Satu Tiang (4)
Oleh Wak Amin
"Clean ...!"
"Clean ...!"
"Clean ..!"
Telepon berdering tiga kali di ruang almarhum Kolonel Ahmad. Nyaris terpeleset karena tergopoh-gopoh, dering keempat beehasil disambut lega Letnan Ratna.
"Maaf Let. Saya buru-buru tadi," kata Mr Clean.
"Cuma kaget aja Clean," ucap Letnan Ratna.
"Ini saya sama Lia dan ibunya. Sa ya akan bawa mereka berdua ke kantor sekarang. Saya berharap Letnan tetap berada di kantor sampai saya tiba."
"Okeee ..."
Menurut pengakuan Lia, dia sama sekali tak menyangka rumahnya dimasuki tamu tak diundang.
"Saat itu kepikiran aja. Pasti nih or ang bermaksud jahat. Lalu saya ba ngunin mama. Saya rapikan tempat tidur dan bentangkan kemul seolah saya dan mama lagi tidur," cerita Lia pada Mr Clean.
Bu Aida, yang duduk di belakang lebih memilih diam, karena dia ma sih syok atas kejadian yang baru dialaminya bersama Lia, satu dari dua anaknya yang masih hidup.
"Kami nekat kabur Tuan Clean, pa kai mobil. Di tengah jalan saya baru ingat anda Tuann Clean. Makanya saya telepon anda untuk dimintai tolong," terang Lia.
"Kamu lihat orangnya?"
"Lihat Tuan Clean, tapi tidak dari dekat karena tidak sempat. Saya kan cum mengintip dari balik jen dela. Itupun secara tidak sengaja."
"Ciri-cirinya mungkin Lia?"
"Tinggi kurus kayaknya. Tapi eng gak jelas juga sih Tuan Clean."
"Satu atau dua orang Lia, menurut kamu?"
"Yang saya lihat cuma satu Tuan," kata Lia. "Tapi bisa saja lebih. Ini mungkin."
"Kalian pernah ditelepon seseorang sebelumnya. Maksud saya, menda pat ancaman dari seseorang. Atau, ya merasa diikuti oleh seseorang?*
" Enggak ada Tuan. Tapi enggak tau ya kalau Mama ..."
Lia menoleh ke belakang. Dia mau tanya ibunya. Tapi tak jadi setelah melihat ibunya terlelap tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar