Melayani dan Mengayomi (37)
Oleh aminuddin
Kisah Inspiratif (6)
RADEN Mas Margono Djojohadikusumo (lahir 16 Mei 1894 – meninggal 25 Juli1978 pada umur 84 tahun) adalah pendiri Bank Negara Indonesia.
Ia adalah orang tua dari Begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, dan juga ayah dari dua pemuda yang gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong: Kapten Anumerta Soe bianto Djojohadikusu mo dan Taru na Soejono Djojohadikusumo.
Nama mereka diabadikan dalam nama cucunya, politikus dan man tan Danjen Kopassus dan Pangkos trad, Prabowo Subianto, serta pengusaha Hashim Sujono.
> Kurang Dikenal
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang dipenuhi oleh orang-orang hebat dan para pahla wan yang cukup berpengaruh di bidangnya baik dari kalangan po litik, militer maupun pendidikan.
Salah satu tokoh yang cukup dike nal di Indonesia berkat jasa-jasa dan perannya di berbagai bidang yang digelutinya adalah Margono Djojohadikusumo.
Di kalangan muda seperti saat ini memang tokoh ini kurang begitu dikenal, namun jika cucu beliau pasti sudah banyak yang mengenalnya karena cukup familier.
RM Margono merupakan tokoh poli tik dan pejuang yang sifat dan perju angannya layak diteladani oleh ge nerasi muda penerus bangsa.
Begitu banyak hasil perjuangan ya ng beliau rintis semasa hidupnya, salah satunya yang bisa kita nik mati hingga sekarang adalah ke mudahan pelayanan di bidang perbankan dari Bank BNI.
Tentunya perjuangan RM Margono tidak hanya sampai di situ, justru lebih banyak dari itu ...
Lantas bagaimana sepak terjang Margono Djojohadikusumo lainnya selama hidupnya hingga menutup mata?
Mari kita simak informasi berikut ini ...
Margono Djojohadikusumo adalah cucu buyut Panglima Banyakwide atau Raden Tumenggung Banyak wide yang menjadi anak dari asis ten Wedana Banyumas dan pengi kut Pangeran Diponegoro yang se tia.
Pendiri dari salah satu bank terbe sar di Nusantara yakni Bank Negara Indonesia (BNI) ini pernah berseko lah di ELS (Europeesche Legere School) Banyumas.
ELS Banyumas adalah Sekolah Dasar di Banyumas yang berada pada jaman kolonial Belanda dari 1900 hingga 1907.
> Pendiri Bank BNI
Margono Djojohadikusumo terlahir tanggal 16 Mei 1894 di kota Banyumas, Jawa Tengah, Negara Hindia Belanda. Beliau meninggal dunia pada usia 84 tahun pada tanggal 25 Juli 1978 di Jakarta.
Margono Djojohadikusumo yang beragama Islam ini memiliki istri seorang bernama Siti Katoemi Wirodihardjo.
Margono Djojohadikusumo adalah orangtua dari Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo yakni sang Begawan Ekonomi Indonesia, serta ayahanda dari dua remaja yang meninggal ketika pecahnya Pertempuran Lengkong di Serpong pada tahun 1946 yakni: Taruna Soejono Djojohadikusumo (16 tahun) dan Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo (21 tahun).
Kejadian gugurnya kedua putra RM Margono pada usia remaja tersebut merupakan kesedihan terbesarnya. Kemudian kedua nama anaknya yang meninggal itu dikenang mela lui nama sang cucunya yakni man tan Pangkostrad dan Danjen Kopassus serta politikus Prabowo Subianto dan Hashim Sujono yang berprofesi sebagai seorang pengusaha.
Saat Soemitro tidak lagi sejalan dengan Bung Karno dalam hal PRRI maka sang ayah ternyata ikut se pendapat dengan sang anak. Lalu mereka sekeluarga pindah ke Kuala Lumpur dan menetap di sana selama beberapa tahun.
Meski begitu pada bukunya berju dul 'Kenangan Tiga Zaman' yang aslinya berjudul 'Herinneringen uit Drie Tijdperken', Bung Karno ter nyata tetap digambarkan sebagai sosok Pahlawan.
> Sepak terjang
Semasa hidupnya, Margono Djojohadikusumo cukup berdedikasi dan menjadi tokoh yang cukup berpengaruh di masanya.
Hal ini terbukti dari berbagai perannya dalam berbagai organisasi bahkan mendirikan sebuah bank yang saat ini cukup terkenal serta pesat perkembangannya.
Adapun sepak terjang Margono Djojohadikusumo selama hidupnya antara lain:
1. Hak angket
Hak angket dalam sejarah ketatanegaraan republik Indonesia, digunakan pertama kali oleh DPR sekitar tahun 1950-an.
Hal ini bermula dari usul resolusi dari RM Margono Djojohadikusumo supaya DPR atas upaya mempero leh devisa serta cara menggunakan devisa untuk mengadakan Hak Angket.
Kemudian dibentuklah panitia angket dengan anggota sebanyak 13 orang dimana Margono ditunjuk sebagai ketua.
Panitia angket ini berperan dalam menyelidiki untung serta rugi da lam mempertahankan devisen-regime sesuai Undang-Undang Pengawasan Devisen pada 1940 berikut perubahan-perubahannya.
2. Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara
Satu hari usai Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden dilantik, dibentuklah DPS atau Dewan Pertimbangan Agung Sementara dan Kabinet Presidentil.
Kemudian Margono Djojohadikusumo ditunjuk untuk menjadi Ketua DPAS pertama.
Beliau menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara ke-1 dengan masa jabatan dari tanggal 25 September 1945 hingga 6 November 1945.
Setelah lengser, beliau digantikan oleh Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V.
3. Direktur Utama Bank BNI
Selaku Ketua DPAS, Margono Djojohadikusumo mengusulkan untuk membentuk sebuah Bank Sirkulasi atau Bank Sentral sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Kemudian Soekarno dan Hatta menyampaikan mandat untuk Margono supaya menggagas sekaligus melaksanakan persiapan dalam membentuk Bank Sirkulasi (Bank Sentral) Indonesia yakni di bulan September, tepatnya pada tanggal 16 tahun 1945.
Sidang Dewan Menteri RI pada tahun 1945 tepatnya tanggal 19 September menetapkan untuk dibentuknya bank Negara yang berperan sebagai Bank Sentral atau Sirkulasi.
Akhirnya terbitlah Perpu No. 2 tahun 1946 pada tanggal 15 Juli 1946 yakni terkait didirikannya BNI serta Margono Djojohadikusumo ditunjuk sebagai Dirut Bank BNI (Bank Negara Indonesia).
Selama beliau menjabat sebagai Direktur Utama Bank BNI, status hukum dari Bank BNI naik menjadi Persero yakni pada tahun 1970.
> Menulis Buku
Tidak hanya piawai dalam sepak terjang di dunia politik, Margono Djojohadikusumo juga menelurkan banyak buku antara lain :
1. Sriwibawa, Sugiarta (1994), “100 tahun Margono Djojohadikusumo”, Jakarta: Pustaka Aksara.
2. Djojohadikusumo, Margono (1969). “Reminiscenses from three historical periods a family tradition put in writing”, Jakarta: Indira.
3. Djojohadikusumo, Margono (1975), “Catatan-catatan dari lembaran kertas yang kumal DR. E.F.E Douwes Dekker (DR. Danudirja Setiabudi), seorang yang tak gentar menjunjung tinggi suatu cita-cita hidup kemerdekaan politik Indonesia”, Jakarta: Bulan Bintang.
4. Djojohadikusumo, Margono (1946), “Kenang-kenangan dari tiga zaman”, Jakarta: Indira.
5. Djojohadikusumo, Margono (1941), “Tien jaren cooperatie-voorlichting vanwege de overhead 1930-1940”, Batavia: Volkslectuur.
> Serangan Jantung
Margono Djojohadikusumo meninggal dunia di Jakarta pada 25 Juli 1978 dan disemayamkan di pemakaman keluarga di Dawuhan, kota Banyumas, Jawa Tengah.
Pada waktu itu Bung Hatta ikut me lepas jenazah beliau di Taman Matraman Jakarta menuju pemaka man keluarga di Banyumas, lokasi dimana para leluhurnya disemayamkan.
Pendiri Pusat Bank Indonesia yang diganti namanya pada tahun 1946 menjadi Bank Negara Indonesia ini merupakan seseorang yang telah berusia lanjut namun senantiasa sehat wal afiat.
Baru pada tahun 1978 kesehatan nya terlihat menurun. Bahkan dua hari sebelum meninggal, Margono masih melakukan transaksi dagang untuk salah satu perusahaan miliknya.
Pada hari Selasa, 25 Juli 1978 pa gi, beliau pergi ke kamar mandi. Ternyata di tempat itu beliau terke na serangan jantung.
Karena kulit hitam dan perawakan nya yang kecil, almarhum kerap me nyebut dirinya sebagai een klein Negertje atau si negro kecil.
Beliau adalah seorang putra bangsa wan dari turunan ke-13 Adipati Mra pat. Meski masih termasuk keturu nan bangsawan, almarhum merupa kan bangsawan yang berjiwa kerak yatan.
Menurut Subagijo IN, beliau senan tiasa berbahasa kromo inggil kepa da siapa saja yang dapat berbaha sa Jawa.
> Berbagai Penghargaan
1. Nama RM Margono Djojohadiku sumo diabadikan sebagai sebuah nama jalan di ruas Jakarta.
2. Gedung RM Margono Djojoha dikusumo yang terdapat di Universi tas Gajah Mada Yogyakarta, diberi kan nama sesuai dengan nama beliau.
3. Kisah beliau semasa hidup men jadi inspirasi pada pembuatan film yang bertajuk 'Merah Putih'.
____
https://biografitokohinspiratif.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar