Dua Menara (4)
Oleh Wak Amin
(Bagian Kedua)
TUJUH tahun kemudian ...
"Kakaaaak ..."
"Oi Kakaaak ..."
"Dimanakah di kau gerangan ..."
Shinta baru berhenti memanggil Mamat, kakaknya ketika bertemu ibunya yang baru pulang dari ru mah tetangga sebelah.
"Shinta ..."
"Lihat Kak Mamat Ma?"
"Lihat. Emangnya kenapa?"
"Ada telepon Ma barusan."
"Dari siapa?"
"Eeem .. Kak Lia."
"Ya udah. Biar Mama yang nyambut teleponnya."
"Jangan Ma."
"Kenapa?"
"Telepon itu buat Kak Mamat, bukan Mama ..."
"Ya sama aja sayang. Kak Lia juga udah kenal sama kamu dan Mamamu. Betul?"
"Betul ... Tapi Ma, Kak Lia itu perlu sama Kak Mamat, bukan Mama. U derstand Ma?"
"Ya. Understand ..."
Bu Ruqayah ketawa geli. Terkada ng si bungsu ini sering membuat hatinya geli.
"Nah, itu Kak Mamat Ma. Bentar ya Ma ... Kaaak .. Kak Mamaaat!"
Yang dipanggil rada kaget, karena tak biasanya, nada suara Shinta kencang terdengar, padahal jarak antara aku dan adikku hanya dua meter.
"Ada telepon dari Kak Lia. Buruan Kak ..."
Kupercepat langkahku menuju rua ng tamu. Kuangkat telepon. Ada nada suara, tapi kemana Lia nya.
"Lia. Halo. Lia .."
"Coba lagi Kak. Mana tahu Kak Lia nya ada keperluan sebentar ..."
Kucoba lagi ...
Kali ini Lia menyambutnya.
"Bang Mamat ..."
Lia terisak ...
Kubisikkan sesuatu di telinga adikku dan ibuku.
Keduanya ikut terisak.
Tapi kenapa ya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar