Senin, 12 November 2018

Satu Tiang (9)

Satu Tiang (9)
Oleh Wak Amin






KEESOKAN harinya ...

"Kita kabur aja Lif, gimana?" Nasrul menawarkan jalan keluar.

"Dengan kabur kita tak punya be ban apa-apa," kata Nasrul.

"Tapi kita akan terus dikejar Bos, Bro. Tak aman kita."

"Tapi makin tidak aman kalau kita turuti kemauan Bos, Bro. Ya kalau dapat. Kalau tidak matilah kita. Aku belum mau mati. Tapi kalau kamu mau mati duluan, terserah kamu."

"Jangan begitulah Bro."

"Kalau begitu kamu," kata Nasrul," Ikuti saran dan usulku."

Gimana ya?

Bingung juga Alif. Mau terus, ya itu. Siap-siap jena hukuman. Mau tolak alias kabur, ya sama saja. Kena hu kum juga. Pasti dicari sampai kete mu dan bisa disiksa sampai mati.

Sebuah pilihan sulit ...

"Sudah Bro. Jangan banyak kau pikir lagilah. Bila perlu nanti kita lapor polisi," ujar Nasrul.

Dia merasa yakin akan aman-aman saja.

"Benar kamu yakin aman Rul?"

Nasrul mengangguk ...

"Oke. Apa rencanamu sekarang?" Pasrah mengikut, itu lebih bagus daripada menolak, tapi tak tahu kemana berarus ...

"Kita lari sekarang, mumpung hari belum terang."

"Lari kemana Bro kalau boleh saya tahu ..."

"Pokoknya ikut saya aja. Kamu ting gal beres ..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar