Mata Pisau (7)
Oleh Wak Amin
"SAYA hanya ingin Letnan Parto dihabisi, bagaimana pun caranya," kata Mr Fredi pada koleganya Let nan Robert, di sebuah taman tak jauh dari motel pinggiran kota.
"Baik Fred ... Kalau boleh tahu kena pa kamu amat bernafsu meng habisi si letnan itu ...?"
"Aku hampir masuk penjara gara-gara dia Bert ..."
Ha ha ha ...
"Baiklah. Apa kompensasi buat kami Fred?"
"Lima koper uang kertas dolar Bert. Cash. Begitu si letnan klepek-kle pek, beritahu saya ..."
Ha ha ha ...
"Andaikata Fred. Kami gagal meng habisi si letnan, apa kamu marah atau kecewa?"
"Marah sih tidak. Tapi kecewa aja," kata Mr Fredi dengan ekspresi wa jah tegang.
Letnan Robert dan empat anak bu ahnya sengaja memilih diam. Ma sih memberikan kesempatan pada Mr Fredi untuk melanjutkan ucap pannya.
"Kecewa karena setahu saya kamu adalah perwira terbaik dan hampir tak pernah gagal. Jadi, tolong bantu saya wahai Letnan Robert yang ter hormat, kamu dan anak buahmu harus sukses demi saya."
Ha ha ha ha ..
"Oh ya Bert. Sebelum kalian melan jutkan perjalanan, saya akan tunjuk kan sesuatu kepadamu. Ayo ikut aku ...."
Mr Fredi mengajak koleganya itu ke ruang paling belakang motel. Di sa na ada banyak senjata yang tersim pan. Mulai dari ukuran kecil hingga besar.
Hanya Mr Fredi yang mengetahui tempat ini. Sementara Letnan Ro bert sangat senang ...
"Pilihlah yang kamu suka Bert," kata Mr Fredi.
Yang pertama kali memegang senj ata beragam bentuk rupa itu adalah Sersan James, disusul Sersan Paul, Sersan George dan Sersan Hiden.
"Boleh dicoba Mr Fredi?" Tanya Ser san George bersemangat.
"Boleh, asal jangan ditembakkan Sersan ..."
Takutnya, kalau ditembakkan, war ga di sekitar motel akan terkejut dan bisa mengundang kecurigaan dari pihak lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar