Selasa, 06 November 2018

Satu Tiang (3)

Satu Tiang (3)
Oleh Wak Amin



KRIING ...

Kriiiiing ...

Telepon diangkat ...

"Tuan Clean ... Saya Lia. Tolong saya. Saya  tengah menuju perem patan lampu merah sekarang. Saya dan ibu saya dikejar orang tak dike nal."

"Oke. Sekarang Lia yang tenang ya. Saya segera meluncur ke sana," ka ta Mr Clean.

Melompat dari tangga depan kan tor, dua menit kemudian mobil di nas yang ia sopiri sudah berada di jalan utama.

"Saya sudah di jalan sekarang Lia," kata Mr Clean, membelokkan mobil nya ke kanan.

"Saya takut Clean. Mereka seka rang ada di belakang saya," kata Lia, mempercepat laju kecepatan mobilnya.

"Berapa kira-kira jaraknya dari mobil yang kamu kemudikan sekarang Lia?"

"Lumayanlah Tuan Clean. Kira-kira sepuluh meter ..."

"Oke. Coba kamu belok kanan sekarang Lia."

"Ke kanan? Tak ada jalan Tuan Clean," jelas Lia.

"Memang tak ada jalan. Tapi loro ng. Kamu belok saja kesana seka rang," kata Mr Clean.

"Baik Tuan Clean."

Saat belok, si pengejar melepaskan tembakan, kena kaca spion. Tapi ti dak sampai pecah. Peluru meman tul ke jalan dan hilang di kegelapan semak belukar.

Warga terusik.

Mereka berhamburan ke luar ru mah. Mencari asal suara temba kan dan desingan peluru yang memantul ke jalan.

Nasrul dan Alif memilih kabur, se mentara Lia dan ibunya turun dari mobil. Bergegas menghampiri keru munan warga guna meminta ban tuan mereka dan menjelaskan du duk masalahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar