Jumat, 09 November 2018

Satu Tiang (5)

Satu Tiang (5)
Oleh aminuddin





KETIKA berada di teras kediaman Bos Besar, Nasrul dan Alif gemeta ran. Mereka sadar, gagal menjalan kan tugas, berarti siap-siap mene rima sanksi.

Mereka tak berani masuk, apalagi memencet bel, meski sudah sering melakukannya saat diminta Bos Be sar ke kediamannya untuk urusan bisnis.

"Tunggu sajalah Lif," kata Nasrul. Tampak pasrah.

"Gimana kalau kita pulang saja, Rul." Saran Alif. Dengan mendekati pulang, Bos Besar tak jadi marah.

"Gimana? Oke?"

"Enggak mau ah," kata Nasrul. "Itu tidak menyelesaikan masalah. Mu ngkin malam ini kita tak dimarahi Bos. Besoknya apa kamu bisa ja min kita tak kena marah."

"Enggak jugalah Bro ... Tapi." Alif garuk-garuk kepala.

Petugas security mendekat .. Sam bil tersenyum dia mengatakan Bos Besar tak mau diganggu malam ini.

Horeeee ...

Alif bersorak kegirangan ...

"Tapi pesan bapak tadi, Pak Nasrul sama Pak Alif tak boleh pergi dulu sebelum Pak Bos menyuruh pergi."

"Aduuh mati aku," ucap Alif pelan. Perut lapar, nyamukan pula.

"Bisa tidak Pak Lim bantu kami berdua?"

"Bantu apa Pak Alif?"

"Tolong bilangin ke bapak sebaik nya kami pulang dulu, besok kami datang lagi. Pagu-pagi sekali."

"Tak mau Pak Alif."

"Kenapa Pak Lim?"

"Pasti kena marah Pak Bos. Tadi saja saya kena semprot, apalagi mau ngomong soal bapak berdua."

"Saya takut Pak Nasrul, Pak Alif. Bapak berdua tahu sendiri kan ka lau Pak Bos marah," jelas Pak Lim.

Nasrul dan Alif saling pandang ...

"Ya sudah Pak Lim," kata Nasrul. " Kami tunggu saja di sini."

"Baik Pak. Kalau begitu saya per misi dulu ..."

Pak Lim kembali ke pos jaga ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar