Novel ...
Lantak (1)
Oleh Wak Amin
1
MISS Nancy menjerit histeris ketika pesawat yang ditumpangi Mrs Sab rina
Muhsin dan Mr Clean jatuh di sebuah pulau terpencil di Bumi Hi jau.
Dari depan pesawat televisi, lepas Magrib, dia berlari ke ruang depan,
mengangkat telepon.
Dia menghubungi koleganya Mr Jodi, yang malam ini mendapat tugas piket
di mabes bersama empat teman sekerjanya. Sepanjang malam mereka
bertugas, pulang pagi. Begitulah sampai batas waktu yang telah
ditentukan.
Ketika diberitahu Miss Nancy pesa wat yang ditumpangi Mr Clean dan Mrs
Sabrina jatuh karena cuaca buruk, Mr Jodi tak langsung percaya.
Pasalnya, selama ini antara Mr Jodi dengan Miss Nancy acapkali ber
canda, saling menyindir, namun setelah itu berbaikan kembali.
"Gue serius nich Jodi," ucap Miss Nancy seolah hendak menangis.
Mendengar suara yang melemah dan terisak, Mr Jodi tak sampai hati
meneruskan candaannya.
"Oke. Sekarang apa rencanamu Nancy?"
"Kita susul aja mereka," kata Miss Nancy. Dia merasa Mr Clean dan Mrs
Sabrina perlu pertolongan sung guh-sungguh mengingat pulau tem pat
pesawat berbadan besar itu jatuh memang terpencil.
"Kamu kan tahu Bumi Hijau itu apa. Mendengar namanya saja orang sudah
merasa takut. Konon katanyan berhantu ..." Lanjut Miss Nancy, berharap
Mr Jodi mau ikut dengannya menemukan jejak Mr Clean dan ratusan
penumpang lain.
"Pakai apa kesana Miss?"
"Pesawat kecil," ujar Miss Nancy.
"Itu kan harus minta izin dan jelas tujuannya buat apa. Lagi pula untuk menuju ke lokasi jatuhnya pesawat tak mungkinlah ..."
"Kenapa tak mungkin Mr Jodi. Kita kan resmi. Kita ini kan abdi negara.
Aparat penegak hukum. Sudah tu gas kita untuk membantu mereka," terang
Miss Nancy. Sulit baginya untuk tidak pergi ke pulau yang ' tak
berpenduduk' itu.
" Bukan itu masalahnya Miss. Tapi kemampuan terbang pesawat kecil itu
yang diragukan. Iya kalau cuaca baik. Kalau tidak, sama saja deng an
mengantarkan nyawa ke sa na ..."
"Jadi kamu tidak mau Mr Jodi?"
"Bukan Miss. Bukan begitu. Eeem
... Gimana ya?"
Berpikir sejenak ..
"Oh begini Miss." Mr Jodi akhirnya bisa tertawa. Lega karena dia su dah menemukan jawabannya.
"Kita temui saja Inspektur Smith, Miss. Mau kan?" Ajak Mr Jodi. Dia
yakin atasannya itu mau memban tu karena di antara penumpang pe sawat
itu ada Mr Clean dan Mrs Sabrina Muhsin.
"Saya pesimis Jod."
"Kenapa? Jangan .. Jangan begitu. Kita coba dulu ajalah. Mana tahu moncer." Kata Mr Jodi.
"Nanti saya izin. Aku jemput kamu di rumah. Kita sama-sama ke rumahnya Pak Inspektur. Enggak usah lewat telepon. Oke?"
"Oke?"
"Saya tunggu jadi?"
" Betul ..."
Sementara di pulau kecil tak bernama itu, hanya sepuluh orang yang
selamat. Selebihnya tewas dengan cara mengenaskan. Ang gota badan
terpisah, berserakan di sekitar area pesawat. Bahkan ba nyak juga di
antara mereka sudah tidak bisa dikenali lagi.
Kesepuluh orang yang selamat itu tidak termasuk pilot dan co pilot.
Mereka adalah penumpang biasa dengan beragam profesi. Mulai dari
pengusaha, guru hingga ibu rumah tangga.
Kondisi mereka tidak mengkuatir kan. Hanya mengalami luka kecil di
pelipis, tangan dan kaki. Masih bisa berjalan, walau tak pula tahu harus
berjalan kemana. Semua hutan be lantara. Tak ada yang bisa dilihat
selain langit.
Tengah malam di belantara hutan perawan bukan perkara gampang. Selain
gelap, lengah sedikit jadi san tapan empuk binatang buas seperti harimau
dan singa.
Mr Clean dan Mrs Sabrina, secara tak langsung ditunjuk sebagai 'ko
mandan' penumpang yang selamat. Keduanya meminta rekan-rekan me reka
sesama penumpang untuk na ik ke atas pohon agar terhindar dari intaian
dan gangguan binatang bu as.
Karena tidak semua penumpang bisa memanjat pohon, Mr Clean dan Mrs
Sabrina turun tangan membantu mereka. Satu-satu berhasil duduk di atas
pohon dengan wajah tegang dan ketakutan.
Posisi mereka tidak berjauhan, lan taran antara satu pohon dengan pohon
lainnya sangat berdekatan. Nyaris tidak ada jarak sama sekali.
Kepada rekan-rekannya, Mr Clean meminta untuk diam dan sedapat mungkin
mengurangi pembicaraan kecuali itu mendesak sifatnya dan sangat penting.
Hal ini dimaksudkan Mr Clean agar keberadaan mereka tidak diketa hui
'penghuni baru' yang boleh jadi ada di hutan amat lebat ini.
2
KUUR .. Tekuur .. Tekuur ..
Kuur .. Tekuur .. Tekuur ..
Ciit .. Ciit ... Ciit ..
Suara cicit burung menyambut pa gi. Cerah nian. Bebatuan tampak
menghijau. Mr Clean dan rombo ngan sudah turun dari pohon. Kini mereka
tengah berjalan menyusuri hutan belantara. Apa yang ditemui mereka makan
karena lapar. Mulai dari buah hutan hingga rusa dan manjangan.
"Ayo bapak-bapak, ibu-ibu. Kita sikat," kata Mrs Sabrina seusai me manggang seekor rusa hasil buruan mereka jelang tengah hari.
"Ayo .. Pak, Bu .. Semangat." Sahut Mr Clean. Saat itu juga mereka ra
me-rame menyantap daging rusa. Karena lapar, dalam tempo kurang dari
tiga puluh menit, daging rusa itu habis mereka sikat.
Salah seorang penumpang, wanita muda usia, Siska, mengaku sangat senang mendapat kesempatan melahap daging rusa.
"Dulu, di waktu kecil pernah sekali makan daging rusa. Setelah itu tak
pernah lagi. Sekarang kesempatan itu ada. Cuma sayang .." Siska terdiam.
Hatinya lirih.
"Sayang kenapa Dik?" Mrs Sabrina coba menghibur.
"Di hutan .."
Ha ha ha ha ..
Siska pun ikut tertawa akhirnya. Wa lau dia sendiri tidak menyangka te man-teman satu pesawat yang se lamat justru tertawa.
"Lucu saja Dik, sekaligus senang," kata Nina, seorang ibu dengan tiga
anak. Dia tidak membawa serta anak-anaknya. Juga suami tercinta. Dia
pergi sendirian menengok ke dua orang tuanya yang mulai sakit-sakitan
belakangan ini.
"Sama dengan saya Nak Siska," lan jut si ibu berparas 'lumayan' ini.
"Senang bisa menikmati daging rusa. Masih mending Nak Siska pernah
mencicipinya. Kalau ibu belum sama sekali selain tahu dari buku ..."
He he he he ...
"Ada-ada saja ibu ini," komentar Mr Clean. "Tapi terus terang Bu, saya
senang dengan keadaan kita seper ti ini. Seolah bukan berada di te ngah
hutan belantara."
Ha ha ha ha ..
"Kalau saya lain lagi Mr Clean," sahut Lusi, pengantin baru, di dampingi suaminya, Pak Lebay.
"Dari buku juga kah Bu?" Tanya Bu Nina penasaran.
"Bukan Bu. Dari cerita orang tua," jelas Lusi. "Kalau inget itu saya
jadi ketawa. Tak menyangka cerita itu kini sudah terbukti dengan makan
nya saya daging ini."
Ha ha ha ha ...
"Betul sekali bapak-bapak, ibu-ibu." Timpal Pak Lebay, menambahkan
cerita isterinya barusan. "Waktu kecil kita hanya taunya daging
ayam, bebek dan daging sapi. Tak pernah saya tahu ada daging lain yang
juga enak selain daging ketiga hewan tersebut. "
Ha ha ha ha ...
"Saya juga punya cerita lucu soal daging rusa ini. Sayang kalau tidak
diceritakan," kata Ahmad, penum pang laki-laki berperawakan tinggi
kurus.
"Dulu," katanya, "Ingin sekali makan daging hewan lain selain daging ay
am yang saya sukai. Saya pernah cari ke mana-mana, tapi tak ada. Sa ya
kecewa, iya. Marah, tidak juga. Kenapa? Karena hari ini saya telah
menemukan dan memakan daging hewan lain yang tak kalah lezatnya."
Ha ha ha ha ...
"Setelah mendengar cerita kalian," potong Pak Daud, "Saya lalu kepikiran ..."
"Mau nambah lagi ya?" Sindir Rafli dan Ahmad, ketawa lebar.
"Cukuplah. Bukan apa-apa. Dagingnya sudah habis."
He he he he ...
"Begini Mr Clean dan bapak ibu sekalian. Saya kepikiran mau ter nak rusa, manjangan atau kancil
..."
Ha ha ha ha ...
"Mau berburu sendiri Pak Daud?" Ledek Rafli. Sejauh yang ia tahu, rusa dan sejenisnya sulit ditemukan di pasaran..
"Malah tidak ada Pak Daud," jelas Pak Rafli.
"Kalau berburu memang kemung kinan dapat. Tapi apa bisa? Setahu saya dia itu termasuk hewan yang dilindungi."
Ha ha ha ha ...
"Benar sekali Pak Daud," terang Mr Clean. "Kita wajib memelihara ha
bitatnya. Soalnya, hewan yang da gingnya kita makan ini sudah lang ka
dan dengan tidak menangkap nya berarti kita telah membantu pe merintah
dan semua pihak untuk menjaga kelestarian spesies rusa."
3
"AYO Bu Sabrina. Terjuuun!" Teriak Bu Nina dalam air terjun yang menyerupai kolam.
Dingin dan sejuk. Mrs Sabrina belum beraksi. Dia hanya melambaikan tangan dan memberi isyarat baru akan terjun sebentar lagi.
"Siska! Enggak ikutan mandi?" Tanya Lusi. Buka pakaian, dan terjun ke dalam air dengan hanya mengenakan celana pendek.
Bersama Bu Nina, Lusi saling cip rat-cipratan air. Menyelam dan berenang kesana kemari. Lalu duduk di bebatuan besar.
Agak ke kanan, Mr Clean dan pe numpang laki-laki pada duduk dia atas batu. Kemudian sama-sama melompat, masuk ke dalam air.
Mereka tertawa sambil bernyanyi bersama ...
" Andai kutahu betapa
Enaknya mandi di sini
Kenapa mesti cari yang lain
Sayang jauh dari tempat
kita berdiam
Tapi dingin
Menyejukkan hati ..."
Sementara para penumpang perem puan tak mau kalah. Mereka berte puk
tangan sambil berdendang di atas batu besar kecoklat-coklatan ...
"Alanglah senang hati ini
Pikiran tenang
Tak susah hati
Kalau terus-terusan begini
Bisa awet sampai
Seribu tahun lagi ..."
Tak lama setelah itu ... Mr Clean mengajak rekan-rekannya sesama lelaki untuk saling bersahutan kata dengan Mrs Sabrina cs.
Semua setuju. Dimulai dari Pak Lebay versus Siska ...
Pak Lebay :
"Jalan-jalan ke kota besar
Bawa sayuran di dalam peti
Kalau adik memang kesasar
Bolehlah abang ikut menemani"
Siska :
"Jalan-jalan kita ke kota
Singgah sejenak di pasar besi
Terima kasih abang tercinta
Biar adik pulang sendiri."
Plak .. pak .. plak ... pak ...
Selanjutnya .. Pak Ahmad dan Bu Nina ...
Pak Ahmad :
"Bangun tidur makan mentimun
Setelah itu makan nangka
Duhai ibu kenapa melamun
Sering melamun cepat tua."
Bu Nina :
"Makan mie enggak pakai bihun
Dimakan berdua dengan si abang
Kenapa ibu sekarang melamun
Memikirkan abang enggak pulang-pulang ..."
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Berikutnya .. Pak Daud dengan Bu Lusi ...
Pak Daud :
" Makan nasi lauknya basi
Meski basi dimakan juga
Kenapa adik bersedih hati
Mari joget kita berdoa."
Bu Lusi :
"Minum es makan roti
Dimakan berdua di dalam kamar
Kenapa adik bersedih hati
Menunggu abang tak kunjung melamar ..."
Plak ... pak .. plak .. pak ..
Kemudian Pak Rafli dan Leni ...
Pak Rafli :
"Makan nangka sendirian saja
Di luar rumah terang benderang
Kenapa adik tak suka saya
Jangan malu katakan terus terang."
Leni :
"Jalan-jalan ke tanah abang
Beli sepatu roda tiga
Kenapa adik tak suka abang
Abang sih berhati dua ..."
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Terakhir Mrs Sabrina dan Mr Clean ..
Mr Clean :
"Buah apel enak rasanya
Dimakan berdua sama pacar
Kalau adik memang cinta
Kapan abang boleh melamar."
Mrs Sabrina:
"Habis beli baju di pasar besar
Jangan ngeloyor langsung ke rumah
Bukan abang tak boleh melamar
Sebentar lagi adik menikah .."
Plak ... pak .. plak .. pak ..
Kasihan deh luuuu ...
Tobe continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar