Senin, 21 November 2016

Kampung Kami (6)



Novel  Lepas
Kampung Kami  (6)
Edisi Keenam
By  Mang Amin

 I
KI Petruk meminta Ki Baut mengawal mobil truk  yang hendak mengantar emas batangan kepada teman nya Ki Sangar. Perjalanan menuju luar kota itu cukuplah jauh. Tentu berisiko bila tidak dikawal oleh pe ngawal yang berpengalaman.
Sebelumnya Ki Petruk bingung siapa yang harus mengawal emas batangan itu.  Ia lalu teringat pada Ki Baut. Setelah dipikir matang, dia memutuskan menunjuk dan mempercayakan sepenuhnya pengi ri man barang super berharga dalam jumlah yang amat banyak itu itu kepada Ki Baut.   
Ki Baut tidak sendirian mengawal perjalanan yang sangat berbahaya dan mengundang risiko besar itu. Dia ditemani dua anak buah Ki Petruk bernama Amir dan Hamzah.  Keduanya menyatakan diri siap me lakukan pengawalan sampai titik darah penghabisan. Keduanya juga sangatprofesional dan merupakan orang kepercayaan Ki Petruk.
“Jangan bikin saya malu dan kecewa,” pesan Ki Petruk kepada keduanya saat hendak menaiki truk bersama Ki Baut di pelataran rumahnya yang besar dengan pekarangan luas dan asri.
Kepada Ki Baut, Ki Petruk juga berpesan agar bekerja secara maksimal. “Dalam melakukan pengawalan kamu tak boleh merasa segan kepada dua anak buahku ini Ki Baut. Sepanjang itu benar dan dilakukan secara profesional, kamu berhak melakukan apa saja demi suksesnya pengawalan.”
Mobil truk besar  beroda enam belas itu berangkat dari kediaman Ki Petruk pagi hari. Dilepas dengan harapan sampai selamat di tujuan. Selain Ki Baut, Amir dan Hamzah, sopir truk Warno juga ditemani anak buahnya (kernet) yang bernama Wagiman.
Baru kali ini keduanya membawa emas batangan dengan truk. Selama ini mereka membawa barang-barang elektronika, sembako, pakaian dan kendaraan roda dua serta empat.  Selama ini juga pengiriman berjalan lancar, tanpa gangguan kriminalitas selama menempuh perjalan, siang dan malam.
Namun kali ini keduanya diliputi sedikit rasa cemas. Bukan cuma karena barang yang dibawa emas ba tangan yang banyak diincar semua orang dan kalangan, tapi juga kehadiran Ki Baut dan dua orang ke percayaan Ki Petruk, menyiratkan tanda tanya bagi Warno dan Wagiman.
Walaupun ketika singgah sejenak di kedai kopi langganan para sopir angkutan luar kota, Warno dan Wa giman sudah mendapat penjelasan dari Ki Baut, bahwa ia, Amir dan Hamzah diminta secara khusus oleh Ki Petruk untuk mengawal perjalanan truk kali ini.
Kendati cuma membeli air kopi yang kemudian dimasukkan ke dalam termos plastik besar, membuat rekan-rekan sopir Warno pada heran. Selain karena tak biasanya Warno membeli air kopi dan malah ke tawa cekikikan bersama sopir lain saat menyeruput kopi, kehadiran tiga lelaki yang belum mereka kenal sebelumnya, yang tidak turun dari truk, memastikan rekan mereka yang mudah ketawa dan diajak ber canda itu mengangkut penumpang istimewa.     
“Biasa sajalah To,” kata Warno ketika hendak menutup pintu mobil.
“Pasti ininya lebih gede kan?” Canda Parto sambil mengipas-ngipaskan selembar uang lima ribuan.
“Ah kamu. Ada-ada saja. Sudah ya. Aku berangkat dulu. Salam buat yang lain …”
“Oke .. Jangan lupa yang itu ya. Tak banyak, sedikit jadilah. Lumayan buat ngudut.”
“Iya-iya,” ucap Warno. Mesin truk dinyalakan. Tak lama kemudian beranjak pergi meninggalkan kedai yang selalu ramai sepanjang hari itu.
Menjelang siang, tengah hari. Seperempat perjalanan sudah mereka lalui. Agak lambat dari biasanya, karena macet di sana-sini. Emas batangan masih aman. Sepertinya tak seorang pun yang tahu kecuali sopir, Ki Baut dan dua lelaki tak gampang senyum itu.
Pemeriksaan baru terjadi setelah truk memasuki perbatasan kota. Beberapa anggota polisi mendekati Warno dan sempat adu mulut. Saat itulah Ki Baut, Amir dan Hamzah turun dari truk seraya memper lihatkan bukti-bukti surat pengiriman emas batangan.
“Bapak tahu ini belum cukup,” kata polisi antar kota dengan nada tinggi.
“Saya tembak atau Acc perjalanan kami ini!” Ancam Ki Baut. Dia menodongkan sepucuk senjata laras pendek ke perut polisi bertubuh tinggi besar itu.
Ketika dua rekan polisi tadi itu mencoba hendak mendekati Ki Baut, Amir dan Hamzah menempelkan belati emas di leher petugas keamanan itu.
“Tiarap cepat …!” Hardik Amir sembari menendang pantat kedua polisi itu hingga tersungkur. Keduanya pun tiarap.
“Sekali lagi saya peringatkan. Anda mau Acc atau perut anda saya robek-robek habis,” kata Ki Baut dengan nada tinggi dan tatapan mata tajam.
Doooor …
Guaaam …
Pistol diletuskan. Kena kaki si polisi. Jatuh terguling dekat kedua temannya yang tiarap tadi.
“Anda melawan haaa?” Sergah Hamzah, siap melukai alat kemaluan polisi yang masih muda usia itu.
Ketiga polisi itu tak berkutik. Ketiganya diikat dan dimasukkan ke dalam boks besar berisi  emas batangan.   
Ketika truk beranjak pergi, Ki Baut melaporkan kejadian barusan kepada sang bos, Ki Petruk. Ki Baut ha nya meminta ‘komandan’ nya itu untuk secepatnya mengambil langkah-langkah pengamanan yang di perlukan.
“Buang saja ke sungai,” perintah Ki Petruk.
“Apa tak berisiko Ki?”
“Tak usah kau pikirkan itu. Buang saja mereka ke sungai dan bila perlu habisi mereka,” kata Ki Petruk. Dia meminta Ki Baut konsentrasi mengamankan emas batangan dan tak perlu membuang-buang energi memikirkan nasib ketiga polisi yang bikin masalah itu.
Ki Baut, setelah memasukkan kembali hape kepunyaannya ke saku baju, dia meminta Warno  berhenti sebentar di dekat sungai besar. Amir membelokkan truknya ke sebelah kanan. Lalu melewati jalan tanah dan persis berhenti di bawah pohon tepian sungai.
Suasananya sepi. Tak ada rumah penduduk. Yang ada hutan perawan sepanjang mata memandang. Tak heran jika tak seorang pun manusa yang ada dan berkeliaran di tempat itu. Hanya burung-burung sungai yang berterbangan memecah keheningan siang menjelang sore hari itu.
“Kalian turunlah lebih dulu.” Kata Ki Baut pada Amir dan Hamzah.
Ki Baut orang yang terakhir dari truk. Dia memerintahkan Warno membuka boks belakang. Kemudian menarik paksa keluar ketiga polisi yang masih terikat itu.
Dooor .. door …
Guaam … guaam …
Ki Baut menembak ketiganya sampai mati. Tubuh ketiga polisi itu digelindingkan hingga masuk ke su ngai. Karena airnya cukup deras, mayat ketiganya  dengan cepat hanyut dibawa air pasang.
Amir yang menyaksikan kejadian barusan itu sempat syok. Ingin pingsan rasanya. Badannya tiba-tiba  le mah tak bertenaga. Anak buahnya, Hamzah memberinya segelas air kopi hangat yang dibeli dari kedai kopi pagi tadi. Berangsur-angsur normal. Sudah bisa berjalan dan siap melanjutkan perjalanan via darat kembali.
Kendati suda kuat, Warno belum bisa melupakan kejadian yang ia lihat barusan. Tiga polisi diikat, lalu ditembak  mati dan dibuang mayatnya ke sungai.
“Siapa mereka ini sebenarnya?” Tanya Warno dalam hati. Manusiakah, atau justru setan yang sengaja disusupkan ke dalam truk sehingga tugasnya mengemudi menjadi terganggu.
Kalau manusia, apa dan kenapa mereka berbuat sekeji dan sebiadab itu. Memperlakukan manusia seperti hewan. Dikasari, dibunuh dan dibuang begitu saja. Bahaya yang bakal muncul tak pernah terpikirkan.
Tapi jika mereka setan, kenapa bisa terlihat, tertawa, bicara dan perlakuan mereka terhadap Warno dan Wagiman, sejauh ini amatlah baik. Tidak terlalu kasar, apalagi sampai memperlakukan mereka secara tidak manusiawi dan seenak perutnya saja.
Wagino, kernet truk lain lagi. Dia yang tidur di belakang truk, sampai ketiduran setelah memikirkan kejadian tragis tadi. Dia tak menyangka sama sekali sampai sejauh ini Ki Baut dan dua anak buah Ki Petruk berbuat. Karena selama ini mereka sudah biasa diperiksa petugas keamanan di tengah perjalanan.
Debat mulut kerap terjadi. Tapi tak pernah sampai terjadi aksi kekerasan. Selama ini pengemudi mobil luar kota lebih suka menempuh jalan damai, bukan dengan kekerasan.  Sebab, bagi mereka sampainya dengan selamat barang yang dibawa jauh lebih penting daripada sekadar gagah-gagahan, juga ego dan harga diri.
“Berhenti sebentar Pak Warno,” pinta Ki Baut. Warno meminggirkan mobilnya.
Ki Baut mendapat telepon dari Ki Petruk. Dia turun dari truk dan berdiri di belakang boks mobil. Dia memang tak memberitahukan eksekusi terhadap tiga polisi tadi itu.
“Bagaimana Ki, sukses?”
“Sukses Ki. Aman dan lancar.”
“Ada yang tengokkah?”
“Kami berlima Ki,  Cuma …”
“Teruslah kawal emas batangan itu sampai ke tujuan. Kalau ada apa-apa segeralah hubungi aku ya, Ki Baut.”
“Baiklah Ki.”
Kemana lagi Ki?
Ada tiga jalan di simpang tiga. Ke kanan, kiri dan lurus …
“Kita lurus saja ya Ki,” kata Warno. Truk melaju ke jalan raya. Warno membunyikan klakson karena ingin mendahului mobil pick-up di depannya.

II
“AWAS No …” Teriak Ki Baut. Saat mendahului, mobil pick- up di depan tiba-tiba ke kanan, nyaris tabra kan. Warno cepat-cepat menginjak rem, banting setir ke kanan, ke luar jalan beraspal.
“Kampang …!” Umpat Amir yang meminta Warno segera mengejar mobil yang sudah melaju sangat ken cang itu.
“Tak usahlah,” ujar Ki Baut mendinginkan suasana yang panas menyusul makian dari Wagiman dan keinginan Amir yang hendak menghajar pengemudi mobil pick-up itu.
“Bagaimana Mas Warno?” Tanya Ki Baut. Melihat Warno masih syok, Ki Baut mengambil alih truk. Dia pegang setir dan Warno tetap berada di dekatnya bersama Amir dan Wagiman.
Ki Baut memilh tidak terlalu cepat mengemudikan truk. Alasannya, selain cuaca tidak sepanas tadi, menjelang sore hari arus kendaraan roda dua dan empat serta truk besar dan kecil semakin ramai berseliweran.
Alunan suara emas Teti Kadi dengan tembangnya yang populer  sepanjang masa ‘Teringat Selalu’, mem buat Warno mengantuk dan terlelap di pundak Wagiman. Ki Baut mendiamkan dan meminta Wagiman serta Amir tidak mengganggu, apalagi sampai membangunnya.
“Biarkan dia istirahah,” kata Ki Baut yang tampak bersemangat mengemudikan truk yang melaju dengan kecepatan sedang.
Belum ada tanda-tanda akan turun hujan meski langit mulai mendung. Angin sore berhembus lambat. Di setiap tikungan, di kanan dan kiri, sering dijumpai pemukiman warga dan beberapa pemiliknya yang asyik mengobrol sambil memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang.
Puluhan ekor sapi  dibiarkan di tanah lapang oleh pemiliknya. Memakan rumput dan menjelang magrib sapi-sapi itu perlahan digiring pulang ke kandang. Riuh suasana anak-anak berlari ke sana kemari, berke jar-kejaran dan bermain sepeda serta main layang-layang.
Di pinggir jalan, beberapa ibu ada yang berjalan kaki dan bersepeda, membawa sayur-sayuran yang  setelah seharian bekerja di ladang, tak ada raut kelelahan sedikit pun di wajah mereka.
Sepertinya mereka sudah terbiasa berjalan kaki dari ladang menuju kediaman mereka masing-masing. Padahal di belakang punggung mereka  bertengger keranjang besar berisi sayur-sayuran. Hanya kulit mereka yang menghitam legam karena terkena sinar matahari.
Anak-anak belasan tahun tanpa helm wara-wiri mengendarai sepeda motor. Ada yang sendirian, berdua dan berduaan. Laki-laki yang membonceng, perempuan yang dibonceng, ketawa, tak ada rasa risih sedi kit pun. Apalagi takut sementara kendaraan yang melintasi mereka kebanyakan ‘berlari’ kencang.
Menurut Wagiman, walaupun sering mengalami kecelakaan parah, anak-anak seusia siswa menengah pertama dan atas itu tak pula terusik. “Orang lain biarin, asalkan bukan aku,” ujar Wagiman.
“Di tempat saya juga begitu Mas Wagiman,” kata Amir. “Sekarang bukan lagi zamannya takut berkendara.”
“Mati ditabrak mobil itu urusan suratan nasib. Kalau terlalu dipikirkan, motor yang sudah terlanjur kita beli, bakalan buruk karena tidak dipakai.”
Ha ha ha ha …
“Ada plus minusnya semua,” sahut Ki Baut. Mendengar suara berisik dan ketawa-ketawa, Warno akhirnya terjaga dari tidurnya. Matanya merah, namun dia bersyukur karena bisa tidur lelap.
“Gimana mas tidurnya?”
“Alhamdulillah Ki. Lelap juga walau sebentar …”
“Syukurlah,” ucap Ki Baut. Dia mengklakson sepeda motor yang hendak menyeberang jalan. Setelah itu dia melanjutkan lagi pembicaraan tentang anak-anak dan sepeda motor.
“Plusnya dimana, minusnya dimana Ki?” Wagiman bertanya. Sempat senyum-senyum sendiri tadinya.
“Kalian mungkin sudah tahu. Kalau anak-anak bermotor tanpa menggunakan helm itu berbahaya. Itulah minusnya. Tapi melihat mereka pergi ke warung yang tadinya harus ditempuh seperempat jam, bisa di persingkat menjadi hanya hitungan menit dari rumah, itulah plusnya. Kita orang tua merasa terbantu.”
“Saya sependapat dengan Ki Baut,” kata Amir. “Walaupun saya juga keberatan kalau mereka tak menggunakan helm.”
 “Betul kata Pak Amir,” timpal Wagiman. “Selain menyalahi aturan, kalau kepala membentur aspal bagaimana.”
“Bisa mati kan Ki?” Tanya Warno yang sudah bisa mengikuti alur pembicaraan.
“Betul. Tapi walaupun tidak mati, otak bisa cedera. Bahaya itu,” jelas Ki Baut.
“Tapi itulah,” buru-buru Ki Baut meneruskan omongannya. “Kalau melihat mereka tulus membantu kita, bukan hura-hura tak karuan, kita selaku orang tua pasti senang. Apalagi mereka sudah mahir mengutak-atik motor. Lebih senang lagi kita melihatnya …”
“Ki .. stop Ki,” kata Amir. Dia melihat mobil pick-up berhenti di pinggir jalan bertanah.
Syiiiiiitt …
Breeeeeak …
Tanpa dikomando, Amir melompat turun dari truk. Dia berlari menuju mobil yang berhenti dekat hutan lindung.
“Tak salah lagi,” ucapnya dalam hati. “Inilah mobilnya …” Dia pun berteriak memanggil  Ki Baut, Warno dan Wagiman. Namun yang datang lebih dulu justru Hamzah.
“Ada apa Mir?” Tanya Hamzah sambil mengucek-ucek matanya yang merah karena baru bangun dari tidur.
“Mobil yang hampir bikin celaka kita tadi itu Zah,” jelas Amir.
“Sorry Mir. Aku tak sempat tengok, jadi tak bisalah kupastikan, apa benar apa tidak itu mobilnya.”
“Betul Pak Amir,” sahut Warno dari belakang mobil pick-up. Ia ingat nomor flat mobil itu.
“Tak salah lagi Pak Amir.”
“Kemana ya orangnya?” Ki Baut tengok sana sini. Heran. Belum juga diketemukan pengemudi dan pemiliknya.
“Apa perlu kita cari Ki orangnya?” Usul Amir.
“Tak usahlah. Tak ada waktu lagi buat kita untuk bersantai-santai. Sebentar lagi malam. Ayooo ..” Ajak Ki Baut agar rekan seperjalanannya itu segera kembali menaiki truk.
Sebelum menaiki truk, empat lelaki bersenjata mendekati mereka. Rupanya mereka tahu Ki Baut dan kawan-kawan membawa emas batangan.
“Buka pintunya!” Hardik pria bertato di kening sambil mengarahkan moncong senjata ke leher Ki Baut. Memintanya segera membuka pintu boks truk berisi emas batangan.
Ki Baut sengaja memperlambat langkahnya dengan harapan teman-temannya yang juga di bawah todo ngan senjata bisa  melakukan perlawanan. Amir menyadari, kalau mereka tidak melawan para penodong dan perampok ini, bukan saja emas kiriman akan melayang, tapi juga nyawa mereka bakal terancam dihabisi Ki Petruk karena gagal melakukan pengawalan.
Kletup … dup …
Dengan cepat, Amir menendang lelaki kerempeng di dekatnya, tersungkur sementara senjata di tangan terjatuh ke bawah truk.  Amir segera mengambilnya, lalu menyelinap di balik ban depan truk.
Warno, Wagiman dan Hamzah tak tinggal diam. Setelah Ki Baut berhasil meninju muka si perampok, dengan ganas dan membabi-butanya ia  tarik leher  pria bertato itu, lalu diputarnya.
Kraaak …
Tewas seketika.
Adegan tembak-tembakan mulai terjadi setelah Warno dan Wagiman serta Hamzah tak berhasil me ngambil senjata dari tiga perampok di dekatnya. Mereka akhirnya menyelinap masuk ke bawah truk dan …
Doooor .. door … door …
Ki Baut yang bersembunyi di samping kanan truk berusaha mengintip ketiga perampok tadi  mencari re kannya yang tewas mengenaskan di tangannya  barusan.
Mereka marah. Mereka saling salah menyalahkan. Mereka ingin menembak mati Amir dan cs. Namun saat ketiganya hendak berpencar, Ki Baut melepaskan tembakan. Berhasil mengenai  punggung salah seorang perampok, yang  berusaha membalasnya dengan melepaskan tembakan, justru terkena tembakan susulan yang berhasil  menembus batok kepalanya.
Duaaap …
Buuuk …
Tewas seketika. Jatuh terjerembab ke tanah. Melihat rekannya tewas, dua perampok yang tersisa membalasnya dengan memborbardir tembakan kea rah Ki Baut.
Kenakah Ki Baut?
Tent tidak.  Karena dia kini sudah berada di dekat Amir, Warno, Wagiman dan Hamzah yang baru keluar dari bawah truk. Mereka berempat sepakat diam dan menunggu apa maunya dua perampok yang masih hidup itu.
“Tembak kakinya kan Ki,” bisik Amir menunjuk ke bawah truk yang sepintas ada bayangan orang lagi berdiri dan bersandar di bodi samping truk.
“Hati-hati,” pesan Ki Baut.
Amir mulai beraksi dengan bertiarap di bawah truk. Dia bergerak lambat ke ban depan truk. Benar saja. Dua perampok itu berdiri di sana. Terdengar suara bisik-bisik dan …
Dooor .. door …
Adooow …
Auwww …
 Kena kaki, kedua perampok itu bukan membalasnya dengan melepaskan tembakan, tapi berlari terbirit-birit menuju mobil pick-up. Mereka hendak melarikan diri. Ki Baut dengan dua tembakan jarak jauhnya, berhasil mengempeskan ban  depan-belakang pick-u, membuat terkejut perampok dan terjun menye lamatkan diri ke dalam lebak.
Ha ha ha ha ...
“Kita kejar Ki!”
“Tak usahlah Mir,” kata Ki Baut sambil menyulut rokok.
“Kenapa Ki? Bukankah kalau mereka kita biarkan, nanti bertambah kurang ajar,” sahut Hamzah.
“Tak apa-apa. Sebaiknya kita urus saja dua mayat ini …”
“Dibuang ke lebak Ki?”
“Betul Zah. Kita lemparkan ke dekat temannya yang masih hidup dan berhasil melompat ke dalam lebak tadi itu …
“Okeee …”

III
SESAMPAINYA di kediaman Ki Sangar, Ki Baut dan kawan-kawan dijamu makan tengah malam. Mereka sangat tersanjung dengan penyambutan itu. Selain karena perut sudah minta diisi, jamuan Ki Sangar me mang berbeda. Diapit kolam besar dan sejuk yang disana sini dikitari aneka tanaman penghias kolam, menambah nikmatnya kita saat bersantap bersama.
“Mari bapak-bapak. Kita mulai saja,” kata Ki Sangar mempersilakan Ki Baut dan keempat rekannya menikmati jamuan.
Di atas meja besar dan panjang itu tersedia aneka buah-buahan mulai dari apel, anggur, pokat hingga jeruk manis. Minumannya beragam. Ada teh, kopi dan susu. Lalu es campur, es pokat dan berbagai jus  seperti  jus pepaya dan jus mentimun.
Sedangkan lauknya sangat menggugah selera. Ada pindang patin, ikan emas  bakar, daging malbi, ayam bakar, sate dan ayam krenyes . Bahkan juga ada kerang rebus, bebek dan burung goreng.
Bagaimana dengan lalapan?
Benar-benar seru. Ki Sangar menyiapkan karedok, pecal, gado-gado, tomat dan kol mentah segar. Ditam bah pula dengan kerupuk ikan, kerupuk udang, kempelang panggang, duku, durian dan semangka.
“Jangan malu-malu Ki, Mas semuanya,” ujar Ki Sangar, ramah. Jauh berbeda dengan namanya yang sangar berarti bengis dan amat pemarah.
Amir sempat termangu. Bukan karena tidak mau makan, tapi mana yang harus dimakan terlebih dulu.
“Sudah, minum airnya dulu, Mir.” Kata Ki Baut. Dengan minum air putih terlebih dulu perut terasa sejuk dan siap menerima, setelah dikunyah halus dan lembut, makanan apa pun yang masuk lewat mulut dan tenggorokan kita.
Glegek … geek …
“Mantap kan Mas Amir?!” Ki Sangar memberikan segelas air putih kepada Ki Baut, diterima dengan senang hati.
“Iya Ki,” jawab Amir. Agak risih karena jadi pusat perhatian Ki Sangar dan rekan-rekannya yang lain.
“Aku juga Mir,” kata Ki Baut. Dia meneguk air putih pelan-pelan, dan …habis satu gelas.
“Betul-betul hebat Ki Sangar ini,” puji Ki Baut sembari meletakkan kembali gelas di sisi kanannya.
“Yang hebat airnya atau Ki Sangarnya Ki?” Tanya Warno dan Wagiman barengan.
“Dua-duanya Mas Warno dan Mas Wagiman,” ujar Ki Baut. Semua pada ketawa. Makan tengah malam terasa lebih nikmat jadinya.
“Kalau begitu, pulang nanti aku bawa air dari tempat Ki Sangar ini. Boleh kan Ki?”
“Boleh saja Mas Warno,” ucap Ki Sangar.
Ha ha ha ha …
Di saat tengah malam, kala Ki Sangar menjamu tamunya santap bersama, salah seorang anak buahnya datang menemuinya dengan tergesa-gesa.
“Gawat Ki,” bisiknya.
“Tenang Man. Ada apa?” Tanya Ki Sangar mencoba menenangkan hatinya. Berharap para tamunya yang bersantap malam ini tidak terpengaruh oleh kedatangan anak buahnya.
“Di luar ada gerombolan orang. Siap menyerbu masuk,” jelas Mansyur.
“Oke. Sekarang, cepat amankan di luar. Di dalam biar kami,” perintah Ki Sangar.
Ki Sangar mengajak tamunya menuju lantai bawah.
Di manakah?
Tak jauh dari pintu keluar menuju kolam renang. Ada sebuah dinding berlapiskan kayu. Dinding itu dite kan tombolnya di sebelah kiri oleh Ki Sangar. Dan dinding itu pun terbuka sedikit demi sedikit.
“Ayo masuk …!” Ajak Ki Sangar. Ki Baut dan keempat rekannya masuk, tapi ketika Ki Sangar masih mengontak anak buahnya di depan dinding dan belum juga mau masuk, Ki Baut bertanya:
“Ki Sangar belum ….?”
“Dululah kalian. Aku masih menunggu anak dan isteriku, Ki.” Jelas Ki Sangar.
“Baiklah kalau begitu Ki. Kalau perlu apa-apa, janganlah sungkan beritahu saya ya Ki …”
“Terima kasih Ki Baut.”
Ternyata anak buah Ki Sangar berhasil dipukul mundur oleh pasuan berpakaian serba hitam. Hanya dengan beberapa gerakan amat cepat dan penuh tipu daya, satu persatu anak buah Ki Sangar tewas bersimbah darah akibat terkena sabetan pedang.
Ketika Ki Sangar dan orang kepercayaannya menutup dinding rahasia bawah tanah setelah mengaman kan anak dan isterinya, pasukan gerak cepat itu berhasil menyerbu masuk ke kediaman Ki Sangar. Kamar dan ruang tamu diobrak-abrik, apa yang mereka cari tak berhasil diketemukan.
Beberapa anak buah Ki Sangar coba memberikan perlawanan dengan melepaskan beberapa tembakan kea rah gerombolan perampok profesional itu. Satu terkena dan tewas seketika karena timah panas itu tepat mengenai jantung.
Namun setelah itu, melihat rekannya tewas terkapar,  pasukan  terlatih itu mengamuk dan dengan ayu nan pedang ya ng cepat dan nyaris tak terlihat, menghabisi semua pengawal Ki Sangar. Dalam keadaan sekarat tubuh mereka dilemparkan dari jendela dengan kepala pecah terempas ke aspal setelah sebe lumnya  mengenai kepala truk yang parkir di depan rumah Ki Sangar.
Ki Sangat beserta anak dan isteri, beberapa orang kepercayaannya menyusul Ki Baut dan rekannya yang sudah terlebih dulu menuju ke ujung ruang bawah tanah. Dari depan ke ujung tak begitu jauh jaraknya. Tapi karena jalanannya kecil, selebar pinggul orang dewasa kebanyakan, paling tidak menghabiskan waktu  setengah jam lebih.
Di ujung ruang bawah tanah itu ada  terowongan menuju ke laut. Dikelilingi hutan buatan yang tertata apik, Ki Sangar dan rombongan berlari melewati jalan setapak berlapiskan tanah liat.
“Sebelah kanan Ki Baut,” kata Ki Sangar. “Sebelah kiri buntu,” ujarnya. “Hanya untuk rekreasi saja.”
Guaaar …
Guaaam …
Braaash .. Jegaaar …
Dengan granat besar yang berlapis-lapis, dinding pintu rahasia itu berhasil terbuka setelah diledakkan. Satu persatu para ‘bajingan’ itu masuk dan mengejar ke mana Ki Sangar dan rombongan melarikan diri.
Ki Sangar dan rombongan sudah hampir mendekati pelabuhan. Jelang subuh mereka sampai di sana. La ngit agak gelap. Justru gelap inilah sangat menguntungkan karena keberadaan mereka  jadi samar ter lihat dari kejauhan.
Ada sebuah kapal besar di sana. Kapal laut yang biasa digunakan Ki Sangar untuk bepergian jauh itu bia sa bersandar di pelabuhan terdekat. Sebuah pelabuhan yang dibangun atas inisiatif dan duit Ki Sangar sendiri.
Namun pihak lain boleh menggunakannya tanpa pilih kasih dengan tetap menjaga kenyamanan dan keamanan kawasan pelabuhan dan sekitarnya.
Persis kala kapal bergerak menjauhi dermaga pelabuhan, segerombolan perampok tadi melepaskan tembakan kea rah buritan kapal. Ada juga beberapa di antaranya coba mengejar dengan kapal motor cepat berukuran kecil.
Karena hujan turun teramat lebat dan ombak yang tiba-tiba meninggi, membuat  ‘pembunuh bayaran’ itu mengurungkan niat mereka untuk mengejar dan mencoba membuntuti kapal kepunyaan Ki Sangar itu.
“Babi semua kalian ini. Makan taik dan tak becus,” teriak Sang Bos kepada anak buahnya yang tak berhasil mengejar Ki Sangar beserta anak buahnya.
“Maafkan kami Bos. Kami telah berusaha, tapi …” Jelas sang pemimpikan pasukan, Waskito, menahan amarah.
“Tapi apa. Taik kucing semua kalian ini. Makan saja kerjanya,” maki Sang Bos. Mukanya memerah, dan dari sekujur tubuhnya keluar keringat.
“Ki Sangar memang hebat, Bos,” kata Waskit coba membela diri.
“Hebat apanya. Kalian itu tolol. Tahu enggak?”
“Tahu Bos …”
“Kalau tahu jangan pura-pura mengaku pintar lah …”
“Iya Bos.”
“Segera kembali ke markas.” Perintah Sang Bos.
“Siap Bos.”
“Satu lagi …”
“ Iya Bos.”
“Bakar rumah Ki Sangar …!”
“Siap Bos …”
Anak buah Sang Bos bergerak cepat. Mereka siramkan bensin dan apa saja yang mudah terbakar ke se keliling kediaman Ki Sangar.  Lepas itu, mereka sulut dengan api rokok dan seketika muncul api yang se makin lama semakin membesar dan membakar rumah bertingkat tiga super mewah itu.
Dari atas kapal yang ‘berlayar’ melambat itu, Ki Sangar dan rombongan melihat dengan hati teriris ru mah sang pemilik emas batangan dan salah seorang terkaya di tempat tinggalnya itu dibakar habis pasukan Sang Bos.
Langit sudah terang benderang. Sayup-sayup terdengar teriakan warga yang terkejut dengan peristiwa mengamuknya si jago merah.
Ki Baut melaporkan kejadian barusan kepada Ki Petruk. Kendati sempat dicegah Ki Sangar, dia bersikeras agar Ki Petruk memberikan pelajaran berharga kepada mereka yang telah meluluh-lantakkan kediaman Ki Sangar.
“Betul-betul menyakitkan Ki. Saya pribadi menaruh harapan agar Ki Petruk tak membiarkan mereka ini bersenang-senang di atas penderitaan orang lain,” kata Ki Baut.
“Oke. Dimana kalian sekarang dan apa Ki Sangar beserta keluarganya selamat?”
“Kami sekarang di atas kapal. Alhamdulillah, Ki Sangar beserta keluarga selamat Ki. Beliau kebetulan berada di dekat saya. Apa Ki mau ngomong sama beliau?”
“Boleh …”
“Ki Sangar, dari Ki Petruk.” Hape pun berpindah tangan pada Ki Sangar. Hanya sesaat tegang dan cemas. Setelah itu terdengar tawa lepas memecah kesunyian di atas kapal.
Langit semakin terang. Hujan tak lagi turun. Sudah lama reda sementara ombak tak sebesar menjelang subuh tadi. Burung-burung terbang tinggi. Suaranya yang lucu menambah nyaman pagi hari ini.

IV
KI Petruk sudah habis kesabarannya melihat ulah Sang Bos dan anak buahnya. Beberapa kali dia membi arkan aksi kriminal yang dilakukan lelaki bengis itu karena tak berkaitan langsung dengan bisnis yang dia jalankan.  
Tapi kali ini, meski emas batangan yang ia kirimkan kepada Ki Sangar, selamat sampai tujuan, mende ngar rumah  koleganya itu terbakar, dan kini menyelamatkan diri dengan menggunakan kapal laut, Ki Petruk benar-benar marah. Murka.
“Tahu apa yang harus kalian lakukan malam hari nanti,” kata Ki Petruk dalam pertemuan dengan para anak buah dan orang kepercayaannya.
“Belum tahu Ki,” jawab mereka serempak.
“Kalian harus beri pelajaran Sang Bos dan para pengikutnya.”
“Caranya Ki?” Tanya Sawiran, anak buah Ki Petruk yang paling muda.
“Malam ini juga kita serbu kediaman Sang Bos.”
Semua terdiam.
“Jangan sampai membunuh kalau memang tidak terpaksa. Paham?”
“Paham Ki,” jawab anak buah Ki Petruk dengan penuh semangat. Sambil mengepalkan tinju yang diangkat ke atas bersama-sama, mereka meneriakkan yel-yel  “Hidup Ki Petruk … Hidup Ki Petruk … Hidup Ki Petruk …”
Sementara di kediaman Sang Bos pada malam hari ini tengah berlangsung pertemuan khusus antar se sama orang kepercayaan dan kolega Sang Bos. Mereka membicarakan nasib bisnis yang digeluti ke depan ini.
Semenjak kehadiran Ki Sangar dengan bisnisnya di bidang emas dan aneka tambang serta industri, Sang Bos merasa tersaingi. Pasalnya, laba yang diperoleh kian menurun disertai semakin berkurangnya jumlah pelanggan resmi yang justru beralih ke kantong bisnisnya Ki Sangar.
Di mata Sang Bos, Ki Sangar tak ubahnya musuh dalam selimut. Menusuk dari belakang. Tanpa izin
dan permisi, mengambil paksa para pelanggannya yang sebelum ini sangat setia dan ikut berperan mengembangkan sayap bisnisnya.
Namun, kemarahan dan kejengkelan Sang Bos terobati setelah Ki Sangar, walau tak sempat dihabisi, melarikan diri dengan kapal pribadi. Rumah terbakar, bagi Sang Bos sudah cukup untuk memuaskan hati, sehingga perintang bisnis utamanya saat ini sudah tidak ada lagi.
“Ha ha ha ha … Ayo kita bersulang …” Kata Sang Bos. Berdiri dan minum bersama sebagai tanda kemenangan.
“Mulai hari ini, akulah raja bisnis di kota ini,” ucap Sang Bos dengan nada tinggi dan penuh kepercayaan diri.
“Hidup Sang Bos … Hidup Sang Bos … Hidup kita semua. Kitalah penguasa kota ini. Siapa melawan kita hantam …”
Yel-yel dan teriakan histeris itu semakin membuat Sang Bos lupa diri. Dia tidak menyadari, dalam kondisi setengah mabuk saat ini, Ki Petruk beserta anak buahnya sudah berhasil mengepung  kediaman mewah nya.
Satu persatu anak buah Ki Petruk berhasil merengsek masuk lewat jendela depan dan belakang. Di ruang tamu tampak sepi. Tak ada seorang pun manusia di sana. Bergeser sedikit ke tengah, sama. Tak ada yang namanya Sang Bos.
Ke mana mereka?
“Sebelah sana!” Ucap Sawiran. Dia menunjuk ke kanan. Ada dua orang berjalan mondar-mandir. Seben tar duduk, lalu berdiri lagi, dan berjalan kea rah yang sama. Depan, duduk lagi, depan. Duduk lagi. Begitulah seterusnya berkali-kali.
“Tahu apa yang harus kamu perbuat Sawiran?” Ki Petruk yang baru saja tiba dari depan ke tempat di ma na Sawiran dan Sarnubi bersembunyi saat ini, meminta dua anak buahnya itu bergerak cepat dengan cara berpencar. Satu ke kanan, satunya lagi ke kiri.
Huuup …
Deeeep .. deep … deep …
Dalam hitungan detik, dua pengawal Sang Bos berhasil dilumpuhkan Sawiran dan Sarnubi, dengan cara memukul bagian belakang kepala dan memutar lehernya sampai tak sadarkan diri.
Ki Petruk memerintahkan anak buahnya untuk berpencar  mengikuti arah langkah kaki Sawiran dan Sar nubi. Pintu sudah terbuka dan di dalamnya Sang Bos beserta para pengikutnya sedang berpesta mabuk-mabukan.
Mereka melakukan itu sebagai ungkapan rasa syuku karena berhasil meredam kejayaan Ki Sangar. Me reka sepakat akan memperluas jaringan bisnis. Bukan cuma emas, tapi juga ke sektor-sektor bisnis lain seperti  kelautan, pariwisata, perhotelan dan pertambangan.
Mereka yakin dalam beberapa tahun mendatang, bisnis yang sempat tersendat perkembangannya ini akan berkembang pesat. Selain tidak ada lagi pesaing kuat, semua jalur penghambat bisnis mereka su dah terkuasai, sehingga tidak ada lagi yang namanya barang dicekal, ditahan, apalagi dirampas paksa karena ilegal.
Tetapi Sang Bos rupanya tidak mempertimbangkan keberadaan Ki Petruk. Selain merasa terusik, saat inilah baginya untuk beraksi guna memberi pelajaran kepada lelaki berbadan tambun itu.
Sang Bos lupa, keterusikan Ki Sangar, juga adalah keterusikan Ki Petruk. Karena itulah, ketika anak buah Ki Petruk berhasil melumpuhkan para pengikutnya,  Sang Bos cuma terheran-heran. Kendati sempat melarikan diri lewat pintu belakang.
“Kejar dia …!” Perintah Ki Petruk.
Sawiran dan Sarnubi melompat masuk ke pintu besar tempat di mana Sang Bos berhasil meloloskan diri. Beberapa anak buahnya ikut menemani dan berusaha sekuat tenaga melidungi pemimpin mereka.
“Kalian bereskan tempat ini secepatnya!”
Beberapa anak buah Ki Petruk berhasil mengamankan anak dan isteri Sang Bos. Mereka diperlakukan baik-baik dan diamankan di dalam mobl besar kepunyaan Ki Petruk.
Sementara Ki Petruk sendiri ikut menyusul Sawiran dan Sarnubi. Keduanya sudah cukup jauh melewati terowongan bawah tanah. Mereka tak gentar sedikit pun. Mereka berharap bisa menangkap hidup-hidup Sang Bos.
Berhasillkah?
Untuk sementara belum. Karena hingga saat ini keberadaan Sang Bos dan pengawalnya belum terdetek si. Namun menurut perkiraan Ki Petruk yang seperempat jam kemudian berhasil menemukan Sawiran dan Sarnubi, tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang ini.
“Sebaiknya kita sembunyi dulu,” kata Ki Petruk. Mereka bersembunyi di balik batu besar yang dipenuhi semak belukar.
Ki Petruk sengaja memancing keluar Sang Bos dan pengawalnya. Sebab, dia yakin seteru bisnis Ki Sangar itu sudah tahu kalau mereka dikejar. Buktinya, hingga kini tak kelihatan lagi batang hiduung yang bersangkutan.
“Coba lepaskan tembakan ke atas,” ucap Ki Petruk.
Dooor … door … door …
Sekelebat bayang-bayang tak jauh dari mereka terlihat berlari kencang ke depan. Mengagetkan Sawiran dan Sarnubi yang tak menyangka tembakan iseng mereka membuat Sang Bos terusik.
Apa betul Sang Bos?
“Betul,” kata Ki Petruk. Dia tahu bagaimana cara Sang Bos berlari. Maka itu, dia memerintahkan Sawiran dan Sarnubi untuk mengejarnya …
“Saya pilih jalan lain,” ujar Ki Petruk. Sengaja ia memilih jalan ke kanan dengan pertimbangan, jika dua anak buahnya gagal menangkap hidup-hidup Sang Bos,  dialah yang kemudian bisa melumpuhkannya.
Pengejaran terus berlangsung. Sampai di pertigaan jalan, anak buah Sang Bos, karena sudah kian terde sak, terpaksa melepaskan tembakan. Kendati tak satu peluru pun yang berhasil mengenai Sawiran dan Sarnubi, paling tidak orang kepercayaan Ki Petruk ini mesti waspada dan esktra hati-hati.
Adu tembak pun terus berlanjut ketika Sang Bos dan anak buahnya berlari ke sebuah lorong yang sepi dengan kanan dan kirinya ditumbuhi aneka ilalang dan semak belukar. Sawiran dan Sarnubi tak mau menyerah. Mereka terus melakukan pengejaran dan berusaha memepet Sang Bos.
Hiyaaat …
“Mau kemana Bos?” Tanya Ki Petruk. Sudah berdiri di depan Sang Bos dan anak buahnya yang bersen jatakan lengkap.
“Kamu rupanya Ki Petruk. Aku kira siapa?” Sang Bos meremehkan kehadiran Ki Petruk. Selain karena bukan seterunya, anak buahnya siap menembak  lelaki disegani di depannya ini jika berbuat macam-macam padanya.
Ki Petruk cuma tertawa ketika Sang Bos pamer senjata di depannya.
“Tengoklah ke belakang,” ucap Ki Petruk. Beberapa anak buah Ki Petruk yang datang beberapa saat kemudian, selain Sawiran dan Sarnubi, sudah mengarahkan senjata ke kepala Sang Bos beserta anak buahnya.
“Buang senjata atau kuledakkan kepala kalian,” ancam Sawiran setelah melihat anak buah Sang Bos berusaha mengambil senjata kecil dari tas kecil yang melilit di pinggang celana kulit levis yang di kenakan.
“Lempar cepat!” Perintah Sang Bos.
Beberapa anak buah Sang Bos yang berusaha melawan ditembak Sawiran kaki dan tangan mereka, se hingga roboh bersimbahkan darah.
“Lemparkan cepat! Teriak Sang Bos.
Kali ini para pengikut Sang Bos menurut. Mereka melempar senjata ke dekat Sawiran dan Sarnubi berdi ri. Mereka kini, termasuk  Sang Bos, sudah tidak bersenjata lagi. Tanpa senjata mereka bagaikan macan ompog dan tak bernyali lagi.
“Anak dan isterimu ada pada kami Sang Bos. Terserah kaulah. Pilih yang mana …” Kata Ki Petruk membe rikan pilihan. Mau duel atau mempertanggung jawabkan aksi kriminal yang telah dilakukan selama ini, khususnya terhadap anak buah Ki Sangar.   
Sang Bos, akhirnya memilih menyerahkan diri …
  
V
“BAGAIMANA Ki Tama dan Ki Daus?” Tanya Ki Duren saat memimipin pertemuan dengan sepuluh pendekar di Padepokan Lampu Merah.
Pertemuan tertutup itu khusus mengevaluasi hasil latihan silat selama beberapa bulan terakhir di lima kampung yakni Kampung Falah, Berkah, Mawar, Melati dan Kampung Zaitun.
“Sepertinya sudah cukup Ki untuk latihan dasar,” ujar Ki Tama dengan raut muka gembira karena dia bersama Ki Daus melihat betapa menggebu-gebunya semangat warga Kampung Zaitun dalam berlatih ilmu silat.
“Alhamdulillah,” ucap Ki Duren. Hanya kepada Ki Tama dan Ki Daus, Ki Duren berharap ada langkah-langkah lanjutan.
“Kami siap saja Ki,” jawab Ki Daus. “Jika Ki Duren dan semua teman-teman pendekar yang ada dalam ruangan ini menghendaki agar latihan silat terus dilanjutkan.”
“Bagaimana dengan kaum wanitanya Ki?” Ki Duren meminta penjelasan karena beredar kabar kaum wanita khususnya ibu-ibu acapkali mengeluh dengan beratnya porsi latihan.
“Kita sesuaikan Ki Duren,” jelas Ki Tama.
“Sesuaikan latihannya begitu?”
“Betul sekali Ki.  Antara kaum wanita dan laki-laki tidaklah sama. Mulanya kita coba sama. Tapi pada enggak kuat. Jadi kita putuskan bedakan saja dengan hasil maksimal …”
“Mereka mau menerimanya Ki Tama?”
“Alhamdulillah Ki Duren. Kayaknya kita harus mencari cara yang pas buat ibu-ibu dan remaja puteri. Se lain kita tawarkan dan beri toleransi juga suara hati dan keinginan mereka kita dengarkan ..” Terang Ki Tama.
“Jadi kalau yang laki-laki lari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali, kita coba dulu apa mereka siap. Jika sanggup teruskan, tapi jika tidak, kurangi atau cari cara yang lain tanpa harus berbelok dari maksud dan tujuan berlatih ilmu silat,” kata Ki Daus memperjelas jawaban Ki Tama barusan.
“Baiklah. Terima kasih atas penjelasan kalian berdua. Sekarang kita minta Ki Solar da Ki Saung bercerita …” Ki Duren mempersilakan para pendekar untuk mencicipi hidangan ubi rebus dan pisang goreng serta kopi kental manis.
Menurut Ki Solar dan Ki Saung, warga Kampung Melati baik-baik dan ramah. Mereka sepenuhnya me ngerti untuk apa mereka belajar silat. Maka itu, tak heran jika keinginan menguasai silat dari mereka cukup tinggi.
“Cuma pandai-pandailah kita menerapkannya Ki Duren,” ungkap Ki Saung.
“Tolong jelaskan Ki Saung kepada kita maksud dari pandai-panda menerapkannya itu!”
“Sesuaikan dengan selera dan kemampuan warga,” ujar Ki Solar. “Warga kan sudah terbiasa dengan kehidupan sungai. Nah, jadi kita tawarkan saja apa maunya mereka, tapi tentunya keputusan akhirnya tetap pada kita.”
“Kami berprinsip silat digemari masyarakat Ki, apa pun alasannya. Belajar silat itu mudah kalau sudah ta hu trik dan caranya. Tidak perlu berpayah-payah, yang penting ada niat dan kemauan, pantang menyerah dan tidak boleh gegabah serta sabar …”
“Oke, terima kasih Ki Saung dan Ki Solar. Selanjutnya kami persilakan pada Ki Suri dan Ki Badrun.” Ki Duren mempersilakan keduanya memberikan pandangan dan masukan selama memberikan pelatihan.
“Semua berjalan lancar Ki,” terang Ki Suri dan Ki Badrun.” Ibu-ibu pada senang, apalagi yang bapaknya. Inilah yang membuat kami berdua senang.”
“Cuma itu Ki Badrun dan Ki Suri?”
“Salah satunya itu Ki. Banyak sebenarnya. Tapi yang terpenting  bagi kami silat adalah bagian dari hidup mereka sehari-hari …”
“Lalu apa harapan kalian berdua pada warga dan kita semua Ki?”
“Cuma dua Ki. Pertama, silat tetap ada di mana warga berada. Kedua, warga diberi kesempatan berkreasi dengan dunia silat …”
Heeem …
“Bagus jug aide kalian yang nomor dua itu Ki. Tapia pa tidak melenceng nantinya dari maksud dan fungsi silat itu sendiri?”
“Tidaklah Ki. Sebab, kreasi yang kami maksud hanya pada bentuk dan pola latihan saja. Jadi mereka me rasa tidak terbebani dan bisa menghadirkan silat sebagai salah satu  cara untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri yang besar …”
“Bagaimana Ki Semangka dan yang lain?” Ada komentar?” Tanya Ki Duren.
“Cukuplah Ki,” jawab Ki Saleh. “Apa yang mereka berdua sampaikan barusan masuk akal dan merupakan terobosan baru bagi pengembangan ilmu silat di masa depan …”
“Ki Anas, ada komentar?”
“Belum Ki,” ucap Ki Anas.
“Baiklah … sekarang kita lanjutkan dengan  Kampung Berkah. Kepada Ki berdua, waktu dan tempat kami sediakan,” kata Ki Duren, yang meminta sohibnya Ki Anas dan Ki Semangka memberikan solusi atas masalah yang dihadapi.
“Baiklah Ki,” ujar Ki Semangka. “Tapi sayang kami belum menemukan masalah selain keinginan warga Kampung Berkah,” jelas Ki Semangka, yang sedari tadi tidak minum dan makan hidangan yang tersaji. Sebaliknya Ki Anas sudah menghabiskan beberapa gelas minuman air kopi dan kue wajik.
“Apa keinginan mereka Ki?”
“Dua Ki,” kata Ki Semangka.
“Oh ya. Apa yang dua itu Ki?”
“Pertama, warga minta latihan tetap diteruskan. Kedua, sekali-kali digelar pertandingan  antar kampung. Selain bisa melihat kemajuan warga dari kampung yang lain, juga ajang silaturahmi untuk saling kenal-mengenal satu dengan yang lainnya …”
“Oke, bagaimana dengan kalian berdua. Makud saya, pendapat atau tanggapan kalian terhadap keinginan warga Kampung Berkah ini?”
“Bagus Ki Duren,” kata Ki Anas, diiyakan Ki Semangka.
“Cuma …” kata Ki Anas, “Perlu melibatkan para pemuda dan tokoh masyarakat Ki.”
“Untuk poin yang kedua Ki?”
“Betul Ki,” jelas Ki Anas. “Kenapa kami menyertakan pemuda. Karena pada diri merekalah tergantung masa depan kampung mereka. Yang tua akan mati, dan kalau yang muda tak eksis, siapa lagi yang mengurus kampung ini.”
“Lantas kenapa tokoh-tokoh masyarakat kita perlu libatkan lebih jauh, karena mereka lebih mengenal dekat warga. Mereka tempat berkeluh kesah dan jadi panutan warga. Apa saja yang mereka lakukan akan diikuti  waga, dan apa saja yang diomongkan pasti didengarkan …”
“Ki Semangka?”
“Sama jugalah dengan apa yang dikemukakan Ki Anas tadi. Tapi bagi saya pribadi semuanya itu harus kompak. Warga kompak dan yang melatih juga kompak. Semua pihaklah. Dan harus dilakukan bertahap. Warga senang dan ada manfaat buat mereka. Hidup mereka lebih bergairah dan tidak mudah menyerah …”
“Ki Anas?”
“Saya juga minta dukungn yang hadir di sini sekiranya nanti keinginan warga Berkah jadi terpenuhi,” harap Ki Anas.
“Ki Semangka?”
“Kurang lebih sama dengan harapan Ki Anas, Ki Duren.”
“Baiklah kalau begitu. Selanjutnya, ini yang terakhir, dari Kampung Falah. Tentu saja saya berharap Ki Saleh lebih banyak bicara tentang Kampung Falah ketimbang saya. Betul kan para pendekar sekalian?”
“Kalau kehabisan kata gimana Ki?” Sindir Ki Daus.
Ha ha ha ha …
“Enggaklah Ki. Sohibku Ki Saleh ini jagonyo ngomong. Sekali dia ngomong pasti didengar orang. Masih muda, ganteng pula, dan …”
“Punya pacar cantik pula,” seloroh Ki Tama.
He he he he …
“Siapa orangnya kalau boleh tahu Ki Tama?”
“Wah kalau itu, saya tidak bisa menyebutnya Ki …”
“Kenapa? Takut?”
“Bukan Ki. Tak enaklah aku sama Ki Saleh. Aku kan sohibnya. Jadi kalau menyangkut urusan pribadi, aku harus ijin dulu sama dia …”
Ha ha ha ha …
“Ya sudah kalau begitu. Sekarang giliran Ki Saleh. Saya persilakan kepada beliau untuk bicara panjang lebar …”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Terima kasih sohibku sekalian. Saya mungkin tidak terlalu banyak ngomongnya …”
“Lho, kenapa Ki? Sakit gigikah?” Tanya Ki Badrun sedikit heran.
He he he he …
“Bukan sakit gigi. Tapi apa yang hendak aku omongkan sudah disampaikan sohib-sohibku tadi …”
Waaaaaa …
“Jadi saya ngomong yang belum diomongkan sohib-sohibku tadi …”
Oooooo …
“Silakan Ki,” kata Ki Duren mempersilakan.
“Pertama, warga Kampung Falah sepertinya sudah bisa melatih diri sendiri. Kapan harus berlatih dan kapan tidak. Kedua, sesama mereka sangat kompak dan keinginan untuk maju dan berkembang sangat lah besar .. Ketiga, mereka sangat mencintai ilmu bela diri silat. Keempat, mental dan fisik mereka men dukung.  Kelima, dapat memperlancar dan mendorong diri mereka mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Yang biasa turun ke sawah, setelah berlatih silat, lebih bersemangat lagi. Menyiangi sawah dan kebun mereka …”
Ki Duren mengisyaratkan pada Ki Saleh untuk terus mengungkapkan isi hati. Tidak ada lagi yang disim pan. Semua terbuka sehingga bisa diketahui oleh orang banyak.
“Jadi kesimpulan saya, mereka bisa dilepas untuk mandiri …”
Haaaa …
“Ntar tersesat Ki Saleh!” Kata Ki Anas, terbatuk-batuk karena berkomentar sambil menyeruput teh.
Ha ha ha ha …

 
        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar