Minggu, 09 Desember 2018

Sekuntum Bunga (27-tamat)

Sekuntum Bunga (27-tamat)
Oleh aminuddin



Sabar Meniti Kemiskinan



Bismillahirr rahmanirr rahim ...
Suatu ketika, demikian menurut riwayat Suwaid bin Ghaflah, Ali mendapat kesusahan. Fatimah pun datang ke tempat Rasulullah SAW

Ia mengetuk pintu ...

Rasulullah SAW berkata, “Aku men dengar suara kecintaanku di depan pintu. Wahai Ummu Aiman, bangun lah dan lihatlah.”

Ummu Aiman membukakan pintu untuknya, dan Fatimah pun masuk.

Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Engkau datang kepada kami pada waktu yang tidak biasanya.”

Fatimah pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, apa makanan malaikat di sisi Allah?”

“Bertahmid (memuji Allah),” jawab Rasulullah.

“Apa makanan kita?” Tanya Fatimah lagi.

“Demi Allah, tidak pernah api me nyala selama sebulan penuh pada keluarga Muhammad. Maukah eng kau aku ajarkan lima kalimat yang Malaikat Jibril ajarkan kepadaku?” Tanya Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, apa kaliamat itu?”

Nabi pun menjawab:
“Yaa Rabbilawwaliina Wal-akhiriina, Yaa Dzalquwwatilmatiina, Wa Yaa Raahimalmasaakiini Wa Yaa Arhamar-rahimiina” (Wahai Tuhan orang-orang terdahulu, Tuhan orang-orang kemudian, wahai Pemilik kekuatan yang kokoh, Wahai Pengasih orang-orang miskin, Wahai Yang Paling Pengasih dari yang Pengasih.”

Lalu Fatimah pun pulang ...

Ketika Ali melihatnya, ia bertanya, “Bagaimana hasilnya, wahai Fatimah?”

“Fatimah menjawab, “Aku pergi untuk mendapatkan dunia dan pu lang dengan membawa akhirat.”

Lalu Ali berkata kepadanya, “Kebaikan di hadapanmu, kebaikan di hadapanmu!”

Suatu hari, Rasulullah SAW menje nguk Fatimah yang sedang sakit kepala.

Beliau bertanya kepadanya, “Anakku, bagaimana keadaanmu?”

Fatimah menjawab, "Aku benar-benar sakit kepala, dan bertambah sakit karena aku tidak memiliki ma kanan yang dapat aku makan.”

Maka beliau berkata, “Tidakkah
kamu senang bahwa kamu adalah pemimpin wanita di seluruh alam?"

----
Abu Ja’far mengatakan, “Fatimah mengadu kepada Rasulullah ten tang Ali.

Ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidak tinggal sesuatu pun dari reze kinya melainkan ia bagi-bagikan ke pada orang-orang miskin.”

Maka Rasulullah SAW berkata ke padanya, “Wahai Fatimah, apakah engkau marah kepada saudaraku dan anak pamanku. Sesungguhnya kemarahan dia adalah kemarahanku, dan kemarahanku adalah kemarahan Allah.”

-----
Pada suatu hari, Rasulullah datang ke rumah Fatimah lalu bertanya, “Mana anak-anakku Hasan dan Husain?”

Fatimah menjawab, “Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah yang dapat dicicipi, sehingga Ali mengatakan, ‘Saya akan pergi dengan keduanya ke rumah seorang Yahudi.”

Rasulullah SAW  pun pergi ke tem patnya. Beliau mendapati keduanya sedang bermain dan di tangan me reka terdapat sisa kurma.

Beliau berkata, “Wahai Ali, menga pa engkau tidak menyuruh pulang keduanya anakku ini sebelum me reka sangat kepanasan?”

Ali menjawab, “Pagi ini tak ada sesuatu pun yang kami miliki di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, sampai aku mengumpulkan buah untuk Fatimah?”

-----
Ali menimba air untuk seorang Ya hudi, dimana untuk setiap timba ia mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul baginya sejumlah kurma, ia pun kembali ke rumah.”

----
Imran bin Hushain mengatakan, “Aku pernah bersama Rasulullah yang sedang duduk. Tiba-tiba Fati mah tampak kekuning-kuningan dan pucat karena sangat lapar. Lalu beliau berkata, “Mendekatlah Fatimah!”

Fatimah pun mendekat. Beliau berkata lagi, “Mendekatlah, Fatimah!” Fatimah mendekat sampai berdiri di hadapannya.

Kemudian beliau meletakkan ta ngannya di atas dada Fatimah di tempat kalung sambil merenggang kan jari-jarinya.

Setelah itu beliau berdoa ..

"Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.”

Imran mengatakan, “Lalu aku memandangnya. Darahnya tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.”















_______
Sumber Bacaan: Ibrahim Amini, “Fatimah Az-Zahra: Wanita Teladan Sepanjang Masa”, Penerbit Lentera Jakarta.

- https://m.facebook.com > media > set

Tidak ada komentar:

Posting Komentar