Senin, 24 September 2018

Yaman dan Pertemanan (7)

Yaman dan Pertemanan (7)
Oleh aminuddin

Perang Yaman V

- Spanyol Lanjutkan Penjualan 400 Bom ke Saudi

MADRID -- Pemerintah Spanyol mengubah kebijakannya hanya dalam hitu ngan hari. Negara itu melanjutkan penjualan 400 bom yang dipandu laser ke Arab Saudi setelah sebelumnya membatalkannya.

Beberapa hari lalu kesepakatan senilai 9,2 juta Euro dihentikan pihak Madrid di tengah kekhawatiran atas penggunaan senjata tersebut dalam perang di Yaman.

Menteri Luar Negeri Spanyol Josep Borrell pada hari Kamis mengumumkan perubahan kebijakan. Dia mengatakan, pemerintah telah meninjau kontrak dan merasa harus menghormatinya.

Keputusan itu muncul setelah para pekerja di galangan kapal Navantia milik negara di Spanyol selatan berunjuk rasa. Mereka berpendapat bahwa membatalkan kontrak akan menyebabkan pemerintah Saudi mundur dari kesepakatan pembelian lima kapal perang senilai 1,8 miliar Euro.

“Setelah satu minggu kerja intensif oleh berbagai kementerian, termasuk kementerian luar negeri, keputusannya adalah bahwa bom ini akan dikirimkan untuk menghormati kontrak dari 2015, yang dibuat oleh pemerintah sebelumnya dan di mana tidak ada ketidakberesan yang terdeteksi yang akan menghentikannya," kata Borrell kepada radio Onda Cero.

Menteri Borrel mengatakan kontrak telah ditinjau secara menyeluruh oleh berbagai kementerian dan diperiksa tiga kali oleh komisi antardepartemen yang mengawasi penjualan senjata.

Ditanya apakah pemerintah Saudi telah menyarankan pembelian kapal perang itu tergantung pada kesepakatan bom, Borrell mengatakan; “Arab Saudi melihat kesepakatan persenjataannya sebagai bagian dari hubungan keseluruhannya."

“Kementerian pertahanan dan kementerian luar negeri telah membicarakan hal ini dan menganalisanya selama seminggu. Dan saya pikir kami telah sampai pada kesimpulan bahwa kontrak ini harus dihormati," ujarnya, seperti dikutip The Guardian, Jumat lalu.

Amnesty International dan ahli PBB telah mengkritik penjualan senjata ke Arab Saudi, negara yang memimpin Koalisi Arab yang memerangi pemberontak Houthi Yaman.

Ditanya apakah pemerintah Spanyol menerima jaminan bahwa bom yang dijual itu tidak akan digunakan terhadap warga sipil di Yaman, Borrell bersikeras  bom tersebut adalah senjata presisi yang akurat untuk jangkauan dalam satu meter dari targetnya.

"Itu berarti bahwa dengan senjata semacam ini Anda tidak akan mendapatkan pemboman yang Anda dapatkan dengan senjata yang kurang canggih yang dijatuhkan secara acak dan yang menyebabkan jenis tragedi yang kita semua kutuk," katanya.

Borrell mengatakan pengumuman pekan lalu bahwa kesepakatan itu dihentikan karena ada kebingungan di internal kementerian pertahanan.

"(Kementerian) telah memeriksa semua kontrak dan berpikir telah menemukan sesuatu yang perlu dilihat dalam hal ini," katanya.

“Itu bukan penjualan senjata oleh bisnis atau produsen, tetapi bagian dari stok milik angkatan udara kami sendiri. Itu pasti menonjol dan berarti kontrak itu dilihat. Tetapi itu semua informasi yang saya miliki."

- Pangeran Ahmed Mengungsi

RIYADH - Pangeran senior Kerajaan Arab Saudi, Ahmed bin Abdulaziz al-Saud, dilaporkan tak pulang ke negaranya setelah membuat komentar yang terkesan menyalahkan Raja Salman dan Putra Mahkota Saudi dalam perang di Yaman. Pangeran Ahmed diduga sedang mencari pengasingan di luar negeri.

Middle East Eye, mengutip sumber yang dekat dengan Pangeran Ahmed, mengatakan pada hari Jumat bahwa adik Raja Saudi itu mungkin tidak kembali ke negaranya setelah video dari komentarnya di-posting online pekan lalu.

Dalam video tersebut, Pangeran Ahmed, mengatakan kepada para demonstran anti-perang yang berkumpul di luar kediamannya di London bahwa seluruh keluarga kerajaan tidak boleh disalahkan atas perang di Yaman.

"Ada orang-orang tertentu yang bertanggung jawab. Jangan salahkan seluruh keluarga," katanya.

Ditanya siapa orang-orang itu, sang pangeran mengatakan; "Itu adalah raja dan pewarisnya."

"Di Yaman dan di tempat lain, harapan kami adalah bahwa perang berakhir hari ini sebelum besok," imbuh dia.

Video itu sudah beredar luas secara online dan memicu spekulasi bahwa ada perpecahan di internal keluarga Kerajaan Saudi.

Kantor berita negara negara Saudi, SPA, sudah menerbitkan klarifikasi dari Pangeran Ahmed terkait komentarnya di depan para demonstran di London, Inggris.

Menurut sang pangeran, komentarnya disalahtafsirkan.

"Saya telah menegaskan bahwa raja dan putra mahkota bertanggung jawab atas negara dan keputusannya," kata pangeran dalam pernyataan.

"Ini benar untuk keamanan dan stabilitas negara dan rakyat. Oleh karena itu, tidak mungkin menafsirkan apa yang saya katakan dengan cara lain," ujarnya.

Namun, Middle East Eye mengatakan bahwa sumbernya mengklaim Pangeran Ahmed sejatinya membela atas pernyataan aslinya.

"Dia mengatakan, laporan oleh SPAyang dikontrol negara itu palsu dan bahwa kata-kata yang dikutip oleh agensi (berita) itu bukan miliknya," tulis Middle East Eye, yang dikutip Senin lalu.

Perbedaan pendapat jarang ditampilkan di internal kerajaan, di mana kritikus raja Saudi telah menghadapi hukuman penjara yang lama, hukuman fisik dan denda besar.

Puluhan anggota keluarga kerajaan, menteri dan pengusaha top ditangkap pada bulan November 2017 lalu selama "pembersihan anti-korupsi" yang diluncurkan oleh Mohammed bin Salman.

Tuduhan terhadap mereka yang ditahan termasuk pencucian uang, penyuapan, dan pemerasan.

 - Kepala Bocah Kena Tembak

IBB - Seorang bocah lelaki berusia 10 tahun di Yaman ditembak di bagian kepala saat bermain sepak bola.

Menteri Informasi pemerintah setempat menuduh pelakunya seorang petinggi pemberontak Houthi.

Para saksi mata kepada Al Arabiya, Sabtu (8/9/2018), mengatakan pria bersenjata dari kelompok Houthi menembak korban yang sedang bermain sepak bola di Kota Ibb, Yaman utara, pada hari Jumat.

Korban bernama Abdulrahman Akram Atran. Dia saat ini dalam perawatan intensif.

Menteri Informasi Yaman Muammar al-Eryani mengatakan penembak Atran adalah Abdullah al-Dailami, salah satu petinggi pemberontak Houthi.

Atran dilaporkan sedang bermain sepak bola di samping rumah al-Dailami. Aktivitas bocah itu diduga memprovokasi kemarahan al-Dailami hingga membuatnya meletuskan tembakan ke kepala korban.

Kondisi Atran dilaporkan tidak stabil.

"Kejahatan itu adalah contoh sifat berdarah dan barbar dari milisi," tulis al-Eryani di Twitter.

"Pemimpin Houthi Abdullah al-Dailami menembakkan peluru yang menghantam kepala Abdulrahman (10 tahun) putra Dr Akram Atran, dekan Fakultas Pendidikan di Universitas Ibb, dan menempatkannya dalam perawatan intensif, dia dalam kondisi berbahaya karena dia bermain sepak bola," lanjut dia.

Kelompok Houthi belum berkomentar atas tuduhan tersebut. Kelompok ini berusaha merebut kekuasaan di Yaman yang saat ini dipimpin Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab pimpinan Arab Saudi.

____

SindoNews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar