Selasa, 19 Maret 2019

Tangga Bahagia (1)

Tangga Bahagia (1)
Oleh aminuddin



FILOSUP Bertrand Russel dalam bu kunya 'Kemenangan Manusia Lanta ran Bahagia' telah menulis perasan dan tempat timbulnya berupa fiki ran. Bahagia manusia yang perta ma sama derajatnya, tetapi pada bagian kedua (fikiran) tidaklah me rasainya kecuali di kalangan ahli-ahli ilmu.

Rasa bahagia timbul menurut dera jat panas dinginnya perasaan hati (syu'ur) dan menurut ukuran kema uan bekerja. Seorang 'biadab' di Australia yang memburu kangguru, merasa amat beruntung bila buru annya dapat dia tangkap.

Sebaliknya seorang pemeriksa ku man-kuman penyakit yang bekerja memisahkan kuman-kuman di labo ratorium, merasa beruntung bila da pat mengetahui apa nama kuman yang sedang diselidikinya.

Sama perasaannya dengan pembu ru di Australia itu ...

Menghadapi pekerjaan sehari-hari, ada beragam corak dan sikap peri laku manusia. Ada yang diserang rasa 'ghurur' (kesombongan), tidak menghargai jasa dan usaha orang lain. Hanya dia saja yang berhak mengerjakannya.

Kemudian takbur (berbesar diri) bahwa orang kalau tidak sedalam pengetahuannya tidak boleh masuk ke wilayah (medan) yang telah dimasukinya itu.

Namun di balik itu ada pula orang yang ketika menghadapi pekerjaan nya dengan tawadhu'. Insyaf akan kekurangan dirinya dan insyaf bah wa pengalaman dan perjalanan hi dup itu adalah sekolah yang seting gi-tingginya, yang tidak mau tamat, sebelum mati.

Maka, mereka yang menghadapi pe kerjaan dengan ghurur dan takbur, selamanya tidak akan mengecap ra sa bahagia, meski kala itu dia mem peroleh kemenangan (sukses) seka lipun.

Karena ghurur itu selalu mengham bat dan menyebabkan kurang teri ma, selalu meletakkan dirinya lebih dari kedudukannya yang sebenar nya.

Tak heran jika suksesnya yang be sar, selalu kecil dalam hatinya, pa dahal dia adalah seorang yang le bih dari "luar biasa" menurut perasa an gurunya. Sebaliknya,  jika dia ja tuh atau kalah, bukan main mendo ngkolnya.

Dia pantang dibantah ...

Sedangkan orang yang tawadhu' memandang segala perangsuran langkah perjalanan itu adalah keme nangan yang harus disyukuri.

Timbulnya kekuatan menghadapi pekerjaan dan usaha, ialah dari ke kuatan keyakinan dan kepercayaan (iman). Lawannya adalah tiada peduli dan lemah iman.

Dibandingkan pekerjaan perburu han halus dengan pertanian, lebih tinggi derajat pekerjaan pertanian. Karena perputaran mesin dan kea daan tanaman-tanamannya sejak dari tunas lalu menjelmakan buah, semuanya berbekas kepada jiwa Pak Tani.

Terkait mengharapkan bahagia, se yogianya kita menghadapi segala usaha dengan percaya, diadakan hubungan diri dengan pekerjaan hu bungan cinta dan persaudaraan, bukan benci dan bosan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar