Kamis, 06 September 2018

Mata Pisau (10)

Mata Pisau (10)
Oleh aminuddin




SEBUAH helikopter berputar-putar di taman kota. Terbang rendah. Se mpat mau mendarat tapi tidak jadi. Rentetan tembakan dilepaskan ...

Letnan Robert dan Sersan James terus menembak. Helikopter sem pat terbang beberap meter dari pemukaan rumput sebelum akhir nya meledak.

Ledakan helikopter itu mengaget kan Mayor Ridwan, Mr Clean dan Sersan Leonard, karena tak ada laporan sebelumnya dari petugas yang menerbangkan helikopter ber badan mungil itu

"Clean .."

"Kami sudah dekat dengan tempat ledakan Mayor."

"Ambil tindakan tegas Clean."

"Siap Mayor."

"Bila perlu tembak di tempat .."

"Siap Mayor."

Mobil yang ditumpangi Letnan Ro bert berhasil melewati anak sungai yang dangkal kedalamannya. Kini bersiap menelusuri jalan bertanah liat yang kanan kirinya diapit se mak belukar dan lebih dari lima puluh pohon besar.

Untuk sementara aman. Namun beberapa menit kemudian, Mayor Ridwan menemukan keberadaan Letnan Robert lewat sinyal radio komunikasi ..

"Clean."

"Siap Mayor."

"Saya menemukan mereka .. Dan saya akan lepaskan tembakan pengganggu ..."

"Baik Mayor."

Mayor Ridwan menginstruksikan anak buahnya untuk melepaskan tembakan ...

"Tembaaaaak .."

Dua kali tembakan mengarah ke mobil yang disopiri Sersan James. Sempat oleng dan berhasil melaju.

"Tembaaak!"

Tiga kali tembakan, kali ini menge nai tangan Letnan Robert. Meringis kesakitan.

"Ke kanan Sersan!" Perinrtah Letnan Robert.

Keduanya melompat turun dari mo bil. Beberapa saat kemudian terde ngar lagi suara tembakan. Di anta ranya mengenai mobil dan mele dak seketika.

"Kampret. Habis kita Sersan."

"Kita segera tinggalkan tempat ini Letnan," kata Sersan James. Dari pada meratapi puing-puing mobil yang tersisa, mendingan segera mencari tempat persembunyian.

"Kayaknya tak ada satu pun rumah penduduk Sersan ..."

"Kita naik pohon saja Let."

Memandang sejenak ke atas pohon yang rindang. Aman memang. Tapi pasukan pemerintah tentu, lambat atau cepat, akan menemukan tem pat persembunyian mereka ini.

"Nantilah Sersan. Kita harus terus berlari," ujar Letnan Robert.

"Tapi Let ..."

Jeguaaar ...

Jeguaam ...

Kraaak ...

Buuuum ...

Satu pohon besar tumbang, dan nyaris mengenai Sersan James, jika tidak cepat duselmatkan Letnan Ro bert dengan menarik tangan anak buahnya ...

Sayup-sayup terdengar  ..

"Majuuuu ...!"

"Tembaaak!"

Hutan dimana Letnan Robert dan Sersan James berada terbakar. Mes ki kobaran api tidak terlalu besar, tapi menutup akses jalan keluar masuk hutan.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar