Yaman dan Pertemanan (10)
Oleh aminuddin
Perang Yaman VIII
- Awal Mula 'Eksodus'
BANYAKNYA keturunan Yaman yang kemudian menetap dan berdomisili di Indonesia, memunculkan fakta menarik. Di antaranya terkait dengan islamisasi Nusantara dan tentunya adalah hubungan sejarah yang mengikatkan Indonesia dan Yaman secara emosional dan kultural.
Idrus Alwi al-Masyhur dalam “Sejarah, Silsilah dan Gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW” mengatakan pada abad ke-11 M, para keturunan Rasul yang berasal dari jalur anak-cucu Imam al-Muhajir, banyak yang berhijrah ke luar Yaman.
Selain untuk perdagangan, tentu juga melakukan islamisasi. Mereka menyebar di Asia Tenggara. Termasuk Indonesia.
Bahkan beberapa di antaranya ada yang mendirikan kerajaan, seperti Kesultanan al-Qadri di Pontianak dan as-Syahab di Siak.
Gerakan Islamisasi oleh keturunan Rasul itu berlanjut. Mengutip Natalie Mobini Kesheh dalam “Kebangkitan Hadhrami di Indonesia”, gelombang eksodus keturunan Yaman (Hadrami) tersebut, berlangsung pada abad ke-18 M. Mereka menempati berbagai kepulauan di Asia Tenggara.
Di Indonesia, tempat awal mereka singgah adalah Aceh, lalu Palembang (Sumatera Selatan), atau Pontianak Kalimantan.
Diperkirakan sejak 1820 muncul koloni-koloni para Hadrami itu. Menurut Sensus Belanda pada 1859, jumlah mereka cukup berarti mencapai 7786 jiwa di Jawa dan Luar Jawa.
Mayoritas mereka adalah keturunan Hadramaut. Aceh tidak termasuk sensus, lantaran ketika itu kawasan tersebut belum manjadi jajahan Belanda.
Kesuksesan Hadrami yang berketurunan ke Rasulullah itu, antara lain terbukti dengan keberhasilan Sayyid Abdurrahman a-Zahir di Utara Sumatara.
- Mengundurkan Diri
MNA Rabu (26/9) melaporkan, akti vis Arab Saudi Mujtahid di akun twitternya mengungkapkan lebih dari 60 perwira Saudi dengan berbagai pangkat mengundurkan diri dari posisinya karena merasa berdosa terlibat di perang Yaman.
Ia menulis alasan lain pengunduran diri tersebut karena para perwira ini takut dicantumkan dalam list hitam internasional dengan tudingan terlibat kejahatan perang di Yaman.
Menurut Mujtahid, petinggi militer Arab Saudi menolak mayoritas pengunduran diri tersebut dan Pangeran Mahkota Mohammad bin Salman menganggap kejahatan pengunduran diri ini.
Pengunduran diri sejumlah besar perwira militer Arab Saudi terjadi ketika Raja Salman bin Abdul Aziz berulang kali berjanji memberi konsesi besar kepada mereka yang terlibat di perang Yaman dengan harapan menaikkan spirit pertempuran mereka.
Arab Saudi dengan dukungan Amerika Serikat, Uni Emirat Arab dan sejumlah negara lain melancarkan serangan ke Yaman sejak Maret 2015 dan memblokade negara tetangganya ini dari darat, udara dan laut.
Perang yang dikobarkan Arab Saudi beserta sekutunya di Yaman hingga kini menewaskan lebih dari 14 ribu orang dan menciderai puluhan ribu lainnya serta memaksa jutaan warga Yaman mengungsi.
- Melonjak Drastis
SANA'A -- Jumlah warga sipil yang tewas di Yaman telah meningkat secara signifikan sejak Juni. Lonjakan terjadi saat koalisi pimpinan Saudi memulai serangan untuk mengambil kota pelabuhan utama Hodeidah dari pemberontak Houthi.
Dilansir The Guardian, Kamis (27/9), menurut data dari Proyek Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata (Acled), kematian warga sipil dalam konflik Yaman telah meningkat 164 persen dalam empat bulan atau sejak serangan Hodeidah dimulai. Acled menyebut 166 orang tewas setiap bulannya.
Menurut Acled, Hodeidah telah menjadi titik utama dalam konflik empat tahun. Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar sepertiga dari total korban tewas tercatat di Hodeidah.
Upaya untuk menegosiasikan gencatan senjata menyebabkan serangan terhenti sementara. Tetapi gagalnya perundingan perdamaian di Jenewa yang diprakarsai oleh utusan khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths menyebabkan dimulainya kembali perselisihan pada 7 September lalu.
Upaya yang dipimpin koalisi telah berfokus pada beberapa titik kunci di sekitar kota, termasuk pertempuran untuk mengontrol persimpangan jalan Kilo 16 yang menghubungkan Hodeidah ke Sana'a, jalur pasokan utama bagi Houthi.
Kenaikan tajam korban sipil yang disampaikan Acled dikutip oleh Komite Penyelamatan Internasional (IRC) dalam pernyataan ke majelis umum PBB, di New York pekan ini.
"Agustus adalah bulan paling kejam pada 2018 di Yaman dengan hampir 500 orang tewas hanya dalam sembilan hari. Sejak 2015, koalisi telah melakukan 18 ribu serangan udara, satu setiap 99 menit, sepertiga dari yang telah mencapai target non-militer," kata Frank McManus, direktur IRC Yaman.
Menurut McManus, perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil bukanlah suata hal yang mewah. Hal itu merupakan ketentuan penting dari hukum internasional.
Saat undang-undang tersebut gagal diterapkan maka warga sipil akan menderita.
Ia mengatakan anggota dewan keamanan PBB meminta semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk menghormati hukum internasional dan melindungi warga sipil. Strategi baru diperlukan untuk mencegah penderitaan warga sipil.
“Saat kita berbicara, pertempuran di dalam kota pelabuhan yang kritis di Hodeidah meningkat dan konsekuensinya sangat mengerikan. Pengepungan akan secara efektif menghalangi bantuan kemanusiaan untuk menjangkau 22 juta orang yang membutuhkan dan dapat memicu kelaparan. Pekan ini PBB memperingatkan bahwa kami kalah perang melawan kelaparan di Yaman dan, dengan krisis kemanusiaan yang lebih parah, semua upaya harus difokuskan untuk mengamankan gencatan senjata," katanya.
Jumlah data korban terbaru datang bahkan saat koalisi pimpinan Saudi bersikeras telah melakukan berbagai hal untuk meminimalkan kematian warga sipil di Hodeidah.
Juru bicara militer Saudi Kol Turki Al-Maliki mengumumkan pada Senin bahwa tiga koridor kemanusiaan antara bekas ibu kota yang direbut oleh Houthi pada 2014 dan pelabuhan terbesar negara itu di Laut Merah telah bekerja sama dengan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
"Koalisi ini bekerja dengan OCHA di Yaman untuk membangun koridor kemanusiaan yang aman untuk membantu dalam pengiriman bantuan antara Hodeidah dan Sanaa," Al-Maliki mengatakan pada konferensi pers di Riyadh.
LSM internasional telah memperingatkan skala peningkatan krisis kemanusiaan di Yaman.
Hal itu setelah Mark Lowcock, kepala kemanusiaan PBB, pekan lalu mengatakan kepada dewan keamanan bahwa negara ini berada pada "titik kritis" karena kelaparan.
Dalam sebuah pernyataan kepada majelis umum PBB, 14 kelompok termasuk Save the Children, Oxfam, dan Mercy Corps mengatakan selama hampir empat tahun konflik, Yaman tetap merupakan negara yang mengalami krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Penderitaan yang menimpa orang-orang Yaman sepenuhnya buatan manusia dan akan terus memburuk jika tanpa tindakan untuk mengakhiri kekerasan.
Pasukan yang dipimpin Saudi memperbarui desakan untuk mengambil pelabuhan Yaman dari pemberontak Houthi.
“Meningkatnya risiko pertempuran mendorong negara itu ke dalam kehancuran total. Eskalasi yang sedang berlangsung di sekitar Hodeidah membahayakan keamanan warga sipil dan mengancam saluran untuk bahan bakar, makanan, dan persediaan medis penting ke seluruh negeri," kata pernyataan itu.
"Sangat penting bahwa ini tetap terbuka. Kehidupan jutaan wanita, pria dan anak-anak Yaman bergantung pada garis hidup ini."
Warga sipil terus menanggung beban. Penduduk sipil dan infrastruktur sipil, seperti pasar, rumah sakit, bus sekolah, dan pabrik terus terkena sasaran oleh pihak yang memiliki kekebalan hukum.
"Serangan terhadap sekolah dan rumah sakit berlanjut, dengan lebih dari 1.800 sekolah terkena dampak langsung konflik, termasuk lebih dari 1.500 yang telah rusak atau hancur dan 21 digunakan oleh kelompok-kelompok bersenjata," kata laporan itu.
_____
- Republica.co.id
- Pars Today
Tidak ada komentar:
Posting Komentar