Sabtu, 08 September 2018

Yahudi Genggam Dunia (38)

Yahudi Genggam Dunia (38)
Oleh aminuddin

BERIKUT pengakuan pembesar Ya hudi dan Nasrani tentang sosok Nabi Muhammad SAW:

1. Waraqah bin Naufal (seorang Nasrani dan penulis Injil dengan Bahasa Ibrani)

Istri Nabi Muhammad SAW, Khadijah datang membawa suaminya menemui Waraqah yang tak lain anak pamannya, menceritakan apa yang terjadi pada suaminya ketika berada di Gua Hira (awal permulaan mendapat wahyu).

Nabi bercerita tentang apa yang dilihatnya di Gua Hira. Nabi berkata 'Ada makhluk memelukku dan memerintahkanku untuk membaca' Aku jawab 'Aku tidak bisa membaca'.

Waraqah berkata, "Itu adalah Namus (Malaikat) yang diturunkan Allah kepada Musa. Andaikan aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup saat  kaummu mungusirmu".

Nabi bertanya, "Benarkah mereka (kaumku) akan mengusirku?"

Waraqah menjawab, "Benar. Tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup di masamu nanti, tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh."

Waraqah meneguhkan hati Muhammad bahwa kelak ia akan menjadi nabi umat ini.

Darimana Waraqah tahu apa yang ditemui Nabi Muhammad SAW adalah malaikat?

Berdasarkan Kitab Yesaya (bagian dari Perjanjian Lama) 29:12, yang isinya "Dan apabila kita ini diberi kan kepada seorang yang tidak da pat membaca dengan mengatakan "Baiklah baca ini" Ia menjawab "Aku tidak dapat membaca".

Waraqah meninggal dunia pada sa at-saat turun wahyu kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Rahib Bahira
Saat usia Nabi Muhammad SAW menginjak usia 12 tahun, diajak pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syam.

Rombongan Abu Thalib sempat singgah di Bushra, suatu daerah di Syam yang berada dalam kekuasaan Romawi.

Di negeri ini ada seorang Rahib yang dikenal dikenal dengan sebutan Bahira, nama aslinya Jurjis.

Bahira menghampiri rombongan Abu Thalib dan mempersilakan mereka mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan.

Padahal sebelumnya disebutkan, Bahira tidak pernah keluar rumah. Tapi kali itu dia keluar karena turut merasakan keistimewaan Nabi Muhammad SAW.

Sambil memegang tangan Nabi Muhammad, Sang Rahib berkata, "Orang ini adalah pemimpin alam semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam".

Abu Thalib bertanya, "Dari mana engkau tahu hal itu?"

Rahib Bahira menjawab, "Sebenar nya sejak kalian tiba di Aqabah, ti dak ada bebatuan dan pepohonan melainkan mereka tunduk bersujud. Mereka tidak sujud melainkan kepa da seorang nabi. Aku bisa menge tahuinya dari cincin nubuwah yang berada di bagian bawah tulang ra wan bahunya yang menyerupai bu ah apel. Kami juga mendapati tan da itu di dalam Kitab kami".

Kemudian sang Rahib meminta Abu Thalib kembali lagi ke Mekkah bersama Nabi Muhammad SAW tanpa melanjutkan perjalanan ke Syam, karena Bahira takut gang guan Yahudi kepada mereka.


3. Raja Romawi Heraklius (Hercules)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa sanya Abu Sufyan bin Harp saat berada di Syam untuk berniaga, dipanggil Raja Heraklius untuk hadir di kerajaannya.

Sang raja yang ditemani pembesar kerajaan, memanggil seorang penerjemah untuk menerjemahkan dialognya dengan Abu Sufyan.

Raja Heraklius ingin bertanya seputar sosok Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai Rasul.

Kabar kerasulan Muhammad itu sudah tersiar seantero jazirah Arab. Raja Heraklius yang beragama Nasrani pun penasaran dengan sosok Nabi Muhammad SAW.

Oleh karenanya, ketika rombongan Abu Sufyan tiba di Syam, ia me ngundang kabilah itu untuk menjelaskannya.

Sejumlah pertanyaan dilontarkan Raja Heraklius kepada Abu Sufyan, yang dianggap nasabnya paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW.

Berikut beberapa dialog percakapan Heraklius dengan Abu Sufyan:

Heraklius bertanya, "Apakah dia (Nabi Muhammad) berasal dari keturunan raja?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak".

Heraklius bertanya, "Apakah pengikutnya adalah orang-orang mulia dan para pembesar?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak, para pengikutnya adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah".

Heraklius bertanya, "Apakah pengikutnya itu bertambah terus atau semakin berkurang?"

Abu Sufyan menjawab, "Pengikutnya semakin hari semakin bertambah dan tidak pernah berkurang".

Heraklius bertanya lagi, "Apakah di antara mereka ada yang meninggalkan agama mereka karena membenci agama itu?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak ada."

Raja Romawi itu bertanya lagi, "Apakah kalian menuduh dia berdusta atas apa yang diucapkannya dengan mengaku sebagai Nabi? Apakah sebelum menjadi seorang nabi, dahulunya dia adalah seorang pendusta?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak".

Heraklius bertanya lagi, "Dia telah mengaku sebagai seorang Nabi kepada kalian. Lalu apa yang diperintahkan Muhammad kepada kalian?"

Abu Sufyan menjawab, "Muhammad mengajak kami dan menyuruh kami bersaksi, 'Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun'.

"Muhammad juga menyeru kami untuk meninggalkan apa yang diucapkan oleh nenek moyang kami (menyembah berhala). Dia juga menyeru kami untuk mene gakkan salat, membayar zakat, berlaku jujur, bersikap sederhana dan hidup bersahaja, serta me nyambung silaturahim."

Heraklius lalu berkata kepada Abu Sufyan dan rombongannya, disaksikan seluruh petinggi kerajaan :

"Wahai Abu Sufyan, jika semua yang telah kau sampaikan itu benar, maka pastilah dia (Muhammad) akan menguasai sampai ke tempatku berpijak di kedua telapak kakiku ini (Damaskus-Syiria)".

"Sesungguhnya, aku telah tahu (ramalan) bahwa dia akan lahir. Namun, aku tidak mengira dia akan lahir dari bangsa kalian (Arab). Se kiranya aku mengetahui, walaupun dengan susah payah, aku akan berusaha untuk menemuinya. Andai aku berada di dekatnya, aku akan membasuh kedua telapak kakinya." (HR Bukhari)

4. Hushain bin Salam bin Harits (Pendeta Yahudi di Madinah)

Hushain bin Salam bin Harits adalah seorang pendeta dan ulama Yahudi dari Bani Qainuqa, yang paling dalam pengetahuannya tentang kitab suci Taurat.

Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, Hushain mendapat be rita bahwa orang yang dinanti-nanti dan diharap-harap kedatangannya itu telah sampai di Madinah.

Ya, Hushain memang tengah me nanti-nanti kedatangan 'Pesuruh Tuhan' yang terakhir, yang sifat-sifatnya termaktub dalam Taurat dan Injil. Kedatangannya' itu telah dijanjikan dalam kitab-kitab tersebut.

Ia pun meyakini sosok 'Pesuruh Tuhan' ada pada sosok Nabi Muhammad SAW. Setelah diam-diam menemui Nabi Muhammad, Hushain mencocokkan sifat-sifat Nabi dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dalam Taurat dan Injil.


Setelah tahu sifat-sifat dan tanda-tanda itu cocok pada diri Nabi Mu hammad SAW, seketika itu juga Hushain masuk Islam, dan menga jak seluruh keluarganya menjadi pengikut agama Muhammad. Hushain kemudian berganti nama menjadi Abdullah bin Salam.

Dari Abdullah bin Salam, "Tatkala Rasulullah SAW tiba di Madinah, manusia berjejalan menemui beliau dan saya termasuk di antara mereka. Setelah saya mengamati Rasulullah, saya langsung mengetahui melalui sinar wajahnya yang menunjukkan beliau bukan seorang pendusta. Ucapan pertama kali yang aku dengar langsung dari lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kala itu beliau mengucapkan, 'Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan (sedekah), sambunglah tali silaturrahmi, salat lah di malam hari tatkala manusia terlelap tidur maka kalian akan masuk surga dengan selamat'.(HR Ibnu Majah)


5. Gubernur Mesir, Muqauqis (Kristen Koptik)

Muqauqis pernah menerima kedatangan utusan Nabi Muhammad SAW, bernama Hathib bin Abu Baltha'ah dengan membawa surat dari Nabi SAW.

Muqauqis menyambutnya dengan ramah dan penuh perhatian. Setelah Muqauqis membaca surat dakwah dari Nabi Muhammad SAW itu, lalu ia bertanya kepada Hathib.

"Jika dia (Muhammad) itu seorang Nabi, kenapa tidak mendoakan buruk kepada orang yang menentang seruannya itu dan yang telah mengusirnya keluar dari negerinya?"

Pertanyaan ini  dijawab oleh Hathib, "Bukankah tuan menyaksikan bahwa Isa bin Maryam itu utusan Allah? Mengapa Isa tidak mendoa kan buruk kepada kaumnya ketika mereka akan menangkap dan mem bunuhnya supaya Allah membinasa kan mereka, sehingga Allah mengangkat kepada-Nya?"

Mendengar jawaban Hathib yang baik itu, lalu Muqauqis berkata, "Sungguh baik kamu ini, kamu seorang yang bijaksana, datang dari sisi seorang yang bijaksana."

Hathib bin Abu Baltha'ah lantas menjelaskan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dan Muqauqis mendengarkan dan mengakui akan kebenarannya.

Muqauqis mengakui pula kebena ran diutusnya Nabi Muhammad SAW, tapi ia belum bisa mengikuti ajaran yang beliau sampaikan.

Sesudah itu Muqauqis memanggil seorang penulis untuk menuliskan surat balasan kepada Nabi Muhammad SAW, dan surat itu diserahkan kepada Hathib bin Abu Baltha'ah untuk disampaikan kepada Nabi beserta beberapa macam hadiah.

Bunyi surat jawaban Muqauqis itu demikian :

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kepada Muhammad bin Abdullah dari Muqauqis pembesar Qibthi.
Semoga keselamatan atas engkau. Adapun sesudah itu, sesungguhnya saya telah membaca surat engkau, dan saya telah mengerti apa yang telah engkau sebutkan di dalamnya dan apa yang engkau mengajak ke padanya. Dan sesungguhnya saya mengerti, bahwa Nabi telah muncul, dan dulu saya menyangka  Nabi itu akan lahir di negeri Syam. Sesung guhnya saya telah menghormati utusan engkau, dan saya mengirim kan untuk engkau dua gadis, yang keduanya mempunyai kedudukan yang tinggi dalam lingkungan bang sa Qibthi, dan membawa beberapa pakaian, dan saya mengirimkan ha diah seekor baghal kepada engkau untuk engkau kendarai. Semoga keselamatan atas engkau."




_____

m.viva.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar