Oleh Wak Amin
"CAPEK deh Bro. Kita pulang aja dulu yuk!"
Sambil ketawa kecil, Mr Jango bera lasan 'cari angin' dulu sebelum me mutuskan kemana lagi setelah me ngikuti keluarga almarhum Mr James itu.
"Mungkin di tempat tadi Ngo?"
"Ah jangan. Bosan Wil. Cari yang lainlah. Nanti saya atau kamu yang telepon dimana bagusnya. Biar gampanglah. Oke?"
"Oke ..."
Dari atas perkantoran, Letnan Rat na melaporkan Mr Jango dan Wil liam sudah meninggalkan mal, tak lama setelah Nyonya Anisah dan kedua anaknya.
"Menunggu perintah selanjutnya Mr Clean," kata Letnan Ratna.
"Kita ketemuan dimana Let? Punya usul?"
"Eeem dimana ya?"
"Di warung kopi?"
"Males Clean. Ngopi aja terus. Ngeteh sekali-kali kenapa sih?"
Ha ha ha ..
"Oke. Tunggu dua menit ya. Aku cari dulu tempat yang dijamin kamu pasti suka ..."
Dimana lokasinya?
Di sekitaran pusat kota. Kedai Teh Jango, namanya. Setiap hari ramai dikunjungi, dari dalam dan luar kota.
Terutama malam hari. Pengunjung disuguhi aneka macam teh dalam dan luar negeri. Selain tentunya pi hak kedai juga menyediakan bera gam makanan lezat seperti pizza, burger dan ikan bakar.
Karena baru kali pertama mengin jakkan kaki di Kedai Teh Jango ini, Letnan Ratna sempat geleng-ge leng kepala sambil tertawa.
"Hebat juga kamu pilih tempat, Clean," kata Letnan Ratna.
"Belum pernah ke tempat ini kan?"
"Belum Clean. Padahal hampir se mua tempat aku singgahi," aku Letnan Ratna.
"Gimana menurut kamu Let?"
"Eeem ... Lumayan."
"Kamu suka Let?"
"Suka sekali .."
"Dengan orangnya?" Keceplosan ngomong, Mr Clean buru-buru me ralat ucapannya barusan.
"Maksud saya pengunjungnya, Let."
Letnan Ratna belum menjawab. Dia cuma tersenyum geli.
"Ramah kok, termasuk kamu juga Clean."
"Oh ya. Terima kasih," ucap Mr Clean.
Sengaja kupilih Kedai Teh Jango ini, kata Mr Clean, agar bisa 'santai' se jenak di tengah maraknya kasus kri minal yang terjadi belakangan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar