Jumat, 07 Desember 2018

Melayani dan Mengayomi (33)

Melayani dan Mengayomi (33)
Oleh aminuddin




Kisah Inspiratif 2




Peduli Pribumi



BANK BRI adalah salah satu bank yang merupakan bagian dari BUMN Indonesia saat ini di bawah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan merupakan bank pertama yang dimiliki Indonesia.

Pendiri sekaligus perintisnya ada lah Raden Bei Aria Wirjaatmaja, seorang Patih di kota Purwokerto.

Pria kelahiran Adireja (nama ibu kota Banyumas waktu itu) pada 1831 ini, ketika menginjak usia 21 tahun mulai menapaki perjalanan hidupnya dengan menjadi seorang juru tulis kontrolir Belanda di kota kecil Banjarnegara, selama kuarang lebih 2 tahun lamanya.

Kemudian setelah itu Raden Bei beralih menjadi Mantri Polisi di Bawang, distrik Singamerta selama kurang lebih 9 tahun.

Pada tahun 1863 ia diangkat men jadi Wakil Wedana Batur, Banjarne gara dan menjabat selama 3 tahun. Setelah itub pangkatnya dinaikkan menjadi Wedana Definit Batur, di kota Banjarnegara pada 3 Agustus 1886.

Kisah hidupnya terus berjalan hingga akhirnya Ia menjabat sebagai seorang Patih di kota Purwokerto pada 1879. Jabatan tersebut dipegangnya sampai masa kerjanya berakhir dan pensiun pada tahun 1907.

Raden Bei Aria Wirjaatmaja adalah tipikal orang yang tekun dalam pe ngabdiannya selama menjabat di berbagai posisi. Hingga akhirnya Belanda memberikan sebuah pe nghargaan Bintang Gele Medalile atau medali emas di tahun 1891.

Ia juga mendapat berbagai gelar lainnya yang kemudian disematkan berkat pengabdiannya, mulai dari Rangga hingga gelar Aria di 1902. Kesemua penghargaan itu diberi kan apabila seseorang sudah be kerja dan mengabdi kepada Be landa selama 50 tahun lamanya.

Semenjak itu Raden Bei Aria Wirjaatmaja mulai terkenal dengan sebutan Patih di Purwokerto.


> Asal Muasal Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Ada sebuah cerita sejarah yang menyebutkan bahwa sebelum Raden Bei Aria Wirjaatmadja pensiun, ia pernah menghadiri sebuah undangan pesta di tahun 1894 dalam rangka merayakan sebuah hari besar.

Perayaan yang ia hadiri itu ternyata menghabiskan dana yang cukup besar, yang tentu saja dikeluarkan dari kantong tuan rumah penyelenggara.

Raden Bei Aria Wirjaatmadja kemudian merasa terheran-heran dengan pesta yang sangat meriah tersebut.

Keheranannya tidak berhenti sampai di situ saja, namun ia mulai menyelidiki darimana pesta semegah itu dapat digelar oleh si tuan rumah.

Tak disangka tak dinyana, tuan rumah ternyata membuat pesta mewah itu dari hasil utang kepada renternir.

Hutang tersebut tidak main-main nominalnya dan tentu dengan tingkat bunga yang tidak main-main pula.

Dari situ kemudian Ia mulai berpikir dan terbesit dalam hatinya untuk mendirikan sebuah bank yang da pat membantu mereka yang mem butuhkan dana dengan membe rikan pinjaman berbunga rendah.

Sampai akhirnya pada 16 Desember tahun 1895 kisah pendiri BRI ini dimulai. Raden Bei Aria Wirjaatmadja mendirikan De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau “”Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto” di Purwokerto, Jawa Tengah.

Ini adalah suatu lembaga keuangan yang dimaksudkan Raden Bei Wirjaatmadja untuk melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi).

Walaupun pada saat pertama didi rikan belum menggunakan nama Bank Rakyat Indonesia (BRI), namun tanggal pendirian bank tersebut dijadikan hari lahirnya BRI.

Dan kemudian setelah beroperasi dan melayani banyak nasabahnya,  De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tahun 1945.

Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 menyatakan bahwa BRI menjadi bank pemerintah pertama di Indonesia ini.


> Lika-Liku Status BRI di Pemerintahan

Setelah dua tahun penetapan BRI, Indonesia masih belum bisa menstabilkan kondisi negara dan masih harus berperang untuk mempertahankan kemerdekaan.

Akibatnya, pada tahun 1948 kegi atan BRI sempat dihentikan untuk sementara waktu. Baru kemudian setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 bank tersebut diaktifkan kembali dengan nama Bank Rakyat Indonesia Serikat.

Pada tahun 1960 pemerintah kemudian membentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) atau Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM) yang merupakan peleburan dari BRI.

Pembentukan tersebut didasarkan PERPU No. 41 tahun 1960. Dan lima tahun berselang berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN kemudian diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.

Namun Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan hanya bertahan selama satu bulan saja. Pemerintah kemudian mengeluarkan kembali regulasi tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia.

Hal itu didasarkan pada Penpres No. 17 tahun 1965. Tentu saja regulasi ini menjadikan Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) berubah lagi posisisnya, dimana diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural.

Sedangkan NHM diubah menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim) ..

Setelah gonjang-ganjing tersebut, pada tahun 1968 berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali BRI menjadi bank umum sekaligus mengembalikan fungsi dan tugas-tugas pokoknya.

Regulasi ini didahului dengan mengembalikan fungsi bank Indonesia sebagai Bank Sentral sebagaimana Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral.

Hal ini kemudian menjadikan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisah menjadi dua bank. Masing-masing yaitu BRI dan Bank Ekspor Impor Indonesia.

Lika-liku status BRI di pemerintahan terus berjalan sampai kemudian saat ini menjadi perusahaan publik dengan nama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Dimana porsi sahamnya 30% umum dan 70% atas nama pemerintah.


> Mengabadikan Kisah Pendiri BRI

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, orang-orang yang hidup setelah masa para pahlawan memiliki berbagai cara untuk tetap mempertahankan kisah para pahlawannya.

Tentu salah satunya adalah kisah pendiri BRI, Raden Bei Aria Wirjaatmadja yang juga dipertahankan, diabadikan.

Walaupun tidak banyak memang orang yang menceritakannya. Namun setidaknya mereka masih tetap harum namanya hingga saat ini.

Banyak cara dilakukan untuk mengenang kisah pahlawan seperti kisah pendiri BRI, diantaranya yaitu dibuatkannya monumen untuk mengenang perjuangan para pahlawan.

Ada juga seperti yang sering kita jumpai jalan yang diberi nama pahlawan. Bahkan pemerintah sering menjadikan gambar para pahlawan untuk dicetak di atas lembaran dan koin mata uang negara.

Jika ingin lebih dekat dengan kisah pendiri BRI. Boleh untuk sesekali berkunjung ke Museum BRI yang berada di Purwokerto-Banyumas. Museum ini dijadikan satu dengan gedung BRI cabang Wirjaatmaja Purwokerto.

Memang jika kita melihat gedung tersebut tampak tidak ada hal yang lebih istimewa daripada patung dari sosok Raden Bei Aria Wirjaatmaja Ambtenaren dihalaman depan.

Saat pertama memasuki museum kisah pendiri BRI ini kita akan disambut dengan Kurewa yang menurut kepercayaan Hindu merupakan Dewa Kemakmuran.

Museum ini berisi berbagai macam koleksi peninggalan sejarah dari jaman Majapahit berupa uang-uang kertas dan logam.

Uang tersebut dinamakan uang dobog. Selain itu, ada juga uang logam dan kertas dari peninggalan jaman VOC, uang kertas masa penjajahan kolonial Jepang, mata uang Portugis, serta mata uang Indonesia dari sejak jaman kemerdekaan.

Tidak hanya itu, ada juga koleksi mesin ketik, mesin cek kuno, telepon, dan mesin hitung. Di museum ini juga terdapat perpustakaan mini pada sudut ruangan yang berisikan buku dunia perbankan dan buku umum lainnya.

Di sisi lain gedung ini terdiri dari tiga monumen yaitu ada Gedung Replika, Patung Raden Bei Aria Wijiatmaja, dan gedung Museum BRI.

Lokasi dari ketiga monumen ini tidak berubah sesuai dengan saat pertama kalinya bank ini beroperasi.


> Bisa Kita Teladani

Kisah pendiri BRI memang tidak terlalu banyak tersaji di dalam buku sejarah. Namun dari keterbatasan tersebut bukan berarti sedikit pula semangatnya. Banyak yang perlu kita contoh dan teladani bagi generasi muda saat ini.

Semangat pendirian BRI pada awal nya didasari dari rasa kepedulian seorang Raden Bei Aria Wirjaatmadja kepada pribumi Indonesia.

Dengan keprihatinan keuangan masyarakat, Ia kemudian menjadikan dirinya sebagai ujung tombak dari kesejahteraan bangsa.

Buktinya, Bank BRI sampai saat ini adalah sebagai pelopor Micro Finan ce di dunia. Hal ini terjadi jauh sebe lum M. Yunus sebagai pemenang Nobel Ekonomi mendirikan Bank Micro Finance-nya sendiri.

Bank BRI memang sampai saat ini masih konsisten dengan pelayanan pada masyarakat bawah. Salah satu upayanya yaitu dengan fokus memberikan fasilitas kredit kepada pengusaha kecil.

Hal ini tercermin antara lain dari data perkembangan penyaluran KUK pada tahun 1994 sebesar Rp. 6.419,8 milyar yang meningkat menjadi Rp. 8.231,1 milyar pada tahun 1995. Kemudian pada tahun 1999 mencapai Rp. 20.466 milyar.

Raden Bei Aria Wirjaatmadja dari segala upayanya menjadikan Indo nesia sebagai role model dan serta penerang utama bagi dunia interna tional, yang dibuktikan dengan pres tasi luar biasa, baik di dalam mau pun  luar negeri.

Sebagai salah satu contohnya adalah BRI menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam The Big 50 yang diakui majalah Forbes.










_____

https://www.klikmania.net > membaca-ki ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar