Mata Pisau (19)
Oleh Wak Amin
BERLIMA rembug sejenak ...
Naik tidak ...
Naik tidak ...
Tidak ...
Naik ...
"Naik sajalah Tuan ..." Kata Jonathan.
"Daripada disini terus tak ada uju ng, lebih baik naik kapal motor. A enggak Bert?" Anto yakin, inilah jalan satu-satunya yang terbaik saat ini.
Albert mengiyakan ...
Tapi Joseph, entah kenapa, ragu jadinya.
"Kalau ada ombak gimana?" Tanya nya.
"Kelebuuu ..." Jawab Jonathan.
Hua ha ha ha ...
"Sudah tak usah pikirin. Came on semuanya," ajak Mr Fredi.
Mesin kapal motor dinyalakan ...
'Sopi'nya Anto.
Siiiiiiip ...
Berangkaaaat ...
Perlahan meninggalkan pantai Pu lau Bebek.
Semakin menjauh ...
Jelang sore hari ..
Cuaca gelap. Petir sambar menyam bar. Turun hujan lebat.
Anto terpaksa mematikan mesin kapal motor. Kapal dibiarkan me laju kemana suka.
Angin bertiup amat kencang. Men dorong kapal motor seakan terpe lanting ke sisi kiri, arah tepian pan tai
"Bagaimana ini Tuan?" Jonathan cemas bukan main.
"Paling mati Bro. Tak usah kubur lagu," kata Anto, pesimis bakal selamat dari Pulau Bebek.
Karena sampai hujan turun, belum tahu kemana arah perjalanan yang ditempuh.
Lurus kah?
Atau ke kanan?
Ke kiri?
Atau putar haluan?
Bagaimana kalau balik lagi?
Mumpung belum jauh. Masih ada waktu untuk kembali ke Pulau Bebek.
Mr Fredi?
"Jonathan?"
"Siap kembali Tuan."
"Albert?"
"Balik bae Tuan."
"Joseph?"
"Pulang saja Tuan."
"Anto?"
"Apa boleh buat Tuan. Meski pahit, telan sajalah. Kita pulang saja Tu an."
"Oke kalau begitu. Anto. Nyalakan mesin kapal begitu hujan tak lagi lebat."
"Baik Tuan. Laksanakan!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar