Novel Lepas
Kampung Kami (2)
(Edisi Kedua)
By Mang Amin
I
HUUUP …
Melompat tanpa bersuara dari atas pohon dua lelaki bertopeng
dan berpakaian serba hitam dengan pedang
di tangan ala Ninja, siang menjelang sore di hutan perbukitan.
Ki Saleh, seorang pemuda dari kampung nan jauh, menghentikan
langkahnya. Sorot matanya masih me mandang lurus ke depan. Tapi dengan mata
batinnya dia melihat dua lelaki tegap siap menyerangnya dari arah belakang.
“Maaf Ki sanak … Apa maksud kalian berdua hendak menyerang
saya?” Ki Saleh memutar badannya. Kini ia berhadapan langsung dengan dua lelaki
asing di depannya.
“Jangan banyak tanya,” kata keduanya serempak dengan nada
mengancam.
Hiyaaaat …
Kedua lelaki bertopeng itu pun menyerang secara bersamaan
dari arah kiri dan kanan. Ki Saleh menghin dar dengan melompat ke atas pohon,
lalu melompat lagi ke pohon yang lain. Setiap kali dia melompat, ranting
pepohonan yang ia injak hancur lebur terkena sabetan pedang.
Triiing … deep …
Sebuah pisau kecil nyaris mengenai kepala Ki Saleh. Menunduk
sedikit, itu pisau menancap di batang pe pohonan. Sampai
belasan pisau menancap di batang pohon yang kokoh besar itu.
“Sekali lagi saya tanya, kenapa Ki sanak ingin membunuh
saya?” Ki Saleh melompat dengan bersalto ke bawah pohon.
Dia ketawa lebar.
“Sebaiknya urungkanlah niat kalian berdua untuk membunuh
saya. Anda berdua bukan level saya. Masih ingusan,” ejek Ki Saleh.
“Kurang ajar …”
Hiyaaat …
Sambil koprol, dua lelaki yang sudah terpancing emosi itu
mengayunkan pedang ke arah Ki Saleh. Kedua nya yakin pria yang kini berdiri di
depannya ini bakal mampus dengan leher terputus. Sayang itu tidak terwujud.
Kenapa?
Karena saat mata pedang siap menebas habis kepala Ki Saleh,
yang bersangkutan dengan cepat menun dukkan kepalanya sambi memperagakan jurus
Kaki Memutar. Jurus ini berkekuatan dahsyat. Selain ten dangan memutar menyusur
tanah secepat kilat menyambar, juga meluluh-lantakkan apa saja yang ada di
sekitarnya.
Triiing … Guaaar …
Lawan terpental. Pedang pun jatuh. Kini sudah berpindah
tangan pada Ki Saleh.
“Gimana Ki sanak. Mau coba lagi?” Ki Saleh melemparkan
pedang itu ke dekat dua lelaki yang masih memendam amarah itu.
“Bangsaaat … Cuma segitu sudah sombongnya minta ampun,” kata
salah seorang dari keduanya, ber postur tubuh pendek.
“Rasakan jurus ini …”
Si Pendek dan si Tinggi bergantian melompat ke atas pohon.
Lalu menghilang. Tiba-tiba sudah berada di belakang Ki Saleh. Agak lengah,
tendangan geledek yang dilepaskan keduanya secara beruntun, membuat Ki Saleh jatuh tersungkur.
Untunglah Ki Saleh masih bisa menghindar dengan bergerak ke
kanan setelah kedua lawannya itu me ngarahkan mata pedang tepat ke dada dan
perut. Andaikata saja tidak cepat mengelak, Ki Saleh bakal tewas secara tragis
dan mengerikan.
Dari balik batu tempat dimana ia sembunyi saat ini, Ki Saleh
masih menunggu serangan berikutnya dari si Pendek dan si Tinggi. Keduanya
secara membabi buta melepaskan panas
beracun. Hanya beberapa sentimeter melintas di atas kepala lawan mereka, dengan gerak refleksnya berhasil menunduk sambil mundur beberapa langkah ke
belakang.
“Hai tengik. Keluarlah! Jangan jadi pengecut,” teriak si
Tinggi, teman si Pendek dengan nada tinggi dan penuh emosi.
Duuup … Praaak …
Sebuah batu mengenai belakang kepala si Pendek. Sakit
rasanya. Bukan hanya tajam dan runcing di depan, itu batu begitu cepat
datangnya, tepat saat lawan berusaha mendekati
semak perbukitan.
“Oi salah. Aku di sini.
Bukan disana.” Teriak Ki Saleh . Rumput panjang di sebelah kanan
bergerak-gerak.
“Itu dia … seraaang!” Ucap si Pendek. Sebuah anak panah
dilepaskan, mengenai rumput yang setelah
didekati ternyata menempel di tanah tempat tumbuh rerumputan.
“Kampret. Kena tipu kita,” ujar si Pendek kesal dan jengkel.
“Hei manusia tengik. Jangan terus-terusan sembunyilah.
Jangan suka menipu orang. Tak baik dan tak boleh dilakukan oleh petarung,”
sindir si Tinggi.
Craaash .. Kreceeet …
Sabetan pedang Ki
Saleh berhasil memutus tali celana si Tinggi.
Melorot hingga ke kaki. Karena kaget, si Tinggi berusaha menaikkan
celana itu. Keburu ditarik Ki Saleh dengan mata pedangnya.
Hua ha ha ha …
“Kolor lu bagus juga,” olok Ki Saleh .
“Kurang ajar. Dasar tak pernah diajar …”
Si Tinggi malunya minta ampun. Kendati tak ada seorang
wanita pun di sana, dilihat si Pendek saja dia sudah tak enak hati. Apalagi
sampai diolok-oloki Ki Saleh.
Tak terima rekannya
dipermalukan, si Pendek mengeluarkan jurus Sapu Jagat. Batu-batu pada pecah, rumput dan semak
belukar tercabut dari tanah. Jurus ini diawali
dengan tiupan angin kencang disertai percikan api yang keluar dari pukulan
tangan si Pendek.
Hua ha ha ha …
“Mampuslah kau kutu busuk,” ucap si Pendek yang ikut
membantu memakaikan celana rekannya, si Tinggi, sehingga sudah bisa bercelana
lagi.
Ha ha huhu ha ha huh u …
“Kalian berdualah yang kutu busuk,” balas Ki Saleh dari arah
belakang.
Keduanya serempak menoleh. Saat itulah Ki Saleh mengangkat
tinggi badan keduanya, lalu dilempar sekuat tenaga ke dekat pohon besar.
Gedebuk … Duuup …
Eeeegh …
Si Tinggi dan si Pendek, keduanya jatuh terguling dengan
kedua punggung membentur batang pohon. Mengerang kesakitan.
“Dek … tolooong.” Erang si Tinggi, meminta tangannya ditarik
agar bisa berdiri. Sayangnya, si Pendek tak bisa berbuat banyak. Seluruh
persendiannya tiba-tiba kaku, lemas dan tanpa daya. Jangankan menarik
tangan rekannya , menggerakkan kedua
kaki dan tangannya saja, dia tak kuasa.
“Maaf Ting. Bukan aku tak mau menolongmu. Tapi aku juga tak
bisa menggerakkan anggota badanku ….”
“Kenapa, apa kau lumpuh?”
“Tak tahulah aku. Badan terasa lemas dan mati daya,” aku si
Pendek. Hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini.
“Kita tak boleh begini terus, Dek. Kita harus kuat …”
Si Tinggi dengan semampu daya merapatkan badannya ke batang
pohon. Dia berusaha jongkok, dan itu bisa ia lakukan. Lalu, dengan kedua tangannya,
kanan menekan tanah, kiri memegang
batang pohon, di semangati si Pendek, bisa berdiri akhirnya.
Tapi masih harus bersandar di batang pohon. Nafasnya turun
nai tak teratur. Mengas. Sedangkan si Pendek merayap dekat kaki si Tinggi.
“Ting. Bantu aku berdiri …! Katanya penuh harap.
“Kau pegang saja celanaku,” kata si Tinggi.
“Nanti melorot lagi,” ujar si Pendek.
“Enggak,” kata si Tinggi. “Cobalah dulu .. pasti bisa.
Cepatlah …!”
“Oke …”
Hiiiip …
Dua tiga kali tangan
itu berusaha meraih celana yang dikenakan si Tinggi.
Breeet …
Ha ha ha ha …
Ki Saleh tertawa lebar. Celana si Tinggi kali ini bukan
hanya melorot, tapi terlepas dari ikatannya dan robek belah dua.
“BUsyeeet. Rasakan ini …”
Si Tinggi mengerahkan jurus Gadis Merayu. Tapi belum sempat
jurus itu ‘meluncur’, Ki Saleh sudah lebih dulu mengurungnya dengan jurus Pagar
Kilat. Kaki dan tangan si Tinggi dan si Pendek seolah dipaku.
“Menyerahlah sebelum terlambat,” ucap Ki Saleh, mendekati
keduanya, lalu berbisik di telinga si Tinggi.
“Kalian menyerah, aku pergi …”
“Kalau kami tak mau?” Tanya si Pendek dengan suara nyaris
tak terdengar.
“Aku akan pergi juga …”
“Masa bodoh,” kata si Tinggi ketus. Malu dan kesal jadi
satu.
“Daaaagh …”
Ki Saleh masih tertawa. Sedangkan si Tinggi dan si
Pendek hanya membisu. Mulut terkunci rapat,
anggota badan tak bisa bergerak.
Semalaman mereka berdua di bawah pohon. Hujan turun mereka
basah kuyup. Perut lapar. Tak seorang pun yang lewat di sekitar tempat itu.
Hanya sayup-sayup terdengar suara lolongan anjing hutan dan
srigala dari kejauhan, balik hutan perbuki tan. Tak satu pun bintang yang tampak
menghiasi indahnya angkasa. Bulan sempat timbul, lalu hilang lagi bersamaan
turunya hujan lebat tadi.
Keduanya terlelap dengan caranya sendiri-sendiri. Si Tinggi
bersandar di batang pohon. Sedangkan si Pendek menggeletak di tanah. Pulas nian
tidur mereka.
“Banguuuun …
“Banguuun …”
Keduanya bangun dengan perasaan sangat malu karena yang
membangunkan mereka berdua adalah Ki Duren, pemimpin perguruan silat Lampu
Merah, sekaligus guru si Tinggi dan si Pendek.
II
“LHO … Tinggi, Pendek. Kenapa kalian ada di sini?” Sapa Ki
Duren, pemimpin perguruan (padepokan) silat Lampu Merah, bersama dua anak
muridnya hendak menghadiri ulang tahun Perguruan Lampu Hijau.
“Guru …?!”
Kaget bercampur malu. Sang Guru memerintahkan dua anak
muridnya, Karim dan Mamat melepaskan jeratan di badan Pendek dan Tinggi.
Selanjutnya Sang Guru melanjutkan perjalanannya ke Selatan.
Karena dia tak ingin terlambat menghadiri undangan teman dekatnya, Ki Semangka.
Kehadirannya sangat penting, di antaranya untuk membahas perkembangan dunia persilatan saat ini.
“Dasar goblok. Harusnya kalian lapor. Jangan diam saja,” bentak
Karim, membuat si Tinggi dan si Pendek nyaris terkencing di celana.
“Goblok itu bagi-bagi dong,” ejek Mamat, teman seperguruan
Karim.
“Maafkan kami, Kak. Kami telah berusaha untuk menghabisinya,
tapi tidak bisa.” Terang si Tinggi dengan nada pasrah.
“Kalian gagal artinya kan?”
“Bukan, Kak. Cuma ….” Sahut si Pendek.
“Cuma apa? Cuma … cuma …”
“Cuma belum
berhasil,” aku si Tinggi.
Hik … hik … hik …
“Hei … kenapa kamu tertawa haaa?” Sergah Mamat.
“Tidak kenapa-kenapa, Kak. Ketawa saja.”
“Bohong … ngakulah, kenapa?” Sempat ditarik kerah bajunya,
keburu dilerai Karim.
“Anu Kak. Lucu aja dengar si Tinggi ngomong belum berhasil.
Walaupun sebenarnya kami memang bukan gagal, tapi belum berhasil …”
“Tahu hukuman bagi yang gagal?” Mamat bertanya.
“Belum, Kak,” jawab si Pendek sambil menundukkan mukanya.
Sejenak Mamat dan Karim berembuk. Setelah itu mereka kembali
menghampiri adik seperguruannya itu.
“Siap menerima
hukuman?”
“Siap Kak.”
“Laksanakan …!”
“Siap, Kak.”
Si Tinggi dan si Pendek disuruh berjongkok. Keduanya belum
tahu hukuman apa yang bakal mereka terima sebentar lagi. Yang mereka tahu
cuma …
Kreeek … eeeet.
Adowww …
Rupanya mereka harus menggendong Karim dan Mamat sampai ke
lokasii perguruan silat Lampu Hijau. Mereka tidak membayangkan akan berjalan
sambil menggendong, melewati hutan, jalan mendaki dan menurun serta bebatuan.
Sementara Ki Duren sendiri telah sampai di kompleks
perguruan Lampu Hijau. Dia disambut hangat sobat kentalnya, Ki Semangka. Mereka
berpelukan erat. Tertawa, saling tepuk-menepuk pundak.
“Lama kita tak
ketemu, padahal perguruanku dan perguruanmu tak pula jauh lokasinya,”
kata Ki Semangka saat keduanya memasuki ruang pertemuan dekat tanah lapang
tempat siswa perguruan Lampu Hijau berlatih.
“Ya. Aku juga heran, kenapa sesama kita seperti orang yang
baru kenal saja,” ucap Ki Duren.
“Mungkin kita jarang bertemu kali,” ujar Ki Semangka. Mempersilakan Ki Duren memasuki
pintu kecil menuju ruang pertemuan.
“Mungkin Ki Semangka. Karena kalau tidak ada perayaan atau
hajatan, kita tak pernah bertemu …”
“MUdah-mudahan saja pertemuan kita kali ini bisa mengobati
sekaligus memuaskan rasa rindu bersua sesama kita …”
Keduanya tertawa.
Di lain tempat …
“Istirahat dulu, Kak.” Kata si Pendek, kelelahan.
“Aku juga, Kak.” Ucap si Tinggi dengan nafas
tersengal-sengal.
“Badan saja yang tinggi,” ejek Karim, duduk bersandar di
batang pohon bersama Mamat. Sedangkan si Pendek dan si Tinggi masih terlentang
kepayahan di atas rerumputan dekat perbukitan.
Langit cerah. Hari sudah beranjak siang. Tengah hari. Tak
ada tanda-tanda hujan bakal turun. Suara cicit burung bersahut-sahutan. Angin
bertiup kencang, membuat Karim dan Mamat diserang kantuk hebat.
Keduanya pun terlelap.
Beberapa saat kemudian …
“Ting … Ting, bangun!” colek si Pendek yang baru saja bangun
dari tidurnya.
“ ‘Ntar lagi ah,” jawab si Tinggi, membalikkan badannya ke
kanan dengan mata masih terpejam.
“Tinggi .. cepat bangun.” Pendek lebih keras lagi
mencoleknya.
“Kamu dululah mandi sana. ‘Ntar aku menyusul. Payah amat
kamu Dek …”
Tiga kali dicolek tak mempan, si Pendek menggelitiki ketiak
sobatnya itu berkali-kali.
Ssssst …
Si Pendek buru-buru menutup mulut si Tinggi yang hendak
mengucapkan sesuatu, entah apa …
“Diam …” Bisik si Pendek.
“Kenapa?” Tanya si Tinggi dengan berbisik pula.
“Kita lari saja yuk!” Ajak si Pendek.
“Lari kemana?”
“Kemana saja. Pokoknya lari. Mumpung mereka masih tidur
ngorok,” kata si Pendek.
Karim dan Mamat, keduanya tertidur pulas. Sama-sama beradu
kepala dan merebah ke pundak, mulut ‘ngangap’, kaki menjolor sedangkan tangan
melipat ke perut.
Terdengar suara dengkur. Andaikata tidak diganggu
hembusan angin, dengkur keduanya jelas terdengar puluhan meter dari tempat
mereka melepas lelah dan pejamkan
mata saat ini.
“Kalau ketahuan gimana Dek?” Si Tinggi ragu karena selain
tidak ada jalan di sekitar mereka, juga mereka
bisa saja tersesat karena sudah lama tidak melewati hutan perawan
ini.
“Sudah … ayooo!”
Tarik menarik. Satu kali tarikan kencang dari si Pendek
membuat si Tinggi sempoyongan, lalu bergegas mengikuti ke mana kaki si Pendek
melangkah.
Lima belas menit kemudian,
Karim dan Mamat terjaga dari tidur mereka. Mamat terkejut melihat si
Tinggi dan si Pendek sudah tidak ada lagi di tempat mereka tadi.
“Kemana ya mereka?”
Mamat berdiri. Lalu berjalan mendekati tempat Tinggi dan Pendek
mengaso tadi. Dia tengok ke depan, tak ada siapa-siapa. Ke belakang, hanya hutan
membentang luas. Lihat ke kiri dan kanan.
Deretan ba tang pepohonan yang berjejer tidak teratur.
“Rim … Rim.” Membangunkan rekannya Karim yang masih
bermalas-malasan untuk bangun, apalagi berdiri dan siap mencari keberadaan dua
adik seperguruan mereka.
“Sudah kamu cari?”
“Sudah semuanya, Rim.
Mereka pada enggak ada,” jelas Mamat
“Menurut kamu, kemana ya mereka larinya?”
“Kalau enggak ke Utara, pasti ke Selatan. Aku kira …”
“Oke. Kita segera berangkat,” kata si Karim penuh semangat.
Sementara si Tinggi dan si Pendek sebentar lagi bakal sampai
di markas perguruan Lampu Hijau. Menyi sa kan setengah kilometer lagi. Tapi, karena jalan yang dilalui penuh
lika-liku, keduanya harus memu tar. Selain lebih aman juga tidak menimbulkan
banyak risiko, seperti diganggu binatang hutan.
Sebaliknya Karim dan Mamat, agar lebih cepat menemukan jejak
Tinggi dan Pendek, terpaksa melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Mirip
aksinya Tarzan, penguasa hutan belantara. Bedanya tidak me ng gunakan tali dan
berayun-ayun.
Sialnya, meski sudah lebih dari sepuluh pohon berhasil dilompati, keduanya belum juga menemukan orang
yang mereka cari.
“Jadi bagaimana Mat, menurutmu?” Karim menyeka peluh di
lehernya sambil duduk di ranting pepohonan besar dan kokoh.
“Tidak ada jalan lain selain kita harus dapatkan mereka. Sebab,
jika kita tidak menemukan mereka, kita bakal habis kena marah guru,” kata si
Mamat beralasan.
“Terus menurutmu, kita harus cari kemana lagi, Mat?”
“Kita cari saja terus. Sebab, aku yakin mereka pasti akan
menyusul guru, Ki Duren.”
“Untuk apa?”
“Untuk menjelaskan semuanya,” terang Mamat.
“Maksudmu tentang kita?”
“Bukan. Tapi orang asing yang telah menyandera mereka di
pohon itu.
Karim terdiam.
“Lalu?”
“Ya paling tidak, mereka berdua mengharapkan pengampunan
dari guru. Bahwa mereka telah bekerja, gagal dan berhasil, itu urusan dan
pertimbangan guru.
“Tapi Mat, aku kuatir. Mereka juga akan menceritakan tentang
kita …”
Ha ha ha ha ha …
“Itu sih gampang, Rim. Bilang saja kalau kita telah dikadali
mereka,” jelas Mamat. Belum juga reda katawanya.
“Terus …”
“Kita lompat lagi …”
Huuuup
Dari satu pohon ke pohon satunya. Dekat jaraknya, sehingga
tak begitu susah untuk melompat. Tak berapa lama mereka sudah tiba di muara
bukit.
Sreeeut … sreeet …
“Awas Dek. Ada ular di atas kepalamu,” teriak si Tinggi
menunjuk ke batang pohon. Ada seekor ular bergelantungan di ranting pepohonan.
Badannya besar.
Ciiiiis … ciiiiis …
“Merangkak saja,” saran si Tinggi.
Si Pendek menggerakkan kaki kanannya, tapi menyangkut di sela
dua batu besar.
“Mundur sedikit, tarik ke atas kakimu …”
Mundur setengah meter. Si Pendek menggerak-gerakkan kakinya.
Sakit terasa. Lecet sedikit, digeser ke
kanan, lalu …
Greseeeeak …
Bisa akhirnya.
“Cepaaat!”
Si ular mulai perlahan turun. Dengan tenaga yang masih
tersisa, si Tinggi menarik sekuat mungkin lengan
Rekannya sejak kecil itu. Berhasil melewati akar pohon yang menghadang, lalu dengan satu kali
tarikan kuat, Pendek seolah melompat sampai ke rerumputan jalan setapak.
III
SEORANG pendekar muda berlari mengitari lapangan tanah
rerumputan beberapa kali. Dia mendapat tepuk tangan meriah. Kepalanya gundul,
rambut panjang berkuncir, tak pakai baju dan bercelana panjang dengan alas kaki
sepatu karet hitam.
“Lucu ya Ma!” Ujar seorang bocah berusia lima tahun pada
ibunya kala melihat sang pendekar berlari mengelilingi lapangan sambil
bersalto, melompat dan menendang.
Sang bocah datang bersama ibunya, satu dari sekian banyak
undangan yang hadir guna menyaksikan atraksi memeriahkan HUT perguruan silat
Lampu Hijau. Keduanya duduk sopan bersama ibu-ibu yang lain di dekat pintu
masuk utama gerbang perguruan.
“Ma, boleh tidak Tile seperti abang pendekar itu?” Tanya si
bocah penuh harap sang bunda memenuhi keinginannya.
“Boleh sayang, tapi apa Tile sudah tahu caranya. Abang itu
kan berlatih dulu sebelum tampil agar saat tampil memuaskan penonton. Kita-kita
ini sayang …”
“Memang susah latihannya ya Ma?”
“Iyalah sayang. Coba Tile tengok abangtu. Gerakannya bagus,
tak ada yang salah. Lincah dan tangkas kan.” Sang Bunda memeluk anak semata wayangnya dengan penuh kasih
sayang, menciuminya dan sejenak mengajaknya bercanda sambil memandang abang
pendekar beraksi.
Sang pendekar, setelah mengitari lapangan, memberi hormat
kepada penonton dengan membungkuk kan badannya, penonton kembali bertepuk
tangan. Sesaat kemudian, si pendekar
melemparkan bola ke atas, secepat kilat dia melompat, lalu menyundul bola itu.
Kemudian ditendang lagi, disundul sampai puluhan kali.
Yang membuat penonton takjub saat rekannya sesama pendekar
muda muncul ke lapangan. Menahan sundulan, justru terpental saking kencang
larinya bola. Bergegas bangun, lalu menendang itu bola seken cang mungkin. Oleh
si pendekar, bola itu ditangkap menggunakan lehernya.
Pleeeek …
Bola menyangkut di lehernya, persis di bawa dagu. Setelah
bola menyentuh tanah, penonton bertepuk tangan manakala itu bola berhasil dia
‘mental’kan lewat ilmu tanaga dalam. Ditangkis rekannya dengan menyilangkan
kedua tangan, melambung ke atas, ditangkap dengan kepala, lalu disundul ke
pendekar satunya.
Duuup … buuul.
Sampai dua puluh kali keduanya saling melempar bola dengan
kepala. Menyundul dalam posisi kaki di atas tanah, gingkang, melompat, salto
dan berdiri kembali di atas tanah lapang. Bola akhirnya berhenti di tengah,
sang pendekar dan rekannya memberi hormat sebagai tanda berakhirnya pertunjukan
silat jurus ‘Bola Api.’
Berikutnya ditampilkan jurus ‘Angin Berbisa.’ Mula-mula satu
pendekar keluar dari sebuah pintu menuju tengah lapangan. Disusul sepuluh
rekannya yang berlari rapi, berdiri dengan memutar sambil membungkukkan badan.
HIyaaaat …
Pendekar utama melompat ke kanan. Kesepuluh rekannya
mengelilinginya dengan mempertontonkan jurus ‘Tangkap Sama-sama.’ Kedua tangan
bergerak silih berganti ke depan, kiri, kanan, atas dan bawah. Siap menyerang.
HUsyaaaaa …
Kesepuluh pendekar muda menyerang bersama-sama. Si pendekar
utama melompat menghindari ke pungan
itu, lalu dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, sudah berdiri membelakangi
kesepuluh lelaki tak berambut itu.
Huuuup …. Sreaaang.
Dari telapak tangannya keluar gumpalan menyerupai bola, lalu
dilepaskan, memecah membentuk angin. Menerjang kesepuluh pendekar, dibuat
terpental amat jauh.
Karena sudah terlatih, mereka masih bisa berdiri. Kembali
menyerang pendekar utama dengan cara berlari sekuat mungkin sambil mengepalkan
tinju.
Krataaak … buuuum.
Si pendekar utama memutar badannya sambil melepaskan
tendangan dahsyat. Bukan telapak kaki itu yan bikin penyerang terjengkang, tapi
dari telapak kaki itu keluar asap dan asap itu kemudian menggum pal sebelum
menghantam lawan.
Gruduuuuk … gaaaam ..
Kesepuluh pria berpostur tinggi dan langsing itu jatuh
berguling-gulingan di tanah. Celana yang mereka kenakan berlobang-lobang,
bahkan ada yang robek. Muka berubah hitam dengan kedua kaki terluka walau tidak
sampai parah.
Hebatnya, dengan tenaga yang masih tersisa, kesepuluh
pendekar silat itu berhasil bangkit dan berdiri lagi. Mereka berlari dengan
tertatih-tatih ke tengah lapangan, bukan untuk kembali menyerang, tapi
menyudahi pertunjukan.
Plak .. pak … plak … pak …
“Itu mereka, Rim. Ayo kejar!” Teriak Mamat. Tanpa berpikir
panjang lagi masuk ke tengah lapangan mengejar si Tinggi dan si Pendek.
Para penonton, termasuk Ki Duren hanya mengembangkan senyumnya
menyaksikan empat anak murid nya saling berkejar-kejaran. Apalagi saat
keempatnya berkeliling. Sempat jatuh bangun beberapa kali dan menghindar dari sergapan.
Si Tinggi misalnya. Ketika disergap Karim, dia berhasil
mengelak, akhirnya Karim hanya bisa menangkap angin, jatuh tersungkur dengan
muka berlepotan tanah.
Ha ha ha ha …
Ketika akan bangun, si Tinggi menindih bagian belakang
Karim. Dia anggap sedang menunggangi kuda.
Hiyaaa … hiyaaa …
Ditepak-tepaknya kepala Karim, sedangkan pantatnya digerak-gerakkan
dengan cara turun naik menindih punggung Karim.
“Adowww … sakit,” jerit Karim.
Hua ha ha ha …
Karim berhasil membalikkan badannya. Namun, ketika berada
dalam poisisi menelentang, si Tinggi sudah tidak ada lagi di hadapannya.
“Kak Karim !” Panggil si Tinggi dari samping kanan. Dia
mengisyaratkan kakak seperguruannya itu mengejarnya.
“Awas kamu …!”
“Wulu … wulu … tak uk uk …”
Ha ha ha ha …
Sementara Karim mengejar si Tinggi, si Pendek malah terlibat
perkelahian seru. Saling serang sampai berguling-gulingan di tanah. Saling
tindih dan tarik menarik rambut.
“Rasakan ini,” ujar
Mamat seraya mendaratkan pukulan ke muka. Tepat mengenai batang hidung, membuat
suara Pendek berubah sengau.
“Ayo pukul aku lagi,” kata Pendek. Saat Mamat hendak memukul
kali kedua batang hidungnya, Pendek menangkap kepalan tangan itu, lalu
dipelintirnya, Mamat mengerang kesakitan.
Kraaak … geeeegek …
Guaaam … buk …
Didorongnya Mamat
sekuat tenaga. Terpental jauh dengan tangan kanan keseleo karena terkilir dan
me nyentuh batu koral. Dia mencoba memberikan perlawanan dengan hanya
mengandalkan tangan kiri.
Hiyaaat …
Ha ha ha ha …
Dia lepaskan pukulan tangan kirinya, berhasil dielakkan si
Pendek. Dia mundur beberapa langkah, lalu mengejek si Mamat karena tidak mau
menyerangnya lagi.
“Ayo serang,” kata si Pendek.
“Ogah,” jawab Mamat. Meringis kesakitan karena tangan
kanannya terasa sakit saat digerakkan.
“Kenapa? Takut, Kak Mamat?”
“Enggak. Siapa takut.”
“Lalu kenapa?”
Tiba-tiba dia menangis sesunggukan, lalu berlutut di hadapan
si Pendek.
“Tolonglah kakak, Dek!” Rengek si Mamat.
“Tolong apa, Kak?”
“Urutkan dulu tangan kanan kakak ini, sepertinya mau patah
…”
“Tak mau ah. Nanti waktu aku urut tangan kakak, kakak mukul
aku.”
“Tidaklah wahai adik seperguruan. Kakak tak mungkin tega
berbuat seperti itu pada adik seperguruan ………………”
“Itu kan kata kakak. Kataku kan tidak …”
Panas hati Mamat mendengarnya.
HIyaaaat …
Dia daratkan pukulan ke muka si Pendek.
Praaak … gedebuk …
Kena. Saking kerasnya
pukulan itu, si Pendek jatuh sempoyongan dengan mata berkunang-kunang. Seolah mau pingsan dia.
Dia gerakkan kepalanya. Lalu berdiri dan bersiap meladeni
Mamat yang mulai membabi buta melepas kan pukulan tangan kirinya. Anehnya,
pukulan yang dilayangkan itu semakin lama semakin melambat, lalu terkulai lesu.
“Wuuuuu ….
Loyoooooo…”
Mamat bukannya diam. Malah terus menyerang habis-habisan.
Dia tak perduli lagi dengan kondisi tangan kanannya yang mulai mengeluarkan
darah.
Tak tega melihat Mamat kelelahan dan terluka di tangan, si
Pendek memilih mundur beberapa langkah ke belakang.
Hua ha ha ha …
Dengan hanya satu tangan, Mamat mengejar si Pendek hingga keluar
dari pintu masuk lapangan. Se dangkan Karim dan si Tinggi belum juga mau
berhenti berlari dan kejar mengejar sedari tadi.
“Ayo kejar terus sampai pagi,” teriak si Tinggi. Berhenti
sejenak, lalu menoleh kea rah Karim sambil mencibir.
“Capek, Kak?”
“Iyalah. Kamu enggak apa?”
Si Tinggi menggelengkan kepalanya berulangkali setelah
melihat Karim ngos-ngosan seperti mau pingsan.
“Makanya kakak seperguruan, kalau bangun jangan siang. Pagi,
biar sehat itu punya badan.”
“Taik kucing lu nasihati gue. Kuwalat lu …”
“Enggak apa-apa kuwalat, yang penting selamat …”
“Taik kebo …”
Karim mengeluarkan jurus andalannya, ‘Buaya Bernyanyi’.
Penonton terpana tiba-tiba. Menunggu apa yang bakal dilakukan si Mamat dengan
jurusnya itu. Dagu menyentuh tanah dengan tangan dalam posisi mencakar ditopang
kaki yang mengangkang lebar.
Tak mau kalah. Si Tinggi mengeluarkan jurut mautnya. Apa?
“Ikan Menari.” Berpura-pura menyilangkan kedua tangan ke depan, kedua kaki tak
mengangkang, lalu balik badan meninggalkan tanah lapang.
Penonton terdiam.
Lalu bertepuk tangan.
IV
“BAGAIMANA pendapatmu
Ki Saleh?” Ki Duren mempersilakan Ki Saleh bicara tentang upaya mengatasi kian
merajalelanya ulah saudara kembar, Ki Baut dan Ki Mur beserta para anak
buahnya.
“Baiklah Ki,” ujar Ki Saleh, setelah mengucapkan ‘salam
sejahtera’, dia pun sempat melontarkan kelakar ‘andaikata saja Ki Baut dan Ki
Mur tidak membuat ulah, maka kita para pendekar
negeri ini tak bakalan kumpul di tempat Ki Semangka ini.’
Kelakar ini disambut tawa oleh semua yang hadir, apalagi Ki
Saleh menambahkan kelakarnya, ‘andai saja aku bisa mencabut nyawa Ki Baut dan
Ki Mur diam-diam, tentulah tak perlu bersusah-susah kumpul di padepokan
perguruan silat Lampu Hijau ini.’
Semua mata pendekar tertuju ke depan, papan tulis ketika Ki
Saleh mulai menuliskan nama Ki Baut dan Ki Mur beserta sebuah rumah besar di
salah satu tempat.
“Nah, seperti kita ketahui abang-abang pendekar sekalian.
Kekacauan yang sering melanda beberapa kampung kita ini terpusat pada sosok Ki
Baut dan Ki Mur. Segala perintah mereka ditaati, segala lara ngan tidak
dijalankan, sekecil apa pun dia. Keduanya adalah pemimpin yang hebat bagi para
anak buahnya, anggota kelompoknya.”
Keduanya adalah pelindung dan penyelamat bagi pengikutnya,
dan seperti kita tahu, apa saja yang di inginkan anak buahnya, Ki Baut dan Ki
Mur pasti memenuhinya. Sebaliknya apa yang diinginkan dua saudara kembar itu, dilaksanakan anak
buahnya. Ada timbal balik. Ada yang meminta, ada pula yang memenuhi permintaan.
Ini semua menyebabkan keterikatan yang kuat sesama mereka ….”
“Lalu apa yang hendak Ki Saleh katakan kepada kami tentang
kekompakan pengikut Ki Baut dan Ki Mur ini?” Tanya Ki Semangka.
“Yang hendak saya katakan bahwasanya kekuatan mereka
dibentuk oleh persaudaraan yang kuat. Me reka tidak kepalang tanggung dalam
merekatkan tali persaudaraan. Jadi tak heran bila ada satu saja ang gota
kelompok mereka yang terbunuh, anggota lain segera memberikan pertolongan.
Angkat senjata dan bila perlu membunuh orang …”
“Maksud Ki, ini sisi positifnya dari Ki Baut dan Ki Mur?”
Tanya Ki Solar berapi-api.
“Betul sekali, Ki,” kata Ki Saleh. “Tapi bukan berarti saya
membenarkan keberadaan dan ulah mereka. Yang saya ingin tekankan bahwasanya
dari kekompakan dan eratnya hubungan yang terjalin antar mereka, membuat mereka
leluasa melakukan aksi. Yang membuat saya bertanya-tanya, apa tujuan mereka
melakukan aksi tak berprikemanusiaan itu?”
Para pendekar saling lempar pandang.
“Yang saya tahu mereka senang mengganggu orang. Tak
segan-segan merampok, memperkosa dan bahkan membunuh,” jelas Ki Tama.
“Betul apa yang dikatakan barusan oleh Ki Tama itu,” sahut
Ki Saung, yang membuat kita terpaksa berkum pul di tempat ini adalah, salah
satunya, keresahan warga. Waga resah dan banyak yang me ngadu kepada saya bahwasanya kampung mereka akhir-akhir ini
sudah tidak aman lagi.”
“Kenapa Ki, kalau boleh saya tahu?” Giliran Ki Saleh yang
bertanya.
“Menurut pengakuan warga, ini terjadi karena ulah pengikut
Ki Baut dan Ki Mur. Mereka tidak sampai membunuh memang, tapi segala milik
warga dijarah, seperti beras, hewan ternak, uang dan sejumlah perhiasan serta
barang berharga lainnya …”
“Apa itu rutin terjadi Ki Saung?”
“Tidak juga Ki Saleh. Mungkin beberapa bulan ke depan baru
terjadi lagi. Tapi Ki, walaupun tidak rutin, dampaknya itu yang berbahaya …”
“Sejauhmana Ki ?” Tanya Ki Duren.
“Kita sama-sama tahu kan, bahwasanya warga termasuk
kita-kita di sini, menggantungkan hidup dari per tanian. Dan kita juga tahu
berapa lama kita baru memetik hasilnya. Setelah panen hasilnya kita jual atau
disimpan di gudang. Nah, betapa syoknya mereka setelah tahu barang keperluan
hidup sehari-hari justru dijarah habis. Warga mau makan apa, coba?”
Semua tekun menyimak.
“Inilah kenapa kita harus sepakat menghentikan ulah Ki Baut
dan Ki Mur beserta anak buahnya. Sebab kalau tidak, warga bukan saja semakin
resah dan gelisah, tapi boleh jadi mereka akan mengungsi ke tempat lain karena
diliputi rasa takut. Lantas tanah
kelahiran, kampung halaman mereka jadi tak berpenghuni. Kosong melompong. Jadi
kampung hantu. Menyeramkan. Sekali lagi saya katakan, jangan sampai ini terjadi
…”
Belum ada komentar.
“Terima kasih Ki Saung,” tiba-tiba Ki Saleh melanjutkan
penjelasannya di papan tulis. “Kalau demikian, apa perlu kita ambil langkah
segera dan secepat mungkin?”
“Perluuuuu …”
“Terima kasih abang-abangku sekalian. Jika demikian halnya,
saya punya usul begini.” Ki Saleh membuat kotak-kotak segi empat, lalu di
tengahnya dia buat lingkaran bulat yang di dalam lingkaran itu ada Ki Baut dan
Ki Mur.
“Nah, saya punya dua usul. Pertama, kita langsung serang.
Kedua, kita pilih waktu yang tepat untuk menyerang. Sekarang tinggal
kesepakatan kita yang hadir di sini. Mau menyerang langsung, detik ini juga
atau kita beri tempo dulu …?”
“Saya Ki!” KI Badrun tunjuk tangan.
“Silakan Ki,” kata Ki Saleh.
“Minum dulu ya Ki, biar tidak keselek,” seloroh Ki Daus.
“Iya Ki, biar ngomongnya tahan berjam-jam,” sahut Ki Suri.
Ki Badrun cuma tersenyum. Dia atur nafas lebih dulu dan …
“Kita serang langsung saja, Ki.”
Semua pendekar serempak menoleh pada Ki Badrun yang duduk
paling belakang.
“Alasan saya sederhana. Warga sudah resah. Kengerian ada di
mana-mana. Bukan hanya di satu kampung. Tapi hampir setiap kampung dimasuki
kelompok Ki Baut dan Ki Mur.”
“Caranya Ki?” Ki Duren berdiri, lalu duduk lagi karena capek
terlalu lama duduk di kursi.
“MUdah saudara-saudaraku sekalian. Kita kumpulkan
teman-teman dan teman-teman kita diminta tolong beritahu warga untuk siaga
penuh. Lalu kita tentukan siapa di antara kita yang bertindak sebagai pemimpin penyerangan ini. Kan rebes … eeeh
salah, beres …”
Plak pak plak pak …
“Pendapat lain kalau ada?” Ki Saleh melemparkan pertanyaan
kepada para pendekar yang masih muda usia untuk penyeimbang suara yang tadinya
berasal dari pendekar berusia lanjut.
“Ana Ki Saleh.” Ki
Daus mengangkat tinggi-tinggi jari telunjuknya.
“Silakan Ki.”
“Terima kasih para pendekar hebat yang hadir di sini. Terus
terang saya setuju sekali dengan pendapat Ki Badrun tadi. Sebab, jika kita
terlambat, warga dan kita semua disini bakal tamat. Tamat gimana? Dihabisi Ki
Baut dan Ki Mur. Kita tak boleh tinggal diam. Kita harus bergerak cepat. Tapi
alangkah baiknya bila kita susun rencana penyerangan lebih dulu. Setelah matang
baru kita gempur habis.”
“Tapi jangan lama-lama Ki.” Kita Semangka separo bercanda.
”Sebab, kalau terlalu lama kita semua yang ada di sini cuma tinggal nama …”
Ha ha ha ha …
“Betul Ki,” kata Ki Solar.
“Tergantung kita,” jawab Ki Daus. “Yang penting kita siap
atau tidak. Lebih cepat lebih baik.”
Karena ada dua pendapat akhirnya diambil suara terbanyak.
Caranya? Ki Saleh membagikan kertas kecil. Lalu di atas kertas kecil itu
tertulis dua jawaban pilihan. Pertama, serangan langsung, dilingkari. Kedua,
serangan bertempo, juga dilingkari.
Ternyata tidak mudah memilih di antara dua pilihan ini. Masing-masing
pendekar sangat hati-hati me nentukan pilihannya. Cuma bedanya, ada yang
biasa-biasa saja. Ada juga sampai mengerutkan kening nya. Malah ada yang
senyum-senyum, entah karena lucu atau sengaja untuk memancing perhatian sesama
pendekar yang lain.
Hampir satu jam belum semua jawaban terkumpul di meja tempat
Ki saleh dudul dan berdiri menyam paikan presentasi. Sambil menyantap hidangan
ala kadarnya, Ki Saleh tampak santai dan penuh canda bincang-bincang dengan Ki
Duren dan Ki Semangka.
Lepas salat ashar berjamaah, kesepuluh pendekar akhirnya
menyepakati untuk melakukan serangan bertahap, bukan secara langsung, apalagi
sampai membabi buta. Serangan dimaksudkan untuk memberi pelajaran kepada Ki
Baut dan Ki Mur beserta pengikutnya bahw tindak kejahatan, apa pun bentuknya, tidak
boleh diabaikan, apalagi sengaja didiamkan dan dibiarkan karena akan tumbuh
semakin subur yang mengakibatkan timbulnya keresahan di
masyarakat.
Para pendekar juga sepakat untuk tidak membunuh siapapun,
termasuk Ki Baut dan Ki Mur, kecuali ha nya untuk mempertahankan diri. Warga
harus dilindungi tanpa pandang bulu, pilih kasih.
Para pendekar juga sepakat beberapa hari ke depan kampung
warga aman dari segala bentuk kejahatan. Tidak ada lagi rasa takut warga untuk
melakukan perjalanan antar kampung, kumpul-kumpul sedekahan da ronda sama-sama
di kala malam. Mereka aman ke mana saja. Tentram, saat pertama kali mereka
membangun dan mendiami kampung yang mereka huni saat ini.
Terealisasikah?
V
“BAKAR semua rumah warga!” Teriak Ki Baut kepada ana buahnya
dari atas kuda, sedengkan Ki Mur me mimpin pasukan menjarah barang-barang
berharga untuk dibawa ke markas mereka dekat kawasan perbukitan.
Weleee .. wele .. weleee …
Ha ha ha ha …
Api .. api … bakar …!
Seketika itu juga puluhan rumah warga berhasil dibakar. Api
berkobar dan terus membesar, meroboh kan bangunan kayu dan memporak-porandakan atap yang terbikin dari
rumbia dan genteng tanah.
Warga panik. Mereka tak menyangka siang hari ini rumah
mereka sudah tidak berbentuk lagi. Yang ter sisa cuma puing-puing sisa
pembakaran berwarna hitam. Asap hitam membumbung tinggi. Belum lagi jerit
tangis anak-anak dan wanita yang berlari menyelamatkan diri dari kobaran api
yang begitu cepat melumat habis bangunan rumah.
Tak tahu harus kemana mengadu. Mereka hanya terus berlari.
Dalam keadaan bingung hendak berjalan kea rah mana, mereka sudah ditunggu anak
buah Ki Baut dan Ki Mur. Mereka dipaksa untuk berkumpul di tanah lapang.
Keadaan mereka benar-benar miris. Dengan hanya mengenakan pakaian
seadanya, bahkan hanya ber sarung tanpa sempat mengenakan celana dalam, mereka
dibariskan jadi satu dengan anak-anak dan wanita di barisan terdepan, sedangkan
kaum laki-laki berada di baris kedua.
Di tengah panas terik yang tiada terkira, warga dipaksa
berlutut dengan kepala menunduk. Mereka
tidak boleh melihat ke atas, apalagi sampai berbicara dengan sesamanya. Bila
melanggar maka hukumannya adalah dicambuk sampai mati.
Warga tak punya pilihan lain selain hanya menuruti keinginan
anak buah Ki Baut dan Ki Mur. Hampir dua
jam mereka dijemur, dipanggang di tengah panas membakarnya sinar matahari. Ada,
karena tidak kuat lagi, akhirnya jatuh pingsan. Kebanyakan anak-anak dan kaum
ibu serta remaja putri.
Mereka yang pingsan tidak boleh ditolong. Hukumannya akan
ditambah. Warga tak bisa berbuat apa-apa. Hanya membiarkan dan menyaksikan
rekan-rekan mereka terlentang tanpa alas dan tudung. Me reka tak sadarkan diri.
Juga tak sadar kalau diri mereka dibiarkan terbakar matahari.
Tak lama kemudian muncullah Ki Baut dan Ki Mur. Keduanya
memandang tajam satu persatu warga. Ki Baut
turun dari kudanya, diikuti saudara kembarnya sambil ketawa lebar.
“Aduh, cantik juga,” ucap Ki Mur sambil mengusap lembut
penuh birahi pipi seorang kembang kampung yang manis dan menarik hati.
“Puiiiih …”
Si gadis meludahi mukanya. Ki Mur murka. Dia pelototi dara di depannya, yang tak berkedip sedikit
pun matanya yang lentik itu, lalu …
Breeeet …
Ki Mur berhasil merobek baju si gadis. Ketika mau
mendaratkan pukulan, tangannya ditangkap Ki Mur, kemudian dia pelintir dan
patahkan tangan itu …
Kraaak …
“Auuuw,” jerit perawan ting-ting itu.
Belum habis mengaduh kesakitan, Ki Mur melucuti semua
pakaian si gadis dan hanya menyisakan beha serta celana dalam.
“Kurang ajar …” Jerit si gadis. Sempat mendaratkan pukulan
ke wajah Ki Mur, kena dagunya.
Ki Mur tidak marah. Dia malah tertawa lebar. Sesaat
kemudian, dia bawa gadis itu ke sebuah gubuk yang terbakar sebagian. Dia
perkosa sebelum ditembak mati .
Warga hanya menunduk pasrah. Ada yang berlinang air matanya,
ada yang memukul-mukul kepalanya, bahkan ada yang mencoba memukul anak buah Ki
Mur, tapi karena keburu ketahuan, berhasil diaman kan.
Hua ha ha ha ha …
“Gimana Dik?” Tanya Ki Baut. Ketawa lebar, diikuti anak
buahnya yang baru berhenti ketawa setelah Ki Mur menyuruh diam.
Ha ha ha ha ha …
“Kamu …!” Tunjuk Ki Mur pada seorang ibu muda beranak satu
yang ketakutan setengah mati. Saking takutnya, dia hanya bisa menunduk dan tak
bisa berkata walau cuma sepatah kata.
“Cepat katakan … Dimana Ki Saleh berada?” Hardik Ki Baut.
“Tidak … tidak …”
Kelepaaaak …
Si ibu hanya bisa menangis saat tangan kanan Ki Baut
mendarat tepat di mukanya. Lelaki di belakangnya tak ingin tinggal diam. Dengan cepat dia
tahan pukulan Ki Baut yang kedua. Tak
ingin dipermalukan di depan anak buahnya, saudara mudanya, Ki Mur ini pun
berteriak lantang.
“Seret dia!”
Sempat melawan. Tapi tak berdaya setelah dipukuli
bertubi-tubi oleh ana buah Ki Baut dan Ki Mur.
“Melawan ya?”
Diangkat dia punya
dagu. Lalu Ki Baut menghantamnya dengan dengkul dan kepala.
Gedebuk … paaar …
Dari mulut dan hidung lelaki berkulit hitam itu keluar darah
segar.
“Banci kalian semua …!”
Si lelaki masih bisa mengejek dan meludahi muka Ki Baut.
“Sabar, sabar, Kak.” Ki Mur menenangkan Ki Baut yang mulai
memuncak emosinya. Hampir saja dia
daratkan pukulan geledek ke leher bapak berambut lurus tegak itu.
Ha ha ha ha …
Ki Mur cuma tertawa. Dia tatap tajam dari kaki hingga rambut
si lelaki tak berbaju itu. Lalu dia perintah kan anak buahnya untuk mengikat tangan warga kampung Falah itu , lalu diseret
sampai mati dengan dua ekor kuda.
Beberapa warga yang hendak menolongnya, diamankan anak buah
dua Ki. Begitu juga ketika rekan mere ka diseret paksa dengan kuda mengelilingi
tanah lapang. Tak bisa berbuat banyak. Langsung diamankan dan jika masih
melawan, disiksa sampai mati.
Badan berlumuran
darah. Kuda tetap menyeret lelaki
berperawakan tinggi besar itu. Warga hanya bisa menangisi. Menjerit histeris karena
tak kuasa lagi melihat dengan mata telanjang penyiksaan yang kele wat batas dan
tak berprikemanusiaan itu.
Buk preeet …
Tali ikatan dilepas. Tubuh si lelaki dilempar tak jauh dari
barisan warga yang dijemur paksa. Ki Mur men dekatinya, lalu, dengan
menggunakan kaki kanannya, dia angkat dan dorong kepala si lelaki, tampak masih
bisa melihat dan bernafas.
“Bangsat,” bisik si lelaki pada Ki Mur ketika berjongkok
untuk mendengar suaranya yag kian melemah itu.
“Apa?”
“Bangsat lu …”
Ki Mur berdiri. Lalu memerintahkan anak buahnya untuk
menembak si lelaki, keburu didahului Ki Baut.
Dooor … door … door …
Tiga timah panas berhasil menembus kepala, dada dan
kemaluan. Si lelaki itu pun tewas seketika.
Jerit tangis dari kaum perempuan dan anak-anak pun pecah.
Sumpah serapah tak henti mengiringi se tiap langkah kaki dua anak buah Ki Baut dan Ki Mur kala membawa mayat si lelaki untuk kemudian
dilempar ke jurang.
Sumpah serapah itu baru berhenti setelah Ki Baut melepaskan
tembakan ke udara. Dia tidak main-main. Ditariknya paksa beberapa warga ke
dekat dia berdiri, disuruh menunjukkan dimana Ki Saleh kini bersembunyi.
Dooor … door …
Terdengar suara letusan berkali-kali dari muncung senjata
api Ki Baut. Letusan itu berhasil menewaskan sepuluh warga yang tetap
bersikukuh tak mau mengatakan di mana Ki Saleh berada saat ini.
“Sepuluh lagi,” teriak Ki Mur berapi-api.
Kali ini semuanya wanita. Setelah diperkosa dengan keji,
mereka dibunuh secara sadis. Tubuh mereka dipotong-potong, ditelanjangi dan
jadi bahan tertawaan anak buah Ki Baut dan Ki Mur. Malah, ada di antara mereka,
walau sudah tidak bernyawa lagi, karena melihat kemolekan tubuh, bermaksud
menye tubuhinya.
Dooor … door … door…
Ki Mur menembaknya. Si anak buah tewas dengan kepala pecah
jadi dua. Otak berceceran di mana-mana. Sungguh mengerikan. Semua warga
menundukkan kepala. Tak berani menyaksikan peristiwa di luar batas kewajaran
itu.
“Dua puluh … cepat bawa kemari!” Perintah Ki Baut.
Kali ini, karena tak ada juga yang mau mengatakan di mana Ki
Saleh berada, Ki Baut sendirilah yang mengeksekusinya. Bukan hanya dengan tembakan,
tapi juga pedang yang membuat tubuh warga tercabik-cabik dan tercerai berai di
sana sini.
“Terakhir …!” Teriak Ki Mur.
Tiga puluh warga yang tersisa sempat berlutut dan memohon
ampun kepada Ki Baut dan Ki Mur, agar mereka jangan dihukum.
Tapi apa kata Ki Baut?
“Katakan Ki Saleh sembunyi di mana, kalian aku bebaskan.”
Kata Ki Baut, yang asyik meniup-niup asap yang keluar dari moncong senjatanya.
“Maafkan kami tuan. Kami benar-benar tidak tahu.” Ucap
seorang lelaki berewokan memelas dan penuh harap tidak ikut dieksekusi.
Ki Mur berbisik pada Ki Baut. Lalu …
“Pasukan …!”
“Siaaaap …”
“Tembaaaak …”
VI
SAMBIL mengelilingi tiang bendera dengan sang saka merah
putih berkibar ditiup angin di pelataran be lakang masjid Nurul Falah, siswa
didik Bu Sri Hapsari mengatur nafas dan
bersiap menyanyikan lagu wajib kebangsaan.
“Siap anak-anak ya!” Ucap Bu Sri yang berdiri dekat tiang
bendera.
“Satu … dua … tiiiiga …”
Bendera merah putih
Bendera tanah airku
Gagah dan jernih tampak
warnamu
Berkibaran di
langit yang biru
Bendera
merah putih
Bendera bangsaku
…..
Satu … dua … satu dua …
Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka
Nusa
dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka
Tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap
setia
Tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita
tetap setia
Kita tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia
Membela Negara kita
Kesatuan jiwa Indonesia
Bahagia …
Satu dua … satu dua …
Halo halo Bandung
Ibukota Periangan
Halo halo
Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari Bung rebut kembali ….
Satu dua … satu dua …
Garuda
Pancasila
Aku-lah pendukungmu
Patriot proklamasi
Setia berkorban untukmu
Pancasila dasar Negara
Rakyat adil makmur
sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju … maju
Ayo maju … maju
Ayo maju … maju
Satu dua … satu dua …
Maju tak
gentar
Membela yang benar
Maju
tak gentar
Hak kita diserang
Maju tak gentar
Mengusir penyerang
Maju serentak
Tentu kita menang
Bergerak serentak
Menerkam menerjang terjang
Tak gentar
Tak gentar
Menyerang
Menyerang
Majulah
Majulah
Menang
…
Satu dua … satu dua …
Satu nusa satu bangsa
Satu bahasa kita
Tanah air
pasti jaya
Untuk s’lama-lamanya
Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa dan bahasa
Kita
bela bersama …
Satu dua … satu dua …
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia
sejak dulu kala
Selalu
dipuja-puja bangsa
Di
sana tempat lahir beta
Dibuai
dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata …
Satu dua … satu dua …
Padamu negeri kami berjanji
Padamu
negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami …
Satu dua … satu dua …
Dari yakin kuteguh
Hati ikhlasku
penuh
Akan karunia-Mu
Tanah
air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadlirat-Mu Tuhan ….
Satu dua … satu dua …
Bangun pemuda pemudi
Indonesia
Tangan bajumu singsingkan
Untuk negara
Masa yang
akan datang
Kewajibanmulah
Menjadi tanggunganmu
Terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu
Terhadap nusa
Sudi tetap berusaha
Jujur dan
ikhlas
Tak
usah banyak bicara
Trus
kerja keras
Hati teguh dan lurus
Pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus
Hai putra negeri
Bertingkah laku halus
Hai putra negeri ….
Satu dua … satu dua …
Terpujilah
wahai engkau
Ibu bapak
guru
Namamu
akan selalu hidup
dalam
sanubarimu
Semua baktimu
akan kuukir
Di dalam hatiku
S’bagai
prasasti trima kasihku
‘Ntuk pengabdianmu
Engkau
bagaikan pelita
dalam
kegelapan
Engkau laksana embun
Penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan
bangsa
Tanpa tanda jasa …
Satu dua … satu dua …
Tanah airku Indonesia
Negeri elok sangat kucinta
Tanah tumpah darahku mulia
yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa nan amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak
dulu kala
Melambai-lambai
Nyiur di pantai
Berbisik-bisik Raja Kelana
Memuja Pulau
Nan indah permai
Tanah
airku
Indonesia …
Satu dua … satu dua …
Kulihat ibu pertiwi
Sedang
bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang
Hutan
sawah gunung lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih
dan berdoa …
Satu dua … satu dua …
Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
dan handai tolanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai …
Doooor … door …
Guam …
Ha ha ha ha ha …
Bersambung
lagi ah …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar