Senin, 27 Juli 2020
Nasehat (6)
Nasehat (6)
By aminuddin
6. Nasehat Nabi Syu'aib kepada kaumnya
"DAN (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan (a6) saudara mereka Syu'aib. Ia berkata : "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selaib-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbabgannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman."
"Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan."
"Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (6)
_______________
(6). QS Al-A'raaf ayat 85-87
(a6). Mad yan adalah nama putera Nabi Ibrahim as, kemudian menjadi nama ka bilah yang terdiri dari anak cucu Mad yan itu. Kabilah ini diam di suatu tempat yang juga dinamai Mad yang yang terletak di pantai laut Merah di tenggara gunung Sinai.
(NABi Syu'aib AS diangkat menjadi seorang nabi untuk memberi peringatan pada kaum Madyan yang kerap berlaku curang. Lewat kisah Nabi Syu'aib, kita tahu bahwa Allah SWT tak akan menyukai orang-orang yang berbuat zalim dan memicu kerusakan di muka bumi.
Suku Madyan merupakan kumpulan orang Arab yang tinggal di dekat Gunung Sinai, di negeri Syam atau yang saat ini dikenal dengan Suriah. Nabu Syu'aib juga merupakan bagian dari Suku Madyan.
"Dan kepada penduduk Madyan, Kami [utus] Syu'aib, saudara mereka sendiri," bunyi firman Allah sesuai surat Al-A'raf ayat 85.
Kaum Madyan diisi oleh orang-orang kafir yang berbuat kejahatan dan kecurangan. Mayoritas orang Madyan bekerja sebagai pedagang.
Dalam berdagang, penduduk Madyan kerap melakukan penipuan. Mereka mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar seperti timbangan atau takaran yang dikurangi. Barang-barang yang dijual juga acap kali dipalsukan. Kondisi ini sangat meresahkan masyarakat saat itu.
Nabi Syu'aib lalu memulai misi menyadarkan masyarakat Madyan. "Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan [sembahan] bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun," kata Nabi Syu'aib kepada kaum Madyan.
Nabi Syu'aib juga mengajak kaum Madyan untuk berhenti berbuat kerusakan di bumi. Sebagian kaum Madyan lain bekerja sebagai petani. Namun, sering kali mereka berbuat kerusakan.
Kaum Madyan juga tak percaya pada Allah. Mereka menjadikan Aikah atau sebidang tanah sebagai tuhan. Kaum Madyan juga kerap menakut-nakuti dan menghalangi orang yang hendak beriman.
"Wahai kaumku! Sembahlah Allah, harapkanlah [pahala] hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di bumi berbuat kerusakan," kata Nabi Syu'aib sesuai surat Al-Ankabut ayat 36.
Alih-alih didengarkan, kaum Madyan menolak mentah-mentah ajaran Nabi Syu'aib.
"Wahai Syuaib! Apakah agamamu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai," kata penduduk Madyan sesuai surat Hud ayat 87.
Penduduk Madyan bahkan mengancam bakal merajam Nabi Syu'aib jika terus mengatur mereka dalam berdagang. Mereka juga mengancam mengusir Nabi Syu'aib beserta pengikutnya jika tidak mengikuti agama mereka
Nabi Syu'aib lantas menolak ajakan itu dan menyerahkan kepada Allah SWT sebagai pembuat keputusan terbaik.
"Dan tidaklah pantas kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak [adil]. Engkaulah pemberi keputusan terbaik," kata Syu'aib kepada kaumnya.
Nabi Syu'aib memperingatkan jika kaum Madyan tidak berubah, azab dari Allah SWT akan segera tiba. Namun, kaum Madyan tetap berbuat semena-mena.
Allah menimpakan azab kepada kaum Madyan di malam dan pagi hari dengan siksaan yang tak diduga-duga. Allah mendatangkan gempa bumi yang dahsyat dan suara yang mengguntur pada penduduk Madyan.
"Mereka mendustakannya [Syu'aib], maka mereka ditimpa gempa yang dahsyat, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka," bunyi firman Allah dalam surat Al-Ankabatu ayat 37.
Nabi Syu'aib dan pengikutnya diselamatkan oleh Allah. Allah melimpahkan rahmat dan berkah untuk orang-orang yang beriman.
Banyak hal yang bisa diambil dari kisah Nabi Syu'aib dan Suku Madyan. Nabi Syu'aib mengajarkan dalam jual beli, pedagang dan penjual harus adil dan tidak merugikan orang lain. Timbangan dan takaran harus diberikan secara sempurna agar rezeki yang didapat halal di sisi Allah.
Kisah Nabi Syu'aib juga mengajarkan manusia bahwa Allah SWT tidak menyukai orang yang berbuat zalim dan membikin kerusakan di muka bumi. Orang-orang yang berbuat zalim dan memicu kerusakan lah yang bakal mendapatkan azab dari Allah SWT). (m.cnnindonesia.com)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar