Kenapa Keluarga Nabi Dihabisi (15)
Oleh aminuddu
1.7. Imam Musa al-Kazhim
Al-Imam Musa al-Kazhim as lahir pada hari Ahad, bertepatan dengan 7 Shafar tahun 128 Hijriah di se buah lembah bernama Abwa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Ibunda beliau bernama Hamidah. Imam as mencapai kedudukan Imamah pada usia 21 tahun.
Ibunda Al-Imam Musa al-Kazhim as adalah seorang budak yang dibeli oleh Imam Ja’far.
Meskipun demikian, ibunda telah mendapatkan pengajaran ilmu dari Imam Ja’far as, yang menjadikan nya sebagai wanita yang memiliki keluasan ilmu dan kecakapan da lam bidang ilmu-ilmu agama.
Sehingga, terkadang Imam Ja’far meminta para wanita untuk berta nya masalah-masalah agama kepadanya.
Periode kehidupan Al-Imam Musa al-Kazhim dapat dibagi menjadi dua bagian:
* Pertama, kehidupan beliau bersama ayahandanya di Madinah selama 20 tahun. Periode ini berlangsung sebelum beliau mencapai Imamah.
* Kedua, masa-masa awal perlawanan, pemenjaraan, dan pengasingan yang menimpa kehidupan Imam as.
Sahabat
Ketika ayahnya, Imam Ja’far Ash-Shadiq as wafat, murid-murid beli au memusatkan perhatian dan ke setiaan mereka kepada putranya, Al-Imam Musa al-Kazhim as.
Mereka menuntut ilmu kepada Al-Imam Musa al-Kazhim selama tiga puluh tiga tahun.
Beberapa murid beliau antara lain:
a. Ibnu Abi Umair
Ia belajar pada tiga Imam, yaitu Al-Imam Musa al-Kazhim, Imam Ali Ar-Ridha as, dan Imam Muhammad Al-Jawad as.
Ibnu Abi Umair merupakan salah seorang ulama terkenal pada zamannya. Ia meninggalkan banyak kitab hadis sebagai tanda jasanya.
Beberapa orang memberi kabar kepada penguasa Abasiyah, bahwa Ibnu Abi Umair adalah orang Syi’ah (pengikut Ahlulbait).
Ia ditangkap dan diinterogasi untuk menyebutkan nama-nama orang Syi’ah yang ia kenali ...
Namun tidak sepatah kata pun ke luar dari mulutnya untuk meme nu hi paksaan mereka. Ia ditelanjangi dan diikat pada pohon kurma. Mere ka mengganjar seratus cambukan kepada murid setia para Imam ini.
Syaikh Mufid menuturkan, “Sahabat utama Imam ini dipenjarakan selama tujuh puluh tahun. Seluruh harta bendanya dimusnahkan. Walaupun didera dengan cobaan yang berat, ia tetap mengunci mulutnya dan tidak berkata sepatah kata pun untuk memberikan informasi kepada penguasa abbasiyah yang zalim.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar