi ni dengan fakta, dan lainnya.
Berita yang di publish juga harus diperhatikan agar tidak melangar kode etik jurnalistik.
Selain kode etik jurnalistik, di Indonesia terdapat peraturan perundang-undangan yang disusun oleh pemerintah untuk mengatur perihal penyiaran di Indonesia, yaitu Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).
Dalam menulis sebuah berita, penulis juga perlu memperhatikan kaidah P3SPS tersebut.
Setelah melakukan revisi, sebaiknya baca kembali berita yang anda buat, kemudian revisi lagi, baca lagi, dan revisi lagi berulang kali hingga benar-benar yakin bahwa berita yang anda tulis tidak memiliki kesalahan.
9. Tidak nengandung fitnah, hasutan dan kebohongan
Sesuai dengan kaidah P3SPS, konten berita yang disiarkan harus memberikan kemanfaatan dan perlindungan terhadap publik.
Konten berita dilarang mengandung hal-hal yang bersifat fitnahan, hasutan, menyesat kan dan berisi kebohongan atau hoax.
Dalam membuat dan menyebarkan berita, harus diperhatikan agar isi berita tidak merugikan dan menim bulkan dampak negatif di masyarakat.
10. Tidak menonjolkan unsur
kekerasan, seksualitas, perjudian, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang
P3SPS mengharuskan berita yang dibuat dan disiarkan kepada publik untuk mempertimbangkan munculnya kemungkinan ketidaknyamanan publik, memperhatikan privasi, dan melakukan penggolongan siaran untuk kepentingan anak.
Oleh sebab itu, dalam P3SPS juga diatur agar dalam pembuatan dan penyiarannya, dilakukan pembatasan terhadap unsur yang bermuatan seksual, kekerasan, narkotika dan sejenisnya, perjudian, serta tayangan bersifat supranatural, horror, dan sebagainya.
11. Tidak mempertentangkan suku, agama, ras atau golongan
Dalam P3SPS program siaran, termasuk berita diwajibkan menghormati perbedaan suku, agama, ras dan golongan. Baik itu kelompok golongan berdasarkan perbedaan budaya, usia, gender, maupun sosial ekonomi.
Dalam mewujudkan penghormatan tersebut, berita dilarang mengandung konten yang si fatnya merendahkan, mempertentangkan atau melecehkan suku, agama, ras dan golongan tertentu.
Ketika menyiarkan berita mengenai peristiwa konflik sekalipun, penulis berita diwajibkan untuk menjaga independensi dan netralitas dirinya.
12. Tidak merendahkan nilai – nilai yang berlaku dalam masyarakat
Seperti dijelaskan sebelumnya, P3SPS mengharuskan berita yang dibuat dan disiarkan kepada publik untuk memper timbangkan munculnya kemungkinan ketidaknyamanan publik.
Oleh karena itu dalam pembuatannya, sebuah berita yang akan disiarkan kepada publik perlu menunjukkan sikap menghor mati nilai dan norma, kesopanan, serta kesu silaan yang berlaku dalam masyarakat.
Penulis berita harus menunjukkan sikap penghormatan terhadap perbedaan nilai yang ada dalam berita yang dibuatnya.
13. Tata bahasa dan kosokata
Dalam penyusunan kalimat, gunakan tata bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia (SPOK). Gunakan kata ganti orang ketiga dalam menggambarkan peristiwa.
Dalam penyusunannya, lebih baik menggunakan kalimat aktif dibanding kalimat pasif. Gunakan pula kata berpasangan yang sesuai seperti: ‘baik vs maupun’, ‘jika vs maka’, dan seterusnya.
Perhatikan penggunaan kata yang sesuai, misalnya kata ‘dia’ untuk orang biasa se dangkan untuk orang yang dihormati gunakan kata ‘beliau’.
Gunakan kata yang umum digunakan agar mudah dipahami, dan hindari penggunaan jargon atau istilah teknis.
Periksa kembali ejaan kata, bila perlu cek kamus untuk memastikan kebenarannya.
14. Tanda baca dan struktur kalimat
Tanda baca diperlukan untuk melakukan pemenggalan kalimat. Pastikan meletakkan tanda baca dengan baik, yang sesuai dengan kaidah bahasa indonesia dan tidak merusak makna kalimat.
Hindari kalimat panjang (maksimal 16 kata), sebab susunan kalimat yang pendek akan lebih mudah dimengerti dan enak dibaca dibanding kalimat yang panjang.
Hindari penggunaan dua kata yang sama dalam satu kalimat, dan jangan memulai kalimat dengan kata sambung seperti ‘namun’, ‘sehingga’, dan seterusnya.
15. Kutipan dan atribusi
Kutipan diperlukan untuk memperkuat, menegaskan atau memberi fakta dalam berita yang ditulis sedangkan atribusi diperlukan dalam berita yang bersifat opini.
Sebaiknya gunakan satu kutipan atau atribusi dalam satu paragraf ....
______
https://pakarkomunikasi.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar