Minggu, 03 Maret 2019

Isteri yang Salehah (3)

Isteri yang Salehah (3)
Oleh aminuddin



SESUNGGUHNYA standar untuk memilih pasangan hidup itu hanys satu, yaitu keinginan untuk memba ngun kehidupan rumah tangga ya ng berlandaskan pada kebaikan.

Tujuan adalah yang menentukan kualitas sesuatu, bukan sarana. Mu ngkin saja anda melewati suatu jalan sulit yang penuh onak dan duri, namun tujuan anda baik.

Mungkin juga anda melewati jalan yang enak dan tidak ada aral rinta ngan yang menghadang, namun tu juan akhirnya kejelekan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman:


"... Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah SWT mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Allah SWT menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran .."


Yang menyeru kepada neraka adalah orang-orang musyrik. Sedangkan Allah SWT menyeru ke surga dan pengampunan dengan seizin-Nya.

Kita semua tahu hikmah yang diungkapkan oleh Imam Ali ra, "Bukankah sebuah kebaikan bila akhirnya neraka dan bukanlah kejelekan bila berakhir dengan surga."

Firman Allah SWT yang berbunyi,"... supaya mereka mengambil pela jaran", sangat sering kita jumpai. Apakah fungsinya?

Kalimat ini adalah sebuah peringatan yang senantiasa menunjukkan tentang jelasnya permasalahan. Sebab, kelalaian menjadikan diri kita lupa dengan permasalahan tersebut.

Namun, saat lalai, peringatan itu akan menyadarkan kita kembali. Bila kelalaian itu berkepanjangan sehingga melupakan diri kita, itulah musibah yang besar, yang menghilangkan pokok permasalahan.

Peringatan itu biasanya melalui dua fase. Fase pertama, hendaknya anda berusaha mengetahui bila belum tahu dan belajar bila anda bodoh.

Fase kedua, hendaknya anda senantiasa mengingat bila anda lupa dan lalai, atau berusaha menyesuaikan antara yang anda ketahui dan yang anda lakukan.

Peringatan akan memberi petunjuk kepada anda untuk menyesuaikan antara ilmu dan perbuatan anda se hingga anda tidak terjerumus ke da lam kebodohan. Maksud kebodo han adalah mengetahui sesuatu yang bertentangan dengan hakikat sesuatu.

Dalam hal ini, Allah SWT berkehen dak untuk menjaga manusia yang memerioritaskan keimanan saat menghalanginya untuk mengawini wanita musyrik.

Allah SWT hendak memberikan ja minan kepada makhluk yang dijadi kannya sebagai khalifah di muka bumi satu akidah dan keyakinan yang mengejewantahkan perilaku kemanusiaan.

Karena, kalau terbagi-bagi berdasarkan hawa nafsu, maka perilaku akan terpecah-belah berdasarkan hawa nafsu. Saat perilaku itu terpecah, maka kehidupan akan saling berbenturan dan tidak bersesuaian.

Allah SWT juga hendak menjaga kesatuan akidah tanpa adanya gangguan. Oleh sebab itu, Dia menyaratkan kepada kita bahwa dalam mendirikan bangunan keluarga, hendaknya seorang laki-laki yang beriman tidak menikahi wanita yang musyrik karena isterilah yang bertanggung jawab langsung terhadap pendidikan dan perawatan anak dalam waktu yang cukup panjang.

Seandainya sang ayah beriman dan ibunya musyrik, sang ayah akan si buk dengan urusan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya sehingga sang bayi akan belajar nilai-nilai kehidupan dari ibunya yang musy rik, yang pasti berten tangan de ngan nilai-nilai keimanan.

Begitu juga sebaliknya, Allah SWT tidak menghendaki seorang wanita muslimah dinikahi oleh laki-laki ya ng musyrik karena perkawinan seo rang muslimah dengan seorang le laki yang musyrik akan menjadikan muslimah tersebut pindah ke tem pat dan lingkungan suaminya yang musyrik, sehingga sang anak akan tumbuh dalam lingkungan yang musyrik dan mendarah daging dalam jiwanya, yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai keimanan.

Dengan penjagaan ini, Allah SWT menghendaki agar jangan sampai seorang muslim menikahi wanita yang musyrik ataupun seorang laki-laki musyrik dinikahkan dengan wanita muslimah.

Hal ini untuk menjaga kesucian generasi yang baru lahir agar bayi yang baru lahir tumbuh dalam sua sana satu akidah dan tidak terom bang-ambing dalam berbagai ma cam keyakinan yang saling bertentangan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar