Cerita Rakyat (5)
Oleh aminuddin
5. JAMBI
-- Puteri Pinang Masak
PADA zaman dahulu, di belakang Dusun Pasir Mayang, ada sebuah kerajaan yang bernama Limbungan. Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu Putri Reno Pinang Masak.
Putri ini terkenal dengan kecantikannya yang menawan hati. Tak mengherankan banyak raja dan putra raja yang menghendaki mempersuntingnya.
Namun tak seorang pun raja atau putra raja yang meminang yang diterimanya. Semua pinangan ditolaknya.
Disamping cantik, putri ini terkenal pula berbudi luhur, arif serta bijaksana. Kebijaksanaannya dipuji-puji oleh rakyatnya.
Ia adil dan jujur. Rakyatnya yang miskin mendapat jaminan hidup da lam hal makan dan minum. Yang kaya, diberi luang dan kesempatan untuk menambah dan mengendalikan kekayaannya.
Golongan rakyatnya yang kaya ini kelak harus pula menjamin kelang sungan hidup bagi yang miskin. Dengan demikian terdapat suasana yang harmonis antara sesama anggota masyarakat negeri Limbungan.
Dalam menjalankan pemerintahannya, sang ratu dibantu oleh tiga orang huluibalang yang baginda percayai.
Hulubalang yang pertama bernama Datuk Raja penghulu, terkenal seba gai orang arif dan bijaksana dan ya ng kedua bernama Datuk Dengar Kitab, seorang hulubalang yang mempunyai keistimewaan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang akan datang melalui sebuah kitab yang dimilikinya.
Hulubalang yang ketiga ialah datuk Mangun, bertugas sebagai panglima perang kerajaan.
Kecantikan Putri Reno Pinang terdengar pula sampai ke telinga raja Jawa. Lama-kelamaan raja negeri Jawa lalu mengirim utusan untuk melamar sang putri.
Ternyata lamaran tersebut ditolak oleh Putri Reno Pinang Masak. Raja Jawa sangat tersinggung karena lamarannya ditolak dengan tegas.
Timbuillah kemudian tekad raja Jawa untuk bersumpah bagaimanapun akan mengambil Putri Reno Pinang Masak dengan cara kekerasan.
Putri Retno Pinang Masak tidak takut sama sekali akan ancaman raja negeri Jawa yang telah mabuk kepayang itu.
Bahkan baginda ratu sangat gemas dan geram. Baginda memandang gelagat raja Jawa tadi sebagai yang akan merusak kedaulatan negertinya.
Oleh sebab itu, baginda memanggil ketiga hulubalang serta mengum pulkan rakyat negerinya. Bersama-sama dicarilah bagaimana cara untuk raja jawa yang mengancam akan menyerang negeri Limbungan.
Mencari jalan yang sebaik-baiknya melalui pemikiran, musyawarah dan mufakat. Akhirnya didapatkan suatu cara yang telah disepakati bersama dalam perundingan tersebut.
Negeri diberi berparit. Di samping itu harus dipagar pula dengan bambu berduri.
Bambu yang dahan dan rantingnya harus berduri. Maka dicarilah tumbuhan tersebut.
Setelah dapat segera ditanam berla pis-lapis sebagai pagar negeri un tuk menghalangi supaya tentara Jawa jangan masuk.
Pagar inilah nanti sebgagai benteng pertahanan. Negeri Limbungan sudah dilingkupi dengan pagar bamboo berduri.
Untuk keluar masuk hanya ada se buah gerbang. Di pintu masuk ini telah menunggu Datuk Mangun beserta anak buahnya.
Raja Jawa beserta tentaranya da tang, jalan satu-satunya untuk memasuki Limbungan adalah sebuah gerbang yang dijaga oleh hulubalang Datuk Mangun dan anak buahnya.
Ke sanalah raja Jawa mengarahkan serangan. Terjadilah pertempuran yuang sengit. Ternyata tentara Ja wa tak kuasa sedikit pun menem bus pertahanan Datuk Mangun yang di dampingi prajurit-prajurit dan rakyat negeri Limbungan yang tangguh.
Tentara Jawa perkasa mundur dengan menderita korban besar .......
Melihat tentaranya gagal mema suki Limbungan dan menderita kekalahan besar, raja Jawa me manggil semua hulubalang dan mengumpulkan semua prajuritnya.
Maka diadakan perundingan dicari akal melalui pikiran orang banyak. Maka dapatlah suatu akal tipu mus lihat.
Dikumpulkan semua uang ringgit logam. Uang logam ini dijadikan peluru yang akan ditembakkan ke setiap rumpun bambu yang berla pis-lapis tadi.
Ditembakkan berulang-ulang, sepu as-puas hati tentara Jawa, sehing ga uang ringgit logam itu berong gokan di celah pohon bamboo berduri tersebut.
Kemudian raja Jawa beserta ten taranya pun pergilah kembali.
Dalam pada itu ada seorang penduduk negeri Limbungan tidak disengaja bersua dengan onggok-onggokan uang ringgit logam itu sepanjang edaran pagar bamboo negeri.
Melihat uang logam itu sangat banyak terniat di hatinya untuk memberitahukan hal tersebut kepada baginda ratu. Lalu diam bilnya sebuah untuk diperlihatkan kepada sang ratu di istana.
Dimana engkau dapat ringgit logam itu, Datuk?” Tanya baginda ratu penuh keheranan.
“Di rumpun-rumpun bamboo benteng pertahanan kita. Tuanku!” jawab pembawa ringgit logam itu agak tergagap.
“Bertimbun banyaknya.”
“Baiklah!” kata sang ratu pula. “Aku yakin Datuk tidak berbohong. Mari kita lihat!”
Benar saja! Ratu menemukan uang ringgit logam bertumpukan di sela-sela rumpun bamboo ...
Maka setelah dirundingkan dengan semua orang diputuskan untuk mengambil semua uang logam tersebut.
Untuk memudahkan pengambilan nya, pohon-pohon bamboo itu pun ditebangi. Uang logam itu diangkut ke istana.
Pada saat itu pula raja Jawa bersa ma tentaranya datang menyerbu dengan tiba-tiba ...
Karena benteng pertahanan tak ada lagi, pasukan negeri Jawa dengan mudah masuk ke negeri Limbu ngan.
Tentara beserta rakyat Limbungan tidak dapat menahan serangan yang mendadak itu.
Putri Retno Pinang Masak sadar akan kesalahannya. Ia sangat me nyesal akan kealpaannya. Dengan rasa masygul diam-diam pergilah baginda seorang diri meninggalkan negeri yang dicintainya.
Ternyata kemudian tahu jugalah rakyat bahwa ratunya sudah tidak ada lagi di istana.
Negeri Limbungan menjadi gempar. Berusahalah rakyat mencari kema na mana. Ada yang mencari ke hulu, ada yang ke hilir, ada pula yang mencari ke darat dan ke baruh (pinggir sungai).
Bahkan ada yang mencari sampai ke tepi laut. Namun ratu mereka tak kunjung bersua ...
Sementara ketiga hulubalangnya, Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, dan Datuk Mangun bermufa kat ketika itu untuk bersama-sama mencari ratu Putri Reno Pinang Masak.
Mereka masuk hutan keluar hutan. Bila bertemu dengan seseorang mereka tak jemu bertanya. Namun yang dicari tak kunjung bertemu.
Mereka lanjutkan pula perjalanan. Lurah diturun, bukit di daki. Semak-semak disinggahi kalau-kalau ada putrid Reno Pianang Masak, atau mayatnya.
Ketiga hulubalang itu bertekad berpantang berbalik, pulang sebelum yang di cari bersua hidup atau mati. Kalau perlu nyawa mereka sebagai taruhannya.
Sementara itu seorang petani desa Tenaku sedang berada di rumah nya. Ia baru saja selesai bekerja me nyiangi rumput dan tengah hari pe tani itu akan beristirahat ke pondoknya.
Menjelang ia sampai ke pondoknya ia sangat terkejut, di hadapannya, di udara yang cerah, dilihatnya me layang-layang sepotong upih pi nang.
Kemudian upih tersebut jatuh tak berada jauh dari tempatnya berdiri. Ia sangat heran mengapa ada upih pinang di humanya.
Kalau itu upih pinang yang ada di desanya, tidaklah mungkin sejauh itu diterbangkan angin.
Dalam keheranan, petani itu berge gas menuju ke tempat upih jatuh tadi. Sesampai di sana ia sangat terkejut.
Kenapa?
Dilihatnya sesosok tubuh wanita cantik tergeletak memucat. Sayang ia tak mengenalinya.
Ia cukup hapal semua penduduk desanya. Apalagi orang yang sudah dewasa seperti yang dilihatnya.
Di baliknya sebentar. Memang wa jah si wanita tak dikenalnya sama se kali. Diputuskannyalah untuk memberitahukan penduduk desanya.
Ternyata semua penduduk desa Tenaku sama dengan petani terse but. Mereka tak juga mengenal sia pa gerangan orang yang meninggal secar aneh itu.
Semua yang hadir menjadi gempar. Mereka saling berpandangan dan bertanya satu sama lain.
Di saat demikian maka dipanggil seorang dukun ...
Dukun telah datang. Ia segera membakar kemenyan. Setelah itu dibacanya jampi-jampi ramalan.
Dalam waktu yang singkat dapat lah diketahuinya siapa gerangan mayat yang berbaring di huma itu.
“Jenazah yang melayang jatuh dari udara bagaikan upih pinang ini ada lah jenazah Tuan Putri Reno Pinang Masak raja negeri Limbungan!”
Mendengar ucapan sang dukun, se mua orang yang hadir sangat terke jut. Suara bergumam berdengung bagai suara lebah terbang.
Wajah-wajah yang keheranan se gera berubah menjadi suram dan sedih. Terbayang kepada orang ba nyak itu betapa sengsaranya tuan baginda ratu negeri di saat-saat terakhir hidupnya.
Pada saat itu juga diambil keputu san untuk memakamkan sang putri di huma di desa Tenaku.
Sang ratu dimakamkan secara se derhana tanpa disaksikan rakyat nya.
Rasa tanggung jawabnya yang be sar terhadap rakyat dan negerinya sudah berakhir.
Sampai sekarang makam di desa Tenaku dinamakan “Makam Upih Jatuh”.
Lama-kelamaan ketiga hulubalang yakni Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, dan Datuk Mangun sampai pula ke tempat Putri Reno Pinang Masak dimakamkan.
Setelah mereka ketahui bahwa itu adalah makam baginda ratu Puteri Reno Pinang Masak, tiba-tiba saja mereka jatuh pingsan dan mening gal dunia.
Ketiga hulubalang itu dimakamkan pula di sana, di samping makam Puteri Reno Pinang Masak.
Hingga kini makam keempat orang tersebut masih ada dan dikeramat kan orang pula ...
-- Asal Mula Nama Sungai Batanghari
PADA zaman dahulu, ketika pendu duk Negeri Jambi sudah mulai ba nyak dan mereka memerlukan seorang raja yang bisa memimpin mereka, menyatukan negeri-negeri kecil supaya menjadi satu negeri yang besar, mereka mengadakan sayembara.
Barang siapa yang ingin menjadi Raja Negeri Jambi, harus sanggup menjalani ujian, yaitu dibakar dengan api yang menyala berkobar-kobar, direndam dalam sungai selama tiga hari, dan digiling dengan kilang besi yang besar.
Penduduk setempat tidak ada yang sanggup menjalani ujian itu. Tokoh-tokoh terkemuka dari desa Tujuh Kuto, Sembilan Kuto, Batin Duo Belas, semuanya menyerah pada ujian keempat, yaitu digiling dengan kilang besi.
Tokoh-tokoh masyarakat Negeri Jambi pada waktu itu lalu bersepakat untuk mencari orang dari luar Negeri Jambi, yang sanggup menjadi Raja Negeri Jambi melalui ujian yang telah mereka tentukan itu.
Perjalanan mencari orang luar Negeri Jambi tidak mudah karena zaman dulu orang harus menem puh jalan setapak, menerobos hutan, menyusuri sungai, menghadapi perampok atau binatang buas.
Akhirnya, mereka sampai ke sebu ah negeri asing, yaitu India bagian selatan, yang penduduknya keba nyakan hitam-hitam. Mereka lalu menyebutnya Negeri Keling (India).
Mereka berjalan mengitari negeri yang besar dan sudah lebih maju itu berhari-hari lamanya, guna mencari orang yang sanggup menjadi raja di Negeri Jambi.
Berkat ketekunan mereka, tidak kenal putus asa, di Negeri Keling itu mereka temukan juga satu orang yang menyatakan kesanggupannya menjadi raja di Negeri Jambi.
Orang itu sanggup menjalani ber bagai ujian dan akan memerintah Negeri Jambi dengan bijaksana, dan berjanji akan membuat rakyat Negeri Jambi aman, makmur, dan sejahtera.
Dengan gembira, calon raja itu pun dibawa pulang ke Negeri Jambi dengan dendang mereka.
Perjalanan panjang melewati samu dera luas kembali ke Negeri Jambi memakan waktu yang lama. Terka dang cemas menghadapi angin topan gelombang setinggi bukit, hujan deras bercampur petir, siang ataupun malam hari.
Terkadang pula berlayar dengan cuaca cerah, angin tenang mendo rong dendang mereka dengan laju, atau di waktu malam terang bulan.
Selama perjalanan itu, mereka juga banyak berbincang-bincang dengan calon raja mereka.
Dari pembicaraan itu, tahulah mere ka bahwa calon raja itu memang orang yang pintar. Dia mengenal ilmu perbintangan.
Terkadang muncul keinginan dari orang-orang Negeri Jambi itu untuk menguji calon raja mereka dengan banyak pertanyaan. Mereka takut, kalau ada pertanyaan yang sulit calon raja itu akan tersinggung dan membatalkan niatnya menjadi Raja Negeri Jambi.
Deburan ombak, hembusan angin, gelapnya malam atau benderangnya cahaya bulan, teriknya matahari atau gelapnya awan hitam, sudah silih berganti.
Perjalanan mereka menuju negeri asal, yaitu Negeri Jambi, belum juga sampai. Mereka juga singgah di Malaka (Malaysia) untuk membeli perbekalan, singgah di Negeri Aceh untuk beristirahat atau menambah persediaan air tawar.
Dengan demikian, perjalanan mereka menjadi makin panjang dan makin lam sampai di Negeri Jambi.
Pada suatu hari, rupanya dendang mereka sudah dekat Negeri Jambi. Mereka sudah memasuki muara sungai yang besar sekali, tempat mereka dulu memulai perjalanan mencari calon Raja Jambi.
Walaupun sungai besar itu sudah mereka kenal, sudah mereka layari dengan dendang, sudah mereka minum airnya, mereka belum me ngetahui apa nama sungai besar itu.
Apakah calon raja dari Negeri Keling itu mengetahui nama sungai itu atau tidak. Mereka ragu-ragu bertanya pada calon raja dari Negeri Keling itu.
Apalagi saat itu mereka rasa ku rang sopan bertanya karena hari sudah petang dan pemandangan menjadi remang-remang.
Seorang dari mereka, orang Batin Duo Belas, memberanikan diri juga ketika sudah disepakati oleh yang lain, mengajukan pertanyaan kepada calon raja dari Negeri Keling itu.
“Tuanku calon raja kami. Elok kiranya tuanku jika dapat menjawab sebuah pertanyaan kami.”
“Tanyalah mengenai apa saja.”
“Muara sungai besar yang sedang kita layari ini, apa gerangan namanya Tuan?”
“Haa... Inilah yang bernama muara Kepetangan Hari.”
Ternyata calon raja itu menjawab cepat, padahal sungai itu belum pernah dikenalnya.
Para tokoh masyarakat pencari calon raja itu gembira sekali dan makin kuat tenaganya mendayungkan kayu pengayuhnya menyusuri sungai itu, menyongsong (melawan) arus menuju desa Mukomuko.
Sesampai mereka di Mukomuko, mereka menyebarluaskan kepada setiap orang yang mereka temui. Mereka mengatakan sungai besar di Negeri Jambi itu bernama Kepetangan Hari.
Setelah bertahun-tahun lamanya, kemudian berangsur terjadi peru bahan menjadi Sungai Petang Hari, dan akhirnya menjadi Batang Hari.
___
- Sumber : Narasi cerita rakyat ini disadur dari buku "Cerita Rakyat dari jambi 2" karangan Kaslani terbitan Grasindo.
- informasijambi.blogspot.com
- https://mengenaljambi.blogspot.com > ce ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar