Oleh Wak Amin
BOS besar marah besar. Saking marahnya sampai berkeringat itu muka dan kedua tangan.
Mata memerah. Semua yang di at as meja, seperti gelas, asbak, wa dah pulpen, kalender duduk dan be berapa buah buku, dibanting ke lantai.
"Ambil itu!" Perintah Bos Besar.
Se telah diambil dan ditaruh di atas meja, Bos Besar melanjutkan ama rahnya ...
"Coba jelaskan kepada saya, kena pa bisa gagal!" Tanya Bos Besar.
"Mereka hebat Bos," jawab Nasrul enteng.
"Hebat apanya?"
"Mereka lah Bos. Buktinya mereka lolos. Kalau tak hebat pasti enggak bakalan lolos."
"Bukannya mereka hebat tau. Tapi kalianlah yang goblok. Paham?"
"Pa .. Pa ..." Berat mulut Alif beru cap.
"Paham tidak?" Bentak Bos Besar.
"Paham Bos," jawab Nasrul dan Alif serempak.
"Sekarang saya beri kesempatan sekali lagi buat menghabisi sasa ran kita. Kalian siap?"
"Siap Bos, tapi ..." Alif gugup.
"Tapi kenapa ha? Kalian takut?"
"Bukan takut Bos. Tapi ..."
"Tapi kenapa?"
"Kalau lolos lagi gimana Bos?"
"Kalian saya tembak mati ..."
Wuiiiih ...
Ngeri deh ...
"Jangan Bos. Daripada ditembak mati mending kami disuruh lagi aja," ucap Alif dengan nada mengi ba dan nemelas.
"Tidak bisa. Gagal, mati. Titik."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar