Jumat, 21 September 2018

Dua Menara (2)

Dua Menara (2)
Oleh Wak Amin


NGEOONG ...

"Jangan balik Bang Mamat ..."

Ahiiik ...

Lia menahan tawanya.

Aku menoleh ke belakang. Kulihat Lia tersenyum sambil menggendo ng kucing kesayangannya.

"Dadaaach Bang Mamaaat!"

Lia mengangkat tangan Puspus. Melambai-lambai sambil mengeong ...

"Dadaaach Puspus .."  Balasku, me lambaikan tanganku.

Ngeooong ...

"Hati-hati Bang Mamat," ucap Lia dengan suara serak mendayu.

Aku pun pulang, setelah itu.

*****
DENGAN Bu Aida, ibunya Hasan dan Lia, aku juga dekat. Beliau su dah kuanggap seperti ibuku sendiri. Seringkali menasehati kami berdua, aku dan Hasan, agar rajin belajar dan beribadah.

Terus terang, pertama kali kukenal Bu Aida, aku amat segan. Pelit bi cara dan, ini kesanku, pemarah orangnya.

Namun, setelah beberapa kali aku bermain ke rumah Hasan, kesan 'angker' itu lambat laun sirna. Bu Aida ternyata wanita lembut, ibu yang menyayangi anak-anaknya, dan humoris.

Aku malu pada diriku sendiri. Du gaanku salah. Aku justru merasa terayomi. Karena ramah, dan tak membeda-bedakan antara aku, Hasan dan Lia.

Jika aku datang kebetulan makan siang, Bu Aida selalu mengajakku makan. Menikmati hidangan sea danya. Jauh dari kesan mewah.

Suatu kali Bu Aida bertanya kepadaku ...

"Mat ..!"

"Ya Bu Aida," kataku setelah menci um tangannya yang baru pulang mengajar suatu sore.

"Boleh ibu bertanya?"

"Boleh Bu," jawabku. Tak lama sete lah itu nongollah Lia dan Hasan da ri pintu depan rumah.

"Mama. Pulang ngajar bukannya la ngsung masuk rumah. Eee malah nanya segala sama Bang Mamat," kata Lia sembari memeluk erat Mamanya.

"Nanya apa Ma sama Mamat?" Ta nya Hasan, selepas mencium ta ngan Sang Mama.

"Saat Mama naik opelet tadi, macet nya minta ampun. Nah, Nama mau minta pendapat Mamat, bagaimana mengatasinya, agar penumpang tidak marah-marah dan mengeluh lagi karena macet ..."

Lia ketawa. Hasan dan Mamat dibu at heran.

"Kalau cuma itu, Lia juga bisa menjawabnya Ma."

"Yang bener?"

"Bener Ma."

"Baiklah. Sekarang apa jawabannya sayang."

"Supaya enggak macet lagi Ma, ada dua caranya. Pertama, enggak usah naik opelet lagi, dan kedua, perba nyak jumlah jalannya."

Ha ha ha ha ...

Aku ikut tertawa.

Tanpa aku sadari, inilah awal tum buhnya kebersamaan kami. Kema na Hasan dan Lia pergi, piknik mi salnya, Bu Aida selalu mengajakku ikut serta.

Beliau sudah menganggapku se perti anaknya sendiri.

Aku jadi tak enak ...


*****






Tidak ada komentar:

Posting Komentar