Kamis, 14 Maret 2019

Isteri yang Salehah (9)

Isteri yang Salehah (9)
Oleh aminuddin


KITA terkadang mencari-cari alasan untuk menjauhi kebaikan, ketakwaan, atau perbaikan di masyarakat, bahkan kita melakukan perbuatan yang mengenakkan nafsu dan menyangka telah menaati perintah Allah SWT.

Sebagai contoh, peristiwa yang dia lami oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra ketika datang kepadanya  Misthah bin Atsatsah yang ternyata turut berperan menyebarkan fitnah tentang berita bohong yang terjadi pada Aisyah ra.

Ringkas ceritanya, Aisyah ra, isteri Nabi Muhammad SAW, turut bersama Rasulullah SAW dalam perang Bani Musthaliq.

Saat itu, syariat hijab telah diberla kukan, maka Aisyah saat ikut keluar, selalu berada di dalam sekedup yang berada di atas unta.

Setelah selesai dari peperangan Bani Musthaliq, Rasulullah SAW mengajak pulang pasukan kaum muslimin ke Madinah.

Pada saat itu, Aisyah ra kehilangan kalungnya. Aisyah yang timbangan badannya ringan karena saat itu paceklik, pergi meninggalkan tandunya.

Tatkala pasukan muslim mengang kat tandu tersebut, mereka tidak menyadari kalau di dalamnya tidak ada orang.

Ketika Aisyah menemukan kalungnya yang hilang, pasukan kaum muslimin telah pergi meninggalkan tempat peristirahatannya.

Akhirnya, Aisyah duduk di tempat nya semula, dengan harapan ada yang akan mencarinya dan menjumpainya dari pasukan muslim.

Di belakang pasukan muslim ada seorang sahabat yang ditugaskan untuk berjalan di belakang dengan tujuan untuk mengecek bila bila ada anggota pasukan atau barang-barang yang tertinggal.

Sahabat tersebut bernama Shafwan bin Mu"athal as-Sahni. Akhirnya, sahabat Sahni bertemu dengan Aisyah ra.

Dengan segera ia turun dari untanya dan mempersilakan Aisyah untuk manaikinya, lalu menuntun untanya menuju Madinah. Setelah itu, tersebarlah fitnah yang dilaku kan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Aisyah merasakan kesedihan yang luar biasa dalam waktu yang cukup lama hingga turunnya ayat suci Al quran yang membongkar keboho ngan fitnah itu. Fitnah itu menimpa Aisyah semata-mara sebagai isteri Nabi dan bukan sebagai putri Abu Bakar ra. 2)









_____
2)
Abdullah bin Ubay dikenal juga dengan nama Ibnu Salul adalah pemimpin dari Bani Khazraj yang juga merupakan pemimpin di kota Madinah. Setelah kedatangan Nabi Muhammad, ia kemudian memeluk agama Islam, tetapi ia juga dikenal sebagai seorang munafik. (Wikipe dia).

Ketika terjadi pertengkaran antara Jahjah bin Mas’ud al-Ghifari dan Sinan bin Mas’ud al-Juhani yang akhirnya menyulut pertengkaran antara kelompok Muhajirin dan Anshar, datanglah seorang Abdullah bin Ubay bin Salul yang memafaatkan situasi tersebut untuk memecah belah muslim Muhajirin dan Anshar.

Ibn Ubay kemudian berpidato di depan kaum Anshar.

“Lihatlah! Orang-orang yang telah kalian tolong dan diberikan tempat tinggal ternyata telah mengkhianati kalian. Wahai kaumku, jika kalian mencintai diri kalian, janganlah kalian menolong kaum Muhajirin lagi.” (islami.co)

Abdullah bin Ubay bin Salul adalah kepala suku Khazraj. Setelah perang Bu’ats, kedua suku yang bertikai [ Aus dan Khazraj ] merasa mereka harus bersatu. Untuk itu mereka sepakat memilih salah seorang diantara mereka sebagai Raja.

Dan, meski suku Khazraj mengalami kekalahan, tapi baik suku Aus maupun Khazraj sepakat memilih Abdullah bin Ubay untuk diangkat jadi Raja mereka. Mengingat kedudukannya yang mulia dan pandangannya yang luas.

Kesepakatan ini tentu membawa implikasi yang besar manakala ternyata di kemudian hari, hal itu menjadi gagal.
Meski saat itu penduduk Yastrib telah mempersiapkan diri mereka, untuk melebur menjadi satu. Mereka bersepakat melupakan masa lalu yang kelam dan siap memulai hidup baru dengan saling bergandeng tangan. Bersama sama menghadapi dominasi Yahudi yang amat merugikan mereka.

- Pertemuan 6 orang Yastrib
Namun takdir Allah jualah yang terjadi. Belum sempat penobatan itu terlaksana, terjadi perubahan yang amat cepat, Yang tak seorang pun mampu menduga.

Kesemuanya itu bermula ketika enam orang Yastrib berangkat haji ke Mekah. Dan disana mereka ditemui Rasulullah SAW.  Mereka adalah :

1. Abu Umamah As’ad bin Zurarah bin ‘Adas, dari bani An- Najjr.
2. Auf bin Harits bin Rafa’ah (‘Auf bin ‘Ufara’), dari bani An Najjr.
3. Rafi’ bin Malik bin ‘Ajlan, dari bani Zuraiq.
4. Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah, dari bani Slamah.
5. Uthbah bin ‘Amir bin Nabii dari bani Ubaid bin Ka’b.
6. Jabir bin Abddulllah bin Ri’ab, dari bani Ubaid bn Ghanm.

Setelah Muhammad bicara dengan mereka dan diajaknya mereka bertauhid kepada Allah, satu sama lain mereka saling berpandang-pandangan.

“Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan orang-orang Yahudi kepa da kita,” kata mereka. “Jangan sampai mereka mendahului kita.”

Seruan Muhammad mereka sambut dengan baik dan menya takan diri mereka masuk Islam.

Dari 6 orang inilah kemudian berita tentang Islam dan Nabi Muhammad merebak tak tertahankan di Yastrib. Saat itu, berita tentang Nabi lebih memberi harapan bagi penduduk Yastrib ketimbang mengangkat Abdullah bin Ubay menjadi Raja mereka.


Kelelahan penduduk Yastrib akan perang demi perang antar mereka serta kehausan akan iman yang sebenarnya, mendorong mereka menjadi terbuka terhadap sosok Muhammad.

Begitulah .. akhirnya Muhammad diterima dengan gembira dan suka cita. Dan seluruh penduduk Yastrib menerima Islam sebagai agama baru mereka, meniggalkan kepercayaan terhadap berhala.

Namun Abdullah tak kunjung mau menerima kehadiran Rasulullah SAW dengan ikhlas. Iman masih belum mau mengetuk pintu hatinya.

Meski ia sudah bersyahadat, namun ia belum ikhlas lahir batin. Sakit hatinya menutupi jalan-jalan kebenaran. Ia masih menyimpan dendam. Dalam hatinya ia masih bertahan pada ajaran nenek moyangnya. Menyembah berhala.

Andai saja Abdullah bin Ubay menyadari bahwa Rasulullah SAW memang lebih utama darinya. Andai saja kemudian ia mengakui keutamaan Rasulullah SAW, dan cukuplah ia menjadi orang nomor dua.

Karena sebelumnya kemuliaannya memang sangat diakui. Kebaikannnya tak diragukan. Tapi karena ia tidak ikhlas dengan keberadaan dan keutamaan Rasulullah, ia tetap merasa sakit hati.

Ia seakan menutup hatinya. Ia dendam pada Rasulullah. Sehingga tanpa sadar, ia lama kelamaan menjadi musuh dalam selimut bagi Rasulullah SAW.

Abdullah bin Ubay berubah menjadi seorang pengkhianat. Ia duri dalam daging. Menjadi pemimpin orang orang munafik.

Hampir setiap ada fitnah yang me nimpa kaum Muslimin di Madinah selalu ada peran Abdullah bin Ubay sebagai provokatornya, bahkan peristiwa haditsul ifki (berita palsu) yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah ra Al Quran mengisyaratkan Abdullah bin Ubay sebagai pembesar yang mengendalikannya.

Abdullah bin Ubay mengumpulkan orang-orang disekelilingnya untuk dijadikan pengikut pengikutnya. Segala sesuatu telah disiapkan sehingga sewaktu-waktu siap sedia merebut kekuasaan. Rencana itu akan mereka laksanakan bilamana Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi.

Usaha mereka yang pertama adalah berpura-pura masuk Islam, namun diam-diam berusaha menggembosi Islam dengan berbagai cara.

Sikap Rasulullah, SAW terhadap golongan munafik ini adalah teramat lunak sekali, tidak seperti halnya sikap terhadap orang Yahudi.

Beliau selalu berusaha memberikan pengajaran-pengajaran terhadap mereka dengan penuh harapan supaya mereka pada suatu ketika insyaf dan beriman dengan iman yang sebenar-benarnya.

Seorang sahabat kala itu mengatakan, “Ya Rasulullah lapangkan hatimu kepada Abdullah bin Ubay.. Sungguh Abdullah bin Ubay itu adalah orang yang sakit hati. Sebelum engkau menjelang datang ke Madinah, kaumnya telah bersepakat mengangkatnya menjadi raja. Sudah menyiapkan tahta dan singgasananya. Tapi kemudian engkau hadir ya Rasulullah. Lalu kaumnya batal mengangkatnya jadi Raja. Maka betapa sakit hatinya ia karena kedatanganmu ya Rasulullah…”

Ketika semua penduduk Yastrib memeluk Islam, tak terkecuali istri dan anak-anak Abdullah bin Ubay sendiri. Salah satu anaknya yang juga bernama Abdullah, yakni Abdullah bin Abdullah.

Beruntunglah, sang anak Abdullah bin Abdullah adalah anak yang shaleh. Imannya telah merasuk ke dalam tulang sumsumnya. Meski ia tahu ayahnya Abdullah bin Ubay berubah menjadi pengkhianat, menjadi seorang munafik.

Bagaimanapun juga, Abdullah adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ayahnya, dan itu telah lama terbentuk sebelum Islam memasuki kota Madinah.

- Hampir Saja Dibunuh
Ketika Rasulullah SAW mendengar pimpinan Banu Musthaliq, Al Harits bin Abu Dhirar menghimpun pasukan untuk memerangi kaum muslimin, beliau menyusun pasukan dan segera berangkat ke tempat Banu Musthaliq.

Dalam pasukan yang dipimpin sendiri oleh Nabi ini ikut juga sekelompok kaum munafik, termasuk pimpinannya, Abdullah bin Ubay.

Setelah pertempuran usai dan dalam perjalanan kembali ke Madinah, Abdullah bin Ubay berkata pada kelompoknya, “Jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang terhormat akan mengusir orang-orang yang terhina.”

Ucapan “terhina” ini dimaksudkan pada Rasulullah SAW dan sahabat Muhajirin yang terusir dari Makkah. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi SAW lewat sahabat Zaid bin Arqam, Umar bin Khaththab meminta Nabi menyuruh Abbad bin Bisyr untuk membunuh tokoh munafik tersebut.

Tetapi Abdullah bin Ubay mengingkari kalau telah mengatakan itu, sehingga terjadi suasana yang tegang dan penuh prasangka, sampai akhirnya turun ayat yang membenarkan Zaid bin Arqam.

Dalam beberapa versi disebutkan Umar bin Khattab mengatakan, “Ya Rasulullah kupenggal saja orang yang mengatakan ‘Akan kukeluarkan orang hina itu (orang mukmin) dari Madinah’ “.

“Tidak wahai Umar. Nanti apa kata orang bahwa Muhammad membunuh sahabatnya. Demi Allah tidak.”

Dan kabar itu sampai ke telinga Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul.

Abdullah bin Abdullah mendengar selentingan dari orang Madinah “Tunggu saja nanti Abdullah bin Ubay itu akan dipenggal oleh Nabi.”

Menghadaplah Abdullah bin Abdul lah bin Ubay bin Salul. kepada Rasulullah SAW,
“Ya Rasulullah aku mendengar kabar engkau hendak membunuh ayahku. Benarkah demikian?
Demi Allah ya Rasulullah, jika engkau hendak membunuh ayahku, jangan kirim seorang sahabatmu untuk membunuh ayahku ya Rasulullah.. aku mencintainya… aku cintai ayahku…, karena demi Allah orang Madinah tahu aku seorang yang paling berbakti kepada orang tuaku. Demi Allah kalau sampai ada yang membunuh ayahku, aku khawatir aku tidak bisa bersabar untuk tidak menuntut balas. aku pasti akan dendam. Dan pasti aku akan membalas dendamku dan pasti aku akan membunuh seorang mukmin yang dengan itu aku menjadi kafir ya Rasulullah.. Demi Allah aku tidak ingin itu terjadi…
Tetapi jika engkau memang ingin membunuh ayahku ya Rasulullah. utus aku… utus aku sendiri… Betapapun aku mencintai ayahku.. tapi Allah dan Rasul-Nya lebih layak aku cintai daripada ayahku sendiri…”

Mendengar permintaan yang me nydihkan itu. Beliau menjawab, “Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan.”

Tahulah Abdullah bin Abdullah bahwa Rasulullah memaafkan ayahnya ...


- Dilarang Memasuki Kota Yastrib
Namun demikian, sebagai wujud kecintaan yang lebih besar kepada Allah dan Rasul-Nya daripada orang tuanya, Abdullah melarang ayahnya masuk kota Yastrib kecuali jika Rasulullah SAW telah mengijinkannya.

Abdullah bin Abdullah menghada ngnya dengan pedang terhunus.
Ketika sang ayah mencoba memak sa, Abdullah bin Abdullah menye rangnya dengan pedangnya itu sehingga ia mundur kembali.

Dengan terpaksa ayahnya mengirim utusan untuk meminta ijin Rasulullah SAW bagi tokoh munafik tersebut memasuki kota Yastrib

- Sakit
Sepulang Rasulullah saw dari perang Tabuk, di akhir bulan Syawal, Abdullah bin Ubay menderita sakit. Mendengar Abdullah bin Ubay sakit, Rasulullah saw menyempatkan diri untuk membesuknya.

Usamah bin Zaid bercerita: “Saya bersama Rasulullah SAW mengun jungi Abdullah bin Ubay yang sedang sakit untuk membesuknya. Rasulullah saw mengingatkan Abdullah bin Ubay “Bukankah saya sudah melarang kamu dari dahulu agar tidak mencintai orang-orang Yahudi?”

Abdullah bin Ubay menjawab sekenanya, “Dulu Sa’d bin Zurarah membenci orang-orang Yahudi, kemudian Sa’d bin Zurarah mati.”

Rasulullah SAW tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang bermarta bat meskipun kepada orang yang sering Rasulullah ketahui dari Allah SWT sebagai pembuat masalah dan fitnah di dalam barisan kaum Muslimin.

Secara zahir Abdullah bin Ubay menunjukkan dirinya sebagai seorang Muslim, maka ia berhak mendapatkan hak keIslaman itu dengan dibesuk ketika sakit.

Pada bulan kerikutnya, bulan Dzulqa’dah Abdullah bin Ubay wafat. Kesedihan merasuki hati Abdullah bin Abdullah. Ia tahu bahwa orang tuanya itu mungkin hanya pantas berada di neraka, namun demikian ia ingin menunjukkan bakti terakhirnya.

Dan anak yang berbakti ini… amat sedih tatkala ayahnya meninggal masih dalam kemunafikannya dan belum bertaubat.

Abdullah bin Abdullah datang mene mui Rasulullah SAW meminta salah satu baju gamis Rasulullah untuk dijadikan sebagai kafan bagi Ab dullah bin Ubay, ayahnya.

Rasulullah SAW mengabulkan per mintaan itu dan memberikan kain nya kepada Abdullah bin Abdullah untuk menjadi kafan bagi jenazah ayahnya.

Kemudian Abdullah bin Abdullah berkata lagi :
“Ya Rasulullah tidak ada yang bisa menyelamatkan ayahku kecuali doa yang engkau panjatkan. Datang dan shalatkan ia ya Rasulullah …”

Berdiri Rasulullah SAW hendak be rangkat tapi kemudian dihadang oleh Umar, “Ya Rasulullah, Allah melarang engkau menshalati mereka”

Dibacalah surah At-Taubah ayat 80 :

…….. اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). ”

Berkata Umar “ Ya Rasulullah, Allah melarangmu memohonkan ampun mereka. Ia memfitnah Aisyah berzina, ia mengatakan akan mengeluarkan orang mukmin dari Madinah [ peristiwa perang Al- Ahzab ]. Ia membuat fitnah. Ia memisahkan diri dari perang. Ia memecah belah kaum muslimin”.

“Tidakkah engkau dengar wahai Umar? Tuhanku memberikan pilihan bagiku.. ‘engkau mohonkan ampun atau tidak engkau mohonkan ampun sama saja.’ maka aku akan memilih memohonkan ampun wahai Umar…”

Lalu turunlah surah At-Taubah ayat 80 (lanjutan) :

لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

"Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik."

Rasulullah SAW berkata,
“Maka hai Umar aku akan mohonkan ampun untuknya 70 kali ditambah 70 kali ditambah 70 kali.”
Ketika itu Umar berundur sambil gemetar…

Kata Umar, “Betapa lancangnya aku pada Rasulullah… Betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW…. Betapa bening dan jernih sikapnya atas perintah Allah SWT…”

Kemudian Rasulullah SAW mensha latkan Abdullah bin Ubay bin Salul, barulah kemudian turun keputusan dari Allah dalam Surat At-Taubah Ayat 84 :

وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

"Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mere ka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesung guhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik. (sirohis.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar