Senin, 24 September 2018

Dua Menara (5)

Dua Menara (5)
Oleh Wak Amin


"MAMA sakit keras Bang," kata Lia kemudian ... Masih terisak dia. Ter dengar jelas di telingaku.

"Sudah diantar ke dokter Lia?"

"Sudah Bang," jawab Lia dengan suara serak.

"Apa kata dokter Lia?"

"Enggak ada apa-apa. Cuma kecapekan saja," kata Lia.

Tak kudengar lagi isak tangisnya.

"Oooh syukurlah. Eeem Kak Hasannya ada Lia?"

"Lagi keluar kota Bang Mamat."

"Dia sudah tahu Mamamu sakit keras?"

"Sudah Bang."

"Ya syukurlah. Eeem salam untuk Mama ya. Insya Allah dalam waktu dekat ini abang menengok kesana," kataku.

"Bener Bang?"

"Insya Allah ..."

******

SABTU pagi aku sempatkan berkun jung ke kediaman Bu Aida. Jarak an tara rumahku dengan rumahnya Bu Aida memakan waktu enam jam, kurang lebih.

Kuputuskan menggunakan kendara an pribadi, mobilku yang belum la ma aku beli. Kulepas ibu dan adik ku dengan pelukan hangat. Itu bia sa aku lakukan bila kupergi tugas luar kota.

Sejak ayahku wafat beberapa tahun silam, aku merasa berat meninggal kan ibu dan adikku untuk pergi jauh ke luar kota. Aku sangat menyaya ngi mereka. Aku tak ingin kehilang an keduanya.

"Berangkatlah Nak. Sampaikan sa lam Mama dan adikmu pada Bu Aida dan Hasan serta Lia."

"Baik Ma. Nanti Mamat sampai kan," kataku sambil menyalakan mesin mobil.

Reeen ...

Reeeen ...

Craaaash ..

Lampu depan kunyalakan ... Lalu kumatikan lagi.

"Bang Mamat. Hati-hati ya. Salam untuk Kak Lia."

"Insya Allah."

Kututup kaca samping mobilku pe lan-pelan.

Piiiiin ...

Mobil pun melaju ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar