Minggu, 11 November 2018

Satu Tiang (7)

Satu Tiang (7)
Oleh Wak Amin





"MASUUK ..." Bentak Bos Besar sambil berkacak pinggang dengan mata melotot amat tajam.

"Masuk kemana Bos?" Tanya Nas rul gugup dan berkeringat dingin.

"Ke dalam. Paham?"

Hik hik hik hik ...

Pak Lim ketawa geli. Dari balik ka ca pos jaga dia intip sepak terjang Nasrul dan Alif yang kena semprot Bos Besar.

"Cari penyakit aja. Sudah tahu Pak Bos, eeeeh dimainin ..."

Hik hik hik hik ...

Bos Besar menoleh ...

"Liiiiim ...!"

"Liiiim ..."

Pak Lim bergegas keluar dari pos jaga. Bergegas mendekati Bos Be sar dengan topi nyaris terjatuh.

"Seret mereka masuk sekarang!" Perintah Bos Besar.

"Siap Bos!"

Bos Besar masuk lebih dulu dengan nafas memburu ...

"Tak usah seretlah kami Pak Lim. Malulah kami. Kami kan sudah tua. Benar tidak Lif?"

"Benarlah. Siapa bilang kita masih anak-anak. Betul kan Pak Lim?"

"Betul sekali Pak Alif."

"Kalau begitu janganlah kami dise ret," kata Nasrul, berharap bisa ma suk ke rumah Bos Besar dengan aman dan nyaman.

"Ya enggaklah Pak Nasrul, Pak Alif. Saya hanya temani saja bapak ber dua masuk. Setelah itu saya keluar lagi."

"Bener ya tak mau seret?"

"Bener Pak Nasrul. Mari saya antar sampai ke dalam," kata Pak Lim.

Pintu dibuka lebar ...

Lalu ditutup ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar