Mangkuk (17)
Oleh Wak Amin
MR Jango menceritakan dia men dapat bayaran yang lumayan meng giurkan bila berhasil menangkap dan menghabisi pembunuh tiga kolega bisnis Mr Rahman.
"Mereka adalah Sir Edward, Mr Ja mes dan Sir Effendi," kata Mr Jango.
Mr Rahman sempat mendapat teror dari si pembunuh. "Sepertinya dia sudah tidak tahan dan sangat keta kutan sekali, Wil," ujar Mr Jango.
Merasa keselamatannya terancam, cerita Mr Jango, Mr Rahman meng hubungi seseorang. Teman lama nya.
"Teman lamanya itu ya akulah Wil. Aku siap bantu dia asalkan aku dibayar."
"Kamu sudah tahu Jang siapa pem bunuh itu. Maksudku identitasnya gitu," kata William
"Belum Bro. Makanya kebetulan ki ta sudah ketemuan, gimana kalau kamu bantu aku. Soal bayaran be res. Bila perlu, yach kita bagi dualah. Gimana?"
Terkejut William mendengarnya.
"Kamu tak usah kuatir. Aku akan berikan separo uang muka yang kuterima ini sebagai tanda jadi, kesepakatan antara kita berdua. Gimana?"
William belum mengiyakannya ...
"Sudah. Tak usah banyak pikirlah. Tugas kita ini mulia kan? Mencari dan menemukan seorang pembu nuh yang menurutku, yaach, sudah masuk sadis dan berdarah dingin," jelas Mr Jango.
"Aku bukannya tak mau Bro. Tapi aku belakangan ini sibuk sekali," kata William, berusaha menolak secara halus ajakan teman seko lahnya itu.
"Sibuk apa Bro? Bisnis?"
"Ya begitulah kir-kira Bro." William berharap Mr Jango tak memaksa nya untuk bergabung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar