Serial Detektif Cilik
KOING (3)
Sumpah Tukang Palak
Oleh Wak Amin
“KOIIIIING!” Panggil
sang ibu dari ruang tamu.
“Ya Buuu,” sahut
Koing sambil mengenakan celana sekolahnya di kamar.
“Mbak Anggun, nanyain
kamu, Ing. Cepatlah kemari, nak!”
“Ntar ya Bu. Tanggung …”
Seusai menyisir
rambut, Koing keluar kamar dengan mengenakan tas sekolah punggung. Berseragam
putih merah, pagi ini Koing tampak gagah.
Saat tiba di teras,
dia mencium tangan Mbak Anggun yang cantik itu. Disebelahnya duduk manis sang
ibu tercinta.
“Begini, Ing. Mbak
minta tolong kamu. Belakangan ini Husni selalu minta antar Mbak kalau pergi ke
sekolah. Padahal selama ini kan enggak. Berani pergi sendiri. Pulangnya juga.”
“Sudah berapa lama,
Mbak?” Tanya Koing sambil mengeluarkan notes kecil dari tas kulitnya.
“Kira-kira sudah
seminggulah,” kata Mbak Anggun.
Tak banyak yang
ditanyakan Koing. Selain kapan mulai kejadiannya, juga uang jajan yang
diberikan pada Husni setiap hari. Apakah masih utuh atau sudah habis
dibelanjakan.
“Waduh, Ing. Kalau
itu sih Mbak enggak sampai tanya Ing ke Husni. Sebab, selama ini uang jajan
yang Mbak Anggun kasih ke dia, utuh. Sepuluh ribu, kadang lebih sedikitlah.
Nah, untuk apa dan dikemanakan uang jajan itu, Mbak enggak pula tahu …”
“Ya sudah. Taka
pa-apa, Mbak.”
“Tolong ya Ing cari tahu. Kalau perlu apa-apa, temui
saja Mbak ya sayang ya!”
“Baik Mbak. Sekarang
Mbak Anggun tenang saja. Beri waktu Koing satu hari …”
“Oke anak manis. Mbak
tunggu ya hasilnya …”
Meski ditawari naik
motor bebek, Koing lebih suka jalan kaki. Lambaian tangan Mbak Anggun semakin
mempercepat langkah kaki Koing ke sekolah.
Di depan pintu
gerbang sekolah, seperti biasa Koing sudah ditunggu Brendo, sobat karibnya.
Tanya kabar, PR sekolah dan pelajaran sekolah hari ini. Kadang sama-sama pergi ke sekolah, lain waktu
enggak.
Husni memang satu
sekolahan dengan Koing dan Brendo. Tapi tidak satu kelas. Husni baru duduk di
kelas empat, setingkat di bawah. Jadi dia menyebutnya kakak kelas.
Ketika istirahat,
siswa lain menyempatkan diri jajan dan bermain-main, Koing dan Bredo justru
tidak. Keduanya berbagi tugas. Brendo nanya ke teman dekat Husni, Koing ke guru
kelas dan beberapa orang wali murid yang sering duduk di ruang tunggu depan
sekolah.
Hasilnya mereka
diskusikan berdua. Sepulang sekolah, mereka tidak langsung pulang ke rumah.
Tapi duduk di sebuah warung jajanan tak jauh dari sekolah. Cukup ramai disesaki
siswa dan orang yang singgah untuk sekadar mengisi perut agar tidak
keroncongan.
Warung ini adalah
perlintasan siswa yang pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Selain
dinaungi rindangnya pepohonan, jalan setapak tanah liat in dinilai aman dan
lebih cepat sampai di rumah.
“Itu mereka, Do!.”
Tunjuk Koing. Dia menunjuk dengan tatapan mata kea rah dua siswa yang hendak menyeberang menuju jalan perlintasan.
“Langsung sikat saja,
Ing,” kata Brendo sudah tak sabar hendak memukul siswa satu sekolahan itu.
“Tunggulah dulu!”
Koing menenangkan Brendo.
Sengaja Koing
membiarkan dua siswa itu berjalan lebih dahulu. Mereka hanya mengikutinya dari
belakang. Saat tiba di kelokan kanan, Koing bertanya.
Namun, belum sempat
bertanya, siswa bertubuh kurus itu langsung melayangkan tinju ke muka Koing.
Mengelak sedikit, Koing melepskan pukulan kearah perut.
“Aduh .. ekkh!”
Jatuh terjerembab.
Sedangkan siswa satunya yang berpostur tambun secara membabi buta me lepaskan
beberapa tendangan kea rah Brendo. Hanya menghindar dan untuk sementara tidak
melakukan serangan balasan.
Saat lawan lengah.
“Hiyaaat!”
Dengan hanya satu
tendangan memutar, lawan tersungkur. Mukanya penuh dilepoti tanah. Mengerang
kesakitan.
“Sekarang ngaku.
Kalian berdua kan yang sering memalaki Husni?”
“Husni mana, Kak?”
Tanya si tambun meringis kesakitan.
“Ah, jangan bohong.
Kamu kan?!” Brendo menjepit tangan si tambun
dengan kaki. Mengaduh kesakitan.
Sementara Koing
melepaskan cengkraman tangannya dari rambut si kurus. Keduanya minta ampun dan
belas kasihan.
“Apa kalian berdua
ini mau kami bawa ke kantor polisi?” Gertak Brendo.
“Jangan, Kak. Jangan
… Kami mengaku salah. Kami minta maaf. Kami khilaf,” ucap si tambun
sesunggukan.
“Sudah .. sekarang
kalian berdua ikut kami,” kata Koing meminta keduanya segera berdiri.
“Kemana, Kak?”
“Ke kantor polisi,”
sahut Brendo.
“Jangan, Kak. Jangan
…” Jerit si tambun dan si kurus berulangkali.
“Kalau pulang ke
rumah, mau enggak?” Tanya Koing.
“Mauuu!” Jawab
keduanya serentak.
“Berjanjilah … ikuti
ucapan saya ..”
“Maksudnya, Kak?”
“Saya yang ngomong,
kamu berdua ikuti omongan saya. Paham?”
Si tambun dan kurus
mengangguk paham.
Inilah ucapan Koing: “Kami bersumpah tidak akan memalak lagi. Dan
kami berdua berjanji akan menaati sumpah ini sampai mati. Amiiin …”
Serial Detektif Cilik
KOING (4)
Bebaskan Sandera ….
Oleh Wak Amin
“Elang Satu … Roger!”
“Elang Dua di
sini… Roger!”
“Elang Tiga di sini …
Roger!”
ELANG satu, nama
sandi Koing, menyelinap masuk lewat pintu belakang. Diikuti Wak Ji si Elang
Dua. Sedangkan Elang Tga, Brendo, bingung.
Mau manjat pagar atau jalan memutar tapi jauh dan gelap.
“Lompat aja, Do.
Penakut amat lu ..” Kata Wak Ji ketawa geli.
“Kawat semua, Wak.
Luka kakiku nanti. Penuh koreng. Pasti diejek teman-temanku nanti. Si koreng …
si koreng. Kaki Brendo penuh koreng.”
“Peduli amat.
Daripada mati dimakan hantu .. Coba, ayooo!”
“Kau cobalah dulu
dengan memanjat, Do. Siapa tahu kamu bias. Cepat!” Saran Koing.
Tak ada pilihan buat
Brendo. Suka tidak suka ia harus memanjat. Kalau tidak, selain terlambat, boleh
jadi korban yang disekap keburu hilang.
Huppp .. sreeet!
Meringis kesakitan
terkena kawat. Brendo terus memanjat. Badan berkeringat. Dari sela betis dan
kaki ada darah mengucur sedikit. Meski terluka, ia berhasil memanjat dan dengan
satu kali lompatan sudah berada di dalam gedung.
“Elang Tiga di sini …
Kalian dimana?” Tanya Brendo. Mengendap-endap melewati jalan setapak tak
berlampu. Penuh lubang dengan semak belukar di kiri dan kanan.
Karena tak ada
jawaban, Brendo memutuskan sendiri harus kemana. Posisi amannya di mana. Sesaat
ia mendongakkan kepalanya ke atas, atap gedung. Berpikir sejenak, akhirnya ia
menaiki atap dengan memanjat dan melampaui beberapa tiang penyangga.
Sampai di atas,
sambil melihat suasana sekitar, ia meniti petak atap satu-satu. Agak di ujung,
ia melihat sedikit cahaya. Mendekatlah ia. Dan benar, dari tempat itu, setelah
salah satu atapnya dibuka pelan-pelan,
ia melihat ada orang yang disekap.
Karena jarak antara
yang tersekap dengan dirinya curup tinggi,
Brendo mengurungkan niat untuk turun. Dia masih ragu. Saat ragu itulah, HP besarnya
bordering.
“Elang Tiga … Elang
Tiga. Roger!”
“Ya Elang Tiga
disini.”
“Elang Satu di sini bersama Elang Dua. Kami berhasil
masuk. Tepat berdiri dekat toilet.”
“Dimengerti. Elang Tiga
di atas atap. Lihat korban disekap. Terlalu tinggi untuk turun. Roger!”
“Penakut Lu..” Ejek
Wak Ji.
“Elang Tiga bukan
penakut. Roger!” Jawab Brendo.
“Kalau bukan penakut,
lalu apa?”
“Pemberani …”
Hampir saja tawa Wak
Ji terdengar lepas kalau tidak secepatnya ditahan Koing dengan telapak tangan.
Wak Ji geli. Enggak jadi ketawa. Senyum sendiri.
“Elang Tiga … Elang
Tiga …”
“Elang Tiga menerima
perintah.”
“Putuskan sendiri
yang baik buatmu!”
“Elang Tiga siap
laksanakan!”
Di dalam gedung ada
dua orang penyekap. Badannya tegap dan besar. Salah satu dari mereka tak berhenti
menelepon. Entah siapa yang ditelepon. Sedangkan agak ke ujung tampak seorang
wanita dalam posisi duduk di kursi. Tangannya terikat sementara mulutnya
disekap dengan kain panjang.
Brendo merentangkan
tali dari ujung ke ujung atap. Kemudian tali itu dijulurkan ke bawah. Dengan
amat hai-hati Brendo meniti tali itu sampai ke bawah. Karena letaknya rada ke
belakang, Brendo lepas dari pengawasan penyekap.
“Aman, Elang Satu.”
Bisik Brendo bangga. Dia menepuk-nepuk dadanya karena sukses menirukan Ninja
beraksi masuk gedung.
“Cepat amat Lu, Do.
Bohong ah. Kamu pasti min-main kan?” Kata Wak Ji penasaran.
“Benar, Wak,” ucap
Brendo sambil mengintip penyekap berkepala plontos yang sedari tadi asyik telepon-teleponan.
“Elang Satu, Elang Satu.
Elang Tiga lapor.”
“Elang Satu di sini.
Elang Tiga silakan lapor!”
“Temui cepat di ujung
sebelah kanan kalian. Aku tunggu. Roger!”
“Siap ke sana.
Roger!”
Sembari menunggu
kedatangan Koing dan Wak Ji, Brendo mengeluarkan betetan. Dia arahkan itu
betetan ke pantat seorang penyekap. Tepat mengenai punggung, bukan pantat.
Tak ada reaksi.
Tampaknya si penyekap betul-betul kuat dan kekar. Walau sudah kena betet pakai
batu kerikil, meringis pun tidak. \
“Tunggu, Do. Jangan
betet dulu,” kata Koing menepis tangan Brendo yang sudah siap melpaskan
betetannya.
“Wak Ji aja yang
embetetnya,” sahut Wak Ji menawarkan diri.
“Nanti salah betet,
Wak.” Sindir Brendo.
“Do. Tua-tua gini,
dulunya Wakmu ini jago embetet burung.”
“Betul. Tapi kan
sekara ng ini Wak sudah tidak muda lagi. Sudah tua. Entar lagi masuk ke liang
kubur.”
“Walaupun Wak sudah tua, Do, masih tokcer. Coba kemari
kan itu betetan!”
Brendo mengambil batu
kerikil dari balik saku celananya. Lalu diserahkan ke Wak Ji bersama
betetannya. Koing senyum-senyum saja. Wak Ji benar-benar tua keladi. Makin tua
makin seksi.
Wak Ji konsentrasi
penuh. Lama juga dia membidikkan betetan
dan huup! Peluru betetan lepas. Tapi bukan kena si penyekap. Tapi melenceng
kena kayu, mengarah dan memantul ke dinding atap plafon.
Suasana berubah riuh
seketika. Puluhan kelelawar terbang mengitari ruangan gedung. Bukan hanya dua orang
penyekap tadi yang panik dan tunggang langgang menghindari kelelawar-kelelawar
buruk rupa itu. Koing, Wak Ji dan Brendo pun demikian.
“Ayi kita bergerak
cepat!” Teriak Koing mengajak dua rekannya melepaskan si wanita dari ikatan
penyekap. Untuk kemudian bersembunyi sejenak di tempat semula.
Dua penyekap itu
terlibat adu mulut setelah kelelawar pergi menghilang dari balik gedung dan
sandera mereka pergi entah kemana.
“Kenapa kau lepaskan,
Mec?” Tanya si kepala pelontos.
“Siapa yang lepaskan,
Jon. Aku kan jaga dekat pintu. Sedangkan kamu asyik ngomong dengan pacar kamu.”
“Pacar? No … Aku
bicara sama wanita itu benar. Tapi bukan pacar, bodoh.”
“Kalau bukan pacar,
kenapa bilang sayang .. kapan aku bisa ngapel … mau dibawakan apa…suka filem apa
segala. Dasar pecundang. Gatal. Play boy kelas teri.” Jawab si bahu lebar tak
mau kalah.
“Masa bodoh, ah.
Pokoknya tanggung jawab. Titik.”
“Ogah, Elu yang mesti
tanggung jawab.”
Lama juga mereka bertengkar. Adu mulut. Hampir
sepuluh menit. Saling ejek, saling tendang
dan dorong-dorongan badan. Sesekali terjatuh. Bangun lagi. Begitulah
berulangkali. Silih berganti. Keduanya baru berhenti setelah terdengar suara
klakson mobil di luar gedung.
Keduanya buru-buru
membuka pintu garasi gedung. Sebuah mobil mewah berwarna hitam tampak ga gah
dengan sorot lampu depan tajam dan terang benderang berjalan lambat memasuki
area garasi. Selang beberapa detik itu lampu padam. Bersamaan dengan itu,
keluarlah seorang pria berpakaian necis dengan rokok cerutu menempel di mulut.
Ekspresi wajahnya begitu dingin dengan sorot mata tajam, liar dan menakutkan.
“Bawa kepada saya
kembali paling lambat sampai besok. Kalau tidak, kepala kalian berdua aku bakar
dalam tungku. Mengerti?”
Mec dan Jon mengangguk. Tangan Big Bos
mengangkat silih berganti dagu keduanya, seraya berkata lantang:
“Aku tak mau kalian
gagal malam ini.”
Saat Big Bos
berbicara dengan dua rekannya di suatu tempat di luar gedung, Mec dan Jon
seperti orang kebingungan. Berjalan loyo
keluar gedung guna mencari tawanan mereka yang lepas.
Koing akhirnya
mengontak pihak berwajib.
Koing melaporkan ada
penyenderaan di sebuah gedung bertingkat di ujung kota dekat taman. Pihak
berwajib merespon dengan baik dan segera mengirimkan tim khusus ke lokasi
penyanderaan.
“Alhamdulillah!” Kita
bisa pulang sekarang. Wak udah capek. Wak mau mandi bersihkan badan dan bobok. “Kata
Wak Ji dengan nada bicara kepayahan.
“Tak bisa, Wak Ji,”
jawab Brendo.
“Kenapa? Kan yang
disandera sudah di tangan kita sekarang. Tunggu apalagi. Kita serahkan saja ke
orangtuanya. Habis perkara.”
Ssssssssst …
Koing minta kedua
rekannya itu diam. Pasalnya, si Big Bos tampak tergesa-gesa menuju luar gedung. Mendekati
Mec dan Jon dengan nafas turun naik amat kencang. Lelaki berkulit putih bersih itu marah besar.
Mata melotot, mukanya merah. Bukannya mencari tawanan yang melarikan diri,
eee ini anak buah malah asyik sesunggukan dekat danau bertaman.
Tak lama kemudian
terdengarlah suara lantang dari pengeras suara.
“Menyerahlah … Kalian
sudah dikepung!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar