Isteri yang Salehah (6)
Oleh aminuddin
SELANJUTNYA Allah SWT menyampaikan hukum baru yang menjelaskan permasalahan yang ditimbulkan oleh orang Yahudi. Orang Yahudi mengisukan bila seorang laki-laki mengadakan hubungan suami-isteri pada kemaluan isterinya dengan posisi dari belakang, anak yang lahir akan juling matanya.
Kemaluan adalah tempat berhubu ngan suami-isteri dan bukan dubur sebagaimana yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Luth.
Jadi, isu yang ditimbulkan oleh orang-orang Yahudi ini tidak ada sandarannya yang bisa dipertang gunjawabkan kebenarannya.
Allah SWT membantah isu yang timbul dalam masalah ini dengan firman-Nya :
"Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, ma ka datangilah tanah tempat berco cok tanam itu bagaimana saja ka mu kehendaki. Kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." (QS Al-Baqarah 223).
Dalam konteks ini, Allah SWT mem berikan keleluasaan kepada suami-isteri untuk saling memberikan kenikmatan dengan berbagai macam posisi yang mereka sukai dengan syarat masih pada kemaluan.
Seakan-akan Dia mengatakan, "Maka, gaulilah isteri-isterimu pada tempat yang membuahkan anak, sedangkan tempat yang tidak akan membuahkan anak jangan kamu datangi."
Di sini, Allah SWT menggunakan kata 'al- hartsu' untuk menjelaskan bahwa hubungan itu pada tempat pembuahan (kemaluan).
Apakah yang disebut dengan 'hartsun' itu?
Ia adalah tanah tempat bercocok tanam. Firman-Nya :
"Dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak." (QS Al-Baqarah 205).
Sebagian orang salah dalam memahami firman Allah SWT, "Diperbolehkan menggauli wanita dimana saja (tidak mesti kemaluannya)."
Ini pendapat yang salah, sebab firman Allah SWT, "Isteri-isterimu (seperti) tanah tempat kamu berco cok tanam", dimaksudkan adalah tempat tumbuhnya bayi, yaitu pada rahim dan rahim melalui kemaluan wanita.
Jadi, perintah itu berbunyi, " Data ngilah isterimu dengan berbagai macam posisi yang kamu sukai, namun mesti di tempat yang tumbuh anak."
Kemudian firman Allah yang berbu nyi, "Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu", menerangkan bahwa janganlah anda menyangka pernikahan itu hanya sekadar kenikmatan dan kepuasan seksual.
Akan tetapi, Allah SWT menghen daki kenikmatan seksual hanya untuk menjaga kelelahan yang timbul dari kenikmatan. Karena keturunan yang akan lahir dari hasil hubungan seksual tersebut akan melahirkan jerih payah dan tuntu tan seandainya Allah tidak menghu bungkan keturunan itu dengan ke lezatan dan kenikmatan, manusia tidak akan mau mengadakan hubungan seksual.
Dari sini, Allah SWT menghubungkan antara jerih payah sang ayah dan pendidikan anak dengan kenikmatan seksual, hingga bisa menjaga kelangsungan keturunan manusia.
Allah SWT mengingatkan kita agar jangan sampai menjadikan kenik matan seksual merupakan tujuan utama dari hubungan suami-isteri.
Maka, firman Allah, " Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu", seakan-akan mengatakan kepada kita, "Perhatikan baik-baik, tujuan utama dari hubungan seksual adalah untuk kelanjutan keturunan. Jangan engkau jadikan kelezatan seksual yang sesaat itu menjadi sebuah tujuan. Jadikanlah ia sebagai sarana untuk meraih masa depan yang pasti, yaitu akherat."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar