Kenapa Keluarga Nabi Dihabisi (11)
Oleh aminuddin
1.4. Sayyidina Ali Zainal Abidin, Waliyullah yang Senantiasa Bersujud
IA adalah cicit Rasulullah SAW yang selamat dari pembantaian dalam tragedi Karbala ...
Setelah dewasa ia menjadi wali yang setiap saat bersujud kepada Allah SWT ...
Setelah dua cucu tersayang Rasu lullah SAW, yaitu Hasan dan Husein wafat, sementara sisa-sisa keturunan beliau yang lain terbunuh di padang Karbala, yang masih hidup ialah Ali Zainal Abidin, satu-satunya putra Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib.
Cicit Rasulullah SAW ini lahir di Madinah pada 33 H / 613 M. sementara riwayat lain mengungkapkan ia lahir pada 38 H / 618 M.
Ketika pecah Tragedi Karbala pada abad ke-6 H (abad ke-12 M), ia baru berusia 11 tahun.
Termasuk generasi tabi`in, Ali Zainal Abidin banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya, Husein dan pamannya, Hasan, juga dari para sahabat, seperti Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawir bin Makhramah, Abu Hurairah, Shafiyah, Aisyah, Ummu Kultsum, dan para istri Rasulullah SAW yang lazin disebut ummahatul mukminin, ibunda kaum Muslimin.
Ketika ayahandanya, Sayyidina Husein berjuang melawan prajurit Khalifah Yazid bin Muawiyah, ia tengah sakit dan berada di dalam kemah bersama kaum wanita.
Ia menyaksikan dengan mata kepa la sendiri ketika semua anggota keluarganya berguguran mati sya hid sehingga kenangan getir tak pernah lepas dari benaknya.
Ia bahkan menyaksikan bagaimana ayahandanya dipancung ...
Setelah perang usai, sisa anggota keluarga Sayyidina Husein yang masih hidup ditawan di Kufah, Irak.
Bahkan Ali Zainal Abidin yang keti ka itu masih berusia 11 tahun, ham pir saja dibunuh.
Tetapi nyawanya selamat berkat ke gigihan Sayyidah Zainab, bibinya, yang memeluknya dengan erat dan mencegah para prajurit mendekat.
Tak lama kemudia para tawanan dipindah ke Damaskus, Syria, diper temukan dengan Khalifah Yazid bin Muawiyah, tapi kemudian dibebas kan, bahkan diantar pulang ke Madinah.
Di Madinah itulah Ali Zainal Abidin tumbuh dewasa sebagai seorang yang sangat alim.
Ia tekun beribadah ...
Sementara ketinggian ilmu agamanya menjadikannya sebagai rujukan para ulama, terutama dalam hal ilmu hadits.
Lebih dari itu ia sangat terkenal sebagai ahli ibadah yang luar biasa ...
Muhammad Al-Baqir, anak lelakinya, bercerita, “Setiap kali mendapat nikmat Allah SWT, Imam Ali Zainal Abidin langsung bersujud, setiap kali membaca ayat Sajadah dalam Al-Quran ia selalu bersujud, setiap kali selesai shalat fardu, ia selalu bersujud, dan setiap kali berhasil mendamaikan orang berselisih, ia selalu bersujud. Karena sering bersujud itulah, tampak bekas sujud di keningnya, dan karena itu pula ia disebut As-Sajjad, orang yang suka bersujud.”
Ali Zainal Abidin benar-benar mewa risi sikap dan sifat ayahandanya dalam hal keilmuan dan kezuhudan.
“Di antara Bani Hasyim, saya kira dialah yang paling mulia,” kata Yahya Al-Anshari, salah seorang ulama terkemuka di masanya.
Kemuliaan itu antara lain, karena ia selalu dalam keadaan suci, selalu berwudlu, dan tidak pernah absen menunaikan qiyamul lail alias shalat Tahajud, baik di rumah maupun dalam perjalanan.
Suatu hari, ketika keluar dari masjid, seorang lelaki mencaci Ali Zainal Abidin.
Spontan oranag-orang di sekitarnya berusaha memukul lelaki tersebut, tetapi Ali Zainal Abidin mencegahnya.
Lalu katanya, “Apa yang engkau belum ketahui tentang diriku? Apakah engkau membutuhkan sesuatu?”
Mendengar ucapan lemah lembut itu, laki-laki tersebut merasa malu, lalu Ali Zainal Abidin memberinya uang 1000 dirham.
Maka kata lelaki itu, “Saya bersaksi, engkau benar-benar cicit Rasulullah SAW.”
Makam Mukasyafah
Hampir setiap malam Ali Zainal Abidin menggotong sekarung gandum dan membaginya kepada fakir miskin di Madinah.
“Sesungguhnya sedekah yang disampaikan secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan murka Allah,” katanya.
Ketika itu, sebagian warga kota Madinah mendapat nafkah tanpa mengetahui darimana asal nafkahnya.
Dan ketika Ali Zainal Abidin me ninggal dunia, ternyata mereka tidak lagi mendapat pembagian gandum.
Setiap kali meminjamkan uang atau pakaian, Ali Zainal Anidin tidak pernah memintanya kembali.
Jika bernazar, tidak makan dan mi num, ia tetap berpuasa sampai da pat memenuhi nazarnya.
Begitu dermawan dan penuh kasih sayang, bahkan kepada hewan ya ng dikendarainya pun ia tidak pernah mencambuknya.
Meskipun tragedi Karbala sangat membekas di kalbunya, ia selalu berusaha menyadarkan umat agar bersabar menghadapi kekuasaan yang represif.
Dengan arif ia mendidik dan mem perbaiki nasib umat ...
Salah satunya dengan menyusun rangkaian doa berjudul 'As-Sahifah As-Sajjadiyah' – yang ia maksud kan untuk mengobati penyakit ro hani yang merajalela, sekaligus me manjatkan permohonan kepada Allah SWT agar umat terlepas dari situasi yang menghimpit.
Sebagai Waliyullah, ia dinilai sudah mencapai makam mukasyafah, peringkat tertinggi, yang mampu menyingkap tabir ketuhanan.
Salah satu karomahnya ialah ten tang surat rahasia dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan kepada panglimanya, Hajjaj bin Yusuf As-Saqafi.
Surat itu antara berbunyi, “Jauhkan aku dari lumuran darah Bani Abdul Muthalib, yang setelah bergelimang dalam dosa tidak lagi mampu ber tahan kecuali dalam waktu yang tidak lama.”
Pada saat yang bersamaan, Ali Zainal Abidin juga menulis surat kepada Khalifah Malik bin Marwan, yang di antaranya berbunyi, “Anda telah menulis surat kepada Hajjaj mengenai keamanan kami, semoga Allah memberi balasan yang seba ik-baiknya kepada anda.”
Tentu saja Khalifah Abdul Malik bin Marwan tercengang membacanya. Sebab tanggal surat itu sama per sis dengan tangga surat Khalifah kepada Hajjaj.
Dan ternyata saat keberangkatan utusan Ali Zainal Abidin dari Madi nah juga sama dengan saat ke berangkatan utusan Khalifah yang mengantarkan surat kepada Hajjaj.
Karena itu, Khalifah Abdul Malik pun menyadari, Allah SWT telah membuka mata batin Ali Zainal Abidin.
Ia lalu menulis surat dan menyam paikan hadiah kepada Ali Zainal Abidin ..
Cicit Rasulullah ini juga dikenal sebagai pembela Hak Azasi Manusia.
Dalam risalahnya, 'Risalah Al-Huquq', antara lain ia menulis, manusia punya hak dan kewajiban kepada Allah SWT, kepada diri sen diri, kepada sesama manusia, dan kepada sesama makhluk Allah.
Mengenai hak dan kewajiban kepada sesama manusia, ia memperinci hak dan kewajiban rakyat kepada penguasa dan sebaliknya.
Risalah ini tentu sangat istimewa, karena ditulis pada abad ke 7 Ma sehi, sebelum lahirnya Dokumen Magna Charta dalam sejarah Inggris.
Lima abad setelah itu, yang kemu dian berkembang menjadi Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia ...
Pada zamannya, pengaruh Sayyidina Ali Zainal Abidin sangat kuat, begitu besar kharismanaya, sehingga seorang khalifah pun mengkhawatirkan tahtanya.
Ketika menggantikan ayahnya, Abdul Malik, sebagai khalifah, Walid sempat khawatir, jangan-jangan kharisma Ali Zainal Abidin mampu menggoyang tahtanya.
Pada 95 H / 675 M, Khalifah pun berusaha mendekati sang Waliyul lah melalui seseorang yang kemu dian ternyata meracunnya sehingga Ali Zainal Abidin meninggal dunia.
Untuk kesekian kalinya anak cucu Rasulullah SAW berduka cita ...
Beliau wafat di Madinah pada 18 Muharam 95 H / 875 M. Meninggal kan 11 putra dan 4 putri.
Jenazahnya di kebumikan di pema kaman Baqi` dekat makam sang paman, Sayyidina Hasan.
___
- Sumber kisah: Al-Kisah No.05/27 Feb – 12 Mar 2006
- https://www.sufiz.com > Jejak Wali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar