Selasa, 04 September 2018

Mari Kita Berdagang (36)

Mari Kita Berdagang (36)
Oleh aminuddin

Al- Quran dan SDM
SEJAK islam belum hadir di hala man kehidupan umat manusia, orang Eropa kuno sudah mengenal apa yang disebut dengan sumber daya manusia (SDM)/yang kemu dian dilindungi, dijaga dan dijunjung tinggi dalam kehidupan mereka.

Sebut saja orang Yunani yang kala itu terbagi dalam dua masyarakat Yunani besar yakni Yunani Sparta dan Yunani Athena.

Menurut orang Yunani Sparta, sumber daya manusia satu-satunya adalah fisik atau tubuh kasar yang dimiliki manusia itu, sehingga kalangan ini sangat memuliakan dan menghargai orang-orang yang kuat dan gagah perkasa, berpostur tubuh tinggi dan kuat.

Di balik itu mereka sangat mere mehkan dan memarginalkan mere ka yang lemah, tua renta atau ora ng-orang yang penyakitan bahkan mereka tidak sungkan untuk me nghabisi nyawa orang-orang margi nal ini sebelum dilemparkan ke ka wanan serigala lapar di hutan.

Lain halnya dengan masyarakat Yu nani Athena. Menurut orang Athe na, sumber daya manusia yang perlu dijaga dan dilestarikan adalah akal yang ada pada manusia.

Atas asumsi mereka seperti itu, ka um cendikia mendapatkan posisi paling mulia dan terhor mat dari mereka. Mereka dicintai dan disan jung-sanjung oleh keluarga dan ora ng lain, bahkan fatwa-fatwa keilmu an mereka hampir disejajarkan de ngan putusan-putusan tokoh reli gius mereka.

Asumsi-asumsi orang Yunani ini kemudian ditransferkan dalam bu ku-buku mereka yang tersebar di daratan Eropa yang kemudian pada akhirnya pengaruh kaum Athena le bih mendominasi dan mata serta pikiran masyarakat Eropa mulai me lek untuk belajar dan mangasah akal pikiran mereka.

Sementara di jazirah arab, penduduk di sana lebih terpengaruh dengan asumsi orang-orang Yunani Sparta yang lebih mengedepankan sumber kekuatan fisik dari akal mereka, meskipun sudah ada ber bagai perubahan nyata dalam tu buh bangsa arab seperti adanya rifadah, siqoyah, saddanah dan lainnya.

Mereka masih tetap memegang asumsi yang pertama sehingga tradisi marginilisasi golongan yang lemah masih tetap ada dan hal itu digambarkan dalam bentuk budaya perbudakan yang masih kental.

Selain itu, bangsa Arab juga memi liki asumsi yang tak kalah rendah nya dengan bangsa lain yakni ang gapan tingginya derajat kaum pria di atas kaum wanita, bahkan bagi mereka wanita adalah biang keladi segala kesusahan dan malapetaka, sehingga diriwayatkan setiap bayi yang sudah dilahirkan, jika ternyata dia itu wanita, maka dengan segera sang ayah menggali lubang dan me nguburkan bayinya meskipun dia masih dalam keadaan hidup.

Hal ini diceritakan dalam Al-Quran
Surah Attakwir  8-9 :

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Karena dosa apakah dia dibunuh."

Setelah hadirnya Al- Quran di te ngah mereka dan seluruh umat manusia di penjuru dunia, maka  asumsi-asumsi sempit tentang sumber daya manusia yang berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia dan peradaban mu lai tertata dan disempurnakan.

Asumsi akan keterbatasan sumber daya itu kemudian digabungkan se cara sempurna oleh Al- Quran dan menambahkan satu sumber daya yang belum diperhatikan oleh ma syarakat sebelumnya adalah hati.

Dengan demikian sumber daya ma nusia dalam konteks Al-Quran ada tiga macam yakni sumber daya fisik, sumber daya akal dan sumber daya hati, dan inilah yang kemudian dijabarkan ke dalam iman, islam dan ihsan.

- Fisik
Hal kedua yang perlu diberdayakan oleh manusia menuju kehidupan yang lebih baik dalam konteks Al- Quran adalah fisik.

Manusia adalah satu-satunya makh luk yang paling unik dan paling sem purna ciptaannya dengan posisi ke pala dan tiga alat komunikasi uta ma berupa mata yang menghadap ke depan, dua  telinga yang mengha dap ke sisi kanan dan sisi kiri serta mulut yang menghadap ke arah orang yang diajak berbicara telah membawa manusia untuk mampu mendapatkan segala kebaikan.

Firman-Nya :

“Sesungguhnya Kami telah mencip takan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya “ (QS At- Tin: 4 )

Dengan ciptaan yang sempurna ini manusia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan orang lain dan alam sekitarnya yang kemudian dari interaksi itu akan menghasilkan sebuah give dan take atau saling memberi dan menerima informasin yang pada hakikatnya merupakan awal dari pemenuhan kebutuhan.

Di bagian lain kesempurnaan fisik manusia itu selain berinteraksi dengan pihak lain, fisik itu juga harus digunakan untuk hal-hal yang positif dan inovatif.

Bumi yang dilengkapi dengan lau tan yang luas dan hasilnya yang melimpah ruah adalah anugerah dari Allah SWT kepada manusia untuk digunakan sebaik-baiknya sesuai dengan kebutuhan mereka.

Namun pada bagian lain dari hasil laut itu juga, manusia juga dituntut untuk mengembangkannya ke da lam bentuk yang lebih bermanfaat dari pada aslinya.

Permberdayaan fisik manusia itu pada hakikatnya adalah bagian dari ekplorasi kehidupan, semakin bergerak dan berkarya maka manusia semakin banyak mengambil manfaat dari alam sekitar.

Allah SWT berfirman :

“Maka apakah mereka tidak meli hat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggi kannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami ham parkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang ko koh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang in dah dipandang mata untuk menja di pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (me ngingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaat nya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji ta naman yang diketam,  dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mem punyai mayang yang bersusun- su sun, untuk menjadi rezeki bagi ham ba-hamba (Kami), dan Kami hidup kan dengan air itu tanah yang mati (kering). seperti Itulah terjadinya kebangkitan. ( QS Qaf : 6-11 )

Pada ayat di atas Al-Quran yang mu lia sangat jelas memberikan gamba ran pada manusia bahwa segala ya ng diciptakan oleh Allah SWT akan menjadi bermanfaat jika adanya res pon atau kesigapan manusia dalam menilai hal itu menyusul masih ada manusia yang melarat lantaran be lum memberdayakan apa yang ada di alam sekitarnya dengan fisiknya, kekuatannya dan usahanya.

Rasulullah SAW dalam sebuah ha disnya memberikan sebuah pernya taan bahwa rezeki yang didapatkan dari jerih payahmanusia dengan be kerja itu adalah lebih mulia jika divbandingkan dengan apa yang dia dapatkan dengan meminta-minta.

Beliau juga mencela manusia yang hanya bersandar kepada takdir dan tidak mau berusaha, dan beliau sendiri pun melakukan usaha itu seperti mengembala kambing, berdagang, dan lainnya yang memberikan tambahan wawasan kepada kita bahwa tubuh yang Allah SWT berikan ini harus digu nakan sesuai dengan tujuannya agar tidak sia-sia.

Dasar pokok ajaran  Al-Quran sendi ri adalah tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, artinya memberi itu lebih mulia dari pada diberi, yang  secara logika tidak mu ngkin seseroang dapat memberi jika dia tidak memiliki apa yang akan diberikan, dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan hal itu ke cuali dengan berusaha, memberda yakan fisiknya dengan bekerja men cari nafkah, dengan cara apapun yang dihalalkan oleh agama.

Di balik itu semua, Islam yang ber landaskan Al- Quran sangat men cela mereka yang tidak berusaha memberdayakan fisik mereka. Ha nya duduk-duduk dan mengharap kan uluran tangan dari orang lain.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda :

“ Barang siapa yang membuka satu pintu untuk meminta-minta maka Allah SWT akan membukakan bagi nya 70 pintu menuju kefakiran”.

Orang yang suka meminta-minta pada hakikatnya dia sudah mem bunuh dirinya secara perlahan-la han dan tidak menyukuri apa yang diberikan oleh Allah SWT kepada nya.

Di antara sebab seseorang memin ta-minta adalah ketidak fahaman dia akan Al-Quran yang memerin tahkan manusia untuk berusaha.

- Akal
“ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.
( QS Al-A’raf: 179 )

Dengan demikian konteks Al-Quran dalam pemberdayaan akal manusia adalah penggunaan akal untuk ber pikir, meniliti dan memperhatikan segala yang ada dalam kehidupan lalu kemudian mengambil sebuah kesimpulan berupa pelajaran atupun hikmah atau lebih dari itu mewujudkan ide-ide yang baru dan cemerlang demi terpeliharanya kehidupan manusia.

Pemberdayaan akal juga akan membawa manusia pada tingkat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam  Surah Al-Mujadilah ayat 11 :

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."

- Hati
Sumber daya ketiga yang harus diperhatikan peningkatannya ada lah hati, dan pemberdayaan hati inilah yang merupakan inti dari segala macam usaha pemberda yaan apa saja yang dilakukan oleh manusia dalam konteks Al- Quran.

Rasulullah SAW dalam sebuah ha dist yang menjelaskan begitu besar pengaruh hati manusia terhadap ji wa dan raganya mengatakan :

“Se sungguhanya pada jasad manusia itu ada segumpal daging, jika dia itu baik maka seluruh tubuh akan baik dan jika dia itu tidak baik ma ka seluruh tubuh juga akan tidak baik, segumpal daging itu tidak lain adalah hati (sanubari ).”

Hadist lain :

“Sesungguhanya Allah SWT tidak melihat bentuk rupamu dan amal perbuatanmu, tapi yang Allah SWT lihat adalah hati dan niatanmu”

Jika demikian  maka pemberdaya an hati tidak lain adalah pembersi hannya dari segala sifat tercela dan pengisiannya dengan segala sifat yang terpuji.

Dalam pemberdayaan hati ini ma nusia dituntut untuk melakukan tiga hal penting :


1. Mengenali segala penyakit hati secara terperinci serta jalan-jalan atau cara penyakit-penyakit itu menjangkiti hatinya.

2.  Mengenal gejala-gejala yang timbul dari hati yang terjangkit penyakit hati.

3. Mengenal cara pengobatan dari hati yang sudah sakit.

Mereka yang mengenal penyakit-penyakit yang suka menyerang hati manusia akan dengan mudah dia berusaha untuk menjauhi perkara-perkara yang mendekatkan penya kit itu kepada hatinya. Dia akan berusaha menutup semau akses yang dapat menyampaikan penya kit itu ke dalam hatinya.

Selanjutnya manusia dalam mem berdayakan hatinya juga dituntut untuk mengenal gejala-gejala yang timbul dari hati yang terjangkit pe nyakit, dan dari gejala itu dia akan memutuskan hakikat serta jenis penyakit yang dia derita.

Manusia juga dituntut untuk mengo bati hati mereka yang sudah sakit karena terkena penyakit hati deng an melakukan perbuatan yang di anjurkan oleh agama.

Kemudian, setelah hati itu sudah bersih,  langkah berikutnya dari pemberdayaan hati adalah menghi asinya dengan sifat-sifat yang mu lia atau yang berseberangan deng an sifat-sifat hati manusia yang sakit.

Hati harus diberdayakan dengan sifat kedermawanan, yang di dalam islam dapat diimplementasikan dengan membayar zakat dan berinfak serta sedekah.

Nilai-nilai sosial seperti inilah yang dianjurkan oleh Al-Quran dalam kon teks peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Cara lain dari pemberdayaan hati adalah menghiasi hati dengan sifat rahmat kepada fakir miskin dan an ak-anak terlantar yang dapat dilaku kan dengan berpuasa atau duduk bersama mereka, sehingga dia akan merasakan penderitaan yang dirasakan oleh kaum yang lebih lemah darinya.

Demikian seterusnya hati yang menuju kepada kemuliaan adalah hati yang harus dididik dengan perangai yang mulia. Sebaliknya Al- Quran sangat mencela manusia  ya ng membiarkan hati mereka dalam keadaan sakit,  penuh dengan ke sombongan dan keangkuhan. Bah kan Allah SWT sama sekali tidak akan menerima manusia-manusia yang hatinya masih tersimpan sifat-sifat tercela.




----

Almadramlimatdoan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar