Novel Lepas
Kampung Kami (1)
(Edisi Kesatu)
By
Mang Amin
I
“Audzubillahi
minasysyaithaanirrajiim
Bismilllahirrahmaanirrahiiim
…
Yaa ayyuhal ladziina
aamanu athii’ullaaha waaathii’urrasuul wa ulil amri minkum. Fain tanaa za’tum
fi syai-in farudduuhu ilallaahi warrasuuli in kuntum tu’minuuna billaahi wl
yaumil aakhiri. Zalika khairuwaahsamu ta’wiilaaa …
(Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah
Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian,
jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah
(Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya) …
Alam taro ilal
ladziina yaz ‘umuuna annahun aamanuu bimaa unzila ilaika wamaa unzila min
qablika yuriiduuna ilaika wamaa unzila min qoblika yuriiduuna ayya tahaakamu ilath thaaghuuti wa qad umiruu ayyak furuu
bihi wa yuriidusy syaithaanu ayyadudhillahum dhalaalan ba’iiidaa …
(Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mengaku dirinya
telah beriman kepada apa yang diturunkan
kepadamu dan kepada apa yang diturunkan
sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah
diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka
(dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya) …
Wa idzaa qiila lahum
ta’aalau ilaa maa andzalallaaahu wa ilar rasuuli ra’aital munaafiqiina wa
yashudduuna ‘anka shuduudaa …
(Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk)
kepada hukum yang Allah telah turunkan
dan kepada hukum Rasul”, niscaya
kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari
(mendekati) kamu) …
Fa kaifaa idzaa
ashaabathum mushiibatun bimaa qaddamat aidhiihim tsumma jaa-uuka yahlifuuna
billaahi in aradnaa illaa ihsaanaaw watauqiifaa …
(Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang
munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri,
kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali
tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna) …
Ulaa-ikalladziina
ya’lamullaahu maafii quluubihim faa’ridh ‘anhum wa’idzhum wa qullahum fii
anfusihim qaulaan baliighaa …
(Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa
yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu daripada mereka, dan
berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada
jiwa mereka) …
Wamaa arsalnaa
mirrasuulin illa liyuthaa’aa bi-iznillaahi walau annahum izh zhalamuu anfusahum
jaa’uuka fastaghfarullaaha was taghfaro lahumur rasuulu lawajaduullaaha
tawwaabar rahiimaa …
(Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk
ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya
dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun
memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima
Taubat lagi Maha Penyayang) …
Falaa warabbika laa
yu-‘minuuna hattaa yuhakkimuuka fiima syajaro bainahum tsumma laa yajiduuu fii
anfusihim harojam mimma qadhaita wa yusallimuu tasliimaa …
(Maka demi tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesua tu keberatan tehadap
putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya) …
Wa law annaa katabnaa
‘alaihim aniqtuluu anfusakum awikhrujuu min diyaarikum maa fa’aluuhu illaa
qoliilum minhum wa law annahum fa’alaw maa yuu’adzuuna bihii lakaana
khairallahum wa asyadda tatsbiitaa …
(Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:
“Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan
melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka
melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian
itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) …
Waizaalla-aatainahum
min (l) ladunnaa ajron ‘adhiimaa …
(dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala
yang besar dari sisi Kami) …
Walahadainaahum
shiraatham mustaqiimaa …
(dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus) …
Wa mayyuthi’illaaha
warrasuula fa-ulaaikab ma’alladziina an’amallaahu ‘alaihim minan nabiyyiina
washshiddiiqiina wasy syuhadaa’I washshaalihiina wahasuna ulaa-ika rafiiqaa …
(Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka
itu akan bersama dengan orang-orang yang dianugerani nikmat oleh Allah, yaitu
Nabi-nabi, para shiddiqiin (orang yang amat teguh kepercayaan nya kepada
kebenaran Rasul), orang-orang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Dan
mereka itulah teman yang sebaik-baiknya) …
Zaalikal fadhlu
minallaahi wa kafaa billaahi ‘aliimaa …
(Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah
cukup mengetahui) … (QS An-Nisaa’ 59-70).
Shadaqallaahul ‘adhiim
(Sungguh benar Allah dengan segala firman-Nya) …”
II
TOK … TOK … TOK …
“Assalamualaikum …!
“Waalaikumsalam,” jawab Sri Hapsari, keluar dari kamar,
bergegas ke depan pinu. Ia tengok sebentar dari balik kaca jendela, lalu
tersenyum, dan pintu pun dibuka.
“Bu Erte rupanya. Masuk Bu,” ucap Sri, menggandeng tangan Bu
Erte, mengajaknya masuk.
“Nanti masuk angin Bu Erte kalau enggak cepat masuk,” canda
Sri.
“Ah masak Sri?”
“Benar Bu. Tu angin sering nakal …”
“Bisa nakal gimana?”
“Suka ngebukain rok kita punya,” kata Sri.
He he he he …
“Ah kamu Ri. Bisa aja,” ujar Bu Erte mengambil tempat dudu
paling ujung dekat kipas angin.
“Nah, kalau itu bagus Bu Erte,” kata Sri berlalu ke ruang
belakang. Tak lama, kemudian keluar lagi membawa segelas air air putih,
dihidangkan di atas meja ruang tamu.
“Kepala terasa segar, sambil minum pasti terasa lebih
segar,” lanjut Sri, menyalakan kipas angin, berputar kiri dan kanan,
menyejukkan suasana ruangan yang sebenarnya sudah sejuk.
“Terima kasih Sri,” ucap Bu Erte, minum seteguk air, lega
rasanya kerongkongan. Sejak Subuh sampai tiba di kediaman Sri Hapsari, belum
sempat minum air putih karena sibuk mengurus keberangkatan sang suami ke kota
untuk urusan kerja.
Bu Erte baru mengutarakan maksud kedatangannya setelah Sri
Hapsari menanyakan keadannya dan keadaan suaminya kini, berikut pekerjaan yang
digeluti selaku ketua erte.
“Bapak ingin kamu dengarkan dulu ceritanya Sri,” jelas Bu
Erte, menggeser posisi duduknya ke dekat Sri Hapsari.
“Baik Bu,” jawab Sri membetulkan letak duduknya, agak
merapat juga ke dekat Bu Erte.
“Kita kan rencananya mau buka TK/TPA untuk anak-anak yang
kurang mampu. Nah, bapak bilang begini .. Bu .. bapak minta tolong nih. Tolong
temui Sri dan katakana bisa engga da bantu kelola TK/TPA itu. Jawab ibu, baik
Pak. Nanti saya temui Sri secepatnya dan menyampaikan kepada beliau keinginan
bapak.”
Sri tersenyum, tapi dia belum memberikan jawaban apapun …
“Tempatnya di masjid kita, Nurul Falah. Peralatan belajar
seperti meja dan kursi sudah ada. Soal dana, kata bapak untuk sementara kita
ambil dari infaq/shodaqoh para jamaah dan donator yang terkumpul di kas masjid.
“Bagus itu Bu.” Sri baru kasih komentar karena terus diminta
Bu Erte untuk memberikan komentar, lebih dan kurangnya, agar bisa disampaikan
kembali ke Pak Erte.
“Soal guru dan muridnya Bu Erte?”
“Nah itu kata bapak, mohon bantuan dari Sri. Karena menurut
bapak, Sri itu sudah berpengalaman dalam hal mengajar dan mendidik anak-anak.
Sri merasa tersanjung. Dia tak perlu berlama-lama untuk
menerima tawaran Pak Erte itu. Dia merasa ta waran ini memberinya kesempatan
lebih luas untuk berdakwah, mengajak anak-anak agar mencintai Alquran dan
mengenalkan nilai-nilai islami dalam hidup keseharian.
“Kapan dimulainya Bu kata bapak?”
“Secepatnya Sri … “Kata Bu Erte yang mengharapkan Sri secara
bertahap mengelola pendidikan informal ini.
“Bu …”
“Ya Sri. Ayo, bilanglah ke ibu. Janganlah pula kau sungkan,”
ujar Bu Erte mengambil sepotong kue bolu dari dalam gelok ceper khusus bolu yang
tersaji di meja tamu. Bolu-bolu kecil itu dalam posisi melingkar dengan tiga warna pilihan: kuning, cokelat dan
hijau.
“Yang lain apa sudah diberitahu Bu?”
“Sudah Sri. Tapi baru sebatas orang tertentu saja. Pengurus
masjid Bu Kandar, beberapa tokoh masyara
kat, mereka yang sudah berusia lanjut, khususnya mereka yang hidup kurang dari
layak.”
“Bapak inginnya seperti apa Bu?”
“Maksud Sri?”
“Dengan adanya TK/TPA ini, pasti bapak ada keinginan khusus
yang perlu juga saya ketahui Bu Erte ……….”
“Eeeeem …” Berpikir sebentar.
“Tapi kalau itu ibu agak ragu, nanti saya ngomongin langsung
ke bapak aja Bu.”
“Enggak … ibu enggak ragu Sri. Cumaaaa …”
“Cuma kenapa Bu Erte? Lupa-lupa ingat ya, atau …?”
“Bukan Sri. Tapi darimana ibu harus memuai?” Bu Erte ketawa
sendiri, lalu berdua Sri, keduanya saling tepuk sayang pinggang.
“Dari mana sajalah Bu …” Ujar Sri. Sempat bolak-balik ke
dapur untuk mengambil air minum. Entah sengaja atau tidak, Bu Erte sudah empat
kali minum pagi hari menjelang siang
ini.
“Gini Sri,” terang Bu Erte, “Bapak kan sering jalan-jalan ke
luar kota untuk suatu urusan. Waktu itu dia salat di masjid. Terus anak-anak
pada belajar. Yang dipelajari macam-macam lah. Ada yang membaca Al quran,
menulis huruf indah, belajar akhlak. Jadi kayak orang kursus singkatlah. Terus
… kenapa enggak dicoba di tempat saya ya?” Terang Bu Erte menirukan jeritan hati suaminya.
“Terus … beberapa bulan sebelumnya bapak sempat bilang ke
ibu kalau di kampung kita ini banyak juga warganya yang hidup dari layak.
Miskin. Sementara anak-anak mereka ada yang bersekolah, juga ada ya ng tidak.
Terpaksa berhenti di tengah jalan. Enggak berlebihan kalau mereka ini kta didik
dengan ilmu agama agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman …”
“Kenapa bapak tak dirikan saja pesantren Bu Erte?”
Bu Erte ketawa ngakak. Saking ngakaknya, bukan hanya
perutnya yang berguncang, tapi air yang masuk lewat tenggorokan memercik keluar
sambil batuk-batuk karena keselekan.
“Kata bapak, dari yang kecil dululah,” jelas Bu Erte. Memerah
mukanya setelah batuk berkali-kali.
“Nanti, setelah yang bakal kita bikin ini berkembang dengan
baik, sukses dan mendapat tempat di hati masyarakat, baru kita berpikir kea rah
sana. Membangun sekolah biasa atau pesantren kecil-kecilan begitu …”
Lega jga Sri Hapsari mendengar penjelasan Bu Erte.
“Ibu dan bapak sangat senang kamu mau, Sri. Tapi lebih
senang lagi kalau niat suci kita ini diterima dengan baik oleh masyarakat. Bagaimana menurutmu ri?”
“Siiiplah Bu. Maksud Sri. Apa yang diucapkan ibu barusan,
terus terang saya sangat setuju dan mendukungnya, serta berusaha mewujudkannya
sekuat saya mampu,” jelas Sri.
III
UNTUK sementara ini, Sri Hapsarilah yang didapuk menjadi
guru, sedangkan anak muridnya terdiri dari anak-anak yang kurang mampu dari kampung Falah dan kampung sebelah.
Dia terpaksa mengambil keputusan mengajar ini karena semua wanita yang ia temui
menolak untuk menjadi guru di Taman Pendidikan Nurul Falah. Alasannya
sederhana: tidak berbakat dan berpengalaman serta sibuk dengan urusan rumah
tangga dan mengurus anak-anak.
Untuk merekrut tenaga dari luar tidak mungkin. Selain karena
harus diberi imbalan yang memadai juga lokasi antara tempat berlangsungnya
proses belajar mengajar di Masjid Falah dengan kediaman calon guru yang sempat
dihubungi dan didatangi Sri tidak dekat. Faktor jarak dan waktu ini boleh jadi
alasan penolakan karena mereka lebih suka melakukan pekerjaan lain, semisal
buka warung, rumah makan kecil-kecilan, kios bakso dan jajanan lain yang lagi
tren saat ini.
Tentu tidak mudah bagi Sri
untuk menyiapkan segala sesuatunya. Dia tak punya pilihan lain selain
meminta bantuan Bu Kandar dan Bu Erte. Kedua wanita inilah yang bahu membahu
membantu Sri menjaring calon murid,
menyiapkan fasilitas belajar mengajar di Masjid Nurul Falah, dan kurikulum
untuk memudahkan transfer ilmu pengetahuan ke siswa yang rata-rata berusia 6-12
tahun.
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan secara matang,
barulah Taman Pendidikan Nurul Falah ini dires mikan pembukaannya oleh Pak Erte
dan pengurus masjid Bu Kandar. Dihadiri para siswa dan kedua orang tua mereka.
Pembukaan tanda dimulainya proses pembelajaran ini berlangsung sederhana, mengambil tempat di pelataran masjid, lepas salat Ashar
berjamaah.
Pak Erte dalam kata sambutannya mengucapkan rasa syukur atas
berdirinya Taman Pendidikan Nurul Falah ini. Sebab, dengan berdirinya tempat
belajar bagi anak-anak yang orangtuanya tidak mampu ini, diharapkan tidak ada
lagi keluh dan kesah. Yang ada justru
rasa gembira karena ada tempat menimba ilmu kendati fasilitas yang
tersedia tidaklah seberapa.
“Kepada anak-anakku sekalian, jangan kalian buang kesempatan
paling berharga ini. Mumpung kalian ma sih amat muda, belajarlah dengan tekun,
karena dengan ketekunan itulah ilmu yang kita pelajari akan memproleh berkah,
mendapat ridhanya Allah SWT dan akan mendapat ganjaran pahala dari-Nya
berlipat-lipat,” jelas Pak Erte.
“Bapak juga berharap anak-anakku sekalian, jangan
sekali-kali malu. Walaupun hidup kalian jauh dari layak, kalian harus siap
bersaing, tidak malu, apalagi sampai minder. Tunjukkanlah kepada kami semua
yang hadir di sini bahwa kalian bisa bersekolah. Kalian bisa meraih prestasi
tinggi, yang semuanya bera wal dari yang serba kecil, lalu ke besar, dari yang
sedikit, kemudian berangsur-angsur banyak, dan de ngan demikian kalian akan
sama di hadapan semua orang, bukan karena kalian tampan, bukan karena kalian
berduit, tapi karena kalian telah mempunyai ilmu pengetahuan dan mengantongi
keahlian.”
“Kepada para bapak dan ibu kalian sekalian yang hadir di
sini, saya selaku ketua erte meminta ikhlas kanlah dan percayakanlah anak-anak
anda untuk belajar di tempat ini. Yakinlah, Bu Sri Hapsari tentu akan
memberikan yang terbaik, mencurahkan segenap kemampuan yang ia miliki untuk
mendidik dan membimbing anak-anak kita agar jadi orang baik,” kata Pak Erte
berapi-api.
“Akhirnya, sebelum saya sudahi kata sambutan ini, izinkanlah
saya menyampaikan sebuah pantun berikut ini …
Kapal berhenti
melepas sauh
Penumpangnya turun sambil mengantri
Daripada belajar jauh-jauh
Masih kan enak di dekat sini ….
Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh …”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokaatuh,” jawab hadirin
serempak sambil bertepuk tangan.
Riuh sejenak, kemudian berubah senyap lagi setelah Bu Kandar
maju ke depan, pegang mikropon dan memulai kata sambutan …
Dengan mata
berbinar-binar penuh sukacita, Bu Kandar
mengajak anak-anak untuk
memanfaatkan ke beradaan Masjid Nurul Falah ini sebagai tempat menimba ilmu
pengetahuan. “Belajar ilmu agama itu penting sebagai bekal untuk dibawa ke
akherat kelak,” katanya dengn suara bervolume sedang tapi tinggi lantang.
Ibu pengurus masjid ini juga meminta para wali murid dan
warga sekitar masjid ikut memonitor perkem bangan proses belajar mengajar ini. “Berikanlah masukan kepada kami,
khususnya Bu Sri Hapsari yang cantik memikat hati ini …”
Serentak hadirin menoleh kea rah Sri Hapsari, yang cuma
sesekali menunduk sambil melepas senyum karena merasa malu hati telah dipuji Bu
Kandar barusan.
“Beliaulah yang akan mengajar, mendidik dan membimbing anak
ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian. Mu dah-mudahan semuanya berjalan lancar,”
ujar Bu Kandar penuh harap.
Sebelum mengakhiri kata sambutannya, Bu Kandar berpesan agar
semua pihak, mulai dari guru, orangtua dan walimurid hingga warga bisa
bersinergi saling bahu membahu, saling mengingatkan satu dengan yang lain demi
kemajuan pendidikan anak-anak kita.
“Percayalah, dilandasi dengan niat yang suci, insya Allah,
Tuhan akan meridhai. Amin ya robbal alamin.”
Sebelum meninggalkan mimbar majelis pertemuan dan
silaturahmi, Bu Kandar memperkenalkan Bu Sri Hapsari kepada segenap undangan
yang hadir. Semua memberikan tepuk tangan penuh persaudaraan. Berkali-kali Bu
Sri mengembangkan senyum sambil membungkukkan badan memberi hormat dan me nerima
salam persaudaraan.
“Terima kasih … terima kasih.”
Segenap hadirin diam, setelahnya. Saling berbisik, sebelum
tenang lagi. Mereka sama menunggu gera ngan apa yang bakal diucapkan Bu Sri
Hapsari sore hari yang cerah ini.
“Terus terang, saya baru akan belajar bagaimana caranya
mengajar yang baik,” kata Bu Sri sedikit gugup dan gemetar padahal sebelum
berangkat dari rumah tadi dia sudah makan nasi sepiring lauk ayam go reng dan
tumis kangkung.
Hadirin belum bereaksi.
“Tapi insya Allah, saya akan memberikan yang terbaik buat
anak-anak bapak dan ibu sekalian … Yakinlah, dengan sekuat tenaga saya akan
mendidik, mengajar dan membimbing mereka agar menjadi orang yang berguna bagi
sesama, masyarakat, bangsa dan Negara.”
Sambil tersenyum lebar, Bu Sri juga mengajak segenap warga
untuk memajukan Taman Pendidikan Nurul Falah ini. “Taman ini milik kita semua.
Mari kita jaga sama-sama. Mari kita rawat
dan mari kita sama-sama membangunnya lebih baik lagi agar lebih cepat maju dan berkembang pesat ke
depannya ….”
“Tanpa kalia saya bukan apa-apa. Tanpa kalian saya tak akan
bisa bekerja denga hasil yang terbaik, dan tanpa kalian semua yang hadir di
sini, saya tak bakalan sukses bersama yang lain mengelola taman pendidikan
kebanggaan kita ini …”
IV
“BACA sama-sama ya anak-anak …” Kata Sri Hapsari pada anak
muridnya ketika memberi mata pelajaran ‘Belajar Membaca Alquran’ sore hari.
“Ya Buuuu ..!” Jawab siswanya yang berjumlah sepuluh orang
dengan penuh semangat.
“Alif …” Ucap Bu Sri.
“Alif.” Siswanya menirukan.
“Ba Ta.”
“Ba Ta.”
“Tsa Jim.”
“Tsa Jim.”
“Ha Kha.”
“Ha Kha.”
“Dal Zal.”
“Dal Zal.”
“Ra Zay.”
“Ra Zay.”
“Sin Syin.”
“Sin Syin.”
“Shad Dhad.”
“Shad Dhad.”
“Tha Zha.”
“Tha Zha.”
“ ’Ain Gain.”
“ ‘Ain Gain.”
“Fa Qaf.”
“Fa Qaf.”
“Kaf Lam.”
“Kaf Lam.”
“Mim Nun.”
“Mim Nun.”
“Waw Ha.”
“Waw Ha.”
“Lam Alif.”
“Lam Alif.”
“Hamzah.”
“Hamzah.”
“Ya.”
“Ya.”
Tuuuuut … Nyeeeet …
Siswa pada menahan tawa. Bu Sri Hapsari yang baru hendak menjelaskan huruf-huruf hijaiyah itu mendekati salah seorang siswanya
yang duduk di samping kanan, Dahlia.
“Kayaknya ibu mendengar sesuatu tadinya. Kamu dengar kan
Lia?” Sri memandang satu persatu siswanya dengan pandangan lembut keibuan.
“Dengar Bu Sri,” jawab Dahlia sambil menoleh ke
rekan-rekannya yang lain. Sama menunduk, menahan geli.
“Suara apa itu Lia?”
“Entut Bu Guru …”
Ha ha ha ha …
Siswa lain pada ketawa.
“Entut itu apa Lia?”
“Kentut maksudnya Bu Guru,” potong Nabila menjelaskan maksud
dari kata ‘entut’ yang Dahlia barusan ucapkan.
“Betul Lia?”
“Betul Bu Guru. Kentut maksudnya,” jawab Dahlia terus
terang.
Bu Sri kemudian mengalihkan pandangannya ke belakang, ke
beberapa murid laki-laki seperti Andi, Yandi, Bagus dan Maskur. Mereka berempat
ini hanya menunduk dengan sesekali saling melihat satu sama lain.
“Yandi …!”
“Ya Bu Guru …” Jawab Yandi dengan suara lemas, nyaris tak
kedengaran.
“Kamu tahu nak siapa yang kentut barusan?”
“Tahu Bu Guru,” terang Yandi dengan pandangan lesu ke teman
sekelasnya.
“Siapa ya Yandi?”
“Saya sendiri Bu Guru …”
Ha ha ha ha …
Semua pada tergelak-gelak. Andi, Maskur dan Bagus, berdiri
seketika untuk melepas tawa. Kemudian mereka duduk lagi.
“Lucu Bu,” kata Bagus. “Dia yang ditanya, dia sendiri yang
kentut …”
“Habis makan duren semalam Bu Guru,” sahut Maskur. “Bapaknya
beli duren banyak kemarin.”
“Enggak kasih kita. Coba kalau kasih pasti enggak bakalan
kentut Bu Guru,” seloroh Andi.
“Betul Yandi?”
“Enggak Bu Guru.”
“Apa kamu sakit nak?”
“Iya Bu. Sakit perut tadinya. Tapi sekarang sudah hilang
karena anginnya sudah keluar …”
He he he he …
“Angin apa lapar? Goda Bagus. Yang digoda senyum-senyum simpul
saja. Soalnya dua-duanya benar. Lapar karena belum makan siang. Angin karena
lapar, perut jadi kembung karena kemasukan angin, bukan nasi.
“Maafkan Yandi Bu Guru.” Yandi buru-buru mencium tangan Sri
Hapsari.
“Ya, ibu maafkan. Lain kali kalau kentut permisi keluar ya.
Jangan kentut di dalam kelas,” nasehat Bu Sri.
“Ya Bu. Yandi janji tak akan mengulanginya lagi.
“Sekarang ambil wudhu’ sana ya. Yang benar wudhu’nya. Sudah
wudhu’ kemari lagi.”
“Ya Bu …”
Kepada para siswanya, Bu Guru Sri Hapsari berpesan, ketika
belajar Alquran kita harus dalam keadaan suci
dan bersih anggota badan.
“Jadi sebelumnya kita harus berwudhu’ dulu anak-anakku
sekalian. Paham ya?”
“Paham Bu Guruuuu …”
“Juga saat belajar. Kita tak boleh tengok sana tengok sini.
Kita harus khusyuk. Mata dan hati kita tertuju pada apa yang sedang kita
pelajari. Baru setelah pelajaran berakhir, kita boleh beristirahat dan
mengerjakan pekerjaan yang lain kalau ada …”
Tak lama kemudian Yandi kembali masuk dan bergabung dengan teman-temannya
yang lain setelah mengucap salam terlebih dahulu. Mukanya tak sendu lagi.
Suaranya tak lemas lagi. Duduk tidak membungkuk tapi tegap dengan pandangan lurus ke depan.
Bersama teman-teman belajarnya, Yandi tekun menyimak
penjelasan dari Bu Guru Sri yang berdiri di samping kiri papan tulis putih.
Setelah menjelaskan panjang lebar tentang kegunaan mengenal huruf hijaiyah, dia
pun mengurai satu persatu tanda baca ayat-ayat suci Alquran, seperti fathah,
kasrah, dhammah, tanwin, mad wajib, mad jaziz, tasydid, fathatain, kasratain
dan dhammatain.
V
PARA ibu kumpul di kediaman Pak Erte.
Ada apa?
Rupanya ada pelatihan budidaya tanaman di pekarangan.
Tujuannya adalah meningkatkan keterampilan keluarga dan masyarakat dalam
pemanfaatan lahan pekarangan di perkotaan dan pedesaan untuk budi daya tanaman
pangan, buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak dan
ikan, pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.
Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan pangam dan gizi
keluarga serta masyarakat secara lestari. Menambah keindahan dan kesehatan
lingkungan, serta mempertahankan sumber daya genetic lokal yang tersedia di
setiap daerah.
Terakhir, untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif
keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.
Sadikin dan Salihin selaku ‘instruktur’ menjelaskan kepada ibu-ibu lewat slide
berlayar besar, bahwa ada dua model budidaya tanaman. Model pertama secara
vertical (bertingkat) dan model kedua secara bedengan.
“Khusus system rak bertingkat, ada kelemahan atau kekurangan
tentunya, selain punya juga kelebihan. Berikut penjelasannya,” kata keduanya.
Kendati, masih kata keduanya, sangat cocok untuk daerah atau lahan sempit,
seperti di perumahan dengan manfaat ganda; untuk kebutuhan sendiri atau
dipasarkan. Kelebihan rak bertingkat ada tujuh macam.
Pertama, ujar Sadikin, efisensi dalam pemakaian secara
produksi berupa pupuk, hal ini disebabkan media tanaman berada dalam suatu
wadah tertentu sehingga pupuk yang diberikan tidak mudah tercuci.
Kedua, papar Salihin, efisiensi dalam pemakaian lahan,
karena vertikultur dapat diterapkan di lahan sempit. Nah, yang ketiga,
mengurangi biaya tenaga, terutama dalam pemeliharaan tanaman.
Keempat, tambah Sadikin, menghemat penggunaan air. Kelima,
secara estetika, penanaman dengan system ini sangat indah. Keenam, mudah
dipindahkan ke tempat lain karena ditanam dalam wadah, dan terakhir atau yang
ketujuh, mempermudah dalam pemeliharaan karena tanaman mengelompok dalam suatu
lokasi.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, lanjut Sadikin dan
Salihin, tapi sisem vertikutur ini juga mem pu nyai kelemahan, di antaranya
investasi awal membutuhkan modal yang cukup tinggi, terutama untuk membuat
bangunan. Hal ini dapat diatasi dengan membuat bangunan dari bamboo dan atap
dari plastik.
“Penyiraman harus dilakukan setiap hari, dan jenis tanaman
yang dipilih mempunyai nilai ekonomo tinggi dengan peluang serangan penyakit
oleh jamur akan meningkat akibat populasi tanaman yang tinggi,” jelas keduanya.
“Jenis tanaman yang cocok untuk dibudidayakan adalah hampir
semua jenis tanaman semusim yang per tumbuhannya tidak terlalu tinggi, maksimal
satu meter. Contohna tanaman semusim berupa sayuran antara lain sawi, selada,
seledri, kangkung, tomat, terong, cabai, bawang daun dan lainnya,” terang
Salihin.
“Sedangkan jenis tanaman yang merambat, seperti timun,
melon, kacang kepri dan sejenisnya dapat juga dibudidayakan secara vertikultur
asalkan diberi ajir atau tali untuk merambat,” jelas Sadikin.
“Kemudian, imbuh Salihin, kita mulai merencanakan penanaman.
Apa saja? Ada lima.
Pertama-tama, papar Sadikin, kita membuat media semai yang
terdiri atas tanah, pupuk kandang/ kom pos dan sekam padi dengan perbandingan
1:1:0,25. Artinya, bila tanah satu ember, pupuk kandang satu ember dan sekam
padi ¼ ember.
Cara membuatnya dengan mengambil tanah bagian atas ( top
sail) dan pupuk kandanh, diayak terlebih dahulu menggunakan kawat ram untuk
memisahkan kotoran yang ada di dalam tanah ataupun pupuk kandang.
Sedangkan sekam padi sebaiknya dibakar menjadi arang sekam.
Ketiga bahan bakar tersebu diaduk sampai rata, kemudian diletakkan dalam nampan
atau baki yang telah dipersiapkan.
Setelah itu, ujar Salihin, baru dilakukan persemaian. Teknik
yang digunakan tidak jauh berbeda dengan persemaian konvensional. Biasanya
benih tanaman disemaikan terlebih dahulu pada tempat persema ian, baru
kemudianbibit dipindahkan ke bangunan vertikultur.
Pelaksanaan persemaian bisa dilakukan di lapangan dan di
kotak semai, yang terbikin dari kayu, plastik atau polibag.
“Atau secara sederhana dapat dilakukan hal berikut. Sediakan
air hangat (suam-suam kuku) atau air dingin, kemudian benih dimasukkan ke dalam
air tersebut dan direndam selama satu jam,” ungkap Salihin.
Benih yan terapung, kata Sadikin, adalah benih yang jele.
Sedangkan benih yang tenggelam adalah benih yang baik. Setelah itu, benih
diangkat lalu ditiriskan, kemudian diangin-anginkan supaya kering. Bila sudah
kering siap disebar ke media semai.
Bila benih sudah baik bisa langsung disebar. Sebelum benih
disebarkan, media harus disiram terlebih dahulu sampai basah, lalu ditaburkan
secara merata dan jangan terlalu padat.
Bila ada semut atau
hama pengganggu lainnya di media semai, urai Sadikin, bisa dibasmi dengan
menggunakan furodan. Caranya, furodan disebar secukupnya pada media semai.
Benih yang sudah ditaburkan kemudian ditutup dengan tanah kering halus. Setelah
itu benih ditutup lagi dengan plastik hitam atau plastik transparan, tetapi di
atas plastik ditutup lagi dengan daun pisang.
VI
“POIN keempat adalah pemeliharaan pembibitan. Dimulai dari
penyiraman, penyiangan, pemupukan dan pengendalian hama/penyakit,” jelas
Sadikin.
Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore
hari dengan air bersih menggunakan sprayer. Sedangkan penyiangan harus
dilakukan secara hati-hati dengan cara mencabut supaya akar tanaman tidak
terganggu.
Adapun pemupukan, pupuk yang diberikan adalah urea atau NPK
yang dilarutkan dalam air dengan dosis 1-2 gram per liter air, kemudian
disiramkan.
“Pemupukan dilakukan dua kali, yakni ketika tanaman telah
berumur 4 hari dan 8 hari setelah pemindahan,” jelas Salihin.
Bagaimana dengan pengendalian hama dan penyakit?
“Dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati, seperti daun
papaya, dan sirsak, umbi gadung, min di,
nimba dan sebagainya, sesuai anjuran. Penyemperotannnya menggunakan sprayer,”
kata Sadikin.
Selanjutnya penanaman. Untuk penanaman, penjelasannya
meliputi medi tanam, cara penanaman dan tata letak penanaman. Media tanam harus
mengandung unsur-unsur hara yang sangat
dibutuhkan oleh tanaman. Harus mengandung unsur-unsur mineral dan organik.
Bila tanah berwarna gelap dan gembur, kita hanya perlu
memberikan pupuk tambahan pada saat penanaman. “Apabila tanah berwarna agak
terang, pucat dan padat, kita perlu memberikan pupuk organik (pupuk kandang
atau kompos) dan pupuk kimia (TSP, KCI dan Urea) secara berimbang,” terang
Salihin.
Khusus pada lahan sempit, lanjut Sadikin, penanaman dalam
pot dan vertikultur dapat menjadi alternatif. Yang perlu dilakukan adalah
memilih pot yang sesuai dengan karakteristik tanaman dan ukuran; porositas pot
perlu diperhatikan.
“Media tanam terdiri atas tanah, pupuk kandang atau kompos,
dan sekam padi dengan perbandingan 1;1:0,25. Bahan tersebut sudah dibersihkan
dari kotoran sehingga bahannya benar-benar utuh,” jelas Salihin.
Setelah itu dimasukkan ke dalam pot polybag, talang air,
bambu yang dibuat secara bertingkat, atau bahan bekas lainnya. “Bibit dengan
media tanam daun pisang dapat langsung ditanam, sedangkan yang lainnya harus
dilepas dahulu,” tandas Sadikin.
Penanaman secara vertikultur dapat dilakukan tergantung dari
jenis tanaman apa yang akan ditanam. Secara garis besar ada dua macam sistem
penanaman yang dapat digunakan:
Pertama, penanaman benih langsung, seperti kangkung, bayam,
kacang panjang dan kecipir.
Kedua, disemai terlebih dahulu, kemudian dipindahkan ke
media bumbunan/bekongan, lalu ditanam, seperti cabai, selada, sawi, tomat dan
terong. Semua tanaman memerlukan perawatan
yang baik agar menghasilkan panen yang maksimal.
Penanaman yang baik dilakukan pada sore hari. Selain itu,
media tanamannya dicampur dengan pupuk kandang atau kompos. Pemupukan dilakukan
pada saat tanaman berumur 7 hari setelah tanam. Selanjunya dilakukan satu
minggu sekali.
“Pemupukan bertujuan untuk memberikan suplai unsur hara
tambahan pada tanaman. Sebaiknya bahan pupuk yang digunakan bersifat organik,
misalnya: pupuk organik cair, kompos dan pupuk kandang,” ungkap Sadikin.
Bagaimana dengan tata letak tanaman?
Pada prinsipnya, kata Salihin, semua tanaman memerlukan
sinar matahari yang cukup. Oleh karena tu, tempatkan jenis-jenis yang berukuran
kecl mulai dari bagian timur dan tempatkan jenis tanaman yang berukuran besar,
seperti buah-buahan di bagian barat.
“Hal ini dimaksudkan agar jenis tanamn yang besar tidak
menaungi /menghalangi sinar matahari
terhadap tanaman yang kecil, jelas Salihin.
Demikian pula, kerapatan dan populasi tanaman perlu
diperhatikan karena memengaruhi efisiensi peng gunaan cahaya matahari serta
persaingan antartanaman dalam menggunakan air dan unsur hara.
“Aturlah tata letak sedimikian rupa yang disesuaikan dengan
kondisi lingkungan, misalnya saja, jangan sampai sampai menghalangi jalan
masuk, menghalangi pandangan, dan sebagainya,”
urai keduanya.
VII
MODEL yang kedua adalah budidaya tanaman di bedengan.
Pengolahan tanahnya, kata Sadikin, dilaku kan dengan cara mencangkul supaya
tanah menjadi gembur. Setelah itu, dibuat bedengan berukuran lebar satu meter
dan panjang tergantung kondisi lahan.
Tinggi bedengan sekitar 25-30 centimeter dan jarak antara
bedengan 50-70 centimeter. Kemudian, buatlah saluran keliling agar ketika hujan
air tidak menggenang. Bila tanah masam dengan pH 5,5 perlu diberi kapur
dolomite 1-2 kg/10 m2 dua minggu sebelum tanam.
Lepas itu, diberi pupuk kandang 20 kg/10 m2 dan sekam padi 6
kg/m2 satu minggu sebelum tanam. Tanah, pupuk kandang dan sekam padi diaduk di
atas bedengan secara merata.
Pupuk organik seperti pupuk tunggal urea, SP-36 dan KCL,
atau pupuk majemuk seperti NPK Mutiara, Phonska, diberikan sesuai dosis yang
dianjurkan dari masing-masing komoditas sekitar 3-4 hari sebelum tanam.
“Sebelum pemasangan mulsa, bedengan disirami terlebih
dahulu, kemudian ditutup dengan mulsa. Pemasangan mulsa plastik hitam perak dilakukan
pada siang hari,” ujar Salihin.
Apa manfaat mulsa?
“Untuk menjaga kelembaban tanah, mengurang pertumbuhan
gulma, mengurangi pembumbunan saat musim hujan dan permukaan plastik yang putih
dapat mengendalikan hama,” terang Salihin.
Pelubangan mulsa dilakukan dengan menggunakan kaleng bekas
yang dipanaskan terlebih dahulu atau diisi dengan bara api, lalu ditempelkan ke
mulsa sesuai dengan jarak tanam dari masing-masing komoditas.
“Pelubangan dilakukan 1-2 hari sebelum tanam, sesuai jarak
tanam masing-masing komoditas,” jelas Salihin.
Bagaimana dengan penanaman?
Sebelum penanaman sebaiknya lahan disirami terlebih dahulu.
Bibit yang sudah dipersiapkandi kebun bibit desa langsung ditanam di bedengan.
Bibit dengan bumbunan daun dapat langsung ditanam, sedangkan bibit dengan
bumbunan plastik harus dilepas terlebih dahulu.
“Penanaman dilakukan pada sore hari agar tanaman tidak layu
terkena terik matahari pada siang hari dan sudah cukup kuat untuk menerima
sinar matahari pada hari berikutnya,” kata Sadikin.
Selanjutnya, kata Sadikin, pemeliharaan tanaman. Kegiatannya
antara lain dengan penyiraman, pe nyulaman, penyiangan, pemupukan susulan serta
pengendalian hama dan penyakit, pemangkasan tunas, pemasangan ajir dan lain
sebagainya.
“Penyulaman dilakukan
apabila ada tanaman yang mati atau rusak. Penyulaman sebaiknya jangan dilakukan
terlalu lama. Usahakan tidak lebih dari satu minggu agar pertumbuhan tanaman
relative seragam,” tandas Sadikin.
Penyiangan dilakukan dengan membersihkan media tanam dari
rumput-rumput liar. Hal ini bertujuan untuk mencegah persaingan dalam
penyerapan unsure hara dari dalam tanah.
“Selain untuk kebersihan dan keindahan, sisa-sisa tanaman
dan rumput sebaiknya dipendam dalam tanah karena dapat meningkatkan kesuburan
tanah. Penyiangan gulma dilakukan 3-4 kali atau sesuai kondisi gulma di
lapangan,” terang Salihin.
Pemberian air dengan cara penyiraman secara kontinyu
sangatlah penting, terutama pada tanaman yang berumur muda atau baru tumbuh.
Selanjutnya, aktivitas penyiraman dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan
lahan pekarangan apakah kering atau basah (lembab). Salah satu upaya untuk
mempertahankan ketersediaan air adalah dengan membuat kolam.
Penyiraman dilakukan
pada pagi dan sore hari menggunakan air bersih. Bila terjadi hujan, penyiraman
juga dilakukan guna menghilangkan kotoran yang melekat pada tanaman.
“Pemupukan susulan pada tanaman di bedengan yang diberi mulsa
plastik, perlu mendapat perhatian. Pupuk dicairkan terlebih dahulu, baik pupuk
NPK maupun pupuk kandang atau kompos. Takaran pupuk NPK diberikan sebanyak 1-2
sendok makan,” ujar Salihin.
“Takaran 1-2 sendok makan itu diaduk dengan lima liter air.
Campuran ini diberikan satu minggu sekali dengan takaran sesuai dosis anjuran.
Pupuk diberikan setiap 7-10 hari sekali,” ungkap Sadikin.
Sedangkan pada bedengan tanpa mulsa plastik, diberikan pupuk
tunggal seperti urea, SP-36, KCL atau pupuk majemuk, seperti NPK yang
disesuaikan pada setiap tanaman dengan dosis anjuran.
“Pemangkasan pada cabang-cabang yang tidak produktif atau
daun-daun yang sudah harus dilakukan.
Pemasangan ajir dilakukan pada tanaman yang merambat, sperti kacang pajang,
buncis dan kecipir. Ajir digunakan untuk
menyanggah tanaman agar tidak rebah.”
Pengendalian hama/penyakit tanaman dapat dilakukan secara
terpadu dengan komponen berikut: varietas unggul, sehat dan bebas
hama/penyakit, musuh alami, secara manual dengan tangan manusia, rotasi
tanaman, tumpangsari, perangkap serangga dan pestisida alami.
“Pengendalian hama/penyakit lebih mudah dilakukan dalam
kegiatan pemanfaatan pekarangan dengan system vertikultur. Pada tanaman dalam
pot, kemungkinan penularan penyakit melalui akar jarang terjadi karena akar
dibatasi oleh pot. Pada lahan pekarangan yang sempit, kita bisa mengendalikan
hama dan penyakit secara manual sehingga penggunaan bahan kimia dapat
dikurangi,” papar Salihin.
Terakhir adalah pemanenan. Menurut Salihin, sebelum
melakukan pemanenan, perlu diketahui terlebih dahulu tujuannya, apakah untuk
konsumsi sendiri atau untuk dijual dalam jangka waktu tertentu.
“Jika untuk dikonsumsi sendiri, panen dilakukan pada saat
sayuran atau buah-buahan masak optimal. Apabila panen dilakukan untuk
kepentingan pasar, panen dilakukan setengah masak agar tidak gampang mengalami
kerusakan.”
Sayuran dapat dipetik daunnya pada umur 35-40 hari.
Pemanenan dapat dilakukan dengan selang 3-4 hari. Sedangkan bayam cabut dan
kangkung darat dipanen dengan cara mencabut tanaman beserta akarnya.
Jenis sayuran seperti kol, sawi dan selada dipanen umur 2-3
bulan. Kacang-kacangan dipanen dengan melihat kondisi polong kacangnya. Cake
dan tomat dapat dipanen umur 40-50 hari setelah tanam. Labu Siam dipanen antara 3-5 bulan setelah
tanam. Ada beberapa jenis tanaman yang
dapat dipanen lebih dari satu kali, terutama bila pemeliharaannya baik.
VIII
“SEKARANG anak-anak kita belajar salat,” kata Sri Hapsari.
Dia meminta salah seorang siswa bernama Maskur untuk maju ke depan,
mempraktikkan bagaimana cara yang benar menunaikan salat lima waktu, berikut
bacaannya.
“Kur. Yang benar berdirinya ya,” Sri menegurnya setelah
Maskur berdiri seenaknya. Berdiri letoy, kaki renggang tidak lurus, tangan
digoyang-goyang.
“Mau nyanyi Bu Guru?”
Seloroh Murni.
“Nyanyi dangdut agar cepat gendut,” sahut Leni ketawa geli.
Sri Hapsari mendekati Maskur.
“Coba yang benar, Kur.”
“Baik, Bu.”
Maskur berdiri betul, kedua tangan lurus ke bawah, juga kaki
menghadap kiblat dengan niat salat. Niat salat menurut dan disesuaikan dengan
salat yang sedang dikerjakan. Misalnya, salat zuhur dan sebagainya.
“Ibu contohkan ya. Kalau kita salat zuhur, maka niatnya
adalah … “Ushalli dardhazzuhri arba’a raka’atin
mustaqbilal qiblata adaa’an lillaahi ta’aala. Artinya: “Saya
sa;at zuhur empat rakaat, menghadap kiblat pada waktunya, karena Allah Ta’ala,”
terang Bu Sri.
Siswa mencatat yang tertulis di papan tulis.
“Nanti saja mencatatnya ya anak-anak …”
“Ya Bu …”
“Sekarang perhatikan ke depan …”
Siswa tekun menyimak.
“Bagaimana kalau magrib? Sama juga. Yang membedakannya
dengan zuhur. Kalau zuhur empat rakaat, magrib cuma tiga. Jadi niatnya diganti
sedikit saja. Begini … “Ushalli fardhal
maghribi tsalaatsa raka’atin mustabilal qiblati adaa’an lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya salat magrib tiga rakaat menghadap ke kiblat pada waktunya
karena Allah ta’aala.”
“Jadi,” lanjut Sri, “Kalian mengangkat kedua tangan sejajar
dengan telinga dan membaca takbiratul ih
ram … Alllahu Akbar …” Jelas Bu Sri. Dia meminta Maskur menggangkat kedua
tangan sambil membaca Allahu Akbar …
“Allahu Akbar,” ucap Maskur. Tangan itu kemudian diletakkan
di bawah dada di atas pusar dengan tangan kanan di atas tangan kiri dengan
bersedekap.
“Lalu kita baca doa iftitah berikut ini …”Sri meminta Maskur
mengikuti bacaan doa iftitah, diikuti
siswa yang lain …”Allahu akbar kabiiraw walhamdulillaahi katsiira, wa
subhaanallaahi bukrataw waashiiila. Inni
wajjahtu wajhiya lilladz fatharassamaawaati wal ardhi.
Haniifan muslima wama anaa minal
musyrikin. Inna shalati wa nusuki wamahyaaya wamamaati lillaahi rabbil
‘aalamin. La syarika lahu wa bidzalika umirtu wa anaa minal muslimin …”
Setelah tu, kata Bu Sri
yang tetap meminta Maskur bersedekap, “Kita membaca surah Al-Fatihah. Tahu surah Al-Fatihah
anak-anak?”
“Tahuuuu …”
“Hapal tidak?”
Siswa saling berbisik.
“Maskur, hapal tidak?”
“Separo cuma Bu,” jawabnya.
Ha ha ha ha …
“Ya sudah. Nanti dihapalkan di rumah ya.”
“Ya Bu …”
“Kalian juga ya.
Besok atau lusa harus sudah hapal.”
“Ya Bu Guruuuu,” jawab siswa serentak.
“Kalau belum kenapa Bu?”Tanya Bagus.
“Tegakkan saja Bu Guru di depan kelas,” sahut Yeni.
“Betul Bu. Bila perlu
dijemur sana. Di luar masjid,” kata yang siswa lain.
“Kalau belum ya dihapal lagi. Pokoknya sampai hapal. Mau kan
menghapal?”
“Mauuu,” jawab siswa serempak.
“Kita lanjutkan lagi,” ucap Sri setelah siswanya tak berisik lagi, “Setelah membaca
surah Al-Fatihah pada rakaat pertama tadi, kita disunatkan membaca surat atau
ayat-ayat suci Al-Quran, misalnya surah Al-Ikhlash …”
Bu Sri mengambil nafas sebentar.
“Ikuti bacaan ibu ya anak-anak … Bismillahirrahmanirrahim.
Qul huwallahu ahad, allahush shamad, lam yalid walam yuulad, walam yakullahuku
fuwan ahad …”
Selesai membaca surah Al-Ikhlash, lalu kita melakukan ruku’
yakni membungkukkan badan sejajar dengan kepala dengan kedua tangan memegang
lutut sambil membaca … “Subhaana rabbiyal adzhiimi wa bihamdihi” sebanyak tiga
kali. Apa artinya? “Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dengan puji-pujian-Nya.”
Berikutnya I’tidal.
“Apa itu I’tidal? I’tidal adalah mengangkat kedua tangan ke
atas setinggi telinga seraya membaca: “Sami’allaahu liman hamidah.” Setelah
tangan diturunkan dan kita berdiri tegak, terus membaca …” “Rabbana lakal hamdu
mil-ussamaawaati wal ardhi wa mil-u ma syi’ta min syai-in ba’du …”
IX
SELANJUTNYA, kata Bu Sri Hapsari, kita membaca ‘Allahu
Akbar’, lalu melakukan sujud seraya membaca … “Suhbaana robbiyal a’laa
wabihamdi …” sebanyak tiga kali. “Artinya kurang lebih begini … Maha Suci Tuhan
serta memujilah aku kepadanya,” terang Bu Sri, merasa senang melihat kesepuluh
siswanya bersemangat dalam belajar salat
dengan baik dan benar.
“Kita lanjutkan lagi ya anak-anak,” kata Bu Sri, “Setelah
sujud dan kita baca subhaana dan seterusnya tadi itu .. kita duduk. Duduk
antara dua sujud namanya,” ujar Bu Sri.
Mempersilakan Maskur mempera gakan duduk antara dua sujud. Mulanya susah
menekuk kaki. Tapi setelah dibimbing Bu Sri, dia pun akhirnya bisa, walaupun
sempat meringis menahan rasa sakit.
“Bacaannya anak-anak. Coba dengar dan ikuti ibu ya. Sama-sama
… Robbigh firli war hamnii wajburni warfa’nii
warzukni wahnini wa’afini wa’fuannii … Ya Allah, ampunilah aku, belas
kasihanilah aku dan cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajatku dan
berilah rezeki kepadaku dan berilah aku petunjuk. Berilah aku kesehatan dan
berilah ampun kepadaku …”
“Nah, anak-anakku. Ibu ulangi lagi ya. Doa ini dibaca setelah kita membaca ‘Allahu
Akbar’, bangun dari sujud kemudian duduk,” terang Bu Sri Hapsari.
“Sampai di sini ada pertanyaan anak-anakku?”
“Belum Bu,” jawab Siswa.
“Nanti saja Bu. Kapan-kapan,” sahut Nabila kemudian.
“Benar nanti?”
“Benar Bu Guru …”
“Baiklah, sekarang kita lanjutkan kembali. Yaitu sujud yang
kedua. Jadi, setelah kita membaca ‘Allahu Akbar’, lalu sujud, dan bacaannya
sama seperti sujud yang pertama. Sekarang Nabila, ibu tanya ya, apa bacaan
waktu sujud?”
“Subhaana robiyyal
a’laa wa bihamdihi sebanyak tiga kali Bu Guru,” jawab Nabila.
“Betul sekali Nabila,” ucap Bu Sri, “Setelah itu baru kita
duduk lagi. Namanya duduk tasyahud/tahiyat awal. Duduk ini anak-anak dilakukan
pada rakaat yang kedua. Caranya telapak kaki kanan tegak dan telapak kaki kiri
diduduki sambil membaca tasyahud awal …”
Bu Sri minum sebentar.
Kemudian melanjutkan kembali penjelasannya tentang tasyahud
awal. “Apa bacaannya? Ikuti ibu anak-anak … “Atthiyatul mubarokatuhsh
shalawaatuh thayybaatulillaah .. assala mu’alaika ayyuhan nabiyyu
warahmatullaahi wabarokaatuh … assalamu ‘alaina wa’ala ibaadil laahish
shaalihin… asyhadu anlaa ilaaha illallah, wasyahadu anna muhammadan rasululullah,
allahumma shalli ‘alaa sayyidina muhammad wa ‘alaa aaa-li muhammad… “
Meski tertatih-tatih, Bu Sri lega karena bacaan yang siswa didiknya tirukan sudah benar. Tinggal
lagi penghafalannya. Dengan rajinnya mereka salat, bacaan yang menyertai salat
akan fasih dengan sendiri nya karena ada kewajiban untuk hafal dan benar dalam
pengucapannya.
“Dengarkan ya anak-anak artinya …”Segala kehormatan,
keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah. Salam, rahmat dan berkah-Nya
kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhamamd). Salam (keselamatan) semoga tetap
untuk kami seluruh hamba yang saleh-saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan
melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya
Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad beserta keluarganya …”
Karena para siswa sudah mulai letih, terutama Maskur yang
kelihatan capek memperagakan tata cara dan bacaan dalam salat, Bu Sri
menawarkan kepada siswanya, apa harus diteruskan sore hari ini juga atau
dilanjutkan lusa.
“Sudah kepalang basah, Bu.” Teriak beberapa siswa.
“Kan sebentar lagi habis salatnya. Habisi sajalah Bu,” kata
Yandi.
Siswa bersemangat, siswinya melempem.
“Bagaimana yang perempuannya, kenapa diam saja?” Pancing Bu
Sri.
“Lapar Bu,” sahut Andi.
“Benar nak lapar?”
“Enggak Bu,” jawab Leni dan Murni.
“Kenapa enggak ada yang pada ngomong ya. Apa …?”
“Enggak Bu. Cuma …” Murni enggan melanjutkan kata-katanya.
Bu Sri berpikir sebentar. Dia tidak mengajukan pertanyaan
lagi kepada siswanya. Dia coba menebak, lalu ketawa geli …
“Maafkan ibu ya anak-anak. Hampir lupa …”Ujar Bu Sri
ragu-ragu.
“Kur .. Tabuh beduk dan Bagus, kamu azan ya!”
“Baik Bu …”
Setelah menunaikan salat ashar berjamaah yang diimami Pak
Erte, yang secara khusus datang melihat dari dekat proses kegiatan belajar
mengajar siswa Taman Pendidikan Nurul Falah, cara dan peragaan salat lima waktu
dilanjutkan kembali.
Sebelum dimulai dan pamitan pergi, Pak Erte berpesan kepada
siswa Nurul Falah, agar tak sungkan untuk belajar, menimba ilmu pengetahuan.
“Mumpung masih muda. Belajarlah yang baik. Tanya kalau ada
yang kurang dan belum mengerti, atau ragu. Jangan malu bertanya, karena malu
bertanya akan tersesat di jalan, itu kata pepatah ..” Jelas Pak Erte.
“Jangan seperti bapak ini. Sudah keburu tua baru belajar
mengaji …”
Ha ha ha ha …
“Bapak sebenarnya malu sama kalian. Masih kecil sudah bisa
baca juz amma. Bapak dulu, alif saja enggak tahu …”
Hi hi hi hi …
“Tahunya dari orangtua, kalau alif itu tinggi lurus kayak
tiang listrik. Nah, kalau bengkok bawahnya namanya huruf lam …”
He he he he …
“Lah, kalau bengkok kepalanya, huruf apa ya?” Tanya Pak
Erte, lupa-lupa ingat.
“Waw Pak Erte …” Jawab siswa serentak.
Hu hu hu hu …
Pak Erte akhirnya ketawa juga. Ketawanya belum hilang juga
setelah meninggalkan kelas belajar menuju pintu utama masjid Nurul Falah.
“Baiklah anak-anak … Kita lanjutkan kembali ya
pelajarannya,” ucap Bu Sri. Setelah Maskur tampil ke depan, siap memperagakan
tata cara salat yang baik dan benar, barulah Bu Sri memulai pelajarannya.
“Sekarang kita memasuki tasyahud akhir. Cara duduknya: kaki
kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan, jari-jari tetap menginjak tanah, sambil
membaca seperti pada bacaan tasyahud awal ditambah salawat atas Nabi Muhammad
SAW, dan salawat pada Nabi Ibrahim
beserta keluarganya.”
Bacaannya?
“Ikuti ibu ya anak-anak … “Wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad,
kama shallaita ‘ala sayyidina ibrahiima wa ‘alaa aali sayyidina ibrahiima wa baarik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala
aali sayyidina Muhammad kamaa baarokta ‘alaa sayyidina ibraahiima wa ‘alaa aali
sayyidina ibraahiiima fil ‘alamiina innaka hamiidm majidd …”
Artinya … “Ya Allah! Limpahkanlah rahat atas keluarga Nabi Muhammad,
sebagaimana pernah Engkau beri rahmat
kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad
beserta para keluarganya, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim
dan keluarganya. Di seluruh alam, Engkau lah yang terpuji dan Maha Mulia.”
Setelah membaca tahiyat akhir, lanjut Bu Sri, kita kemudian
membaca salam dengan menoleh ke kanan
dan kiri … “Yang kita baca … assalamu’alaikum wa rohmatullaahi wabarokaatuh …”
“Terakhir …”
Bu Sri Hapsari tersenyum mendengar komentar siswanya … ‘waa
.. terakhir lagi.”
“Kapan selesainya?” Ujar siswa laki-laki dan perempuan.
“Sedikit lagi. Ibu jamin, setelah ini kita selesai ya …”
Siswa pun menurut.
“Salah satu doa yang bisa kalian baca setelah salat adalah
sebagai berikut … “Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi robbil alamin.
Washshalaatu wassalamu ‘ala asyrofil anbiyaa-I wal mursalin. Sayyidina wa
maulaana muhammadin wa ala aalihi wa shahbihi wattaabi’iin …”
“Allahumma inni asaluka ridhaaka wal jannata wa audzuubika
min sakhaghika wannaaar. Allahumma inni
asaluka fi’lal khairaati wa tarkal munkarooti fahdinii lishaalihil a’maali wal
akhlaaqi innahu laa yahdii lishaalihiha wala yashririfu ‘an sayyi-iha ilal anta
…”
“Allahumma fighli waliwaa lidayya warham huma kamaa robbayaani shaghiiraa. Allahumma fighlil muslimiina wal
muslimaatil ahyaa-I minhum wal amwaat …”
“Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an, wa ‘amalan
shaalihan, wa rizqan halaalan wa khairan katsiira wa syarron ba’iida
birohmatika ya arhamar raahimiin …”
“Rob banaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhiraati
hasanah, wa qina ‘adzaaban naar. Washal lallaahu ‘ala sayyidina muhammadin wa
ala ‘aalihi washahbihi ajma’iin, wal hamdulillaahi robbil ‘alamiin …”
“Artinya … Segala pujian itu bagi Allah yang menguasai sekalian
alam, salawat dan salam kepada semulia-mulia Nabi dan Rasul yaitu penghulu kami
Nabi Muhammad dan kepada keluarganya …”
“Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada Engkau keridhaan Engkau
dan surga. Dan aku berlindung ke pada Engkau dari kemurkaan Engkau dan api neraka.
Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada Engkau
perbuatan yang baik (kebajikan) dan tinggalkan segala kejahatan, maka
tunjukilah kepadaku segala amal yang saleh
dan akhlak (budi pekerti) yang baik, bahwasanya tidak ada yang menunjuki
bagi yang baik dan tidak ada yang melepaskan (menjauhkan) pada yang jahat
melainkan Engkau …”
“Ya Allah, ampunilah aku dan bagi ibu bapakku, dan
kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah memelihara aku ketika masih
kecil. Ya Allah, ampunilah sekalian dosa orang muslim laki-laki dan perempuan
yang hidup di antara mereka itu ataupun yang telah mati …”
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada Engkau ilmu yang
bermanfaat dan amal yang saleh serta rezeki yang halal dan kebajikan yang
banyak, juga kejahatan yang jauh dengan rahmat Engkau ya Allah yang amat
mengasihani …”
“Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akherat serta peliharalah kami dari azab (siksa) api neraka. Mudah-mudahan
Allah memberi rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan
sahabatnya, dan segala puji bagi Allah yang menguasai alam semesta …”
X
MINGGU sore. Di kediaman Bu Erte. Bersama ibu-ibu PKK
Kampung Falah, Sri Hapsari memberikan pe latihan kepada ibu-ibu dan remaja
puteri. Ternyata mendapat sambutan hangat. Bukan cuma materi pe latihan yang lain dari yang lain, tapi pertemuan
dengan tatap muka langsung seperti ini sudah jarang dilakukan.
Tidaklah mengherankan jika kemudian kaum ibu yang datang
tampil habis-habisan. Ada yang pakai be dak tebal, sanggul lebar penghias
kepala, bahkan juga ada yang mengenakan jilbab dan kebaya penuh warna. Belum
lagi wewangian yang sengaja dibeli dari kota. Mereka tampak ceria, senang bisa
bersua dengan sesama, satu sama lainnya. Menanyakan kabar, terutama kaum ibu
yang bertempat tinggal di kampung sebelah.
Bu Erte dan Sri Hapsari, keduanya sibuk menyambut warga yang
hadir silih berganti. Bersalam-salaman, cium pipi kiri dan kanan, dan setelah
itu menempati ruangan pertemuan yang
telah disediakan. Derai tawa menyesaki ruangan.
Acara dimulai setelah Bu Endah dan Bu Savitri tiba di kediaman Bu Erte,
dilan jutkan berkumpul dengan para ibu lainnya.
“Nah, ibu-ibu sekalian. Sore hari ini kita kedatangan dua
orng ibu yang cantik dan anggun ini dari kota. Kedatangan keduanya kemari unuk
melatih kita membuat kreasi hantaran pengantin …”
Bu Endah dan Bu Savitri mengembangkan senyum manisnya.
Keduanya seolah hendak berkata, “Terima kasih ibu-ibu atas penyambutannya …
Kami baik-baik saja.”
“Saya perkenalkan terlebih dulu ya,” kata Bu Erte, “Di
sebelah kiri saya ini namanya Bu Endah.” Bu Erte mempersilakan Bu Endah
berdiri, sebentar, lalu kembali duduk.
“Orangnya cantik dan langsing,” puji Bu Erte, disambut tawa
para ibu yang sebagian besar berbadan gemuk dan besar serta berperut buncit.
“Kalau pengen langsing, ibu-ibu boleh tanya Bu Endah,” goda
Bu Erte. Godaan ini disambut serius oleh para ibu dan remaja puteri.
“Boleh kami belajar Bu?” Tanya seorang ibu berperawakan
gemuk pendek berkulit putih bersih.
“Boleh saja,” jawab Bu Endah.
“Boleh tahu rahasianya Bu?” Sahut yang lain.
“Boleh saja,” ucap Bu Endah tersipu tapi tidak malu.
“Apa rahasianya Bu, kalau kami boleh tahu?” Gantian Bu Erte
yang bertanya mewakili para ibu yang hadir dalam majelis pertemuan itu.
“Mudah Bu,” jawab Bu Endah. “Jangan banyak makan dan jangan
banyak duduk …”
Hua ha ha ha …
He he he he …
“Tak bisa saya Bu Endah,” kata seorang ibu yang memang doyan
makan dan doyan duduk.
“Kalau tak bisa enggak apa-apa. Rajin-rajin saja olah raga
di pagi hari,” jelas Bu Endah. Disambut tepuk tangan para ibu. Karena jawaban
barusan melegakan mereka. Lebih melegakan lagi karena gampang dilakukan …
“Enggak jalan, ya lari, atau jogging ya Bu Endah,” kata Bu
Erte.
Bu Endah mengangguk.
“Itulah rahasianya ibu-ibu. Paham kan?”
“Pahaaaam …”
“Terima kasih ibu-ibu. Nah, berikutnya saya akan perkenalkan
ibu satunya lagi. Siapa dia? Beliau adalah Bu Savitri …”
Ibu-ibu pada melongo melihat betapa mancungnya hidung Bu
Savitri.
“Silakan berdiri Bu Savitri,” ujar Bu Erte. Tepuk tangan pun
kembali terdengar. Bertambah ramai suasa nanya. Gerah mulai terasa. Para ibu
tampak mengipas-ngipas mukanya dengan sapu tangan dan kipas kecil yang
disediakan tuan rumah.
“Silakan Bu Savitri duduk kembali.” Buru-buru Bi Erte
mengingatkan tamu istemewanya itu lantaran terlalu meladeni guyonan sebagian
ibu yang terpesona dengan hidungnya yang amat mancung itu.
Setelah suasananya tenang kembali, Bu Endah dan Bu Savitri
mulai menjelaskan maksud kedatangan mereka berdua ke Kampung Falah. “Kami suka
kampung ini karena warganya ramah-ramah,” puji Bu Endah tanpa basa-basi.
Para ibu pun tersenyum sambil berbisik dan mengacungkan ibu
jari jempol.
“Kami ingin berbagi pengalaman kepada para ibu, dari apa
yang kami baca dan praktikkan. Walau tak seberapa, moga-moga ada manfaatnya,”
terang Bu Savitri.
“Kita mulai dengan membuat kreasi pembungkus kitab suci
Alquranulkarim,” jelas Bu Endah. Dengan cekatan ia meletakkan gunting dan
pistol lilin.
“Ini antara lain alat-alatnya ya Bu,” kata Bu Savitri sambil
menggerakkan jari telunjuknya ke gunting
dan pistol lilin.
“Sedangkan bahan-bahannya adalah,” lanjut Bu Endah, “Kitab
suci, kain emas, perak atau satin, renda, busa lapis, lem lilin dan tali kur …”
“Bisa dimengerti penjelasannya ibu-ibu ya,” kata Bu Endah.
“Bisa dimengertiiiii …” Jawab ibu-ibu yang tampak
bersemangat mendengarkan penjelasan kedua wanita yang masih muda usia itu.
“Bagaimana cara membuatnya?”
“Ya, bagaimana Bu? Mudahkah atau sulit?” Tanya ibu muda
bertahi lalat di dekat lubang hidung sebelah kanan.
“Mudah sekali ibu-ibu cara membuatnya. Perhatikan ya ...,”
kata Bu Endah. “Pertama-tama kita ukur du lu berapa panjang, lebar dan tebalnya
Alquran. Setelah itu baru kita potong busa lapis dengan ukuran yang sama dengan
Alquran. Lalu, tempelkan pada permukaan sampul Alquran, kita mulai pada sampul
bagian dalam …”
Bu Savitri menambahkan, “Setelah itu kita tempelkan kain
emas, perak atau satin di atas busa lapis. Agar kain tampak rapi dan melekat
kuat, lebihkan potonga kain bagian tepi sekitar dua centimeter. Lalu lipat dan
lekatkan ke bagian dalam sampul Alquran …”
Terakhir, kata Bu Endah, “Hiasi bagian tepi Alquran dengan
renda atau tali kur. Selesai ….”
Para ibu terdiam.
“Gampang kan Bu?”
“Gampang sekali,” jawab Bu Erte.
Berikutnya, ujar Bu Endah, “Kita membuat kreasi kutang …”
Ha ha ha ha …
“Kutang ya Bu?” Kata ibu bermata sayu.
“Betul sekali,” jawab Bu Endah.
“Dengan kreasi yang kita bikin ini, kutang yang ibu kenakan
kelak lebih siiip …”
“Bagaimana dengan ibu yang tak pakai kutang, Bu?” Tanya
remaja putri berkening lebar.
“Ngelendot …” Teriak ibu yang lain.
Ha ha ha ha …
“Apa yang ngelendot Bu?” Bu Erte ikut pula tertawa.
“Gunungnya Bu Erte,” sahut ibu berkebaya serba putih.
“Gunung apa Bu?”
“Gunung es …”
He he he he …
Pertama-tama kita siapkan terlebih dahulu jarum pentul, jarum
biasa dan gunting. Kemudian kutang tanpa busa atau berbusa tipis, double tip,
mata boneka, karet dan benang,” ujar Bu Endah.
Cara membuatnya?
“Mudah saja ibu-ibu,” jelas ibu Endah.
Para ibu tertawa.
“Mudah gimana toh Bu. Wong aja jarang pakai kutang,” seloroh
ibu bertubuh kurus.
Ha ha ha ha …
“Terus ya Bu,” jelas Bu Endah, “Masukkan kedua tali kutang
pada bagian tengahnya. Lalu pertemukan kedua mangkuk kutang dan perkuat dengan
double tip atau jarum pentul.”
Selanjutnya mangkuk kutang kita lipat menjadi dua bagian,
perkuat dengan karet, lalu jahit pada bagian sisi pertemuannya.
“Sisipkan celana dalam (bukan bagian yang berkaret) pada
salah satu ujung kutang. Lalu, perkuat dengan jarum pentul,” papar Bu Savitri.
“Terakhir,” sahut Bu Endah, “ tempelkan mata boneka di
bagian kanan dan kiri kutang sebagai kepala ikan … dan setelah itu …”
“Selesai,” jawab ibu-ibu serempak.
“Bukan Bu. Ini kutang dicobain. Cocok tidak …”
Hua ha ha ha …
“Kalau untuk si kurus kecil bisa Bu. Tapi kalau buat si
endut, harus dua Bu,” kata ibu bermata sipit.
“Dua apanya Bu?” Tanya Sri Hapsari.
“Kutangnya Bu Sri. Lho … badan gede, pasti gunungnya juga
gede. Betul kan ibu-ibu?”
“Bentuuuul … “
Hek hek hek hek …
“Masih ada lagi ibu-ibu rupanya,” sahut Bu Erte. “Benar kan
Bu Endah dan Bu Savitri?”
“Benar Bu Erte,” jawab keduanya.
“Apa itu Bu Endah?” Sebagian besar ibu-ibu sudah tidak sabar
ingin melihatnya.”
“Ini Bu. Rok dalam …”
Walah … walah … walah …
“Rok luar enggak ada Bu?” Tanya ibu berkacamata plus-minus.
“Enggak ada Bu. Yang ada rok dalam,” terang Bu Endah.
“Lanjut Bu,” kata Bu Erte.
“Baiklah … pertama-tama kita siapkan peralatannya berupa
pensil, gunting, jarum pentul dan lilin … Kemudian bahan-bahannya yang
terdiri dari rok dalam, kertas koran,
karton tebal, mata boneka/kain flannel, kawat tipis, renda, pita emas dan lem
lilin.
Para ibu serempak mengelilingi Bu Endah dan Bu Savitri.
Mereka rupanya ingin sekali mengetahui ba gaimana bentuk rok dalam yang
berkreasikan capung. Mudahkah atau justru sulit?
“Cara membuatnya gampang ibu-ibu. Jadi, pertama-tama kita
gambar empat buah pola sayap di atas kertas karton tebal yang ukurannya disesuaikan dengan besarnya
rok dalam,” terang Bu Savitri.
“Setelah itu kita gunting pola dan masukkan ke dalam rok
dalam sampai membentuk sepasang sayap. Lalu ikat dengan karet gelang,” jelas Bu
Endah.
“Terus gimana lagi Bu?” Tanya Bu Sri yang ikut menyaksikan
dari dekat proses pembuatan kreasi rok
dalam.
“Begini Bu,” terang Bu Endah, “Isi sisa kain bagian tengah
dengan kertas koran untuk membentuk bagian badan capung …”
“Terus … terus …” ucap ibu-ibu yang duduk di deretan paling
belakang.
“Lekatkan pertemuan bagian badan dengan sayap menggunakan
jarum pentul. Lalu, tentukan bagian wajahnya. Pasang mata dan kumis capung.
Kumis capung dapat dibuat dari kawat yang telah dililit dengan pita emas …”
“Terakhir, “kata Bu Endah, “Hiasi badan capung dengan pita
bunga atau sesuai dengan kreasi ibu-ibu
sekalian …”
Bagaimana?
(Bersambung ….)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar