Jumat, 06 Oktober 2017
Lantak (2)
Novel ...
Lantak (2)
Oleh Wak Amin
4
EHEM .. Bau apakah ini?
Sedaaaap sekali ...
Segerombolan makhluk bugil me nyerupai kera yang jumlahnya men capai ratusan serempak mengge rak-gerakkan hidung mereka. Ke depan, kanan, kiri dan selanjutnya berjalan mendekat ke lokasi air terjun.
"Sepertinya baru kali ini saya men cium bau ini," kata Jojo, pemimpin makhluk aneh itu. Mereka berdiam di pulau ini belum lama. Sekitar satu bulan terakhir.
Keberadaan mereka belum terde teksi. Para peneliti justru, yang pernah datang ke pulau ini, sekadar singgah sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke tempat yang lain. Tidak menemukan seorang manusia pun, makhluk lain sejenis selain hewan dan binatang hutan.
Jojo dan teman-temannya 'masih asing' dengan pulau ini. Selain sepi dan terpencil juga tak menemukan sebuah pemukiman pun. Karena memang tidak ada orang tinggal di sini, lalu menetap dan beranak pi nak. Meski demikian Jojan cs me nyukainya karena bisa berbuat apa saja, termasuk makan, minum dan beraktivitas sehari-hari.
Hingga kini mereka belum mendiri kan rumah tempat tinggal. Karena dimana saja, asalkan masih dalam hutan belantara ini, bisa tidur tanpa merasa takut dimangsa binatang buas.
Tak heran jika kemudian, saat mereka menemukan Mr Clean dan kawan- kawan sedang mandi di air terjun, sempat heran dan melongo. Mereka belum melakukan tindakan apa-apa. Mereka masih bersem bunyi di balik pepohonan besar.
"Sepertinya boleh juga Bos," kata Jajak. Perutnya lapar. Dia sudah tak sabar ingin menyantap daging ma nusia. Dia ingin tahu apa dan bagaimana rasanya.
"Iya Bos," sahut Jojon. " Kulit mereka putih dan bersih. Enak dan gurih kalau dimakan sama-sama."
Jojo belum memutuskan. Dia ma sih meminta masukan dari teman-temannya yang lain, apa sebaiknya yang dilakukan saat ini.
"Kita makan Bos " teriak teman-temannya yang lain. Saat itu juga mereka berlari menuruni tebing yang sedikit curam. Dengan beringasnya mereka terus mendekat.
Mereka tangkap satu-satu sebelum disantap hidup-hidup. Teriakan histeris tak mereka hiraukan. Ma lah, peluru yang dilepaskan dari pistol Mr Clean tak menyurutkan langkah mereka untuk melahap ha bis badan Siska, Nina, Lusi dan Leni.
Waaaaa ...
"Sikaaaat!"
Sementara Jajak dan Jojon mengu tili pelan-pelan kulit Siska cs, Sang Bos Jojo dan anak buahnya mem benturkan kepala Pak Lebay, Ahmad, Daud dan Rafli ke bebatuan.
Kemudian dibenamkan ke dalam air sampai tewas. Setelah itu me reka angkat ke tebing. Diseret, diba wa ke tempat yang aman. Sebelum mereka sikat bersama-sama.
Sebagian lagi, dari daging yang ter sisa, mereka panggang seperti la yaknya memanggang kambing dan hewan lainnya. Setelah matang itu panggangan, mereka santap rame-rame sambil berpesta pora, joget sampai subuh tiba.
Mr Clean dan Mrs Sabrina, kedua nya tak bisa berbuat banyak untuk menolong dan menyelamatkan te man-teman mereka. Karena mereka sendiri hampir tertangkap ketika dikejar anak buah Bos Jojo.
Beruntung mereka melompat dan menyelam ke dalam air. Lama juga. Mereka sembunyi di sela tanaman hutan yang tumbuh lebat meman jang di sepanjang lokasi air terjun.
Air terjun ini mengalir melewati anak-anak laut sebelum menuju lautan lepas. Sayang, Mr Clean dan Mrs Sabrina tidak menyaksikan re kan-rekan mereka dihabisi dengan cara di'mutilasi'.
Keduanya terus berenang meski na fas mulai ngos-ngosan. Dengan tu buh menggigil karena kedinginan, mereka berusaha bertahan dengan menarik nafas sambil berpelukan setelah terdampar di sebuah pantai kecil nan perawan.
Malam harinya, mereka hanya bisa tidur di atas pohon kelapa yang me nghadap ke lautan lepas. Untuk sekadar mengganjal perut, mereka kupas buah kelapa. Diminum airnya, dimakan dagingnya.
Pagi harinya mereka baru turun dari pohon kelapa. Mereka berlari ke tepian pantai dengan harapan ada orang atau siapa saja yang ada dan melintas di lautan lepas itu.
"Percuma Mr Clean," kata Mrs Sabrina. Dia tampak tak begitu bersemangat lagi untuk menemu kan cara agar bisa keluar dengan selamat dari pulau 'terkutuk' ini.
"Sementara ini belum ada yang bi sa kita bikin," kata Mr Clean. Dia ingin membangun pondok kecil. Tadinya dia melihat ada batang pohon kelapa terserak di dekat hutan bukit berbaris.
"Bagaimana dengan mereka Mr Clean?" Maksudnya, makhluk pemakan manusia.
"Nanti kita pikirkan. Sekarang kita fokus bangun pondok dulu buat istirahat. Bagaimana? Setuju kan Sabrina?"
Sabrina mengangguk. Tapi tak bisa cepat. Perlu waktu beberapa jam dan boleh saja satu atau dua hari. Karena bahannya baru sebagian ditemukan.
"Tenang. Untuk dindingnya kita pa kai saja daun kelapa. Atau apa sa jalah nanti. Kita kelilingkan. Ikat dan bereees ..."
"Hebat juga kamu Mr Clean," puji Sabrina. Berdua Mr Clean, berge gas mencari beberapa batang po hon kelapa lagi untuk dijadikan cagak pondok darurat.
5
ROMBONGAN tim pertama pencari jatuhnya pesawat Z1 adalah Miss Nancy dan Mr Jodi. Keduanya men darat selamat bersama enam ang gota pasukan khusus yang secara khusus diminta Inspektur Polisi Smith untuk menyelamatkan pe numpang yang masih hidup.
Mereka mendarat selamat dengan sebuah pesawat berbadan sedang, siang hari di sebuah tanah berbukit tak jauh dari lokasi air terjun tem pat dimana Mr Clean dan rombo ngan mandi kemarin siang.
Selang beberapa jam kemudian, tiba di lokasi yang sama, Letnan Salam beserta empat anak buah nya. Mereka diperlengkapi bekal dan persenjataan yang cukup untuk beberapa hari ke depan.
Mereka hanya terpaut satu jam dari tim pertama yang sempat berdisku si sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mencari lokasi jatuhnya pesawat.
"Jod. Coba ke kanan!" Miss Nancy melihat ada jalan setapak meman jang. Dia menginginkan menempuh jalur ini daripada misalnya, memu tar atau membuat jalan baru.
Jalan setapak ini, selain lebih aman dilalui karena dapat dipastikan su dah ada yang melewatinya lebih dulu, juga tidak terlalu menyemak. Memang ada pepohonan besar, tapi mata ini masih bisa memandang ke sekitar hutan yang panoramanya membikin hati ini deg-degan.
"Letnan. Apa tidak sebaiknya kita lurus saja ke depan!" Saran Sersan Alif. Diiyakan ketiga rekannya, Sersan Jodi, Fredi dan Chairi.
"Sebentar ..." Letnan Salam me ngambil hape dari saku celananya. Dia mencoba menghu bungi seseorang.
Kriiing ..
Kriiing ...
"Halo .. Miss Nancy disini."
"Letnan Salam, Miss."
"Udah nyampe Letnan. Syukurlah."
"Dimana posisi sekarang Miss?"
"Eeem ... Jalan setapak tak jauh dari air terjun. Letnan Salam sendiri dimana?" Miss Nancy agak samar untuk menjelaskan posisi mereka sekarang karena yang terlihat hutan belantara.
"Dimana ya? Tapi sepertinya di tanah berbukit Miss Nancy," jelas Letnan Salam. Dia bertekad akan menemukan Mr Clean dan Mrs Sabrina Muhsin, berikut pesawat penumpang yang jatuh, entah dimana posisi persisnya.
Ha ha ha ha ...
Miss Nancy ketawa, Mr Jodi garuk-garuk kepala.
"Berarti kita dekat Letnan. Seka rang, Letnan lurus saja. Kira-kira setengah perjalanan, ke kanan ada jalan setapak. Lurus. Disitulah posisi kami sekarang Letnan."
"Oke. Bisa ..."
"Kami tunggu Letnan."
"Terima kasih."
Di tepian pantai ...
"Sabrinaaaaa ...!"
Mrs Sabrina Muhsin tidak mende ngar teriakan barusan karena dia asyik mengikat tali ayunan yang ia ikatkan di dua batang pohon yang tak berjauhan.
"Sabrinaaa...!"
Mrs Sabrina belum juga mendeng ar. Selesai mengikat tali ayunan, baru dia mengalihkan pandangan nya lurus ke depan. Ke tepian lautan lepas.
Dia berlari kencang. Dia sangat bernafsu ingin melihat dari dekat dan mengelus ikan tangkapan Mr Clean yang lumayan besar itu.
Mr Clean sendiri hanya berdiri ter kesima melihat Mrs Sabrina meme luk ikan itu, lalu menari- nari sambil tertawa. Giginya yang putih menam bah cantik perempuan yang belum lama menikah ini.
Lama juga Mrs Sabrina meman dangi ikan besar itu. Ikan Tenggiri itu diketemukan Mr Clean saat berjalan di tepian pantai. Terdampar di atas pasir. Masih hidup walau sudah melemah dan lamban pergerakannya.
'Bikin apa ya Clean, enaknya?" Mrs Sabrina ingin sekali memindang nya, tapi tak ada bahan dan pera latan memasaknya.
"Ya udah. Kita bakar sajalah. Gampang kan?"
"Mau?"
Mr Clean mengangguk.
Saat hendak berganti pakaian, dia mendapat telepon dari seseorang.
"Hallo ...!"
"Mr Clean?" Suara itu terdengar sayup-sayup karena buruknya jaringan, tapi Mr Clean sepertinya sudah tidak asing lagi dengan suara itu.
"Miss Nancy kan?"
"Betul. Seratus buat kamu Clean," ucap Miss Nancy. Ingin dia melom pat saking girangnya karena telah bisa berkomunikasi dengan sang pujaan hati, Mr Clean.
"Let ...!" Miss Nancy memberikan hapenya pada Letnan Salam. Sete lah diberitahu kalau yang ngomong barusan anak buahnya, Mr Clean, legalah dia.
"Sabrina juga kan?"
" Ialah Let. Sayang tinggal kami berdua yang selamat. Kami seka rang berumah di tepian pantai."
"Syukurlah," jawab Letnan Salam. Dia, sebelum memberikan hape itu pada Miss Nancy, Mr Clean memin tanya segera menjauh dari lokasi pesawat karena diintai makhluk kera pemakan daging manusia.
"Clean ...?"
"Cepatlah sembunyi. Tapi kalau terpaksa ya tembak mereka untuk membela diri. Mereka itu kasar, garang. Para penumpang yang ikut kami kemarin habis dimakan mereka. Persis zombi Nancy."
Kecut juga nyali Miss Nancy. Bukan apa-apa. Mendengar penjelasan Mr Clean bahwa jumlah mereka men capai ratusan, sangat tak bersaha bat dan siap 'melumat' apa saja di depan mereka. Termasuk manusia, peluang untuk lolos dari kejaran mereka sangatlah kecil.
"Tapi selalu ada jalan buat orang sebaik kamu Miss Nancy," puji Mr Clean, memberikan semangat.
"Clean ..."
"Aku tunggu kamu di tepi pantai ya. Aku sudah tak sabar .."
Tobe continued
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar